- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
Diubah oleh breaking182 30-12-2022 23:12
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.8K
Kutip
622
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#359
gatra 5
Quote:
HATI ARYA GADING tiba-tiba menjadi takut. Takut sekali. Ia sudah tidak dapat berbuat apa –apa lagi. Lubang satu –satunya lorong itu telah tersumbat oleh reruntuhan batu yang berguguran. Sekian lamanya Arya Gading merenung, meratapi nasib. Justru pada saat itu lah tiba –tiba tekadnya menyala. Pemuda itu tidak mau terjebak dan mati secara konyol karena terkurung di dalam sebuah ruangan yang tertutup rapat.
“ Aku harus menemukan jalan keluar dari tempat laknat ini. Harus! Ada bibi yang menungguku di Pasanggaran ada kakang Sukmo Aji yang belum juga aku temui begitu lamanya. Aku harus tetap hidup “
Arya Gading lantas beranjak dari tempat duduknya. Di cermatinya setiap lekuk dari dinding –dindin goa itu. Pada saat itulah Arya Gading menemukan sebuah mata air kecil di belakang sebuah batu. Segera ia berjongkok, dan membasahi kerongkongannya yang serasa kering dan panas. Setelah itu terasa tubuhnya menjadi bertambah segar.
Arya Gading kembali meraba –raba dan mencermati dinding goa itu sekali lagi. Anak muda itu berharap menemukan celah untuk meloloskan diri dari ruangan goa yang sudah tertutup tumpukan batu itu. Langkah Arya Gading terhenti ketika ia melihat didalam keremangan sebuah lubang dilangit-langit goa itu. Sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian ia mencoba mengamati lubang itu dengan saksama. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika terasa olehnya hembusan angin yang bertiup dari dalam lubang itu.
“Lubang itu tentu mempunyai hubungan langsung dengan udara diluar goa,” berkata Arya Gading kepada diri sendiri.
Sejenak Arya Gading menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun mencoba meraba lubang dilangit-langit goa itu. Keinginannya tiba-tiba sangat mendesaknya untuk mengetahui isi dari lubang itu, dan hubungan yang langsung dengan udara diluar goa. Mungkin lubang itu akan muncul di permukaan di tempat yang tidak diduganya. Setelah menimbang-nimbang sejenak, maka Arya Gading pun kemudian menetapkan hati untuk memasuki lubang itu. Ia tidak dapat menduga, apakah yang akan dijumpainya didalam goa yang agaknya lebih sempit dari lorong -lorong goa yang telah dimasukinya. Sejenak kemudian, maka ia pun segera meloncat, meraih bibir lubang itu dan kemudian dengan agak sulit ia mengangkat dirinya memasuki lubang kecil itu. Ketika ia sudah berada didalam, maka ia melihat sebuah batu yang cukup besar, tergolek disamping lubang itu.
“Batu ini seolah-olah dipersiapkan untuk menutup lubang kecil itu,” katanya didalam hati.
Tetapi Arya Gading tidak berani mencobanya. Jika ia mencoba mengguncang batu itu dan kemudian berguling menyumbat lubang kecil itu, maka ia tidak tahu. Apakah ada lubang lain yang dapat dipergunakannya untuk keluar, dan apakah ia kemudian mampu menyingkirkan batu itu. Karena itu Arya Gading sama sekali tidak menyentuh batu itu. Ia pun kemudian merangkak menyusur lubang yang sempit dengan sangat hati-hati. Tetapi pengenalannya atas keadaan di sekitarnya telah memberikan kepadanya harapan, karena nalurinya seolah-olah mengenal sesuatu yang diarapkan di ujung lubang kecil itu. Untuk beberapa saat lamanya ia merangkak. Namun terasa bahwa lubang itu menjadi semakin lama semakin lebar.
Arya Gading menjadi berdebar-debar ketika terasa angin yang silir menghembus dari arah yang berlawanan, sehingga dengan demikian ia menduga, bahwa memang ada lubang tembus di ujung jalur yang sedang dilaluinya itu. Beberapa lama ia merangkak dalam kegelapan. Meskipun demikian, dalam keremangan itu, ia berhasil memperhatikan bentuk dinding goa itu. Dibeberapa tempat ia menjadi curiga. Bahkan ia terhenti di sebuah tikungan, karena ia melihat beberapa bagian dari dinding itu seolah-olah telah disentuh oleh tangan.
“Agaknya tikungan ini semula terlalu sempit,” berkata Arya Gading didalam hati, “sehingga dengan demikian, seseorang telah memperlebar lubangnya sesuai dengan lubang yang semakin lebar ini.”
Arya Gading justru menjadi yakin, bahwa tikungan itu memang sudah mendapat perubahan dari bentuk aslinya. Ketika ia melalui tikungan itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Diujung jalur kecil itu ia melihat bayangan yang semakin terang. Seolah-olah diujung itu terdapat cahaya yang lebih banyak.
“Apakah ujung jalur ini benar-benar berhubungan dengan udara diluar? “ ia bertanya kepada diri sendiri.
Arya Gading tidak merasakan pedih di lututnya oleh sentuhan batu-batu karang. Perlahan-lahan ia maju terus, sehingga dengan dada yang berdebar-debar akhirnya ia sampai ke mulut lubang itu. Tetapi yang dilihatnya ternyata bukannya udara yang terang diluar goa. Lubang itu masih belum langsung berhubungan dengan alam yang terbuka. Yang dilihatnya adalah sebuah ruang yang cukup luas dan tidak terlalu gelap.
“ Aku harus menemukan jalan keluar dari tempat laknat ini. Harus! Ada bibi yang menungguku di Pasanggaran ada kakang Sukmo Aji yang belum juga aku temui begitu lamanya. Aku harus tetap hidup “
Arya Gading lantas beranjak dari tempat duduknya. Di cermatinya setiap lekuk dari dinding –dindin goa itu. Pada saat itulah Arya Gading menemukan sebuah mata air kecil di belakang sebuah batu. Segera ia berjongkok, dan membasahi kerongkongannya yang serasa kering dan panas. Setelah itu terasa tubuhnya menjadi bertambah segar.
Arya Gading kembali meraba –raba dan mencermati dinding goa itu sekali lagi. Anak muda itu berharap menemukan celah untuk meloloskan diri dari ruangan goa yang sudah tertutup tumpukan batu itu. Langkah Arya Gading terhenti ketika ia melihat didalam keremangan sebuah lubang dilangit-langit goa itu. Sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian ia mencoba mengamati lubang itu dengan saksama. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika terasa olehnya hembusan angin yang bertiup dari dalam lubang itu.
“Lubang itu tentu mempunyai hubungan langsung dengan udara diluar goa,” berkata Arya Gading kepada diri sendiri.
Sejenak Arya Gading menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun mencoba meraba lubang dilangit-langit goa itu. Keinginannya tiba-tiba sangat mendesaknya untuk mengetahui isi dari lubang itu, dan hubungan yang langsung dengan udara diluar goa. Mungkin lubang itu akan muncul di permukaan di tempat yang tidak diduganya. Setelah menimbang-nimbang sejenak, maka Arya Gading pun kemudian menetapkan hati untuk memasuki lubang itu. Ia tidak dapat menduga, apakah yang akan dijumpainya didalam goa yang agaknya lebih sempit dari lorong -lorong goa yang telah dimasukinya. Sejenak kemudian, maka ia pun segera meloncat, meraih bibir lubang itu dan kemudian dengan agak sulit ia mengangkat dirinya memasuki lubang kecil itu. Ketika ia sudah berada didalam, maka ia melihat sebuah batu yang cukup besar, tergolek disamping lubang itu.
“Batu ini seolah-olah dipersiapkan untuk menutup lubang kecil itu,” katanya didalam hati.
Tetapi Arya Gading tidak berani mencobanya. Jika ia mencoba mengguncang batu itu dan kemudian berguling menyumbat lubang kecil itu, maka ia tidak tahu. Apakah ada lubang lain yang dapat dipergunakannya untuk keluar, dan apakah ia kemudian mampu menyingkirkan batu itu. Karena itu Arya Gading sama sekali tidak menyentuh batu itu. Ia pun kemudian merangkak menyusur lubang yang sempit dengan sangat hati-hati. Tetapi pengenalannya atas keadaan di sekitarnya telah memberikan kepadanya harapan, karena nalurinya seolah-olah mengenal sesuatu yang diarapkan di ujung lubang kecil itu. Untuk beberapa saat lamanya ia merangkak. Namun terasa bahwa lubang itu menjadi semakin lama semakin lebar.
Arya Gading menjadi berdebar-debar ketika terasa angin yang silir menghembus dari arah yang berlawanan, sehingga dengan demikian ia menduga, bahwa memang ada lubang tembus di ujung jalur yang sedang dilaluinya itu. Beberapa lama ia merangkak dalam kegelapan. Meskipun demikian, dalam keremangan itu, ia berhasil memperhatikan bentuk dinding goa itu. Dibeberapa tempat ia menjadi curiga. Bahkan ia terhenti di sebuah tikungan, karena ia melihat beberapa bagian dari dinding itu seolah-olah telah disentuh oleh tangan.
“Agaknya tikungan ini semula terlalu sempit,” berkata Arya Gading didalam hati, “sehingga dengan demikian, seseorang telah memperlebar lubangnya sesuai dengan lubang yang semakin lebar ini.”
Arya Gading justru menjadi yakin, bahwa tikungan itu memang sudah mendapat perubahan dari bentuk aslinya. Ketika ia melalui tikungan itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Diujung jalur kecil itu ia melihat bayangan yang semakin terang. Seolah-olah diujung itu terdapat cahaya yang lebih banyak.
“Apakah ujung jalur ini benar-benar berhubungan dengan udara diluar? “ ia bertanya kepada diri sendiri.
Arya Gading tidak merasakan pedih di lututnya oleh sentuhan batu-batu karang. Perlahan-lahan ia maju terus, sehingga dengan dada yang berdebar-debar akhirnya ia sampai ke mulut lubang itu. Tetapi yang dilihatnya ternyata bukannya udara yang terang diluar goa. Lubang itu masih belum langsung berhubungan dengan alam yang terbuka. Yang dilihatnya adalah sebuah ruang yang cukup luas dan tidak terlalu gelap.
Quote:
PERLAHAN-LAHAN ARYA GADING memasuki lubang yang merupakan pintu masuk kedalam ruang itu. Dengan hati-hati ia pun kemudian berdiri tegak dan memandang kesegenap sudut. Ruang itu ternyata cukup luas. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya dua buah lubang yang sempit. Namun Arya Gading pun menjadi yakin, bahwa kedua lubang yang sempit itu tentu menghubungkan ruang itu dengan udara terbuka, sehingga ruang itu terasa tidak terlalu pengab dan mungkin cahaya matahari dapat menerobos masuk meskipun tidak terlalu banyak.
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia baru merasa lututnya menjadi pedih. Ketika ia mengamat-amatinya, maka lututnya itu menjadi luka dan berdarah. Ternyata Arya Gading cukup lama merangkak didalam lubang sempit yang berbelok-belok dengan tikungan-tikungan tajam, sehingga akhirnya ia sampai ke sebuah ruang yang cukup luas. Arya Gading itu pun kemudian duduk untuk beristirahat sejenak diatas sebuah batu padas. Sementara itu tatapan matanya yang tajam merambat di sekeliling dinding ruangan itu. Dinding yang kotor dan penuh dengan jaring-jaring laba-laba yang kehitam-hitaman.
Sekilas Arya Gading melihat sesuatu yang berkilauan di dinding goa. Sekejap namun masih sempat tertangkap oleh mata Arya Gading. Karena penasaran Arya Gading lantas turun dari batu padas tempat duduknya tadi. Perlahan –lahan pemuda itu mendekati dinding yang sekejap tadi sempat berpendar –pendar dan kemudian meredup lagi. Di pandanginya dinding goa itu dengan teliti. Sinar tadi kini sudah lenyap. Dirabanya permukaan dinding goa itu. Arya Gading merasakan ada yang aneh di atas dinding goa itu. Perlahan –lahan debu dan lumut yang tumbuh di permukaan dinding goa itu disingkirkannya.
Arya Gading terperanjat, tubuhnya seakan –akan terdorong ke belakang. Di atas permukaan dinding goa itu berpendar lah cahaya. Rupanya cahaya itu keluar dari guratan –guratan yang terpahat di dinding goa. Dengan mata nyaris tidak berkedip Arya Gading membaca pahatan aksara yang tertulis di dinding itu. Aksara itu terputus di tengah sebuah kalimat yang i abaca. Perlahan digosok lagi dinding goa itu. Dan aksara selanjutnya akhirnya terlihat. Guratan aksara itu ternyata telah tertutup oleh debu dan lumut yang telah mongering karena penasaran Arya Gading mengorek lumut di dinding goa itu menggunakan pisau kecil yang terselip di balik bajunya. Ternyata aksara – aksara itu sangat banyak sekian lamanya Arya Gading menggosok dinding goa akhirnya aksara –aksara itu memenuhi semua dinding goa. Dan lebih menajubkan lagi aksara – aksara yang tergurat itu menyala berkedip –kedip di dalam goa. Goa yang tadinya gelap sekarang berubah menjadi temaram.
Arya Gading membaca aksara itu dengan perlahan –lahan. Otak pemuda ini yang memang encer langsung dapat menyimpulkan bahwa tulisan itu bukan lah sebuah geguritan atau tembang melainkan sebuah ilmu yang dengan sengaja telah diguratkan di ruangan goa yang tersembunyi ini. Arya Gading menjadi bimbang. Haruskan ia pelajari ilmu yang tidak tahu darimana datangnya ini? Ataukah ia harus mempelajarinya?
“ Aku tidak boleh mempelajari ilmu itu,aku tidka mau dituduh pencuri juka suatu saat ada orang dari perguruan ini yang melihatku memainkan jurus –jurusnya. Persetan dengan ilmu kanuragan itu. Terpenting aku harus segera keluar dari tempat terkutuk ini “
Baru saja Arya Gading hendak berjak lagi, tiba –tiba di gendang telinganya terdengar sebuah bisikan.
“ Ngger, pelajari ilmu itu kalau kau ingin keluar dari tempat ini. Hanya ilmu itu yang bisa membawamu kembali ke Pasanggaran “
Arya Gading terkejut, matanya lantas menyapu keadaan di sekelilingnya. Tidak ada satupun manusia. Akan tetapi, suara bisikan itu seperti sangat dekat dengan dirinya.
“ Maaf kisanak,tunjukkan dirimu. Aku tidak bisa melihatmu. Tolong aku keluar dari tempat ini. Tunjukkan padaku dimana pintu keluarnya”
Teriakan Arya Gading hanya terpantul di dinding goa ruangan itu. Sepi. Sama sekali tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Suara orang tadi lenyap saat itu juga. Kembali Arya Gading terduduk di sudut ruangan. Pikirannya benar –benar kalut. Terbersit banyak pertanyaan yang berseliweran di kepalanya.
“ Apakah benar, ilmu yang terpahat di atas dinding itu satu –satunya jalan agar aku bisa keluar dari tempat ini?”
Sekian lamanya Arya Gading terdiam. Dan kembali lagi suara misterius itu terdengar di telinganya, “ Tunggu apalagi segera pelajari ilmu itu. Sebelum ilmu itu lenyap. Perlu kau ketahui jika guratan aksara itu telah ditemukan semua. Maka, tidak lama lagi dinding goa ini akan runtuh. Apakah kau hanya akan berdiam diri saja menunggu dinding ini runtuh dan menguburmu hidup –hidup anak muda? “
“ Kisanak, siapa kah kau sebenarnya. Tunjukkan batang hidung mu. Apakah kau pemilik dari aksara yang tergurat di dinding batu itu? “
Kembali tidak ada jawaban. Ruangan itu masih juga sepi dan senyap. Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Diam-diam ia berdoa agar Tuhan memberikan bimbingan atas usahanya itu. Jika Tuhan berkenan, maka ia akan mempu keluar dari tempat itu dengan jalan mempelajari ilmu yang tergurat di atas dinding batu. Kita tinggalkan sejenak Arya Gading yang tengah terjebak di dalam goa.
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia baru merasa lututnya menjadi pedih. Ketika ia mengamat-amatinya, maka lututnya itu menjadi luka dan berdarah. Ternyata Arya Gading cukup lama merangkak didalam lubang sempit yang berbelok-belok dengan tikungan-tikungan tajam, sehingga akhirnya ia sampai ke sebuah ruang yang cukup luas. Arya Gading itu pun kemudian duduk untuk beristirahat sejenak diatas sebuah batu padas. Sementara itu tatapan matanya yang tajam merambat di sekeliling dinding ruangan itu. Dinding yang kotor dan penuh dengan jaring-jaring laba-laba yang kehitam-hitaman.
Sekilas Arya Gading melihat sesuatu yang berkilauan di dinding goa. Sekejap namun masih sempat tertangkap oleh mata Arya Gading. Karena penasaran Arya Gading lantas turun dari batu padas tempat duduknya tadi. Perlahan –lahan pemuda itu mendekati dinding yang sekejap tadi sempat berpendar –pendar dan kemudian meredup lagi. Di pandanginya dinding goa itu dengan teliti. Sinar tadi kini sudah lenyap. Dirabanya permukaan dinding goa itu. Arya Gading merasakan ada yang aneh di atas dinding goa itu. Perlahan –lahan debu dan lumut yang tumbuh di permukaan dinding goa itu disingkirkannya.
Arya Gading terperanjat, tubuhnya seakan –akan terdorong ke belakang. Di atas permukaan dinding goa itu berpendar lah cahaya. Rupanya cahaya itu keluar dari guratan –guratan yang terpahat di dinding goa. Dengan mata nyaris tidak berkedip Arya Gading membaca pahatan aksara yang tertulis di dinding itu. Aksara itu terputus di tengah sebuah kalimat yang i abaca. Perlahan digosok lagi dinding goa itu. Dan aksara selanjutnya akhirnya terlihat. Guratan aksara itu ternyata telah tertutup oleh debu dan lumut yang telah mongering karena penasaran Arya Gading mengorek lumut di dinding goa itu menggunakan pisau kecil yang terselip di balik bajunya. Ternyata aksara – aksara itu sangat banyak sekian lamanya Arya Gading menggosok dinding goa akhirnya aksara –aksara itu memenuhi semua dinding goa. Dan lebih menajubkan lagi aksara – aksara yang tergurat itu menyala berkedip –kedip di dalam goa. Goa yang tadinya gelap sekarang berubah menjadi temaram.
Arya Gading membaca aksara itu dengan perlahan –lahan. Otak pemuda ini yang memang encer langsung dapat menyimpulkan bahwa tulisan itu bukan lah sebuah geguritan atau tembang melainkan sebuah ilmu yang dengan sengaja telah diguratkan di ruangan goa yang tersembunyi ini. Arya Gading menjadi bimbang. Haruskan ia pelajari ilmu yang tidak tahu darimana datangnya ini? Ataukah ia harus mempelajarinya?
“ Aku tidak boleh mempelajari ilmu itu,aku tidka mau dituduh pencuri juka suatu saat ada orang dari perguruan ini yang melihatku memainkan jurus –jurusnya. Persetan dengan ilmu kanuragan itu. Terpenting aku harus segera keluar dari tempat terkutuk ini “
Baru saja Arya Gading hendak berjak lagi, tiba –tiba di gendang telinganya terdengar sebuah bisikan.
“ Ngger, pelajari ilmu itu kalau kau ingin keluar dari tempat ini. Hanya ilmu itu yang bisa membawamu kembali ke Pasanggaran “
Arya Gading terkejut, matanya lantas menyapu keadaan di sekelilingnya. Tidak ada satupun manusia. Akan tetapi, suara bisikan itu seperti sangat dekat dengan dirinya.
“ Maaf kisanak,tunjukkan dirimu. Aku tidak bisa melihatmu. Tolong aku keluar dari tempat ini. Tunjukkan padaku dimana pintu keluarnya”
Teriakan Arya Gading hanya terpantul di dinding goa ruangan itu. Sepi. Sama sekali tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Suara orang tadi lenyap saat itu juga. Kembali Arya Gading terduduk di sudut ruangan. Pikirannya benar –benar kalut. Terbersit banyak pertanyaan yang berseliweran di kepalanya.
“ Apakah benar, ilmu yang terpahat di atas dinding itu satu –satunya jalan agar aku bisa keluar dari tempat ini?”
Sekian lamanya Arya Gading terdiam. Dan kembali lagi suara misterius itu terdengar di telinganya, “ Tunggu apalagi segera pelajari ilmu itu. Sebelum ilmu itu lenyap. Perlu kau ketahui jika guratan aksara itu telah ditemukan semua. Maka, tidak lama lagi dinding goa ini akan runtuh. Apakah kau hanya akan berdiam diri saja menunggu dinding ini runtuh dan menguburmu hidup –hidup anak muda? “
“ Kisanak, siapa kah kau sebenarnya. Tunjukkan batang hidung mu. Apakah kau pemilik dari aksara yang tergurat di dinding batu itu? “
Kembali tidak ada jawaban. Ruangan itu masih juga sepi dan senyap. Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Diam-diam ia berdoa agar Tuhan memberikan bimbingan atas usahanya itu. Jika Tuhan berkenan, maka ia akan mempu keluar dari tempat itu dengan jalan mempelajari ilmu yang tergurat di atas dinding batu. Kita tinggalkan sejenak Arya Gading yang tengah terjebak di dalam goa.
Quote:
SEBUAH IRING –IRINGAN dua gerobak yang ditarik oleh sepasang sapi jantan tampak merayap memasuki Pajang dari arah timur. Di belakang gerobak itu sepuluh orang dengan pakaian keprajuritan dan bersenjata lengkap tampak mengawalnya. Sementara di depan gerobak itu dua orang penunggang kuda duduk dengan gagah nya. Pengemudi gerobak itu sesekali mencambuk punggung kedua ekor sapi itu agar gerobak bergerak lebih cepat.
“ Ki Panjalu, tidak usah terburu –buru. Kasihan sapi-sapi itu punggunya nanti bisa lecet dan terluka”
Ki Panjalu tersenyum, “ Maaf Den, kotaraja Pajang sudah di depan mata tidak ada salahnya kalau kita sampai di alun –alun sebelum malam tiba. Di depan sana masih akan kita lewati hutan Jati Jajar yang sangat lebat. Hanya saja kalau kita terlalu pelan berjalan kita bisa saja kemalaman di jalan”
Orang yang berkuda di depan lantas menyahut lagi, “ Tugas penyerahan upeti dari bang wetan tidak perlu terburu –buru. Kanjeng Sultan Hadiwijoyo juga tentu memaklumi itu. Jarak antara Pasuruan dan Pajang bukan jarak yang pendek”
“ Hutan Jati Jajar juga bukanlah menjadi masalah Ki. Disini kita ada dua belas orang pilihan dengan senjata lengkap. Begal maupun rampok akan berpikir ribuan kali untuk mencegat kita. Tenangkan pikiran mu Ki, kapan lagi kita dapat keluar dari Pasuruan dan menikmati suasana di Pajang yang tentu beda jauh dengan kota pesisir Pasuruan”
Iring-iringan kecil itu pun masih merayap. Dan benar saja pada saat semburat merah di cakrawala barat mulai terlihat. Iring –iringan pembawa upeti dari Pasuruan ini sampai di mulut hutan Jati Jajar. Setelah beberapa saat mereka mengikuti jalan setapak di tengah-tengah rimba liar itu, mulailah perjalanan mereka agak sulit. Beberapa kali pemimpin rombongan yang bernama Wirapati itu memperingatkan supaya mereka berhati-hati terhadap segala jenis serangga, lebih-lebih ular berbisa. Rupanya pemimpin rombongan itu sudah amat berpengalaman menempuh perjalanan demikian. Beberapa kali mereka harus berhenti dan memotong sulur –sulur akar pepohonan liar yang menghalangi kaki –kaki sapi dan roda gerobak itu. Demikianlah rombongan itu berjalan sangat pelan, sehingga kemajuan yang dicapainya amat lambat pula.
“ Benar kan Den, kita kemalaman di jalan dan terpaksanya bermalan di hutan ini “
“ Tidak apa Ki Panjalu, sudah sangat lama aku tidak mengalami masa –masa muda pada saat pengembaraan. Tidur di hutan atau menginap di banjar –banjar desa. Aki tidak perlu takut, wilayah Pajang sangat aman. Tidak pernah ada begal atau rampok “
Pada hari itu, perjalanan tak menemui gangguan apapun. Ketika matahari hampir terbenam, segera Wirapati memerintahkan tiga orang pengawal berpencar untuk mendapatkan tempat berkemah yang aman. Sebentar kemudian tempat itu pun telah diketemukan, dan mulailah rombongan itu mengatur tempat peristirahatan buat malam harinya. Dengan senjata masing-masing mereka membersihkan rumput-rumput liar dan akar-akar pohon-pohon besar untuk kemudian dibentangkan tikar.
Ketika malam telah gelap, para pengawal segera menyalakan api. Sebentar kemudian lidah api itu pun telah menjilat-jilat ke udara. Panas yang dipancarkan terasa nyaman sekali pada malam yang dingin itu. Dan sebentar kemudian, karena kelelahan, beberapa orang prajurit telah jatuh tertidur. Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Binatang-binatang hutan mulai keluar dari sarangnya. Suaranya terdengar bersahut-sahutan. Ada yang aneh kedengarannya, tetapi ada pula yang mengerikan, seperti teriakan bayi yang kehausan air susu ibunya.
Malam kemudian menjadi bertambah kelam. Setitik demi setitik embun mulai menggantung di dedaunan. Suara binatang hutan sudah mulai berkurang. Hanya kadang-kadang saja masih terdengar aum harimau yang kemudian disusul jerit ngeri beberapa ekor anjing hutan. Tetapi dalam keadaan bagaimanapun, para pengawal itu tetap pada tugasnya. Mereka bergiliran tidur. Tiap-tiap kali tiga orang yang tetap bangun dan dengan penuh tanggung jawab melakukan tugasnya. Selain itu Wirapati itu pun kadang-kadang bangun menemani mereka yang kebetulan sedang mendapat giliran untuk berjaga.
“ Ki Panjalu, tidak usah terburu –buru. Kasihan sapi-sapi itu punggunya nanti bisa lecet dan terluka”
Ki Panjalu tersenyum, “ Maaf Den, kotaraja Pajang sudah di depan mata tidak ada salahnya kalau kita sampai di alun –alun sebelum malam tiba. Di depan sana masih akan kita lewati hutan Jati Jajar yang sangat lebat. Hanya saja kalau kita terlalu pelan berjalan kita bisa saja kemalaman di jalan”
Orang yang berkuda di depan lantas menyahut lagi, “ Tugas penyerahan upeti dari bang wetan tidak perlu terburu –buru. Kanjeng Sultan Hadiwijoyo juga tentu memaklumi itu. Jarak antara Pasuruan dan Pajang bukan jarak yang pendek”
“ Hutan Jati Jajar juga bukanlah menjadi masalah Ki. Disini kita ada dua belas orang pilihan dengan senjata lengkap. Begal maupun rampok akan berpikir ribuan kali untuk mencegat kita. Tenangkan pikiran mu Ki, kapan lagi kita dapat keluar dari Pasuruan dan menikmati suasana di Pajang yang tentu beda jauh dengan kota pesisir Pasuruan”
Iring-iringan kecil itu pun masih merayap. Dan benar saja pada saat semburat merah di cakrawala barat mulai terlihat. Iring –iringan pembawa upeti dari Pasuruan ini sampai di mulut hutan Jati Jajar. Setelah beberapa saat mereka mengikuti jalan setapak di tengah-tengah rimba liar itu, mulailah perjalanan mereka agak sulit. Beberapa kali pemimpin rombongan yang bernama Wirapati itu memperingatkan supaya mereka berhati-hati terhadap segala jenis serangga, lebih-lebih ular berbisa. Rupanya pemimpin rombongan itu sudah amat berpengalaman menempuh perjalanan demikian. Beberapa kali mereka harus berhenti dan memotong sulur –sulur akar pepohonan liar yang menghalangi kaki –kaki sapi dan roda gerobak itu. Demikianlah rombongan itu berjalan sangat pelan, sehingga kemajuan yang dicapainya amat lambat pula.
“ Benar kan Den, kita kemalaman di jalan dan terpaksanya bermalan di hutan ini “
“ Tidak apa Ki Panjalu, sudah sangat lama aku tidak mengalami masa –masa muda pada saat pengembaraan. Tidur di hutan atau menginap di banjar –banjar desa. Aki tidak perlu takut, wilayah Pajang sangat aman. Tidak pernah ada begal atau rampok “
Pada hari itu, perjalanan tak menemui gangguan apapun. Ketika matahari hampir terbenam, segera Wirapati memerintahkan tiga orang pengawal berpencar untuk mendapatkan tempat berkemah yang aman. Sebentar kemudian tempat itu pun telah diketemukan, dan mulailah rombongan itu mengatur tempat peristirahatan buat malam harinya. Dengan senjata masing-masing mereka membersihkan rumput-rumput liar dan akar-akar pohon-pohon besar untuk kemudian dibentangkan tikar.
Ketika malam telah gelap, para pengawal segera menyalakan api. Sebentar kemudian lidah api itu pun telah menjilat-jilat ke udara. Panas yang dipancarkan terasa nyaman sekali pada malam yang dingin itu. Dan sebentar kemudian, karena kelelahan, beberapa orang prajurit telah jatuh tertidur. Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Binatang-binatang hutan mulai keluar dari sarangnya. Suaranya terdengar bersahut-sahutan. Ada yang aneh kedengarannya, tetapi ada pula yang mengerikan, seperti teriakan bayi yang kehausan air susu ibunya.
Malam kemudian menjadi bertambah kelam. Setitik demi setitik embun mulai menggantung di dedaunan. Suara binatang hutan sudah mulai berkurang. Hanya kadang-kadang saja masih terdengar aum harimau yang kemudian disusul jerit ngeri beberapa ekor anjing hutan. Tetapi dalam keadaan bagaimanapun, para pengawal itu tetap pada tugasnya. Mereka bergiliran tidur. Tiap-tiap kali tiga orang yang tetap bangun dan dengan penuh tanggung jawab melakukan tugasnya. Selain itu Wirapati itu pun kadang-kadang bangun menemani mereka yang kebetulan sedang mendapat giliran untuk berjaga.
Diubah oleh breaking182 07-10-2022 08:47
ashrose dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas
Tutup