“Huuaaaaaa!!!”, teriak temen-temenku yang cewek.
“Hahaha Anes geblek ancen!! Hahahahaha!”, respons beberapa temen cowok. Sedang Mas Reihan malah ketawa. Mas Ajun yang juga ketawa dan terheran-heran, mengambil alih microphone yang aku genggam dengan erat.
“Nes, kamu loh! Disuruh ungkapin perasaan malah minta jadi pacar Mas Reihan. Emang kayanya dari hati yaa??”, kata Mas Ajun menyudutkanku.
‘Emang ada ungkapan apa lagi selain itu?’, gerutuku dalam hati.
‘Toh ini juga sekedar permainan agar menghibur yang lain kan. Yaa aku harus totalitas dong ngehiburnya.’, dalam bathinku mencari pembelaan.
“Jadi gimana? Perlu jawaban dari Mas Reihan atau ganti ungkapan yang lain nih?”, tanya Mas Ajun kepada semua yang hadir pada malam itu.
“Jawab-jawab-jawab-jawab-jawaab!!”, mereka menjawab kompak.
“Okeee, kita denger jawaban Mas Reihan yaaa!!!”, kata Mas Ajun sembari mengarahkan microphonenya pada Mas Reihan. Mas Reihan yang tadinya ketawa lepas, kini mulai terlihat salah tingkah. Sedang aku, berusaha bersikap bodo amat meski udah mempermalukan diri sendiri.
“Hmm ini kira-kira butuh jawaban yang serius atau bercanda nih?”, tanya Mas Reihan.
“Kalau serius juga gapapa sih Mas!!!”, jawab Mas Ajun. Mas Reihan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Lalu mengambil alih microphone dari Mas Ajun.
“Nes..”, panggil Mas Reihan. Seketika aku mengikuti pergerakan tubuh Mas Reihan yang awalnya kami saling bersebelahan menjadi saling berhadapan. Teman-teman makin heboh melihatnya.
“Kalau sekarang aku bolehin kamu jadi pacar aku…”, suasana tiba-tiba hening. Sepertinya mereka mulai kebawa suasana.
Aku hanya bisa senyum-senyum menahan tawa sembari menatap mata Mas Reihan yang entah ini dia lagi serius apa bercanda.
“Berarti bulan depan, boleh aku jadi suami kamu?”
“Huuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!”, teriak mereka heboh sambil bertepuk tangan meriah. Bahkan ada juga yang tiup-tiup terompet!! Mas Ajun pun segera merebut paksa microphone dari Mas Reihan dan kembali berceloteh entah apa yang di celotehkan, aku ga bisa fokus karena ngefreeze.
Bersamaan dengan itu, Mas Reihan mendekati wajahku dan berbisik di telingaku,
“Bercanda ya Nes. Jangan marah!”, hembusan napas dari kata yang keluar dari mulutnya, membuatku bergidik. Bisa dibayangkan betapa dekatnya wajah kami saat itu kan?
“Hahahaa I’m well aware of that!!!”, aku berusaha meresponsnya dengan santai cengengesan sembari melangkah selangkah lebih jauh darinya.
Kami pun saling menatap dan tertawa bersamaan. Sepertinya kami sama-sama merasa bahagia karena telah berhasil menghibur mereka yang haus akan hiburan.
Tak lama dari itu, tiba-tiba Mas Reihan menarik tubuhku ke arahnya. Kemudian dia memegang erat pinggangku untuk mengangkatku agar kami bertukar posisi. Hal itu terjadi dalam sepersekian detik.
Dan..
BYYYYYUUUUUUUUURRRR!!!
“Ih apa-apaaaan iniiiii!!”, teriakku di dekapan Mas Reihan. “Kalian ih iseng bangeeeeeet!!”, teriakku lagi yang pasti tidak terdengar oleh mereka yang mengguyur Mas Reihan dengan air.
“Mas, basah banget ini baju bagian belakangnya!!!”, kataku yang seketika berlari ke arah belakang badannya melihat keadaannya setelah diguyur setimba air.
“Woyyyy, yang ulang tahun bukan Anes!!!”, teriak temen-temenku.
“Kon yo’opo seh, iki durung jam rolas, le le!! Hahahaha!”
(Kamu gimana sih, ini belum jam 12 woy!), kata Mas Ajun pada Mas yang aku lupa namanya (karena dia bukan orang kantor, aku curiga dia orang yang disewa untuk nyiramin aku setimba air meski yang basah kuyup ternyata Mas Reihan). Si Masnya pun ngebantah, dia pikir aku yang ulang tahun, karena dia ngehnya, siapa yang dikerjain, dialah yang ulang tahun. Huhuhuhu oke, baik!
“Loh sampean ngode-ngode!
(Lah kamunya ngasih kode), sangkalnya. Okee, kode yang Masnya maksud hanyalah dia dan Mas Ajun yang paham huhuhu. Biarin aja mereka ribut.
“Wess bubar-bubar!!!”, tanya teman-temanku yang seketika langsung menyebar sambil menertawai Mas Ajun dan si Mas yang lagi gelut.
Disisi lain, aku dan Mas Reihan masih berada di tempat yang sama, di dekat api unggun yang kehangatannya mulai menjalar ke seluruh tubuhku.
“Haha gapapa Nes, yang penting kamunya ga kena siraman air!”, jawabnya santai. Lalu Mas Ajun menghampiri kami dengan membawa dua handuk sembari meminta maaf pada Mas Reihan. Dan Mas Reihan sama sekali ga marah atau kesal karenanya huhuhu baik banget sih!
Setelah acara ga jelas itu, mereka melanjutkan kegiatan membakar berbagai jenis ikan dan juga membakar berbagai macam sosis. Ada juga yang sedang bermain musik dan juga ada yang menyanyi. Yaa suasana malam itu seperti acara kebanyakan dalam menyambut tahun baru.
“Nih handuknya, kakimu sepertinya juga perlu dikeringin!”, ujar Mas Reihan memberikanku satu handuk yang lain setelah Mas Ajun pergi meninggalkan kami.
“Makasih.. Maafin yaaa…”, kataku sembari menatap mata Mas Reihan yang ternyata ia sudah menatapku lebih dulu.
“Diih gini doang. Toh aku bisa langsung ke kamar untuk ganti baju!”, katanya menghiburku.
“Yaudaah gih ganti baju dulu…”
“Okee, aku ganti baju dulu kalau gitu. Tunggu yaaaa!”, dia tersenyum sembari mengusap-ngusap kepalaku sebelum dia melangkah pergi memasuki lobby kantor. Lobby kantor menjadi satu-satunya jalan utama
-sebab ada lift disisi kanannya yang dipergunakan para crew untuk bisa ke lantai dua sampai lantai enam dimana letak mess crew berada-.
Perhatianku dikuasai sepenuhnya oleh dia yang kini telah membelakangiku dan berjalan menjauh dari posisi aku berada. Melihatnya berjalan dengan langkah yang gagah dengan badannya yang tampak ideal -tidak gendut juga tidak kurus dan sedikit berotot-, bisa dibayangkan gimana cakepnya wajahnya. Apalagi saat dia mengusap-ngusap rambutnya yang sedikit basah dengan handuk di tangan kanannya, keliatan cool banget! Aku tersenyum saat mengingat kembali bagaimana cara aku mengenalnya beberapa saat lalu, rupanya sungguh memalukan juga ya aku.
“Mba Nes, mau makan sosis ga?”, tanya Siska memecahkan lamunanku. Ku lihat dia sedang membawa sosis bakar sepiring penuh di tangannya.
“Hmm maau!!! Tau aja kamu kalau aku laper!!”, jawabku.
“Taau lah, kan tahun lalu aku yang jadi korban bullyan mereka. Jadi aku bisa ngerasain gimana keselnya tapi ga bisa marah.. Ujung-ujungnya bikin laper!!”
“Hahaha ya-ya bener-bener!!”
“Mas Reihan kemana?”, tanyanya.
“Hm balik ke kamar. Katanya mau ganti baju dulu.”
“Owh. Hehehe. Ganteng banget ga sih Mba si Mas Reihan? Aku aja klepek-klepek ngeliat dia dari jarak jauh. Gimana Mba yaaa…”, ujarnya heboh sembari melahap setengah sosis jumbo sambil menatap langit yang malam itu sangat cerah oleh sinar sang rembulan.
“Hahahha dasar! Btw dia itu yang selama ini kalian omongin bukan sih?”
“Iyaaa!! Yang kita bilang ada FO ganteng banget kek artis… duh artis siapa yaaa??”, Siska makin heboh!
“Haahaha ngaraang kamu!!”, aku menyentil ringan kening Siska. Dia ini juniorku yang paling bontot, jadi ya gitu, anaknya polos-polos tapi kadang ngeselin.
“Nes Aneees, sekarang giliranmu yang ngebakar ikannya yoo!!”, teriak Mba Dipna dari kejauhan.
“Okeeee SIAAAP!!”, balasku dan langsung bergegas ke tempat ngebakar ikan ninggalin Siska yang masih ngusap-ngusap keningnya.
“Wah, ini aku bareng siapa ngebakar ikannya?”, tanyaku setibanya di tempat ngebakar ikan-ikanan dan juga sosis-sosisan.
“Sendirian noh!! Gih sana minta bantuin ayang!!”, goda teman-temanku.
“Hahahha, udah nikah dia!!!”, jawabku balas menggoda.
“Haah serius?? Ih jangan kalau gitu Nes. Masa kamu sama suami orang!!! NOOO!!!”
“Hahahahahaha!!”, tawaku mendengar jawaban temanku yang menganggap ucapanku dengan serius.
Mereka ini kadang emang super cute begitu, posesifnya melebihi kadar posesifnya Papa. Mereka bener-bener selalu mewanti-wanti teman dekatnya untuk tidak menjadi pacar dari seorang pria beristri.
Satu-dua-tiga-empat hingga delapan ikan yang sudah ku bakar untuk bisa mereka santap. Kini waktu pun sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga lebih lima puluh menit. Namun tak terlihat sosok Mas Reihan sejak dia berpamitan sejam lalu. Hm mungkin dia ketiduran karena emang udah waktunya untuk dia istirahat karena besok harus terbang kali ya.
‘Kasianan. Padahal dia belum makan ikannya’, bathinku.
Mba Fitri kini menggantikanku ngebakar ikan. Aku pun bisa mulai bersantai dan berbincang dengan yang lain sambil melahap ikan bakar yang tersisa.
“Nes, aku ngetag kamu di path yaaa. Jangan lupa kasih love fotonya!!”, kata Mba Dipna.
“Okeee…”, kataku yang masih sibuk ngambilin sisa daging ikan di sela-sela tulangnya.
“Sekaraang!!”, katanya lagi.
“Yaampun dasar yaa Ibuuk ga sabaran banget!”, godaku.
Akupun segera mengambil HP yang sedari tadi aku anggurin di dalam tas slempang mungilku. Lalu, aku membuka pathku dan mencari foto yang Mba Dipna maksud.
“Udah aku loved yaa!!”, ujarku. Karena terlanjur sudah membuka path, aku pun iseng buka direct messagenya. Dan disana, aku mendapati path ‘seseorang’ yang sama, yang sejak beberapa bulan lalu mengirimiku pesan, namun tak pernah aku membalasnya.
Dan dia dengan konsisten mengirimkan pesan yang sama :
_ Madesde : Hai, Nes… Masih inget aku ga? _
Disaat aku membaca pesan dari pemilik akun Madesde itu, disaat itu pula aku mendengar suara hingar bingar dari terompet yang ditiup penuh semangat oleh orang-orang disekelilingku. Aku mulai mendongakkan kepala keatas, melihat keindahan kembang api yang tengah bersuar warna-warni di langit malam Kota Surabaya.