Kaskus

Story

wahyu.taqwaAvatar border
TS
wahyu.taqwa
Cerita Silat Bersambung - MENYUSURI JEJAK LELUHUR
Disusun oleh : Ki Heru

Nun jauh ditempat yang sunyi dan terpencil disebuah tepi hutan yang pepat dengan pohon2 besar dan tinggi laksana para raksasa yang berbaris menjaga sebuah kawasan

Tampak sesuatu yang bergerak dengan cepat dan lincah melompat dari satu dahan kedahan yang lain seperti tupai tanpa ada rasa takut jatuh atau terpeleset menembus rapatnya pohon dan rimbunnya ilalang tanpa mengalami kesulitan.

Bayangan tersebut makin lama makin mendekat ternyata seorang remaja yang tampan dan tegap dengan kulit yang bersih yang mampu berlari dan melompat dengan ringannya walaupun membawa beban seekor rusa yang besar menuju kesebuah pondok yang sederhana dan bersih.

Setibanya di halaman rumah tersebut dia meletakan kijang buruannya dan masuk ke rumah sambil berseru ” Biyung …. !!! hari ini aku memperoleh seekor kijang yang besar ”


tapi tidak mendengar jawaban apapun dari dalam rumah ” Biyung … Biyung dimana Biyung ” serunya lagi

Tapi terdengar jawaban dari luar ” Anak mas ibumu sedang keatas nenyunjungi eyangmu ” katanya

” Oo terimakasih mbok kalau begitu biarlah aku urus dulu kijang hasil buruanku nanti aku susul keatas ” jawab remaja itu

” Ya anak mas nanti kalau sudah selesai biar si mbok yang membersihkannya ” tambah si mbok

” Baik mbok terimakasih ” jawab remaja tersebut sambil membawa kijang hasil buruannya kebelakang rumah.

Dan tidak jauh disebuah dataran yang tidak terlalu luas dibagian sebuah bukit nampak pula sebuah gubuk yang sederhana tapi kelihatan terawat dengan posisi agak tersembunyi sehingga tidak begitu jelas terlihat dari bawah yang didiami oleh seorang yang telah berusia lanjut tapi masih nampak tegap tidak bungkuk seperti layaknya seorang yang sudah tua dengan rambut, kumis dan jenggot yang terurai dengan warna putih dan berbalut kain berwarna putih pula sehingga terlihat seperti bersinar sebagai pengaruh dari perbawa ilmu yang dimilikinya sedang duduk disebuah batu dihadapi oleh seorang wanita yang cantik laksana Dewi Sinta dalam cerita pewayangan dengan kulit putih dan wajah yang bersih pula.

” Pagi2 sudah datang menghadap ke eyang ada apa nduk ? dan mana anakmu kelihatannya tidak datang bersamamu ” tanya orang tua tersebut kepada wanita cantik yang menghadapnya

” Dia sedang berburu eyang mungkin sebentar lagi juga dia datang dan mungkin dia akan menyusul kemari eyang ” jawabnya

Dan terlihat orang tua itu hanya manggut2 saja lalu berkata ” jadi ada apa pagi2 begini sudah menghadap kepada eyang ? ” tanya orang tua tersebut

” Sungguh ada hubungannya dengan anak hamba itu eyang ” jawabnya agak ragu

” teruskan nduk ada apa dengan anakmu itu ? ” tanya orang tua itu lagi

sukhhoiAvatar border
User telah dihapus
scorpiolamaAvatar border
scorpiolama dan 22 lainnya memberi reputasi
23
26.6K
302
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
wahyu.taqwaAvatar border
TS
wahyu.taqwa
#49
MJL - Lembar 27

" Bagaimana akan diteruskan urusan kita yang belum selesai itu Ki sanak ? " tanya Ki Sentanu sambil tertawa

" Tidak perlu banyak ceritera mari selesai segera " teriak orang yang paling tua sambil dengan secapat kilat menyerang Ki Sentanu

" Aku lawanmu Ki sanak " katanya sambil menerjang yang dengan sigap Ki Sentanu menghindar sambil mengayunkan pedangnya kearah lambung lawannya

" Ternyata kau berisi juga, kenalkan orang memanggil dengan sebutan Ki Sadana dari perguruan Gagak Dhahana " sambil menghindari sabetan Ki Sentanu " kau siapa Ki sanak ? " tanyanya lagi

" Aku Sentanu dari perguruan Ludira Seta " jawab Ki Sentanu sambil terus berusaha mendesak Ki Sadana

Demikian juga Ki Demang sekarang berhadapan dengan orang yang mengaku Gagak Lodra yang juga menyerang dengan ayunan gada limpung dengan suara yang menggrigisi pertanda sudah menggunakan tenaga cadangannya yang diimbangi juga oleh Ki Demang dengan menggunakan tombak pendek dengan ujung trisula

Begitu juga Ludira dan Dirgajaya sudah menghadapi lawannya masing diikuti oleh para pengawal Kademangan bertempur dengan cara berpasangan untuk meredam keganasan para perampok sebelum bantuan tiba

Hanya Jaka Senggana yang masih belum bergerak karena tidak kebagian lawan tapi dengan seksama tetap memperhatikan medan

Pertempuran makin menggila sehingga sudah mulai jatuh korban dari kedua belah pihak baik yang tewas maupun yang terluka

Dua orang pengawal Kademangan mulai terluka ketika menghadapi seorang perampok yang memang memiliki kemampuan diatas rata2 kemampuan para pengawal Kademangan

Melihat kondisi itu baru Jaka Senggana turun gelanggang tapi tidak membutuhkan waktu lama lawannya rubuh tidak berkutik setelah itu Jaka Senggana mendekati pengawal Kademangan yang terluka yang setelah ditaburi obat luka maka darahnya mulai berhenti mengucur " istirahatlah dan jangan banyak bergerak dulu " kata Jaka Senggana sambil membantu keduanya pergi ketempat yang lebih aman

" Terimakasih Raden " kata pengawal Kademangan yang terluka tersebut

" Istirahatlah paman tapi tetap waspada " kata Jaka Senggana

Demikian juga Ludira mendapat lawan yang sepadan walaupun tingkat ilmu lebih tinggi tapi dalam pengalaman terlihat sering kebingungan ketika menghadapi gerakan lawannya yang tidak berpijak pada satu landasan ilmu karena lain ketika sedang berlatih walaupun dengan gurunya sekalipun, hal yang sama yang dialami oleh Dirgajaya karena tingkatan ilmunya sepadan sehingga terlihat agak terdesak oleh lawannya
itkgid
69banditos
baronfreakz
baronfreakz dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.