- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#6
BAB 2 - Dunia yang Sempit
Hari jum’at, pembelajaran hanya diisi sampai jam 10. Selebihnya semua siswa diharuskan mengikuti ekstrakurikuler di sekolah.
“Cuy, lu mau ikut eskul apa?” tanya Hamid sambil melihat stand-stand pendaftaran yang dibuat kating
“Gue pengen basket sih” jawabku. “Lu mau apa?”
“Bingung gue” katanya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal
“Temenin gue di basket aja yok” ajakku
“Elu enak tinggi, lah gue? Berat ke badan. Hahaha” ucap Hamid terkekeh
“Nah justru itu, olahraga” ucapku
Padahal postur tubuhku ga begitu tinggi. Hanya 168cm, dengan berat badan 62kg. Sementara Hamid sedikit dibawahku, namun memiliki badan yang sedikit gemuk. Berisi sih, bukan gemuk. Setiap siswa memang diwajibkan untuk ikut minimal satu eskul, jika kedapatan tidak ikut, maka akan dimasukkan secara paksa. Entah bagaimana sekolah bisa mengetahui siswa yang tidak ikut nantinya.
“Gue ikut karate aja deh” ucap Hamid
“Serius lu? Ga mau basket aja? Badan lu emang gede sih” godaku
“Ngejek lu sialan” katanya sambil mengetok kepalaku
“Yaudah gue kesana dulu” ucapku sambil berjalan menuju stand eskul basket
Aku berjalan seorang diri menuju stand tersebut. Ada beberapa anak yang mengantri juga dari kelas lain. Tetapi aku tidak melihat orang-orang yang satu kelas denganku. Aku juga tak menyangka bahwa tidak hanya laki-laki yang ikut basket, tapi perempuan juga ada yang daftar. Sampai giliranku tiba
“Mau daftar dek?” tanya kaka tingkat yang bernama Prabowo
“Iya kak” jawabku
“Boleh, silahkan lo isi nama dan kelasnya ya di kolom kiri” ucap temannya disebelahnya, yang bernama Cantika dilihat dari nametagnya
Aku melihat barisan nama yang berderet disana, dan benar saja, dari kelasku yang mengikuti basket hanya aku seorang. Di kolom sebelah kanan ternyata daftar nama cewek yang ikut basket.
“Buset, banyak amat, hampir nyusul cowok” batinku
Setelah selesai, aku diajak oleh salah satu kating yang berseragam basket mengikutinya dan menunggu disebuah kelas. Setelah menunggu beberapa saat, kaka tingkat kami datang dan memberi sambutan singkat pada kami. Kami disuruh memperkenalkan diri serta memberikan alasan kenapa ingin ikut eskul ini. Sampai pada akhirnya aku juga diharuskan berdiri dan memperkenalkan diriku.
“Perkenalkan gue Khairul, biasa dipanggil Arul” ucapku dengan datar
“Alasan ikut eskul karena kewajiban sekolah dan ga ada yang menjadi minat saya di eskul lain” lanjutku asal jeplak
Beberapa anak tertawa karena jawaban anehku, tapi aku tak peduli. Katingpun tertawa kecil mendengar jawabanku, ada yang memang memanggapnya lucu atau aneh, ada juga yang menganggapnya seperti aku meremehkan eskul basket ini, kalau dilihat dari ekspresinya. Meski aku ga tahu apa yang ada di pikiran mereka
“Lo sering main basket?” tanya Prabowo
“Sering engga, tapi pernah waktu SMP” jawabku
“Oke silahkan duduk” lanjut Prabowo
Setelah beberapa saat memperkenalkan diri, kami diberi waktu untuk shalat jum’at dan kami akan berkumpul lagi pada jam dua siang. Karena tidak semua membawa baju olahraga, beberapa anak memilih untuk pulang dulu, atau sekedar meminjam dari orang yang rumahnya dekat. Tidak harus baju olahraga sih. Namun karena aku selalu mengenakan rangkap kaos dan seragam, aku ga perlu pulang. Celanapun aku masih mengenakan celana abu.
Jam dua siang, aku kembali berkumpul di lapang basket sekolah. Kami semua berbaris dan melakukan peregangan terlebih dahulu. Setelah melakukan peregangan dan pemanasan kami di uji coba untuk bertanding. Dimana yang bertandingnya itu adalah semua anggota baru. Aku bermain dengan normal, tidak seperti beberapa anak yang terlihat sudah terbiasa mendribel bola. Bahkan timku saja kalah. Pertandingan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kemampuan kami semua.
“Oke sudah cukup, ganti tim lainnya dilanjut dengan tim putri” teriak Cantika
Aku duduk dengan nafas terengah-engah sambil mengambil minum dari tasku.
“Gila, fisik lo kuat juga barusan” ucap seorang cowok yang tadi berada di tim lawan
“Hah, perasaan gue biasa aja” jawabku sambil memberikan botol minumku padanya untuk berbagi
“Makasih” katanya “Kenalin, gue Toriq”
“Arul” ucapku sambil menjabat tangannya
“Lo dari kelas mana?” tanyanya
“Gue kelas 10-4. Lo?”
“Gue dari 10-1. Oh kelas lu ada yang namanya Windy ya?” katanya
“Iya, cewek lo?” tanyaku
“Bukan, cuma gue naksir dulu pas SMP hahaha” katanya
“Terus gimana?” tanyaku penasaran
“Ga gimana-gimana” katanya terkekeh
“Ga jelas lu” jawabku
“Eh mintain nomernya dong” katanya
“Males ah, lu aja sendiri” ucapku datar
“Ayolah” katanya
“Gak”
Setelah selesai kami kembali duduk di lapangan untuk diberikan arahan dan jadwal berlatih serta pemberian teori untuk minggu depan. Selesailah eskulku hari ini. Aku berjalan menuju kantin untuk beristirahat sejenak sebelum pulang. Sambil mendengarkan lagu dari mp3 player, aku memesan es jeruk di kantin. Bukannya uangku sudah digunakan untuk ganti rugi? Betul, tapi semalam dengan terpaksa aku memecahkan celenganku untuk pegangan. Aku hanya mengambil beberapa, sisanya aku simpan lagi untuk nanti kutabung. Tiba-tiba seseorang menarik headsetku. Aku melihat kebelakang ternyata Vika dan Windy. Dan yang menarik headsetku adalah Vika
“Dipanggil kaga nyaut. Taunya pake headset” ucap Vika
“Untung ga putus ni headset. Ngapain disini?” ucapku ketus
“Yeee emang lo pikir ini kantin punya bokap lo” sewot Windy
“Wiih udah mulai aktif nih anak” ucapku
“Apaan si” kata Windy jutek
“Kalian jadi ikut fotografi?” tanyaku
“Jadi dong, mau liat gak fotonya? Ini jepretan Vika loh” ucap Windy yang sedari tadi memainkan kamera DSLRnya
“Mau dong” ucapku sambil mengulurkan tangan mengambil kamera
Tapi sebelum tanganku menyentuh kamera, Vika mengeplak tanganku
“Heh, ga boleh. Enak aja. Ini khusus gue sama Windy” ucap Vika
“Oh iya, ga jadi deh” ucap Windy terkekeh
“Wei udah pada ngumpul” ucap Hamid tiba-tiba datang
Aku, Vika dan Windy melihat wajah Hamid yang sedikit babak belur, tapi meskipun sedikit, ia tetap terlihat babak belur. Tak tahan melihat wajahnya kami bertiga tertawa
“Anjir lu pada ngetawain gue ya” ucap Hamid
“Berantem dimana lu?” tanya Vika masih tertawa
“Tadi ada ribut gue sama kating” katanya sambil duduk disebelahku
“Lah, gimana ceritanye?” ucapku
“Ya gitu lah, pas sparing sama gue kaya punya dendam. Bangke emang” katanya ketus sambil mengambil minumanku dan meminumnya
“Heh sialan, pesen sendiri” ucapku sambil merebutnya lagi
“Dikit doang” katanya
“Yaudah pesen gih, gue yang bayar” ucap Windy
“Waah lagi banyak duit nih” ucapku
“Ga banyak, ada rejeki lah” kata Windy
Kami semuapun di traktir Windy. Kami berempat menikmati masa istirahat setelah eskul dengan mengobrol ringan seputar kegiatan kami barusan. Sampai tiba-tiba aku teringat pada Toriq
“Win, lu kenal Toriq?” tanyaku
“Toriq? Toriq Ramdani?” katanya
“Mungkin” ucapku “Dia nanyain lo tadi, satu eskul sama gue”
“Ngapain?” tanya Windy
“Minta nomer lo katanya” ucapku
“Ga ah, males. Lo ga kasih kan?” tanyanya
“Engga, cuma gue suruh dia buat minta sendiri” ucapku
“Ih, elu mah. Ga ah, males gue”
“Emang kenapa?” tanya Vika
“Katanya, dia suka gue pas SMP, tapi gue tolak karena dulunya bandel banget, uring-uringan” jelas Windy
“Tapi dia kayanya baik tadi” ucapku
“Yaa disekolah, kalau lo udah kenal dia lebih jauh, keliatan kaya gimana. Lagian gue kan punya Raka, hahaha” kata Windy lagi
“Yaudah, udah sore, pulang yuk. Ada PR juga” ucap Vika
Kami berempat langsung berjalan menuju gerbang sekolah. Setelah berada di gerbang luar, kami melewati warung tongkrongan setempat, dan ternyata disana ada Toriq. Begitu melihat kami, Toriq langsung menghampiri kami, maksudnya Windy
“Hai Win” sapa Toriq ramah
“Iya” jawab Windy dengan judes
“Gue anter yuk” ajak Toriq
“Ngga usah, gue bareng Vika. Duluan ya” kata Windy sambil mendorong-dorong Vika
Aku dan Hamid bengong melihatnya, tapi juga sedikit tertawa karena Toriq ditolak mentah-mentah
“Sabar, Riq. Hahaha” ucapku terkekeh
“Yaa gimana, eh mau ikut nongkrong?” ajak Toriq
“Ga deh, gue duluan juga, cape” ucapku
“Wokey” jawab Toriq
Aku berjalan terpisah dengan Hamid karena memang berbeda arah. Aku melihat Vika dan Windy sedang berdiri dipinggir jalan.
“Ngapain lu pada? Ga balik? Diem dipinggir jalan udah kaya PSK” ucapku
“Mulut lo …” ucap Vika sambil menyumpal mulutku dengan tangannya “Nunggu angkot lah
“Tangan lu bau” ejekku
“Hah? Mau coba lagi?” sambil menunjukkan kepalan tangannya
“Bercanda Vik”
“Eh angkot gue udah dateng. Vik, Rul, duluan yaa” ucap Windy sambil memberhentikan angkot
“Lah, kirain lo sama Windy bareng” ucapku
“Engga, beda arah, cuma kebetulan angkot yang kita naekin sama-sama lewat sini” jelas Vika “Lo ke Melody Indah kan? Satu arah dong” lanjutnya
“Iya, lo kearah sana juga?” tanyaku
“Iya, yaudah bareng ya” katanya
“Ciee pengen banget ya bareng gue” godaku
“Pede banget lu” katanya
Angkot kamipun tiba dan kami berdua naik. Selama di angkot aku dan Vika ga ngobrol lagi karena banyak orang juga, ditambah lagi suara dangdut yang menggelegar dari radio angkot membuat pening telinga. Sampai akhirnya aku tiba didepan pintu masuk komplek perumahanku. Aku turun dan segera bayar. Saat menunggu kembalian,
“Pak, kembalian” ucapku
“Apaan, pas nih berdua kan lu” katanya
Aku melihat kesamping dan Vika ikut turun dong
“Berdua apaan, dia beda” ucapku
“Dia bilang ongkosnya dari elu. Dah lah, macet, lu tagih aja ke dia” sambil melajukan kendaraannya
“Si anying” ucapku sambil melihat angkot itu pergi
Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, aku berjalan tanpa mempedulikan Vika. Vika berjalan disampingku sambil melihat ke arahku dan juga sambil senyum-senyum jahil
“Apa lo?” ucapku
“Ish jutek amat si. Ngambek nih?” katanya
“Lo pikir aja sendiri” ucapku ketus “Lo juga ngapain ikut turun?”
“Hahaha” Vika tertawa puas
“Dih, sakit, malah ketawa”
“Gue kan tinggal disini” katanya masih dengan tawanya
“Lah, terus waktu itu, lu pake ojek?” ucapku
“Iya, males nunggu angkot, macet juga” katanya santai
“Yaudah mana ongkos tadi” ucapku
“Iya iya niiih, gue cuma bercanda tadi” katanya sambil mengganti ongkos tadi
Setelah berjalan cukup lama karena komplek ini lumayan besar jika harus berjalan kaki, kami berpisah di pos satpam dalam
“Gue ke Jalan Ritme, lo dimana?” tanyanya
“Gue di jalan Nada” jawabku
“Oh, sebelahan hahaha” ucapnya terkekeh “Yaudah gue duluan ya, jangan lupa” katanya sambil menunjukkan isyarat menelefon
“Ya ya ya” jawabku judes
Aku tak menyangka kalau dia tinggal satu komplek denganku, karena selama ini aku ga pernah ketemu dia baik ketika sekedar aku olahraga keliling komplek, ataupun acara-acara yang diadakan oleh warga setempat. Tak lama kemudian aku sampai dirumah bertepatan dengan adzan magrib.
“Cuy, lu mau ikut eskul apa?” tanya Hamid sambil melihat stand-stand pendaftaran yang dibuat kating
“Gue pengen basket sih” jawabku. “Lu mau apa?”
“Bingung gue” katanya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal
“Temenin gue di basket aja yok” ajakku
“Elu enak tinggi, lah gue? Berat ke badan. Hahaha” ucap Hamid terkekeh
“Nah justru itu, olahraga” ucapku
Padahal postur tubuhku ga begitu tinggi. Hanya 168cm, dengan berat badan 62kg. Sementara Hamid sedikit dibawahku, namun memiliki badan yang sedikit gemuk. Berisi sih, bukan gemuk. Setiap siswa memang diwajibkan untuk ikut minimal satu eskul, jika kedapatan tidak ikut, maka akan dimasukkan secara paksa. Entah bagaimana sekolah bisa mengetahui siswa yang tidak ikut nantinya.
“Gue ikut karate aja deh” ucap Hamid
“Serius lu? Ga mau basket aja? Badan lu emang gede sih” godaku
“Ngejek lu sialan” katanya sambil mengetok kepalaku
“Yaudah gue kesana dulu” ucapku sambil berjalan menuju stand eskul basket
Aku berjalan seorang diri menuju stand tersebut. Ada beberapa anak yang mengantri juga dari kelas lain. Tetapi aku tidak melihat orang-orang yang satu kelas denganku. Aku juga tak menyangka bahwa tidak hanya laki-laki yang ikut basket, tapi perempuan juga ada yang daftar. Sampai giliranku tiba
“Mau daftar dek?” tanya kaka tingkat yang bernama Prabowo
“Iya kak” jawabku
“Boleh, silahkan lo isi nama dan kelasnya ya di kolom kiri” ucap temannya disebelahnya, yang bernama Cantika dilihat dari nametagnya
Aku melihat barisan nama yang berderet disana, dan benar saja, dari kelasku yang mengikuti basket hanya aku seorang. Di kolom sebelah kanan ternyata daftar nama cewek yang ikut basket.
“Buset, banyak amat, hampir nyusul cowok” batinku
Setelah selesai, aku diajak oleh salah satu kating yang berseragam basket mengikutinya dan menunggu disebuah kelas. Setelah menunggu beberapa saat, kaka tingkat kami datang dan memberi sambutan singkat pada kami. Kami disuruh memperkenalkan diri serta memberikan alasan kenapa ingin ikut eskul ini. Sampai pada akhirnya aku juga diharuskan berdiri dan memperkenalkan diriku.
“Perkenalkan gue Khairul, biasa dipanggil Arul” ucapku dengan datar
“Alasan ikut eskul karena kewajiban sekolah dan ga ada yang menjadi minat saya di eskul lain” lanjutku asal jeplak
Beberapa anak tertawa karena jawaban anehku, tapi aku tak peduli. Katingpun tertawa kecil mendengar jawabanku, ada yang memang memanggapnya lucu atau aneh, ada juga yang menganggapnya seperti aku meremehkan eskul basket ini, kalau dilihat dari ekspresinya. Meski aku ga tahu apa yang ada di pikiran mereka
“Lo sering main basket?” tanya Prabowo
“Sering engga, tapi pernah waktu SMP” jawabku
“Oke silahkan duduk” lanjut Prabowo
Setelah beberapa saat memperkenalkan diri, kami diberi waktu untuk shalat jum’at dan kami akan berkumpul lagi pada jam dua siang. Karena tidak semua membawa baju olahraga, beberapa anak memilih untuk pulang dulu, atau sekedar meminjam dari orang yang rumahnya dekat. Tidak harus baju olahraga sih. Namun karena aku selalu mengenakan rangkap kaos dan seragam, aku ga perlu pulang. Celanapun aku masih mengenakan celana abu.
Jam dua siang, aku kembali berkumpul di lapang basket sekolah. Kami semua berbaris dan melakukan peregangan terlebih dahulu. Setelah melakukan peregangan dan pemanasan kami di uji coba untuk bertanding. Dimana yang bertandingnya itu adalah semua anggota baru. Aku bermain dengan normal, tidak seperti beberapa anak yang terlihat sudah terbiasa mendribel bola. Bahkan timku saja kalah. Pertandingan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kemampuan kami semua.
“Oke sudah cukup, ganti tim lainnya dilanjut dengan tim putri” teriak Cantika
Aku duduk dengan nafas terengah-engah sambil mengambil minum dari tasku.
“Gila, fisik lo kuat juga barusan” ucap seorang cowok yang tadi berada di tim lawan
“Hah, perasaan gue biasa aja” jawabku sambil memberikan botol minumku padanya untuk berbagi
“Makasih” katanya “Kenalin, gue Toriq”
“Arul” ucapku sambil menjabat tangannya
“Lo dari kelas mana?” tanyanya
“Gue kelas 10-4. Lo?”
“Gue dari 10-1. Oh kelas lu ada yang namanya Windy ya?” katanya
“Iya, cewek lo?” tanyaku
“Bukan, cuma gue naksir dulu pas SMP hahaha” katanya
“Terus gimana?” tanyaku penasaran
“Ga gimana-gimana” katanya terkekeh
“Ga jelas lu” jawabku
“Eh mintain nomernya dong” katanya
“Males ah, lu aja sendiri” ucapku datar
“Ayolah” katanya
“Gak”
Setelah selesai kami kembali duduk di lapangan untuk diberikan arahan dan jadwal berlatih serta pemberian teori untuk minggu depan. Selesailah eskulku hari ini. Aku berjalan menuju kantin untuk beristirahat sejenak sebelum pulang. Sambil mendengarkan lagu dari mp3 player, aku memesan es jeruk di kantin. Bukannya uangku sudah digunakan untuk ganti rugi? Betul, tapi semalam dengan terpaksa aku memecahkan celenganku untuk pegangan. Aku hanya mengambil beberapa, sisanya aku simpan lagi untuk nanti kutabung. Tiba-tiba seseorang menarik headsetku. Aku melihat kebelakang ternyata Vika dan Windy. Dan yang menarik headsetku adalah Vika
“Dipanggil kaga nyaut. Taunya pake headset” ucap Vika
“Untung ga putus ni headset. Ngapain disini?” ucapku ketus
“Yeee emang lo pikir ini kantin punya bokap lo” sewot Windy
“Wiih udah mulai aktif nih anak” ucapku
“Apaan si” kata Windy jutek
“Kalian jadi ikut fotografi?” tanyaku
“Jadi dong, mau liat gak fotonya? Ini jepretan Vika loh” ucap Windy yang sedari tadi memainkan kamera DSLRnya
“Mau dong” ucapku sambil mengulurkan tangan mengambil kamera
Tapi sebelum tanganku menyentuh kamera, Vika mengeplak tanganku
“Heh, ga boleh. Enak aja. Ini khusus gue sama Windy” ucap Vika
“Oh iya, ga jadi deh” ucap Windy terkekeh
“Wei udah pada ngumpul” ucap Hamid tiba-tiba datang
Aku, Vika dan Windy melihat wajah Hamid yang sedikit babak belur, tapi meskipun sedikit, ia tetap terlihat babak belur. Tak tahan melihat wajahnya kami bertiga tertawa
“Anjir lu pada ngetawain gue ya” ucap Hamid
“Berantem dimana lu?” tanya Vika masih tertawa
“Tadi ada ribut gue sama kating” katanya sambil duduk disebelahku
“Lah, gimana ceritanye?” ucapku
“Ya gitu lah, pas sparing sama gue kaya punya dendam. Bangke emang” katanya ketus sambil mengambil minumanku dan meminumnya
“Heh sialan, pesen sendiri” ucapku sambil merebutnya lagi
“Dikit doang” katanya
“Yaudah pesen gih, gue yang bayar” ucap Windy
“Waah lagi banyak duit nih” ucapku
“Ga banyak, ada rejeki lah” kata Windy
Kami semuapun di traktir Windy. Kami berempat menikmati masa istirahat setelah eskul dengan mengobrol ringan seputar kegiatan kami barusan. Sampai tiba-tiba aku teringat pada Toriq
“Win, lu kenal Toriq?” tanyaku
“Toriq? Toriq Ramdani?” katanya
“Mungkin” ucapku “Dia nanyain lo tadi, satu eskul sama gue”
“Ngapain?” tanya Windy
“Minta nomer lo katanya” ucapku
“Ga ah, males. Lo ga kasih kan?” tanyanya
“Engga, cuma gue suruh dia buat minta sendiri” ucapku
“Ih, elu mah. Ga ah, males gue”
“Emang kenapa?” tanya Vika
“Katanya, dia suka gue pas SMP, tapi gue tolak karena dulunya bandel banget, uring-uringan” jelas Windy
“Tapi dia kayanya baik tadi” ucapku
“Yaa disekolah, kalau lo udah kenal dia lebih jauh, keliatan kaya gimana. Lagian gue kan punya Raka, hahaha” kata Windy lagi
“Yaudah, udah sore, pulang yuk. Ada PR juga” ucap Vika
Kami berempat langsung berjalan menuju gerbang sekolah. Setelah berada di gerbang luar, kami melewati warung tongkrongan setempat, dan ternyata disana ada Toriq. Begitu melihat kami, Toriq langsung menghampiri kami, maksudnya Windy
“Hai Win” sapa Toriq ramah
“Iya” jawab Windy dengan judes
“Gue anter yuk” ajak Toriq
“Ngga usah, gue bareng Vika. Duluan ya” kata Windy sambil mendorong-dorong Vika
Aku dan Hamid bengong melihatnya, tapi juga sedikit tertawa karena Toriq ditolak mentah-mentah
“Sabar, Riq. Hahaha” ucapku terkekeh
“Yaa gimana, eh mau ikut nongkrong?” ajak Toriq
“Ga deh, gue duluan juga, cape” ucapku
“Wokey” jawab Toriq
Aku berjalan terpisah dengan Hamid karena memang berbeda arah. Aku melihat Vika dan Windy sedang berdiri dipinggir jalan.
“Ngapain lu pada? Ga balik? Diem dipinggir jalan udah kaya PSK” ucapku
“Mulut lo …” ucap Vika sambil menyumpal mulutku dengan tangannya “Nunggu angkot lah
“Tangan lu bau” ejekku
“Hah? Mau coba lagi?” sambil menunjukkan kepalan tangannya
“Bercanda Vik”
“Eh angkot gue udah dateng. Vik, Rul, duluan yaa” ucap Windy sambil memberhentikan angkot
“Lah, kirain lo sama Windy bareng” ucapku
“Engga, beda arah, cuma kebetulan angkot yang kita naekin sama-sama lewat sini” jelas Vika “Lo ke Melody Indah kan? Satu arah dong” lanjutnya
“Iya, lo kearah sana juga?” tanyaku
“Iya, yaudah bareng ya” katanya
“Ciee pengen banget ya bareng gue” godaku
“Pede banget lu” katanya
Angkot kamipun tiba dan kami berdua naik. Selama di angkot aku dan Vika ga ngobrol lagi karena banyak orang juga, ditambah lagi suara dangdut yang menggelegar dari radio angkot membuat pening telinga. Sampai akhirnya aku tiba didepan pintu masuk komplek perumahanku. Aku turun dan segera bayar. Saat menunggu kembalian,
“Pak, kembalian” ucapku
“Apaan, pas nih berdua kan lu” katanya
Aku melihat kesamping dan Vika ikut turun dong
“Berdua apaan, dia beda” ucapku
“Dia bilang ongkosnya dari elu. Dah lah, macet, lu tagih aja ke dia” sambil melajukan kendaraannya
“Si anying” ucapku sambil melihat angkot itu pergi
Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, aku berjalan tanpa mempedulikan Vika. Vika berjalan disampingku sambil melihat ke arahku dan juga sambil senyum-senyum jahil
“Apa lo?” ucapku
“Ish jutek amat si. Ngambek nih?” katanya
“Lo pikir aja sendiri” ucapku ketus “Lo juga ngapain ikut turun?”
“Hahaha” Vika tertawa puas
“Dih, sakit, malah ketawa”
“Gue kan tinggal disini” katanya masih dengan tawanya
“Lah, terus waktu itu, lu pake ojek?” ucapku
“Iya, males nunggu angkot, macet juga” katanya santai
“Yaudah mana ongkos tadi” ucapku
“Iya iya niiih, gue cuma bercanda tadi” katanya sambil mengganti ongkos tadi
Setelah berjalan cukup lama karena komplek ini lumayan besar jika harus berjalan kaki, kami berpisah di pos satpam dalam
“Gue ke Jalan Ritme, lo dimana?” tanyanya
“Gue di jalan Nada” jawabku
“Oh, sebelahan hahaha” ucapnya terkekeh “Yaudah gue duluan ya, jangan lupa” katanya sambil menunjukkan isyarat menelefon
“Ya ya ya” jawabku judes
Aku tak menyangka kalau dia tinggal satu komplek denganku, karena selama ini aku ga pernah ketemu dia baik ketika sekedar aku olahraga keliling komplek, ataupun acara-acara yang diadakan oleh warga setempat. Tak lama kemudian aku sampai dirumah bertepatan dengan adzan magrib.
Diubah oleh neopo 09-09-2022 23:04
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup