- Beranda
- Stories from the Heart
INGGIS (TAKUT)...
...
TS
makmiah123
INGGIS (TAKUT)...
Salam kenal Gan n Sist.. Ane mau nyoba-nyoba nulis di forum SFTH nih.. Kalo ada saran atau kritik bebas aja yah, asal ga ngelanggar aturan/Kode etik SFTH aja.. Sebagian cerita ini real story berdasarkan pengalaman temen ane yang minta segala macam tentang dia dan tempatnya dirahasiakan dan sebagian lagi fiksi.. Sebagai orang yang baru belajar nulis, pasti banyak banget kekurangan nya yaa Gan n Sist.. Jadi harap maklum saja.. Hehe..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
Diubah oleh makmiah123 20-12-2022 08:06
somatt dan 37 lainnya memberi reputasi
38
32.8K
268
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
makmiah123
#46
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Aku meminta jenazah istriku di urus dirumah oleh petugas lingkungan yang dipilih khusus untuk mengurus jenazah, karena aku ingin melihat dan terlibat langsung prosesnya.. Terutama saat proses pemandian.. Sebagai seorang suami, aku ingin melakukan penghormatan terakhir untuk mendiang istriku, Ratih.. Aku ingin memastikan Ratih berada dalam keadaan bersih saat kembali ke Sang Maha Pencipta..
Meski aku tinggal dilingkungan perumahan yang kata banyak orang penghuninya tergolong hidup masing-masing tanpa saling mengenal antar tetangga, ditempatku malah berbeda.. Memang sebagian besar penghuni komplek perumahan tempat ku tinggal adalah para pegawai yang mengenal kata istirahat dirumah hanya Sabtu dan Minggu, tapi hampir semua tetanggaku satu blok menyempatkan diri untuk datang melayat..
Bahkan ada juga beberapa tetangga beda blok yang mengirimkan karangan bunga serta ucapan berbela sungkawa lewat aplikasi WA di Hp ku..
Proses demi proses pengurusan jenazah Ratih berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.. Dari mulai pemandian, pengkafanan, penyolatan sampai pemakaman tak terdapat masalah.. Bahkan sinar matahari pun terasa sangat bersahabat, ia sengaja seperti meminta awan untuk menutupi panasnya.. Seolah sang Raja Siang turut merasakan mendung yang menyelimuti sanubari ini..
Aku sengaja meminta Petugas Makam untuk mengebumikan Ratih di sisi makam Ibu dan Ayahnya.. Karena aku ingat, menjelang tiada Ratih sempat bercerita bahwa ia sangat rindu pada mereka berdua.. Mungkin itu adalah pertanda bagiku jika Ratih ternyata akan menyusul kedua orangtuanya..
Bagaimana dengan Dinar, puteri kesayangan ku yang tepat hari ini berubah status menjadi anak Piatu? Layaknya anak balita, Dinar belum faham akan ketidak adilan nasib yang memaksa Bunda nya pergi terlebih dahulu untuk selamanya.. Dinar belum mengerti jika dirinya tak akan lagi bisa bertemu dan merasakan belaian lembut sang Bunda.. Dinar juga belum tahu jika nantinya, saat menjelang tidur Sang Bunda tak kan ada untuk menceritakan dongeng pengundang rasa kantuk..
Pagi itu, saat aku, Ambu dan Rima serta Akbar pulang dari rumah sakit bersama mobil ambulance yang membawa jasad Ratih, puteri kecilku malah nampak riang manakala melihat sosok Ambu dan Rima..
Berbeda denganku yang langsung turun dari Ambulance dan berlari untuk memeluknya.. Aku berkali-kali menyakiti diri sendiri untuk menghalau rasa duka.. Aku menggigit bibir dan menusukkan kuku ke telapak tanganku saat memeluk Dinar.. Semua aku lakukan dengan harapan rasa sakit yang terbit dari tubuh akan mengusir rasa sedih..
Tapi percuma, airmata sama sekali tak bisa aku ajak kompromi.. Air mata terus saja mengucur deras dari mataku saat menatap dan menciumi wajah Dinar.. Baru setelah puteri kecilku itu mengusap tiap jejak basah air mata, aku menyerah.. Aku meminta Rima dan Ambu untuk membawanya masuk ke dalam kamar..
Suasana rumahku masih cukup ramai meski proses pemakaman jenazah Ratih telah selesai.. Banyak sekali pelayat yang datang dan pergi.. Dari rekan kerja, teman kuliah, kerabat Ratih, semua datang untuk menghiburku.. Semua yang datang turut merasakan rasa kehilangan yang cukup mendalam..
Tak terkecuali Akbar.. Sahabat baik sekaligus rekan kerjaku itu memang sempat pulang saat proses pemakaman selesai.. Ia pulang untuk mandi dan istirahat sebentar, karena semalaman ia menemaniku dirumah sakit dan menjelang sore hari ia kembali datang bersama Sulis calon istrinya..
Selama tiga malam berturut-turut rumahku ramai dengan orang mengaji yang sebagian besar adalah anak muda.. Aku difasilitasi oleh tetangga satu Blok bernama Pak Amir yang berprofesi guru sekaligus ketua DKM Masjid di perumahan tempat ku tinggal.. Aku difasilitasi untuk menyewa perkumpulan Remaja Masjid guna mengaji tahlilan dirumah, sebatas waktu yang aku mau..
Dimalam pertama dan kedua, semua berjalan normal.. Sekitar 15 orang anak muda anggota Remaja Masjid mengaji diruang tengah rumahku.. Aku, Rima dan Akbar juga ikut mengaji bersama mereka.. Bahkan Dinar juga aku sengaja ikutkan untuk duduk mengaji bersamaku dengan baju muslimah seukurannya yang dulu sempat dibelikan Almarhumah Ratih..
Meski sering tidak fokus, bercanda dengan Mbak Nur sampai berlari-larian melewati jamaah pengajian, Dinar tetap berada bersama kami.. Berbeda dengan Ambu.. Tiap kali terdengar lantunan Ayat suci Al-Qur’an didalam rumahku, Ambu selalu beranjak keluar rumah.. Entah itu duduk duduk ditaman depan rumahku atau berdiam diri di gazebo belakang..
Aku tidak bermasalah akan hal tersebut.. Selama Ambu tidak berbuat macam-macam yang ada kaitannya dengan praktek ilmu hitam dirumahku, aku tidak berniat mengambil sikap apapun.. Namun semua berubah saat malam ketiga.. Saat semua jamaah pengajian hendak pamit pulang dengan membawa cerita tentang tingkah laku Ambu..
Ya! Malam itu, dari selepas Magrib Ambu membakar dupa di bagian belakang rumahku.. Aku sempat melarang Ambu.. Tapi beliau berkilah ini untuk menyempurnakan kematian Ratih.. Aku yang tak mau berseteru dengan Ambu pun mengalah karena mengingat jamaah pengajian sudah berdatangan..
Tetap aku meminta Ambu dengan sangat, untuk membakar dupa jangan terlalu banyak, karena khawatir asapnya akan masuk ke dalam rumah.. Aku juga sengaja menutup akses pintu belakang untuk menghalangi menyebarnya bau dupa..
Tapi sia-sia.. Apa yang aku khawatirkan tetap terjadi.. Dipenghujung acara tahlilan, beberapa jamaah pengajian, terutama rekan-rekan sekantorku nampak saling melempar pandang saat bau khas dupa mulai tercium didalam ruangan.. Bukan hanya itu, telingaku pun menangkap suara Ambu merapalkan mantera berbahasa sunda.. Aku mengedarkan pandangan bersamaan dengan Rima yang juga terlihat melemparkannya ke arah depan..
Kedua mataku membesar saat melihat Ambu ternyata membakar dupa didepan rumah sambil membacakan mantera dengan suara cukup kencang.. Aku segera meminta Rima dan Akbar untuk lekas membagikan buah tangan dan amplop ke tiap anggota jamaah pengajian terkecuali rekan kantor, dengan harapan mereka bisa langsung pulang setelahnya..
Amarah ku mulai terbit mengetahui Ambu sama sekali tidak menghargai permintaanku.. Terlebih saat para jamaah yang pulang nampak saling berkasak kusuk begitu melintas didepan Ambu..
Tepat setelah Mbak Nur menutup pintu gerbang dan tak ada lagi tamu selain keluargaku dan Akbar, aku berjalan cepat kesamping rumah dan mengambil ember setelah mengisinya dengan air keran..
BYURRR!!!
Aku lantas menyiram dupa persis dihadapan Ambu dan menendangnya hingga terlempar beserakan..
“FADIL!!!! BERANI BERANINYA KAMU HANCURKAN SESAJEN AMBU!!!” Bentak Ambu dengan suara lantang sambil menarik lenganku secara kasar..
Aku melepaskan pegangan tangan Ambu dan belum mau menjawabnya meski tatapan mata ini mulai tersirat api kemarahan.. Aku bergegas berjalan cepat ke belakang, membawa tempat dupa dari belakang rumah dan melemparkannya lagi didepan Ambu..
“FADIL!!!! KUALAT KAU NANTI!!!”
‘KUALAT SAMA SIAPA, AMBU? SIAPA? SAMA SETAN YANG MENGAKU KAKEK??? KUALAT SAMA SETAN YANG KATANYA AKAN MELINDUNGI FADIL SEKELUARGA!!! FADIL GA TAKUT SAMA DIA!!! Balasku tak kalah lantang menimpali bentakan Ambu..
Dan..
PLAKKKK!!!
Aku merasakan panas dipipi kanan tempat telapak tangan Ambu mendarat barusan.. Dengan amarah kian memuncak, aku mendekati Ambu.. Bukan untuk membalas perlakuannya tapi untuk mengeluarkan segala rasa muak akan tingkah Ambu.. Namun badanku ditahan oleh Akbar dan Rima..
“Kurang ajar kamu!! Anak tak tau malu! Anak tak tau terima kasih! Ambu melakukan ini supaya arwah istri mu tidak gentayangan nantinya.. Ambu buat ini supaya kamu.....”
“AMBU!!! JANGAN BAWA-BAWA RATIH!!!
Semua tertegun mendengar bentakan ku barusan.. Dadaku naik turun seiring laju nafas yang kian memburu karena aku sangat kesal mendengar Ambu menyebut mendiang istriku.. Tatap mataku yang terus memandang tajam ke Ambu, menyiratkan jelas amarah tersorot disana.. Hingga, aku merasakan kedua mata kembali berair saat Rima menarik lengan kananku..
“Jangan teruskan, A.. Rima mohon” Ucap Rima dengan wajah sedih dan kedua mata basah menatapku..
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya beberapa kali secara peralahan.. Aku seka kedua mata, lalu melepaskan pegangan tangan Rima dari lengan sambil menggelengkan kepala untuk menolak permintaannya..
“Maafin Aa, Rim.. Aa benar-benar sudah muak dengan Ambu” Batin ku dalam hati, kemudian melemparkan pandangan kembali ke arah Ambu..
“Ambu memang tidak salah.. Semua salah Fadil.. Harusnya Fadil tidak kembali ke dusun itu.. Harusnya Fadil tidak perlu tahu riwayat kelam Ambu, tentang santet, ilmu hitam, tentang segala hal gaib yang sampai dirumah pun masih menganggu hidup Fadil” Ucapanku terputus karena airmata di kedua pelupuk mulai jatuh meluncur dipipi..
“Ambu tidak tahu kan berapa kali kejadian aneh terjadi dirumah ini? Ambu tidak tahu setan Mak Tua menteror Fadil? Bahkan Ratih sebelum meninggal pun sempat dibuat kesurupan di rumah sakit.. Ambu tidak tahu apa yang sudah Fadil lewati?” Tanyaku ke arah Ambu seraya menyeka lagi airmata..
“Baru kemarin Fadil kehilangan istri.. Baru kemarin cucu Ambu jadi anak Piatu.. Harusnya Ambu menenangkan Fadil, bukan malah nambahin beban karena akan jadi bahan omongan orang-orang yang melihat kelakuan aneh Ambu”
Ambu nampak terkesiap mendengar tiap kalimat yang terlisan dari mulutku dengan getaran sama menahan amarah.. Sepintas, aku melihat kedua mata Ambu mulai berkaca-kaca, namun aku indahkan rasa iba, sebab tingkah Ambu barusan benar-benar sudah kelewatan..
“Jadi kau anggap Ambu malah menambah bebanmu? Padahal, Ambu sudah melakukan banyak hal untukmu, Fadil.. Ambu meminta Aki dan Nini mu untuk menjaga kalian sekeluarga.. Meminta mereka membuatkan pagar gaib disekeliling rumah ini”
“Ambu, cukup!!! Jangan sebut-sebut lagi mereka.. Fadil mohon! Jangan buat Fadil jadi anak durhaka karena membentak-bentak Ambu.. Jika Ambu tidak bisa menuruti permintaan Fadil, lebih baik Ambu kembali ke dusun” Jawabku karena tak mau lagi mendengar Ambu menyebut soal sosok gaib yang mengaku kedua orang tuanya..
“Kau mengusir, Ambu?” Tanya Ambu dengan mata yang sudah tergenangi air mata..
Aku terdiam sejenak, lalu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.. Aku lakukan ini untuk menguasai amarah kembali..
“Terserah Ambu anggap apa kalimat Fadil tadi.. Jika Ambu memang tetap mau disini bersama Fadil dan dua cucu Ambu, tinggalkan semua laku ilmu hitam.. Tapi jika Ambu mau kembali ke dusun, silahkan.. Bawa pula setan-setan yang ada dirumah Fadil.. Rumah ini bukan tempat untuk praktek perdukunan”
Meski aku tinggal dilingkungan perumahan yang kata banyak orang penghuninya tergolong hidup masing-masing tanpa saling mengenal antar tetangga, ditempatku malah berbeda.. Memang sebagian besar penghuni komplek perumahan tempat ku tinggal adalah para pegawai yang mengenal kata istirahat dirumah hanya Sabtu dan Minggu, tapi hampir semua tetanggaku satu blok menyempatkan diri untuk datang melayat..
Bahkan ada juga beberapa tetangga beda blok yang mengirimkan karangan bunga serta ucapan berbela sungkawa lewat aplikasi WA di Hp ku..
Proses demi proses pengurusan jenazah Ratih berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.. Dari mulai pemandian, pengkafanan, penyolatan sampai pemakaman tak terdapat masalah.. Bahkan sinar matahari pun terasa sangat bersahabat, ia sengaja seperti meminta awan untuk menutupi panasnya.. Seolah sang Raja Siang turut merasakan mendung yang menyelimuti sanubari ini..
Aku sengaja meminta Petugas Makam untuk mengebumikan Ratih di sisi makam Ibu dan Ayahnya.. Karena aku ingat, menjelang tiada Ratih sempat bercerita bahwa ia sangat rindu pada mereka berdua.. Mungkin itu adalah pertanda bagiku jika Ratih ternyata akan menyusul kedua orangtuanya..
Bagaimana dengan Dinar, puteri kesayangan ku yang tepat hari ini berubah status menjadi anak Piatu? Layaknya anak balita, Dinar belum faham akan ketidak adilan nasib yang memaksa Bunda nya pergi terlebih dahulu untuk selamanya.. Dinar belum mengerti jika dirinya tak akan lagi bisa bertemu dan merasakan belaian lembut sang Bunda.. Dinar juga belum tahu jika nantinya, saat menjelang tidur Sang Bunda tak kan ada untuk menceritakan dongeng pengundang rasa kantuk..
Pagi itu, saat aku, Ambu dan Rima serta Akbar pulang dari rumah sakit bersama mobil ambulance yang membawa jasad Ratih, puteri kecilku malah nampak riang manakala melihat sosok Ambu dan Rima..
Berbeda denganku yang langsung turun dari Ambulance dan berlari untuk memeluknya.. Aku berkali-kali menyakiti diri sendiri untuk menghalau rasa duka.. Aku menggigit bibir dan menusukkan kuku ke telapak tanganku saat memeluk Dinar.. Semua aku lakukan dengan harapan rasa sakit yang terbit dari tubuh akan mengusir rasa sedih..
Tapi percuma, airmata sama sekali tak bisa aku ajak kompromi.. Air mata terus saja mengucur deras dari mataku saat menatap dan menciumi wajah Dinar.. Baru setelah puteri kecilku itu mengusap tiap jejak basah air mata, aku menyerah.. Aku meminta Rima dan Ambu untuk membawanya masuk ke dalam kamar..
Suasana rumahku masih cukup ramai meski proses pemakaman jenazah Ratih telah selesai.. Banyak sekali pelayat yang datang dan pergi.. Dari rekan kerja, teman kuliah, kerabat Ratih, semua datang untuk menghiburku.. Semua yang datang turut merasakan rasa kehilangan yang cukup mendalam..
Tak terkecuali Akbar.. Sahabat baik sekaligus rekan kerjaku itu memang sempat pulang saat proses pemakaman selesai.. Ia pulang untuk mandi dan istirahat sebentar, karena semalaman ia menemaniku dirumah sakit dan menjelang sore hari ia kembali datang bersama Sulis calon istrinya..
Selama tiga malam berturut-turut rumahku ramai dengan orang mengaji yang sebagian besar adalah anak muda.. Aku difasilitasi oleh tetangga satu Blok bernama Pak Amir yang berprofesi guru sekaligus ketua DKM Masjid di perumahan tempat ku tinggal.. Aku difasilitasi untuk menyewa perkumpulan Remaja Masjid guna mengaji tahlilan dirumah, sebatas waktu yang aku mau..
Dimalam pertama dan kedua, semua berjalan normal.. Sekitar 15 orang anak muda anggota Remaja Masjid mengaji diruang tengah rumahku.. Aku, Rima dan Akbar juga ikut mengaji bersama mereka.. Bahkan Dinar juga aku sengaja ikutkan untuk duduk mengaji bersamaku dengan baju muslimah seukurannya yang dulu sempat dibelikan Almarhumah Ratih..
Meski sering tidak fokus, bercanda dengan Mbak Nur sampai berlari-larian melewati jamaah pengajian, Dinar tetap berada bersama kami.. Berbeda dengan Ambu.. Tiap kali terdengar lantunan Ayat suci Al-Qur’an didalam rumahku, Ambu selalu beranjak keluar rumah.. Entah itu duduk duduk ditaman depan rumahku atau berdiam diri di gazebo belakang..
Aku tidak bermasalah akan hal tersebut.. Selama Ambu tidak berbuat macam-macam yang ada kaitannya dengan praktek ilmu hitam dirumahku, aku tidak berniat mengambil sikap apapun.. Namun semua berubah saat malam ketiga.. Saat semua jamaah pengajian hendak pamit pulang dengan membawa cerita tentang tingkah laku Ambu..
Ya! Malam itu, dari selepas Magrib Ambu membakar dupa di bagian belakang rumahku.. Aku sempat melarang Ambu.. Tapi beliau berkilah ini untuk menyempurnakan kematian Ratih.. Aku yang tak mau berseteru dengan Ambu pun mengalah karena mengingat jamaah pengajian sudah berdatangan..
Tetap aku meminta Ambu dengan sangat, untuk membakar dupa jangan terlalu banyak, karena khawatir asapnya akan masuk ke dalam rumah.. Aku juga sengaja menutup akses pintu belakang untuk menghalangi menyebarnya bau dupa..
Tapi sia-sia.. Apa yang aku khawatirkan tetap terjadi.. Dipenghujung acara tahlilan, beberapa jamaah pengajian, terutama rekan-rekan sekantorku nampak saling melempar pandang saat bau khas dupa mulai tercium didalam ruangan.. Bukan hanya itu, telingaku pun menangkap suara Ambu merapalkan mantera berbahasa sunda.. Aku mengedarkan pandangan bersamaan dengan Rima yang juga terlihat melemparkannya ke arah depan..
Kedua mataku membesar saat melihat Ambu ternyata membakar dupa didepan rumah sambil membacakan mantera dengan suara cukup kencang.. Aku segera meminta Rima dan Akbar untuk lekas membagikan buah tangan dan amplop ke tiap anggota jamaah pengajian terkecuali rekan kantor, dengan harapan mereka bisa langsung pulang setelahnya..
Amarah ku mulai terbit mengetahui Ambu sama sekali tidak menghargai permintaanku.. Terlebih saat para jamaah yang pulang nampak saling berkasak kusuk begitu melintas didepan Ambu..
Tepat setelah Mbak Nur menutup pintu gerbang dan tak ada lagi tamu selain keluargaku dan Akbar, aku berjalan cepat kesamping rumah dan mengambil ember setelah mengisinya dengan air keran..
BYURRR!!!
Aku lantas menyiram dupa persis dihadapan Ambu dan menendangnya hingga terlempar beserakan..
“FADIL!!!! BERANI BERANINYA KAMU HANCURKAN SESAJEN AMBU!!!” Bentak Ambu dengan suara lantang sambil menarik lenganku secara kasar..
Aku melepaskan pegangan tangan Ambu dan belum mau menjawabnya meski tatapan mata ini mulai tersirat api kemarahan.. Aku bergegas berjalan cepat ke belakang, membawa tempat dupa dari belakang rumah dan melemparkannya lagi didepan Ambu..
“FADIL!!!! KUALAT KAU NANTI!!!”
‘KUALAT SAMA SIAPA, AMBU? SIAPA? SAMA SETAN YANG MENGAKU KAKEK??? KUALAT SAMA SETAN YANG KATANYA AKAN MELINDUNGI FADIL SEKELUARGA!!! FADIL GA TAKUT SAMA DIA!!! Balasku tak kalah lantang menimpali bentakan Ambu..
Dan..
PLAKKKK!!!
Aku merasakan panas dipipi kanan tempat telapak tangan Ambu mendarat barusan.. Dengan amarah kian memuncak, aku mendekati Ambu.. Bukan untuk membalas perlakuannya tapi untuk mengeluarkan segala rasa muak akan tingkah Ambu.. Namun badanku ditahan oleh Akbar dan Rima..
“Kurang ajar kamu!! Anak tak tau malu! Anak tak tau terima kasih! Ambu melakukan ini supaya arwah istri mu tidak gentayangan nantinya.. Ambu buat ini supaya kamu.....”
“AMBU!!! JANGAN BAWA-BAWA RATIH!!!
Semua tertegun mendengar bentakan ku barusan.. Dadaku naik turun seiring laju nafas yang kian memburu karena aku sangat kesal mendengar Ambu menyebut mendiang istriku.. Tatap mataku yang terus memandang tajam ke Ambu, menyiratkan jelas amarah tersorot disana.. Hingga, aku merasakan kedua mata kembali berair saat Rima menarik lengan kananku..
“Jangan teruskan, A.. Rima mohon” Ucap Rima dengan wajah sedih dan kedua mata basah menatapku..
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya beberapa kali secara peralahan.. Aku seka kedua mata, lalu melepaskan pegangan tangan Rima dari lengan sambil menggelengkan kepala untuk menolak permintaannya..
“Maafin Aa, Rim.. Aa benar-benar sudah muak dengan Ambu” Batin ku dalam hati, kemudian melemparkan pandangan kembali ke arah Ambu..
“Ambu memang tidak salah.. Semua salah Fadil.. Harusnya Fadil tidak kembali ke dusun itu.. Harusnya Fadil tidak perlu tahu riwayat kelam Ambu, tentang santet, ilmu hitam, tentang segala hal gaib yang sampai dirumah pun masih menganggu hidup Fadil” Ucapanku terputus karena airmata di kedua pelupuk mulai jatuh meluncur dipipi..
“Ambu tidak tahu kan berapa kali kejadian aneh terjadi dirumah ini? Ambu tidak tahu setan Mak Tua menteror Fadil? Bahkan Ratih sebelum meninggal pun sempat dibuat kesurupan di rumah sakit.. Ambu tidak tahu apa yang sudah Fadil lewati?” Tanyaku ke arah Ambu seraya menyeka lagi airmata..
“Baru kemarin Fadil kehilangan istri.. Baru kemarin cucu Ambu jadi anak Piatu.. Harusnya Ambu menenangkan Fadil, bukan malah nambahin beban karena akan jadi bahan omongan orang-orang yang melihat kelakuan aneh Ambu”
Ambu nampak terkesiap mendengar tiap kalimat yang terlisan dari mulutku dengan getaran sama menahan amarah.. Sepintas, aku melihat kedua mata Ambu mulai berkaca-kaca, namun aku indahkan rasa iba, sebab tingkah Ambu barusan benar-benar sudah kelewatan..
“Jadi kau anggap Ambu malah menambah bebanmu? Padahal, Ambu sudah melakukan banyak hal untukmu, Fadil.. Ambu meminta Aki dan Nini mu untuk menjaga kalian sekeluarga.. Meminta mereka membuatkan pagar gaib disekeliling rumah ini”
“Ambu, cukup!!! Jangan sebut-sebut lagi mereka.. Fadil mohon! Jangan buat Fadil jadi anak durhaka karena membentak-bentak Ambu.. Jika Ambu tidak bisa menuruti permintaan Fadil, lebih baik Ambu kembali ke dusun” Jawabku karena tak mau lagi mendengar Ambu menyebut soal sosok gaib yang mengaku kedua orang tuanya..
“Kau mengusir, Ambu?” Tanya Ambu dengan mata yang sudah tergenangi air mata..
Aku terdiam sejenak, lalu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.. Aku lakukan ini untuk menguasai amarah kembali..
“Terserah Ambu anggap apa kalimat Fadil tadi.. Jika Ambu memang tetap mau disini bersama Fadil dan dua cucu Ambu, tinggalkan semua laku ilmu hitam.. Tapi jika Ambu mau kembali ke dusun, silahkan.. Bawa pula setan-setan yang ada dirumah Fadil.. Rumah ini bukan tempat untuk praktek perdukunan”
sirluciuzenze dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Tutup