- Beranda
- Stories from the Heart
Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]
...
TS
harrywjyy
Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]
![Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]](https://s.kaskus.id/images/2022/07/31/10600510_202207310531050465.jpg)
Sumber gambar: freepik
Salam kenal, semuanya. Aku mau mulai cerita bersambung yang lumayan panjang. Semoga lancar ya.
Cerita kali ini mengenai sepasang suami-istri yang menempati sebuah rumah baru. Sejak saat itu gangguan dari makhluk halus datang dan mengincar bayi dalam kandungan istrinya.
Langsung saja kita ke ceritanya!

Prolog:
Sore itu menjelang magrib. Adik melakukan sepeda motornya di jalanan desa. Di belakangnya ia membonceng sangat istri yang tengah mengandung anak pertama mereka. Keduanya baru pulang dari rumah sakit setelah melakukan kontrol kandungan bersama bidan.
Setelah melewati area persawahan, mereka berdua pun sampai di dekat rumah. Adi mengurangi kecepatan motornya lalu berhenti tepat di depan rumah. Sebuah rumah tua yang baru mereka beli sekitar satu bulan yang lalu. Rumah ini sangat nyaman ditempati. Apalagi di samping rumah berdiri sebuah pohon beringin besar yang rindang membuat udara sekitar menjadi sejuk.
"Mas, aku masuk duluan ya!" ucap Lia istri Adi yang sedang mengandung.
"Iya silahkan, aku di luar dulu mau cek mesin motor. Kamu istirahat ya," jawab Adi.
"Iya, Mas."
Lia pun berjalan masuk ke rumahnya sambil mengelus perut buncitnya. Hari mulai gelap, cahaya matahari mulai memudar di langit sana. Alunan doa dan sholawat sudah terdengar dari masjid terdekat. Menandakan segera datangnya waktu sholat magrib.
Lia berjalan masuk ke kamarnya, kemudian membuka pintu. Ia merasa heran sebab jendela kamar yang menghadap ke pohon beringin terbuka. Segera ia mendekat untuk menutupnya kembali.
"Ini siapa yang buka? Perasaan udah dikunci."
Saat hendak menutup pintu, tiba-tiba sebuah angin kencang masuk dan meniup badan Lia. Rambutnya terbang dan suatu aura negatif masuk.
"AAAAAA!!!" Lia berteriak sekuat tenaga.
Adi yang mendengar suara istrinya langsung berlari masuk ke rumah dengan wajah panik. Segera ia menuju ke kamar sumber suara. Di kamarnya, ia melihat sang istri terkulai lemas tak berdaya di lantai. Adi segera mendekatinya.
"Lia, kamu kenapa? Lia!" ucap Adi yang panik.
Adi kaget bukan main. Saat ia memegang perut istrinya, perut sang istri yang semula buncit tiba-tiba kempes. Bayi yang ada di dalam kandungannya menghilang entah ke mana. Awalnya ia tak percaya, tapi setelah beberapa kali mengecek. Ternyata benar, bayinya dalam kandungan istrinya hilang!
"Lia!!!"
Adi semakin histeris saat menyadari bahwa istrinya sudah tidak bernapas lagi.
Bersambung....
Untuk part-part selanjutnya, akan saya posting di INDEX di bawah ini.
⬇⬇⬇
Part 1 - Rumah Baru
Part 2 - Kakek Tua Yang Aneh
Part 3 - Barang Pemberian
Part 4 - Bersama Ranti
Part 5 - Sesuatu Di Balik Sesuatu
Part 6 - Penunggu Pohon Beringin
Part 7 - Anak Pertama
Part 8 - Kunjungan
Part 9 - Suara Tangis
Part 10 - Sikap Aneh
Part 11 - Hilang
Part 12 - Kendali Setan
Part 13 - Kebaya Putih
Part 14 - Ancaman Dalam Diam
Part 15 - Pasutri Licik
Part 16 - Masa Lalu Ranti
Part 17 - Rahasia
Part 18 - Skakmat
Part 19 - Ratu Kuntilanak
Part 20 - Kisah Sang Ratu
Part 21 - Kabur
Part 22 - Pengejaran
Part 23 - Ki Dana
Part 24 - Dendam
Part 25 - Penyelidikan
Part 26 - Kepala Desa Baru
Part 27 - Bangkitnya Sang Ratu Kuntilanak
Part 28 - Balas Dendam
Jangan Lupa Mampir ke Cerita Ane yang baru gan berjudul: Pocong Keliling
Bercerita tentang hantu pocong yang meneror seluruh warga desa setiap malam, ikuti keseruannya!

Klik link di bawah ini untuk membaca Pocong Keliling!
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...2f0762992c9cb4
Terima kasih bagi yang sudah membaca!
Tunggu update dari ane gan! Mohon maaf bila ada kesalahan.


Diubah oleh harrywjyy 18-09-2022 20:40
sampeuk dan 15 lainnya memberi reputasi
16
15.7K
109
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
harrywjyy
#23
Part 12 - Kendali Setan
"Aku mau main sama, Kakak," ucap Diva secara berulang-ulang dengan tatapan mata yang kosong ke depan.
Setelah ditemukan oleh salah satu warga, Diva pun langsung dibawa masuk. Warga dibuat geger karena lokasi ditemukannya bocah itu malah di pohon beringin samping rumahnya sendiri. Lokasi penemuan yang dianggap janggal itu pun membuat banyak tanya pada para warga, hanya saja mereka semua menahan diri untuk berkomentar.
Diva dibaringkan di atas kasur lantai di ruang tengah. Tubuhnya sangat lemas dan demam, sesekali terlihat badannya gemetar akibat mengigil. Beberapa warga masih berkumpul di rumah Nina untuk melihat apa yang terjadi. Sekaligus membantu sebisa mereka.
"Aku mau main, mau main!" kata Diva dengan nada lemah.
"Ke mana? Mau main ke mana?" tanya Abbas sambil memperhatikan anak itu.
"Aku mau main sama Kakak yang di pohon." Tangan Diva menunjuk ke arah di mana pohon itu berada.
Mendengar itu, Abbas dan yang lainnya kaget. Lalu ia saling berpandangan dengan Rio, sama-sama mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang ganjil di sini. Setelah itu, Diva lanjut mengoceh, meracau tak jelas menyebut-nyebut Kakak yang tinggal di pohon beringin dengan tatapan mata kosong ke depan. Di sampingnya, sang Ibu terus duduk sambil berusaha menyadarkan anaknya.
"Diva, sadar, Sayang. Hei, Diva!" panggil Rio sambil menepuk-nepuk pipi anaknya. Tapi Diva tetap tak sadar dan terus mengoceh.
"Pak, mending panggil Pak Ustad aja. Bukan apa-apa, kayanya anak Bapak ketempelan," saran salah satu warga kepada Rio. Mendengar itu, tak ada pilihan lain. Rio mengiyakan saran tersebut. Kemudian salah satu warga berjalan pergi meninggalkan rumah Nina untuk memanggil ahli agama setempat yang mempunyai kelebihan untuk mengurus masalah semacam ini.
Tak sampai sepuluh menit, Pak Ustad datang dengan setelan baju muslim dan sarung sederhana. Di kepalanya terpasang kopiah hitam yang mengkilap terkena lampu. Ia tampak berusia sekitar enam puluhan ke atas, rambut dan janggutnya pun sudah memutih. Para warga mempersilahkannya untuk masuk, beberapa berdiri dan memberikan tempat duduk kepada Pak Ustad.
"Pak," sapa Rio yang langsung berdiri dan berjabat tangan dengannya. Begitu juga Abbas.
"Duduk, duduk," kata Pak Ustad. Mendengar itu, Abbas dan Rio kembali duduk. Kali ini bersama sosok ahli agama di tengah-tengah mereka. Abbas mulai menjelaskan kejadiannya secara detail, Sang Ustad hanya diam sambil mengangguk-angguk.
Setelah Abbas berhenti bercerita, barulah Sang Ustad memulai tindakan. Awal-awal ia mencoba mengajak bicara Diva, tapi tetap tak menjawab. Anak itu masih saja mengoceh soal 'Kakak di Pohon Beringin' itu. Beberapa warga masih mengawal dan menonton kejadian di dalam rumah.
Mendengar pertanyaannya tak direspon, Pak Ustad menggantinya dengan doa. Ia mengeluarkan sebuah tasbih, mulutnya mulai komat-kamit, matanya terpejam. Suasana pun menjadi hening, hanya suara ocehan Diva yang terus terdengar. Pelan-pelan, Pak Ustad mengeraskan bacaan ayatnya, sehingga Abbas dan yang lainnya bisa mendengar lantunan ayat suci yang merdu itu.
Mendadak, ekspresi Diva yang semula kosong pun berubah. Ia terdiam lalu menggerakkan bola matanya ke arah Sang Ustad. Matanya melotot, wajahnya menunjukkan ekspresi marah. Rina sang Ibu awalnya mengira sang anak sudah membaik.
"Sayang, sayang! Ini Mama! Kamu kenapa?" tanya Rina sambil menangis kecil.
Lalu sang Suami menahan istrinya, ia tatap Rina dengan wajah serius. "Mama, sabar. Itu bukan anak kita, itu bukan Diva," ucap Rio pelan.
"Itu jelas anak kita!" balas Rina sambil menangis.
"Anak kita gak seperti ini, Ma!" kata Rio lebih keras.
L
Kemudian tangisan Rina pun pecah, semakin keras. Lalu Abbas menyuruhnya untuk menjauh. Rio lalu merangkul istrinya, ia membawa Rina yang menangis itu ke dalam kamar karena takut mengganggu Pak Ustad. Sambil bersandar pada bahu sang suami, Rina berjalan dengan lemas.
"Jangan coba-coba nantang saya kamu ya!" bentak Diva tiba-tiba dengan suara keras. Matanya terus melotot ke arah Pak Ustad.
Sontak, para warga yang menonton termasuk Abbas kaget. Suara anak itu terdengar berbeda, suara nyaring nan melengking itu jelas bukan suara anak seumurannya. Nafasnya mulai menggebu-gebu bak banteng mengamuk. Kedua tangan Diva mencakar-cakar tikar bambu dengan kukunya yang pendek.
Abbas berusaha menahan tangannya karena takut Diva terluka. Tapi tenaga anak itu kuat sekali. Di posisinya, Pak Ustad tetap tenang sambil sedikit tertawa kecil melihatnya.
"Ngapain kamu?" tanya Pak Ustad.
"Saya temenin dia!" jawab Diva.
"Pergi, anak ini ada orang tuanya," ujar Pak Ustad.
"Tidak! Anak ini sendirian, saya temani dia. Saya temannya! Bayi-bayi itu juga!" bentak Diva dengan mata melotot.
"Bayi?" gumam Abbas. Mendengar kata itu membuatnya tersentak, ia langsung teringat pada anaknya Pasha yang baru lahir. Juga Niko yang masih beberapa bulan.
"Anak ini mau saya bawa, jadi anak saya! Anak ini jadi anak saya!" kata sosok yang sedang merasuki Diva.
Setelah itu, Pak Ustad tak bicara apa-apa lagi. Ia kembali membaca doa, lalu ia menggeser posisi duduknya. Mata Diva yang melotot mengikuti arah gerakan Pak Ustad. Hingga sampailah ia di samping Diva, mulutnya masih komat-kamit. Lalu ia sentuh dahi Diva sambil terus membaca ayat-ayat yang jadi senjatanya.
Diva pun bereaksi, ia berontak dan melawan. Berusaha melepaskan tangan Pak Ustad. Anak itu kesakitan, mulai menangis dan samar-samar seperti meminta tolong. Melihat itu, Abbas berusaha membantu keponakannya.
"Diva, ayo kamu bisa! Ayo kalau dengan suara Om, kamu baca ishtigfar atau apa aja yang kamu bisa!" ujar Abbas.
Hahahahahahaha!
Tiba-tiba Diva tertawa keras. Tangan Pak Ustad terus memegangi dahinya, berusaha mengeluarkan sosok itu. Anak kecil itu tertawa lalu menangis secara bergantian. Sampai akhirnya, harapan pun muncul. Terdengar Diva pelan-pelan membaca doa.
"Iya, terus! Baca, Diva! Doa makan, buka puasa, apa aja baca!" kata Abbas.
Tak lama kemudian, Pak Ustad menghentikan bacaannya dan sosok itu sepenuhnya keluar dari tubuh Diva. Setelah Diva sadar kembali, aroma wangi melati pun tercium di seluruh ruangan rumah Abbas dan Nina. Semua warga yang hadir mencium bau itu dan semuanya mengucapkan ishtigfar.
"Abbas? Kamu sadar?" tanya Abbas.
Dengan wajah pucat, Diva menjawab. "Sadar, Om," katanya dengan lemah.
"Itu Kuntilanak," ucap Pak Ustad. "Ada banyak di sini," tambahnya.
Abbas menghadap ke arah Sang Ustad dengan wajah serius. "Iya, saya pernah lihat sekali," kata Abbas.
"Hati-hati, Pak Guru punya bayi. Banyak-banyak mengaji, sholat, zikir. Atau kalau bisa, pindah ke rumah lain. Pohon beringin di samping itu, sarang Kuntilanak," tutur Pak Ustad menjelaskan. Dengan wajah takut, Abbas menelan ludah.
Nina lalu berjalan ke luar saat mendengar Diva sudah sadar. Rio dan Rina pun lega melihat anaknya kembali. Hanya saja, Diva masih lemas. Wajahnya pucat dan badannya masih demam tinggi. Para warga juga sudah mulai bubar.
Nina melihat ke arah beranda depan, suaminya Abbas tengah berbincang dengan Pak Ustad. Ia yang penasaran buru-buru ia mendekat untuk bergabung bersama mereka. Abbas melirik sedikit saat melihat sang istri datang.
"Untuk berjaga-jaga saja, Pak Guru." Dari dalam sakunya Pak Ustad mengeluarkan sesuatu. "Orang tua zaman dulu sering menggunakan ini untuk menangkal makhluk halus," ucap Pak Ustad sambil memberikan beberapa buah bangle yang terbungkus plastik.
Melihat itu Nina teringat sesuatu. "Pak, saya juga simpan gunting kecil di bawah bantal. Seseorang kasih itu ke saya, buat jaga-jaga. Apa itu buat menangkal makhluk halus juga?" tanya Nina yang ikut bicara.
Pak Ustad mengangguk. "Konon katanya begitu, coba saja dulu. Tapi yang penting tetap perbanyak ibadah, mengaji. Supaya rumah kalian dipenuhi aura positif," pesan Sang Ustad sebelum dirinya pamit dan berjalan pulang.
Setelah kejadian itu, Rio sekeluarga memutuskan untuk pulang malam itu juga. Mereka khawatir Diva kembali diganggu apabila mereka tetap di rumah Abbas malam ini. Mobil pun dinyalakan, Rina mengemas barang-barangnya. Lalu mereka semua naik ke dalam mobil.
"Mas, maaf ya kita pulang sekarang. Bukan apa-apa, aku takut," kata Rio.
"Gak apa-apa, maaf juga ya. Kalian ke sini malah kena musibah," ucap Abbas.
Kedua lalu berpelukan sesaat. Kemudian Rio masuk ke dalam mobil, lalu mulai berputar arah menuju ke jalan setapak. Rina melambaikan tangan dari dalam mobil. Nina pun membalas lambaiannya. Lampu mobil mereka menerangi sudut desa yang gelap. Mulai melaju pergi meninggalkan rumah Abbas.
Setelah ditemukan oleh salah satu warga, Diva pun langsung dibawa masuk. Warga dibuat geger karena lokasi ditemukannya bocah itu malah di pohon beringin samping rumahnya sendiri. Lokasi penemuan yang dianggap janggal itu pun membuat banyak tanya pada para warga, hanya saja mereka semua menahan diri untuk berkomentar.
Diva dibaringkan di atas kasur lantai di ruang tengah. Tubuhnya sangat lemas dan demam, sesekali terlihat badannya gemetar akibat mengigil. Beberapa warga masih berkumpul di rumah Nina untuk melihat apa yang terjadi. Sekaligus membantu sebisa mereka.
"Aku mau main, mau main!" kata Diva dengan nada lemah.
"Ke mana? Mau main ke mana?" tanya Abbas sambil memperhatikan anak itu.
"Aku mau main sama Kakak yang di pohon." Tangan Diva menunjuk ke arah di mana pohon itu berada.
Mendengar itu, Abbas dan yang lainnya kaget. Lalu ia saling berpandangan dengan Rio, sama-sama mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang ganjil di sini. Setelah itu, Diva lanjut mengoceh, meracau tak jelas menyebut-nyebut Kakak yang tinggal di pohon beringin dengan tatapan mata kosong ke depan. Di sampingnya, sang Ibu terus duduk sambil berusaha menyadarkan anaknya.
"Diva, sadar, Sayang. Hei, Diva!" panggil Rio sambil menepuk-nepuk pipi anaknya. Tapi Diva tetap tak sadar dan terus mengoceh.
"Pak, mending panggil Pak Ustad aja. Bukan apa-apa, kayanya anak Bapak ketempelan," saran salah satu warga kepada Rio. Mendengar itu, tak ada pilihan lain. Rio mengiyakan saran tersebut. Kemudian salah satu warga berjalan pergi meninggalkan rumah Nina untuk memanggil ahli agama setempat yang mempunyai kelebihan untuk mengurus masalah semacam ini.
Tak sampai sepuluh menit, Pak Ustad datang dengan setelan baju muslim dan sarung sederhana. Di kepalanya terpasang kopiah hitam yang mengkilap terkena lampu. Ia tampak berusia sekitar enam puluhan ke atas, rambut dan janggutnya pun sudah memutih. Para warga mempersilahkannya untuk masuk, beberapa berdiri dan memberikan tempat duduk kepada Pak Ustad.
"Pak," sapa Rio yang langsung berdiri dan berjabat tangan dengannya. Begitu juga Abbas.
"Duduk, duduk," kata Pak Ustad. Mendengar itu, Abbas dan Rio kembali duduk. Kali ini bersama sosok ahli agama di tengah-tengah mereka. Abbas mulai menjelaskan kejadiannya secara detail, Sang Ustad hanya diam sambil mengangguk-angguk.
Setelah Abbas berhenti bercerita, barulah Sang Ustad memulai tindakan. Awal-awal ia mencoba mengajak bicara Diva, tapi tetap tak menjawab. Anak itu masih saja mengoceh soal 'Kakak di Pohon Beringin' itu. Beberapa warga masih mengawal dan menonton kejadian di dalam rumah.
Mendengar pertanyaannya tak direspon, Pak Ustad menggantinya dengan doa. Ia mengeluarkan sebuah tasbih, mulutnya mulai komat-kamit, matanya terpejam. Suasana pun menjadi hening, hanya suara ocehan Diva yang terus terdengar. Pelan-pelan, Pak Ustad mengeraskan bacaan ayatnya, sehingga Abbas dan yang lainnya bisa mendengar lantunan ayat suci yang merdu itu.
Mendadak, ekspresi Diva yang semula kosong pun berubah. Ia terdiam lalu menggerakkan bola matanya ke arah Sang Ustad. Matanya melotot, wajahnya menunjukkan ekspresi marah. Rina sang Ibu awalnya mengira sang anak sudah membaik.
"Sayang, sayang! Ini Mama! Kamu kenapa?" tanya Rina sambil menangis kecil.
Lalu sang Suami menahan istrinya, ia tatap Rina dengan wajah serius. "Mama, sabar. Itu bukan anak kita, itu bukan Diva," ucap Rio pelan.
"Itu jelas anak kita!" balas Rina sambil menangis.
"Anak kita gak seperti ini, Ma!" kata Rio lebih keras.
L
Kemudian tangisan Rina pun pecah, semakin keras. Lalu Abbas menyuruhnya untuk menjauh. Rio lalu merangkul istrinya, ia membawa Rina yang menangis itu ke dalam kamar karena takut mengganggu Pak Ustad. Sambil bersandar pada bahu sang suami, Rina berjalan dengan lemas.
"Jangan coba-coba nantang saya kamu ya!" bentak Diva tiba-tiba dengan suara keras. Matanya terus melotot ke arah Pak Ustad.
Sontak, para warga yang menonton termasuk Abbas kaget. Suara anak itu terdengar berbeda, suara nyaring nan melengking itu jelas bukan suara anak seumurannya. Nafasnya mulai menggebu-gebu bak banteng mengamuk. Kedua tangan Diva mencakar-cakar tikar bambu dengan kukunya yang pendek.
Abbas berusaha menahan tangannya karena takut Diva terluka. Tapi tenaga anak itu kuat sekali. Di posisinya, Pak Ustad tetap tenang sambil sedikit tertawa kecil melihatnya.
"Ngapain kamu?" tanya Pak Ustad.
"Saya temenin dia!" jawab Diva.
"Pergi, anak ini ada orang tuanya," ujar Pak Ustad.
"Tidak! Anak ini sendirian, saya temani dia. Saya temannya! Bayi-bayi itu juga!" bentak Diva dengan mata melotot.
"Bayi?" gumam Abbas. Mendengar kata itu membuatnya tersentak, ia langsung teringat pada anaknya Pasha yang baru lahir. Juga Niko yang masih beberapa bulan.
"Anak ini mau saya bawa, jadi anak saya! Anak ini jadi anak saya!" kata sosok yang sedang merasuki Diva.
Setelah itu, Pak Ustad tak bicara apa-apa lagi. Ia kembali membaca doa, lalu ia menggeser posisi duduknya. Mata Diva yang melotot mengikuti arah gerakan Pak Ustad. Hingga sampailah ia di samping Diva, mulutnya masih komat-kamit. Lalu ia sentuh dahi Diva sambil terus membaca ayat-ayat yang jadi senjatanya.
Diva pun bereaksi, ia berontak dan melawan. Berusaha melepaskan tangan Pak Ustad. Anak itu kesakitan, mulai menangis dan samar-samar seperti meminta tolong. Melihat itu, Abbas berusaha membantu keponakannya.
"Diva, ayo kamu bisa! Ayo kalau dengan suara Om, kamu baca ishtigfar atau apa aja yang kamu bisa!" ujar Abbas.
Hahahahahahaha!
Tiba-tiba Diva tertawa keras. Tangan Pak Ustad terus memegangi dahinya, berusaha mengeluarkan sosok itu. Anak kecil itu tertawa lalu menangis secara bergantian. Sampai akhirnya, harapan pun muncul. Terdengar Diva pelan-pelan membaca doa.
"Iya, terus! Baca, Diva! Doa makan, buka puasa, apa aja baca!" kata Abbas.
Tak lama kemudian, Pak Ustad menghentikan bacaannya dan sosok itu sepenuhnya keluar dari tubuh Diva. Setelah Diva sadar kembali, aroma wangi melati pun tercium di seluruh ruangan rumah Abbas dan Nina. Semua warga yang hadir mencium bau itu dan semuanya mengucapkan ishtigfar.
"Abbas? Kamu sadar?" tanya Abbas.
Dengan wajah pucat, Diva menjawab. "Sadar, Om," katanya dengan lemah.
"Itu Kuntilanak," ucap Pak Ustad. "Ada banyak di sini," tambahnya.
Abbas menghadap ke arah Sang Ustad dengan wajah serius. "Iya, saya pernah lihat sekali," kata Abbas.
"Hati-hati, Pak Guru punya bayi. Banyak-banyak mengaji, sholat, zikir. Atau kalau bisa, pindah ke rumah lain. Pohon beringin di samping itu, sarang Kuntilanak," tutur Pak Ustad menjelaskan. Dengan wajah takut, Abbas menelan ludah.
Nina lalu berjalan ke luar saat mendengar Diva sudah sadar. Rio dan Rina pun lega melihat anaknya kembali. Hanya saja, Diva masih lemas. Wajahnya pucat dan badannya masih demam tinggi. Para warga juga sudah mulai bubar.
Nina melihat ke arah beranda depan, suaminya Abbas tengah berbincang dengan Pak Ustad. Ia yang penasaran buru-buru ia mendekat untuk bergabung bersama mereka. Abbas melirik sedikit saat melihat sang istri datang.
"Untuk berjaga-jaga saja, Pak Guru." Dari dalam sakunya Pak Ustad mengeluarkan sesuatu. "Orang tua zaman dulu sering menggunakan ini untuk menangkal makhluk halus," ucap Pak Ustad sambil memberikan beberapa buah bangle yang terbungkus plastik.
Melihat itu Nina teringat sesuatu. "Pak, saya juga simpan gunting kecil di bawah bantal. Seseorang kasih itu ke saya, buat jaga-jaga. Apa itu buat menangkal makhluk halus juga?" tanya Nina yang ikut bicara.
Pak Ustad mengangguk. "Konon katanya begitu, coba saja dulu. Tapi yang penting tetap perbanyak ibadah, mengaji. Supaya rumah kalian dipenuhi aura positif," pesan Sang Ustad sebelum dirinya pamit dan berjalan pulang.
Setelah kejadian itu, Rio sekeluarga memutuskan untuk pulang malam itu juga. Mereka khawatir Diva kembali diganggu apabila mereka tetap di rumah Abbas malam ini. Mobil pun dinyalakan, Rina mengemas barang-barangnya. Lalu mereka semua naik ke dalam mobil.
"Mas, maaf ya kita pulang sekarang. Bukan apa-apa, aku takut," kata Rio.
"Gak apa-apa, maaf juga ya. Kalian ke sini malah kena musibah," ucap Abbas.
Kedua lalu berpelukan sesaat. Kemudian Rio masuk ke dalam mobil, lalu mulai berputar arah menuju ke jalan setapak. Rina melambaikan tangan dari dalam mobil. Nina pun membalas lambaiannya. Lampu mobil mereka menerangi sudut desa yang gelap. Mulai melaju pergi meninggalkan rumah Abbas.
suryaassyauq603 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Tutup