- Beranda
- Stories from the Heart
INGGIS (TAKUT)...
...
TS
makmiah123
INGGIS (TAKUT)...
Salam kenal Gan n Sist.. Ane mau nyoba-nyoba nulis di forum SFTH nih.. Kalo ada saran atau kritik bebas aja yah, asal ga ngelanggar aturan/Kode etik SFTH aja.. Sebagian cerita ini real story berdasarkan pengalaman temen ane yang minta segala macam tentang dia dan tempatnya dirahasiakan dan sebagian lagi fiksi.. Sebagai orang yang baru belajar nulis, pasti banyak banget kekurangan nya yaa Gan n Sist.. Jadi harap maklum saja.. Hehe..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
Diubah oleh makmiah123 20-12-2022 08:06
somatt dan 37 lainnya memberi reputasi
38
32.8K
268
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
makmiah123
#56
Permintaan Tolong Ratih...
Acara 40 harian wafatnya Ratih mendiang istriku berjalan dengan lancar.. Alhamdulillah tak ada hal ganjil yang terjadi sejak awal sampai semua jamaah tahlilan berpulang ke rumah masing-masing.. Chyntia segera pamit pulang selepas berakhirnya acara.. Aku sempat bertanya padanya tentang apa yang ia lihat di bawah pohon mangga, namun gadis itu berjanji, besok saat makan siang ia akan menceritakan semua..
Akbar, Sulis dan Marcel sempat menemaniku hingga jam 11 malam.. Lalu mereka pun berpamitan dan meninggalkanku seorang diri diluar teras.. Mbak Nur yang sudah melaksanakan tugas untuk menemani Dinar serta Rangga hingga mereka berdua tertidur, meminta izin padaku untuk beristirahat.. Wajah wanita yang tak bersuami itu memang sudah nampak lelah..
Sebungkus rokok dan secangkir susu hangat menemaniku diteras.. Aku memang belum sama sekali merasa ngantuk.. Mungkin karena beberapa teguk kopi pahit buatan Akbar yang sempat aku teguk saat acara tahlilan berlangsung, mata ini terasa masih segar..
Beberapa kali aku membuka Hp dan melihat tampilan gambar kamera pemantau bayi yang sengaja aku pasang dikamar beberapa waktu lalu.. Dengan alat tersebut, aku bisa dengan mudah melihat keadaan dalam kamar dimana kedua anakku sedang terlelap..
Benak ku sempat memikirkan ulang rangkaian kejadian aneh yang terjadi dihadapanku beberapa saat lalu.. Dari mulai jeritan Dinar, terbukanya jendela secara tiba-tiba dan terucapnya lisan Dinar yang mengatakan seorang perempuan harus keluar dari rumahku sampai terpatahnya batang segar pohon mangga, saat Akbar menjodohkanku dengan Chyntia..
Aku teringat akan perkataan para orang tua jaman dahulu.. Dimana jika ada salah satu anggota keluarga yang meninggal, maka ruh nya akan tetap berada di dekat kita hingga masa 40 hari sepeninggalnya almarhum atau almarhumah terlewat..
Apakah benar omongan itu? Jika memang benar, apakah mungkin kejadian janggal tadi betul-betul ada hubungannya dengan arwah Ratih yang masih ada dirumah ini? Jika memang benar, aku harus mencari cara bagaimana aku bisa menemui arwah Ratih dan meminta mendiang istriku itu tak lagi menampakkan diri..
Perlahan, aku bangkit dari atas kursi.. Sebatang rokok yang hampir habis terbakar hingga filternya, aku lemparkan ke samping.. Sejenak, aku termenung membulatkan tekad untuk berjalan ke arah samping rumah.. Tepatnya ke arah pohon mangga tempat pertama kali sosok Ratih muncul dalam mimpiku..
Setelah tekad bulat, aku mulai berjalan ke arah samping rumah.. Hembusan angin yang menerpa terasa dingin melewatiku.. Aku terus berjalan dengan Hp sudah berada dalam genggaman.. Sengaja aku terus memegangi Hp, agar bisa memantau kedua anakku dalam kamar..
Area samping rumah memang sedikit temaram.. Meski lampu diatas jendela diluar kamarku menyala, namun cahayanya seolah enggan menerangi pohon mangga.. Bulu kudukku mulai meremang kembali begitu tiba persis di depan pohon berbuah itu..
Pandangan mataku menelisik tiap sudut pohon mangga.. Dibawahnya tak ada penampakan apapun.. Aku lantas menaikkan wajah mendongak ke atas pohon.. Gelap.. Tak nampak apapun disana selain rimbunan daun lebat yang menghalangi sinar bulan..
Sengaja aku mengenduskan hidung, berharap aroma khas bunga kenanga tertangkap.. Namun tak ada bau apapun yang ku cium.. Jangankan bau harum.. Bau bangkai pun tak ada..
“Kenapa tidak ada kejadian aneh yang muncul saat nyali ku terasa sebesar gunung?” Tanya ku dalam hati..
Belum sekejap aku membatin, tiba-tiba suara isak tangis lirih seorang wanita terdengar.. Aku langsung melemparkan pandangan ke sekeliling.. Tak ada sosok siapapun yang tertangkap dalam pandanganku.. Tapi, suara tangisan itu masih saja terdengar..
Tunggu.. Isak tangis yang tertangkap di indera pendengaranku terasa sangat dekat.. Suara itu bukan dari tempat lain.. Melainkan dari HP di genggaman tanganku.. Langsung aku membuka Hp dan aplikasi kamera pemantau bayi..
Sebuah gambar sedikit buram dari kamera pemantau bayi didalam kamar tidurku menampilkan seorang perempuan berambut panjang dengan pakaian belitan kain putih nampak melayang menghampiri Dinar..
Aku yang terkejut segera berlari masuk ke dalam rumah dan terus berlari menuju kamar.. Berulang kali aku mencoba membuka pintu kamar, namun tak bisa.. Pintu seakan terkunci dari dalam.. Aku tempelkan telinga ke daun pintu, berusaha mendengarkan suara yang mungkin tertangkap dari dalam kamar.. Tapi hanya isak tangis lirih yang terdengar..
Aku tahu, sosok wanita berambut panjang yang kini berada didalam kamar adalah Ratih.. Entah memang benar arwahnya atau hanya penampakan Jin yang menyerupai mendiang istriku.. Dengan suara sama lirih, aku mulai mengucapkan kalimat demi kalimat dibalik pintu kamar..
“Bunda.. Tolong buka pintunya.. Ayah mau lihat anak-anak”
Tak ada sahutan dari dalam.. Aku langsung melihat kembali ke arah kamera pemantau dan sempat tertegun menyaksikan wajah pucat Ratih sedang menatap persis ke arah kamera.. Entah mengapa rasa sedih teramat dalam kembali merasuk disanubari saat melihat wajah pucat mendiang istriku..
“Bunda, mengapa Bunda belum juga tenang beristirahat? Apa yang membuat Bunda terus hadir?” Tanya ku dengan suara lirih dan dua mata mulai digenangi airmata..
Dalam hati aku berharap sosok yang sekarang berada didalam kamar mendengar ucapanku.. Namun, lagi-lagi balasan isak tangis lirih yang tertangkap ditelinga.. Aku menyeka kedua mata dan terus mengamati gerakan sosok menyerupai Ratih..
Sosok itu nampak mengecup kening Dinar dan membelai lembut rambut putriku.. Aku kembali menangis melihat suatu bentuk kasih sayang kekal seorang Ibu pada anaknya tak mampu dipisahkan alam.. Tiba-tiba, aku mendengar suara derit pintu yang terbuka.. Tanpa fikir panjang, aku masuk ke dalam kamar dan menatap Ratih sedang menimang-nimang Rangga dalam gendongannya.. Sosok wanita berambut panjang yang kuyakini adalah Ratih, dengan cepat membalikkan tubuhnya dan melayang berdiri membelakangiku..
Kembali aku menangis melihat sosok tersebut dengan penuh kasih sayang terus menimang-nimang Rangga.. Suara paraunya terdengar menggumamkan nada lagu nina bobo sebagai teman penghantar tidur putra bungsu kami..
Perlahan, aku mendekati sosok tersebut dan mengulurkan tangan kanan hendak menyentuhnya.. Akan tetapi sosok Ratih malah melayang maju seolah menghindar meski masih dengan posisi membelakangi..
Aku menyeka dua mata dan menghela nafas panjang untuk mengusir siksaan rasa sedih yang kembali terbit dalam hati..
“Bunda.. Ayah kangen Bunda.. Dinar dan Rangga juga kangen.. Tapi alam kita sudah beda, Bunda”
Senandung nada lagu nina bobo yang Ratih gumamkan, perlahan berhenti dan berganti dengan suara isak tangis lirih kembali.. Aku menggigit lidah sendiri mendengar isak tangis Ratih nan terdengar mengiris hati.. Seandainya aku bisa menemani dirinya di alam sana, sudah pasti aku bersedia.. Namun tanggung jawab ku masih sangat besar.. Aku masih harus mengurusi dua anak kandung kami..
“Bunda harus ikhlas.. Pergi nya Bunda dari hidup kami adalah takdir.. Ayah ga bisa lawan takdir”
Isak tangis lirih Ratih kembali terdengar.. Namun tak lama, sosoknya nampak membalikkan tubuh dan melayang ke arah baby box tempat tidur Rangga.. Dari samping aku bisa melihat wajah pucat Ratih memandangi Rangga yang sedang menggeliat diatas kasurnya.. Lalu, sosok itu mengalihkan pandangan ke arah ku..
“Bunda”
Aku berusaha sekuat mungkin menahan gejolak emosi saat melihat wajah pucat Ratih basah oleh air mata.. Pandangan dingin Ratih nampak kosong menatap ku meski air bening terus mengalir turun membasahi pipinya..
“Apa yang membuat Bunda belum tenang? Kenapa Bunda terus muncul di kehidupan kami?”
Perlahan, dua bibir Ratih nampak terbuka lalu dengan suara parau ia mulai berucap..
“TO...LOO..”
Belum selesai Ratih menyempurnakan ucapan, tiba-tiba dari arah dinding kamar dibelakangnya muncul sebuah rantai berwarna merah yang langsung melesat menjerat leher sosok itu.. Aku sangat terkejut mendengar Ratih menjerit kesakitan sambil memegangi lehernya yang terlilit jeratan rantai merah..
Aku yang tak tega melihat Ratih kesakitan, segera berlari ke arahnya.. Namun secepat kilat, rantai aneh berwarna merah yang berpangkal di dinding, menarik paksa sosok istriku ke belakang.. Lamat-lamat, aku mendengar raung jeritan Ratih menggema sebelum dirinya ikut lenyap dibalik dinding bersama rantai merah misterius..
Aku menangis dan memukul-mukul tembok kamar dimana sosok Ratih menghilang.. Aku histeris memanggil nama istriku beruang-ulang.. Tapi yang terjadi malah Dinar dan Rangga sama-sama terbangun, kemudian menangis.. Aku langsung menggendong Dinar dan berteriak memanggil Mbak Nur.. Wanita yang aku pekerjakan sebagai asisten rumah tangga itu berlari dari kamarnya dan segera menggendong Rangga..
“Ada apa, Pak? Anak-anak kenapa nangis semua?” Tanya Mbak Nur dengan wajah panik dan bingung..
Aku tak menjawab pertanyaan Mbak Nur.. Aku malah berlari keluar rumah bersama Dinar dalam gendongan.. Aku berlari ke arah Pohon Mangga, berharap bisa mendapati sosok Ratih disana.. Tapi, nihil.. Tak ada siapapun yang terlihat.. Hanya gelapnya malam dan suara jangkrik yang ada..
Dengan sangat erat aku memeluk Dinar, mencurahkan segala kesedihan dalam hati.. Istri yang belum lama meninggalkan ku kembali muncul untuk meminta pertolongan.. Arwah seorang Ibu yang seharusnya sudah tenang di alam sana, hadir untuk mengharapkan bantuan..
Ini bukan mimpi buruk.. Ini benar terjadi.. Entah memang benar arwah Ratih atau Jin yang menyerupai dirinya yang tadi muncul? Yang pasti kehadiran sosok itu membuatku kembali merasa hancur.. Malam itu aku sama sekali tak sanggup memejamkan mata.. Benakku terus melayang memikirkan semua yang barusan aku lihat dengan mata kepalaku sendiri..
******
Hampir setengah hari aku bekerja tanpa semangat.. Mataku rasanya tak mau diajak melek setelah malam tadi aku tak bisa tidur.. Puluhan kali aku menguap.. Dua cangkir kopi sudah aku teguk sebagai penghalau kantuk, tapi paksaan tubuh yang meminta jatahnya beristirahat terus saja mendera..
Aku meminta bantuan beberapa orang anak buah untuk menghandle beberapa pekerjaan ku, jadi setelah selesai aku hanya tinggal tanda tangan saja.. Tentu mereka sangat mau untuk membantu pekerjaanku, sementara aku berniat istirahat di Musholla..
Beberapa kali aku membuka rekaman CCTV pemantau bayi didalam kamarku lewat Hp.. Memang tidak terlihat apapun didalam rekaman itu tentang kejadian semalam.. Aku pun heran, karena sosok yang menyerupai Ratih yang benar-benar aku lihat sendiri muncul malam tadi.. Tapi yang tampil direkaman hanya gambar ku yang berkali-kali menangis dan berbicara lirih ke tempat kosong..
Satu helaan nafas aku lepaskan, dan mulai merebahkan diri didalam Musholla setelah meletakkan HP disamping.. Tatapan mataku menatap kosong ke atas dengan benak dipenuhi banyak sekali pertanyaan terkait munculnya sosok Ratih semalam, yang sempat mengucapkan kata tolong namun terputus karena dirinya ditarik paksa oleh rantai merah misterius..
"Ambu, aku harus menanyakan hal ini pada Ambu.. Beliau pasti faham akan apa yang aku lalui semalam" Ucapku dalam hati..
Aku kembali bangkit dan mengambil Hp.. Lalu mencari kontak Rima dan langsung menelponnya.. Tapi sayang, Hp Rima tidak aktif.. Mungkin adik ku satu-satunya itu sedang belajar dikampus.. Saat aku termenung memikirkan siapa lagi yang aku bisa tanyakan tentang kejadian semalam, indera pendengaranku menangkap suara orang sedang adu mulut..
Aku beranjak bangkit dan berjalan keluar dari Musholla untuk mencari sumber suara.. Keningku berkerut saat melihat Chyntia nampak mencoba melepaskan tangannya yang sedang dicengkram oleh seorang laki-laki muda berpakaian necis..
Naluri kelelakianku timbul karena tidak tega melihat seorang wanita yang aku kenal sedang disakiti secara fisik oleh laki-laki asing.. Dengan langkah cepat aku menghampiri mereka dan langsung memegang bahu laki-laki tersebut..
“Lepasin dia, Mas” Ucapku dengan lembut namun tegas dan membuat laki-laki itu menatap sinis kearahku dari ujung kaki hingga kepala..
“Kebetulan, orangnya langsung muncul” Kata laki-laki berambut hampir botak sambil melepaskan cengkaraman tangannya dari lengan Chyntia dan mendorong tubuhku..
Aku yang memang sedang dalam keadaan tidak siap, terdorong satu langkah ke belakang.. Beruntung aku langsung bisa menguasai tubuh hingga tak sampai terjatuh akibat dorongan barusan..
“Apa-apaan nih? Lo langsung maen dorong gue” Tanyaku dengan nada suara mulai kesal..
“Lo kan yang udah ngerusak hubungan gue dengan Chyntia”
“Beny! Udah berapa kali gue bilang, putusnya kita ga ada hubungannya dengan dia”
Aku mulai faham akan apa yang sedang terjadi.. Rupanya laki-laki yang barusan mendorongku adalah mantannya Chyntia.. Tak mau aku terlibat lebih jauh akan urusan yang tak ada kaitannya dengan ku.. Untuk itu, aku memutuskan berjalan meninggalkan mereka..
“Mau kemana lo, baik!” Bentak laki-laki itu seraya menarik bahuku dari belakang..
Kali ini aku sudah bersiap tak seperti tadi, dengan cepat aku membalikkan tubuh dan berhasil menghindari sebuah pukulan ke arah wajah.. Satu langkah mundur aku ambil untuk menghindari satu pukulan lagi.. Hingga akhirnya, aku berhasil menangkap kepalan tangan laki-laki tersebut dan bergerak kesamping.. Lalu menarik tubuh laki-laki itu sekaligus menekan dadanya menggunakan telapak tangan ku yang terbuka, hingga membuat ia jatuh ke tanah..
Laki-laki berpakaian necis itu langsung bangun dan hendak melayangkan lagi serangan, namun suara beberapa orang terdengar membentak dari arah belakang, bersamaan dengan jerit ketakutan Chyntia.. Aku sempat menoleh ke belakang dan melihat Akbar dan Marcel serta beberapa teman kantor yang lain berlari ke arah kami..
“Gue bakal bikin perhitungan sama kalian berdua.. Inget itu!” Ucap laki-laki yang kemeja nya nampak sedikit kotor akibat terjatuh barusan, lalu ia dengan cepat pergi meninggalkan kami menuju sebuah mobil berwarna hitam..
“Kamu ga apa-apa, A?” Tanya Chyntia sambil memegangi lengan kananku..
Aku tersenyum seraya menggelengkan kepala karena memang keadaanku baik-baik saja..
“ Njir! Maen kabur aje tuh bencong! Siape die, Dil?” Tanya Akbar setibanya ia didepanku bersama Marcel dan yang lain..
“Tau, Bar.. Dateng-dateng maen nyolot aja ke gue”
“Hebat juga lo, Dil.. Berhasil bikin tuh orang jatoh tadi” Puji Marcel sambil menepuk bahu ku..
Aku tersenyum karena pujian Marcel.. Ingatanku sempat kembali ke masa belasan tahun silam, dimana aku masih duduk di SMP, Almarhum Abah sudah membekali diri ini dengan ilmu kanuragan semacam silat untuk melindungi pun membela diri sendiri.. Kata Abah, sebagai laki-laki harus punya keahlian bela diri agar tidak mudah ditindas orang lain.. Tak dinyana, kejadian barusan sudah membenarkan wejangan Abah..
Akbar, Sulis dan Marcel sempat menemaniku hingga jam 11 malam.. Lalu mereka pun berpamitan dan meninggalkanku seorang diri diluar teras.. Mbak Nur yang sudah melaksanakan tugas untuk menemani Dinar serta Rangga hingga mereka berdua tertidur, meminta izin padaku untuk beristirahat.. Wajah wanita yang tak bersuami itu memang sudah nampak lelah..
Sebungkus rokok dan secangkir susu hangat menemaniku diteras.. Aku memang belum sama sekali merasa ngantuk.. Mungkin karena beberapa teguk kopi pahit buatan Akbar yang sempat aku teguk saat acara tahlilan berlangsung, mata ini terasa masih segar..
Beberapa kali aku membuka Hp dan melihat tampilan gambar kamera pemantau bayi yang sengaja aku pasang dikamar beberapa waktu lalu.. Dengan alat tersebut, aku bisa dengan mudah melihat keadaan dalam kamar dimana kedua anakku sedang terlelap..
Benak ku sempat memikirkan ulang rangkaian kejadian aneh yang terjadi dihadapanku beberapa saat lalu.. Dari mulai jeritan Dinar, terbukanya jendela secara tiba-tiba dan terucapnya lisan Dinar yang mengatakan seorang perempuan harus keluar dari rumahku sampai terpatahnya batang segar pohon mangga, saat Akbar menjodohkanku dengan Chyntia..
Aku teringat akan perkataan para orang tua jaman dahulu.. Dimana jika ada salah satu anggota keluarga yang meninggal, maka ruh nya akan tetap berada di dekat kita hingga masa 40 hari sepeninggalnya almarhum atau almarhumah terlewat..
Apakah benar omongan itu? Jika memang benar, apakah mungkin kejadian janggal tadi betul-betul ada hubungannya dengan arwah Ratih yang masih ada dirumah ini? Jika memang benar, aku harus mencari cara bagaimana aku bisa menemui arwah Ratih dan meminta mendiang istriku itu tak lagi menampakkan diri..
Perlahan, aku bangkit dari atas kursi.. Sebatang rokok yang hampir habis terbakar hingga filternya, aku lemparkan ke samping.. Sejenak, aku termenung membulatkan tekad untuk berjalan ke arah samping rumah.. Tepatnya ke arah pohon mangga tempat pertama kali sosok Ratih muncul dalam mimpiku..
Setelah tekad bulat, aku mulai berjalan ke arah samping rumah.. Hembusan angin yang menerpa terasa dingin melewatiku.. Aku terus berjalan dengan Hp sudah berada dalam genggaman.. Sengaja aku terus memegangi Hp, agar bisa memantau kedua anakku dalam kamar..
Area samping rumah memang sedikit temaram.. Meski lampu diatas jendela diluar kamarku menyala, namun cahayanya seolah enggan menerangi pohon mangga.. Bulu kudukku mulai meremang kembali begitu tiba persis di depan pohon berbuah itu..
Pandangan mataku menelisik tiap sudut pohon mangga.. Dibawahnya tak ada penampakan apapun.. Aku lantas menaikkan wajah mendongak ke atas pohon.. Gelap.. Tak nampak apapun disana selain rimbunan daun lebat yang menghalangi sinar bulan..
Sengaja aku mengenduskan hidung, berharap aroma khas bunga kenanga tertangkap.. Namun tak ada bau apapun yang ku cium.. Jangankan bau harum.. Bau bangkai pun tak ada..
“Kenapa tidak ada kejadian aneh yang muncul saat nyali ku terasa sebesar gunung?” Tanya ku dalam hati..
Belum sekejap aku membatin, tiba-tiba suara isak tangis lirih seorang wanita terdengar.. Aku langsung melemparkan pandangan ke sekeliling.. Tak ada sosok siapapun yang tertangkap dalam pandanganku.. Tapi, suara tangisan itu masih saja terdengar..
Tunggu.. Isak tangis yang tertangkap di indera pendengaranku terasa sangat dekat.. Suara itu bukan dari tempat lain.. Melainkan dari HP di genggaman tanganku.. Langsung aku membuka Hp dan aplikasi kamera pemantau bayi..
Sebuah gambar sedikit buram dari kamera pemantau bayi didalam kamar tidurku menampilkan seorang perempuan berambut panjang dengan pakaian belitan kain putih nampak melayang menghampiri Dinar..
Aku yang terkejut segera berlari masuk ke dalam rumah dan terus berlari menuju kamar.. Berulang kali aku mencoba membuka pintu kamar, namun tak bisa.. Pintu seakan terkunci dari dalam.. Aku tempelkan telinga ke daun pintu, berusaha mendengarkan suara yang mungkin tertangkap dari dalam kamar.. Tapi hanya isak tangis lirih yang terdengar..
Aku tahu, sosok wanita berambut panjang yang kini berada didalam kamar adalah Ratih.. Entah memang benar arwahnya atau hanya penampakan Jin yang menyerupai mendiang istriku.. Dengan suara sama lirih, aku mulai mengucapkan kalimat demi kalimat dibalik pintu kamar..
“Bunda.. Tolong buka pintunya.. Ayah mau lihat anak-anak”
Tak ada sahutan dari dalam.. Aku langsung melihat kembali ke arah kamera pemantau dan sempat tertegun menyaksikan wajah pucat Ratih sedang menatap persis ke arah kamera.. Entah mengapa rasa sedih teramat dalam kembali merasuk disanubari saat melihat wajah pucat mendiang istriku..
“Bunda, mengapa Bunda belum juga tenang beristirahat? Apa yang membuat Bunda terus hadir?” Tanya ku dengan suara lirih dan dua mata mulai digenangi airmata..
Dalam hati aku berharap sosok yang sekarang berada didalam kamar mendengar ucapanku.. Namun, lagi-lagi balasan isak tangis lirih yang tertangkap ditelinga.. Aku menyeka kedua mata dan terus mengamati gerakan sosok menyerupai Ratih..
Sosok itu nampak mengecup kening Dinar dan membelai lembut rambut putriku.. Aku kembali menangis melihat suatu bentuk kasih sayang kekal seorang Ibu pada anaknya tak mampu dipisahkan alam.. Tiba-tiba, aku mendengar suara derit pintu yang terbuka.. Tanpa fikir panjang, aku masuk ke dalam kamar dan menatap Ratih sedang menimang-nimang Rangga dalam gendongannya.. Sosok wanita berambut panjang yang kuyakini adalah Ratih, dengan cepat membalikkan tubuhnya dan melayang berdiri membelakangiku..
Kembali aku menangis melihat sosok tersebut dengan penuh kasih sayang terus menimang-nimang Rangga.. Suara paraunya terdengar menggumamkan nada lagu nina bobo sebagai teman penghantar tidur putra bungsu kami..
Perlahan, aku mendekati sosok tersebut dan mengulurkan tangan kanan hendak menyentuhnya.. Akan tetapi sosok Ratih malah melayang maju seolah menghindar meski masih dengan posisi membelakangi..
Aku menyeka dua mata dan menghela nafas panjang untuk mengusir siksaan rasa sedih yang kembali terbit dalam hati..
“Bunda.. Ayah kangen Bunda.. Dinar dan Rangga juga kangen.. Tapi alam kita sudah beda, Bunda”
Senandung nada lagu nina bobo yang Ratih gumamkan, perlahan berhenti dan berganti dengan suara isak tangis lirih kembali.. Aku menggigit lidah sendiri mendengar isak tangis Ratih nan terdengar mengiris hati.. Seandainya aku bisa menemani dirinya di alam sana, sudah pasti aku bersedia.. Namun tanggung jawab ku masih sangat besar.. Aku masih harus mengurusi dua anak kandung kami..
“Bunda harus ikhlas.. Pergi nya Bunda dari hidup kami adalah takdir.. Ayah ga bisa lawan takdir”
Isak tangis lirih Ratih kembali terdengar.. Namun tak lama, sosoknya nampak membalikkan tubuh dan melayang ke arah baby box tempat tidur Rangga.. Dari samping aku bisa melihat wajah pucat Ratih memandangi Rangga yang sedang menggeliat diatas kasurnya.. Lalu, sosok itu mengalihkan pandangan ke arah ku..
“Bunda”
Aku berusaha sekuat mungkin menahan gejolak emosi saat melihat wajah pucat Ratih basah oleh air mata.. Pandangan dingin Ratih nampak kosong menatap ku meski air bening terus mengalir turun membasahi pipinya..
“Apa yang membuat Bunda belum tenang? Kenapa Bunda terus muncul di kehidupan kami?”
Perlahan, dua bibir Ratih nampak terbuka lalu dengan suara parau ia mulai berucap..
“TO...LOO..”
Belum selesai Ratih menyempurnakan ucapan, tiba-tiba dari arah dinding kamar dibelakangnya muncul sebuah rantai berwarna merah yang langsung melesat menjerat leher sosok itu.. Aku sangat terkejut mendengar Ratih menjerit kesakitan sambil memegangi lehernya yang terlilit jeratan rantai merah..
Aku yang tak tega melihat Ratih kesakitan, segera berlari ke arahnya.. Namun secepat kilat, rantai aneh berwarna merah yang berpangkal di dinding, menarik paksa sosok istriku ke belakang.. Lamat-lamat, aku mendengar raung jeritan Ratih menggema sebelum dirinya ikut lenyap dibalik dinding bersama rantai merah misterius..
Aku menangis dan memukul-mukul tembok kamar dimana sosok Ratih menghilang.. Aku histeris memanggil nama istriku beruang-ulang.. Tapi yang terjadi malah Dinar dan Rangga sama-sama terbangun, kemudian menangis.. Aku langsung menggendong Dinar dan berteriak memanggil Mbak Nur.. Wanita yang aku pekerjakan sebagai asisten rumah tangga itu berlari dari kamarnya dan segera menggendong Rangga..
“Ada apa, Pak? Anak-anak kenapa nangis semua?” Tanya Mbak Nur dengan wajah panik dan bingung..
Aku tak menjawab pertanyaan Mbak Nur.. Aku malah berlari keluar rumah bersama Dinar dalam gendongan.. Aku berlari ke arah Pohon Mangga, berharap bisa mendapati sosok Ratih disana.. Tapi, nihil.. Tak ada siapapun yang terlihat.. Hanya gelapnya malam dan suara jangkrik yang ada..
Dengan sangat erat aku memeluk Dinar, mencurahkan segala kesedihan dalam hati.. Istri yang belum lama meninggalkan ku kembali muncul untuk meminta pertolongan.. Arwah seorang Ibu yang seharusnya sudah tenang di alam sana, hadir untuk mengharapkan bantuan..
Ini bukan mimpi buruk.. Ini benar terjadi.. Entah memang benar arwah Ratih atau Jin yang menyerupai dirinya yang tadi muncul? Yang pasti kehadiran sosok itu membuatku kembali merasa hancur.. Malam itu aku sama sekali tak sanggup memejamkan mata.. Benakku terus melayang memikirkan semua yang barusan aku lihat dengan mata kepalaku sendiri..
******
Hampir setengah hari aku bekerja tanpa semangat.. Mataku rasanya tak mau diajak melek setelah malam tadi aku tak bisa tidur.. Puluhan kali aku menguap.. Dua cangkir kopi sudah aku teguk sebagai penghalau kantuk, tapi paksaan tubuh yang meminta jatahnya beristirahat terus saja mendera..
Aku meminta bantuan beberapa orang anak buah untuk menghandle beberapa pekerjaan ku, jadi setelah selesai aku hanya tinggal tanda tangan saja.. Tentu mereka sangat mau untuk membantu pekerjaanku, sementara aku berniat istirahat di Musholla..
Beberapa kali aku membuka rekaman CCTV pemantau bayi didalam kamarku lewat Hp.. Memang tidak terlihat apapun didalam rekaman itu tentang kejadian semalam.. Aku pun heran, karena sosok yang menyerupai Ratih yang benar-benar aku lihat sendiri muncul malam tadi.. Tapi yang tampil direkaman hanya gambar ku yang berkali-kali menangis dan berbicara lirih ke tempat kosong..
Satu helaan nafas aku lepaskan, dan mulai merebahkan diri didalam Musholla setelah meletakkan HP disamping.. Tatapan mataku menatap kosong ke atas dengan benak dipenuhi banyak sekali pertanyaan terkait munculnya sosok Ratih semalam, yang sempat mengucapkan kata tolong namun terputus karena dirinya ditarik paksa oleh rantai merah misterius..
"Ambu, aku harus menanyakan hal ini pada Ambu.. Beliau pasti faham akan apa yang aku lalui semalam" Ucapku dalam hati..
Aku kembali bangkit dan mengambil Hp.. Lalu mencari kontak Rima dan langsung menelponnya.. Tapi sayang, Hp Rima tidak aktif.. Mungkin adik ku satu-satunya itu sedang belajar dikampus.. Saat aku termenung memikirkan siapa lagi yang aku bisa tanyakan tentang kejadian semalam, indera pendengaranku menangkap suara orang sedang adu mulut..
Aku beranjak bangkit dan berjalan keluar dari Musholla untuk mencari sumber suara.. Keningku berkerut saat melihat Chyntia nampak mencoba melepaskan tangannya yang sedang dicengkram oleh seorang laki-laki muda berpakaian necis..
Naluri kelelakianku timbul karena tidak tega melihat seorang wanita yang aku kenal sedang disakiti secara fisik oleh laki-laki asing.. Dengan langkah cepat aku menghampiri mereka dan langsung memegang bahu laki-laki tersebut..
“Lepasin dia, Mas” Ucapku dengan lembut namun tegas dan membuat laki-laki itu menatap sinis kearahku dari ujung kaki hingga kepala..
“Kebetulan, orangnya langsung muncul” Kata laki-laki berambut hampir botak sambil melepaskan cengkaraman tangannya dari lengan Chyntia dan mendorong tubuhku..
Aku yang memang sedang dalam keadaan tidak siap, terdorong satu langkah ke belakang.. Beruntung aku langsung bisa menguasai tubuh hingga tak sampai terjatuh akibat dorongan barusan..
“Apa-apaan nih? Lo langsung maen dorong gue” Tanyaku dengan nada suara mulai kesal..
“Lo kan yang udah ngerusak hubungan gue dengan Chyntia”
“Beny! Udah berapa kali gue bilang, putusnya kita ga ada hubungannya dengan dia”
Aku mulai faham akan apa yang sedang terjadi.. Rupanya laki-laki yang barusan mendorongku adalah mantannya Chyntia.. Tak mau aku terlibat lebih jauh akan urusan yang tak ada kaitannya dengan ku.. Untuk itu, aku memutuskan berjalan meninggalkan mereka..
“Mau kemana lo, baik!” Bentak laki-laki itu seraya menarik bahuku dari belakang..
Kali ini aku sudah bersiap tak seperti tadi, dengan cepat aku membalikkan tubuh dan berhasil menghindari sebuah pukulan ke arah wajah.. Satu langkah mundur aku ambil untuk menghindari satu pukulan lagi.. Hingga akhirnya, aku berhasil menangkap kepalan tangan laki-laki tersebut dan bergerak kesamping.. Lalu menarik tubuh laki-laki itu sekaligus menekan dadanya menggunakan telapak tangan ku yang terbuka, hingga membuat ia jatuh ke tanah..
Laki-laki berpakaian necis itu langsung bangun dan hendak melayangkan lagi serangan, namun suara beberapa orang terdengar membentak dari arah belakang, bersamaan dengan jerit ketakutan Chyntia.. Aku sempat menoleh ke belakang dan melihat Akbar dan Marcel serta beberapa teman kantor yang lain berlari ke arah kami..
“Gue bakal bikin perhitungan sama kalian berdua.. Inget itu!” Ucap laki-laki yang kemeja nya nampak sedikit kotor akibat terjatuh barusan, lalu ia dengan cepat pergi meninggalkan kami menuju sebuah mobil berwarna hitam..
“Kamu ga apa-apa, A?” Tanya Chyntia sambil memegangi lengan kananku..
Aku tersenyum seraya menggelengkan kepala karena memang keadaanku baik-baik saja..
“ Njir! Maen kabur aje tuh bencong! Siape die, Dil?” Tanya Akbar setibanya ia didepanku bersama Marcel dan yang lain..
“Tau, Bar.. Dateng-dateng maen nyolot aja ke gue”
“Hebat juga lo, Dil.. Berhasil bikin tuh orang jatoh tadi” Puji Marcel sambil menepuk bahu ku..
Aku tersenyum karena pujian Marcel.. Ingatanku sempat kembali ke masa belasan tahun silam, dimana aku masih duduk di SMP, Almarhum Abah sudah membekali diri ini dengan ilmu kanuragan semacam silat untuk melindungi pun membela diri sendiri.. Kata Abah, sebagai laki-laki harus punya keahlian bela diri agar tidak mudah ditindas orang lain.. Tak dinyana, kejadian barusan sudah membenarkan wejangan Abah..
sirluciuzenze dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup