- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#5
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
Setibanya aku disekolah, aku melihat keadaan pos satpam dan tidak ada pak Rudi disana. Beliau menyuruhku untuk potong rambut kemarin, tapi tidak aku gubris. Aku berjalan dengan santai menuju kelas. Pelajaran pagi ini kulalui biasa saja tanpa ada hambatan ataupun gangguan sampai jam istirahat
“Kantin Rul?” ajak Hamid
“Engga, lo aja” jawabku
“Lah, tumben” katanya
“Gue udah sarapan” jawabku datar
“Yaudah, mau nitip ga?” tanyanya lagi
“Teh yang di botol aja deh” ucapku
Hamidpun pergi. Aku yang tidak tau mau ngapain, berjalan keluar kelas dan duduk di teras sambil melihat beberapa anak yang sedang bermain basket disana.
“Lo jadi ikut basket?” tanya seseorang mengagetkanku
“Ngagetin aja lu” ucapku “Iya jadi, kenapa emang?”
“Pendaftarannya dibuka hari jum’at ini, untuk semua eskul” kata Vika
“Oh ya?” jawabku datar dengan tatapan masih ke anak-anak yang sedang bermain basket
“Tatap gue kek, gue lagi ngomong sama lo” katanya sambil memegang daguku membuatku melihatnya
“Ck . . apaan sih Vik” ucapku sedikit kesal karena diganggu Vika
Suasana menjadi hening seketika, namun Vika hanya tertawa jahil, sampai akhirnya ia mulai bicara lagi
“Eh, gue mau nanya dong” katanya
“Apaan?”
“Kemarin kan lo bilang gamau pacaran, emang sebelumnya lo pernah pacaran?” tanya Vika
“Engga, belum pernah. Lo?” tanyaku balik padanya
“Engga juga, ada sih yang ngejar, tapi gue risih” katanya
“Risih kenapa? Harusnya lo seneng dong ada yang demen ama lo” ucapku
“Ya kalau tajir, ganteng, gue gapapa hahaha” katanya terkekeh
“Matre lu”
“Masalahnya yang deketin gue ini temen kuliahnya abang gue” katanya
“Lah, terus?”
“Ya temen abang gue ini orangnya maksa banget. Minta nomer gue lewat abang gue, tapi bagusnya abang gue ga pernah kasih. Terus kata abang gue, dia selalu minta gue buat ketemu dia pas dia lagi main kerumah. Tapi gue ga mau. Malah jadi kesel sendiri” jelas Vika bercerita
Aku manggut-manggut menyimak cerita Vika
“Boleh juga tu orang, ngejar lo sampai segitunya, haha” ejekku
“Iyaa, gue akui sih dia cukup ganteng, tapi gatau aja, dia bikin gue risih. Dan yang paling gue benci, dia ngerokok, jadi ah udahlah males” katanya menghela nafas
“Oh jadi lo ga suka cowo perokok?” tanyaku
“Iya lah, bokap gue aja gue marahin kalau ngeroko” katanya
“Buset, beranian amat lu”
Tak lama kemudian Hamid datang membawa minuman teh yang sudah aku pesan.
“Makasih banyak, Mid, kebetulan gue haus” kata Vika yang langsung mengambil minuman itu
Hamid hanya bisa melongo melihat tingkah Vika dan aku mengambilnya setelah Vika minum duluan. Sialan emang.
“Hehe, minta” kata Vika
“Hehe minta, nyenyenye” cibirku menirukan gayanya
Aku kembali ke kelas karena kesal dengan tingkah Vika barusan. Vika hanya tertawa saat itu diikuti Hamid yang malah mentertawaiku.
“Rul, mana buku yang mau lo pinjemin?” ucap Windy tiba-tiba datang
“Ada di tas, ambil aja” ucapku sambil menyimpan tas di atas meja
“Gue cari ya. Kenapa lu kaya yang bete?” tanyanya
“Gapapa” jawabku datar
“Nah ini yang gue cari. Gue pinjem ya, kalau udah selesai gue langsung balikin” katanya
“Bawa”
Sepulang sekolah, aku buru-buru keluar dari gerbang agar tidak bertemu pak Rudi. Bukan takut razia rambut, tapi liat aja kasus kemarin ngomong sama beliau ga ada beresnya. Aku memutuskan untuk pergi cukur rambut sebelum pulang kerumah. Di ujung luar gerbang, ada seseorang dari samping berlalu kemudian menabrakku, dan membuat barangnya terjatuh, yang tak lain adalah handphone
“Eh, sorry kak” ucapku “Gue ga sengaja” sambil mengambil handphonenya
“Ish HP gue rusak kan? Ganti gak?” katanya dengan nada meninggi
“Ganti? Kak, mohon maaf nih ye, tanpa mengurangi rasa hormat. Kan kakak yang nabrak gue, dan ke sekolah juga ga boleh bawa handphone” ucapku
“Ada apa nih?” Muncul laki-laki menghampiri kami
“Ini beb, handphone gue rusak gara-gara dia” kata cewek yang menabrakku tadi
“Anjir beb, geli amat” batinku “Dia yang nabrak gue” ucapku
“Ganti gak? Atau lo terima akibatnya” kata cowo itu
Sebenarnya aku malas berdebat dengan orang-orang tipe kaya gini. Yang udah salah malah nyolot. Pada akhirnya aku mengeluarkan uang seratus ribu pemberian papa, dan aku berikan pada laki-laki tadi.
“Ga jadi dicukur ini mah” batinku
Kedua sejoli tadi juga tak berkata apa-apa lagi. Mungkin sudah merasa digantikan, padahal cuma lepas tutup batre sama batrenya lepas doang. Kadang mengalah itu perlu, mengalah bukan berarti kalah. Tetapi bagiku itu merupakan sebuah kemenangan melawan amarah yang belum keluar. Uang seratus ribu pada saat itu bisa untuk makan di sekolah selama dua minggu, tapi hilang sudah. Bukan rejekiku
“Hei, Rul” ucap Vika tiba-tiba menyenggolku
“Apa?”
“Yeeee masih ngambek soal minuman tadi? Sorry deh, sorry. Gue ganti” katanya
“Ga perlu” jawabku ketus
“Ga, pokonya gue ganti. Ga sopan juga gue kaya tadi” katanya
“Tu tau”
“Mau gue traktir apa?” katanya
“Engga, udah gapapa lupain aja” ucapku
“Ga ga . . Gue ga mau ngerasa punya hutang” katanya
“Yaudah kalau lo maksa, bayarin cukur gue aja” ucapku
“Yaudah mau dicukur dimana?” tanya Vika
“Yuk, ikut gue” ucapku
Aku berjalan menuju tempat cukur langgananku yang berada tak jauh dari sekolah. Tempat itu juga udah jadi langganan anak-anak sekolahan yang mau potong karena takut ada razia. Setibanya disana, aku langsung meminta abang tukang cukur untuk merapikannya saja, agar tidak kena kerah dan telinga. Setelah selesai, Vika langsung membayar abang nya
“Mau makan dulu gak?” tanya Vika
“Kan lu tau duit gue . . . “ ucapku terhenti
“Duit lu kenapa? Habis?” kata Vika
“Ketinggalan dirumah” jawabku
Ga usah lah ya cerita ke dia soal masalah sama kating tadi. Ga ada gunanya juga dan ga ada untungnya juga.
“Yaudah sih nyantai, gue yang traktir. Tapi jangan mahal-mahal” katanya
“Serius nih?” tanyaku
“Iya serius, tapi temenin gue beli buku” katanya
“Sip” ucapku sambil mengacungkan dua jempol
Pertama, kami pergi ke toko buku dulu agar nantinya dirasa lebih santai. Setelah selesai pada jam tiga sore, Vika mengajakku makan mie ayam di sebuah tempat yang ternyata ga jauh dari sekolahnya si kembar. Kalau mereka sampai tahu, pasti jadi bahan ejekan nih.
“Rumah lo dimana sih?” tanya Vika
“Di di komplek perumahan Melody Indah, kenapa?” jawabku
“Oh, engga. Tajir juga lo, hahaha” katanya
“Rumah bokap gue. Bokap gue yang tajir, gue numpang doang” ucapku
“Masih bisa jalan kaki ya, tapi tetep sih lebih cepet pake motor. Jalan kaki bisa setengah jam” kata Vika menjelaskan
Aku berdiam sejenak
“Lah iya ya, jalan kaki ga terlalu lama, tapi Ani sama Ana minta jemput” gumamku dalam hati
Tak lama saat kami sedang menikmati mie ayam kami, dua orang cewek dari kejauhan berjalan menuju kemari, dan mereka adalah Ana dan Ani
“Sialan, ngapain kesini coba” gumamku dalam hati
“Kenapa Rul?” tanya Vika
“Gapapa” jawabku berusaha bersembunyi, namun usahaku gagal
Ana dan Ani melihatku dan Vika yang sedang makan diisini
“Aa lagi disini juga” ucap Ana sambil salim padaku diikuti oleh Ani
“Siapa Rul?” tanya Vika
“Adek gue” jawabku
“Hallo . . . gue Vik . . .” ucapan Vika terputus ketika melihat dua orang gadis didepannya
“Kalian . . . kembar?” ucap Vika
“Iya kak, kami kembar” jawab Ana
“Waah, adek lo cantik-cantik, kakak nya burik” ejek Vika
Aku tak menanggapi ucapan Vika. Ana dan Ani tertawa mendengar candaan Vika. Kemudian Vika mengajak duduk mereka dan ikut makan bersama kami.
“Kalian mirip banget. Gimana bedainnya?” tanya Vika
“Liat gelang atau aksesoris yang dipake. Ana lebih suka warna kuning, sementara Ani warna pink. Lama-lama juga tau kok tanpa liat itu” ucapku
“Oooo” Vika manggut-manggut memahami ucapanku “Kalian kelas berapa?”
“Kelas tiga kak” jawab Ani
“Loh, umurnya beda setahun?” tanya Vika padaku
“Beda dua tahun, gue telat masuk SD. Kata mama biar ga terlalu jauh bedanya pas sekolah, bisa jaga” jawabku
“Tapi asli sih ini gue baru liat anak kembar kaya mereka” kata Vika
Setelah selesai makan, Vika pamit pulang duluan pakai ojek, sementara aku dan si kembar berjalan kaki sampai rumah. Awalnya mereka nanya kenapa ga naik angkot aja. Lalu aku menceritakan kejadian tadi pada mereka, dengan syarat jangan bilang ke papa ataupun mama. Takutnya dibilang ga bisa megang uang. Lebih baik aku ga jajan daripada harus diomeli. Toh itung-itung puasa
“Tadi pacar aa?” tanya Ani
“Temen sekelas aa itu” jawabku
“Cantik ya a’ temennya” kata Ana
“Cantik tapi gatau malu. Tadi siang beli minum langsung dia ambil. Meskipun ujung-ujungnya diganti sih” ucapku
“Haha, makanya bawa minum aja a” kata Ana
“Iya deh nanti bawa, kalau inget” jawabku
“Papa ga jemput?” tanyaku
Baru saja ditanyakan mobil papa muncul dan berhenti didepan kami. Aku masuk dan duduk didepan sementara si kembar dibelakang
“Kalian bisa bareng?” tanya papa
“Iya pa, tadi aa lagi pacaran” ucap Ani
“Ani apaan sih” ucapku kesal
“Iya pa, makan mie ayam, romantis gitu sampai pas kita dateng aa langsung bete. Hahaha” goda Ana
Papa hanya tertawa mendengar ocehan si kembar, tak lama kemudian kami tiba dirumah. Setelah salim pada mama aku langsung menuju kamarku dan mengambil handphoneku. Tidak ada SMS apapun yang masuk karena memang kebanyakan aku tidak memegang HP. Berbeda dengan Ana dan Ani yang masih diperbolehkan membawa HP ke sekolah
“Kantin Rul?” ajak Hamid
“Engga, lo aja” jawabku
“Lah, tumben” katanya
“Gue udah sarapan” jawabku datar
“Yaudah, mau nitip ga?” tanyanya lagi
“Teh yang di botol aja deh” ucapku
Hamidpun pergi. Aku yang tidak tau mau ngapain, berjalan keluar kelas dan duduk di teras sambil melihat beberapa anak yang sedang bermain basket disana.
“Lo jadi ikut basket?” tanya seseorang mengagetkanku
“Ngagetin aja lu” ucapku “Iya jadi, kenapa emang?”
“Pendaftarannya dibuka hari jum’at ini, untuk semua eskul” kata Vika
“Oh ya?” jawabku datar dengan tatapan masih ke anak-anak yang sedang bermain basket
“Tatap gue kek, gue lagi ngomong sama lo” katanya sambil memegang daguku membuatku melihatnya
“Ck . . apaan sih Vik” ucapku sedikit kesal karena diganggu Vika
Suasana menjadi hening seketika, namun Vika hanya tertawa jahil, sampai akhirnya ia mulai bicara lagi
“Eh, gue mau nanya dong” katanya
“Apaan?”
“Kemarin kan lo bilang gamau pacaran, emang sebelumnya lo pernah pacaran?” tanya Vika
“Engga, belum pernah. Lo?” tanyaku balik padanya
“Engga juga, ada sih yang ngejar, tapi gue risih” katanya
“Risih kenapa? Harusnya lo seneng dong ada yang demen ama lo” ucapku
“Ya kalau tajir, ganteng, gue gapapa hahaha” katanya terkekeh
“Matre lu”
“Masalahnya yang deketin gue ini temen kuliahnya abang gue” katanya
“Lah, terus?”
“Ya temen abang gue ini orangnya maksa banget. Minta nomer gue lewat abang gue, tapi bagusnya abang gue ga pernah kasih. Terus kata abang gue, dia selalu minta gue buat ketemu dia pas dia lagi main kerumah. Tapi gue ga mau. Malah jadi kesel sendiri” jelas Vika bercerita
Aku manggut-manggut menyimak cerita Vika
“Boleh juga tu orang, ngejar lo sampai segitunya, haha” ejekku
“Iyaa, gue akui sih dia cukup ganteng, tapi gatau aja, dia bikin gue risih. Dan yang paling gue benci, dia ngerokok, jadi ah udahlah males” katanya menghela nafas
“Oh jadi lo ga suka cowo perokok?” tanyaku
“Iya lah, bokap gue aja gue marahin kalau ngeroko” katanya
“Buset, beranian amat lu”
Tak lama kemudian Hamid datang membawa minuman teh yang sudah aku pesan.
“Makasih banyak, Mid, kebetulan gue haus” kata Vika yang langsung mengambil minuman itu
Hamid hanya bisa melongo melihat tingkah Vika dan aku mengambilnya setelah Vika minum duluan. Sialan emang.
“Hehe, minta” kata Vika
“Hehe minta, nyenyenye” cibirku menirukan gayanya
Aku kembali ke kelas karena kesal dengan tingkah Vika barusan. Vika hanya tertawa saat itu diikuti Hamid yang malah mentertawaiku.
“Rul, mana buku yang mau lo pinjemin?” ucap Windy tiba-tiba datang
“Ada di tas, ambil aja” ucapku sambil menyimpan tas di atas meja
“Gue cari ya. Kenapa lu kaya yang bete?” tanyanya
“Gapapa” jawabku datar
“Nah ini yang gue cari. Gue pinjem ya, kalau udah selesai gue langsung balikin” katanya
“Bawa”
Sepulang sekolah, aku buru-buru keluar dari gerbang agar tidak bertemu pak Rudi. Bukan takut razia rambut, tapi liat aja kasus kemarin ngomong sama beliau ga ada beresnya. Aku memutuskan untuk pergi cukur rambut sebelum pulang kerumah. Di ujung luar gerbang, ada seseorang dari samping berlalu kemudian menabrakku, dan membuat barangnya terjatuh, yang tak lain adalah handphone
“Eh, sorry kak” ucapku “Gue ga sengaja” sambil mengambil handphonenya
“Ish HP gue rusak kan? Ganti gak?” katanya dengan nada meninggi
“Ganti? Kak, mohon maaf nih ye, tanpa mengurangi rasa hormat. Kan kakak yang nabrak gue, dan ke sekolah juga ga boleh bawa handphone” ucapku
“Ada apa nih?” Muncul laki-laki menghampiri kami
“Ini beb, handphone gue rusak gara-gara dia” kata cewek yang menabrakku tadi
“Anjir beb, geli amat” batinku “Dia yang nabrak gue” ucapku
“Ganti gak? Atau lo terima akibatnya” kata cowo itu
Sebenarnya aku malas berdebat dengan orang-orang tipe kaya gini. Yang udah salah malah nyolot. Pada akhirnya aku mengeluarkan uang seratus ribu pemberian papa, dan aku berikan pada laki-laki tadi.
“Ga jadi dicukur ini mah” batinku
Kedua sejoli tadi juga tak berkata apa-apa lagi. Mungkin sudah merasa digantikan, padahal cuma lepas tutup batre sama batrenya lepas doang. Kadang mengalah itu perlu, mengalah bukan berarti kalah. Tetapi bagiku itu merupakan sebuah kemenangan melawan amarah yang belum keluar. Uang seratus ribu pada saat itu bisa untuk makan di sekolah selama dua minggu, tapi hilang sudah. Bukan rejekiku
“Hei, Rul” ucap Vika tiba-tiba menyenggolku
“Apa?”
“Yeeee masih ngambek soal minuman tadi? Sorry deh, sorry. Gue ganti” katanya
“Ga perlu” jawabku ketus
“Ga, pokonya gue ganti. Ga sopan juga gue kaya tadi” katanya
“Tu tau”
“Mau gue traktir apa?” katanya
“Engga, udah gapapa lupain aja” ucapku
“Ga ga . . Gue ga mau ngerasa punya hutang” katanya
“Yaudah kalau lo maksa, bayarin cukur gue aja” ucapku
“Yaudah mau dicukur dimana?” tanya Vika
“Yuk, ikut gue” ucapku
Aku berjalan menuju tempat cukur langgananku yang berada tak jauh dari sekolah. Tempat itu juga udah jadi langganan anak-anak sekolahan yang mau potong karena takut ada razia. Setibanya disana, aku langsung meminta abang tukang cukur untuk merapikannya saja, agar tidak kena kerah dan telinga. Setelah selesai, Vika langsung membayar abang nya
“Mau makan dulu gak?” tanya Vika
“Kan lu tau duit gue . . . “ ucapku terhenti
“Duit lu kenapa? Habis?” kata Vika
“Ketinggalan dirumah” jawabku
Ga usah lah ya cerita ke dia soal masalah sama kating tadi. Ga ada gunanya juga dan ga ada untungnya juga.
“Yaudah sih nyantai, gue yang traktir. Tapi jangan mahal-mahal” katanya
“Serius nih?” tanyaku
“Iya serius, tapi temenin gue beli buku” katanya
“Sip” ucapku sambil mengacungkan dua jempol
Pertama, kami pergi ke toko buku dulu agar nantinya dirasa lebih santai. Setelah selesai pada jam tiga sore, Vika mengajakku makan mie ayam di sebuah tempat yang ternyata ga jauh dari sekolahnya si kembar. Kalau mereka sampai tahu, pasti jadi bahan ejekan nih.
“Rumah lo dimana sih?” tanya Vika
“Di di komplek perumahan Melody Indah, kenapa?” jawabku
“Oh, engga. Tajir juga lo, hahaha” katanya
“Rumah bokap gue. Bokap gue yang tajir, gue numpang doang” ucapku
“Masih bisa jalan kaki ya, tapi tetep sih lebih cepet pake motor. Jalan kaki bisa setengah jam” kata Vika menjelaskan
Aku berdiam sejenak
“Lah iya ya, jalan kaki ga terlalu lama, tapi Ani sama Ana minta jemput” gumamku dalam hati
Tak lama saat kami sedang menikmati mie ayam kami, dua orang cewek dari kejauhan berjalan menuju kemari, dan mereka adalah Ana dan Ani
“Sialan, ngapain kesini coba” gumamku dalam hati
“Kenapa Rul?” tanya Vika
“Gapapa” jawabku berusaha bersembunyi, namun usahaku gagal
Ana dan Ani melihatku dan Vika yang sedang makan diisini
“Aa lagi disini juga” ucap Ana sambil salim padaku diikuti oleh Ani
“Siapa Rul?” tanya Vika
“Adek gue” jawabku
“Hallo . . . gue Vik . . .” ucapan Vika terputus ketika melihat dua orang gadis didepannya
“Kalian . . . kembar?” ucap Vika
“Iya kak, kami kembar” jawab Ana
“Waah, adek lo cantik-cantik, kakak nya burik” ejek Vika
Aku tak menanggapi ucapan Vika. Ana dan Ani tertawa mendengar candaan Vika. Kemudian Vika mengajak duduk mereka dan ikut makan bersama kami.
“Kalian mirip banget. Gimana bedainnya?” tanya Vika
“Liat gelang atau aksesoris yang dipake. Ana lebih suka warna kuning, sementara Ani warna pink. Lama-lama juga tau kok tanpa liat itu” ucapku
“Oooo” Vika manggut-manggut memahami ucapanku “Kalian kelas berapa?”
“Kelas tiga kak” jawab Ani
“Loh, umurnya beda setahun?” tanya Vika padaku
“Beda dua tahun, gue telat masuk SD. Kata mama biar ga terlalu jauh bedanya pas sekolah, bisa jaga” jawabku
“Tapi asli sih ini gue baru liat anak kembar kaya mereka” kata Vika
Setelah selesai makan, Vika pamit pulang duluan pakai ojek, sementara aku dan si kembar berjalan kaki sampai rumah. Awalnya mereka nanya kenapa ga naik angkot aja. Lalu aku menceritakan kejadian tadi pada mereka, dengan syarat jangan bilang ke papa ataupun mama. Takutnya dibilang ga bisa megang uang. Lebih baik aku ga jajan daripada harus diomeli. Toh itung-itung puasa
“Tadi pacar aa?” tanya Ani
“Temen sekelas aa itu” jawabku
“Cantik ya a’ temennya” kata Ana
“Cantik tapi gatau malu. Tadi siang beli minum langsung dia ambil. Meskipun ujung-ujungnya diganti sih” ucapku
“Haha, makanya bawa minum aja a” kata Ana
“Iya deh nanti bawa, kalau inget” jawabku
“Papa ga jemput?” tanyaku
Baru saja ditanyakan mobil papa muncul dan berhenti didepan kami. Aku masuk dan duduk didepan sementara si kembar dibelakang
“Kalian bisa bareng?” tanya papa
“Iya pa, tadi aa lagi pacaran” ucap Ani
“Ani apaan sih” ucapku kesal
“Iya pa, makan mie ayam, romantis gitu sampai pas kita dateng aa langsung bete. Hahaha” goda Ana
Papa hanya tertawa mendengar ocehan si kembar, tak lama kemudian kami tiba dirumah. Setelah salim pada mama aku langsung menuju kamarku dan mengambil handphoneku. Tidak ada SMS apapun yang masuk karena memang kebanyakan aku tidak memegang HP. Berbeda dengan Ana dan Ani yang masih diperbolehkan membawa HP ke sekolah
Diubah oleh neopo 31-08-2022 17:18
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup