- Beranda
- Stories from the Heart
Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]
...
TS
harrywjyy
Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]
![Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]](https://s.kaskus.id/images/2022/07/31/10600510_202207310531050465.jpg)
Sumber gambar: freepik
Salam kenal, semuanya. Aku mau mulai cerita bersambung yang lumayan panjang. Semoga lancar ya.
Cerita kali ini mengenai sepasang suami-istri yang menempati sebuah rumah baru. Sejak saat itu gangguan dari makhluk halus datang dan mengincar bayi dalam kandungan istrinya.
Langsung saja kita ke ceritanya!

Prolog:
Sore itu menjelang magrib. Adik melakukan sepeda motornya di jalanan desa. Di belakangnya ia membonceng sangat istri yang tengah mengandung anak pertama mereka. Keduanya baru pulang dari rumah sakit setelah melakukan kontrol kandungan bersama bidan.
Setelah melewati area persawahan, mereka berdua pun sampai di dekat rumah. Adi mengurangi kecepatan motornya lalu berhenti tepat di depan rumah. Sebuah rumah tua yang baru mereka beli sekitar satu bulan yang lalu. Rumah ini sangat nyaman ditempati. Apalagi di samping rumah berdiri sebuah pohon beringin besar yang rindang membuat udara sekitar menjadi sejuk.
"Mas, aku masuk duluan ya!" ucap Lia istri Adi yang sedang mengandung.
"Iya silahkan, aku di luar dulu mau cek mesin motor. Kamu istirahat ya," jawab Adi.
"Iya, Mas."
Lia pun berjalan masuk ke rumahnya sambil mengelus perut buncitnya. Hari mulai gelap, cahaya matahari mulai memudar di langit sana. Alunan doa dan sholawat sudah terdengar dari masjid terdekat. Menandakan segera datangnya waktu sholat magrib.
Lia berjalan masuk ke kamarnya, kemudian membuka pintu. Ia merasa heran sebab jendela kamar yang menghadap ke pohon beringin terbuka. Segera ia mendekat untuk menutupnya kembali.
"Ini siapa yang buka? Perasaan udah dikunci."
Saat hendak menutup pintu, tiba-tiba sebuah angin kencang masuk dan meniup badan Lia. Rambutnya terbang dan suatu aura negatif masuk.
"AAAAAA!!!" Lia berteriak sekuat tenaga.
Adi yang mendengar suara istrinya langsung berlari masuk ke rumah dengan wajah panik. Segera ia menuju ke kamar sumber suara. Di kamarnya, ia melihat sang istri terkulai lemas tak berdaya di lantai. Adi segera mendekatinya.
"Lia, kamu kenapa? Lia!" ucap Adi yang panik.
Adi kaget bukan main. Saat ia memegang perut istrinya, perut sang istri yang semula buncit tiba-tiba kempes. Bayi yang ada di dalam kandungannya menghilang entah ke mana. Awalnya ia tak percaya, tapi setelah beberapa kali mengecek. Ternyata benar, bayinya dalam kandungan istrinya hilang!
"Lia!!!"
Adi semakin histeris saat menyadari bahwa istrinya sudah tidak bernapas lagi.
Bersambung....
Untuk part-part selanjutnya, akan saya posting di INDEX di bawah ini.
⬇⬇⬇
Part 1 - Rumah Baru
Part 2 - Kakek Tua Yang Aneh
Part 3 - Barang Pemberian
Part 4 - Bersama Ranti
Part 5 - Sesuatu Di Balik Sesuatu
Part 6 - Penunggu Pohon Beringin
Part 7 - Anak Pertama
Part 8 - Kunjungan
Part 9 - Suara Tangis
Part 10 - Sikap Aneh
Part 11 - Hilang
Part 12 - Kendali Setan
Part 13 - Kebaya Putih
Part 14 - Ancaman Dalam Diam
Part 15 - Pasutri Licik
Part 16 - Masa Lalu Ranti
Part 17 - Rahasia
Part 18 - Skakmat
Part 19 - Ratu Kuntilanak
Part 20 - Kisah Sang Ratu
Part 21 - Kabur
Part 22 - Pengejaran
Part 23 - Ki Dana
Part 24 - Dendam
Part 25 - Penyelidikan
Part 26 - Kepala Desa Baru
Part 27 - Bangkitnya Sang Ratu Kuntilanak
Part 28 - Balas Dendam
Jangan Lupa Mampir ke Cerita Ane yang baru gan berjudul: Pocong Keliling
Bercerita tentang hantu pocong yang meneror seluruh warga desa setiap malam, ikuti keseruannya!

Klik link di bawah ini untuk membaca Pocong Keliling!
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...2f0762992c9cb4
Terima kasih bagi yang sudah membaca!
Tunggu update dari ane gan! Mohon maaf bila ada kesalahan.


Diubah oleh harrywjyy 18-09-2022 20:40
sampeuk dan 15 lainnya memberi reputasi
16
15.9K
109
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
harrywjyy
#37
Part 19 - Ratu Kuntilanak
Kakek Adi menggenggam erat paku Kuntilanak itu. Dengan kelebihan dan kepekaan yang bertahun-tahun ia latih, pria tua itu mulai merasakan energi-energi dalam paku tersebut. Ia memejamkan mata sesaat, lalu membukanya kembali ia sudah melihat bergerombol pasukan Kuntilanak yang berdiri mengelilingi rumah Abbas dan Nina.
Kakek Adi tersenyum puas. “Ranti akan kembali ke sini! Akan aku tunjukkan kepada semua warga, siapa sebenarnya Jamal dan Ranti. Betapa busuknya niat mereka,” kata Kakek Adi. Ia lalu menoleh ke arah Abbas “Sekarang kamu pergi ke rumah Jamal sekarang juga! Bawa warga!” perintah Kakek Adi.
“Tapi? Ngapain saya ke sana?” tanya Abbas.
“Sudah cepat sana! Kamu akan tau sendiri!”
Karena melihat keseriusan pria itu, Abbas pun penasaran dengan maksud si kakek. Buru-buru Abbas meninggalkan sang istri dan keluar kamar. Ada beberapa warga yang menunggu di pelataran rumah, Abbas segera mengajak mereka untuk ikut bersamanya. Sekitar tiga orang ikut berjalan mendampingi Abbas untuk ke rumah Pak Jamal.
Selama perjalanan, beberapa kali mereka berpapasan dengan para warga yang mencari keberadaan Ranti dan Pasha dengan menabuh berbagai perabotan yang suaranya nyaring. Dan semua warga yang mereka temui sama-sama mengatakan hal yang sama. Mereka tak menemukan apa-apa.
Di tengah gelapnya sawah dan hutan, senter warga menyala terang di kejauhan. Dengan samar-samar suara panci yang terus dipukul, bercampur dengan suara lantunan sholawat yang tak kalah kerasnya.
Beberapa saat kemudian, sampailah Abbas di depan rumah Pak Jamal. Ia mengucap salam dan mengetuk pintu. Sebuah sepatu hitam di depan pintu menandakan Pak Jamal ada di rumahnya. Abbas membuka pintu yang ternyata tak dikunci, ia ingin segera masuk.
“Pak Guru!” salah satu warga menghentikannya. “Kita mau ngapain? Gak sopan masuk rumah orang sembarangan."
”Memang gak sopan, tapi harus, Pak. Maaf.” Dengan sopan, Abbas melepaskan tangannya dari genggaman warga. Abbas pun masuk ke dalam rumah, sementara para warga masih tak berani dan memilih menunggu di luar.
Aroma melati langsung tercium begitu Abbas berada di dalam. Semua ruangan dan kamar terkunci, ia berjalan mengikuti aroma melati tersebut. Hingga ia sampai di sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Dengan sedikit takut, Abbas berjalan dan sedikit mengintip ke ruangan itu.
“Pak Kades?” panggil Abbas, namun tak ada balasan dari dalam ruangan itu.
Ruangan itu dilapisi kain serba putih, di lantainya berserakan berbagai bunga seperti kamboja, kantil dan melati. Ada juga dupa yang terus mengeluarkan asap tipis yang batangnya tersisa sedikit. Dan terdapat baju dan celana Pak Jamal yang tergeletak di lantai. Abbas semakin curiga dengan apa yang dilihatnya.
Abbas segera berlari kembali ke luar rumah, ia tak mendapati Pak Jamal di rumahnya. “Kita keliling! Cari Pak Kades, Pak Kades ikut hilang!” kata Abbas.
Bersama warga yang dibawanya, Abbas berputar mencari regu-regu warga yang melakukan pencarian. Satu per satu dari rombongan warga itu ia tanya, tapi tak ada satu pun yang mengetahui posisi Pak Jamal. Seolah Pak Jamak kabur entah ke mana.
“Duh, kemana sih, Pak Kades?” tanya salah satu warga yang langsung duduk di gubuk saking lemasnya. Diikuti beberapa warga lainnya.
“Pak Kades ikutan hilang."
“Ada yang aneh sama Pak Kades,” kata Abbas dengan wajah serius.
Tiba-tiba, beberapa regu serentak berlari ke arah jalan setapak desa. Melihat itu, Abbas dan yang lainnya pun terkejut. Ia langsung berdiri dan menghentikan salah satu warga yang berlari.
“Kenapa? Ada apa? Anak saya udah ketemu?” tanya Abbas.
Dengan nada terbata-bata, warga itu menjawab. “Bukan, bukan itu! Kakek Adi! Kakek Adi! Dia mau tangkap Kuntilanak!” katanya dengan semnangat, kemudian lanjut berlari ke arah jalan setapak yang menghubungkan jalan desa dan rumah Abbas.
“Haduh apa lagi ini?!" keluh Abbas. "Bapak-bapak, kita ke rumah saya!”
Akhirnya, Abbas mengerahkan rombongannya untuk kembali ke rumah. Mereka berlari kecil mengikuti warga lainnya. Sesampainya di rumah, Abbas kaget. Rumahnya sudah ramai dikelilingi warga. Para warga berkerumun di dekat pohon beringin. Mereka semua langsung mendekat untuk melihat apa yang terjadi.
Di dekat pohon beringin, Kakek Adi berdiri sambil membawa paku Kuntilanak. Tangan kirinya membawa sebuah palu besar dan berat. Dari balik tembok manusia yang dibuat warga, Abbas muncul dan melihat apa yang ada di depan.
“Warga-warga semuanya! Kalian akan lihat siapa Ranti sebenarnya. Perempuan yang kalian puja-puja. Bersama dengan Jamal di manusia tak berhati!” ucap Kakek Adi dengan suara penuh emosi. Para warga yang menonton sekaligus Abbas penasaran dan ingin melihat apa yang terjadi.
Mulut Kakek Adi mulai komat-kamit, tangannya mengarahkan ujung batang pohon. Lalu satu tangannya mengangkat palu dan siap menghantam paku Kuntilanak itu. Ia menghirup napas sesaat untuk mempersiapkan diri.
“Kena kamu, Ratu Kuntilanak!” tegasnya yang kemudian menghantam bagian atas paku itu dengan kerasnya.
Buugh!!
Paku itu pun menancap cukup dalam ke dalam batang pohon beringin sampai hanya terlihat bagian pangkalnya saja. Setelah paku itu ditancapkan, angin kencang pun berhembus, daun-daun beringin mulai berguguran dan terbang ke segala arah. Para warga memeluk dirinya dan mulai merasakan hawa dingin.
Dari dalam pohon beringin, muncul sebuah asap tipis berwarna hitam. Kakek Adi mundur beberapa saat. Sementara para warga bingung dengan apa yang terjadi. Asap tipis hitam itu perlahan terlihat semakin pekat. Lalu pelan-pelan membentuk sebuah badan yang tinggi.
Alangkah kagetnya para warga saat asap itu berubah menjadi sosok Kuntilanak berwarna hitam pekat. Wajahnya pucat dan mulutnya menunjukkan gigi-gigi runcing yang tajam. Rambutnya gimbal dan berantakan dengan warna putih. Dan dialah, Ratu Kuntilanak atau Ranti.
“Astaghfirullah!”
“Ya Allah!”
“Astaga, ya ampun!”
Berbagai ucapan pun terdengar dari para warga saat dengan jelas sosok Ratu Kuntilanak dengan gaun hitam menampakkan wujudnya tepat di depan para warga. Wangi bunga melati pun turut tercium terbawa angin. Malam itu, warga desa menyaksikan dengan sendirinya penampakan Kuntilanak yang selama ini menjadi isu di desa mereka.
“Ya Allah, benarkah penampakan ini?” gumam Abbas sambil mengucek matanya. Namun, apa yang dilihatnya memanglah nyata.
Beberapa warga yang ketakutan hingga histeris bahkan sampai berlari kabur, sementara sebagian warga yang pemberani tetap bertahan dan menonton kejadian langka itu. Sekitar ada tujuh orang termasuk Abbas yang berani menatap makhluk itu.
“Hahahaha. Kena kamu Ranti! Ratu Kuntilanak!” kata Kakek Adi dengan sombong.
Abbas masih kaget dan percaya, ia mendekat beberapa langkah ke arah Kakek Adi. “Itu Ranti kata Kakek?” tanya Abbas. Kakek mengangguk.
"Dia ini manusia atau hantu?” Abbas kembali bertanya.
Kakek Adi lalu menoleh ke arah Abbas. ”Masih belum percaya juga, inilah Ranti! Dia makhluk halus yang menyerupai diri sebagai manusia dan menikah dengan Jamal. Keduanya memiliki hubungan bisnis yang memuakkan,” tutur Kakek Adi.
Karena pakunya menancap di pohon, Sang Ratu Kuntilanak tak bisa bergerak ke mana-mana. Dirinya disegel dan tak bisa melawan. Hanya sesekali Kuntilanak itu cekikian sendiri sambil menatap Abbas dan Kakeknya secara bergantian.
“Dan aku, akan mengunci Ratu Kuntilanak ceroboh ini di dalam pohon beringin!” seru Kakek Jamal.
Tidaak!!! Si Ratu Kuntilanak berteriak keras.
Abbas, Kakek Adi dan beberapa warga menutup telinga saking nyaringnya suara itu. Beberapa Kuntilanak lainnya mulai menunjukkan diri. Tapi Kakek Adi melawan suara itu, ia paksa dirinya mendekat dan hendak memukul sampai paku Kuntilanak itu hingga menancap sepenuhnya ke dalam pohon beringin.
“Hyaaa!!” Kakek Adi mengerahkan semua tenaganya untuk memukul paku yang sudah setengah menancap di pohon.
“Tunggu!” teriak seseorang dari arah belakang. Mendengar itu, konsentrasi Kakek Adi pun buyar. Ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang. Beberapa warga yang masih ada di sana termasuk Abbas ikut menoleh ke asal suara.
Dari jarak beberapa meter di belakang kerumunan warga, Pak Jamal berjalan santai dengan memakai bawahan kain jarik. Dan badan yang bertelanjang dada berjalan tanpa alas kaki. Wajahnya tampak serius menatap Kakek Adi. Kepalanya memakai sebuah ikat kepala berwarna hitam. Aura gagah dan kuat terasa dari orang itu.
“Hentikan itu!” bentak Pak Jamal.
Kakek Adi tersenyum puas. “Ranti akan kembali ke sini! Akan aku tunjukkan kepada semua warga, siapa sebenarnya Jamal dan Ranti. Betapa busuknya niat mereka,” kata Kakek Adi. Ia lalu menoleh ke arah Abbas “Sekarang kamu pergi ke rumah Jamal sekarang juga! Bawa warga!” perintah Kakek Adi.
“Tapi? Ngapain saya ke sana?” tanya Abbas.
“Sudah cepat sana! Kamu akan tau sendiri!”
Karena melihat keseriusan pria itu, Abbas pun penasaran dengan maksud si kakek. Buru-buru Abbas meninggalkan sang istri dan keluar kamar. Ada beberapa warga yang menunggu di pelataran rumah, Abbas segera mengajak mereka untuk ikut bersamanya. Sekitar tiga orang ikut berjalan mendampingi Abbas untuk ke rumah Pak Jamal.
Selama perjalanan, beberapa kali mereka berpapasan dengan para warga yang mencari keberadaan Ranti dan Pasha dengan menabuh berbagai perabotan yang suaranya nyaring. Dan semua warga yang mereka temui sama-sama mengatakan hal yang sama. Mereka tak menemukan apa-apa.
Di tengah gelapnya sawah dan hutan, senter warga menyala terang di kejauhan. Dengan samar-samar suara panci yang terus dipukul, bercampur dengan suara lantunan sholawat yang tak kalah kerasnya.
Beberapa saat kemudian, sampailah Abbas di depan rumah Pak Jamal. Ia mengucap salam dan mengetuk pintu. Sebuah sepatu hitam di depan pintu menandakan Pak Jamal ada di rumahnya. Abbas membuka pintu yang ternyata tak dikunci, ia ingin segera masuk.
“Pak Guru!” salah satu warga menghentikannya. “Kita mau ngapain? Gak sopan masuk rumah orang sembarangan."
”Memang gak sopan, tapi harus, Pak. Maaf.” Dengan sopan, Abbas melepaskan tangannya dari genggaman warga. Abbas pun masuk ke dalam rumah, sementara para warga masih tak berani dan memilih menunggu di luar.
Aroma melati langsung tercium begitu Abbas berada di dalam. Semua ruangan dan kamar terkunci, ia berjalan mengikuti aroma melati tersebut. Hingga ia sampai di sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Dengan sedikit takut, Abbas berjalan dan sedikit mengintip ke ruangan itu.
“Pak Kades?” panggil Abbas, namun tak ada balasan dari dalam ruangan itu.
Ruangan itu dilapisi kain serba putih, di lantainya berserakan berbagai bunga seperti kamboja, kantil dan melati. Ada juga dupa yang terus mengeluarkan asap tipis yang batangnya tersisa sedikit. Dan terdapat baju dan celana Pak Jamal yang tergeletak di lantai. Abbas semakin curiga dengan apa yang dilihatnya.
Abbas segera berlari kembali ke luar rumah, ia tak mendapati Pak Jamal di rumahnya. “Kita keliling! Cari Pak Kades, Pak Kades ikut hilang!” kata Abbas.
Bersama warga yang dibawanya, Abbas berputar mencari regu-regu warga yang melakukan pencarian. Satu per satu dari rombongan warga itu ia tanya, tapi tak ada satu pun yang mengetahui posisi Pak Jamal. Seolah Pak Jamak kabur entah ke mana.
“Duh, kemana sih, Pak Kades?” tanya salah satu warga yang langsung duduk di gubuk saking lemasnya. Diikuti beberapa warga lainnya.
“Pak Kades ikutan hilang."
“Ada yang aneh sama Pak Kades,” kata Abbas dengan wajah serius.
Tiba-tiba, beberapa regu serentak berlari ke arah jalan setapak desa. Melihat itu, Abbas dan yang lainnya pun terkejut. Ia langsung berdiri dan menghentikan salah satu warga yang berlari.
“Kenapa? Ada apa? Anak saya udah ketemu?” tanya Abbas.
Dengan nada terbata-bata, warga itu menjawab. “Bukan, bukan itu! Kakek Adi! Kakek Adi! Dia mau tangkap Kuntilanak!” katanya dengan semnangat, kemudian lanjut berlari ke arah jalan setapak yang menghubungkan jalan desa dan rumah Abbas.
“Haduh apa lagi ini?!" keluh Abbas. "Bapak-bapak, kita ke rumah saya!”
Akhirnya, Abbas mengerahkan rombongannya untuk kembali ke rumah. Mereka berlari kecil mengikuti warga lainnya. Sesampainya di rumah, Abbas kaget. Rumahnya sudah ramai dikelilingi warga. Para warga berkerumun di dekat pohon beringin. Mereka semua langsung mendekat untuk melihat apa yang terjadi.
Di dekat pohon beringin, Kakek Adi berdiri sambil membawa paku Kuntilanak. Tangan kirinya membawa sebuah palu besar dan berat. Dari balik tembok manusia yang dibuat warga, Abbas muncul dan melihat apa yang ada di depan.
“Warga-warga semuanya! Kalian akan lihat siapa Ranti sebenarnya. Perempuan yang kalian puja-puja. Bersama dengan Jamal di manusia tak berhati!” ucap Kakek Adi dengan suara penuh emosi. Para warga yang menonton sekaligus Abbas penasaran dan ingin melihat apa yang terjadi.
Mulut Kakek Adi mulai komat-kamit, tangannya mengarahkan ujung batang pohon. Lalu satu tangannya mengangkat palu dan siap menghantam paku Kuntilanak itu. Ia menghirup napas sesaat untuk mempersiapkan diri.
“Kena kamu, Ratu Kuntilanak!” tegasnya yang kemudian menghantam bagian atas paku itu dengan kerasnya.
Buugh!!
Paku itu pun menancap cukup dalam ke dalam batang pohon beringin sampai hanya terlihat bagian pangkalnya saja. Setelah paku itu ditancapkan, angin kencang pun berhembus, daun-daun beringin mulai berguguran dan terbang ke segala arah. Para warga memeluk dirinya dan mulai merasakan hawa dingin.
Dari dalam pohon beringin, muncul sebuah asap tipis berwarna hitam. Kakek Adi mundur beberapa saat. Sementara para warga bingung dengan apa yang terjadi. Asap tipis hitam itu perlahan terlihat semakin pekat. Lalu pelan-pelan membentuk sebuah badan yang tinggi.
Alangkah kagetnya para warga saat asap itu berubah menjadi sosok Kuntilanak berwarna hitam pekat. Wajahnya pucat dan mulutnya menunjukkan gigi-gigi runcing yang tajam. Rambutnya gimbal dan berantakan dengan warna putih. Dan dialah, Ratu Kuntilanak atau Ranti.
“Astaghfirullah!”
“Ya Allah!”
“Astaga, ya ampun!”
Berbagai ucapan pun terdengar dari para warga saat dengan jelas sosok Ratu Kuntilanak dengan gaun hitam menampakkan wujudnya tepat di depan para warga. Wangi bunga melati pun turut tercium terbawa angin. Malam itu, warga desa menyaksikan dengan sendirinya penampakan Kuntilanak yang selama ini menjadi isu di desa mereka.
“Ya Allah, benarkah penampakan ini?” gumam Abbas sambil mengucek matanya. Namun, apa yang dilihatnya memanglah nyata.
Beberapa warga yang ketakutan hingga histeris bahkan sampai berlari kabur, sementara sebagian warga yang pemberani tetap bertahan dan menonton kejadian langka itu. Sekitar ada tujuh orang termasuk Abbas yang berani menatap makhluk itu.
“Hahahaha. Kena kamu Ranti! Ratu Kuntilanak!” kata Kakek Adi dengan sombong.
Abbas masih kaget dan percaya, ia mendekat beberapa langkah ke arah Kakek Adi. “Itu Ranti kata Kakek?” tanya Abbas. Kakek mengangguk.
"Dia ini manusia atau hantu?” Abbas kembali bertanya.
Kakek Adi lalu menoleh ke arah Abbas. ”Masih belum percaya juga, inilah Ranti! Dia makhluk halus yang menyerupai diri sebagai manusia dan menikah dengan Jamal. Keduanya memiliki hubungan bisnis yang memuakkan,” tutur Kakek Adi.
Karena pakunya menancap di pohon, Sang Ratu Kuntilanak tak bisa bergerak ke mana-mana. Dirinya disegel dan tak bisa melawan. Hanya sesekali Kuntilanak itu cekikian sendiri sambil menatap Abbas dan Kakeknya secara bergantian.
“Dan aku, akan mengunci Ratu Kuntilanak ceroboh ini di dalam pohon beringin!” seru Kakek Jamal.
Tidaak!!! Si Ratu Kuntilanak berteriak keras.
Abbas, Kakek Adi dan beberapa warga menutup telinga saking nyaringnya suara itu. Beberapa Kuntilanak lainnya mulai menunjukkan diri. Tapi Kakek Adi melawan suara itu, ia paksa dirinya mendekat dan hendak memukul sampai paku Kuntilanak itu hingga menancap sepenuhnya ke dalam pohon beringin.
“Hyaaa!!” Kakek Adi mengerahkan semua tenaganya untuk memukul paku yang sudah setengah menancap di pohon.
“Tunggu!” teriak seseorang dari arah belakang. Mendengar itu, konsentrasi Kakek Adi pun buyar. Ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang. Beberapa warga yang masih ada di sana termasuk Abbas ikut menoleh ke asal suara.
Dari jarak beberapa meter di belakang kerumunan warga, Pak Jamal berjalan santai dengan memakai bawahan kain jarik. Dan badan yang bertelanjang dada berjalan tanpa alas kaki. Wajahnya tampak serius menatap Kakek Adi. Kepalanya memakai sebuah ikat kepala berwarna hitam. Aura gagah dan kuat terasa dari orang itu.
“Hentikan itu!” bentak Pak Jamal.
suryaassyauq603 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup