- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
28K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#252
Chapter 157
Quote:
Cerita masa lalu dari Silver Clan yang dibawakan oleh Gonzalo mampu membuat suasana menjadi sedih, terutama Solo yang sudah menghabiskan banyak air mata dibagian meninggalnya Kaizer, pemimpin dari Silver Clan sebelumnya. Kisah itu juga memberikan gambaran banyak tentang tuan Stam, untuk Lio yang sangat mengidolakannya, ia jadi tahu bahwa atasannya itu pernah mengalami kejadian yang begitu mengerikan, kehilangan seseorang yang sangat dihargainya.
Setelah mendengarkan kisah itu, Djohan keluar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di dapur, bersama Lio disampingnya. Meskipun merupakan anggota baru, tetapi Djohan sudah merasakan ada ikatan yang begitu kuat dengan orang-orang di Silver Clan. Ia jadi teringat dengan keluarganya di rumah yang berada di kota sebelah.
“Aku ingin mengambil cuti,” ucap Djohan pada Lio.
“Hah? Cuti? Ada apa?”
“Tidak, hanya saja aku ingin menemui keluargaku sekarang.”
“Hm, siapa yang tidak rindu pada keluarganya setelah mendengar kisah dari Gonzalo barusan,” Lio menghentikan langkahnya.
Djohan ikut berhenti lalu menolehkan kepalanya kebelakang, “Ada apa?” begitu tanyanya.
“Pergilah, temui keluargamu,” ucap Lio. “nanti akan kuberitahu yang lain, lagipula sudah bukan tugas kita lagi menjaga kota ini kan…,” Djohan pun tersenyum gembira, tidak menyangka memang efek dari cerita Gonzalo mampu membuat Lio menjadi lunak seperti itu.
Djohan akhirnya pergi ke kota seberang, yaitu Pallem City menggunakan angkutan umum bus. Perjalannya cukup panjang karena tidak seperti biasanya, jalur menuju keluar Surban City dipadati oleh banyak kendaraan. Kemungkinan akibat banyaknya serangan monster yang akhir-akhir ini semakin tidak terkendali yang membuat banyak masyarakat untuk menepi ke kota seberang. Padahal BASS sudah ditemani oleh tentara yang tergabung dalam Unit-1, tapi tetap saja tidak memberikan rasa aman bagi warga Surban City.
Setibanya di Pallem City, kenangan masa kecil Djohan terpancar kembali, di mana saat itu dunianya terasa sangat aman dan nyaman. Kenangan lainnya adalah ketika ia harus menghadapi orang-orang jahat yang membuat pabrik Beaters, itu pertama kali dirinya menjalankan misi sebagai anggota resmi Silver Clan. Langkah selanjutnya adalah dengan menelusuri jalan kembali menggunakan bus, menuju area rumahnya berada.
Tidak banyak berubah, karena belum lama Djohan mampir ke pemukiman tempat tinggal orang tuanya. Dari tempatnya turun memang belum terlihat rumahnya, karena ia harus berjalan lagi setidaknya 10 menit dari halte ini. Cuaca sedang terik, kemungkinan Melissa juga tidak ada dirumah karena masih sekolah. Jadi Djohan putuskan untuk berdiam dulu saja di taman dekat sini, tidak ada keberanian untuknya pulang ke rumah menemui kedua orang tuanya langsung tanpa adiknya.
“Harusnya aku mengabari Melissa dulu,” keluh Djohan duduk sendirian di bangku taman.
“baiklah, aku akan menunggu di sini lalu berangkat menuju sekolahnya saat siang nanti.”
Waktu berjalan cepat, matahari sudah naik tepat di atas kepalanya menunjukan hari sudah siang. Tidak banyak orang yang berdiam diri di taman, hanya sekumpulan orang-orang lanjut usia yang mengibas-ngibas angin melakukan suatu gerakan. Djohan mencari tempat sepi di taman, agar identitasnya tidak diketahui karena ia akan melakukan sesuatu dengan kekuatannya.
“Gerakanku memang cepat, tapi jika melakukannya di tempat terbuka ada kemungkinan ada seseorang yang melihatnya,” Djohan menarik nafasnya dalam, lalu kedua kakinya sudah berubah menjadi bentuk monster. “dengan mode ini aku tidak perlu merusak celanaku,” kepalanya melirik ke kiri dan kanan, memastikan situasinya aman terkendali. “baiklah, menuju sekolah Melissa!” satu hentakan, tubuhnya sudah melompat tinggi dengan cepat.
Sekolah Melissa jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, tiap pagi sang ayahlah yang mengantarkan pergi sekolah. Kadang jika ada urusan lain, Melissa menggunakan angkutan umum karena ada sebuah halte yang berada tepat dekat di pintu masuk pemukimannya. Djohan melesat bagai angin, sambil mengingat jalan menuju sekolahnya Melissa, karena ia sedikit lupa dengan rutenya.
“Apa aku sudah melewatinya?” Djohan berhenti sebentar di atas sebuah bangunan, asap mengepul dari bawah kakinya. “hm…,” matanya tajam mengamati lingkungan sekitar, hingga akhirnya ia melihat bangunan sekolah tempat Melissa belajar. “ah! Itu dia!” Djohan putuskan untuk berjalan kaki saja dengan sebelumnya melompat ke lorong yang sepi.
Ketika berjalan menuju sekolah, banyak siswi yang terus melihatnya. Padahal seingat Djohan, hari ini ia tidak memakai setelan yang aneh, tapi ketika berpapasan dengan mereka, otomatis pandangannya menuju ke arahnya. Dari kejauhan terlihat seorang siswi dengan rambut panjang dengan warna yang sedikit kecoklatan, Djohan sangat mengenali ciri-ciri tersebut.
“Melissa!” teriak Djohan dari kejauhan, nampaknya siswi yang diteriakinya itu mengenali suara.
“Hah? Kakak?” ucap Melissa tidak percaya melihat kakaknya yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
Kedua adik kakak itu bertemu, suasana sepulang sekolah masih ramai, banyak mengira kalau yang menjemput Melissa itu adalah pacarnya, tidak ada yang mengetahui bahwa Djohan adalah kakak kandung Melissa. Hal pertama yang dilakukan oleh Melissa adalah memukul lembut lengan Djohan, karena tuk sekian kalinya datang tanpa memberitahu terlebih dahulu sebelumnya.
“Apa susahnya sih telepon dulu?” ucap Melissa.
“Iya maaf, ini dadakan jadi aku tidak sempat memberi kabar,” jawab Djohan sambil tersenyum.
“Lho, kok jam segini datangnya. Dipecat yah?” tanya Melissa dengan raut wajah serius.
“Tidak, aku mengambil cuti, bos sedang pergi bersama asistennya untuk keperluan bisnis,” Melissa mengangguk saja mendengarnya. “kita jalan-jalan aja gimana? Kakak sudah banyak uang lho sekarang…,” ucap Djohan dengan bangga.
“Hehe, oke kalau begitu…,” Djohan merasakan ada yang tidak beres, setidaknya sel beaters dalam dirinya memberitahunya begitu.
Melissa menarik tangan Djohan dengan sangat keras, membawanya pergi ke tempat yang ia mau. Pertama menuju kedai makan, kebetulan sedang jam waktu makan siang. Sebuah kedai ramen yang dipilih, tidak tanggung-tanggung Melissa memesan porsi besar dengan isian yang melimpah ruah. Sedangkan Djohan yang tidak terlalu suka masakan berbahan mie memesan porsi biasa dengan isian yang biasa pula. Belum lagi minuman dingin yang juga dipesan dalam porsi besar.
“Hei, kakak tahu, kali ini kakak yang meneraktir, tapi apa kamu enggak khawatir jika makan porsi besar nanti badanmu jadi---,” tatapan yang sangat mengerikan baru saja dilihatnya, bahkan lebih mengerikan dari monster yang pernah dihadapinya. “tidak…silahkan lanjutkan kembali tuan putri,” sambil menyeruput mie yang hangat.
Setelah perut terisi penuh dengan karbo, Melissa kembali menarik kakaknya ke sebuah taman permainan, dengan menaiki taksi agar lebih cepat sampai dibandingkan menggunakan bus. Di hari biasa keadaan taman bermain sangat sepi, tidak ada antrian untuk mencoba seluruh permainan. Akhirnya satu-persatu permainan yang tersedia dicoba oleh kakak beradik itu. Tidak ada rasa ngeri yang dirasakan oleh Djohan, karena ia bisa melakuka atraksi yang lebih cepat dan akrobatik dibandingankan wahana permainan ini.
Waktu bermain dilalui dengan sangat baik, bagi Djohan ini merupakan pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Rasa puas dan kebahagiaan muncul dari bathinnya, lalu Djohan sempat berpikir jika semua anggota Silver Clan melakukan liburan sekali-kali seperti ini, rasanya menyenangkan. Langit sudah berubah warna dan lampu mulai mendominasi tempat ini, membuatnya jadi lebih indah dibandingkan saat hari masih terang.
“Mau kemana lagi?” tanya Djohan.
“Kita pulang, aku lelah, besok kan masih masuk sekolah. Kenapa sih enggak datangnya pas akhir pekan?” wajahnya cemberut, namun semua itu dilakukan karena ingin bermanja saja dengan kakak tercinta.
Perjalanan pulang kembali dilalui dengan menggunakan taksi, Melissa malah sempat-sempatnya tertidur. Melihat adiknya tertidur pulas membuat Djohan semakin sedih, jika harus mengetahui keadaan yang sebenarnya. Angin malam membawa mereka pulang, kedua orang tuanya lah yang menghampiri dan membawa Melissa masuk dalam keadaan setengah sadar.
“Ingin menginap dulu?” tanya ibunya.
“Tidak, mungkin lain kali. Aku besok juga mesti kembali bekerja,” jawab Djohan pelan.
“Lain kali kabari ibu yah, dan harus menginap, wajib!” dijawab senyuman oleh Djohan.
“Sampaikan salamku pada ayah dan Melissa, aku pamit….,” pertemuan singkatnya berakhir malam ini, dan taksi membawanya kembali menuju stasiun untuk dilanjutkan menaiki bus untuk sampai ke Surban City.
Langit malam ini sangat cerah dengan banyak bintang yang saling berdampingan menunjukan sinarnya, lalu Djohan melihat sebuah bintang jatuh yang sangat sekali terjadi.
“Bintang jatuh?” Djohan sering mendengar jika kalau melihat bintang jatuh, buatlah sebuah permohonan, maka permohonan itu akan terkabul. Namun dirinya tidak terlalu percaya dengan hal demikian. “kuingin keluargaku selalu bahagia,” ucapnya sambil tersenyum.
Setelah mendengarkan kisah itu, Djohan keluar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di dapur, bersama Lio disampingnya. Meskipun merupakan anggota baru, tetapi Djohan sudah merasakan ada ikatan yang begitu kuat dengan orang-orang di Silver Clan. Ia jadi teringat dengan keluarganya di rumah yang berada di kota sebelah.
“Aku ingin mengambil cuti,” ucap Djohan pada Lio.
“Hah? Cuti? Ada apa?”
“Tidak, hanya saja aku ingin menemui keluargaku sekarang.”
“Hm, siapa yang tidak rindu pada keluarganya setelah mendengar kisah dari Gonzalo barusan,” Lio menghentikan langkahnya.
Djohan ikut berhenti lalu menolehkan kepalanya kebelakang, “Ada apa?” begitu tanyanya.
“Pergilah, temui keluargamu,” ucap Lio. “nanti akan kuberitahu yang lain, lagipula sudah bukan tugas kita lagi menjaga kota ini kan…,” Djohan pun tersenyum gembira, tidak menyangka memang efek dari cerita Gonzalo mampu membuat Lio menjadi lunak seperti itu.
Djohan akhirnya pergi ke kota seberang, yaitu Pallem City menggunakan angkutan umum bus. Perjalannya cukup panjang karena tidak seperti biasanya, jalur menuju keluar Surban City dipadati oleh banyak kendaraan. Kemungkinan akibat banyaknya serangan monster yang akhir-akhir ini semakin tidak terkendali yang membuat banyak masyarakat untuk menepi ke kota seberang. Padahal BASS sudah ditemani oleh tentara yang tergabung dalam Unit-1, tapi tetap saja tidak memberikan rasa aman bagi warga Surban City.
Setibanya di Pallem City, kenangan masa kecil Djohan terpancar kembali, di mana saat itu dunianya terasa sangat aman dan nyaman. Kenangan lainnya adalah ketika ia harus menghadapi orang-orang jahat yang membuat pabrik Beaters, itu pertama kali dirinya menjalankan misi sebagai anggota resmi Silver Clan. Langkah selanjutnya adalah dengan menelusuri jalan kembali menggunakan bus, menuju area rumahnya berada.
Tidak banyak berubah, karena belum lama Djohan mampir ke pemukiman tempat tinggal orang tuanya. Dari tempatnya turun memang belum terlihat rumahnya, karena ia harus berjalan lagi setidaknya 10 menit dari halte ini. Cuaca sedang terik, kemungkinan Melissa juga tidak ada dirumah karena masih sekolah. Jadi Djohan putuskan untuk berdiam dulu saja di taman dekat sini, tidak ada keberanian untuknya pulang ke rumah menemui kedua orang tuanya langsung tanpa adiknya.
“Harusnya aku mengabari Melissa dulu,” keluh Djohan duduk sendirian di bangku taman.
“baiklah, aku akan menunggu di sini lalu berangkat menuju sekolahnya saat siang nanti.”
Waktu berjalan cepat, matahari sudah naik tepat di atas kepalanya menunjukan hari sudah siang. Tidak banyak orang yang berdiam diri di taman, hanya sekumpulan orang-orang lanjut usia yang mengibas-ngibas angin melakukan suatu gerakan. Djohan mencari tempat sepi di taman, agar identitasnya tidak diketahui karena ia akan melakukan sesuatu dengan kekuatannya.
“Gerakanku memang cepat, tapi jika melakukannya di tempat terbuka ada kemungkinan ada seseorang yang melihatnya,” Djohan menarik nafasnya dalam, lalu kedua kakinya sudah berubah menjadi bentuk monster. “dengan mode ini aku tidak perlu merusak celanaku,” kepalanya melirik ke kiri dan kanan, memastikan situasinya aman terkendali. “baiklah, menuju sekolah Melissa!” satu hentakan, tubuhnya sudah melompat tinggi dengan cepat.
Sekolah Melissa jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, tiap pagi sang ayahlah yang mengantarkan pergi sekolah. Kadang jika ada urusan lain, Melissa menggunakan angkutan umum karena ada sebuah halte yang berada tepat dekat di pintu masuk pemukimannya. Djohan melesat bagai angin, sambil mengingat jalan menuju sekolahnya Melissa, karena ia sedikit lupa dengan rutenya.
“Apa aku sudah melewatinya?” Djohan berhenti sebentar di atas sebuah bangunan, asap mengepul dari bawah kakinya. “hm…,” matanya tajam mengamati lingkungan sekitar, hingga akhirnya ia melihat bangunan sekolah tempat Melissa belajar. “ah! Itu dia!” Djohan putuskan untuk berjalan kaki saja dengan sebelumnya melompat ke lorong yang sepi.
Ketika berjalan menuju sekolah, banyak siswi yang terus melihatnya. Padahal seingat Djohan, hari ini ia tidak memakai setelan yang aneh, tapi ketika berpapasan dengan mereka, otomatis pandangannya menuju ke arahnya. Dari kejauhan terlihat seorang siswi dengan rambut panjang dengan warna yang sedikit kecoklatan, Djohan sangat mengenali ciri-ciri tersebut.
“Melissa!” teriak Djohan dari kejauhan, nampaknya siswi yang diteriakinya itu mengenali suara.
“Hah? Kakak?” ucap Melissa tidak percaya melihat kakaknya yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
Kedua adik kakak itu bertemu, suasana sepulang sekolah masih ramai, banyak mengira kalau yang menjemput Melissa itu adalah pacarnya, tidak ada yang mengetahui bahwa Djohan adalah kakak kandung Melissa. Hal pertama yang dilakukan oleh Melissa adalah memukul lembut lengan Djohan, karena tuk sekian kalinya datang tanpa memberitahu terlebih dahulu sebelumnya.
“Apa susahnya sih telepon dulu?” ucap Melissa.
“Iya maaf, ini dadakan jadi aku tidak sempat memberi kabar,” jawab Djohan sambil tersenyum.
“Lho, kok jam segini datangnya. Dipecat yah?” tanya Melissa dengan raut wajah serius.
“Tidak, aku mengambil cuti, bos sedang pergi bersama asistennya untuk keperluan bisnis,” Melissa mengangguk saja mendengarnya. “kita jalan-jalan aja gimana? Kakak sudah banyak uang lho sekarang…,” ucap Djohan dengan bangga.
“Hehe, oke kalau begitu…,” Djohan merasakan ada yang tidak beres, setidaknya sel beaters dalam dirinya memberitahunya begitu.
Melissa menarik tangan Djohan dengan sangat keras, membawanya pergi ke tempat yang ia mau. Pertama menuju kedai makan, kebetulan sedang jam waktu makan siang. Sebuah kedai ramen yang dipilih, tidak tanggung-tanggung Melissa memesan porsi besar dengan isian yang melimpah ruah. Sedangkan Djohan yang tidak terlalu suka masakan berbahan mie memesan porsi biasa dengan isian yang biasa pula. Belum lagi minuman dingin yang juga dipesan dalam porsi besar.
“Hei, kakak tahu, kali ini kakak yang meneraktir, tapi apa kamu enggak khawatir jika makan porsi besar nanti badanmu jadi---,” tatapan yang sangat mengerikan baru saja dilihatnya, bahkan lebih mengerikan dari monster yang pernah dihadapinya. “tidak…silahkan lanjutkan kembali tuan putri,” sambil menyeruput mie yang hangat.
Setelah perut terisi penuh dengan karbo, Melissa kembali menarik kakaknya ke sebuah taman permainan, dengan menaiki taksi agar lebih cepat sampai dibandingkan menggunakan bus. Di hari biasa keadaan taman bermain sangat sepi, tidak ada antrian untuk mencoba seluruh permainan. Akhirnya satu-persatu permainan yang tersedia dicoba oleh kakak beradik itu. Tidak ada rasa ngeri yang dirasakan oleh Djohan, karena ia bisa melakuka atraksi yang lebih cepat dan akrobatik dibandingankan wahana permainan ini.
Waktu bermain dilalui dengan sangat baik, bagi Djohan ini merupakan pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Rasa puas dan kebahagiaan muncul dari bathinnya, lalu Djohan sempat berpikir jika semua anggota Silver Clan melakukan liburan sekali-kali seperti ini, rasanya menyenangkan. Langit sudah berubah warna dan lampu mulai mendominasi tempat ini, membuatnya jadi lebih indah dibandingkan saat hari masih terang.
“Mau kemana lagi?” tanya Djohan.
“Kita pulang, aku lelah, besok kan masih masuk sekolah. Kenapa sih enggak datangnya pas akhir pekan?” wajahnya cemberut, namun semua itu dilakukan karena ingin bermanja saja dengan kakak tercinta.
Perjalanan pulang kembali dilalui dengan menggunakan taksi, Melissa malah sempat-sempatnya tertidur. Melihat adiknya tertidur pulas membuat Djohan semakin sedih, jika harus mengetahui keadaan yang sebenarnya. Angin malam membawa mereka pulang, kedua orang tuanya lah yang menghampiri dan membawa Melissa masuk dalam keadaan setengah sadar.
“Ingin menginap dulu?” tanya ibunya.
“Tidak, mungkin lain kali. Aku besok juga mesti kembali bekerja,” jawab Djohan pelan.
“Lain kali kabari ibu yah, dan harus menginap, wajib!” dijawab senyuman oleh Djohan.
“Sampaikan salamku pada ayah dan Melissa, aku pamit….,” pertemuan singkatnya berakhir malam ini, dan taksi membawanya kembali menuju stasiun untuk dilanjutkan menaiki bus untuk sampai ke Surban City.
Langit malam ini sangat cerah dengan banyak bintang yang saling berdampingan menunjukan sinarnya, lalu Djohan melihat sebuah bintang jatuh yang sangat sekali terjadi.
“Bintang jatuh?” Djohan sering mendengar jika kalau melihat bintang jatuh, buatlah sebuah permohonan, maka permohonan itu akan terkabul. Namun dirinya tidak terlalu percaya dengan hal demikian. “kuingin keluargaku selalu bahagia,” ucapnya sambil tersenyum.
ARC VII: SWORD OF LIGHT, END!
Diubah oleh the.collega 25-08-2022 20:18
69banditos memberi reputasi
1
Kutip
Balas