- Beranda
- Stories from the Heart
Santet ( Ketamakan Membawa Petaka)
...
TS
piendutt
Santet ( Ketamakan Membawa Petaka)

Quote:
SANTET
Part 1. Mimpi Buruk
Kriiing! Kriiing!
Sebuah tangan terlihat meraba-raba berusaha menggapai jam weker yang terus berbunyi dan Cumiakkan telinga itu. Sang pemilik tangan pun bangun dari tidurnya.
"Whoaaamm!"
Seorang gadis dengan rambut sebahu menguap sambil mengusap-usap mata, kemudian berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, gadis itu menuju ke lantai bawah dan melihat seorang pria yang tidak lain adalah sang papa yang bernama Fajar, tengah duduk sambil membaca korang di sofa. Gadis cantik yang masih mengenakan piyama itu bernama Isna. Dia berjalan ke arah dapur sambil mengendus aroma sedap dari masakan wanita berkerudung yang terlihat sedang mencicipi sup buatannya. Wanita itu adalah sang mama yang bernama Fatimah. Kedua orang tuanya Isna memang sedang berlibur karena hari Minggu.
Tanpa menunggu lama, Isna pun langsung melingkarkan tangannya ke pinggul wanita yang dikaguminya itu.
"Mama masak apa? Sedap banget baunya," tanya Isna dengan nada manja.
"Ini sup ceker kesukaan kamu, Sayang,' jawab sang mama.
Mendadak, dari depan pintu dapur. Isna dikejutkan oleh suara lain yang memanggil namanya.
"Isna! Ngapain kamu di situ?"
Isna pun menoleh ke arah pintu, gadis itu terkejut melihat sang mama sedang berdiri tegak seraya menatapnya.
'Tunggu! Jika Mama ada di sana, lalu siapa yang kurangkul ini?' batin Isna.
Gadis itu menelan ludah, keringat dingin pun telah membasahi keningnya. Ia merenggangkan tangan, melepaskan rangkulan tangannya dan perlahan melongok ke atas untuk melihat siapa wanita yang berada di hadapannya.
Seketika, netranya terbelalak saat melihat wanita yang dikira sang mama tadi sudah berubah. Wanita itu berwajah pucat dengan tetesan darah hitam yang mengalir di seluruh wajahnya, matanya pun melotot tajam ke arah Isna.
"Arrrrhhhhhhhh!" Isna berteriak dan terbangun dari tidurnya bersamaan dengan dering jam weker di meja samping tempat tidurnya. Gadis itu terengah-engah, lalu mematikan jam weker yang terus berbunyi itu. Kemudian ia mengatur nafasnya kembali.
"Astagfirullahaladzim! Mimpi apa itu tadi?" Dia masih bertanya-tanya, lalu membersihkan diri dan turun ke lantai bawah.
Bersambung.
Written : @piendutt
Sumber : Opini pribadi
Jangan lupa mampir bawa
ya gan, terimakasih.
Part 1. Mimpi Buruk
Kriiing! Kriiing!
Sebuah tangan terlihat meraba-raba berusaha menggapai jam weker yang terus berbunyi dan Cumiakkan telinga itu. Sang pemilik tangan pun bangun dari tidurnya.
"Whoaaamm!"
Seorang gadis dengan rambut sebahu menguap sambil mengusap-usap mata, kemudian berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, gadis itu menuju ke lantai bawah dan melihat seorang pria yang tidak lain adalah sang papa yang bernama Fajar, tengah duduk sambil membaca korang di sofa. Gadis cantik yang masih mengenakan piyama itu bernama Isna. Dia berjalan ke arah dapur sambil mengendus aroma sedap dari masakan wanita berkerudung yang terlihat sedang mencicipi sup buatannya. Wanita itu adalah sang mama yang bernama Fatimah. Kedua orang tuanya Isna memang sedang berlibur karena hari Minggu.
Tanpa menunggu lama, Isna pun langsung melingkarkan tangannya ke pinggul wanita yang dikaguminya itu.
"Mama masak apa? Sedap banget baunya," tanya Isna dengan nada manja.
"Ini sup ceker kesukaan kamu, Sayang,' jawab sang mama.
Mendadak, dari depan pintu dapur. Isna dikejutkan oleh suara lain yang memanggil namanya.
"Isna! Ngapain kamu di situ?"
Isna pun menoleh ke arah pintu, gadis itu terkejut melihat sang mama sedang berdiri tegak seraya menatapnya.
'Tunggu! Jika Mama ada di sana, lalu siapa yang kurangkul ini?' batin Isna.
Gadis itu menelan ludah, keringat dingin pun telah membasahi keningnya. Ia merenggangkan tangan, melepaskan rangkulan tangannya dan perlahan melongok ke atas untuk melihat siapa wanita yang berada di hadapannya.
Seketika, netranya terbelalak saat melihat wanita yang dikira sang mama tadi sudah berubah. Wanita itu berwajah pucat dengan tetesan darah hitam yang mengalir di seluruh wajahnya, matanya pun melotot tajam ke arah Isna.
"Arrrrhhhhhhhh!" Isna berteriak dan terbangun dari tidurnya bersamaan dengan dering jam weker di meja samping tempat tidurnya. Gadis itu terengah-engah, lalu mematikan jam weker yang terus berbunyi itu. Kemudian ia mengatur nafasnya kembali.
"Astagfirullahaladzim! Mimpi apa itu tadi?" Dia masih bertanya-tanya, lalu membersihkan diri dan turun ke lantai bawah.
Bersambung.
Written : @piendutt
Sumber : Opini pribadi
Jangan lupa mampir bawa
ya gan, terimakasih.Bab selanjutnya 👇
Part 1. Mimpi Buruk
Part 2. Ibu-ibu Arisan
Part 3. Musibah
Part 4. Perkenalan
Part 5. Mengobati Fatimah
Part 6. Kiriman Santet
Part 7. Cinta pada Pandangan Pertama
Part 8. Isna Terkena Santet
Part 9. Sang Dalang
Part 10. Percobaan Pembunuhan
Diubah oleh piendutt 05-10-2022 14:16
terbitcomyt dan 20 lainnya memberi reputasi
21
10.9K
Kutip
111
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
piendutt
#12
Santet

Quote:
Part 3. Musibah
Setelah Fatimah jatuh sakit, Fajar kewalahan bekerja mengurusi restoran sendirian. Dia pun mempekerjakan dua orang pegawai untuk membantunya, sedangkan Isna bertugas menjaga sang mama usai pulang sekolah. Kini, gadis itu bahkan sudah pandai memasak menggantikan tugas sang mama.
Isna terlihat sedang menyuapi mamanya yang sudah tidak bisa pergi ke mana-mana karena tangan dan kakinya membengkak. Dokter sudah mengatakan bahwa Fatimah akan segera sembuh, Namun, entah kenapa bengkak itu malah semakin membesar dan terlihat mengeluarkan nanah yang berbau busuk.
"Maaf, ya, Sayang. Mama nyusahin kamu," ujar Fatimah seraya menelan bubur buatan Isna.
"Mama ini ngomong apa, sih? Dulu, waktu Isna masih bayi, memangnya nggak nyusahin Mama?" canda Isna yang membuat Fatimah tersenyum kecil.
Setiap hari, Isna selalu membersihkan tubuh wanita yang telah melahirkannya itu dengan handuk kecil dan air hangat. Isna tidak terlihat jijik sama sekali ketika membersihkan nanah yang terus mengalir di tangan dan kaki sang mama. Hatinya terenyuh saat membantu mamanya mengganti baju. Gadis itu setengah mati menahan tangis di depan mamanya dan bergegas keluar saat tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia pun menangis tersedu-sedu di dapur. Karena merasa iba pada sang mama yang menderita penyakit tidak jelas itu. Isna berusaha tegar karena hanya dirinya saja yang bisa mengurus sang mama.
Prima, sang kakak, mendapat tugas untuk bekerja di luar Jawa dan memutuskan untuk memboyong Lastri juga Zara turut serta karena dirinya diharuskan tinggal di kantor itu selama dua tahun. Sebenarnya, Prima bimbang menerima tugas itu karena itu berarti dirinya tidak bisa turut merawat sang mama yang tengah terbaring sakit. Bahkan, Prima sempat ingin mengundurkan diri saja. Namun, Fajar meyakinkan putra sulungnya itu untuk tetap menerima tugas dan tidak perlu mengkhawatirkan mamanya. Jadilah hanya Isna dan sang papa saja yang mengurusi Fatimah juga restoran mereka.
***
Seminggu setelah keberangkatan Prima, Fajar malah tertimpa kemalangan usai mempekerjakan pegawai baru. Uang hasil penjualan selama beberapa bulan, raib dicuri oleh pegawai baru itu. Fajar bingung harus berbuat apa. Dia juga sudah melaporkan kejadian itu dan pihak berwajib masih mencari kedua orang pelaku.
Entah kenapa, semakin hari keadaan keluarga Isna semakin memburuk. Kemalangan demi kemalangan terus menimpa keluarga itu.
"Kenapa ... kita mendapatkan musibah terus-menerus seperti ini, ya, Ma?" keluh pria berkumis tipis itu seraya menatap istrinya yang terduduk di ranjang.
"Istigfar, Pa. Semua ini ujian dari Allah. Kita harus tetap tabah, ya," tutur Fatimah memberikan semangat.
"Bagaimana kita harus membiayai kuliah Isna, Ma? Tabungan Papa sudah habis untuk membiayai pengobatan Mama," keluh Fajar sambil memijat kepalanya sendiri.
"Sabar, Pa. Pasti akan ada jalan. Kita pikirkan nanti setelah Isna lulus, ya," sahut istrinya.
Tanpa sengaja, Isna mendengar percakapan itu dan benar-benar terpukul. Dia tidak ingin menyusahkan dan menjadi beban untuk kedua orang tuanya itu. Isna pun memutuskan untuk tidak kuliah dan langsung bekerja di restoran bersama papanya usai lulus sekolah.
"Kamu yakin itu keputusan yang tepat? Kenapa kamu nggak mau kuliah, Isna?" Fajar mempertanyakan keputusan anak gadisnya itu.
"Isna … mau kerja ngumpulin uang yang banyak biar bisa bayarin pengobatan Mama, Pa," sahut gadis yang kini genap berusia 18 tahun itu.
"Maafin Papa, ya, Sayang, karena sudah menghancurkan impianmu.” Fajar langsung memeluk putrinya itu.
"Iya, Pa. Isna ngerti, kok," sahut Isna menahan tangis. Tekadnya sudah bulat untuk bekerja keras dan memberi pengobatan maksimal bagi sang mama agar segera sembuh.
***
Suatu hari, restoran mereka dipenuhi pengunjung. Fajar dan Isna hampir kewalahan melayani para pengunjung itu. Saat mereka tengah sibuk, salah satu pengunjung menggebrak meja dan berteriak.
"Makanan apa ini?! Bagaimana bisa ada belatung di piringku?!" teriak pria itu dan membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya.
"Ma-maafkan saya, Mas! Sa-saya akan segera menggantinya," kata Fajar.
"Nggak usah! Aku sudah nggak selera makan di sini!" umpat pria itu sambil kembali menggebrak meja dan berlalu
Ucapan pria itu sontak membuat para pengunjung lain ikut memeriksa makanan pesanan mereka. Beberapa pengunjung bahkan memutuskan untuk tidak menyelesaikan makan dan beranjak meninggalkan restoran itu. Melihat pengunjung yang meninggalkan restorannya satu per satu, membuat Fajar tertunduk lesu. Pria berkumis tipis itu duduk di kursi seraya memegangi dahinya.
"Papa … yang sabar, ya," ujar Isna menenangkan sang papa.
Pria itu hanya mengangguk dan masih tertunduk lesu. Selama ini, dia selalu berusaha menyajikan yang terbaik untuk para pelanggannya. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini sering sekali terjadi hal-hal yang membuat restoran terus merugi.
Sejak kejadian itu, banyak rumor yang beredar tentang keluarga Isna. Desas desus mengatakan bahwa kedua orang tua Isna rela menyembah iblis demi meraih kekayaan dan kini, kemalangan yang terus menerus menimpa keluarga itu adalah azab dari perbuatan musrik mereka. Begitu pedih rasanya mendengar semua kabar yang beredar itu.
Fajar merenungi semua kejadian yang membuatnya terpuruk itu. Pikirannya kacau dan bercampur aduk. Isna yang melihat sang papa begitu terpukul pun berusaha menenangkannya. Namun, sang papa tetap saja terlihat murung dan bersedih.
***
Suatu hari, Isna memutuskan untuk membuka dan menjalankan restorannya sendirian, sedangkan Fajar bergantian merawat Fatimah di rumah. Isna sengaja meminta sang papa untuk tetap di rumah, agar pria itu juga bisa beristirahat. Toh, kini pengunjung di restorannya sudah sangat berkurang dan hal itu membuat Isna bisa mengurus restoran itu sendirian.
Tidak beberapa lama setelah restoran buka, seorang pria muda terlihat memasuki restoran.
"Selamat datang! Silakan! Ini buku menunya," sambut Isna seraya menyodorkan buku menu setelah pria itu duduk di salah satu kursi.
Sang pria melihat dan membolak-balik buku menu itu.
"Pesan ayam bakar sama tumis kangkung ya, Mbak," sahutnya.
"Baik. Mau minum apa, Mas?" tanya Isna.
"Air putih saja, Mbak.”
"Oh iya, tunggu bentar, ya, Mas." Isna bergegas menyiapkan pesanan pria itu dan tidak lama kemudian, dia pun membawa nampan berisi makanan ke meja sang pria.
"Ini, Mas. Pesanannya.” Isna meletakkan sepiring ayam bakar dan tumis kangkung di meja.
"Iya, makasih," sahut pria itu tersenyum manis pada Isna.
Isna menatap dari kejauhan. Pria itu sangat tampan, dan juga sopan. Gadis itu pun menghela napas. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan seperti itu pada seorang pria. Waktunya selalu habis untuk menjaga sang mama yang sakit dan juga restorannya. Isna bahkan sampai enggan merasakan cinta dari seorang pria karena mengingat keadaan keluarganya yang tengah terpuruk.
Lamunannya terhenti saat pria itu memanggilnya.
"Semuanya berapa, ya, Mbak?" tanya pria itu.
Isna pun mulai menghitung total harga yang harus dibayar pria itu.
" 45 ribu, Mas."
Pria itu tampak merogoh dompet dari belakang celananya. Isna sedikit terkejut melihat makanan yang dipesan pria itu tampak tidak disentuh sama sekali.
"Ehm … Mas? Mas nggak doyan, ya, sama masakan saya?" tanya Isna tiba-tiba.
Pria itu terdiam sejenak dan menatap wajah Isna yang terlihat penasaran.
"Bisakah aku membungkus semua makanan ini? Aku lupa kalau bibiku di rumah belum makan. Jadi, aku ingin memberikan ini pada beliau," ujar pria itu seraya tersenyum.
"Oh iya, bisa, Mas.” Isna pun malu karena sudah berpikiran negatif. Dia pun segera mengambil sebuah kotak nasi dan memasukkan makanan itu ke sana.
" Ini, Mas.” Isna langsung memberikan kantong plastik berisi makanan pada pria itu.
"Ini uangnya, Mbak." Pria itu pun memberikan uang pas pada Isna dan pergi dari restoran itu.
Saat keluar dari restoran, pria itu terlihat sempat berpapasan dengan Erna, sahabat Isna.
"Siapa tuh cowok? Ganteng amat," celetuk Erna.
"Hah! Dia adalah jodohnya seseorang," sahut Isna tersenyum kecut.
"Idih baper! Udah, ah! Sana bungkusin pesenan aku! Jangan lupa tambahin acar timunnya!" ujar Erna sambil tersenyum geli.
"Siap Bos!" sahut Isna.
Isna pun segera memasak nasi goreng pesanan Erna yang masih setia memesan makanan dari restorannya.
"Nih! Tiga bungkus, kan? Harganya -," Ucapan Isna terhenti karena Erna buru-buru memberinya uang.
"Dah! Nih! Sisanya buat tip! Makasih timunnya, yaa!" sahut Erna dan segera berlalu meninggalkan Isna.
"Eh, Na! Kebiasaan kamu, tu!" bentak Isna.
Erna tidak memedulikan teriakan Isna dan melemparkan senyuman manis pada sahabatnya itu.
Isna menggeleng melihat kelakuan sang sahabat yang terus setia mendukungnya. Gadis itu pun menatap uang yang diberikan Erna kepadanya. Tidak terasa, air mata menetes karena dia terharu dengan sikap Erna yang tidak meninggalkannya meski saat ini, Isna tengah dalam keadaan terpuruk. Erna adalah sahabat sejati karena tidak terpengaruh dengan kabar buruk yang beredar dan tetap mempertahankan persahabatannya dengan Isna.
***
Pria yang membungkus makanan pesanannya dari restoran Isna tadi sedang berjalan menuju ke sebuah tempat sampah di pinggir jalan. Dia pun membuang bungkusan itu karena ternyata makanan itu sudah dipenuhi oleh belatung dan pria itu bisa melihatnya.
"Kenapa bisa restoran sebagus itu semua makanannya penuh belatung? Aneh," gumam pria itu sembari terus berjalan.
Bersambung.
Setelah Fatimah jatuh sakit, Fajar kewalahan bekerja mengurusi restoran sendirian. Dia pun mempekerjakan dua orang pegawai untuk membantunya, sedangkan Isna bertugas menjaga sang mama usai pulang sekolah. Kini, gadis itu bahkan sudah pandai memasak menggantikan tugas sang mama.
Isna terlihat sedang menyuapi mamanya yang sudah tidak bisa pergi ke mana-mana karena tangan dan kakinya membengkak. Dokter sudah mengatakan bahwa Fatimah akan segera sembuh, Namun, entah kenapa bengkak itu malah semakin membesar dan terlihat mengeluarkan nanah yang berbau busuk.
"Maaf, ya, Sayang. Mama nyusahin kamu," ujar Fatimah seraya menelan bubur buatan Isna.
"Mama ini ngomong apa, sih? Dulu, waktu Isna masih bayi, memangnya nggak nyusahin Mama?" canda Isna yang membuat Fatimah tersenyum kecil.
Setiap hari, Isna selalu membersihkan tubuh wanita yang telah melahirkannya itu dengan handuk kecil dan air hangat. Isna tidak terlihat jijik sama sekali ketika membersihkan nanah yang terus mengalir di tangan dan kaki sang mama. Hatinya terenyuh saat membantu mamanya mengganti baju. Gadis itu setengah mati menahan tangis di depan mamanya dan bergegas keluar saat tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia pun menangis tersedu-sedu di dapur. Karena merasa iba pada sang mama yang menderita penyakit tidak jelas itu. Isna berusaha tegar karena hanya dirinya saja yang bisa mengurus sang mama.
Prima, sang kakak, mendapat tugas untuk bekerja di luar Jawa dan memutuskan untuk memboyong Lastri juga Zara turut serta karena dirinya diharuskan tinggal di kantor itu selama dua tahun. Sebenarnya, Prima bimbang menerima tugas itu karena itu berarti dirinya tidak bisa turut merawat sang mama yang tengah terbaring sakit. Bahkan, Prima sempat ingin mengundurkan diri saja. Namun, Fajar meyakinkan putra sulungnya itu untuk tetap menerima tugas dan tidak perlu mengkhawatirkan mamanya. Jadilah hanya Isna dan sang papa saja yang mengurusi Fatimah juga restoran mereka.
***
Seminggu setelah keberangkatan Prima, Fajar malah tertimpa kemalangan usai mempekerjakan pegawai baru. Uang hasil penjualan selama beberapa bulan, raib dicuri oleh pegawai baru itu. Fajar bingung harus berbuat apa. Dia juga sudah melaporkan kejadian itu dan pihak berwajib masih mencari kedua orang pelaku.
Entah kenapa, semakin hari keadaan keluarga Isna semakin memburuk. Kemalangan demi kemalangan terus menimpa keluarga itu.
"Kenapa ... kita mendapatkan musibah terus-menerus seperti ini, ya, Ma?" keluh pria berkumis tipis itu seraya menatap istrinya yang terduduk di ranjang.
"Istigfar, Pa. Semua ini ujian dari Allah. Kita harus tetap tabah, ya," tutur Fatimah memberikan semangat.
"Bagaimana kita harus membiayai kuliah Isna, Ma? Tabungan Papa sudah habis untuk membiayai pengobatan Mama," keluh Fajar sambil memijat kepalanya sendiri.
"Sabar, Pa. Pasti akan ada jalan. Kita pikirkan nanti setelah Isna lulus, ya," sahut istrinya.
Tanpa sengaja, Isna mendengar percakapan itu dan benar-benar terpukul. Dia tidak ingin menyusahkan dan menjadi beban untuk kedua orang tuanya itu. Isna pun memutuskan untuk tidak kuliah dan langsung bekerja di restoran bersama papanya usai lulus sekolah.
"Kamu yakin itu keputusan yang tepat? Kenapa kamu nggak mau kuliah, Isna?" Fajar mempertanyakan keputusan anak gadisnya itu.
"Isna … mau kerja ngumpulin uang yang banyak biar bisa bayarin pengobatan Mama, Pa," sahut gadis yang kini genap berusia 18 tahun itu.
"Maafin Papa, ya, Sayang, karena sudah menghancurkan impianmu.” Fajar langsung memeluk putrinya itu.
"Iya, Pa. Isna ngerti, kok," sahut Isna menahan tangis. Tekadnya sudah bulat untuk bekerja keras dan memberi pengobatan maksimal bagi sang mama agar segera sembuh.
***
Suatu hari, restoran mereka dipenuhi pengunjung. Fajar dan Isna hampir kewalahan melayani para pengunjung itu. Saat mereka tengah sibuk, salah satu pengunjung menggebrak meja dan berteriak.
"Makanan apa ini?! Bagaimana bisa ada belatung di piringku?!" teriak pria itu dan membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya.
"Ma-maafkan saya, Mas! Sa-saya akan segera menggantinya," kata Fajar.
"Nggak usah! Aku sudah nggak selera makan di sini!" umpat pria itu sambil kembali menggebrak meja dan berlalu
Ucapan pria itu sontak membuat para pengunjung lain ikut memeriksa makanan pesanan mereka. Beberapa pengunjung bahkan memutuskan untuk tidak menyelesaikan makan dan beranjak meninggalkan restoran itu. Melihat pengunjung yang meninggalkan restorannya satu per satu, membuat Fajar tertunduk lesu. Pria berkumis tipis itu duduk di kursi seraya memegangi dahinya.
"Papa … yang sabar, ya," ujar Isna menenangkan sang papa.
Pria itu hanya mengangguk dan masih tertunduk lesu. Selama ini, dia selalu berusaha menyajikan yang terbaik untuk para pelanggannya. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini sering sekali terjadi hal-hal yang membuat restoran terus merugi.
Sejak kejadian itu, banyak rumor yang beredar tentang keluarga Isna. Desas desus mengatakan bahwa kedua orang tua Isna rela menyembah iblis demi meraih kekayaan dan kini, kemalangan yang terus menerus menimpa keluarga itu adalah azab dari perbuatan musrik mereka. Begitu pedih rasanya mendengar semua kabar yang beredar itu.
Fajar merenungi semua kejadian yang membuatnya terpuruk itu. Pikirannya kacau dan bercampur aduk. Isna yang melihat sang papa begitu terpukul pun berusaha menenangkannya. Namun, sang papa tetap saja terlihat murung dan bersedih.
***
Suatu hari, Isna memutuskan untuk membuka dan menjalankan restorannya sendirian, sedangkan Fajar bergantian merawat Fatimah di rumah. Isna sengaja meminta sang papa untuk tetap di rumah, agar pria itu juga bisa beristirahat. Toh, kini pengunjung di restorannya sudah sangat berkurang dan hal itu membuat Isna bisa mengurus restoran itu sendirian.
Tidak beberapa lama setelah restoran buka, seorang pria muda terlihat memasuki restoran.
"Selamat datang! Silakan! Ini buku menunya," sambut Isna seraya menyodorkan buku menu setelah pria itu duduk di salah satu kursi.
Sang pria melihat dan membolak-balik buku menu itu.
"Pesan ayam bakar sama tumis kangkung ya, Mbak," sahutnya.
"Baik. Mau minum apa, Mas?" tanya Isna.
"Air putih saja, Mbak.”
"Oh iya, tunggu bentar, ya, Mas." Isna bergegas menyiapkan pesanan pria itu dan tidak lama kemudian, dia pun membawa nampan berisi makanan ke meja sang pria.
"Ini, Mas. Pesanannya.” Isna meletakkan sepiring ayam bakar dan tumis kangkung di meja.
"Iya, makasih," sahut pria itu tersenyum manis pada Isna.
Isna menatap dari kejauhan. Pria itu sangat tampan, dan juga sopan. Gadis itu pun menghela napas. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan seperti itu pada seorang pria. Waktunya selalu habis untuk menjaga sang mama yang sakit dan juga restorannya. Isna bahkan sampai enggan merasakan cinta dari seorang pria karena mengingat keadaan keluarganya yang tengah terpuruk.
Lamunannya terhenti saat pria itu memanggilnya.
"Semuanya berapa, ya, Mbak?" tanya pria itu.
Isna pun mulai menghitung total harga yang harus dibayar pria itu.
" 45 ribu, Mas."
Pria itu tampak merogoh dompet dari belakang celananya. Isna sedikit terkejut melihat makanan yang dipesan pria itu tampak tidak disentuh sama sekali.
"Ehm … Mas? Mas nggak doyan, ya, sama masakan saya?" tanya Isna tiba-tiba.
Pria itu terdiam sejenak dan menatap wajah Isna yang terlihat penasaran.
"Bisakah aku membungkus semua makanan ini? Aku lupa kalau bibiku di rumah belum makan. Jadi, aku ingin memberikan ini pada beliau," ujar pria itu seraya tersenyum.
"Oh iya, bisa, Mas.” Isna pun malu karena sudah berpikiran negatif. Dia pun segera mengambil sebuah kotak nasi dan memasukkan makanan itu ke sana.
" Ini, Mas.” Isna langsung memberikan kantong plastik berisi makanan pada pria itu.
"Ini uangnya, Mbak." Pria itu pun memberikan uang pas pada Isna dan pergi dari restoran itu.
Saat keluar dari restoran, pria itu terlihat sempat berpapasan dengan Erna, sahabat Isna.
"Siapa tuh cowok? Ganteng amat," celetuk Erna.
"Hah! Dia adalah jodohnya seseorang," sahut Isna tersenyum kecut.
"Idih baper! Udah, ah! Sana bungkusin pesenan aku! Jangan lupa tambahin acar timunnya!" ujar Erna sambil tersenyum geli.
"Siap Bos!" sahut Isna.
Isna pun segera memasak nasi goreng pesanan Erna yang masih setia memesan makanan dari restorannya.
"Nih! Tiga bungkus, kan? Harganya -," Ucapan Isna terhenti karena Erna buru-buru memberinya uang.
"Dah! Nih! Sisanya buat tip! Makasih timunnya, yaa!" sahut Erna dan segera berlalu meninggalkan Isna.
"Eh, Na! Kebiasaan kamu, tu!" bentak Isna.
Erna tidak memedulikan teriakan Isna dan melemparkan senyuman manis pada sahabatnya itu.
Isna menggeleng melihat kelakuan sang sahabat yang terus setia mendukungnya. Gadis itu pun menatap uang yang diberikan Erna kepadanya. Tidak terasa, air mata menetes karena dia terharu dengan sikap Erna yang tidak meninggalkannya meski saat ini, Isna tengah dalam keadaan terpuruk. Erna adalah sahabat sejati karena tidak terpengaruh dengan kabar buruk yang beredar dan tetap mempertahankan persahabatannya dengan Isna.
***
Pria yang membungkus makanan pesanannya dari restoran Isna tadi sedang berjalan menuju ke sebuah tempat sampah di pinggir jalan. Dia pun membuang bungkusan itu karena ternyata makanan itu sudah dipenuhi oleh belatung dan pria itu bisa melihatnya.
"Kenapa bisa restoran sebagus itu semua makanannya penuh belatung? Aneh," gumam pria itu sembari terus berjalan.
Bersambung.
Araka dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup