- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.7K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#352
gatra 4
Quote:
ARYA GADING MASIH terpaku di lorong goa itu. Pandangannya menyapu sekeliling dalam goa itu. Banyak sekali cabang – cabang dari ruangan goa itu. Di cobanya untuk menyusuri lorong –lorong itu dan ia pun tidak berhasil menemukan jalan keluar. Berkali –kali dicobanya melewati lorong yang lain. Akan tetapi hasilnya sama saja. Akhirnya Arya Gading duduk bersandar pada dinding goa.
“ Aku ingat goa ini, goa yang aku masuki pada sat aku jatuh dari atas bukit itu. Aku sama sekali tidak menyangka isi perut goa ini banyak sekali percabangan dan lorong. Apakah aku akan terjebak di dalam goa ini dan menemui ajal ku disini?”
Dalam kekalutan pikiran itu, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa lunak perlahan di belakangnya. Tersentak Arya Gading berdiri dan bersiaga. Tetapi kemudian kembali ia menjadi bingung, ketika di hadapannya berdiri orang yang dari perawakannya sangat mirip dengannya . Ia bahkan terlonjak ketika orang itu berjalan semakin dekat. Pada saat dua langkah di hadapannya. Orang itu berhenti. Arya Gading seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang itu memiliki wajah yang sama dengan wajahnya.
Orang yang sangat mirip dengan Arya Gading itupun memandanginya dengan saksama dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Kemudian terdengarlah ia berkata, “Ki Sanak, apakah yang kau lakukan di sini? Dan siapakah kau sebenarnya? Mengapa kau belum juga keluar dari tempat ini? Apa sebenarnya yang kau cari disini?”
Mendapat pertanyaan itu Arya Gading menjadi bingung. Ia sendiri sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan sesuatu di tempat itu. Ia hanya tertarik dan penasaran pada seseorang yang ,mengikutinya di luar tadi. Sekarang, tiba-tiba seseorang, yang sejak semula telah membingungkannya, menanyakan keperluannya.
Untuk beberapa saat Arya Gading tidak menjawab, sehingga kembali orang itu berkata, “Agaknya kau terkejut melihat kehadiranku di sini?”
“Ya,” jawab Arya Gading dengan jujur. “Aku datang ke tempat ini tanpa aku sengaja. Aku hanya mengikuti orang yang telah dengan diam –diam membuntuti ku ki sanak dan ternyata orang itu adalah ki sanak sendiri. Apa maksud kisanak mengikutiku secara diam –diam?”
Sekali lagi orang itu tertawa lunak. ” Hei..atas dasar apa kau menuduhku bahwa aku telah mengikuti mu secara diam –diam? “
Bagaimanapun juga Arya Gading merasa tersinggung oleh pertanyaan itu. Maka jawabnya, ”Ki Sanak, aku tahu benar bahwa orang yang membuntutiku itu adalah kau adanya “
“ Dan aku heran kau memiliki wajah dan perawakan sangat mirip dengan ku. Siapa kau sebenarnya? Karena seingat ku, aku sama sekali tidak memiliki saudara kembar?”
Orang yang menyerupai Arya Gading itu tertawa, “ Menyerupai diri mu ki sanak? Nampaknya kau sangat pintar untuk memutar balikkan kenyataan. Kau lah yang meniru –niru diri ku. Aku lah Arya Gading yang sebenarnya. Murid Ki Ageng Pandan Arum dan pewaris dari padepokan Pasanggaran. Katakan dengan jujur siapa kau sebenarnya?”
Arya Gading sekali lagi terperanjat. Orang di depannya itu menyebut dirinya Arya Gading. Namun, pemuda itu menyembunyikan rasa keterkejutannya. Ia mendesah, kepalanya menjadi pening. Orang dihadapannya itu selalu saja berbicara berbelit –belit dan memutar mutar perkataannya.
Arya Gading menggelengkan kepala. Lalu katanya, “Jangan terlalu banyak berbicara berputar – putar kisanak. Kau telah menyebut dirimu lengkap seperti diriku. Kau mengaku bahwa kau Arya Gading yang sebenarnya. Tidak mungkin persamaan di antara kita sampai sedemikian jauhnya. Arya Gading hanya seorang dan itu adalah aku!”
Kembali wajah orang itu membayangkan keheranan. Matanya menatap dengan tajamnya. Kemudian hampir berdesis ia berkata, ”Ki Sanak, janganlah mencari persoalan. Kita belum saling mengenal sebelumnya. Apakah sebabnya maka Ki Sanak bersikap sedemikian terhadapku.”
Mendengar uraian itu dada Arya Gading bergetar dahsyat. Tetapi Arya Gading adalah seseorang yang berotak cemerlang. Karena itu segera ia menjawab, ”Kalau demikian, kaulah yang telah memancingku dan melibatkan diriku dalam goa yang mempunyai ratusan cabang yang membingungkan ini.”
Kembali orang itu tersnyum. Katanya kemudian, ”Anehlah yang aku alami selama ini. Apa yang seharusnya aku katakan, sudah kau katakan. Sedang kau merasa bahwa apa yang akan kau katakan, sudah aku katakan.”
”Jangan memutar balik keadaan. Sekarang tunjukkan kepadaku, siapa sebenarnya dirimu dan apa maksud mu memancingku ke dalam goa yang sumpek ini ” , geram Arya Gading yang mulai kehilangan kesabaran.
”Jangan mengigau,” bentak orang itu. ”Dengan igauanmu itu kau bisa membuat aku gila.”
Mendengar orang itu membentak-bentak, darah Arya Gading bertambah cepat mengalir. Kekalutannya ditambah lagi suasana pengap di dalam goa yang menghimpitnya membuat kesabarannya selama ini perlahan –lahan terkikis. Segera ia merasa bahwa suatu bentrokan akan sukar dihindarkan. Karena itu segera ia pun bersiaga penuh, sebab ia yakin orang yang menyerupai dirinya itu memiliki kanuragan yang tidak bisa diremehkan.
Namun bagaimanapun juga, Arya Gading harus menghadapi setiap kemungkinan dengan berani. Maka ia pun kemudian membentak pula, ”Apakah keuntunganmu dengan segala macam ceritera isapan jempol itu? Nah, sekarang katakan kepadaku, kepada Arya Gading murid Ki Ageng Pandan Arum, apa maksud dari semua permainan menggelikan ini?”
“ Aku ingat goa ini, goa yang aku masuki pada sat aku jatuh dari atas bukit itu. Aku sama sekali tidak menyangka isi perut goa ini banyak sekali percabangan dan lorong. Apakah aku akan terjebak di dalam goa ini dan menemui ajal ku disini?”
Dalam kekalutan pikiran itu, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa lunak perlahan di belakangnya. Tersentak Arya Gading berdiri dan bersiaga. Tetapi kemudian kembali ia menjadi bingung, ketika di hadapannya berdiri orang yang dari perawakannya sangat mirip dengannya . Ia bahkan terlonjak ketika orang itu berjalan semakin dekat. Pada saat dua langkah di hadapannya. Orang itu berhenti. Arya Gading seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang itu memiliki wajah yang sama dengan wajahnya.
Orang yang sangat mirip dengan Arya Gading itupun memandanginya dengan saksama dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Kemudian terdengarlah ia berkata, “Ki Sanak, apakah yang kau lakukan di sini? Dan siapakah kau sebenarnya? Mengapa kau belum juga keluar dari tempat ini? Apa sebenarnya yang kau cari disini?”
Mendapat pertanyaan itu Arya Gading menjadi bingung. Ia sendiri sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan sesuatu di tempat itu. Ia hanya tertarik dan penasaran pada seseorang yang ,mengikutinya di luar tadi. Sekarang, tiba-tiba seseorang, yang sejak semula telah membingungkannya, menanyakan keperluannya.
Untuk beberapa saat Arya Gading tidak menjawab, sehingga kembali orang itu berkata, “Agaknya kau terkejut melihat kehadiranku di sini?”
“Ya,” jawab Arya Gading dengan jujur. “Aku datang ke tempat ini tanpa aku sengaja. Aku hanya mengikuti orang yang telah dengan diam –diam membuntuti ku ki sanak dan ternyata orang itu adalah ki sanak sendiri. Apa maksud kisanak mengikutiku secara diam –diam?”
Sekali lagi orang itu tertawa lunak. ” Hei..atas dasar apa kau menuduhku bahwa aku telah mengikuti mu secara diam –diam? “
Bagaimanapun juga Arya Gading merasa tersinggung oleh pertanyaan itu. Maka jawabnya, ”Ki Sanak, aku tahu benar bahwa orang yang membuntutiku itu adalah kau adanya “
“ Dan aku heran kau memiliki wajah dan perawakan sangat mirip dengan ku. Siapa kau sebenarnya? Karena seingat ku, aku sama sekali tidak memiliki saudara kembar?”
Orang yang menyerupai Arya Gading itu tertawa, “ Menyerupai diri mu ki sanak? Nampaknya kau sangat pintar untuk memutar balikkan kenyataan. Kau lah yang meniru –niru diri ku. Aku lah Arya Gading yang sebenarnya. Murid Ki Ageng Pandan Arum dan pewaris dari padepokan Pasanggaran. Katakan dengan jujur siapa kau sebenarnya?”
Arya Gading sekali lagi terperanjat. Orang di depannya itu menyebut dirinya Arya Gading. Namun, pemuda itu menyembunyikan rasa keterkejutannya. Ia mendesah, kepalanya menjadi pening. Orang dihadapannya itu selalu saja berbicara berbelit –belit dan memutar mutar perkataannya.
Arya Gading menggelengkan kepala. Lalu katanya, “Jangan terlalu banyak berbicara berputar – putar kisanak. Kau telah menyebut dirimu lengkap seperti diriku. Kau mengaku bahwa kau Arya Gading yang sebenarnya. Tidak mungkin persamaan di antara kita sampai sedemikian jauhnya. Arya Gading hanya seorang dan itu adalah aku!”
Kembali wajah orang itu membayangkan keheranan. Matanya menatap dengan tajamnya. Kemudian hampir berdesis ia berkata, ”Ki Sanak, janganlah mencari persoalan. Kita belum saling mengenal sebelumnya. Apakah sebabnya maka Ki Sanak bersikap sedemikian terhadapku.”
Mendengar uraian itu dada Arya Gading bergetar dahsyat. Tetapi Arya Gading adalah seseorang yang berotak cemerlang. Karena itu segera ia menjawab, ”Kalau demikian, kaulah yang telah memancingku dan melibatkan diriku dalam goa yang mempunyai ratusan cabang yang membingungkan ini.”
Kembali orang itu tersnyum. Katanya kemudian, ”Anehlah yang aku alami selama ini. Apa yang seharusnya aku katakan, sudah kau katakan. Sedang kau merasa bahwa apa yang akan kau katakan, sudah aku katakan.”
”Jangan memutar balik keadaan. Sekarang tunjukkan kepadaku, siapa sebenarnya dirimu dan apa maksud mu memancingku ke dalam goa yang sumpek ini ” , geram Arya Gading yang mulai kehilangan kesabaran.
”Jangan mengigau,” bentak orang itu. ”Dengan igauanmu itu kau bisa membuat aku gila.”
Mendengar orang itu membentak-bentak, darah Arya Gading bertambah cepat mengalir. Kekalutannya ditambah lagi suasana pengap di dalam goa yang menghimpitnya membuat kesabarannya selama ini perlahan –lahan terkikis. Segera ia merasa bahwa suatu bentrokan akan sukar dihindarkan. Karena itu segera ia pun bersiaga penuh, sebab ia yakin orang yang menyerupai dirinya itu memiliki kanuragan yang tidak bisa diremehkan.
Namun bagaimanapun juga, Arya Gading harus menghadapi setiap kemungkinan dengan berani. Maka ia pun kemudian membentak pula, ”Apakah keuntunganmu dengan segala macam ceritera isapan jempol itu? Nah, sekarang katakan kepadaku, kepada Arya Gading murid Ki Ageng Pandan Arum, apa maksud dari semua permainan menggelikan ini?”
Quote:
ORANG ITU MENARIK alisnya. Kemudian warna merah tersirat di wajahnya. Maka sahutnya, ”Tak kusangka bahwa di dunia ini ada orang semacam kau ini. Orang yang senang pada pertengkaran tanpa sebab. Aku juga tidak tahu, apakah keuntunganmu dengan kelakuanmu yang aneh-aneh itu. Meskipun demikian apa boleh buat. Agaknya kau ingin membuktikan siapa dari kita berdua yang sebenarnya Arya Gading yang asli, murid Ki Ageng Pandan Arum yang dapat menjunjung tinggi nama perguruannya.”
Dada Arya Gading menjadi semakin bergelora ketika nama gurunya disebut-sebut, sehingga ia tak dapat menahan diri. Dengan meloncat ia berteriak, ”Baiklah kita lihat, siapakah sebenarnya murid Ki Ageng Pandan Arum”
Agaknya orang itu telah bersiaga pula. Ketika serangan Arya Gading tiba, segera ia mengelakkan diri. Bahkan dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya, orang itu pun telah membalas menyerang. Sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang sengit. Pertempuran antara dua orang yang memiliki perawakan dan wajah yang sangat mirip. Yang memusingkan kepala Arya Gading adalah orang itu dapat bergerak dan mempergunakan ilmu dari perguruan Pandan Arum dengan sempurna. Bahkan dalam beberapa hal, orang itu memiliki kelebihan-kelebihan dari Arya Gading. Demikianlah kedua orang itu berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan kebenaran kata masing-masing.
Arya Gading yang bertubuh tidak terlalu besar namun tegap itu berjuang dengan tangguhnya seperti seekor banteng yang tak surut menghadapi segala macam bahaya, sedang lawannya pun berjuang seperti seekor banteng yang tak mengenal mundur. Sehingga perang tanding itu merupakan perang tanding yang dahsyat. Apalagi seolah-olah bagi kedua-duanya sudah saling dapat memperhitungkan gerakan-gerakan lawan. Dengan demikian yang terjadi seakan-akan hanyalah suatu adu kekuatan. Kalau dalam beberapa pertempuran mereka kadang-kadang berhasil menembus kelemahan lawan dengan jurus -jurus yang membingungkan, tetapi kali ini mereka sama sekali tidak dapat saling mencuri kesempatan. Sebab mereka seakan-akan mempunyai satu otak yang sama dan sudah tahu gerakan – gerakan dari lawannya masing –masing.
Namun bagaimanapun juga kedua orang itu adalah orang yang berbeda, sehingga dalam kenyataannya, mereka pun tidak sama seluruhnya. Lawan Arya Gading yang mengaku juga bernama Arya Gading itu ternyata memiliki kekuatan tubuh yang melampaui kekuatan tubuh Arya Gading, sehingga setelah mereka bertempur berputar-putar, akhirnya terasalah bahwa Arya Gading mulai terdesak. Hal ini terasa pula olehnya, sehingga dengan demikian ia menjadi gelisah. Apapun yang dilakukan, segala macam jurus yang pernah dipelajari, tidak dapat menolongnya, sebab orang itupun mampu melakukannya.
Beberapa saat kemudian di luar, di langit ujung barat, terpencarlah warna jingga dari matahari yang sudah mulai tergelincir dan mengintip dari balik punggung perbukitan. Perlahan-lahan terang siang mulai berangsur surut. Dalam pada itu kedua orang yang bertempur di dalam goa itu masih saja berjuang mati-matian.
Tiba –tiba lawan Arya Gading itu dengan gerakan yang cepat meloncat pergi. Sudah tentu Arya Gading tidak membiarkannya. Karena itu, maka segera Arya Gadingpun meloncat mengejar orang itu, yang ternyata masih dapat berlari cepat. Maka terjadilah kejar-mengejar di dalam lorong goa. Semakin lama jarak merekapun semakin pendek pula, sehingga Arya Gading percaya, bahwa ia pasti akan dapat menangkap orang itu. Tetapi kemudian ia menjadi kecewa, ketika ia tinggal meloncat saja beberapa langkah, orang yang dikejarnya itu tiba-tiba merunduk dan seolah-olah lenyap diantara batu-batu di lorong goa itu. Beberapa saat Arya Gading berdiri termangu-mangu. Namun ia tidak mau kehilangan waktu. Segera ia berjongkok dan mendengarkan setiap desir di dalam goa itu, kalau-kalau lawannya telah memancingnya, dan kemudian membinasakannya pada saat ia merangkak masuk.
Tetapi kemudian Arya Gading mendengar suara terbatuk-batuk. Tanpa membuang waktu Arya Gading perlahan-lahan berjalan sambil memperhatikan setiap suara yang didengarnya. Sekali lagi ia mendengar suara lawannya terbatuk-batuk. Dan karena itulah ia dapat mengenal arahnya. Dengan hati-hati Arya Gading menyusur dinding goa mendekati arah suara itu. Dan karena ketajaman telinganya, akhirnya Arya Gading menjadi semakin dekat. Tetapi agaknya orang itupun bergerak pula semakin lama semakin dalam dan melewati berpuluh-puluh cabang yang membingungkan. Namun Arya Gading telah bertekad untuk mengikuti orang itu sampai ditangkapnya.
Dada Arya Gading menjadi semakin bergelora ketika nama gurunya disebut-sebut, sehingga ia tak dapat menahan diri. Dengan meloncat ia berteriak, ”Baiklah kita lihat, siapakah sebenarnya murid Ki Ageng Pandan Arum”
Agaknya orang itu telah bersiaga pula. Ketika serangan Arya Gading tiba, segera ia mengelakkan diri. Bahkan dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya, orang itu pun telah membalas menyerang. Sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang sengit. Pertempuran antara dua orang yang memiliki perawakan dan wajah yang sangat mirip. Yang memusingkan kepala Arya Gading adalah orang itu dapat bergerak dan mempergunakan ilmu dari perguruan Pandan Arum dengan sempurna. Bahkan dalam beberapa hal, orang itu memiliki kelebihan-kelebihan dari Arya Gading. Demikianlah kedua orang itu berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan kebenaran kata masing-masing.
Arya Gading yang bertubuh tidak terlalu besar namun tegap itu berjuang dengan tangguhnya seperti seekor banteng yang tak surut menghadapi segala macam bahaya, sedang lawannya pun berjuang seperti seekor banteng yang tak mengenal mundur. Sehingga perang tanding itu merupakan perang tanding yang dahsyat. Apalagi seolah-olah bagi kedua-duanya sudah saling dapat memperhitungkan gerakan-gerakan lawan. Dengan demikian yang terjadi seakan-akan hanyalah suatu adu kekuatan. Kalau dalam beberapa pertempuran mereka kadang-kadang berhasil menembus kelemahan lawan dengan jurus -jurus yang membingungkan, tetapi kali ini mereka sama sekali tidak dapat saling mencuri kesempatan. Sebab mereka seakan-akan mempunyai satu otak yang sama dan sudah tahu gerakan – gerakan dari lawannya masing –masing.
Namun bagaimanapun juga kedua orang itu adalah orang yang berbeda, sehingga dalam kenyataannya, mereka pun tidak sama seluruhnya. Lawan Arya Gading yang mengaku juga bernama Arya Gading itu ternyata memiliki kekuatan tubuh yang melampaui kekuatan tubuh Arya Gading, sehingga setelah mereka bertempur berputar-putar, akhirnya terasalah bahwa Arya Gading mulai terdesak. Hal ini terasa pula olehnya, sehingga dengan demikian ia menjadi gelisah. Apapun yang dilakukan, segala macam jurus yang pernah dipelajari, tidak dapat menolongnya, sebab orang itupun mampu melakukannya.
Beberapa saat kemudian di luar, di langit ujung barat, terpencarlah warna jingga dari matahari yang sudah mulai tergelincir dan mengintip dari balik punggung perbukitan. Perlahan-lahan terang siang mulai berangsur surut. Dalam pada itu kedua orang yang bertempur di dalam goa itu masih saja berjuang mati-matian.
Tiba –tiba lawan Arya Gading itu dengan gerakan yang cepat meloncat pergi. Sudah tentu Arya Gading tidak membiarkannya. Karena itu, maka segera Arya Gadingpun meloncat mengejar orang itu, yang ternyata masih dapat berlari cepat. Maka terjadilah kejar-mengejar di dalam lorong goa. Semakin lama jarak merekapun semakin pendek pula, sehingga Arya Gading percaya, bahwa ia pasti akan dapat menangkap orang itu. Tetapi kemudian ia menjadi kecewa, ketika ia tinggal meloncat saja beberapa langkah, orang yang dikejarnya itu tiba-tiba merunduk dan seolah-olah lenyap diantara batu-batu di lorong goa itu. Beberapa saat Arya Gading berdiri termangu-mangu. Namun ia tidak mau kehilangan waktu. Segera ia berjongkok dan mendengarkan setiap desir di dalam goa itu, kalau-kalau lawannya telah memancingnya, dan kemudian membinasakannya pada saat ia merangkak masuk.
Tetapi kemudian Arya Gading mendengar suara terbatuk-batuk. Tanpa membuang waktu Arya Gading perlahan-lahan berjalan sambil memperhatikan setiap suara yang didengarnya. Sekali lagi ia mendengar suara lawannya terbatuk-batuk. Dan karena itulah ia dapat mengenal arahnya. Dengan hati-hati Arya Gading menyusur dinding goa mendekati arah suara itu. Dan karena ketajaman telinganya, akhirnya Arya Gading menjadi semakin dekat. Tetapi agaknya orang itupun bergerak pula semakin lama semakin dalam dan melewati berpuluh-puluh cabang yang membingungkan. Namun Arya Gading telah bertekad untuk mengikuti orang itu sampai ditangkapnya.
Quote:
BEBERAPA LANGKAH kemudian, tiba-tiba Arya Gading tertegun. Ia sampai pada suatu ruangan yang agak lebar dan tidak terlalu gelap. Sekarang ia sama sekali tidak lagi mendengar suara apapun. Juga suara batuk-batuk orang yang dikejarnya itupun telah lenyap.
Karena itulah maka Arya Gading menjadi marah kembali. Dengan saksama ditelitinya dinding ruangan itu kalau-kalau ada yang mencurigakan.
Tetapi selain pintu masuk yang dilewatinya tadi, sama sekali tak diketemukannya lubang yang lain. Dengan demikian ia menduga bahwa orang yang dicarinya masih berada di dalam ruangan itu pula. Maka sekali lagi Arya Gading meneliti setiap relung ruang itu dengan lebih saksama lagi, sambil tetap mengawasi satu-satunya lobang masuk ke dalam ruang itu.
Dan dugaannya ternyata benar. Ia terkejut sampai terlonjak ketika di belakangnya terdengar suara tertawa yang lunak perlahan. Cepat-cepat ia memutar diri dan bersiaga. Benarlah bahwa yang berdiri di hadapannya, di samping sebuah batu yang besar, adalah orang yang dicari-carinya.
“Kau tak akan dapat melepaskan diri,” kata Arya Gading.
Orang itu tidak menjawab. Ia maju beberapa langkah mendekati Arya Gading. Langkahnya tetap, tegap dan cekatan. Karena itu maka Arya Gading terkejut karenanya. Kalau demikian, maka orang itu seperti tidak berkurang tenaganya sedikitpun. Setelah bertarung dan berlari-larian di sepanjang lorong goa itu. Sementara dirinya sendiri merasa tenaganya seperti habis terkuras.
Orang itu berhenti beberapa langkah di hadapannya dalam keremangan. Terdengarlah kembali ia tertawa perlahan. Kemudian katanya, “Kau masih muda namun tenagamu layaknya seorang perawan. Apakah masih layak kalau kau menyebutmu murid dari Ki Ageng Pandan Arum ?”
Mendengar ejekan itu darah Arya Gading menggelegak sampai ke kepala. Ia tidak dapat lagi mengendalikan perasaannya. Karena itu sekali lagi ia meloncat menyerang dengan sengitnya. Kembali terjadi sebuah pertarungan yang hebat. Dua kekuatan yang tangguh saling berjuang untuk mempertahankan nama masing-masing. Tetapi beberapa saat kemudian Arya Gading menjadi gelisah kembali. Orang itu sama sekali tidak pernah kehabisan tenaga. Tandang grayangnya masih tetap gesit dan cekatan.
Hingga pada akhirnya, orang yang mengaku sebagai Arya Gading itu meloncat sembari menjejakkan tumitnya ke arah tengkuk Arya Gading. Pemuda itu yang sudah sangat keletihan tidak mampu berbuat banyak apalagi menghindari serangan yang sangat cepat itu. Arya Gading merasakan seolah-olah berpuluh-puluh petir meledak bersama-sama di hadapan wajahnya. Udara yang panas yang jauh lebih panas dari api, terasa memercik membakar seluruh tubuhnya. Setelah itu, pemandangannya menjadi kuning berputar-putar, semakin lama semakin gelap. Akhirnya tanah tempatnya berpijak seolah-olah berguguran jatuh ke dalam jurang yang dalamnya tak terhingga. Sesudah itu tak satupun yang diingatnya.
Ia tidak tahu, berapa lama ia pingsan.
Yang mula-mula terasa olehnya adalah tetesan-tetesan air yang membasahi wajahnya. Perlahan-lahan Arya Gading mencoba membuka matanya. Mula-mula pemandangan di sekitarnya masih tampak hitam melulu. Tetapi lambat laun, tampaklah samar-samar cahaya matahari yang menembus lubang-lubang diatas ruangan itu, semakin lama semakin terang. Sejalan dengan perkembangan kesadarannya. Kemudian, ketika pikirannya sudah semakin terang, terasalah bahwa seluruh tubuhnya basah kuyup. Agaknya seseorang telah menyiramkan air untuk membangunkannya.
Perlahan-lahan Arya Gading berusaha untuk mengingat-ingat apa yang terjadi. Ketika segala sesuatunya menjadi semakin jelas, maka segera ia berusaha untuk bangkit. Tetapi agaknya tubuhnya serasa dicopoti segala tulang-tulangnya. Karena itu ketika ia mencoba mengangkat kepalanya, kembali ia jatuh terbaring. Darahnya serasa menguap ketika ia mendengar di sampingnya suara tertawa lunak perlahan. Segera ia mengenal, siapakah orang itu. Namun bagaimanapun juga ia sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa.
“Ki sanak…” Terdengar orang itu berkata. “Jangan mencoba-coba menjadi rangkapan Arya Gading, murid Ki Ageng Pandan Arum. Meskipun tiruan itu sudah kau lakukan dengan saksama, namun kalau kebetulan kau bertemu dengan orangnya, seperti sekarang ini, segera akan dapat dikenal kepalsuanmu. Meskipun demikian aku menjadi heran pula bahwa apa yang kau lakukan sudah hampir dapat menyamai apa yang aku lakukan”
Mendengar ucapan-ucapan itu telinga Arya Gading rasanya menjadi terbakar. Ia menggeram beberapa kali, namun ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Ia hanya dapat menggerakkan kepalanya dan melihat orang yang mengaku bernama Arya Gading itu duduk dengan enaknya di atas sebuah batu padas, disampingnya.
Beberapa saat kemudian orang itu kembali berkata, “Aku tidak sabar menunggui orang tidur terlalu lama, karena itu aku menyirammu dengan air. Ternyata kau terbangun karenanya.”
Arya Gading ingin berteriak memaki-maki. Namun suaranya tersumbat di kerongkongan. Yang terdengar hanyalah sebuah desis kemarahan.
“Bagaimanapun juga, aku hormati ketebalan tekadmu”, sambung orang itu, “Dalam keadaan yang demikian kau masih tetap pada pendirianmu. Karena itulah aku belum membunuhmu. Sebab aku ingin mengetahui siapakah orang yang telah berkeras hati mengaku bernama Arya Gading.”
Sekali lagi Arya Gading menggeram. Perlahan-lahan, ia mencoba menjawab, “Jangan kau takut-takuti aku dengan kematian, sebab kematian bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti.”
“Bagus…!” Tiba-tiba orang itu meloncat berdiri. “Kau sendiri yang mengatakan. Jangan salahkan aku kalau aku membunuhmu sekarang.”
Arya Gading bukan seorang penakut. Apapun yang akan terjadi atasnya bukanlah suatu hal yang perlu dicemaskan. Meskipun demikian ia menjadi gelisah ketika teringat bibi nya yang mungkin sekarang ini sangat cemas menunggu kehadirannya. Sekali lagi terdengar suara tertawa. Lunak dan hanya perlahan-lahan.
Sesudah itu, orang yang menamakan diri Arya Gading itu melangkah justru menjauhi Arya Gading. Katanya kemudian setelah ia sampai ke mulut ruang itu, “Aku tidak mau mengotori tanganku dengan membunuh orang semacam kau. Biarlah alam membunuhmu. Kau tidak akan dapat keluar dari ruangan ini sampai ajalmu tiba.”
Setelah itu orang yang menamakan diri Arya Gading itu segera meloncat keluar dan terdengarlah suara berguguran. Beberapa batu besar jatuh tertimbun menutupi lubang ruangan itu. Bersamaan dengan itu, berguguran pulalah rasanya isi dada Arya Gading. Ia ditinggalkan dalam ruangan tertutup dalam keadaan yang demikian. Karena itulah dirasanya seluruh tubuhnya mendidih. Seluruh isi rongga dadanya menggelegak seperti akan meledak. Terasa betapa darahnya mengalir cepat dua kali lipat. Tetapi karena itu pulalah terasa kekuatannya timbul kembali oleh dorongan perasaan yang meluap-luap.
Dengan demikian maka sedikit demi sedikit Arya Gading mulai dapat menggerakkan tubuhnya, sehingga beberapa saat kemudian ia telah mampu untuk mengangkat tubuhnya dan duduk tegak. Arya Gading kemudian menjadi gelisah karenanya. Ia tidak mau menyerah pada keadaan. Ia tidak mau membiarkan dirinya mati kelaparan di dalam goa itu tanpa perlawanan. Maka dengan segenap tenaga yang ada ia pun berdiri dan dengan terhuyung-huyung berjalan sekeliling ruangan itu berpegangan dinding. Dua tiga langkah ia masih terus beristirahat, sebab kepalanya masih terasa pening dan berputar -putar disamping pertanyaan yang selalu memukul-mukul kepalanya. Siapakah gerangan orang yang sangat mirip dengannya itu dan telah mengaku bernama Arya Gading itu?
Karena itulah maka Arya Gading menjadi marah kembali. Dengan saksama ditelitinya dinding ruangan itu kalau-kalau ada yang mencurigakan.
Tetapi selain pintu masuk yang dilewatinya tadi, sama sekali tak diketemukannya lubang yang lain. Dengan demikian ia menduga bahwa orang yang dicarinya masih berada di dalam ruangan itu pula. Maka sekali lagi Arya Gading meneliti setiap relung ruang itu dengan lebih saksama lagi, sambil tetap mengawasi satu-satunya lobang masuk ke dalam ruang itu.
Dan dugaannya ternyata benar. Ia terkejut sampai terlonjak ketika di belakangnya terdengar suara tertawa yang lunak perlahan. Cepat-cepat ia memutar diri dan bersiaga. Benarlah bahwa yang berdiri di hadapannya, di samping sebuah batu yang besar, adalah orang yang dicari-carinya.
“Kau tak akan dapat melepaskan diri,” kata Arya Gading.
Orang itu tidak menjawab. Ia maju beberapa langkah mendekati Arya Gading. Langkahnya tetap, tegap dan cekatan. Karena itu maka Arya Gading terkejut karenanya. Kalau demikian, maka orang itu seperti tidak berkurang tenaganya sedikitpun. Setelah bertarung dan berlari-larian di sepanjang lorong goa itu. Sementara dirinya sendiri merasa tenaganya seperti habis terkuras.
Orang itu berhenti beberapa langkah di hadapannya dalam keremangan. Terdengarlah kembali ia tertawa perlahan. Kemudian katanya, “Kau masih muda namun tenagamu layaknya seorang perawan. Apakah masih layak kalau kau menyebutmu murid dari Ki Ageng Pandan Arum ?”
Mendengar ejekan itu darah Arya Gading menggelegak sampai ke kepala. Ia tidak dapat lagi mengendalikan perasaannya. Karena itu sekali lagi ia meloncat menyerang dengan sengitnya. Kembali terjadi sebuah pertarungan yang hebat. Dua kekuatan yang tangguh saling berjuang untuk mempertahankan nama masing-masing. Tetapi beberapa saat kemudian Arya Gading menjadi gelisah kembali. Orang itu sama sekali tidak pernah kehabisan tenaga. Tandang grayangnya masih tetap gesit dan cekatan.
Hingga pada akhirnya, orang yang mengaku sebagai Arya Gading itu meloncat sembari menjejakkan tumitnya ke arah tengkuk Arya Gading. Pemuda itu yang sudah sangat keletihan tidak mampu berbuat banyak apalagi menghindari serangan yang sangat cepat itu. Arya Gading merasakan seolah-olah berpuluh-puluh petir meledak bersama-sama di hadapan wajahnya. Udara yang panas yang jauh lebih panas dari api, terasa memercik membakar seluruh tubuhnya. Setelah itu, pemandangannya menjadi kuning berputar-putar, semakin lama semakin gelap. Akhirnya tanah tempatnya berpijak seolah-olah berguguran jatuh ke dalam jurang yang dalamnya tak terhingga. Sesudah itu tak satupun yang diingatnya.
Ia tidak tahu, berapa lama ia pingsan.
Yang mula-mula terasa olehnya adalah tetesan-tetesan air yang membasahi wajahnya. Perlahan-lahan Arya Gading mencoba membuka matanya. Mula-mula pemandangan di sekitarnya masih tampak hitam melulu. Tetapi lambat laun, tampaklah samar-samar cahaya matahari yang menembus lubang-lubang diatas ruangan itu, semakin lama semakin terang. Sejalan dengan perkembangan kesadarannya. Kemudian, ketika pikirannya sudah semakin terang, terasalah bahwa seluruh tubuhnya basah kuyup. Agaknya seseorang telah menyiramkan air untuk membangunkannya.
Perlahan-lahan Arya Gading berusaha untuk mengingat-ingat apa yang terjadi. Ketika segala sesuatunya menjadi semakin jelas, maka segera ia berusaha untuk bangkit. Tetapi agaknya tubuhnya serasa dicopoti segala tulang-tulangnya. Karena itu ketika ia mencoba mengangkat kepalanya, kembali ia jatuh terbaring. Darahnya serasa menguap ketika ia mendengar di sampingnya suara tertawa lunak perlahan. Segera ia mengenal, siapakah orang itu. Namun bagaimanapun juga ia sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa.
“Ki sanak…” Terdengar orang itu berkata. “Jangan mencoba-coba menjadi rangkapan Arya Gading, murid Ki Ageng Pandan Arum. Meskipun tiruan itu sudah kau lakukan dengan saksama, namun kalau kebetulan kau bertemu dengan orangnya, seperti sekarang ini, segera akan dapat dikenal kepalsuanmu. Meskipun demikian aku menjadi heran pula bahwa apa yang kau lakukan sudah hampir dapat menyamai apa yang aku lakukan”
Mendengar ucapan-ucapan itu telinga Arya Gading rasanya menjadi terbakar. Ia menggeram beberapa kali, namun ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Ia hanya dapat menggerakkan kepalanya dan melihat orang yang mengaku bernama Arya Gading itu duduk dengan enaknya di atas sebuah batu padas, disampingnya.
Beberapa saat kemudian orang itu kembali berkata, “Aku tidak sabar menunggui orang tidur terlalu lama, karena itu aku menyirammu dengan air. Ternyata kau terbangun karenanya.”
Arya Gading ingin berteriak memaki-maki. Namun suaranya tersumbat di kerongkongan. Yang terdengar hanyalah sebuah desis kemarahan.
“Bagaimanapun juga, aku hormati ketebalan tekadmu”, sambung orang itu, “Dalam keadaan yang demikian kau masih tetap pada pendirianmu. Karena itulah aku belum membunuhmu. Sebab aku ingin mengetahui siapakah orang yang telah berkeras hati mengaku bernama Arya Gading.”
Sekali lagi Arya Gading menggeram. Perlahan-lahan, ia mencoba menjawab, “Jangan kau takut-takuti aku dengan kematian, sebab kematian bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti.”
“Bagus…!” Tiba-tiba orang itu meloncat berdiri. “Kau sendiri yang mengatakan. Jangan salahkan aku kalau aku membunuhmu sekarang.”
Arya Gading bukan seorang penakut. Apapun yang akan terjadi atasnya bukanlah suatu hal yang perlu dicemaskan. Meskipun demikian ia menjadi gelisah ketika teringat bibi nya yang mungkin sekarang ini sangat cemas menunggu kehadirannya. Sekali lagi terdengar suara tertawa. Lunak dan hanya perlahan-lahan.
Sesudah itu, orang yang menamakan diri Arya Gading itu melangkah justru menjauhi Arya Gading. Katanya kemudian setelah ia sampai ke mulut ruang itu, “Aku tidak mau mengotori tanganku dengan membunuh orang semacam kau. Biarlah alam membunuhmu. Kau tidak akan dapat keluar dari ruangan ini sampai ajalmu tiba.”
Setelah itu orang yang menamakan diri Arya Gading itu segera meloncat keluar dan terdengarlah suara berguguran. Beberapa batu besar jatuh tertimbun menutupi lubang ruangan itu. Bersamaan dengan itu, berguguran pulalah rasanya isi dada Arya Gading. Ia ditinggalkan dalam ruangan tertutup dalam keadaan yang demikian. Karena itulah dirasanya seluruh tubuhnya mendidih. Seluruh isi rongga dadanya menggelegak seperti akan meledak. Terasa betapa darahnya mengalir cepat dua kali lipat. Tetapi karena itu pulalah terasa kekuatannya timbul kembali oleh dorongan perasaan yang meluap-luap.
Dengan demikian maka sedikit demi sedikit Arya Gading mulai dapat menggerakkan tubuhnya, sehingga beberapa saat kemudian ia telah mampu untuk mengangkat tubuhnya dan duduk tegak. Arya Gading kemudian menjadi gelisah karenanya. Ia tidak mau menyerah pada keadaan. Ia tidak mau membiarkan dirinya mati kelaparan di dalam goa itu tanpa perlawanan. Maka dengan segenap tenaga yang ada ia pun berdiri dan dengan terhuyung-huyung berjalan sekeliling ruangan itu berpegangan dinding. Dua tiga langkah ia masih terus beristirahat, sebab kepalanya masih terasa pening dan berputar -putar disamping pertanyaan yang selalu memukul-mukul kepalanya. Siapakah gerangan orang yang sangat mirip dengannya itu dan telah mengaku bernama Arya Gading itu?
Diubah oleh breaking182 17-09-2022 00:00
ashrose dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas