- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#49
BAB 24 - Liburan Penutup
Kami tiba di Jakarta pada jam 5 sore. Badan udah mulai kerasa pegal-pegal karena harus duduk berjam-jam. Padahal disekolah sama aja. Mungkin bedanya bawa muatan kali ya.
“Aku langsung anter pulang ya” ucapku
“Aa kerumah neng aja dulu” kata Vika
“Malu ah” ucapku
“Gapapa a. Istirahat dirumah neng” ujar Vika
“Ga usah neng. Aa istirahat dirumah aja. Aa cape banget ini” ucapku
“Yaudah deh iya” kata Vika sedikit cemberut
“Nanti malem makan di tempat biasa ya” ucapku
“Iyaaa . . . aa jemput ya” ucap Vika
“Iya neng” jawabku
Setelah mengantar Vika pulang, akupun pulang kerumah. Setibanya dirumah, setelah aku bersih-bersih, shalat, aku langsung menuju kamarku.
“Ga mau makan dulu?” tanya mama
“Engga ma. Masih kenyang. Arul istirahat dulu” ucapku
Aku gatau berapa lama tidur, karena rasanya cape banget. Sampai aku terbangun dari tidurku. Aku melirik ke arah jam dinding dan kulihat waktu menunjukkan jam 9 malam.
“Mampus, Vika pasti marah nih” batinku
Aku bergegas bangun dengan kondisi nyawa yang masih belum terkumpul semua. Kepalaku terasa sakit lagi karena jam tidurnya memang tanggung. Aku mengambil handphoneku dan mengecek pesan masuk atau panggilan masuk dan benar saja, ada 13 SMS masuk dan 4 panggilan tak terjawab dari Vika.
“Bakal dijambak ni gue” batinku
Akupun pasrah dengan apa yang terjadi nanti. Kalaupun Vika marah, aku harus cari cara buat bikin Vika ga marah. Aku turun kebawah tanpa terlalu memikirkan hal ini terlalu larut.
“Loh, kebangun kamu” kata papa
“Iya pa, jam tidurnya kacau hehe” ucapku
“Gimana? Udah ketemu Rima?” tanya mama, aku menggeleng
“Yasudah, kalau jodoh ga kemana hehe” kata papa
“Vika ada dateng kerumah?” tanyaku
“Engga ada kok, kenapa?” tanya papa
“Wah fix ngambek ini” batinku
Aku menjelaskan tentang rencanaku untuk mengajak Vika makan malam di tempat nasi goreng didepan komplek
“Wah, selamat berusaha, hehe” ejek papa
“Yeee, bukan bantuin papa mah” ucapku
“Lhaa kan dia pacar kamu, ya usaha dong hehe” kata papa
Keesokan harinya aku pergi ke minimarket untuk membeli coklat yang akan kuberikan sebagai permintaan maafku nanti pada Vika. Setelah itu aku langsung mendatangi rumah Vika. Aku melihat ada tante Hilda sedang menyapu halaman depan.
“Assalamualaikum tante” ucapku
“Waalaikumussalam. Eh nak Arul” jawab tante Hilda “Mau ketemu Vika ya?” katanya
“Iya, Vikanya ada?” ucapku
“Ada, masuk aja. Tadi sih lagi nonton” kata tante Hilda
“Kalau gitu Arul masuk ya” ucapku izin pada tante Hilda
Saat aku masuk, aku benar melihat seorang gadis sedang duduk di sofanya sedang menonton TV sambil menyisir rambut panjangnya. Perlahan aku mendatanginya kemudian mengusap kepalanya. Iapun menengok kearahku
“Ish ganggu aja deh” kata Vika jutek
“Neng marah ya” ucapku
“Au” katanya
“Maaf, semalem aa ketiduran. Aa kebangun jam 9. Kan aa udah SMS” ucapku
“Yaudah sana tidur lagi” kata Vika
“Ngga ah, mau tidur disini” ucapku sambil merebahkan kepalaku di pangkuannya
“Iisshh . . sana sanaa . . berat aa” kata Vika sambil menepuk wajahku
“Ish bener kata tante Lina, neng galak banget” ucapku sambil bangun dan duduk disampingnya
“Biarin” katanya
“Udah atuh neng jangan marah. Nih, aa bawain coklat” ucapku
“Sana sana” kata Vika masih cemberut
“Yakin nih gamau?” ucapku, Vika menggeleng tapi matanya terus menatap coklat ini
“Yaudah aa makan” ucapku
Dengan gesit Vika merebut coklat itu dariku.
“Katanya gamau” ejekku
“Bodo amat” kata Vika sambil membuka bungkusan coklat itu
Vika duduk membelakangiku. Aku malah dibuat bingung sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku mengambil sisir yang digunakan Vika tadi dan mulai menyisir rambutnya. Aku dan Vika ga bicara lagi saat itu. Ia hanya fokus pada coklatnya, bahkan ketika aku menyisir rambutnya dia bahkan ga berontak atau ngambek
“Maafin aa ya” ucapku
Vika membalikkan wajahnya dan tersenyum kemudian mengangguk padaku
“Maafin neng juga ya, udah ngambek ga jelas. Padahal aa pasti cape banget bawa motor jauh” kata Vika “Mau?” sambil menyodorkan coklatnya
Tapi saat aku hendak mengambilnya ia menarik lagi dengan cepat
“Ga boleh. Ini kan buat neng, wleee” ejek Vika
Aku tersenyum melihat tingkah Vika yang sekarang. Tandanya dia bener-bener udah ga marah lagi
“Awas gendut” ucapku
“Biarin” kata Vika
Hari ini Vika menuntutku untuk menemaninya dirumah. Padahal ada tante Hilda, tapi menghadapi ngambeknya Vika tadi aja sebenernya udah agak susah. Apalagi kalau dia ngambek nya pake banget. Mungkin aku diminta kamikaze kali.
“Waah, dua sejoli lagi bermesraan” ucap seseorang tiba-tiba datang
“Lah, ngapain lu kesini?” ucapku
“Diundang Vika” jawab Hamid
“Terus bawa tas mau kemana?” tanyaku
“Renang lah” kata Hamid
“Lah bukannya besok ya?” ucapku
“Ga, tetep hari ini. Besok udah mulai persiapan masuk sekolah lagi” sambung Windy
Tanpa banyak lagi berdebat, kami semua diskusi mengenai tempat renang yang akan kami datangi. Hamid ingin kolam yang outdoor, katanya biar bisa sekalian liat pemandangan. Saran itu langsung mendapat tepisan baik berupa lisan ataupun fisik oleh Windy. Pada akhirnya kami memutuskan untuk ke kolam renang yang indoor, meskipun biaya tiket masuknya sedikit lebih mahal, tapi kenyamanan buat para cewek. Beberapa saat kemudian kami sudah siap untuk berangkat dan langsung menuju lokasi.
Setibanya disana, aku dan Hamid menunggu para cewek buat ganti baju. Karena buat cowok paling cuma lepas celana utama udah beres. Sampai beberapa menit kemudian Windy dan Vika datang. Sebagai laki-laki normal tentu saja kami melongo pada pasangan kami masing-masing. Karena ini juga pertama kalinya aku melihat mereka mengenakan baju renang. Tapi bagusnya mereka mengenakan baju renang yang panjang namun mereka melepas jilbab mereka.
*PLAKK PLAKK . . . ! !. Vika dan Windy menamparku dan Hamid secara bersamaan.
“Matanya woy” ucap mereka
“Elu sih” ucapku
“Eluu . . “ kata Hamid
“KALIAAN ! ! !” ucap Windy dan Vika serempak
“Yaudah ayo” kata Hamid sambil berdiri dan tanpa ngomong lagi dia langsung lompat ke kolam
“Ayo cepet, seger nih” kata Hamid
Aku dan Windy menyusul masuk tapi Vika malah duduk dipinggir kolam.
“Ayo neng, kok ga nyebur?” tanyaku
Vika hanya memainkan kakinya dan tertawa kecil
“Jangan bilang” aku menerka
“Ga bisa a” kata Vika
“Yaelah, pantes tiap pelajaran olahraga ga pernah keliatan renang” ucapku
“Itu Vika kenapa?” tanya Windy
“Ga bisa berenang” ucapku
Vika langsung memberiku seribu pukulan, kami hanya tertawa melihat tingkahnya
“Yaudah sini aa ajarin” ucapku
“Anjiiirr sini aa ajarin” cibir Hamid
“Aa mah malu tauu” kata Vika
“Ga usah malu. Aku juga renang cuma bisa luncur doang” ucapku
Dengan memegang kedua tanganku, Vika turun kedalam kolam yang dalamnya satu setengah meter ini. Tapi bentuk lantai kolam ini menanjak jadi dengan geser sedikit saja kedalamannya semakin dangkal. Untung saja hanya ada beberapa orang dan kebanyakan keluarga-keluarga kecil dan anak-anak.
“Aa, aku takut tenggelam” kata Vika
“Dangkal ini. Ada aa, sok kakinya digerakin, tangannya pegang yang kuat” ucapku
Vika pun berusaha mengikuti instruksiku, meskipun baginya sulit karena dia sama sekali susah buat ngapung di air. Kemudian aku peragakan gerakan renang yang paling mudah yaitu meluncur.
“Matanya ditutup aja kalau belum kuat” ucapku
“Takut nabrak” kata Vika
“Engga. Sok arahin ke aa aja” ucapku
Pada akhirnya Vika bisa berenang meluncur meskipun ujung-ujungnya dia belok. Setelah berhasil berenang dari satu sisi ke sisi lain, dia berenang kearahku. Aku lihat dia mengucek matanya, kayanya pas renang dia ngebuka matanya
“Yeeaay neng bisa renang” kata Vika sambil melompat memelukku
“Aduh nih yee, mau dong dipeluk” kata Hamid yang melihat kami
“Enak di elu, ga enak digue” kata Windy
Saat bersama yang lain, aku masih memanggil Hamid dan Windy dengan sebutan lo-gue. Tapi ke Vika aku tetap berusaha memanggil dengan sebutan sayang kami. Meski tanggung sih campur-campur gitu.
Beberapa menit berlalu kami benar-benar menikmati hari libur ini. Apalagi Vika yang terlihat bener-bener bangga karena udah bisa renang. Dan menurutku dia juga cepat meresapi apa yang aku ajarkan tadi. Kami memutuskan untuk naik dan pergi ke kantin untuk makan. Entah kenapa renang kali ini membuatku sedikit lebih lelah dari biasanya. Apa karena sakit jantungku? Tapi sebelumnya aku biasa saja.
“Lo pesen apa?” tanya Windy
“Mie goreng aja, minumnya air botolan aja” ucapku
“Gue samain aja sama tapi minumnya jus jeruk”kata Hamid
“Yaudah yuk” ajak Windy sama Vika
Mereka berduapun berlalu. Aku dan Hamid mengobrol seputaran kegiatanku di Bandung kemarin. Hamid memang asli dari Jakarta dan dia belum pernah ke Bandung. Awalnya dia ingin liat foto ketika kami liburan di Bandung, tapi aku bilang kalau fotonya ada di handphone Vika. Ga lama Windy dan Vika kembali membawa pesanan kami.
“Vik, kata Arul lo banyak foto-foto di Bandung ya? Gue mau liat dong” kata Hamid
“Oh, liat aja” kata Vika sambil memberikan handphonenya
“Eh, ga ada foto aneh-aneh kan?” tanyaku pada Vika
“Ga ada a. Foto penting udah aku pindahin ke memori lain” kata Vika
“Oh kali aja ada foto lu begitu” kata Hamid
“Enak aja, ga lah” kata vika
Hamidpun melihat foto-foto itu dengan seksama bareng Windy sambil menikmati makanan mereka.
“Bagus-bagus tempatnya” kata Windy “Ini kalian dimana?” katanya sambil menunjukkan foto
“Itu di Tangkuban Parahu sama di kebun teh yang ga jauh darisitu” jawab Vika
“Wah enak nih sejuk. Bikin skandal bagus nih” ucap Hamid
“Lo mau gue siram pake kuah?” kata Windy
“Bercanda yang” kata Hamid
“Gimana kalau liburan kenaikan kelas nanti kita ke Bandung” ujar Vika
“Mau nginep dimana? Dirumah tante Lina?” tanyaku
“Yaaa kalau itu nanti aku bisa bicarain” kata Vika
“Liat aja nanti, toh si Hamid belum tentu naik kelas” ejekku
“Enak aja. Otak gue lebih encer dari lo” katanya terkekeh
Hari libur ini benar-benar kami isi berempat sampai akhirnya kami semua membuat satu buah pernyataan bersama yaitu bagaimanapun kehidupan selanjutnya, tetap saling support.
Sore itu kami memutuskan untuk langsung pulang. Lagi-lagi Vika menyuruhku untuk kerumahnya karena om Tio dan tante Hilda lagi pergi. Vika yang menelefon tante Hilda langsung memberikan telefonnya padaku dan memintaku untuk menjaga Vika sampai mereka kembali. Kamipun tiba dirumah Vika
“Ga salah nih dirumah neng berdua?” tanyaku
“Engga. Aa juga ga akan macem-macem kan?” kata Vika
“Oh itu tergantung” ucapku
“Iishh gitu kan nakal” katanya sambil menjambak rambutku
“Maaf neng, bercanda doang” ucapku
“Jelek tau” katanya
“Jelek juga neng demen” godaku
“Yaudah yuk masuk” ajak Vika
Setelah itu Vika membersihkan diri, bergantian denganku. Memasuki malam aku duduk di ruang TV sambil menonton televisi. Sementara Vika yang duduk disampingku asik memainkan handphonenya, dan dia melihat foto-foto liburan kemarin. Sesekali ekspresi wajahnya berubah. Kadang cemberut, kadang tiba-tiba senyum, bahkan ketawa sendiri menjadi kesan lucu bagiku.
“Aa” panggilnya
“Kenapa neng?” jawabku
“Boleh peluk?” katanya
“Kenapa nih? Pasti pengen sesuatu?” ucapku
“Engga ih, suudzon gitu” kata Vika
“Yaudah peluk aja” ucapku kemudian Vika memelukku
Wangi rambutnya sampai menusuk ke hidungku, membuatku merasa lebih tenang.
“Neng sayang banget sama aa” katanya
“Iya” jawabku
“Masa iya doang sih” kata Vika
“Iya aa juga sayang sama neng hehe” ucapku
Yang aku inginkan saat ini, hanyalah bisa menjadi sosok pelindung untuk Vika.
“Aku langsung anter pulang ya” ucapku
“Aa kerumah neng aja dulu” kata Vika
“Malu ah” ucapku
“Gapapa a. Istirahat dirumah neng” ujar Vika
“Ga usah neng. Aa istirahat dirumah aja. Aa cape banget ini” ucapku
“Yaudah deh iya” kata Vika sedikit cemberut
“Nanti malem makan di tempat biasa ya” ucapku
“Iyaaa . . . aa jemput ya” ucap Vika
“Iya neng” jawabku
Setelah mengantar Vika pulang, akupun pulang kerumah. Setibanya dirumah, setelah aku bersih-bersih, shalat, aku langsung menuju kamarku.
“Ga mau makan dulu?” tanya mama
“Engga ma. Masih kenyang. Arul istirahat dulu” ucapku
Aku gatau berapa lama tidur, karena rasanya cape banget. Sampai aku terbangun dari tidurku. Aku melirik ke arah jam dinding dan kulihat waktu menunjukkan jam 9 malam.
“Mampus, Vika pasti marah nih” batinku
Aku bergegas bangun dengan kondisi nyawa yang masih belum terkumpul semua. Kepalaku terasa sakit lagi karena jam tidurnya memang tanggung. Aku mengambil handphoneku dan mengecek pesan masuk atau panggilan masuk dan benar saja, ada 13 SMS masuk dan 4 panggilan tak terjawab dari Vika.
“Bakal dijambak ni gue” batinku
Akupun pasrah dengan apa yang terjadi nanti. Kalaupun Vika marah, aku harus cari cara buat bikin Vika ga marah. Aku turun kebawah tanpa terlalu memikirkan hal ini terlalu larut.
“Loh, kebangun kamu” kata papa
“Iya pa, jam tidurnya kacau hehe” ucapku
“Gimana? Udah ketemu Rima?” tanya mama, aku menggeleng
“Yasudah, kalau jodoh ga kemana hehe” kata papa
“Vika ada dateng kerumah?” tanyaku
“Engga ada kok, kenapa?” tanya papa
“Wah fix ngambek ini” batinku
Aku menjelaskan tentang rencanaku untuk mengajak Vika makan malam di tempat nasi goreng didepan komplek
“Wah, selamat berusaha, hehe” ejek papa
“Yeee, bukan bantuin papa mah” ucapku
“Lhaa kan dia pacar kamu, ya usaha dong hehe” kata papa
Keesokan harinya aku pergi ke minimarket untuk membeli coklat yang akan kuberikan sebagai permintaan maafku nanti pada Vika. Setelah itu aku langsung mendatangi rumah Vika. Aku melihat ada tante Hilda sedang menyapu halaman depan.
“Assalamualaikum tante” ucapku
“Waalaikumussalam. Eh nak Arul” jawab tante Hilda “Mau ketemu Vika ya?” katanya
“Iya, Vikanya ada?” ucapku
“Ada, masuk aja. Tadi sih lagi nonton” kata tante Hilda
“Kalau gitu Arul masuk ya” ucapku izin pada tante Hilda
Saat aku masuk, aku benar melihat seorang gadis sedang duduk di sofanya sedang menonton TV sambil menyisir rambut panjangnya. Perlahan aku mendatanginya kemudian mengusap kepalanya. Iapun menengok kearahku
“Ish ganggu aja deh” kata Vika jutek
“Neng marah ya” ucapku
“Au” katanya
“Maaf, semalem aa ketiduran. Aa kebangun jam 9. Kan aa udah SMS” ucapku
“Yaudah sana tidur lagi” kata Vika
“Ngga ah, mau tidur disini” ucapku sambil merebahkan kepalaku di pangkuannya
“Iisshh . . sana sanaa . . berat aa” kata Vika sambil menepuk wajahku
“Ish bener kata tante Lina, neng galak banget” ucapku sambil bangun dan duduk disampingnya
“Biarin” katanya
“Udah atuh neng jangan marah. Nih, aa bawain coklat” ucapku
“Sana sana” kata Vika masih cemberut
“Yakin nih gamau?” ucapku, Vika menggeleng tapi matanya terus menatap coklat ini
“Yaudah aa makan” ucapku
Dengan gesit Vika merebut coklat itu dariku.
“Katanya gamau” ejekku
“Bodo amat” kata Vika sambil membuka bungkusan coklat itu
Vika duduk membelakangiku. Aku malah dibuat bingung sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku mengambil sisir yang digunakan Vika tadi dan mulai menyisir rambutnya. Aku dan Vika ga bicara lagi saat itu. Ia hanya fokus pada coklatnya, bahkan ketika aku menyisir rambutnya dia bahkan ga berontak atau ngambek
“Maafin aa ya” ucapku
Vika membalikkan wajahnya dan tersenyum kemudian mengangguk padaku
“Maafin neng juga ya, udah ngambek ga jelas. Padahal aa pasti cape banget bawa motor jauh” kata Vika “Mau?” sambil menyodorkan coklatnya
Tapi saat aku hendak mengambilnya ia menarik lagi dengan cepat
“Ga boleh. Ini kan buat neng, wleee” ejek Vika
Aku tersenyum melihat tingkah Vika yang sekarang. Tandanya dia bener-bener udah ga marah lagi
“Awas gendut” ucapku
“Biarin” kata Vika
Hari ini Vika menuntutku untuk menemaninya dirumah. Padahal ada tante Hilda, tapi menghadapi ngambeknya Vika tadi aja sebenernya udah agak susah. Apalagi kalau dia ngambek nya pake banget. Mungkin aku diminta kamikaze kali.
“Waah, dua sejoli lagi bermesraan” ucap seseorang tiba-tiba datang
“Lah, ngapain lu kesini?” ucapku
“Diundang Vika” jawab Hamid
“Terus bawa tas mau kemana?” tanyaku
“Renang lah” kata Hamid
“Lah bukannya besok ya?” ucapku
“Ga, tetep hari ini. Besok udah mulai persiapan masuk sekolah lagi” sambung Windy
Tanpa banyak lagi berdebat, kami semua diskusi mengenai tempat renang yang akan kami datangi. Hamid ingin kolam yang outdoor, katanya biar bisa sekalian liat pemandangan. Saran itu langsung mendapat tepisan baik berupa lisan ataupun fisik oleh Windy. Pada akhirnya kami memutuskan untuk ke kolam renang yang indoor, meskipun biaya tiket masuknya sedikit lebih mahal, tapi kenyamanan buat para cewek. Beberapa saat kemudian kami sudah siap untuk berangkat dan langsung menuju lokasi.
Setibanya disana, aku dan Hamid menunggu para cewek buat ganti baju. Karena buat cowok paling cuma lepas celana utama udah beres. Sampai beberapa menit kemudian Windy dan Vika datang. Sebagai laki-laki normal tentu saja kami melongo pada pasangan kami masing-masing. Karena ini juga pertama kalinya aku melihat mereka mengenakan baju renang. Tapi bagusnya mereka mengenakan baju renang yang panjang namun mereka melepas jilbab mereka.
*PLAKK PLAKK . . . ! !. Vika dan Windy menamparku dan Hamid secara bersamaan.
“Matanya woy” ucap mereka
“Elu sih” ucapku
“Eluu . . “ kata Hamid
“KALIAAN ! ! !” ucap Windy dan Vika serempak
“Yaudah ayo” kata Hamid sambil berdiri dan tanpa ngomong lagi dia langsung lompat ke kolam
“Ayo cepet, seger nih” kata Hamid
Aku dan Windy menyusul masuk tapi Vika malah duduk dipinggir kolam.
“Ayo neng, kok ga nyebur?” tanyaku
Vika hanya memainkan kakinya dan tertawa kecil
“Jangan bilang” aku menerka
“Ga bisa a” kata Vika
“Yaelah, pantes tiap pelajaran olahraga ga pernah keliatan renang” ucapku
“Itu Vika kenapa?” tanya Windy
“Ga bisa berenang” ucapku
Vika langsung memberiku seribu pukulan, kami hanya tertawa melihat tingkahnya
“Yaudah sini aa ajarin” ucapku
“Anjiiirr sini aa ajarin” cibir Hamid
“Aa mah malu tauu” kata Vika
“Ga usah malu. Aku juga renang cuma bisa luncur doang” ucapku
Dengan memegang kedua tanganku, Vika turun kedalam kolam yang dalamnya satu setengah meter ini. Tapi bentuk lantai kolam ini menanjak jadi dengan geser sedikit saja kedalamannya semakin dangkal. Untung saja hanya ada beberapa orang dan kebanyakan keluarga-keluarga kecil dan anak-anak.
“Aa, aku takut tenggelam” kata Vika
“Dangkal ini. Ada aa, sok kakinya digerakin, tangannya pegang yang kuat” ucapku
Vika pun berusaha mengikuti instruksiku, meskipun baginya sulit karena dia sama sekali susah buat ngapung di air. Kemudian aku peragakan gerakan renang yang paling mudah yaitu meluncur.
“Matanya ditutup aja kalau belum kuat” ucapku
“Takut nabrak” kata Vika
“Engga. Sok arahin ke aa aja” ucapku
Pada akhirnya Vika bisa berenang meluncur meskipun ujung-ujungnya dia belok. Setelah berhasil berenang dari satu sisi ke sisi lain, dia berenang kearahku. Aku lihat dia mengucek matanya, kayanya pas renang dia ngebuka matanya
“Yeeaay neng bisa renang” kata Vika sambil melompat memelukku
“Aduh nih yee, mau dong dipeluk” kata Hamid yang melihat kami
“Enak di elu, ga enak digue” kata Windy
Saat bersama yang lain, aku masih memanggil Hamid dan Windy dengan sebutan lo-gue. Tapi ke Vika aku tetap berusaha memanggil dengan sebutan sayang kami. Meski tanggung sih campur-campur gitu.
Beberapa menit berlalu kami benar-benar menikmati hari libur ini. Apalagi Vika yang terlihat bener-bener bangga karena udah bisa renang. Dan menurutku dia juga cepat meresapi apa yang aku ajarkan tadi. Kami memutuskan untuk naik dan pergi ke kantin untuk makan. Entah kenapa renang kali ini membuatku sedikit lebih lelah dari biasanya. Apa karena sakit jantungku? Tapi sebelumnya aku biasa saja.
“Lo pesen apa?” tanya Windy
“Mie goreng aja, minumnya air botolan aja” ucapku
“Gue samain aja sama tapi minumnya jus jeruk”kata Hamid
“Yaudah yuk” ajak Windy sama Vika
Mereka berduapun berlalu. Aku dan Hamid mengobrol seputaran kegiatanku di Bandung kemarin. Hamid memang asli dari Jakarta dan dia belum pernah ke Bandung. Awalnya dia ingin liat foto ketika kami liburan di Bandung, tapi aku bilang kalau fotonya ada di handphone Vika. Ga lama Windy dan Vika kembali membawa pesanan kami.
“Vik, kata Arul lo banyak foto-foto di Bandung ya? Gue mau liat dong” kata Hamid
“Oh, liat aja” kata Vika sambil memberikan handphonenya
“Eh, ga ada foto aneh-aneh kan?” tanyaku pada Vika
“Ga ada a. Foto penting udah aku pindahin ke memori lain” kata Vika
“Oh kali aja ada foto lu begitu” kata Hamid
“Enak aja, ga lah” kata vika
Hamidpun melihat foto-foto itu dengan seksama bareng Windy sambil menikmati makanan mereka.
“Bagus-bagus tempatnya” kata Windy “Ini kalian dimana?” katanya sambil menunjukkan foto
“Itu di Tangkuban Parahu sama di kebun teh yang ga jauh darisitu” jawab Vika
“Wah enak nih sejuk. Bikin skandal bagus nih” ucap Hamid
“Lo mau gue siram pake kuah?” kata Windy
“Bercanda yang” kata Hamid
“Gimana kalau liburan kenaikan kelas nanti kita ke Bandung” ujar Vika
“Mau nginep dimana? Dirumah tante Lina?” tanyaku
“Yaaa kalau itu nanti aku bisa bicarain” kata Vika
“Liat aja nanti, toh si Hamid belum tentu naik kelas” ejekku
“Enak aja. Otak gue lebih encer dari lo” katanya terkekeh
Hari libur ini benar-benar kami isi berempat sampai akhirnya kami semua membuat satu buah pernyataan bersama yaitu bagaimanapun kehidupan selanjutnya, tetap saling support.
Sore itu kami memutuskan untuk langsung pulang. Lagi-lagi Vika menyuruhku untuk kerumahnya karena om Tio dan tante Hilda lagi pergi. Vika yang menelefon tante Hilda langsung memberikan telefonnya padaku dan memintaku untuk menjaga Vika sampai mereka kembali. Kamipun tiba dirumah Vika
“Ga salah nih dirumah neng berdua?” tanyaku
“Engga. Aa juga ga akan macem-macem kan?” kata Vika
“Oh itu tergantung” ucapku
“Iishh gitu kan nakal” katanya sambil menjambak rambutku
“Maaf neng, bercanda doang” ucapku
“Jelek tau” katanya
“Jelek juga neng demen” godaku
“Yaudah yuk masuk” ajak Vika
Setelah itu Vika membersihkan diri, bergantian denganku. Memasuki malam aku duduk di ruang TV sambil menonton televisi. Sementara Vika yang duduk disampingku asik memainkan handphonenya, dan dia melihat foto-foto liburan kemarin. Sesekali ekspresi wajahnya berubah. Kadang cemberut, kadang tiba-tiba senyum, bahkan ketawa sendiri menjadi kesan lucu bagiku.
“Aa” panggilnya
“Kenapa neng?” jawabku
“Boleh peluk?” katanya
“Kenapa nih? Pasti pengen sesuatu?” ucapku
“Engga ih, suudzon gitu” kata Vika
“Yaudah peluk aja” ucapku kemudian Vika memelukku
Wangi rambutnya sampai menusuk ke hidungku, membuatku merasa lebih tenang.
“Neng sayang banget sama aa” katanya
“Iya” jawabku
“Masa iya doang sih” kata Vika
“Iya aa juga sayang sama neng hehe” ucapku
Yang aku inginkan saat ini, hanyalah bisa menjadi sosok pelindung untuk Vika.
Diubah oleh neopo 25-09-2022 06:35
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
7