“Hai Shasa.. Sini ikutan renang!!”, teriakku dari dalam kolam renang ketika melihat Shasa baru saja duduk di kursi santai rotan yang berada di tepi kolam.
“Ga ah, Kak. Aku duduk disini aja!! Aku ga bisa berenang!”, jawab Shasa.
“Aku sama Lia juga ga bisa berenang loh, Kak. Sini main-main air aja. Kita liatin Kak Anes renang dari dasar kolam!”, ujar Deva yang juga membujuk Shasa. Shasa yang tampak tertutup, terlihat dia susah untuk cepat dekat dan cepat merasa nyaman dengan orang baru. Aku yang memakluminya, segera mengakhiri percakapan ini, khawatir membuatnya makin tidak nyaman.
“Yaudah kalau gitu, kami berenang dulu ya Shasa. Nanti tolong kabarin yaa, kalau pengumuman di website sudah keluar.”
“Baik, Kak!”, aku tersenyum mendengar jawabannya. Tak berselang lama, aku kembali meluncur ke dalam air, memastikan posisi tangan, kaki, dan tubuh lurus ke depan sejajar dengan permukaan air. Kemudian aku menekuk kakiku dan menendangkannya ke samping agar kaki kanan-kiri berjauhan, lalu merapatkannya lagi sampai telapak kaki dan kanan hampir bersentuhan. Gerakan kakiku ini membuat tubuhku terdorong ke depan. Ketika kakiku merapat, aku membuka tanganku kesamping seperti gerakan membelah air agar kepalaku muncul ke permukaan untuk mengambil nafas. Saat aku berenang di putaran kelima, terdengar samar-samar mereka memanggilku dari tepian kolam.
“Mba Anes, hasil pengumumannya udah keluar..”
“Engga lolos!!”
Aku yang masih berada di tengah-tengah kolam, hanya bisa melanjutkan aktivitas berenangku sampai ketepian, sembari membathin ‘
Oh aku ga lolos, hehe gapapa gapapa. Seenggaknya aku udah berusaha meski ga banyak.’
Saat aku sudah di tepian dengan sedikit agak ngos-ngosan, aku melihat Lia dan Deva menghampiriku.
“Mba Anes, kami berdua ga lolos.”, mimik muka Lia begitu sendu, begitu juga dengan Deva.
‘Ini sebenarnya siapa yang ga lolos sih?’,lagi-lagi dalam bathinku. Aku segera naik dari dasar kolam, mencoba untuk menenangkan mereka sembari berjalan menuju tempat barang-barangku diletakkan.
“Sabar ya, coba kita lihat sama-sama lagi hasil pengumumannya, siapa tau sebenarnya ada nama kalian.”, ujarku perlahan. Dengan telapak tanganku yang masih basah, aku meraih handphoneku yang berada di meja.
“Aku segera mengakses website yang diberikan Kak Hilda beberapa jam lalu. Sepersekian detik menunggu, hasil tahap pertama sudah muncul dan terlihat hanya ada 100 kandidat yang tertulis namanya di dalam tabel yang dibagi menjadi dua sisi, 50 nama di sisi kiri dan 50 nama di sisi kanan. Dan aku sempat kaget saat melihat nama Anestya Dewi di urutan nomor 9. ‘
Jadi aku lolos?’, lagi-lagi aku membathin, karena merasa ga enak saat jelas-jelas ada namaku, tapi masih sok merasa ga nyangka. Deva dan Lia yang mengerumuniku untuk melihat kembali pengumuman itu, masih berusaha mencari nama mereka secara perlahan seperti yang aku suruh sebelumnya. Shasa yang duduk di kursi santai di sebelah kami, yang aku tau dia juga lolos ke tahap selanjutnya, hanya diam menatap layar handphonenya. Terlihat seperti dia sedang menghapal sesuatu.
Seketika aku berpikir bahwa Shasa sedang menghapal teks perkenalan diri dalam Bahasa Inggris yang menjadi materi tes di esok hari.
“Gapapa ya Lia dan Deva, masih ada banyak kesempatan buat kalian. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti. Jadi jangan patah semangat ya? Terus berjuang!!”
“Makasih Mba Anes…”, jawab mereka bersamaan dengan suara lirih.
“Yaudah yuk, mau balik sekarang?”
“Yuk!”, kata Shasa.
Kami mulai beberes dan berjalan menyusuri tepian kolam untuk menuju kamar kami yang berada di lantai 3. Di dalam lift, kami berdiri saling berhadapan, tapi sama-sama saling terdiam.
“Kalian pada mau makan apa ntar malem?”, tanyaku yang lagi-lagi sedang berusaha membangun suasana.
“Aku ga makan, Kak.”, jawab Shasa singkat.
Deva dan Lia saling pandang dan kemudian menatapku yang berdiri tepat disebelah Shasa.
“Oh gitu.. Okedeh kalau gitu. Tapi nanti kalau kamu berubah pikiran atau mau nitip sesuatu, chat aja ya?”, tawarku.
Lift terbuka. Letak lantai kamar Shasa yang berada dibawah lantai kamar kami, membuatnya keluar dari lift terlebih dahulu setelah dia mengiyakan tawaranku.
“Hufh, dingin banget tuh anak!”, ujar Deva blak-blakan.
“Btw pada mau makan apa?”, tanyaku lagi mengalihkan pernyataan Deva.
“Penyetan yang di depan hotel aja kali ya?”, jawab Lia.
“Oke!! Yuk!! Btw ntar aku boleh nraktir ga??”
“HUAA ENGGA!! ENGGAK NOLAAAK!!! Makasih Mba Anes!!!”, jawab mereka girang.
Hari mulai gelap, sedang kami masih bergantian untuk bilas. Aku yang dipersilahkan lebih dulu untuk memakai kamar mandi, merasa tidak enak hati.
“Ih beneran nih aku duluan yang mandi?”
“Iyaa beneran!! Ntar kalau Mba Anes kami suruh mandi belakangan, aku takut tiba-tiba Mba Anes ngebatalin traktirannya!!”, ceplos Deva yang disambut dengan ketawa terbahak antara aku dan Lia.
Setelah mandi dan sedikit beberes, aku segera shalat maghrib. Aku yang sebelumnya lebih banyak pasrah dan bersikap dan berpikir yaudah jalanin aja, selepas shalat justru berdo’a dengan sangat khusyu’ dan tanpa sengaja mengeluarkan air mata begitu deras.
“Yaa Allah, jika memang Engkau meridhai aku menjadi pramugari, maka mudahkan dan lancarkan jalanku. Engkau tahu aku tak bisa membalas semua orang yang dulunya memfitnahku habis-habisan, bahkan aku tak bisa membalas mereka yang menyumpahiku tidak akan menjadi orang berguna seumur hidupku, dan aku tak bisa marah pada mereka yang menghasut seseorang yang tengah kembali mendekatiku untuk pergi meninggalkanku dengan sangat kejam, maka bantulah aku membalas semua perbuatan mereka dengan cara aku bisa lebih sukses dari mereka semua. Dan bantu aku, untuk bisa melupakannya. Dan bantu aku untuk ikhlas.”
(-Jika diingat-ingat, saat itu rupanya aku masih merasakan rasa sakit yang begitu dalam dari kejadian masa laluku di SMP, rasanya benar-benar sulit dilupakan. Bahkan aku sampai sekuat tenaga membuktikan ke mereka, bahwa aku tidak seperti apa yang mereka bayangkan dan yang mereka bicarakan. Karena itu, aku terus mendorong semua kelebihan dalam diriku untuk bisa terus berjuang dan jauh lebih sukses dan lebih bahagia dibandingkan mereka. -Maaf, hal ini tolong diambil baiknya, buruknya ga perlu ditiru ya.-)
Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku setelah mengaamiinkan semua do’aku. Kemudian melepas mukenah merah mudaku dan melipatnya kecil agar muat di dalam tasnya yang mungil. Tepat setelah mukenahku berhasil masuk ke dalam tasnya, terdengar suara panggilan masuk di handphone Lia yang berbunyi cukup nyaring karena telah dibiarkan lama berdering. Lia sedikit berlari dari depan cermin di dekat pintu kamar mandi menuju meja yang terletak di ujung kamar dekat dengan jendela. Kemudian, aku mendengarnya berbicara dengan seseorang yang ku tebak adalah Mba Fitri HRD Surabaya. Dari yang aku dengar, Lia harus balik ke Surabaya besok pagi di keberangkatan pertama, yaitu jam 5.00.
Jujur, aku turut merasakan apa yang dia rasakan. Namun, aku tak bisa melakukan apapun selain sedikit menghiburnya dan terus menyemangatinya.
***
14 Desember 2016, Rabu.
Seperti yang disebutkan dalam pengumuman sore kemarin, bahwa hari ini adalah hari dimana kemampuan kandidat dalam berbahasa Inggris diuji. Kami yang diminta untuk membawa pensil 2B dan juga pulpen, membuatku menduga akan ada tes tulis berupa menjawab soal pilihan ganda dan essay.
Sesuai dengan arahan team rekrutmen FA untuk tiba 30 menit sebelum ‘ujian’ dimulai, aku dan Shasa justru sudah tiba di aula kantor 45 menit sebelum waktu yang dijadwalkan tiba.
Aku dan Shasa yang datang ke aula kantor bersamaan, tidak membuat kami duduk bersama.
Sebab, Shasa memilih tempat duduknya di bagian tengah, dan aku memilih tempat dudukku di kursi paling depan. Gapapa, aku bisa menghargai tempat nyamannya, begitu pun Shasa bisa menghargai tempat nyamanku.
Tepat jam 8.30, sekitar 95% dari jumlah kandidat sudah berada di kursinya yang mana mereka bisa memilihnya dengan bebas. Karenanya, dibaris terdepan hanya ada aku dan seseorang yang duduknya memilih di paling ujung sebelah kiri, berlawanan dengan sisi dimana aku duduk. Tak lama kemudian, sekitar 4-5 tim rekrutmen mulai memasuki aula dan berjalan dari arah belakang kami menuju podium yang sudah tertata rapi berada di depan kami.
“Selamat pagi semuanya. Saya Wildan, team leader perekrutan FA kali ini. Saya mewakili team saya yang lain, ingin menyampaikan terima kasih untuk antusias kalian dalam mengikuti proses rekrutmen ini. Dan kami ucapkan selamat kepada kalian, karena terpilih menjadi 100 kandidat dari seribu lebih peserta pada tahap pertama.”, kami serempak bertepuk tangan dan bersorak-sorai meresponsnya.
“Hari ini, kita akan mengawali tahap kedua ini dengan tes TOEIC, yang terdiri dari 2 bagian : Listening Comprehension yang terdiri dari 100 soal pilihan ganda dengan durasi 45 menit dan Reading Comprehension yang terdiri dari 100 soal juga dengan durasi 75 menit. Kemudian, akan ada sesi tanya jawab lanjutan selama 30 menit. Setelah melewati ujian tulis, kalian akan bertemu langsung dengan ‘user’, untuk diuji secara langsung kemampuan berbahasa Inggris kalian. Ohya, sedikit informasi untuk kalian, kalau hasil TOEIC dan hasil wawancara dengan ‘user’ akan dijumlahkan kemudian dirata-ratakan. Jadi, di tahap ini, lakukan yang terbaik yang kalian bisa! Tunjukkan kemampuan kalian semaksimal mungkin! Hmm baik itu saja dari kami. Selanjutnya, kalian akan dipandu langsung dengan team penguji dan kami hanya mengawasi. Selamat berjuang! Dan.. Nantikan hasil pengumumannya sore nanti di website yang sama dengan kemarin ya. Oke?? Goodluck!!”, Mas Wildan segera turun dari podium dan digantikan oleh tim penguji pagi itu.
‘
Alhamdulillah, ga ada usaha yang sia-sia’, bathinku mensyukuri usahaku yang menyempatkan diri untuk menjawab soal-soal berbahasa Inggris saat mengisi kegabutanku di kantor apabila tidak ada customer yang datang atau yang menelepon. Jika aku bosan dengan hal itu, aku beralih melatih kemampuan listeningku dengan mendengarkan lagu-lagu barat, mencatat setiap lirik dari yang aku dengar dan kemudian mencocokkannya dengan lirik lagu yang sudah ada di google.
Listening Comprehension dengan 100 soal, terlewati sudah. Meski ditengah-tengahnya sempat terusik dengan 5 kandidat yang baru saja datang dan menolak duduk di depan, padahal kursi yang tersedia hanya di kursi depan. Akhirnya setelah mendapat teguran tegas dari Mas Wildan dkk, mereka mau ga mau duduk di kursi yang tersisa.
Pada Reading Section, awalnya aku masih baik-baik saja, karena awal-awal soalnya masih berupa incomplete sentences dan text completion. Tapi setelah masuk ke bagian Reading Comprehension sekitar 50 menit lamanya, kepalaku sudah sangat pening sepening peningnya pening. Karenanya, di 3 soal yang tersisa, aku menjawabnya dengan bismillah menebak-nebak jawabannya. Kemudian, aku melanjutkan ke tahap writing test. Kali ini tidak hanya kepalaku yang pening, tapi juga tanganku yang pegal.
Teng!! Waktu untuk mengerjakan soal-soal sudah habis!!
Kami mengumpulkan lembar jawaban kami secara estafet dari belakang ke depan. Setelahnya kami diberi waktu untuk istirahat selama 15 menit. Saat itu aku gunakan untuk minum segelas air, mengatur napasku, dan sedikit meregangkan otot. Berharap aliran darahku kembali mengalir dengan normal seperti sebelumnya hehehe.
Baru saja bernapas normal, eh waktu istirahat berakhir.
“Untuk kandidat yang duduk di bagian paling depan, silahkan naik ke lantai 2!”, teriak rekan Mas Wildan.
Aku pun segera berdiri dan mengikuti perintah yang diberikan.
Saat akan memasuki ruangan di lantai 2, sebenarnya aku masih sedikit trauma. Tapi mau gimana lagi, mau nyerah, terlanjur kepalaku sudah pening dibuatnya.
Aku mulai menarik napas panjang sembari membaca tiga kali shalawat kemudian menghembuskannya. Dan aku mendapati di dalam ruangan tersebut terdapat 6 meja dengan masing-masing terdiri dari 2 penguji. Aku memilih meja yang paling jauh dari pintu masuk, agar mereka yang baru akan masuk atau keluar ruangan, tidak perlu mendengarkan aku yang merasa kurang percaya diri jika berbicara menggunakan bahasa Inggris.
Aku memberi salam pada dua penguji di depanku. Dan Aku duduk setelah mereka mempersilahkan aku duduk.
Awalnya, aku gugup. Tapi saat mulai menjawab pertanyaan demi pertanyaan, aku bisa menikmatinya. Di menit ke 15, pihak interviewer tampaknya sudah bosan dengan aku dihadapannya, sehingga dia menyudahinya.
“Oke Anes, I think that’s enough. And now time to reading test. Can you read this announcement with your accent? I really like your accent, Anes!!”
“Yeah, so do I!!”
“Thank you, Sir, Madam. Hm which announcement should I read?”, tanyaku ragu-ragu. Karena saat itu mereka menunjukkan Safety Demo Announcement yang panjangnya bukan main-main. Dan benar saja, reading tesku siang itu kebagian membaca announcement panjang itu. Kurang lebih membutuhkan waktu 12 menit lamanya hingga aku selesai membaca.
“Three minutes are left. Would you please read this announcement as well?”, pinta mereka ga kelar-kelar.
“Yeah, of course!!”, aku pun mulai membaca yang mereka minta. Meski dalam hati berkata kapan selesainya, tapi wajahku harus tetap terlihat ceria.
”LADIES AND GENTLEMEN
MAY WE HAVE YOUR ATTENTION PLEASE,
PASSENGERS WITH FLIGHT CONNECTION FOR SURABAYA AND MAKASSAR ARE REQUESTED TO REPORT TO THE TRANSFER SERVICE DESK IN THE ARRIVAL TERMINAL.
PLEASE TAKE ALL YOUR CABIN BAGGAGE AS YOU WILL CHANGE THE AIRCRAFT HERE.
THANK YOU.”, tolong dong udahan, aku udah ga tahan untuk buang air kecil nih!
“WOW!!! When I heard you read the announcement, I was completely speechless! If you become a flight attendant, I hope to see you again.”
Harusnya aku lega mendengarnya, tapi apa daya, rasa ‘kebelet’ ini membuatku sudah tidak bisa sekedar tersenyum untuk meresponsnya.
“Anes, kamu kebelet ya?”, tanya mereka bersamaan.
Spontan aku mengangguk dan mereka tertawa sembari mengusirku.
“Astaga kamu ini!! Hahaha, yaudah, sesi kali ini udah kelar ya! Buru sana Pipis!”, suruh Bu Yani yang cantiknya Masya Allah banget, ga hanya wajahnya yang cantik, tapi hatinya juga. Pak Adi yang masih terheran-heran melihat tingkahku yang ga bisa menyembunyikan semua ini, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa.
“Bapak Ibu, saya mohon pamit, terima kasih untuk hari ini.”, pamitku sembari menyalami mereka dan kemudian sedikit berlari menuju toilet.
‘Hufh, dasar aku!! Si paling ga bisa dipuji!! Malu-maluin.’, kesalku dalam hati.
###