Kaskus

Story

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Pocong Keliling [Epic Horror Story]

Pocong Keliling [Epic Horror Story]
Sumber Gambar Asli

Selamat datang di thread cerita horor ane yang baru gan! Kali ini ane bawa cerita yang gak kalah seram!

emoticon-2 Jempol

Ketika orang meninggal, dipercaya arwahnya akan kembali ke Tuhan dan terlepas dari segala urusan dunianya.

Tapi tidak dengan keluarga Pak Joko. Setelah kematiannya, justru ada banyak pocong yang meneror warga setiap malam. Mengetuk pintu satu per satu rumah warga di tengah malam.

Apa yang ia inginkan? Nantikan kisahnya.

emoticon-Ngaciremoticon-Ngaciremoticon-Ngacir

Quote:

emoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Takut

Nantikan part 1 yang akan segera TS update gan!

Pokoknya setiap part akan memberikan ketegangan yang seru! emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Takut (S)

INDEX

1. Part 1 - Kepala Desa
2. Part 2 - Ancaman Tak Kasat Mata
3. Part 3 - Empat Tali Gantung
4. Part 4 - Kok Gak Ajak Aku Ronda?
5. Part 5 - Tamu Tengah Malam
6. Part 6 - Tamu Tengah Malam 2
7. Part 7 - Lantunan Di Rumah Berdarah
8. Part 8 - Tawa Di Belakang Pos
9. Part 9 - Menagih Janji
10. Part 10 - Tali Pocong
11. Part 11 - Mbah Dino
12. Part 12 - Nestapa Penjual Bakso
13. Part 13 - Ilusi
14. Part 14 - Secercah Harapan
15. Part 15 - Linda
16. Part 16 - Teka-teki


Jangan lupa bagi cendol gan! Haus nih. emoticon-Blue Guy Cendol (S)

emoticon-Cendol Gan


Ditulis oleh Harry Wijaya

Cerita ini merupakan karya orisinil dan karangan asli TS, dilarang mengcopas dan mempublikasikan di luar KasKus tanpa izin!
Diubah oleh harrywjyy 03-11-2022 15:58
ryanwayongAvatar border
cacadloeAvatar border
margitopAvatar border
margitop dan 37 lainnya memberi reputasi
38
21K
207
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread5Anggota
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#27
Part 4 - Kok Gak Ajak Aku Ronda?
Satu hari berlalu, bayangan soal insiden gantung diri Joko sekeluarga masih membekas di ingatan warga. Meski para almarhum sudah dikuburkan dengan layak, warga masih tak menyangka kalau Joko dan keluarganya sampai nekat mengakhiri hidupnya. Hal ini masih menjadi topik hangat di kalangan para warga desa.

Setelah pemakaman pun, tidak terlihat adanya pengajian atau pun doa bersama yang dilakukan para warga. Dari pihak sanak saudara Joko pun tak ada yang menggelar pengajian. Karena katanya mereka melakukan doa bersama di tempat lain.

Kini rumah besar dengan dua lantai itu pun menjadi kosong, gelap dan dibiarkan begitu saja. Bahkan barang-barang di dalamnya pun masih lengkap. Salah seorang saudara mengatakan akan memindahkan semua barang-barang Joko minggu depan.

***

Suara doa terdengar dari arah mushola yang berada di pinggir jalan desa. Pengeras suara yang terpasang di atapnya membuat lantunan doa itu menggema hampir ke seluruh desa. Terlihat satu per satu para jamaah keluar dengan memakai sarung setelah menunaikan ibadah solat isya. Termasuk Anwar yang juga baru selesai solat.

Anwar yang memakai peci hitam dan baju putih itu lalu memakai sandalnya dan mulai berjalan meninggalkan mushola bersama para jamaah lainnya. Anak-anak tampak bermain bola di halaman depan mushola, dan sepeda penjual makanan terparkir di dekat mereka.

"Pak Kades," sapa salah satu orang menyapa Anwar.

"Iya, Pak!"

Kaki Anwar melangkah di jalan desa yang sedikit kasar karena permukaannya yang berlubang. Ditambah kerikil yang berserakan di mana-mana. Di sekitarnya, rumah warga berdiri berdampingan dengan persawahan luas membentang. Penerangan yang sedikit membuat jalan desa menjadi agak gelap, beruntung rembulan bersinar terang hari ini.

Sebuah cahaya lampu terlihat di kejauhan, berasal dari sebuah pos ronda. Di mana ada beberapa anak muda yang bersantai di sana menikmati suasana malam dengan segelas kopi dan rokok yang asapnya melayang-layang di udara. Suara jangkrik dan kodok juga menemani malam mereka.

"Bawah! Bawah!" ucap salah satu pemuda kurus berambut cepak bernama Bejo yang tengah asik bermain game online bersama Reza dan tiga pemuda lainnya di pos ronda. "Sini, sini woi. Cover tengah! Yah, kan mati!"

"Ah, payah kamu, Jo!" ejek Reza.

Bejo pun mengalihkan pandangannya, lalu melihat Anwar yang berjalan mendekat. Ia segera membenarkan posisi duduknya sambil tersenyum saat sang kepala desa berjalan semakin mendekat ke arahnya.

"Eh, Pak Kades. Pulang, Pak?" tanya Bejo.

"Iya, malam ini kalian ronda ya?"
Bejo mengangguk. "Iya, Pak."

"Nanti kamu tolong sering-sering pantau rumah Pak Joko ya."

"Hah? Kenapa, Pak? Bukannya rumahnya kosong. Kan yang punya rumah udah, keek!" Bejo memperagakan gerakan mengikat leher yang mengisyaratkan gantung diri.

"Huss! Jangan begitu!" tegur Anwar. "Biar pun kosong, di dalemnya masih banyak barang-barang. Saya takut ada maling yang ambil barang-barangnya Pak Joko."

"Oh, gitu ya. Oke deh, siap, Pak!"

"Yaudah, jangan sampe lupa ya. Jangan game terus!" Anwar mengingatkan kemudian mulai berjalan pergi meninggalkan pos ronda. Selepas kepergian sang kepala desa, Bejo pun kembali melihat ke layar ponselnya untuk lanjut bermain. Ia memakai sarung untuk menutupi badannya lalu bersandar ke dinding pos ronda.

"Jo? Mau liat sekarang gak?" tanya Reza.

"Liat apa?"

"Rumahnya Pak Joko."

"Ah, nanti aja!"

"Tau nih Reza, buru-buru banget," ucap salah satu pemuda lainnya.

"Kangen ya sama si Rian? Haha, kasian ya Rian. Dia ikut bapaknya gantung diri," ucap Bejo.

"Iya, padahal dia baru mau masuk kuliah lho."

"Udah, udah. Gak usah dibahas!" kata Reza sambil menggelengkan kepala. Mereka pun kembali fokus bermain game masing-masing. Layar ponsel itu seakan membuat mata mereka tak bisa berpaling, mereka terlalu asik sampai mulai lupa waktu.

Waktu pun berjalan cepat, kini jam menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana desa semakin sunyi, sudah tak ada lagi warga yang beraktivitas di luar. Angin dari gunung yang berada jauh di timur bertiup membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Bejo dan yang lainnya masih berada di pos ronda, anak-anak muda itu masih belum selesai bermain game. Mereka seakan lupa dengan pesan yang diberikan Anwar beberapa jam lalu. Kain sarung menutupi tubuh mereka untuk menahan dingin.

"Eh, pantau rumah Pak Joko yuk!" ajak Bejo.

"Oh iya lupa!" kata Reza.

"Ayo, ayo! Nanti kalo ada apa-apa kita yang kena marah." Pemuda yang lainnya buru-buru turun dari pos ronda dan memakai sandal masing-masing. Begitu juga Bejo dan Reza, mereka semua lalu berjalan pergi meninggalkan pos dan berjalan di jalan desa yang gelap.

Meski begitu, tangan dan mata mereka masih sibuk melihat game di ponsel. Suara sandal mereka terdengar bersamaan dengan suara binatang malam. Setelah beberapa meter, Bejo dan kawan-kawan belok arah memasuki jalan kecil yang terhubung dengan pemukiman warga.

Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di depan rumah mewah dengan dua lantai yang tampak gelap gulita dan kosong. Bejo menyudahi gamenya. Ia mengambil senter, lalu mulai menyorot setiap sisi dari bangunan rumah itu. Dari jendela, halaman depan sampai pintu. Tak ada apa-apa, sepertinya aman.

"Udah, kan? Gak ada apa-apa," kata Bejo.

"Terus gimana?" tanya Reza.

"Kita keliling aja, nanti pas mau balik ke pos kita lewat sini lagi."

"Oke deh."

Mereka lanjut berjalan untuk keliling memantau area desa lainnya. Memastikan desa aman dan terkendali. Mereka mulai berpencar dan membagi tugas. Tiga orang berjalan ke jalan yang ada di sebelah kiri, sedangkan Bejo dan Reza jalan lurus. Baru beberapa langkah mereka berjalan, terdengar suara mencurigakan dari arah rumah Joko.

Bejo dan Reza pun berhenti berjalan, keduanya lalu saling pandang. Hanya dengan bertatapan, mereka pun sudah tahu apa yang terjadi. Bejo berbalik badan dan kembali menyorot rumah itu dengan cahaya senter. Suara itu kembali terdengar.

"Woi!" teriak Bejo.

Keduanya masih berdiri di depan rumah itu sambil mencari asal suara. Reza pun fokus melihat sekitar, mencari dari mana suara itu berasal. Semakin dicari, suara itu semakin terdengar jelas.

"Woi!" Bejo kembali teriak.

"Woi!" Tiba-tiba terdengar teriakan balasan dari dalam rumah itu.

"Siapa di dalem?" tanya Bejo.

"Kita cek aja, Bejo. Udah pasti ada orang itu!" saran Reza. Bejo pun setuju, keduanya lalu sama-sama membuka gerbang rumah yang tak terkunci. Mereka mulai memasuki rumah gelap gulita itu. Berjalan berkeliling sambil tetap menggunakan senter untuk menerangi jalan.

"Ada orang?" tanya Bejo sambil berteriak.

"Ada!"

Bejo dan Reza berhenti berjalan, lagi-lagi saling bertatapan. "Siapa tuh?" gumam Reza.

"Di mana? Lagi ngapain di sini, ini rumah orang! Jangan masuk tanpa izin!" tegur Bejo.

"Di sini!" Tiba-tiba suara jawaban itu muncul dari arah belakang.

"Kaya suara Rian."

"Yang bener kamu, Jo. Rian kan baru dikubur kemarin."

"Coba liat di belakang."

Bejo dan Reza pun sama-sama menoleh ke belakang. Mereka memutar badan untuk melihat siapa yang menjawab.

Saat mata mereka sudah mengarah ke belakang, keduanya melihat Rian berdiri di hadapannya dengan terbungkus kain kafan yang masih baru dan sebuah kapas terpasang di kedua lubang hidungnya.

Wajahnya pucat dan matanya putih melotot menatap Bejo dan Reza. Ada bekas-bekas tanah kuburan di kafannya.

"Kalian ronda kok gak ajak aku sih?" tanya sosok pocong yang menyerupai Rian teman mereka.

Mereka berdua terdiam, tak percaya dengan yang dilihatnya. Sosok Rian yang kemarin dimakamkan, kini berada di depan mereka. "Setaaan!!" teriak Bejo yang langsung berlari ketakutan diikuti dengan Reza di belakangnya.
69banditos
viensi
symoel08
symoel08 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.