- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#34
BAB 15 - Sebuah Cerita
Aku menatap Hamid dengan penuh rasa keheranan
“Maksud lo apa Mid?” tanyaku
“Tonjok gue” katanya sambil menepuk pipinya sendiri dengan wajah datar
“Lo kenapa dah?” tanyaku
“Tonjok gue, Rul” nadanya mulai meninggi dan sambil mendorongku
“Lo apa-apaan sih Mid” aku kembali mendorongnya
“Lo ga tuli kan?” bentaknya sambil mendorongku lagi
Aku langsung mendorongnya juga sambil melontarkan satu pukulan ke wajahnya sampai membuat hidungnya berdarah
“Lo kenapa sih” ucapku mulai emosi
“Gapapa. Kita impas berati” katanya sambil membersihkan darahnya
“Maksud lo apaan?” aku mulai heran
“Yaaa itung-itung ini sebagai ganti waktu di kelas itu” kata Hamid
“Ga lucu, anjing” ucapku kesal
“Hahaha, yaudah ayo nyusul yang lain” katanya sambil jalan sambil berangkulku
“Ga jelas lu” ucapku masih kesal
Para gadis sedang berfoto-foto disana, aku dan Hamid memutuskan untuk melihatnya dari jauh saja.
“Lo ada demen ama salah satu ga sih?” tanya Hamid tiba-tiba
“Maksudnya?”
“Yaa lo ada yang disuka ga? Antara Vika atau Windy”
“Ga ada. Kenapa emang?” tanyaku
“Ah masa. Tapi gue liat lo sering banget sama Vika. Apalagi pas lu di RS dia kaya takut banget” kata Hamid
“Ya gimana, khawatir pasti ada lah. Manusiawi” ucapku
“Yee ga peka lo mah” kata Hamid
“Lo kali yang suka Vika” ucapku
“Kaga lah. Bukan tipe gue, hahaha” katanya terkekeh
“Halah. Lu aja berduaan mulu sama Windy” ucapku
“Ga berduaan, Vika selalu dateng” kata Hamid
Beberapa saat kami terdiam, sampai ada satu SMS masuk, ketika aku lihat nama di layar Hpku ternyata dari Rima
“Besok aku ospek, doain ya” katanya
“Tanpa kamu minta, Rim. Semangat” balasku
Setelah itu Rima tak membalas SMSku lagi
“Wah, siapa lagi tuh?” tanya Hamid
“Temen gue. Temen SD tepatnya” jawabku
“Wah, cewek lo ada berapa sih?” ejeknya
“Ga ada. Ga ada cewek cewek” ketusku
“Biasa aja woy, lagian gue cuma nanya doang. Yaudah yok gabung” ajaknya
Kami bergabung di pantai. Si kembar masih asik dengan foto-fotonya. Termasuk Vika dan Windy yang memang mengikuti eskul fotografi. Setelah foto-foto, para gadis dan Hamid bermain air di pantai. Sementara aku hanya duduk disebuah batu Si kembar terlihat seperti anak kecil, begitu juga dengan Vika dan Windy. Sementara Hamid menjadi bulan-bulanan kejahilan si kembar.
Aku hanya tertawa sambil merekam momen itu menggunakan kamera Vika. Sampai Ana datang menarik tanganku. Aku menyimpan kamera Vika dan ikut bermain air. Namun aku lebih fokus menjahili si kembar. Tentunya dengan tetap mengabadikan momen-momen ceria ini.
Siang harinya, om Tio dan tante Hilda mengajak kami semua untuk makan di sebuah restoran yang ga jauh dari penginapan.
“Kalian kembar ya?” tanya tante Hilda
“Iya tante” jawab si kembar bersamaan
“Bedainnya gimana?” tanya om Tio
“Ana lebih suka warna kuning” ucap Ani
“Kalau Ani lebih suka warna pink” kata Ana
“Ga pusing punya adek kembar? Hehe” ucap om Tio
“Yang ada kita om yang pusing punya kakak hehee” canda si kembar
“Awas aja, jatah subsidi dari aa bakal dihapus” godaku
“Ih, bercanda juga”
Selama makan siang, kami mengobrol seputaran sekolah dan ga begitu banyak obrolan yang menurutku menarik. Sampai sore hari kami kembali ke penginapan. Setelah shalat ashar, aku memutuskan untuk tidur karena rasa kantuk dari semalam terasa lagi. Jam 5 sore aku dibangunkan oleh Hamid
“Paan Mid? Ngantuk gue” ketusku
“Mau liat sunset ga?” tanyanya
“Nanti gue nyusul. Duluan aja” ucapku
“Gue sama Vika duluan ya sama si kembar juga. Windy masih bersih-bersih. Nanti gue suruh dia bareng lo” katanya
“Iye iye bawel” ucapku
Hamidpun pergi. Beberapa menit kemudian Windy datang dan langsung mengajakku untuk menyusul yang lain
“Rul, beli minum dulu yuk” ajak Windy
“Yaudah ayok” jawabku
Setelah membeli minum, Windy mengajakku ke sebuah tempat lain, tidak menyusul temen-temen lain
“Ngapain? Ga jadi nyusul lagi?” tanyaku
“Lagi?”
“Ya tadi pagi bareng si Hamid malah diajak ke tempat lain” ucapku
“Oh, pantes tadi pagi lo berdua ngilang” kata Windy
“Emang ngapain sih kita kesini?” tanyaku
Kami berada di tempat yang cukup jauh, tapi masih bisa liat sunset. Ada beberapa perahu nelayan dan beberapa anak-anak yang masih main di pesisir pantai
“Gue mau curhat nih” kata Windy
“Diganggu Raka lagi?” tanyaku
“Yeee, dengerin dulu ngapa” sambil menyenggolku
“Gue suka sama seseorang” kata Windy
“Baru lepas dari Raka, udah buka hati aja” ucapku
“Namanya juga nyaman, Rul” katanya
“Terus?”
“Ya kita emang udah lama kenal sih, tapi gue takut kalau gue bilang malah jadi canggung” katanya
“Emang lo suka sama siapa?”
“Hamid” katanya
*Brufffhhh. Aku memuncratkan minuman yang berada di mulutku mendengar ucapan Windy
“Jorok ih” kata Windy sambil terkekeh
“Serius lo?” ucapku
“Serius Rul”
Tiba-tiba hening sejenak, aku masih berusaha mencerna ucapan Windy. Tapi sepertinya memang ga aneh juga sih, soalnya keliatan kalau Hamid sering banget bareng Windy meskipun ada Vika. Beda denganku. Ketika aku sendiri yang dateng kalau ga Hamid ya Vika. Kalau di sekolah ya aku lebih sering bareng Hamid.
“Sejak kapan?” tanyaku
“Sejak lo dirumah sakit itu” kata Windy
“Oalah, kirain lu nangisin gue” godaku
“Ya kalau itu iya. Gue makasih banget lo udah jaga gue sama Vika sampai segitunya” kata Windy
“Gue ga mau aja sahabat-sahabat gue disakiti” ucapku
“Jadi gue harus gimana nih” kata Windy
Aku memutuskan untuk menceritakan perihal malam saat aku sama Vika kecuali tentang first kiss
“Serius lo Rul? Vika bilang gitu?” tanya Windy
“Serius. Tapi ini rahasia kita ya” ucapku
“Sama gue, rahasia lo aman” kata Windy
“Tapi ada satu hal yang buat gue bingung Win” ucapku
“Apaan?”
Aku menceritakan tentang Rima dari awal aku berpisah sampai kami bertemu lagi dan liburan bareng Rima beberapa hari lalu.
“Tapi gue gatau apa ini nyaman karena suka atau bukan” ucapku
“Dia yang suka sama lo” kata Windy
“Lo suka gue ga?” ejekku
“KAGAAKK” katanya “Jauh jauh gih” lanjutnya sambil memberi isyarat mengusir
“Yaudah gue balik”
“Bercanda Rul” katanya
“Menurut gue, lo jalani aja sama kaya yang Vika bilang ke gue. Karena kata Rimapun, kalau udah pacaran, biasanya perasaan akan cepat sirna” ucapku
“Gitu ya” katanya sambil tertunduk
“Emang apa sih yang lo suka dari dia?” tanyaku
“Yaaa bagi gue, dia ganteng sih. Terus pas pulang nginep dari rumahnya itu gue kan nanya-nanya kondisi dia. Lo gatau kan, asalnya temen-temen si Raka mau dateng, tapi sama dia di hadang semua. Meski ga banyak sih”
“Gatau gue. Yang gue tau, Raka nyakitin lo sama Vika” ucapku
“Semenjak nginep itu, dia kaya ada perhatian lebih. Kadang ngajakin pulang bareng. Mungkin karena terbiasa” ucapnya
“Ya gue gatau soal perasaan dia. Perhatian ke sahabat wajar” ucapku
“Dia pernah malem-malem bawain gue makanan, jam 11 malem malah. Iseng gue SMS dia, eh beneran dateng” kata Windy
“Ya kalau lo minta pendapat gue, lo jalanin aja seperti biasa. Lo nyaman kan sama dia sekarang?” tanyaku
“Iya Rul”
“Yaudah, jalani aja apa adanya. Jangan ada yang dilebih lebihkan. Seperti gue ngelindungi lo semua” ucapku
“Makasih ya, gue udah lebih lega sekarang” kata Windy
Tak sadar momen ketika Windy curhat membuat sunsetnya terlewat. Aku dan Windy kembali ke penginapan namun kami membeli beberapa camilan dulu. Di penginapan semua udah pada nunggu kami
“Kalian darimana sih?” tanya Vika
“Abis bikin video” jawabku asal
“Heh, video apa ih” ucap Ana
“Video curhat bersama . . . “ ucapanku terpotong ketika Windy mengetok kepalaku menggunakan Hpnya
“Sakit bego” ucapku sambil mengusap kepalaku yang sakit
“Lagian lo jawab asal gitu” kata Windy
“Nih, beli camilan tadi” ucapku sambil memberikan kantong kresek pada Vika
Malam harinya, di taman penginapan ada beberapa spot yang bisa digunakan untuk kumpul keluarga. Disana juga ada gazebo yang berukuran tak terlalu besar, mungkin sekitar 2x2 dan ada sebuah tempat pembakaran.
“Kalian siapkan saja tempatnya sama bumbunya, om sama tante beli makanan dulu buat kita bakar-bakar” ucap om Tio
“Oke om” jawab kami semua
Persiapan demi persiapan kami lakukan. Ini adalah momen terakhir yang bisa kami nikmati karena besok malam kami semua akan pulang ke Jakarta.
Acara bakar-bakarpun berjalan dengan perut kenyang. Malam harinya kami semua kembali ke penginapan. Aku dan Hamid sebenarnya satu tempat dengan para gadis. Hanya saja berada di ruangan yang berbeda.
“Mid, sparing yuk” ucapku
“Eh si anying malah ngajak ribut” kata Hamid
“Gue pengen tau karate lo sejauh mana. Dan gue juga pengen tau reflek gue” ucapku
“Latihan nih kita?” kata Hamid
“Gas, kita di pantai aja biar ga gerah” ucapku
Aku dan Hamid berjalan menuju pantai. Kami berdiri saling bertatapan kemudian saling memberikan salam dan mengambil kuda-kuda.
Aku mengambil langkah maju kemudian melakukan tendangan memutar yang bisa ditangkis oleh Hamid. Setelah Hamid berhasil menangkis beberapa seranganku, ia membuat pukulanku terlembar keluar dan menjadikannya kesempatan dan langsung memukul perutku tanpa ada gerakan lagi. Tapi satu pukulan itu bisa membuatku mundur beberapa langkah
“Gapapa Rul?” katanya
“Gapapa, lanjut” ucapku sambil kembali memasang kuda-kuda
Saat itu Hamid langsung melancarkan pukulan dengan tangan kanannya, namun aku bergeser ke kiri satu langkah dan menangkap tangannya sambil menendang bagian dadanya menggunakan lutut. Dengan cepat aku langsung memukul kepalanya dengan sikutku, menarik tangannya ke kiri dan menjatuhkannya dengan tangan kanannya terkunci olehku dan aku menginjak tepat disamping kepala Hamid
“Meleset sedikit mati gue” katanya
“Haha sorry”
Aku membantunya bangun dan kami kembali memasang kuda-kuda. Beberapa serangan kami kembali lancarkan satu sama lain. Sampai akhirnya aku memberikan dua pukulan namun berhasil ditangkis oleh Hamid dan ia memberikanku tendangan tombak yang membuat aku mundur beberapa langkah kebelakang. Dengan sigap aku langsung maju lagi ke arah Hamid, memberikan beberapa tendangan memutar dan Hamid bisa menghindarinya dengan mundur beberapa langkah ke belakang. Akhirnya aku memberikan tendangan memutar dari bawah namun aku langsung memutar badan dan memberikan satu pukulan tepat diperutnya dan Hamidpun terpental jatuh ke pasir pantai
Pada saat itu juga Vika dan Windy datang dan melihat posisiku yang masih memukul tadi.
“Ngapain sih kalian pake berantem segala?” tanya Windy dengan suara meninggi
“Kalian ga bisa ya nyelesaiin masalah tanpa kekerasan?” sambung Vika.
Aku dan Hamid bertatapan sebentar dan kami saling tertawa mendengar ucapan Vika dan Windy. Vika dan Windy nampak terlihat bingung dengan tingkah kami. Aku membantu Hamid berdiri kemudian kami kembali memberi salam sebagai penutup.
“Lu ngapain sih berantem segala?” tanya Windy pada Hamid
“Gue gapapa Win, ahelah” katanya
“Kita cuma latihan” ucapku
“Latihan apaan, berantem?”eewot Vika
Aku dan Hamid menceritakan maksud latihan kami tadi. Vika dan Windy nampak bingung dengan ucapan kami yang sepertinya ga bisa dia mengerti. Tapi yasudahlah, toh ini hanya latihan saja.
“Lah kalian kenapa ga tidur?” tanyaku
“Kita liat lo berdua ga ada, terus dari jauh liat ada orang berantem. Ya kita samperin” kata Windy
“Tapi asli sih, gerakan terakhir lo itu ga disangka” ucap Hamid
“Namanya juga harus improvisasi, gerakan menipu” ucapku
“Yaudah balik kamar gih” kata Vika menyuruh kami
“Nanti deh, gue masih mau disini” ucapku
“Iya gue juga, masih mau menikmati angin malam”
“Yaudah kita ikut” kata Windy
Malam itu kami berempat duduk disebuah kursi yang agak jauh dari pantai. Kami memandangi laut yang gelap, dan hanya terdengar desiran ombak saja.
“Kita bakal bareng-bareng terus kan” ucap Vika
“Hidup ga ada yang tau. Tapi kita harus tetep saling support” ucap Hamid
“Cepat atau lambar, kita bakal menempuh jalan masing-masing. Tapi sebisa mungkin jangan lost contact” kata Windy
“Gimanapun rintangannya, kita bakal terus jalan sampai akhir” ucapku
Beberapa menit kemudian, udara mulai terasa dingin, kami semua kembali ke penginapan dan beristirahat
“Maksud lo apa Mid?” tanyaku
“Tonjok gue” katanya sambil menepuk pipinya sendiri dengan wajah datar
“Lo kenapa dah?” tanyaku
“Tonjok gue, Rul” nadanya mulai meninggi dan sambil mendorongku
“Lo apa-apaan sih Mid” aku kembali mendorongnya
“Lo ga tuli kan?” bentaknya sambil mendorongku lagi
Aku langsung mendorongnya juga sambil melontarkan satu pukulan ke wajahnya sampai membuat hidungnya berdarah
“Lo kenapa sih” ucapku mulai emosi
“Gapapa. Kita impas berati” katanya sambil membersihkan darahnya
“Maksud lo apaan?” aku mulai heran
“Yaaa itung-itung ini sebagai ganti waktu di kelas itu” kata Hamid
“Ga lucu, anjing” ucapku kesal
“Hahaha, yaudah ayo nyusul yang lain” katanya sambil jalan sambil berangkulku
“Ga jelas lu” ucapku masih kesal
Para gadis sedang berfoto-foto disana, aku dan Hamid memutuskan untuk melihatnya dari jauh saja.
“Lo ada demen ama salah satu ga sih?” tanya Hamid tiba-tiba
“Maksudnya?”
“Yaa lo ada yang disuka ga? Antara Vika atau Windy”
“Ga ada. Kenapa emang?” tanyaku
“Ah masa. Tapi gue liat lo sering banget sama Vika. Apalagi pas lu di RS dia kaya takut banget” kata Hamid
“Ya gimana, khawatir pasti ada lah. Manusiawi” ucapku
“Yee ga peka lo mah” kata Hamid
“Lo kali yang suka Vika” ucapku
“Kaga lah. Bukan tipe gue, hahaha” katanya terkekeh
“Halah. Lu aja berduaan mulu sama Windy” ucapku
“Ga berduaan, Vika selalu dateng” kata Hamid
Beberapa saat kami terdiam, sampai ada satu SMS masuk, ketika aku lihat nama di layar Hpku ternyata dari Rima
“Besok aku ospek, doain ya” katanya
“Tanpa kamu minta, Rim. Semangat” balasku
Setelah itu Rima tak membalas SMSku lagi
“Wah, siapa lagi tuh?” tanya Hamid
“Temen gue. Temen SD tepatnya” jawabku
“Wah, cewek lo ada berapa sih?” ejeknya
“Ga ada. Ga ada cewek cewek” ketusku
“Biasa aja woy, lagian gue cuma nanya doang. Yaudah yok gabung” ajaknya
Kami bergabung di pantai. Si kembar masih asik dengan foto-fotonya. Termasuk Vika dan Windy yang memang mengikuti eskul fotografi. Setelah foto-foto, para gadis dan Hamid bermain air di pantai. Sementara aku hanya duduk disebuah batu Si kembar terlihat seperti anak kecil, begitu juga dengan Vika dan Windy. Sementara Hamid menjadi bulan-bulanan kejahilan si kembar.
Aku hanya tertawa sambil merekam momen itu menggunakan kamera Vika. Sampai Ana datang menarik tanganku. Aku menyimpan kamera Vika dan ikut bermain air. Namun aku lebih fokus menjahili si kembar. Tentunya dengan tetap mengabadikan momen-momen ceria ini.
Siang harinya, om Tio dan tante Hilda mengajak kami semua untuk makan di sebuah restoran yang ga jauh dari penginapan.
“Kalian kembar ya?” tanya tante Hilda
“Iya tante” jawab si kembar bersamaan
“Bedainnya gimana?” tanya om Tio
“Ana lebih suka warna kuning” ucap Ani
“Kalau Ani lebih suka warna pink” kata Ana
“Ga pusing punya adek kembar? Hehe” ucap om Tio
“Yang ada kita om yang pusing punya kakak hehee” canda si kembar
“Awas aja, jatah subsidi dari aa bakal dihapus” godaku
“Ih, bercanda juga”
Selama makan siang, kami mengobrol seputaran sekolah dan ga begitu banyak obrolan yang menurutku menarik. Sampai sore hari kami kembali ke penginapan. Setelah shalat ashar, aku memutuskan untuk tidur karena rasa kantuk dari semalam terasa lagi. Jam 5 sore aku dibangunkan oleh Hamid
“Paan Mid? Ngantuk gue” ketusku
“Mau liat sunset ga?” tanyanya
“Nanti gue nyusul. Duluan aja” ucapku
“Gue sama Vika duluan ya sama si kembar juga. Windy masih bersih-bersih. Nanti gue suruh dia bareng lo” katanya
“Iye iye bawel” ucapku
Hamidpun pergi. Beberapa menit kemudian Windy datang dan langsung mengajakku untuk menyusul yang lain
“Rul, beli minum dulu yuk” ajak Windy
“Yaudah ayok” jawabku
Setelah membeli minum, Windy mengajakku ke sebuah tempat lain, tidak menyusul temen-temen lain
“Ngapain? Ga jadi nyusul lagi?” tanyaku
“Lagi?”
“Ya tadi pagi bareng si Hamid malah diajak ke tempat lain” ucapku
“Oh, pantes tadi pagi lo berdua ngilang” kata Windy
“Emang ngapain sih kita kesini?” tanyaku
Kami berada di tempat yang cukup jauh, tapi masih bisa liat sunset. Ada beberapa perahu nelayan dan beberapa anak-anak yang masih main di pesisir pantai
“Gue mau curhat nih” kata Windy
“Diganggu Raka lagi?” tanyaku
“Yeee, dengerin dulu ngapa” sambil menyenggolku
“Gue suka sama seseorang” kata Windy
“Baru lepas dari Raka, udah buka hati aja” ucapku
“Namanya juga nyaman, Rul” katanya
“Terus?”
“Ya kita emang udah lama kenal sih, tapi gue takut kalau gue bilang malah jadi canggung” katanya
“Emang lo suka sama siapa?”
“Hamid” katanya
*Brufffhhh. Aku memuncratkan minuman yang berada di mulutku mendengar ucapan Windy
“Jorok ih” kata Windy sambil terkekeh
“Serius lo?” ucapku
“Serius Rul”
Tiba-tiba hening sejenak, aku masih berusaha mencerna ucapan Windy. Tapi sepertinya memang ga aneh juga sih, soalnya keliatan kalau Hamid sering banget bareng Windy meskipun ada Vika. Beda denganku. Ketika aku sendiri yang dateng kalau ga Hamid ya Vika. Kalau di sekolah ya aku lebih sering bareng Hamid.
“Sejak kapan?” tanyaku
“Sejak lo dirumah sakit itu” kata Windy
“Oalah, kirain lu nangisin gue” godaku
“Ya kalau itu iya. Gue makasih banget lo udah jaga gue sama Vika sampai segitunya” kata Windy
“Gue ga mau aja sahabat-sahabat gue disakiti” ucapku
“Jadi gue harus gimana nih” kata Windy
Aku memutuskan untuk menceritakan perihal malam saat aku sama Vika kecuali tentang first kiss
“Serius lo Rul? Vika bilang gitu?” tanya Windy
“Serius. Tapi ini rahasia kita ya” ucapku
“Sama gue, rahasia lo aman” kata Windy
“Tapi ada satu hal yang buat gue bingung Win” ucapku
“Apaan?”
Aku menceritakan tentang Rima dari awal aku berpisah sampai kami bertemu lagi dan liburan bareng Rima beberapa hari lalu.
“Tapi gue gatau apa ini nyaman karena suka atau bukan” ucapku
“Dia yang suka sama lo” kata Windy
“Lo suka gue ga?” ejekku
“KAGAAKK” katanya “Jauh jauh gih” lanjutnya sambil memberi isyarat mengusir
“Yaudah gue balik”
“Bercanda Rul” katanya
“Menurut gue, lo jalani aja sama kaya yang Vika bilang ke gue. Karena kata Rimapun, kalau udah pacaran, biasanya perasaan akan cepat sirna” ucapku
“Gitu ya” katanya sambil tertunduk
“Emang apa sih yang lo suka dari dia?” tanyaku
“Yaaa bagi gue, dia ganteng sih. Terus pas pulang nginep dari rumahnya itu gue kan nanya-nanya kondisi dia. Lo gatau kan, asalnya temen-temen si Raka mau dateng, tapi sama dia di hadang semua. Meski ga banyak sih”
“Gatau gue. Yang gue tau, Raka nyakitin lo sama Vika” ucapku
“Semenjak nginep itu, dia kaya ada perhatian lebih. Kadang ngajakin pulang bareng. Mungkin karena terbiasa” ucapnya
“Ya gue gatau soal perasaan dia. Perhatian ke sahabat wajar” ucapku
“Dia pernah malem-malem bawain gue makanan, jam 11 malem malah. Iseng gue SMS dia, eh beneran dateng” kata Windy
“Ya kalau lo minta pendapat gue, lo jalanin aja seperti biasa. Lo nyaman kan sama dia sekarang?” tanyaku
“Iya Rul”
“Yaudah, jalani aja apa adanya. Jangan ada yang dilebih lebihkan. Seperti gue ngelindungi lo semua” ucapku
“Makasih ya, gue udah lebih lega sekarang” kata Windy
Tak sadar momen ketika Windy curhat membuat sunsetnya terlewat. Aku dan Windy kembali ke penginapan namun kami membeli beberapa camilan dulu. Di penginapan semua udah pada nunggu kami
“Kalian darimana sih?” tanya Vika
“Abis bikin video” jawabku asal
“Heh, video apa ih” ucap Ana
“Video curhat bersama . . . “ ucapanku terpotong ketika Windy mengetok kepalaku menggunakan Hpnya
“Sakit bego” ucapku sambil mengusap kepalaku yang sakit
“Lagian lo jawab asal gitu” kata Windy
“Nih, beli camilan tadi” ucapku sambil memberikan kantong kresek pada Vika
Malam harinya, di taman penginapan ada beberapa spot yang bisa digunakan untuk kumpul keluarga. Disana juga ada gazebo yang berukuran tak terlalu besar, mungkin sekitar 2x2 dan ada sebuah tempat pembakaran.
“Kalian siapkan saja tempatnya sama bumbunya, om sama tante beli makanan dulu buat kita bakar-bakar” ucap om Tio
“Oke om” jawab kami semua
Persiapan demi persiapan kami lakukan. Ini adalah momen terakhir yang bisa kami nikmati karena besok malam kami semua akan pulang ke Jakarta.
Acara bakar-bakarpun berjalan dengan perut kenyang. Malam harinya kami semua kembali ke penginapan. Aku dan Hamid sebenarnya satu tempat dengan para gadis. Hanya saja berada di ruangan yang berbeda.
“Mid, sparing yuk” ucapku
“Eh si anying malah ngajak ribut” kata Hamid
“Gue pengen tau karate lo sejauh mana. Dan gue juga pengen tau reflek gue” ucapku
“Latihan nih kita?” kata Hamid
“Gas, kita di pantai aja biar ga gerah” ucapku
Aku dan Hamid berjalan menuju pantai. Kami berdiri saling bertatapan kemudian saling memberikan salam dan mengambil kuda-kuda.
Aku mengambil langkah maju kemudian melakukan tendangan memutar yang bisa ditangkis oleh Hamid. Setelah Hamid berhasil menangkis beberapa seranganku, ia membuat pukulanku terlembar keluar dan menjadikannya kesempatan dan langsung memukul perutku tanpa ada gerakan lagi. Tapi satu pukulan itu bisa membuatku mundur beberapa langkah
“Gapapa Rul?” katanya
“Gapapa, lanjut” ucapku sambil kembali memasang kuda-kuda
Saat itu Hamid langsung melancarkan pukulan dengan tangan kanannya, namun aku bergeser ke kiri satu langkah dan menangkap tangannya sambil menendang bagian dadanya menggunakan lutut. Dengan cepat aku langsung memukul kepalanya dengan sikutku, menarik tangannya ke kiri dan menjatuhkannya dengan tangan kanannya terkunci olehku dan aku menginjak tepat disamping kepala Hamid
“Meleset sedikit mati gue” katanya
“Haha sorry”
Aku membantunya bangun dan kami kembali memasang kuda-kuda. Beberapa serangan kami kembali lancarkan satu sama lain. Sampai akhirnya aku memberikan dua pukulan namun berhasil ditangkis oleh Hamid dan ia memberikanku tendangan tombak yang membuat aku mundur beberapa langkah kebelakang. Dengan sigap aku langsung maju lagi ke arah Hamid, memberikan beberapa tendangan memutar dan Hamid bisa menghindarinya dengan mundur beberapa langkah ke belakang. Akhirnya aku memberikan tendangan memutar dari bawah namun aku langsung memutar badan dan memberikan satu pukulan tepat diperutnya dan Hamidpun terpental jatuh ke pasir pantai
Pada saat itu juga Vika dan Windy datang dan melihat posisiku yang masih memukul tadi.
“Ngapain sih kalian pake berantem segala?” tanya Windy dengan suara meninggi
“Kalian ga bisa ya nyelesaiin masalah tanpa kekerasan?” sambung Vika.
Aku dan Hamid bertatapan sebentar dan kami saling tertawa mendengar ucapan Vika dan Windy. Vika dan Windy nampak terlihat bingung dengan tingkah kami. Aku membantu Hamid berdiri kemudian kami kembali memberi salam sebagai penutup.
“Lu ngapain sih berantem segala?” tanya Windy pada Hamid
“Gue gapapa Win, ahelah” katanya
“Kita cuma latihan” ucapku
“Latihan apaan, berantem?”eewot Vika
Aku dan Hamid menceritakan maksud latihan kami tadi. Vika dan Windy nampak bingung dengan ucapan kami yang sepertinya ga bisa dia mengerti. Tapi yasudahlah, toh ini hanya latihan saja.
“Lah kalian kenapa ga tidur?” tanyaku
“Kita liat lo berdua ga ada, terus dari jauh liat ada orang berantem. Ya kita samperin” kata Windy
“Tapi asli sih, gerakan terakhir lo itu ga disangka” ucap Hamid
“Namanya juga harus improvisasi, gerakan menipu” ucapku
“Yaudah balik kamar gih” kata Vika menyuruh kami
“Nanti deh, gue masih mau disini” ucapku
“Iya gue juga, masih mau menikmati angin malam”
“Yaudah kita ikut” kata Windy
Malam itu kami berempat duduk disebuah kursi yang agak jauh dari pantai. Kami memandangi laut yang gelap, dan hanya terdengar desiran ombak saja.
“Kita bakal bareng-bareng terus kan” ucap Vika
“Hidup ga ada yang tau. Tapi kita harus tetep saling support” ucap Hamid
“Cepat atau lambar, kita bakal menempuh jalan masing-masing. Tapi sebisa mungkin jangan lost contact” kata Windy
“Gimanapun rintangannya, kita bakal terus jalan sampai akhir” ucapku
Beberapa menit kemudian, udara mulai terasa dingin, kami semua kembali ke penginapan dan beristirahat
Diubah oleh neopo 14-09-2022 20:39
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8