- Beranda
- Stories from the Heart
Susuk Nyi Blorong
...
TS
piendutt
Susuk Nyi Blorong

Quote:
Susuk Nyi Blorong
Part 1. Tragedi Mengubah Segalanya
Menjadi anak yang bisa melihat dunia lain, itu tidaklah mudah dan tidak seperti yang kalian pikirkan. Cerita ini mengisahkan seorang wanita yang berjuang untuk mengatasi ketakutannya karena diberikan kekuatan untuk bisa melihat hal-hal gaib.
Putri Balqis Kuncoro adalah anak semata wayang keluarga Bima Kuncoro. Seperti anak-anak lainnya, gadis berusia enam tahun itu mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuanya. Bima adalah Direktur sekaligus pemilik beberapa rumah sakit yang tersebar di berbagai area. Kehidupan gadis itu benar-benar sempurna hingga membuat iri siapa pun yang melihatnya. Namun, suatu hari peristiwa nahas terjadi dan mengubah kehidupan gadis cilik itu.
Kecelakaan mobil beruntun di sebuah jalan mengakibatkan banyak korban jiwa. Tampak seorang gadis cilik sedang menangis sembari memanggil nama kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu ... bangun! Putri takut, Bu," pekiknya seraya mengguncang tubuh kedua orang tuanya yang sudah berlumuran darah.
Cedera di kepala gadis cilik itu membuatnya pusing, hingga tak sadarkan diri. Darah segar terus mengalir dari pelipisnya, hingga suara hiruk-pikuk dari luar mobil yang ternyata petugas keamanan berhasil menemukannya. Gadis cilik itu langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, sedangkan kedua orang tuanya tidak terselamatkan.
Petugas kepolisian langsung menghubungi keluarga lain dari gadis cilik itu, beruntungnya ia masih mempunyai paman yang bernama Krisna Kuncoro. Adik dari sang ayah. Mendapat kabar seperti itu, Krisna beserta seluruh keluarga bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang keponakan. Dokter berkata Putri mengalami syok dan kehilangan banyak darah. Gadis cilik itu juga mengalami trauma dan enggan untuk bangun lagi. Kini, Putri mengalami koma dan terbaring di rumah sakit. Entah kapan, gadis cilik itu bisa terbangun dan tersenyum kembali.
Sejak saat itulah, harta kekayaan Bima Kuncoro jatuh ke tangan Krisna untuk dikelola hingga Putri bangun dari tidur panjangnya.
***
Sekitar lima tahun kemudian.
Suatu pagi, terlihat dua orang perawat tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di bangsal rumah sakit. Salah satu dari mereka sedang bertugas mengganti baju pasien.
"Kasihan, ya. Cantik-cantik tapi koma, udah kayak ngurus mayat aja beginian!" gerutu perawat itu.
"Hust! Dilarang ngeluh, kamu nggak tau, ya. Pasien ini anak orang kaya, jangan sampai lecet. Bisa kena marah kita nanti." Perawat yang lain pun mengingatkan.
Setelah selesai mengganti baju, tiba-tiba tangan pasien itu bergerak. Kedua perawat itu pun panik dan dengan segera memanggil Dokter untuk mengecek kondisi gadis yang sudah bertahun-tahun terbaring itu.
"Ini kabar baik, Putri akan segera bangun," serunya bersemangat.
Bersambung.
Written : @piendutt
Sumber : opini pribadi
Part 1. Tragedi Mengubah Segalanya
Menjadi anak yang bisa melihat dunia lain, itu tidaklah mudah dan tidak seperti yang kalian pikirkan. Cerita ini mengisahkan seorang wanita yang berjuang untuk mengatasi ketakutannya karena diberikan kekuatan untuk bisa melihat hal-hal gaib.
Putri Balqis Kuncoro adalah anak semata wayang keluarga Bima Kuncoro. Seperti anak-anak lainnya, gadis berusia enam tahun itu mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuanya. Bima adalah Direktur sekaligus pemilik beberapa rumah sakit yang tersebar di berbagai area. Kehidupan gadis itu benar-benar sempurna hingga membuat iri siapa pun yang melihatnya. Namun, suatu hari peristiwa nahas terjadi dan mengubah kehidupan gadis cilik itu.
Kecelakaan mobil beruntun di sebuah jalan mengakibatkan banyak korban jiwa. Tampak seorang gadis cilik sedang menangis sembari memanggil nama kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu ... bangun! Putri takut, Bu," pekiknya seraya mengguncang tubuh kedua orang tuanya yang sudah berlumuran darah.
Cedera di kepala gadis cilik itu membuatnya pusing, hingga tak sadarkan diri. Darah segar terus mengalir dari pelipisnya, hingga suara hiruk-pikuk dari luar mobil yang ternyata petugas keamanan berhasil menemukannya. Gadis cilik itu langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, sedangkan kedua orang tuanya tidak terselamatkan.
Petugas kepolisian langsung menghubungi keluarga lain dari gadis cilik itu, beruntungnya ia masih mempunyai paman yang bernama Krisna Kuncoro. Adik dari sang ayah. Mendapat kabar seperti itu, Krisna beserta seluruh keluarga bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang keponakan. Dokter berkata Putri mengalami syok dan kehilangan banyak darah. Gadis cilik itu juga mengalami trauma dan enggan untuk bangun lagi. Kini, Putri mengalami koma dan terbaring di rumah sakit. Entah kapan, gadis cilik itu bisa terbangun dan tersenyum kembali.
Sejak saat itulah, harta kekayaan Bima Kuncoro jatuh ke tangan Krisna untuk dikelola hingga Putri bangun dari tidur panjangnya.
***
Sekitar lima tahun kemudian.
Suatu pagi, terlihat dua orang perawat tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di bangsal rumah sakit. Salah satu dari mereka sedang bertugas mengganti baju pasien.
"Kasihan, ya. Cantik-cantik tapi koma, udah kayak ngurus mayat aja beginian!" gerutu perawat itu.
"Hust! Dilarang ngeluh, kamu nggak tau, ya. Pasien ini anak orang kaya, jangan sampai lecet. Bisa kena marah kita nanti." Perawat yang lain pun mengingatkan.
Setelah selesai mengganti baju, tiba-tiba tangan pasien itu bergerak. Kedua perawat itu pun panik dan dengan segera memanggil Dokter untuk mengecek kondisi gadis yang sudah bertahun-tahun terbaring itu.
"Ini kabar baik, Putri akan segera bangun," serunya bersemangat.
Bersambung.
Written : @piendutt
Sumber : opini pribadi
Part 1. Tragedi Mengubah Segalanya
Part 2. Bisa Melihat Arwah Gentayangan
Part 3. Kepulangan Putri ke Rumah
Part 4. Menempuh Pendidikan
Part 5. Sering diganggu Arwah
Part 6. Kecelakaan tak Terduga
Part 7. Kematian Sang Nenek
Part 8. Pertama Kali Berinteraksi dengan Arwah
Part 9. Trik Menemui Putri
Part 10. Membela Putri
Part 11. Pemasangan Susuk
Part 12. Susuk Pemikat Pria
Part 13. Ketakutan Terbesar Putri
Part 14. Bram ingin Melindungi Putri
Part 15. Putri dilukai oleh Donna
Part 16. Petaka
Part 17. Mengiklaskan Segalanya
Diubah oleh piendutt 09-09-2022 11:01
Araka dan 21 lainnya memberi reputasi
22
10.5K
Kutip
91
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
piendutt
#27
Susuk Nyi Blorong

Quote:
Part 9. Trik Menemui Putri
Bram berjalan meninggalkan Klinik dengan perasaan kesal. Kakinya terus menendang kerikil di sepanjang jalan yang dilewatinya untuk melampiaskan rasa kecewa di hatinya. Perkataan Suster Ana tadi masih terus terngiang-ngiang di telinga.
‘Mas harus jadi pasien dulu kalau mau nemuin Dokter Putri!'
Sekejap kemudian, Bram menemukan sebuah titik terang saat melihat pecahan kaca di pinggir jalan yang dilewatinya. Entah apa yang dipikirkannya. Bram mengambil salah satu pecahan kaca itu dan langsung menggoreskannya, darah segar pun mengalir dari pergelangan tangannya. Namun, dia terlihat tidak kesakitan dan malah tersenyum puas.
‘Kali ini, kamu nggak akan bisa menghindar lagi,' batinnya.
Bram pun bergegas kembali ke Klinik sambil memegangi pergelangan tangannya yang terus mengucurkan darah.
***
"Dok, ada pasien baru datang!" lapor Suster Ana yang menelepon Putri.
"Keluhannya apa, Sus?" jawab Putri dari seberang telepon.
"Luka goresan di tangan, Dok."
"Baiklah, suruh dia masuk!"
"Baik, Dok!" Suster Ana pun menutup telepon dan mempersilakan Bram untuk masuk ke ruangan Putri.
"Silakan, Mas. Anda boleh masuk. Lewat sini, ya." Suster Ana bergegas mengantarkan Bram masuk ke ruangan Putri.
Sementara itu, di dalam ruangan. Putri berniat meminta Nenek Ratih untuk meninggalkan ruangannya. Putri sedikit merasa risi karena diawasi sosok tidak kasat mata yang hanya mampu dilihat oleh dirinya saja.
"Nek, saya mau ada pasien. Nenek pergi aja dulu. Kalau Bram ke sini lagi, biar saya sampaikan pesan Nenek," ujar Putri hati-hati pada Nenek Ratih yang masih berdiri di pinggir jendela.
"Nggak usah repot-repot, Nak. Itu Bram sudah di sini, kok," sahut Nenek Ratih dengan senyum semringah.
Baru saja Nenek Ratih menyelesaikan ucapannya, Bram memasuki ruangan Putri dengan tangan bersimbah darah.
"Apa?!" Putri kaget melihat bahwa ternyata Bram yang menjadi pasiennya.
Setelah mengucapkan salam, Bram pun duduk di depan Putri. Pria itu menatapnya dengan tatapan sayu.
"Apa harus nunggu saya terluka dulu, baru Anda mau menemui saya, Dokter Putri?" tanya pria berhidung mancung itu seraya menatap Putri dengan sorot mata yang menyipit.
"Nggak usah formal gitu! Lagian, kita seumuran," jawab Putri santai.
Tidak ingin suasana menjadi canggung, Putri pun segera mengambil peralatan untuk mengobati tangan Bram yang terluka.
"Kena goresan apa ini?" tanya Putri memecah keheningan.
"Kena pecahan kaca di jalan," jawab Bram datar.
"Sakit nggak?" tanya Putri.
"Nggak lebih sakit dari sikap kamu ... yang sengaja nggak mau nemuin aku!" sahut Bram sedikit kesal.
"Bukannya nggak mau nemuin kamu, tapi di sini, tuh Klinik, bukannya tempat lain.”
"Jadi, kalau di tempat lain. Kamu mau nemuin aku, ya?" Pertanyaan Bram membuat Putri tidak bisa berkata-kata lagi.
"Udah selesai, nih!" ujar Putri, lalu merapikan peralatannya.
"Makasih, ya.”
"Kenapa mau nemuin aku?" tanya Putri sembari menuliskan resep untuk Bram.
"Ehmm, sebenarnya aku masih penasaran. Waktu itu kamu sempat ngasih peringatan tentang nenekku. Aku ingin tau, dari mana kamu tau kalau nenekku sedang dalam bahaya?" tanya Bram menyelidik.
Putri menghela napas. Sebenarnya, dia malas untuk membahas hal itu lagi. Namun, Nenek Ratih masih terus menatapnya penuh harap. Mau tidak mau, dia pun bercerita tentang kemampuannya yang bisa melihat makhluk tidak kasat mata.
"Hem, apa kamu percaya ... kalau di dunia ini ada orang yang bisa melihat sosok lain di sekitar kita?"
"Aku percaya, kok!" sahut Bram dengan lantang.
"Segitu cepatnya kamu percaya!"
"Nenekku selalu mengatakan, ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita terima dengan akal sehat, tergantung kepercayaan masing-masing," ujar Bram menjelaskan.
Nenek Ratih terus memohon pada Putri untuk menyampaikan pesan kepada Bram.
"Iya-iya, Nek. Putri tau!" sahut Putri sambil melihat ke arah jendela.
Perkataan Putri yang sangat tiba-tiba itu membuat Bram terkejut dan sedikit takut, pasalnya di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Pemuda itu pun menoleh ke sana kemari kalau-kalau ada yang terlewat olehnya.
"Putri, ka-kamu lagi ngomong sama siapa, sih?" bisik Bram.
"Tadi kamu bilang percaya kalau ada orang yang bisa ngeliat mereka. Salah satunya aku. Kenapa sekarang kamu jadi takut?"
"Nggak, kok! Aku nggak takut! Cuman ... penasaran aja," sahut Bram tersenyum kecut.
"Nenekmu … duduk tepat di samping kamu. Kalau kamu mau ngomong, ngomong aja. Beliau bisa denger, kok," ujar Putri santai, lalu meneruskan kembali pekerjaannya.
"Serius?! Nenek aku di sini?!" kata Bram sambil berpindah posisi.
Putri hanya mengangguk, sedangkan Bram bingung harus mulai dari mana.
"Nenek, ini Bram. Nenek dengar, kan? Nenek, jangan khawatir, ya! Bram akan jadi cucu yang berbakti buat Nenek. Bram akan jadi orang sukses seperti Papa, Nek. Mulai sekarang, Nenek bisa tinggal di Surga dengan tenang," tutur Bram seraya menatap ke arah kursi kosong di sampingnya.
Nenek Ratih pun tersenyum mendengar perkataan Bram. Dia mengangguk dan berpamitan pada Putri. Usai berpamitan, wujud Nenek Ratih berubah menjadi asap putih yang kemudian menghilang. Putri tersenyum kecil setelah melihat kepulan asap itu menghilang dari pandangannya.
Bram yang tidak mengetahui bahwa sang nenek sudah pergi, masih terus berbicara seolah neneknya masih duduk di sampingnya.
"Nek, maafin Bram, ya, belum bisa membawa menantu pilihan Nenek. Padahal, aku ingin sekali Nenek melihat Bram menikah. Tapi, ya, sudahlah, mau bagaimana lagi, Bram janji bakal ngedapetin menantu seperti idaman Nenek, ok!" sahutnya bersemangat.
Seketika, Putri tertawa mendengar ucapan Bram yang terdengar seperti anak kecil itu.
"Kok, kamu ketawa, Put? Kamu bohongin aku, ya?" ujar Bram menatap Putri yang masih tertawa.
"Bukannya gitu, Nenek kamu sudah pergi dari tadi, kok,” sahut Putri masih dengan senyum kecilnya.
"Kok, kamu nggak ngasih tau, sih?!" Bram kembali ke posisinya dan tersipu malu.
"Gimana mau ngasih tau, orang kamunya ceriwis nggak berhenti gitu.”
Bram menatap Putri yang masih tersenyum, hatinya bergetar. Seperti ada pertunjukan drumband yang ditabuh di dalam hatinya. Pria itu merasa senang saat melihat wanita di hadapannya itu terlihat ceria.
"Ternyata … kamu cantik juga kalau lagi senyum," ujar Bram seketika.
Ucapan Bram itu sontak menyadarkan Putri dan membuat wanita itu jadi salah tingkah.
"Nih, udah selesai! Aku udah nulis resepnya. Kamu bisa ambil obatnya di luar."
"Makasih, ya, karena udah nyampein pesanku ke Nenek dan juga untuk ini." Bram mengangkat tangannya yang terbalut perban.
Putri hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Bram. Saat hendak meninggalkan ruangan, Bram mengurungkan niatnya dan berbalik lagi menghampiri Putri.
"Boleh, aku minta nomor ponsel kamu?" tanya Bram seraya menatap Putri.
Putri sedikit terkejut mendengar permintaan Bram. Dia terdiam sejenak karena bingung harus menjawab apa.
"Tanganku, kan masih sakit. Nanti kalau infeksi gimana? Biar aku bisa tanya-tanya gitu," ujar Bram beralasan.
"Hem, nih! Ambil kartu namaku," sahut Putri menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu memberikan kartu namanya kepada Bram.
"Makasih lagi, ya," sahut Bram dengan senyum semringah dan pergi keluar dengan perasaan yang bahagia.
Pada saat bersamaan, sebuah mobil sedan berwarna putih melintas di depan Klinik itu.
"Mang, berhenti sebentar!" sahut Donna yang berada dalam mobil.
Amarah Donna tersulut saat melihat Bram, pemuda yang disukainya itu, keluar dari Klinik tempat Putri bekerja dengan wajah yang tersenyum lebar.
“Dasar wanita jalang!” umpatnya seraya meremas tangan. Donna benar-benar merasa kesal karena ternyata Bram lebih tertarik kepada Putri ketimbang dirinya.
***
Sesampainya di rumah, Donna membanting tas bermerek Louis Vuitton berwarna cokelat miliknya ke lantai dan berteriak-teriak melampiaskan kekesalannya. Silvi yang mendengar teriakan sang anak pun langsung menemuinya.
"Donna! Ada apa ini, Sayang?! Kenapa baru pulang marah-marah gini?" tanya wanita berambut keriting itu.
"Aku benci sama cewek jalang itu, Ma!" bentak Donna ketus.
"Maksud kamu siapa? Apa si Putri?!"
"Siapa lagi kalau bukan dia, Ma?!"
"Kenapa lagi?! Apa yang dia lakukan ke kamu, Sayang?”
"Mama tau, kan kalau aku dari dulu suka sama Bram, tapi cewek jalang itu berani-beraninya ngerebut dia dari aku, Ma!" cetus Donna sambil terisak.
"Hah?! Serius kamu, Don?! Dari mana mereka bisa kenal satu sama lain?" tanya Silvi heran.
Donna pun menceritakan semuanya dan juga tentang Bram yang keluar dari Klinik Putri tadi. Silvi pun geram usai mendengar penuturan Donna.
"Sayang, kamu nggak usah khawatir! Mama akan membantu kamu! Sepertinya, sudah saatnya kamu tahu. Besok kamu harus ikut Mama, ya?"
"Memangnya kita mau ke mana, Ma?"
"Besok juga kamu bakal tahu. Udah, jangan uring-uringan!" sahut Silvi, lalu pergi meninggalkan Donna yang masih kebingungan dengan maksud sang mama.
Bersambung.
Bram berjalan meninggalkan Klinik dengan perasaan kesal. Kakinya terus menendang kerikil di sepanjang jalan yang dilewatinya untuk melampiaskan rasa kecewa di hatinya. Perkataan Suster Ana tadi masih terus terngiang-ngiang di telinga.
‘Mas harus jadi pasien dulu kalau mau nemuin Dokter Putri!'
Sekejap kemudian, Bram menemukan sebuah titik terang saat melihat pecahan kaca di pinggir jalan yang dilewatinya. Entah apa yang dipikirkannya. Bram mengambil salah satu pecahan kaca itu dan langsung menggoreskannya, darah segar pun mengalir dari pergelangan tangannya. Namun, dia terlihat tidak kesakitan dan malah tersenyum puas.
‘Kali ini, kamu nggak akan bisa menghindar lagi,' batinnya.
Bram pun bergegas kembali ke Klinik sambil memegangi pergelangan tangannya yang terus mengucurkan darah.
***
"Dok, ada pasien baru datang!" lapor Suster Ana yang menelepon Putri.
"Keluhannya apa, Sus?" jawab Putri dari seberang telepon.
"Luka goresan di tangan, Dok."
"Baiklah, suruh dia masuk!"
"Baik, Dok!" Suster Ana pun menutup telepon dan mempersilakan Bram untuk masuk ke ruangan Putri.
"Silakan, Mas. Anda boleh masuk. Lewat sini, ya." Suster Ana bergegas mengantarkan Bram masuk ke ruangan Putri.
Sementara itu, di dalam ruangan. Putri berniat meminta Nenek Ratih untuk meninggalkan ruangannya. Putri sedikit merasa risi karena diawasi sosok tidak kasat mata yang hanya mampu dilihat oleh dirinya saja.
"Nek, saya mau ada pasien. Nenek pergi aja dulu. Kalau Bram ke sini lagi, biar saya sampaikan pesan Nenek," ujar Putri hati-hati pada Nenek Ratih yang masih berdiri di pinggir jendela.
"Nggak usah repot-repot, Nak. Itu Bram sudah di sini, kok," sahut Nenek Ratih dengan senyum semringah.
Baru saja Nenek Ratih menyelesaikan ucapannya, Bram memasuki ruangan Putri dengan tangan bersimbah darah.
"Apa?!" Putri kaget melihat bahwa ternyata Bram yang menjadi pasiennya.
Setelah mengucapkan salam, Bram pun duduk di depan Putri. Pria itu menatapnya dengan tatapan sayu.
"Apa harus nunggu saya terluka dulu, baru Anda mau menemui saya, Dokter Putri?" tanya pria berhidung mancung itu seraya menatap Putri dengan sorot mata yang menyipit.
"Nggak usah formal gitu! Lagian, kita seumuran," jawab Putri santai.
Tidak ingin suasana menjadi canggung, Putri pun segera mengambil peralatan untuk mengobati tangan Bram yang terluka.
"Kena goresan apa ini?" tanya Putri memecah keheningan.
"Kena pecahan kaca di jalan," jawab Bram datar.
"Sakit nggak?" tanya Putri.
"Nggak lebih sakit dari sikap kamu ... yang sengaja nggak mau nemuin aku!" sahut Bram sedikit kesal.
"Bukannya nggak mau nemuin kamu, tapi di sini, tuh Klinik, bukannya tempat lain.”
"Jadi, kalau di tempat lain. Kamu mau nemuin aku, ya?" Pertanyaan Bram membuat Putri tidak bisa berkata-kata lagi.
"Udah selesai, nih!" ujar Putri, lalu merapikan peralatannya.
"Makasih, ya.”
"Kenapa mau nemuin aku?" tanya Putri sembari menuliskan resep untuk Bram.
"Ehmm, sebenarnya aku masih penasaran. Waktu itu kamu sempat ngasih peringatan tentang nenekku. Aku ingin tau, dari mana kamu tau kalau nenekku sedang dalam bahaya?" tanya Bram menyelidik.
Putri menghela napas. Sebenarnya, dia malas untuk membahas hal itu lagi. Namun, Nenek Ratih masih terus menatapnya penuh harap. Mau tidak mau, dia pun bercerita tentang kemampuannya yang bisa melihat makhluk tidak kasat mata.
"Hem, apa kamu percaya ... kalau di dunia ini ada orang yang bisa melihat sosok lain di sekitar kita?"
"Aku percaya, kok!" sahut Bram dengan lantang.
"Segitu cepatnya kamu percaya!"
"Nenekku selalu mengatakan, ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita terima dengan akal sehat, tergantung kepercayaan masing-masing," ujar Bram menjelaskan.
Nenek Ratih terus memohon pada Putri untuk menyampaikan pesan kepada Bram.
"Iya-iya, Nek. Putri tau!" sahut Putri sambil melihat ke arah jendela.
Perkataan Putri yang sangat tiba-tiba itu membuat Bram terkejut dan sedikit takut, pasalnya di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Pemuda itu pun menoleh ke sana kemari kalau-kalau ada yang terlewat olehnya.
"Putri, ka-kamu lagi ngomong sama siapa, sih?" bisik Bram.
"Tadi kamu bilang percaya kalau ada orang yang bisa ngeliat mereka. Salah satunya aku. Kenapa sekarang kamu jadi takut?"
"Nggak, kok! Aku nggak takut! Cuman ... penasaran aja," sahut Bram tersenyum kecut.
"Nenekmu … duduk tepat di samping kamu. Kalau kamu mau ngomong, ngomong aja. Beliau bisa denger, kok," ujar Putri santai, lalu meneruskan kembali pekerjaannya.
"Serius?! Nenek aku di sini?!" kata Bram sambil berpindah posisi.
Putri hanya mengangguk, sedangkan Bram bingung harus mulai dari mana.
"Nenek, ini Bram. Nenek dengar, kan? Nenek, jangan khawatir, ya! Bram akan jadi cucu yang berbakti buat Nenek. Bram akan jadi orang sukses seperti Papa, Nek. Mulai sekarang, Nenek bisa tinggal di Surga dengan tenang," tutur Bram seraya menatap ke arah kursi kosong di sampingnya.
Nenek Ratih pun tersenyum mendengar perkataan Bram. Dia mengangguk dan berpamitan pada Putri. Usai berpamitan, wujud Nenek Ratih berubah menjadi asap putih yang kemudian menghilang. Putri tersenyum kecil setelah melihat kepulan asap itu menghilang dari pandangannya.
Bram yang tidak mengetahui bahwa sang nenek sudah pergi, masih terus berbicara seolah neneknya masih duduk di sampingnya.
"Nek, maafin Bram, ya, belum bisa membawa menantu pilihan Nenek. Padahal, aku ingin sekali Nenek melihat Bram menikah. Tapi, ya, sudahlah, mau bagaimana lagi, Bram janji bakal ngedapetin menantu seperti idaman Nenek, ok!" sahutnya bersemangat.
Seketika, Putri tertawa mendengar ucapan Bram yang terdengar seperti anak kecil itu.
"Kok, kamu ketawa, Put? Kamu bohongin aku, ya?" ujar Bram menatap Putri yang masih tertawa.
"Bukannya gitu, Nenek kamu sudah pergi dari tadi, kok,” sahut Putri masih dengan senyum kecilnya.
"Kok, kamu nggak ngasih tau, sih?!" Bram kembali ke posisinya dan tersipu malu.
"Gimana mau ngasih tau, orang kamunya ceriwis nggak berhenti gitu.”
Bram menatap Putri yang masih tersenyum, hatinya bergetar. Seperti ada pertunjukan drumband yang ditabuh di dalam hatinya. Pria itu merasa senang saat melihat wanita di hadapannya itu terlihat ceria.
"Ternyata … kamu cantik juga kalau lagi senyum," ujar Bram seketika.
Ucapan Bram itu sontak menyadarkan Putri dan membuat wanita itu jadi salah tingkah.
"Nih, udah selesai! Aku udah nulis resepnya. Kamu bisa ambil obatnya di luar."
"Makasih, ya, karena udah nyampein pesanku ke Nenek dan juga untuk ini." Bram mengangkat tangannya yang terbalut perban.
Putri hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Bram. Saat hendak meninggalkan ruangan, Bram mengurungkan niatnya dan berbalik lagi menghampiri Putri.
"Boleh, aku minta nomor ponsel kamu?" tanya Bram seraya menatap Putri.
Putri sedikit terkejut mendengar permintaan Bram. Dia terdiam sejenak karena bingung harus menjawab apa.
"Tanganku, kan masih sakit. Nanti kalau infeksi gimana? Biar aku bisa tanya-tanya gitu," ujar Bram beralasan.
"Hem, nih! Ambil kartu namaku," sahut Putri menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu memberikan kartu namanya kepada Bram.
"Makasih lagi, ya," sahut Bram dengan senyum semringah dan pergi keluar dengan perasaan yang bahagia.
Pada saat bersamaan, sebuah mobil sedan berwarna putih melintas di depan Klinik itu.
"Mang, berhenti sebentar!" sahut Donna yang berada dalam mobil.
Amarah Donna tersulut saat melihat Bram, pemuda yang disukainya itu, keluar dari Klinik tempat Putri bekerja dengan wajah yang tersenyum lebar.
“Dasar wanita jalang!” umpatnya seraya meremas tangan. Donna benar-benar merasa kesal karena ternyata Bram lebih tertarik kepada Putri ketimbang dirinya.
***
Sesampainya di rumah, Donna membanting tas bermerek Louis Vuitton berwarna cokelat miliknya ke lantai dan berteriak-teriak melampiaskan kekesalannya. Silvi yang mendengar teriakan sang anak pun langsung menemuinya.
"Donna! Ada apa ini, Sayang?! Kenapa baru pulang marah-marah gini?" tanya wanita berambut keriting itu.
"Aku benci sama cewek jalang itu, Ma!" bentak Donna ketus.
"Maksud kamu siapa? Apa si Putri?!"
"Siapa lagi kalau bukan dia, Ma?!"
"Kenapa lagi?! Apa yang dia lakukan ke kamu, Sayang?”
"Mama tau, kan kalau aku dari dulu suka sama Bram, tapi cewek jalang itu berani-beraninya ngerebut dia dari aku, Ma!" cetus Donna sambil terisak.
"Hah?! Serius kamu, Don?! Dari mana mereka bisa kenal satu sama lain?" tanya Silvi heran.
Donna pun menceritakan semuanya dan juga tentang Bram yang keluar dari Klinik Putri tadi. Silvi pun geram usai mendengar penuturan Donna.
"Sayang, kamu nggak usah khawatir! Mama akan membantu kamu! Sepertinya, sudah saatnya kamu tahu. Besok kamu harus ikut Mama, ya?"
"Memangnya kita mau ke mana, Ma?"
"Besok juga kamu bakal tahu. Udah, jangan uring-uringan!" sahut Silvi, lalu pergi meninggalkan Donna yang masih kebingungan dengan maksud sang mama.
Bersambung.
Araka dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup