- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#1
Prolog
Suara klakson menjadi alunan nada yang tiap pagi terdengar di kota Jakarta. Awan yang bergemuruh menandakan bahwa hujan akan segera turun. Aku mempercepat langkah karena takutnya hujan akan turun. Jalanan yang masih banyak genangan air menandakan bahwa hujan semalam cukup besar. Sampai tiba-tiba motor melaju kencang menginjak genangan air sehingga menyirpatkan air kearahku.
“Sialan . . “ batinku sambil membersihkan cipratan itu
Untung hanya mengenai jaket saja. Tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, aku melanjutkan perjalananku ke sekolah. Sebuah SMA yang menjadi salah satu sekolah favorit di kota Jakarta.
“Rul . . !” panggil seseorang ketika aku memasuki gerbang
Aku menoleh mencari sumber suara, yang ternyata dia adalah Hamid, teman sekelasku.
“Buru-buru amat” ucap Hamid menepuk pundakku
“Udah mulai gerimis, Mid. Gue belum ngerjain PR. Lu udah?” tanyaku sambil lanjut berjalan.
“Belum, masih kelas satu ini. Nyantai aja” kata Hamid nyengir kuda
“Awas aja bilang belum ngerjain, malah ngumpulin” ucapku menatap tajam
“Eh itu jaket lo kenapa dah? Ga lu cuci?” tanyanya sambil menarik jaketku
“Tadi kecipratan motor yang lagi ngebut. Sialan emang” jawabku kesal
“Hahaha, yaudah yang penting ga kena seragam kan” katanya dengan tawa yang seolah meledek
Di pos satpam, aku diberhentikan oleh salah satu staff sekolah.
“Siapa nama kamu?” tanya pak Rudi
“Khairul, pak” jawabku datar
“Siapa nama lengkap kamu? Dari kelas mana?” tanyanya lagi
“Khairul Purnama, dari kelas 10-4”
“Rambut kamu panjang melebihi telinga, besok potong, kalau engga, bapak yang potong” ucap beliau
“Lah, emang rambut panjang ganggu proses belajar pak?” tanyaku dengan nada sedikit meninggi
“Memang tidak, tapi kan sekolah punya aturan kalau rambut tidak boleh panjang mengenai kerah belakang dan mengenai telinga untuk laki-laki” jelas beliau dengan sedikit emosi
“Dan karena kamu sekolah disini, maka ikuti aturan yang ada”
“Baik pak, saya akan ikuti aturan sekolah, meski saya ga ngerti maksud dari aturan rambut ga boleh panjang” ucapku sedikit ngedumel
“Kalau mau protes, silahkan datangi kepala sekolah” kata pak Rudi sambil menunjuk kantor kepala sekolah
Aku berjalan meninggalkan beliau. Percakapan tadi sukses menjadi pusat perhatian siswa lain yang melintas. Hamid yang sedari tadi bersamaku malah diam saja tak berbicara. Entah karena takut atau memang menghormati beliau yang sedang berbicara.
Hamid sendiri merupakan siswa yang cukup pintar dikelas. Dilihat dari dia yang selalu ditunjuk oleh guru untuk mengerjakan soal, dan jawabannya selalu tepat. Aku jadi ragu kalau dia belum mengerjakan PR.
Jam istirahat hujan sedang turun dengan derasnya. Hujan mulai turun saat jam pertama tadi. Mau ke kantinpun harus memutar lewat ruang guru agar tidak kehujanan. Daripada nahan lapar sampai siang mau tidak mau tetap ke kantin juga
“Ikut ga?” tanyaku pada Hamid
“Engga ah males, hujan juga. Becek” jawabnya sambil mengobrol dengan temanku yang lain
“Yaudah” ucapku sambil berlalu
Peraturan lainnya disekolahku ialah, tidak diperbolehkan membaha handphone. Jika kedapatan membawa handphone akan disita selama satu minggu. Tujuannya katanya agar bisa saling komunikasi dengan orang-orang di lingkungan sekolah.
Ada beberapa siswa saja yang berada dikantin. Itupun yang kelasnya dekat dengan kantin. Ada beberapa kakak tingkat juga yang sedang nongkrong di kantin
“Bu, nasi soto satu” ucapku pada ibu kantin
“Siap” jawab ibu kantin yang tengah sibuk memasak
Sembari menunggu pesanan, ada dua orang cewek yang merupakan teman sekelasku juga, datang menghampiri dan duduk didepanku
“Jajan sendirian aja nih” ucap Vika sambil duduk bersama Windy
“Siapa yang nyuruh lo duduk disitu?” ucapku dengan datar
“Dih, emang ini kantin punya mak lo?” kata Vika dengan sedikit nada meninggi
“Yeee biasa aja kali, bercanda gue” ucapku
“Lo pesen gih, gue baso ya” kata Vika pada Windy
“Oke siap, minumnya?” tanya Windy
“Teh anget aja deh” kata Vika
Windypun berlalu memesan pesanan Vika. Gadis ini, yang sekarang sedang dihadapanku juga merupakan salah satu gadis yang aktif dalam pelajaran. Bahkan Vika mendapat beasiswa saat masuk sekolah ini. Bukan main.
“Lo ikutan eskul apa Rul?” tanya Vika sepertinya mencoba basa-basi
“Gatau gue, masih mikir-mikir. Pengennya sih basket” ucapku sambil berfikir. “Lo sendiri?”
“Gue pengen fotografi. Windy juga tuh” ucap Vika
“Oh, suka fotografi tah?” tanyaku
“Suka banget gue. Bokap gue juga kan kerja sebagai fotografer wedding gitu” jelas Vika
“Oooo” aku hanya manggut-manggut
Pesananku tiba, nasi soto dan air putih hangat. Aku langsung menyantap makananku karena tadi pagi ga sempat sarapan.
“Pelan-pelan woy” ucap Windy
“Laper gue Win” jawabku dengan mulut penuh dengan makanan
“Laper sih laper, tapi kaya kerasukan lo” kata Vika
“Bodo”
Aku yang sudah selesai makan masih berada dikantin, sementara Windy dan Vika masih menikmati makanan mereka. Hujan mulai mereda, namun belum berhenti total.
“Akhirnya mereda juga ni hujan” ucap Windy sambil melihat langit
“Kenapa emang?” tanya Vika
“Pulang sekolah pengen beli buku novel. Kata kakak gue ada satu cerita yang katanya bagus. Pas gue baca ternyata bersambung dong. Katanya cari aja di Gramed” cerita Windy
“Buku apa emang?” tanya gue
“R.L Stine, judulnya Fear Hall. Gue baru baca yang The Beginning” katanya
“Oh, lo cari yang The Conclusion?” tanyaku
“Hooh, eh tapi kok lo tau sih? Baca juga?” tanya Windy penasaran
“Iya, gue punya bukunya. Susah dapetnya, gue jamin di Gramedia juga kalau lo beruntung dapet tuh buku” ucapku
“Yaaah, gue pinjem dong. Boleh ga? Penasaran lanjutannya. Gemes gue liat kelakuan si Darryl” katanya
Darryl adalah salah satu tokoh yang ada dalam cerita tersebut
“Yaudah besok gue bawa. Kalau inget” ucapku
“Emang ga lo pake?” tanya Windy lagi
“Engga, udah baca gue” ucapku
“Wiiii thank’s Rul. Kalau beneran ada, boleh minjem, nanti gue traktir deh” kata Windy
“Ehem” Vika berdehem
“Eh hallo Vik. Apakabar” godaku
“Gue dicuekin nih ceritanya” kata Vika ngambek
“Sorry, gue semangat banget sih, ternyata ada yang punya buku itu” kata Windy
Selesai makan, kami bertiga kembali ke kelas untuk melanjutkan pembelajaran. Sedikit info tentang Vika dan Windy. Mereka berdua bersahabat sejak SMP dan memutuskan untuk masuk di SMA yang sama. Kebetulan kelas yang mereka dapat juga sama. Seperti yang aku katakan tadi, bahwa gadis yang bernama Vika Amelia Restu yang biasa dipanggil Vika ini adalah anak yang aktif dalam pelajaran. Sifatnya yang mudah bergaul disenangi oleh teman-teman sekelas dan para guru.
Sementara satu lagi, Windy Adinata Lesmana, merupakan saingan Vika juga dalam bidang akademik. Windy ini lebih kalem kalau dibandingkan Vika yang mudah bergaul dengan orang lain. Windy lebih terkesan judes sama orang yang belum ia kenal. Tapi pas udah kenal, dia orangnya cukup asik.
Sepulang sekolah, langit sudah menghentikan tangisnya dan membawa sebuah pelangi yang teramat cantik. Aku menatap pelangi itu sambil berjalan keluar gerbang sekolah.
“Cantik ya, Rul” ucap seseorang tiba-tiba, yang tak lain adalah Vika
“Iya nih, udah lama banget ga liat pelangi” ucapku
“Wey, berdua aja nih” ucap Hamid juga tiba-tiba datang
“Apaan? Lo ga diundang, hus hus” kata Vika sambil menggerakan tangannya yang seolah mengusir
“Buset gitu amat ama gue” kata Hamid
“Lo ga bareng Windy?” tanyaku
“Windy sama cowo nya. Itu loh si Raka, anak kelas tiga yang show off eskul futsal waktu MOS” kata Vika menjelaskan
“Waah kalah start gue” ucapku cengengesan
“Hah? Emang lo suka sama Windy?” tanya Vika
“Engga, yaa cantik sih memang. Tapi, engga deh. Gue ga mau pacaran” ucapku
“Halah, sok sok an gamau pacaran, itu janda sebelah rumah lu embat” ucap Hamid menyenggolku
“Mana ada. Mbak Yura cuma minta tolong benerin lampu doang, tapi ga hati-hati jadi gue jatuh. Dia cuma ngobatin aja. Yang gue tau dia juga bukan janda. Belum nikah malahan” jelasku pada Hamid
Mbak Yura merupakan tetanggaku yang banyak dikagumi orang karena kecantikannya. Soal Hamid yang bilang kalau dia janda, sebenarnya itu hanya gosip saja. Dia memang pernah memiliki kekasih dulu nya, tapi si cowoknya ini nikah sama orang. Masalahnya si cowoknya ini ga ngaku kalau udah nikah, malah ngakunya nikah sama mbak Yura ini. Sampai putus ternyata si cowok ini nyebarin gosip ga benar bahwa mba Yura dan cowoknya cerai. Entah tujuannya apa. Padahal katanya si cowoknya ini baik udah dikenal sama orang komplek Aku mendengar itu dari kakakku yang merupakan teman dekatnya mbak Yura.
Setibanya dirumah, aku langsung melempar tasku ke kasur dan merebahkan tubuhku disana. Hari ini merupakan hari yang membosankan, seperti biasanya. Tidak ada yang menarik disekolah.
“Makan dulu nak” ucap mama seketika masuk ke kamarku
“Iya nanti, masih cape” jawabku sambil menghela nafas
“Nanti kamu jemput Ani sama Ana disekolah ya, papa ga bisa jemput. Katanya ada lembur” kata mama
“Jemput gimana ma? Pake motor bertiga gitu?” tanyaku
“Engga, nanti kan ada pak Mansyur bawa motornya ikut jemput juga” kata mama
Pak Mansyur, atau yang biasa dipanggil pak Man merupakan tukang kebun dirumah. Kami juga memiliki satu ART yang selalu membantu ibu dirumah, beliau adalah Bi Yani. Namun karena mereka sudah lama bekerja disini, mereka sudah seperti keluarga kami sendiri
“Iya deh ma” jawabku pasrah
Ani, dan Ana adalah adik-adikku. Mereka masih kelas tiga SMP. Ya berbeda setahun denganku dari segi pendidikan. Namun dari usia, kami berbeda dua tahun. Aku memang masuk terlambat ketika SD. Ani yang memiliki nama lengkap Khairani Liviana, dan Ina yang memiliki nama lengkap Khairana Liviana. Hanya berbeda depannya saja. Liviana yang berarti “Bulan Putih”, sementara namaku Khairul Purnama, seperti bulan Purnama, yang berarti “Terang”
Entah kenapa mama sama papa memberi nama kami dengan mengambil kata dari bulan. Tapi selama tidak memiliki arti yang buruk, tidak apa-apa. Info tambahan, bahwa mereka kembar. Biasanya Ani dan Ana dijemput papa pake mobil, tapi memang ga selalu. Kadang aku jemput maksain pakai motor bertiga, namun karena sekarang pak Man dibelikan motor bekas oleh ayah, sebagai rasa terima kasih karena sudah banyak membantu dirumah, jadi dijemput bersama pak Man juga. Dan pak Man juga tidak tinggal disini, melainkan mengontrak di tempat yang tak jauh dari komplek. Sementara bi Yani tinggal disini dan memang sudah disiapkan kamar khusus untuk beliau.
Jam tiga sore, aku ke sekolah bersama pak Man untuk menjemput si kembar. Satu persatu siswa-siswi sekolah sudah mulai keluar dari gerbang sekolah. Karena mau ujian nasional, mereka diharuskan ikut pemantapan setelah pulang sekolah.
“Nah itu mereka, jang” ucap pak Man sambil menunjuk
Aku dipanggil ujang oleh pak Man, karena beliau juga memiliki darah sunda. Sama sepertiku
“Itu si aa” ucap Ani sambil melambai kearahku
“Asiik dijemput” kata Ana sambil berlari kecil kearahku
Aku hanya tersenyum kecil ke arah mereka
“Aku sama si aa, kamu sama pak Man” kata Ani
“Ocehh” jawab Ana sambil menyimbolkan simbol oke dengan tangannya
“Nanti ke indomaret dulu ya, mau jajan. Aa yang traktir” ucap Ana
“Heh apaan?” ucapku sedikit bingung
“Udah ayo cepet jalan” kata Ani sambil memukul-mukul pundakku
Tanpa bisa melakukan apa-apa, aku memacu motorku mengikuti pak Man. Setelah jajan cukup banyak yang membuat uang jajanku selama seminggu ini habis buat jajanin si kembar.
Keesokan paginya, sekitar jam 6 aku mengambil nasi dan lauknya untuk sarapan. Si kembar masih siap-siap dikamarnya.
“Tumben sarapan, biasanya minum susu aja” ucap mama sambil menuangkan air minum
“Ga akan bisa jajan ma” jawabku sedikit ketus
“Loh kenapa? Jatah mingguanmu habis?” tanya papa yang baru datang dan duduk bersamaku
“Tanya sama Ani, sama Ana aja tuh” jawabku tetap ketus
“Iih kok kita sih” kata Ana yang datang bersama Ani
“Iya, kok jadi kita sih” lanjut Ani
“Minta traktir udah kaya mau kemah seminggu” ucapku kesal
“Haha, yasudah, jangan berantem. Anak papa kok pada berantem. Sekali-sekali kamu traktir mereka gapapa kan” kata papa
“Iya, udah habis juga pa, mau gimana” ucapku
“Yasudah, nih papa ganti uangnya” kata papa sambil mengeluarkan dompetnya, lalu memberikanku satu lembar uang seratus ribu
“Waaah makasih paaa” ucapku girang melanjutkan makan
“Ga kebanyakan pa?” ucap mama
“Engga, tapi inget jajanin adikmu, dan kalian jangan kebanyakan jajan. Kan kalian juga udah papa kasih jatah” ucap papa pada si kembar
“Iya paa” jawab mereka bersamaan
“Yasudah sarapannya habiskan, kita berangkat sama-sama pake mobil” ucap papa
“Sialan . . “ batinku sambil membersihkan cipratan itu
Untung hanya mengenai jaket saja. Tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, aku melanjutkan perjalananku ke sekolah. Sebuah SMA yang menjadi salah satu sekolah favorit di kota Jakarta.
“Rul . . !” panggil seseorang ketika aku memasuki gerbang
Aku menoleh mencari sumber suara, yang ternyata dia adalah Hamid, teman sekelasku.
“Buru-buru amat” ucap Hamid menepuk pundakku
“Udah mulai gerimis, Mid. Gue belum ngerjain PR. Lu udah?” tanyaku sambil lanjut berjalan.
“Belum, masih kelas satu ini. Nyantai aja” kata Hamid nyengir kuda
“Awas aja bilang belum ngerjain, malah ngumpulin” ucapku menatap tajam
“Eh itu jaket lo kenapa dah? Ga lu cuci?” tanyanya sambil menarik jaketku
“Tadi kecipratan motor yang lagi ngebut. Sialan emang” jawabku kesal
“Hahaha, yaudah yang penting ga kena seragam kan” katanya dengan tawa yang seolah meledek
Di pos satpam, aku diberhentikan oleh salah satu staff sekolah.
“Siapa nama kamu?” tanya pak Rudi
“Khairul, pak” jawabku datar
“Siapa nama lengkap kamu? Dari kelas mana?” tanyanya lagi
“Khairul Purnama, dari kelas 10-4”
“Rambut kamu panjang melebihi telinga, besok potong, kalau engga, bapak yang potong” ucap beliau
“Lah, emang rambut panjang ganggu proses belajar pak?” tanyaku dengan nada sedikit meninggi
“Memang tidak, tapi kan sekolah punya aturan kalau rambut tidak boleh panjang mengenai kerah belakang dan mengenai telinga untuk laki-laki” jelas beliau dengan sedikit emosi
“Dan karena kamu sekolah disini, maka ikuti aturan yang ada”
“Baik pak, saya akan ikuti aturan sekolah, meski saya ga ngerti maksud dari aturan rambut ga boleh panjang” ucapku sedikit ngedumel
“Kalau mau protes, silahkan datangi kepala sekolah” kata pak Rudi sambil menunjuk kantor kepala sekolah
Aku berjalan meninggalkan beliau. Percakapan tadi sukses menjadi pusat perhatian siswa lain yang melintas. Hamid yang sedari tadi bersamaku malah diam saja tak berbicara. Entah karena takut atau memang menghormati beliau yang sedang berbicara.
Hamid sendiri merupakan siswa yang cukup pintar dikelas. Dilihat dari dia yang selalu ditunjuk oleh guru untuk mengerjakan soal, dan jawabannya selalu tepat. Aku jadi ragu kalau dia belum mengerjakan PR.
Jam istirahat hujan sedang turun dengan derasnya. Hujan mulai turun saat jam pertama tadi. Mau ke kantinpun harus memutar lewat ruang guru agar tidak kehujanan. Daripada nahan lapar sampai siang mau tidak mau tetap ke kantin juga
“Ikut ga?” tanyaku pada Hamid
“Engga ah males, hujan juga. Becek” jawabnya sambil mengobrol dengan temanku yang lain
“Yaudah” ucapku sambil berlalu
Peraturan lainnya disekolahku ialah, tidak diperbolehkan membaha handphone. Jika kedapatan membawa handphone akan disita selama satu minggu. Tujuannya katanya agar bisa saling komunikasi dengan orang-orang di lingkungan sekolah.
Ada beberapa siswa saja yang berada dikantin. Itupun yang kelasnya dekat dengan kantin. Ada beberapa kakak tingkat juga yang sedang nongkrong di kantin
“Bu, nasi soto satu” ucapku pada ibu kantin
“Siap” jawab ibu kantin yang tengah sibuk memasak
Sembari menunggu pesanan, ada dua orang cewek yang merupakan teman sekelasku juga, datang menghampiri dan duduk didepanku
“Jajan sendirian aja nih” ucap Vika sambil duduk bersama Windy
“Siapa yang nyuruh lo duduk disitu?” ucapku dengan datar
“Dih, emang ini kantin punya mak lo?” kata Vika dengan sedikit nada meninggi
“Yeee biasa aja kali, bercanda gue” ucapku
“Lo pesen gih, gue baso ya” kata Vika pada Windy
“Oke siap, minumnya?” tanya Windy
“Teh anget aja deh” kata Vika
Windypun berlalu memesan pesanan Vika. Gadis ini, yang sekarang sedang dihadapanku juga merupakan salah satu gadis yang aktif dalam pelajaran. Bahkan Vika mendapat beasiswa saat masuk sekolah ini. Bukan main.
“Lo ikutan eskul apa Rul?” tanya Vika sepertinya mencoba basa-basi
“Gatau gue, masih mikir-mikir. Pengennya sih basket” ucapku sambil berfikir. “Lo sendiri?”
“Gue pengen fotografi. Windy juga tuh” ucap Vika
“Oh, suka fotografi tah?” tanyaku
“Suka banget gue. Bokap gue juga kan kerja sebagai fotografer wedding gitu” jelas Vika
“Oooo” aku hanya manggut-manggut
Pesananku tiba, nasi soto dan air putih hangat. Aku langsung menyantap makananku karena tadi pagi ga sempat sarapan.
“Pelan-pelan woy” ucap Windy
“Laper gue Win” jawabku dengan mulut penuh dengan makanan
“Laper sih laper, tapi kaya kerasukan lo” kata Vika
“Bodo”
Aku yang sudah selesai makan masih berada dikantin, sementara Windy dan Vika masih menikmati makanan mereka. Hujan mulai mereda, namun belum berhenti total.
“Akhirnya mereda juga ni hujan” ucap Windy sambil melihat langit
“Kenapa emang?” tanya Vika
“Pulang sekolah pengen beli buku novel. Kata kakak gue ada satu cerita yang katanya bagus. Pas gue baca ternyata bersambung dong. Katanya cari aja di Gramed” cerita Windy
“Buku apa emang?” tanya gue
“R.L Stine, judulnya Fear Hall. Gue baru baca yang The Beginning” katanya
“Oh, lo cari yang The Conclusion?” tanyaku
“Hooh, eh tapi kok lo tau sih? Baca juga?” tanya Windy penasaran
“Iya, gue punya bukunya. Susah dapetnya, gue jamin di Gramedia juga kalau lo beruntung dapet tuh buku” ucapku
“Yaaah, gue pinjem dong. Boleh ga? Penasaran lanjutannya. Gemes gue liat kelakuan si Darryl” katanya
Darryl adalah salah satu tokoh yang ada dalam cerita tersebut
“Yaudah besok gue bawa. Kalau inget” ucapku
“Emang ga lo pake?” tanya Windy lagi
“Engga, udah baca gue” ucapku
“Wiiii thank’s Rul. Kalau beneran ada, boleh minjem, nanti gue traktir deh” kata Windy
“Ehem” Vika berdehem
“Eh hallo Vik. Apakabar” godaku
“Gue dicuekin nih ceritanya” kata Vika ngambek
“Sorry, gue semangat banget sih, ternyata ada yang punya buku itu” kata Windy
Selesai makan, kami bertiga kembali ke kelas untuk melanjutkan pembelajaran. Sedikit info tentang Vika dan Windy. Mereka berdua bersahabat sejak SMP dan memutuskan untuk masuk di SMA yang sama. Kebetulan kelas yang mereka dapat juga sama. Seperti yang aku katakan tadi, bahwa gadis yang bernama Vika Amelia Restu yang biasa dipanggil Vika ini adalah anak yang aktif dalam pelajaran. Sifatnya yang mudah bergaul disenangi oleh teman-teman sekelas dan para guru.
Sementara satu lagi, Windy Adinata Lesmana, merupakan saingan Vika juga dalam bidang akademik. Windy ini lebih kalem kalau dibandingkan Vika yang mudah bergaul dengan orang lain. Windy lebih terkesan judes sama orang yang belum ia kenal. Tapi pas udah kenal, dia orangnya cukup asik.
Sepulang sekolah, langit sudah menghentikan tangisnya dan membawa sebuah pelangi yang teramat cantik. Aku menatap pelangi itu sambil berjalan keluar gerbang sekolah.
“Cantik ya, Rul” ucap seseorang tiba-tiba, yang tak lain adalah Vika
“Iya nih, udah lama banget ga liat pelangi” ucapku
“Wey, berdua aja nih” ucap Hamid juga tiba-tiba datang
“Apaan? Lo ga diundang, hus hus” kata Vika sambil menggerakan tangannya yang seolah mengusir
“Buset gitu amat ama gue” kata Hamid
“Lo ga bareng Windy?” tanyaku
“Windy sama cowo nya. Itu loh si Raka, anak kelas tiga yang show off eskul futsal waktu MOS” kata Vika menjelaskan
“Waah kalah start gue” ucapku cengengesan
“Hah? Emang lo suka sama Windy?” tanya Vika
“Engga, yaa cantik sih memang. Tapi, engga deh. Gue ga mau pacaran” ucapku
“Halah, sok sok an gamau pacaran, itu janda sebelah rumah lu embat” ucap Hamid menyenggolku
“Mana ada. Mbak Yura cuma minta tolong benerin lampu doang, tapi ga hati-hati jadi gue jatuh. Dia cuma ngobatin aja. Yang gue tau dia juga bukan janda. Belum nikah malahan” jelasku pada Hamid
Mbak Yura merupakan tetanggaku yang banyak dikagumi orang karena kecantikannya. Soal Hamid yang bilang kalau dia janda, sebenarnya itu hanya gosip saja. Dia memang pernah memiliki kekasih dulu nya, tapi si cowoknya ini nikah sama orang. Masalahnya si cowoknya ini ga ngaku kalau udah nikah, malah ngakunya nikah sama mbak Yura ini. Sampai putus ternyata si cowok ini nyebarin gosip ga benar bahwa mba Yura dan cowoknya cerai. Entah tujuannya apa. Padahal katanya si cowoknya ini baik udah dikenal sama orang komplek Aku mendengar itu dari kakakku yang merupakan teman dekatnya mbak Yura.
Setibanya dirumah, aku langsung melempar tasku ke kasur dan merebahkan tubuhku disana. Hari ini merupakan hari yang membosankan, seperti biasanya. Tidak ada yang menarik disekolah.
“Makan dulu nak” ucap mama seketika masuk ke kamarku
“Iya nanti, masih cape” jawabku sambil menghela nafas
“Nanti kamu jemput Ani sama Ana disekolah ya, papa ga bisa jemput. Katanya ada lembur” kata mama
“Jemput gimana ma? Pake motor bertiga gitu?” tanyaku
“Engga, nanti kan ada pak Mansyur bawa motornya ikut jemput juga” kata mama
Pak Mansyur, atau yang biasa dipanggil pak Man merupakan tukang kebun dirumah. Kami juga memiliki satu ART yang selalu membantu ibu dirumah, beliau adalah Bi Yani. Namun karena mereka sudah lama bekerja disini, mereka sudah seperti keluarga kami sendiri
“Iya deh ma” jawabku pasrah
Ani, dan Ana adalah adik-adikku. Mereka masih kelas tiga SMP. Ya berbeda setahun denganku dari segi pendidikan. Namun dari usia, kami berbeda dua tahun. Aku memang masuk terlambat ketika SD. Ani yang memiliki nama lengkap Khairani Liviana, dan Ina yang memiliki nama lengkap Khairana Liviana. Hanya berbeda depannya saja. Liviana yang berarti “Bulan Putih”, sementara namaku Khairul Purnama, seperti bulan Purnama, yang berarti “Terang”
Entah kenapa mama sama papa memberi nama kami dengan mengambil kata dari bulan. Tapi selama tidak memiliki arti yang buruk, tidak apa-apa. Info tambahan, bahwa mereka kembar. Biasanya Ani dan Ana dijemput papa pake mobil, tapi memang ga selalu. Kadang aku jemput maksain pakai motor bertiga, namun karena sekarang pak Man dibelikan motor bekas oleh ayah, sebagai rasa terima kasih karena sudah banyak membantu dirumah, jadi dijemput bersama pak Man juga. Dan pak Man juga tidak tinggal disini, melainkan mengontrak di tempat yang tak jauh dari komplek. Sementara bi Yani tinggal disini dan memang sudah disiapkan kamar khusus untuk beliau.
Jam tiga sore, aku ke sekolah bersama pak Man untuk menjemput si kembar. Satu persatu siswa-siswi sekolah sudah mulai keluar dari gerbang sekolah. Karena mau ujian nasional, mereka diharuskan ikut pemantapan setelah pulang sekolah.
“Nah itu mereka, jang” ucap pak Man sambil menunjuk
Aku dipanggil ujang oleh pak Man, karena beliau juga memiliki darah sunda. Sama sepertiku
“Itu si aa” ucap Ani sambil melambai kearahku
“Asiik dijemput” kata Ana sambil berlari kecil kearahku
Aku hanya tersenyum kecil ke arah mereka
“Aku sama si aa, kamu sama pak Man” kata Ani
“Ocehh” jawab Ana sambil menyimbolkan simbol oke dengan tangannya
“Nanti ke indomaret dulu ya, mau jajan. Aa yang traktir” ucap Ana
“Heh apaan?” ucapku sedikit bingung
“Udah ayo cepet jalan” kata Ani sambil memukul-mukul pundakku
Tanpa bisa melakukan apa-apa, aku memacu motorku mengikuti pak Man. Setelah jajan cukup banyak yang membuat uang jajanku selama seminggu ini habis buat jajanin si kembar.
Keesokan paginya, sekitar jam 6 aku mengambil nasi dan lauknya untuk sarapan. Si kembar masih siap-siap dikamarnya.
“Tumben sarapan, biasanya minum susu aja” ucap mama sambil menuangkan air minum
“Ga akan bisa jajan ma” jawabku sedikit ketus
“Loh kenapa? Jatah mingguanmu habis?” tanya papa yang baru datang dan duduk bersamaku
“Tanya sama Ani, sama Ana aja tuh” jawabku tetap ketus
“Iih kok kita sih” kata Ana yang datang bersama Ani
“Iya, kok jadi kita sih” lanjut Ani
“Minta traktir udah kaya mau kemah seminggu” ucapku kesal
“Haha, yasudah, jangan berantem. Anak papa kok pada berantem. Sekali-sekali kamu traktir mereka gapapa kan” kata papa
“Iya, udah habis juga pa, mau gimana” ucapku
“Yasudah, nih papa ganti uangnya” kata papa sambil mengeluarkan dompetnya, lalu memberikanku satu lembar uang seratus ribu
“Waaah makasih paaa” ucapku girang melanjutkan makan
“Ga kebanyakan pa?” ucap mama
“Engga, tapi inget jajanin adikmu, dan kalian jangan kebanyakan jajan. Kan kalian juga udah papa kasih jatah” ucap papa pada si kembar
“Iya paa” jawab mereka bersamaan
“Yasudah sarapannya habiskan, kita berangkat sama-sama pake mobil” ucap papa
Diubah oleh neopo 31-08-2022 21:25
MFriza85 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup