- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.8K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#348
gatra 3
Quote:
KETIKA ITU di langit bertaburan jutaan bintang yang berkedip-kedip dengan cemerlangnya. Angin pegunungan yang silir, perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang tengah duduk melingkar di halaman. Ketiga orang itu Arya Gading, Ki Pameling dan seorang lelaki tua yang bernama Ki Suba Seta. Di depan mereka bertiga terlihat api unggun yang masih menyala.
Tiba-tiba terdengarlah suara ramah Ki Pameling, “Adi Suba Seta, inilah kemanakanku yang baru datang kemarin siang.”
Ki Pameling sedang bercakap-cakap dengan Ki Suba Seta, seorang yang bertubuh agak kekurus-kurusan. Dan seperti kebiasaan para petani, wajahnya memancarkan isi dadanya dengan terbuka. Orang yang dipanggil Suba Seta itu kemudian tertawa. Tertawanya terdengar seperti suara air yang memancar dari mata airnya. Bersih dan tanpa maksud-maksud yang tidak wajar.
“Kemenakanmu tampak begitu tampan dan gagah, Kakang Pameling, aku jadi agak heran,” katanya dengan jujur.
Ki Pameling tersenyum lebar, jawabnya, “Aku tidak tahu, bagaimana aku dapat mempunyai kemenakan segagah dia”
Kemudian kedua orang itu sama-sama tertawa. Mau tidak mau Arya Gading berusaha untuk tertawa pula, serta mengangguk hormat kepada mereka.
“Arya Gading…,” kata Pameling, yang memanggilnya tanpa sebutan seperti lazimnya orang memanggil kemenakannya. “Inilah pamanmu Suba Seta. Ia termasuk salah seorang cikal bakal kampung ini sesudah aku. Sebab akulah yang tertua yang datang di sini, kemudian beberapa orang berturut-turut ikut serta menebas hutan dan membangun perkampungan kita ini. Bukan begitu Suba Seta?”
Suba Seta tertawa kembali. Jawabnya, “Pasti aku harus membenarkan katamu. Sebab tak seorang pun yang akan menyangkal bahwa kaulah yang datang pertama kali di daerah ini.”
Mendengar jawaban kawannya itu, kembali bibir-bibir tebal di bawah hidung Ki Pameling yang besar itu bergerak-gerak dan tersenyum lebar. Setelah berbincang –bincang cukup lama. Ki Suba Seta lantas pamit diri.
“ Kakang Pameling, malam sudah semakin larut sebentar lagi mungkin pagi. Aku pamit dulu, aku harus mengairi sawahku nanti. Kali ini giliran pengairan di sawahku pagi –pagi sekali”
Ki Pameling lantas menganggukan kepalanya, “ Baiklah adi, hati –hati lah di jalan. Biasanya ada celeng yang suka berkeliaran di bulak itu “
“ Iya kakang “
Ki Suba Seta lantas berdiri dan berjalan ke luar halaman kediaman Ki Pameling. Kerpergian orang tua itu diiringi oleh pandangan mata Arya Gading. Sampai tubuh lelaki tua itu lenyak di telan kegelapan malam.
“ Maaf Ki, bolehkah saya ingin bertanya sesuatu hal? “
“ Ada apa Gading? Katakanlah”
Arya Gading lalu menceritakan perihal dirinya yang terjatuh di depan sebuah mulut goa. Dan seingatnya tempat itu sangat jauh dari pemukiman karena disekelilingnya hanya ada semak belukar dan pepohonan yang lebat. Tetapi mengapa tiba –tiba ketika ia sadar sudah berada di dalam sebuah bilik. Mendengar hal itu Ki Pameling tersenyum.
“ Tentu aku tidak akan kuat untuk mengangkat mu sendirian ngger. Pada saat itu aku mengangkat tubuh mu dengan beberapa orang menggunakan bambu yang aku buat sebagai tandu darurat. Pada saat itu aku mengira kau telah mati ternyata kau masih hidup. Apakah kau jatuh dari atas bukit itu ngger? ”
Arya Gading menarik nafas panjang. Ia teringat dengan kejadian di atas bukit itu. Pertempurannya dengan Bagus Abangn dan Paraji Gading. Teringat juga dengan orang –orang Pasanggaran yang tentu saat ini telah bersusah payah untuk mencari keberadaannya. Terlebih lagi teringat bibi, satu –satu nya keluarga tersisa di Pasanggaran. Hati kecilnya bertanya –tanya, “ Kakang Sukmo Aji dimana? Apakah tugas –tugasnya sebagai prajurit di Pajang tidak ada waktu luang sekedar untuk menengoknya. Apakah kau sudah lupa pada adik satu – satunya ini? “
Lamunannya buyar, manakala Ki Pameling menyentuh tangannya.
“ Ngger…kau belum jawab pertanyaan ku ?”
“ Maaf Ki, saya tiba –tiba teringat dengan keluarga saya”
“ Sebenarnya kejadian di atas bukit itu juga kesalahan saya sendiri tidak mampu untuk menahan hawa nafsu. Mata hati saya buta dan hanya menuruti dendam serta amarah. Masih untung saya masih hidup sampai saat ini”
“ Apa yang sebenarnya terjadi Ngger? “
Lantas Arya Gading menceritakan semua yang terjadi di Pasanggaran. Tentang Ki Ageng Pandan Arum, Paraji Gading dan Bagus Abangan. Pada saat Arya Gading menyebut nama Pandan Arum, air muka Ki Pameling sesaat berubah. Namun, lelaki tua itu dengan cepat segera menguasai keadaan. Sehingga Arya Gading tidak melihat perubahan di wajah Ki Pameling.
“ Tentu keluarga mu di Pasanggaran atau padepokan Pandan Arum saat ini sangat mengkhawatirkan mu Ngger. Ada baiknya kalau kau sudah kuat untuk berjalan jauh segeralah pulang. Karena untuk keluar dari padukuhan ini kau harus mendaki perbukitan batu yang sangat terjal dan curam itu. Aku tidak sampai hati kalau sampai kau memanjatnya. Ada jalan yang lebih baik dan landai. Hanya saja akan lebih lama sampai di Pasanggaran “
“ Baik Ki, tapi saya ingin disini barang satu sampai dua hari. Saya lihat banyak kayu bakar yang belum di potong. Saya akan bantu Ki Pameling untuk memotong kayu bakar itu “
Ki Pameling terkekeh, “ Kau tidak perlu membayar budi karena aku telah menolong mu Ngger. Aku melakukannya dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan apaun dari diri mu”
“ Saya sudah terlalu lama terbaring dan hanya duduk –duduk Ki. Badan ini rasanya kaku dan lesu dengan bergerak memotong kayu tentu badan saya akan terasa bugar”
“ Baiklah, kalau itu menjadi keinginan mu. Sekarang ada baiknya kita istirahat dulu. Kembalilah ke bilik mu. Aku juga akan sebentar rebahan. Punggung dan pinggang ini rasanya mau patah “
Ki Pameling diikuti oleh Arya Gading lantas masuk ke dalam pondok. Lantas keduanya masuk ke biliknya masing –masing.
Tiba-tiba terdengarlah suara ramah Ki Pameling, “Adi Suba Seta, inilah kemanakanku yang baru datang kemarin siang.”
Ki Pameling sedang bercakap-cakap dengan Ki Suba Seta, seorang yang bertubuh agak kekurus-kurusan. Dan seperti kebiasaan para petani, wajahnya memancarkan isi dadanya dengan terbuka. Orang yang dipanggil Suba Seta itu kemudian tertawa. Tertawanya terdengar seperti suara air yang memancar dari mata airnya. Bersih dan tanpa maksud-maksud yang tidak wajar.
“Kemenakanmu tampak begitu tampan dan gagah, Kakang Pameling, aku jadi agak heran,” katanya dengan jujur.
Ki Pameling tersenyum lebar, jawabnya, “Aku tidak tahu, bagaimana aku dapat mempunyai kemenakan segagah dia”
Kemudian kedua orang itu sama-sama tertawa. Mau tidak mau Arya Gading berusaha untuk tertawa pula, serta mengangguk hormat kepada mereka.
“Arya Gading…,” kata Pameling, yang memanggilnya tanpa sebutan seperti lazimnya orang memanggil kemenakannya. “Inilah pamanmu Suba Seta. Ia termasuk salah seorang cikal bakal kampung ini sesudah aku. Sebab akulah yang tertua yang datang di sini, kemudian beberapa orang berturut-turut ikut serta menebas hutan dan membangun perkampungan kita ini. Bukan begitu Suba Seta?”
Suba Seta tertawa kembali. Jawabnya, “Pasti aku harus membenarkan katamu. Sebab tak seorang pun yang akan menyangkal bahwa kaulah yang datang pertama kali di daerah ini.”
Mendengar jawaban kawannya itu, kembali bibir-bibir tebal di bawah hidung Ki Pameling yang besar itu bergerak-gerak dan tersenyum lebar. Setelah berbincang –bincang cukup lama. Ki Suba Seta lantas pamit diri.
“ Kakang Pameling, malam sudah semakin larut sebentar lagi mungkin pagi. Aku pamit dulu, aku harus mengairi sawahku nanti. Kali ini giliran pengairan di sawahku pagi –pagi sekali”
Ki Pameling lantas menganggukan kepalanya, “ Baiklah adi, hati –hati lah di jalan. Biasanya ada celeng yang suka berkeliaran di bulak itu “
“ Iya kakang “
Ki Suba Seta lantas berdiri dan berjalan ke luar halaman kediaman Ki Pameling. Kerpergian orang tua itu diiringi oleh pandangan mata Arya Gading. Sampai tubuh lelaki tua itu lenyak di telan kegelapan malam.
“ Maaf Ki, bolehkah saya ingin bertanya sesuatu hal? “
“ Ada apa Gading? Katakanlah”
Arya Gading lalu menceritakan perihal dirinya yang terjatuh di depan sebuah mulut goa. Dan seingatnya tempat itu sangat jauh dari pemukiman karena disekelilingnya hanya ada semak belukar dan pepohonan yang lebat. Tetapi mengapa tiba –tiba ketika ia sadar sudah berada di dalam sebuah bilik. Mendengar hal itu Ki Pameling tersenyum.
“ Tentu aku tidak akan kuat untuk mengangkat mu sendirian ngger. Pada saat itu aku mengangkat tubuh mu dengan beberapa orang menggunakan bambu yang aku buat sebagai tandu darurat. Pada saat itu aku mengira kau telah mati ternyata kau masih hidup. Apakah kau jatuh dari atas bukit itu ngger? ”
Arya Gading menarik nafas panjang. Ia teringat dengan kejadian di atas bukit itu. Pertempurannya dengan Bagus Abangn dan Paraji Gading. Teringat juga dengan orang –orang Pasanggaran yang tentu saat ini telah bersusah payah untuk mencari keberadaannya. Terlebih lagi teringat bibi, satu –satu nya keluarga tersisa di Pasanggaran. Hati kecilnya bertanya –tanya, “ Kakang Sukmo Aji dimana? Apakah tugas –tugasnya sebagai prajurit di Pajang tidak ada waktu luang sekedar untuk menengoknya. Apakah kau sudah lupa pada adik satu – satunya ini? “
Lamunannya buyar, manakala Ki Pameling menyentuh tangannya.
“ Ngger…kau belum jawab pertanyaan ku ?”
“ Maaf Ki, saya tiba –tiba teringat dengan keluarga saya”
“ Sebenarnya kejadian di atas bukit itu juga kesalahan saya sendiri tidak mampu untuk menahan hawa nafsu. Mata hati saya buta dan hanya menuruti dendam serta amarah. Masih untung saya masih hidup sampai saat ini”
“ Apa yang sebenarnya terjadi Ngger? “
Lantas Arya Gading menceritakan semua yang terjadi di Pasanggaran. Tentang Ki Ageng Pandan Arum, Paraji Gading dan Bagus Abangan. Pada saat Arya Gading menyebut nama Pandan Arum, air muka Ki Pameling sesaat berubah. Namun, lelaki tua itu dengan cepat segera menguasai keadaan. Sehingga Arya Gading tidak melihat perubahan di wajah Ki Pameling.
“ Tentu keluarga mu di Pasanggaran atau padepokan Pandan Arum saat ini sangat mengkhawatirkan mu Ngger. Ada baiknya kalau kau sudah kuat untuk berjalan jauh segeralah pulang. Karena untuk keluar dari padukuhan ini kau harus mendaki perbukitan batu yang sangat terjal dan curam itu. Aku tidak sampai hati kalau sampai kau memanjatnya. Ada jalan yang lebih baik dan landai. Hanya saja akan lebih lama sampai di Pasanggaran “
“ Baik Ki, tapi saya ingin disini barang satu sampai dua hari. Saya lihat banyak kayu bakar yang belum di potong. Saya akan bantu Ki Pameling untuk memotong kayu bakar itu “
Ki Pameling terkekeh, “ Kau tidak perlu membayar budi karena aku telah menolong mu Ngger. Aku melakukannya dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan apaun dari diri mu”
“ Saya sudah terlalu lama terbaring dan hanya duduk –duduk Ki. Badan ini rasanya kaku dan lesu dengan bergerak memotong kayu tentu badan saya akan terasa bugar”
“ Baiklah, kalau itu menjadi keinginan mu. Sekarang ada baiknya kita istirahat dulu. Kembalilah ke bilik mu. Aku juga akan sebentar rebahan. Punggung dan pinggang ini rasanya mau patah “
Ki Pameling diikuti oleh Arya Gading lantas masuk ke dalam pondok. Lantas keduanya masuk ke biliknya masing –masing.
Quote:
PAGI ITU ARYA GADING merasakan badannya berangsur baik dan segar. Tangan kanan yang tempo hari patah kini sudah tidak terasa nyeri lagi. Sesudah duduk bersila mengatur jalan pernafasnya maka dia turun dari balai-balai. Di atas meja reyot di sudut pondok ada sebuah kendi berisi air putih. Di teguknya air ini beberapa kali. Terasa dingin dan segar. Di halaman terdengar lamat –lamat Ki Pameling tengah menyapu menggunakan sapu lidi.
Bergegas Arya Gading segera berjalan menuju ke pekiwan untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan mengisi air di jambangan Arya Gading lantas menuju ke halaman samping dari pondok kayu itu. Diambilnya sebuah parang yang terselip di tembok dari papan payu dengan sigap kayu bakar yang tadi masih berbentuk besar kini telah menjadi sebilah –bilah kecil.
Dari balik pintu Ki Pameling mengawasi pemuda itu, “ Anak itu memang baik dan rajin. Aku juga sangat yakin kalau anak itu juga memiliki budi yang luhur. Kakang Pandan Arum memang tidak pernah salah memilih orang”
“ Aku jadi penasaran dengan anak ini”
Perlahan Ki Pameling menghampiri Arya Gading yang masih memotong kayu bakar dengan sebilah parang. Di tangan orang tua itu tampak membawa sebuah kendi berisi air. Orang tua itu lantas duduk tidak jauh dari Arya Gading. Duduk di atas sebuah batang pohon yang telah dibuat sedemkian rupa sehingga membentuk sebuah tempat duduk yang sangat sederhana.
“ Istirahatlah dulu ngger. Lihatlah keringat mu telah bercucuran. Apalagi tubuh mu belum begitu pulih sepenuhnya. Janganlah dipaksakan masih ada nanti atau besok. Ini minumlah dulu “
Arya Gading lantas menghentikan pekerjaannya, disekanya keringat yang mengucur di kening dengan punggung tangan. Diletakkannya parang tadi di tanah. Lantas pemuda itu ikut duduk disamping Ki Pameling.
“ Apakah besok kau sudah bulat untuk pulang ke Pasanggaran Ngger? “
“ Iya Ki, saya tidak mau saudara –saudara saya di Pasanggaran cemas memikirkan saya. Sudah lebih dari sepekan saya ada di rumah Ki Pameling. Keadaan tubuh saya juga sudah semakin baik dan kuat. Saya rasa untuk berjalan ke Pasanggaran tidak akan menjadi soal “
“ Baiklah Ngger. Besok pagi –pagi benar kita mulai berangkat. Sekarang makan lah aku sudah memasak sayur lodeh. Sementara aku akan pergi ke sawah dulu “
“ Maaf Ki, apakah aki ingin ikut serta ke Pasanggaran? Tentu Ki Ageng akan senang bertemu dengan Ki Pameling “
Ki Pameling tersenyum, “ Aku tidak pergi ke Pasanggaran Ngger, aku ada keperluan di padukuhan seberang. Tidak ada salahnya kalau kita berangkat bersama –sama “
Tanpa menunggu jawaban Arya Gading, Ki Pameling segera beranjak dari tempat duduknya. Sebuah cangkul telah tersampir di bahunya yang sudah terlihat lemah.
Ketika itu di langit masih semburat warna merah di kejauhan. Beberapa bintang yang bertaburan pun sepertinya masih enggan untuk beranjak dari tahtanya. Angin pegunungan pagi yang silir dan dingin, perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang dengan sangat hati-hati mendaki tebing-tebing bukit kadang melandai kadang juga sedikit curam. Arya Gading dan Ki Pameling tidak melewati jalan-jalan yang biasa, tetapi mereka menempuh arah yang lain.
Sebenarnya Arya Gading sama sekali tak sampai hati melihat Ki Pameling, pada pagi buta yang gelap itu, tertatih-tatih dengan tongkatnya orang tua itu menuruni lambung bukit yang agak sulit itu. Namun kemauan orang itu sama sekali sudah tak dapat diubahnya. Bagi Arya Gading atau siapapun yang usianya masih muda, tebing itu sama sekali tak berarti apa-apa. Tetapi lainlah bagi Ki Pameling yang telah lanjut usia.
Karena itulah maka perjalanan mereka sangat perlahan-lahan. Seolah-olah mereka sama sekali tidak maju-maju dari satu titik. Kadang-kadang apabila tebing itu agak terlalu terjal, Arya Gading menolong Ki Pameling, supaya tidak jatuh terperosok. Meskipun demikian, ketika matahari sudah mulai menyembulkan wajahnya dari balik perbukitan, mereka berdua telah sampai dikaki bukit kecil itu. Nafas Ki Pameling terdengar agak terlalu cepat karena kelelahan.
Namun demikian sambil tersenyum ia berkata, ”Angger bukankah aku masih mempunyai tubuh yang kuat?”
Arya Gading tertawa lirih, lalu sahutnya, ”Kalau Ki Pameling masih semuda saya ini, barangkali aki jauh lebih kuat daripada saya.”
Mendengar jawaban Arya Gading, Ki Pameling tertawa terkekeh-kekeh, sehingga tubuhnya terguncang-guncang.
“ Ngger, kita berpisah disini. Kalau kau ada waktu luang atau kebetulan lewat daerah ini singgahlah ke pondokan ku”
Arya Gading menganggukan kepalanya, “ Iya Ki, saya sangat berterimakasih kepada aki atas pertolongannya. Kalau tidak ada aki tentu saya mungkin sudah mati dan dimakan binatang buang di dasar jurang itu”
“ Sudahlah ngger lupakan itu, kita berpisah disini. Di depan ada jalan cabang. Ambil arah ke kanan, ikuti saja jalan itu sampai kau temui sebuah pohon preh yang sangat besar. Dan ikuti saja jalan itu nanti kau akan sampai di desa Dadap. Berhati –hatilah Ngger "
Setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi. Akhirnya Arya Gading beranjak pergi diiringi oleh pandangan mata Ki Pameling. Hingga anak muda itu sudah tidak terlihat lagi. Tidak menunggu lama Ki Pameling pun segera pergi meninggalkan tempat itu.
Bergegas Arya Gading segera berjalan menuju ke pekiwan untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan mengisi air di jambangan Arya Gading lantas menuju ke halaman samping dari pondok kayu itu. Diambilnya sebuah parang yang terselip di tembok dari papan payu dengan sigap kayu bakar yang tadi masih berbentuk besar kini telah menjadi sebilah –bilah kecil.
Dari balik pintu Ki Pameling mengawasi pemuda itu, “ Anak itu memang baik dan rajin. Aku juga sangat yakin kalau anak itu juga memiliki budi yang luhur. Kakang Pandan Arum memang tidak pernah salah memilih orang”
“ Aku jadi penasaran dengan anak ini”
Perlahan Ki Pameling menghampiri Arya Gading yang masih memotong kayu bakar dengan sebilah parang. Di tangan orang tua itu tampak membawa sebuah kendi berisi air. Orang tua itu lantas duduk tidak jauh dari Arya Gading. Duduk di atas sebuah batang pohon yang telah dibuat sedemkian rupa sehingga membentuk sebuah tempat duduk yang sangat sederhana.
“ Istirahatlah dulu ngger. Lihatlah keringat mu telah bercucuran. Apalagi tubuh mu belum begitu pulih sepenuhnya. Janganlah dipaksakan masih ada nanti atau besok. Ini minumlah dulu “
Arya Gading lantas menghentikan pekerjaannya, disekanya keringat yang mengucur di kening dengan punggung tangan. Diletakkannya parang tadi di tanah. Lantas pemuda itu ikut duduk disamping Ki Pameling.
“ Apakah besok kau sudah bulat untuk pulang ke Pasanggaran Ngger? “
“ Iya Ki, saya tidak mau saudara –saudara saya di Pasanggaran cemas memikirkan saya. Sudah lebih dari sepekan saya ada di rumah Ki Pameling. Keadaan tubuh saya juga sudah semakin baik dan kuat. Saya rasa untuk berjalan ke Pasanggaran tidak akan menjadi soal “
“ Baiklah Ngger. Besok pagi –pagi benar kita mulai berangkat. Sekarang makan lah aku sudah memasak sayur lodeh. Sementara aku akan pergi ke sawah dulu “
“ Maaf Ki, apakah aki ingin ikut serta ke Pasanggaran? Tentu Ki Ageng akan senang bertemu dengan Ki Pameling “
Ki Pameling tersenyum, “ Aku tidak pergi ke Pasanggaran Ngger, aku ada keperluan di padukuhan seberang. Tidak ada salahnya kalau kita berangkat bersama –sama “
Tanpa menunggu jawaban Arya Gading, Ki Pameling segera beranjak dari tempat duduknya. Sebuah cangkul telah tersampir di bahunya yang sudah terlihat lemah.
Ketika itu di langit masih semburat warna merah di kejauhan. Beberapa bintang yang bertaburan pun sepertinya masih enggan untuk beranjak dari tahtanya. Angin pegunungan pagi yang silir dan dingin, perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang dengan sangat hati-hati mendaki tebing-tebing bukit kadang melandai kadang juga sedikit curam. Arya Gading dan Ki Pameling tidak melewati jalan-jalan yang biasa, tetapi mereka menempuh arah yang lain.
Sebenarnya Arya Gading sama sekali tak sampai hati melihat Ki Pameling, pada pagi buta yang gelap itu, tertatih-tatih dengan tongkatnya orang tua itu menuruni lambung bukit yang agak sulit itu. Namun kemauan orang itu sama sekali sudah tak dapat diubahnya. Bagi Arya Gading atau siapapun yang usianya masih muda, tebing itu sama sekali tak berarti apa-apa. Tetapi lainlah bagi Ki Pameling yang telah lanjut usia.
Karena itulah maka perjalanan mereka sangat perlahan-lahan. Seolah-olah mereka sama sekali tidak maju-maju dari satu titik. Kadang-kadang apabila tebing itu agak terlalu terjal, Arya Gading menolong Ki Pameling, supaya tidak jatuh terperosok. Meskipun demikian, ketika matahari sudah mulai menyembulkan wajahnya dari balik perbukitan, mereka berdua telah sampai dikaki bukit kecil itu. Nafas Ki Pameling terdengar agak terlalu cepat karena kelelahan.
Namun demikian sambil tersenyum ia berkata, ”Angger bukankah aku masih mempunyai tubuh yang kuat?”
Arya Gading tertawa lirih, lalu sahutnya, ”Kalau Ki Pameling masih semuda saya ini, barangkali aki jauh lebih kuat daripada saya.”
Mendengar jawaban Arya Gading, Ki Pameling tertawa terkekeh-kekeh, sehingga tubuhnya terguncang-guncang.
“ Ngger, kita berpisah disini. Kalau kau ada waktu luang atau kebetulan lewat daerah ini singgahlah ke pondokan ku”
Arya Gading menganggukan kepalanya, “ Iya Ki, saya sangat berterimakasih kepada aki atas pertolongannya. Kalau tidak ada aki tentu saya mungkin sudah mati dan dimakan binatang buang di dasar jurang itu”
“ Sudahlah ngger lupakan itu, kita berpisah disini. Di depan ada jalan cabang. Ambil arah ke kanan, ikuti saja jalan itu sampai kau temui sebuah pohon preh yang sangat besar. Dan ikuti saja jalan itu nanti kau akan sampai di desa Dadap. Berhati –hatilah Ngger "
Setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi. Akhirnya Arya Gading beranjak pergi diiringi oleh pandangan mata Ki Pameling. Hingga anak muda itu sudah tidak terlihat lagi. Tidak menunggu lama Ki Pameling pun segera pergi meninggalkan tempat itu.
Quote:
ARYA GADING BERJALAN sesuai yang dikatakan oleh Ki Pameling. Matahari semakin keluar dari peraduannya. Cahayanya menebar dan dipantulkan oleh embun –embun yang bergelayutan di ujung dedaunan. Suara burung semakin nyaring bersahut –sahutan. Arya Gading menghentikan langkah kakinya. Lamat-lamat ia mendengar gemerisik halus di sekitar tempat itu.
Dengan ketajaman pancainderanya Arya Gading mencoba untuk mengetahui sumber bunyi itu. Tetapi sebentar kemudian bunyi itu telah lenyap. Namun meskipun demikian Arya Gading menjadi bertambah berhati-hati.
“ Apakah ada macan yang sedang mengintai ku? Tempat ini bisa dikatakan sangat sepi. Sepanjang aku berjalan tidka satu pun kutemui manusia. Jangan –jangan aku tersesat. Tapi tidak mungkin, aku belum melihat pohon preh yang dimaksud oleh Ki Pameling”
Arya Gading lantas melanjutkan langkahnya ladi. Dan pada saat itulah bunyi itu terdengar lagi. Agak lebih dekat. Sekarang jelas bagi Arya Gading, bahwa bunyi itu bunyi langkah manusia. Karena itu ia semakin waspada. Tetapi kemudian suara itu lenyap kembali. Kemudian Arya Gading pun tidak mau berkisar dari tempatnya. Untuk beberapa lama ia bertahan di situ. Ia menunggu setiap kemungkinan yang dapat terjadi.
Dan apa yang ia tunggu-tunggu tiba-tiba muncullah. Di dalam bagian rumpun pepohonan yang gelap Arya Gading melihat sesosok tubuh berjalan perlahan-lahan sekali dan sangat hati-hati. Tetapi agaknya ia masih belum melihat Arya Gading yang berdiri melekat di sebatang pohon munggur yang sangat besar, meskipun barangkali orang itu telah mengikuti langkah Arya Gading, sebab ternyata orang itu berjalan mendekati pemuda itu.
Tetapi ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, agaknya orang itu dapat pula melihat Arya Gading. Cepat ia menghentikan langkahnya, dan tiba-tiba ia meloncat dan berlari menjauh. Arya Gading menjadi curiga. Karena segera ia menyusulnya. Namun orang itu berlari terus dengan cepat. Sulur –sulur dan akar pepohonan yang mencuat dari dalam tanah sepertinya tidak mampu untuk menghambat langkahnya yang ringan. Sedang Arya Gading tidak dapat berlari cepat. Selur pepohonan seperti sengaja menghalangi jalannya. Meskipun demikian langkah Arya Gading setidak-tidaknya dapat menyamai langkah orang yang dikejarnya, sehingga jarak mereka tidak menjadi semakin jauh.
Ketika orang itu sadar bahwa ia dikejar, maka ia pun mempercepat langkahnya. Belum sedemikian jauh ia berusaha untuk melenyapkan dirinya, masuk ke dalam sebuah lekukan batu. Tetapi ternyata bahwa lekuk itu hanya merupakan sebuah mulut saja dari cabang goa itu yang cukup dalam pula. Mula-mula Arya Gading agak ragu. Sekilas ia masih mengenali mulut goa itu. Tetapi karena keinginannya untuk mengetahui siapakah orang itu, maka segera ia mengejarnya ke dalam goa itu.
Beberapa lama mereka berkejar-kejaran. Orang itu agaknya sudah amat mengenal keadaan di dalam goa sehingga dengan mudahnya ia memasuki hampir setiap lobang yang ada. Ternyata di dalam goa itu tidak saja terdapat satu dua jalur lubang, tetapi berpuluh-puluh. Karena itulah Arya Gading menjadi sulit untuk mengejar orang yang sudah mengenal tempat itu dengan baik. Akhirnya ketika ia merasa bahwa usahanya tidak akan berhasil, dan orang yang dikejarnya itu sudah tidak nampak pula, segera ia menghentikan langkahnya. Peluhnya telah merembes hampir membasahi seluruh tubuhnya.
Dengan ketajaman pancainderanya Arya Gading mencoba untuk mengetahui sumber bunyi itu. Tetapi sebentar kemudian bunyi itu telah lenyap. Namun meskipun demikian Arya Gading menjadi bertambah berhati-hati.
“ Apakah ada macan yang sedang mengintai ku? Tempat ini bisa dikatakan sangat sepi. Sepanjang aku berjalan tidka satu pun kutemui manusia. Jangan –jangan aku tersesat. Tapi tidak mungkin, aku belum melihat pohon preh yang dimaksud oleh Ki Pameling”
Arya Gading lantas melanjutkan langkahnya ladi. Dan pada saat itulah bunyi itu terdengar lagi. Agak lebih dekat. Sekarang jelas bagi Arya Gading, bahwa bunyi itu bunyi langkah manusia. Karena itu ia semakin waspada. Tetapi kemudian suara itu lenyap kembali. Kemudian Arya Gading pun tidak mau berkisar dari tempatnya. Untuk beberapa lama ia bertahan di situ. Ia menunggu setiap kemungkinan yang dapat terjadi.
Dan apa yang ia tunggu-tunggu tiba-tiba muncullah. Di dalam bagian rumpun pepohonan yang gelap Arya Gading melihat sesosok tubuh berjalan perlahan-lahan sekali dan sangat hati-hati. Tetapi agaknya ia masih belum melihat Arya Gading yang berdiri melekat di sebatang pohon munggur yang sangat besar, meskipun barangkali orang itu telah mengikuti langkah Arya Gading, sebab ternyata orang itu berjalan mendekati pemuda itu.
Tetapi ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, agaknya orang itu dapat pula melihat Arya Gading. Cepat ia menghentikan langkahnya, dan tiba-tiba ia meloncat dan berlari menjauh. Arya Gading menjadi curiga. Karena segera ia menyusulnya. Namun orang itu berlari terus dengan cepat. Sulur –sulur dan akar pepohonan yang mencuat dari dalam tanah sepertinya tidak mampu untuk menghambat langkahnya yang ringan. Sedang Arya Gading tidak dapat berlari cepat. Selur pepohonan seperti sengaja menghalangi jalannya. Meskipun demikian langkah Arya Gading setidak-tidaknya dapat menyamai langkah orang yang dikejarnya, sehingga jarak mereka tidak menjadi semakin jauh.
Ketika orang itu sadar bahwa ia dikejar, maka ia pun mempercepat langkahnya. Belum sedemikian jauh ia berusaha untuk melenyapkan dirinya, masuk ke dalam sebuah lekukan batu. Tetapi ternyata bahwa lekuk itu hanya merupakan sebuah mulut saja dari cabang goa itu yang cukup dalam pula. Mula-mula Arya Gading agak ragu. Sekilas ia masih mengenali mulut goa itu. Tetapi karena keinginannya untuk mengetahui siapakah orang itu, maka segera ia mengejarnya ke dalam goa itu.
Beberapa lama mereka berkejar-kejaran. Orang itu agaknya sudah amat mengenal keadaan di dalam goa sehingga dengan mudahnya ia memasuki hampir setiap lobang yang ada. Ternyata di dalam goa itu tidak saja terdapat satu dua jalur lubang, tetapi berpuluh-puluh. Karena itulah Arya Gading menjadi sulit untuk mengejar orang yang sudah mengenal tempat itu dengan baik. Akhirnya ketika ia merasa bahwa usahanya tidak akan berhasil, dan orang yang dikejarnya itu sudah tidak nampak pula, segera ia menghentikan langkahnya. Peluhnya telah merembes hampir membasahi seluruh tubuhnya.
Diubah oleh breaking182 10-09-2022 00:16
ashrose dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
Tutup