- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
[url=https://www.kaskus.co.id/show_post/628d564d2e8S E N S O R980453a0/252/-]gatra 20[/url]
[url=https://www.kaskus.co.id/show_post/628d564d2e8S E N S O R980453a0/252/-]gatra 21[/url]
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
83K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#332
gatra 1
Quote:
KARENA ITU, mereka yang menyaksikan jadi terperanjat. Serentak mereka berlarian ke tepi jurang itu untuk melihat Arya Gading tergulung ke bawah, dan sebentar kemudian hilang ditelan semak-semak dan batang-batang ilalang yang tumbuh di tepi-tepi jurang itu. Arya Gading sendiri merasa, seolah-olah telah terhisap oleh suatu kekuatan raksasa sehingga tidak ada kemungkinan untuk melawannya. Sesaat setelah ia terguling, masih dilihatnya semua benda bergerak dengan cepatnya ke atas, seolah-olah hendak terbang ke arah matahari yang dengan megahnya mengapung di langit.
Tetapi sesaat kemudian terasalah dirinya membentur sesuatu yang sangat keras sehingga seolah-olah Arya Gading terputar melintang dengan kepala ke bawah. Sesaat kemudian ia menjadi sangat pening, pemandangannya semakin kabur dan kabur. Akhirnya ia tidak tahu lagi apakah yang terjadi seterusnya. Lawan-lawan Arya Gading yang berada di atas jurang itu, setelah debar jantung mereka tenang kembali, menjalarlah perasaan lega di dalam dada mereka. Sebab apabila mereka terpaksa bertempur, meskipun mereka bekerja bersama, pasti akan jatuh korban diantara mereka, sebelum mereka dapat bersama-sama membinasakan Arya Gading.
“ Apakah anak itu mati di dasar jurang sana guru?”, bertanya Bagus Abangan.
“ Tentu mati Abangan, kalau pun tidak mati pasti terluka sangat parah. Dasar jurang itu sangat dalam dan jauh dari pemukiman penduduk “
Lantas Paraji Gading menoleh ke arah lelaki yang tengah membelitkan lagi cambuk ke pinggangnya, “ Adi Warok Suromenggala, aku ucapkan terimakasih karena adi telah ikut menolong Bagus Abangan “
“ Tidak usah dipikirkan kakang. Ada baiknya kita cepat tinggalkan tempat ini. Kita harus sampai di Jipang secepatnya. Kita harus menemui orang bernama Panji itu untuk dapat masuk ke dalam lingkaran pasukan kadipaten Jipang “
“ Bagaimana dengan Kelabang Ijo? Aku ingin sekali merobek –robek mulutnya. Perlakuannya kepada Bagus Abangan sudah sangat keterlaluan “
Orang bernama Warok Suromenggala itu tersenyum, “ Kali ini kau harus lebih bersabar kakang. Orang itu memang sangat tajam lidahnya. Namun, kita juga tidak dapat menutup mata. Sekarang orang itu menjadi salah satu orang kepercayaan Patih Mantahun “
Paraji Gading mendengus, “ Baiklah aku akan menahan diri. Dan kau Bagus Abangan jangan lagi bertindak bodoh dan ceroboh. Kali ini cita –cita mu harus lebih tinggi lagi. Bukan sekedar pimpinan padepokan tapi kau harus menjadi tumenggung atau senopati di Jipang. Kau paham itu? “
“ Baiklah guru, aku paham “
Setelah berbicara sejenak, lantas ketiganya naik ke punggung kuda dan memacu kudanya menuju ke Kadipaten Jipang Panolan.
Tetapi sesaat kemudian terasalah dirinya membentur sesuatu yang sangat keras sehingga seolah-olah Arya Gading terputar melintang dengan kepala ke bawah. Sesaat kemudian ia menjadi sangat pening, pemandangannya semakin kabur dan kabur. Akhirnya ia tidak tahu lagi apakah yang terjadi seterusnya. Lawan-lawan Arya Gading yang berada di atas jurang itu, setelah debar jantung mereka tenang kembali, menjalarlah perasaan lega di dalam dada mereka. Sebab apabila mereka terpaksa bertempur, meskipun mereka bekerja bersama, pasti akan jatuh korban diantara mereka, sebelum mereka dapat bersama-sama membinasakan Arya Gading.
“ Apakah anak itu mati di dasar jurang sana guru?”, bertanya Bagus Abangan.
“ Tentu mati Abangan, kalau pun tidak mati pasti terluka sangat parah. Dasar jurang itu sangat dalam dan jauh dari pemukiman penduduk “
Lantas Paraji Gading menoleh ke arah lelaki yang tengah membelitkan lagi cambuk ke pinggangnya, “ Adi Warok Suromenggala, aku ucapkan terimakasih karena adi telah ikut menolong Bagus Abangan “
“ Tidak usah dipikirkan kakang. Ada baiknya kita cepat tinggalkan tempat ini. Kita harus sampai di Jipang secepatnya. Kita harus menemui orang bernama Panji itu untuk dapat masuk ke dalam lingkaran pasukan kadipaten Jipang “
“ Bagaimana dengan Kelabang Ijo? Aku ingin sekali merobek –robek mulutnya. Perlakuannya kepada Bagus Abangan sudah sangat keterlaluan “
Orang bernama Warok Suromenggala itu tersenyum, “ Kali ini kau harus lebih bersabar kakang. Orang itu memang sangat tajam lidahnya. Namun, kita juga tidak dapat menutup mata. Sekarang orang itu menjadi salah satu orang kepercayaan Patih Mantahun “
Paraji Gading mendengus, “ Baiklah aku akan menahan diri. Dan kau Bagus Abangan jangan lagi bertindak bodoh dan ceroboh. Kali ini cita –cita mu harus lebih tinggi lagi. Bukan sekedar pimpinan padepokan tapi kau harus menjadi tumenggung atau senopati di Jipang. Kau paham itu? “
“ Baiklah guru, aku paham “
Setelah berbicara sejenak, lantas ketiganya naik ke punggung kuda dan memacu kudanya menuju ke Kadipaten Jipang Panolan.
Quote:
ARYA GADING membuka matanya pada saat matahari sudah hampir tenggelam. Keadaan di dasar jurang sunyi itu gelap dan dingin karena pantulan sinar matahari yang terakhir tidak sampai menyaputi dasar jurang di mana dia berada. Dia berpikir-pikir di mana dia terbujur saat itu. Kemudian denyutan rasa sakit yang amat sangat pada bahu kanannya yang sepertinya patah dan di beberapa bagian tubuhnya nyeri dan pedih. Bahkan, dikedua tangannya tampak barut –barut luka dan masih melelehkan darah, membuat dia ingat segala sesuatunya apa yang telah terjadi. Pagi tadi ia mengejar Bagus Abangan dan akhirnya menemukan pemuda itu di atas bukit. Disanalah ia bertempur dengan Paraji Gading dan seorang lelaki bertubuh pendek yang bersenjatakan sebuah cambuk. Dalam pertempuran itu bukan saja dia terdesak hebat hingga akhirnya jatuh terperosok ke dalam jurang.
Ketika kedua matanya melihat bintang-bintang yang bermunculan di langit di atasnya barulah disadarinya bahwa hari sudah menjadi malam. Arya Gading tahu bahwa semalaman itu dia tak akan bisa terus terbujur di situ. Dipalingkannya kepalanya ke kanan. Hanya semak belukar dan pohon-pohon berdaun lebar yang dilihatnya dalam kegelapan. Kemudian dipalingkannya pula kepalanya ke samping kiri. Mula-mula juga hanya kegelapan yang dilihat pemuda itu.
Namun samar-samar kemudian diantara semak belukar dalam kegelapan itu matanya masih dapat melihat satu legukan batu di dasar jurang. Jaraknya dengan tempat dia terbujur saat itu kira-kira sepuluh tombak. Dari pada terbujur di tempat terbuka begitu, Arya Gading berpikir lebih baik pindah tempat ke cegukan batu itu. Tapi dengan keadaan dan kekuatan badan seperti itu tidak mudah bagi Arya Gading untuk berpindah tempat. Jangankan untuk berdiri, merangkakpun tidak bisa. Jangankan untuk beringsut, bergerak sedikitpun sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main, tulang-tulang anggota badannya serasa bertanggalan!
Namun dengan keyakinan penuh untuk bisa menyelamatkan diri, dengan mengumpulkan segala sisa tenaga yang masih ada, beringsut - ingsut akhirnya berhasil juga Arya Gading mencapai legukan batu itu. Ternyata legukan ini adalah mulut sebuah goa. Dan pada saat itu dia berhasil mencapai mulut goa itu, untuk kedua kalinya Arya Gading jatuh pingsan kembali. Arya Gading sadarkan diri pada keesokan paginya. Beberapa saat sesudah matahari terbit. Anehnya tubuhnya terasa lebih ringan dibandingkan dengan keadaan hari kemarin.
Arya Gading tak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan ketika dia coba menggerakkan badan dirasakannya kekuatannya yang malam tadi sudah habis sampai ke batas terakhir kini mulai berangsur kembali. Dia duduk bersandar ke dinding goa. Pada saat itulah dirasakannya bahwa dari dalam goa keluar semacam hawa yang sejuk. Hawa inilah agaknya yang telah mempengaruhi keadaan diri Arya Gading yang telah memberikan kepulihan kekuatan kepadanya.
Kemudian sewaktu dia memandang meneliti ke dinding goa di sekelilingnya, samar¬-samar, tertutup oleh debu yang menebal dan tertutup dinding goa yang tertutup oleh lumut tipis. Arya Gading melihat banyak sekali tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan ini kacau balau tak teratur. Arya Gading menjadi penasaran. Sedapat –dapatnya pemuda itu berusaha membaca rentetan tulisan yang samar itu. Semakin lebar Arya Gading membuka kedua matanya. Tiba –tiba dirasakannya kepalanya berputar –putar. Perutnya tiba –tiba terasa sangat mual. Dan untuk kedua kalinya Arya Gading terkapar. Pingsan.
Pada saat Arya Gading berusaha membaca tulisan yang tergurat di dinding goa, ia menjadi tidak sadarkan diri dan tidak tahu apakah yang telah terjadi. Tetapi pada saat ia membuka matanya, ia telah berada di dalam sebuah pondok yang kecil, beratap daun ilalang. Pada saat itu kepalanya rasanya telah retak, dan perasaan nyeri telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ketika Arya Gading mencoba untuk bergerak, sendi-sendi tulangnya terasa sakit bukan main. Pemuda itu juga melihat keadaan tubuhnya. Tangan kanannya telah dibebat kain.
Beberapa bagian tubuhnya yang terluka pun telah diboreh dengan semacam ramuan dedaunan. Akhirnya ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bergerak dan bangun. Yang dapat dilakukannya pada saat itu hanyalah menggerakkan kepalanya untuk melihat-lihat seluruh isi rumah itu. Tetapi di dalam rumah itu tak dilihatnya barang apapun kecuali bale-bale tempat ia terbaring, pagar bambu dengan sebuah kendi dan jlupak minyak di atasnya, cangkul di sudut, dan parang pemotong kayu tergantung di dinding kayu.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah langkah perlahan-lahan memasuki ruang itu. Dan muncullah dari pintu samping, seorang tua yang rambutnya telah memutih, berdahi lebar dan berhidung besar. Wajahnya tampak kasar berkerut –kerut sangat keriput dan menghitam terbakar oleh panas matahari. Tetapi mata orang itu memancarkan sinar kejujuran dan kebaikan hatinya.
Ketika orang itu melihat Arya Gading telah membuka matanya, tampaklah ia tersenyum lebar. “Nah, Angger…, rupa-rupanya Angger telah sadar,” katanya.
Segera Arya Gading tahu bahwa orang itulah yang telah menemukan dan menolongnya pada saat ia pingsan. Meskipun dengan masih agak sukar Arya Gading menjawab perlahan. “Ya aki.”
Orang itu mengangguk, lalu duduk di bale, sambungnya, “ janganlah angger bergerak dahulu. Biarlah kekuatan angger pulih. Sekujur badan angger terluka. Bahkan, tangan kanan angger juga patah. Tapi angger jangan khawatir aki sudah mengobatinya semoga akan cepat pulih”
Arya Gading tidak menjawab. Tetapi ia mencoba menganggukkan kepalanya sebagai ucapan terimakasih. Dan sekali lagi orang tua itu tersenyum lebar. Arya Gading mencoba mengamati orang itu lebih seksama. Kecuali berdahi lebar dan berhidung lebar, memang orang itu sama sekali tidak tampan. Akan tetapi, cenderung menyeramkan. Tetapi tubuhnya masih tampak segar dan kuat. Ototnya kokoh menjalar hampir ke seluruh bagian tubuhnya. Orang tua itu meskipun tidak begitu tinggi, tetapi tidak pula tergolong pendek. Rupanya orang yang telah ditolongnya itu sedang mengamat-mati dirinya.
Kembali senyumnya yang lebar menghiasi bibirnya yang tebal. Katanya, “Adakah sesuatu yang aneh pada diriku?”
Arya Gading terkejut mendengar pertanyaan orang itu. Karena itu ia segera dengan perlahan-lahan menggelengkan kepala.
“Angger..,” sambung orang tua itu, “usahakanlah supaya angger dapat tidur. Jangan berfikir hal yang dapat mengganggu ketentraman perasaan angger. Di sini angger dapat beristirahat seenaknya, sebab tidak ada orang lain yang tinggal di sini kecuali aku seorang diri.”
Kembali Arya Gading mencoba mengangguk.
“Bagus,” orang tua itu melanjutkan, “tidurlah. Atau barangkali angger mau minum.”
Belum lagi Arya Gading menjawab, orang itu telah melangkah keluar rumah menyambar kendi diatas pagar, dan sebentar lagi ia telah masuk kembali. Dengan perlahan dan sangat cermat ia menuangkan air kendi ke dalam mulut Arya Gading. Sebenarnya memang leher Arya Gading terasa kering sekali. Seakan-akan sisi lehernya telah lekat menjadi satu. Dengan air yang dituangkan ke dalam mulutnya, maka lehernya terasa menjadi sejuk. Bahkan seluruh tubuhnya menjadi segar. Meskipun demikian ia masih belum mampu untuk bangun.
“Jangan coba untuk bangun dahulu,” orang tua itu melarangnya. “Tidurlah. Aku akan mencari kayu, merebus air, barangkali dengan minum rebusan daun sereh dan jahe dengan gula kelapa akan membuat tubuh angger lebih segar.”
Sesudah berkata demikian orang itu segera melangkah pergi. Dan tinggallah Arya Gading seorang diri, berbaring di dalam ruangan kecil yang kosong itu. Otaknya yang telah dapat bekerja dengan wajar, sedikit demi sedikit dapat mengenal kembali apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia merasa bersyukur bahwa ia tidak lumat terbanting kedalam jurang. Sebab kalau tidak ia pasti sudah binasa dikeroyok komplotan Bagus Abangan di atas bukit sana.
Ketika kedua matanya melihat bintang-bintang yang bermunculan di langit di atasnya barulah disadarinya bahwa hari sudah menjadi malam. Arya Gading tahu bahwa semalaman itu dia tak akan bisa terus terbujur di situ. Dipalingkannya kepalanya ke kanan. Hanya semak belukar dan pohon-pohon berdaun lebar yang dilihatnya dalam kegelapan. Kemudian dipalingkannya pula kepalanya ke samping kiri. Mula-mula juga hanya kegelapan yang dilihat pemuda itu.
Namun samar-samar kemudian diantara semak belukar dalam kegelapan itu matanya masih dapat melihat satu legukan batu di dasar jurang. Jaraknya dengan tempat dia terbujur saat itu kira-kira sepuluh tombak. Dari pada terbujur di tempat terbuka begitu, Arya Gading berpikir lebih baik pindah tempat ke cegukan batu itu. Tapi dengan keadaan dan kekuatan badan seperti itu tidak mudah bagi Arya Gading untuk berpindah tempat. Jangankan untuk berdiri, merangkakpun tidak bisa. Jangankan untuk beringsut, bergerak sedikitpun sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main, tulang-tulang anggota badannya serasa bertanggalan!
Namun dengan keyakinan penuh untuk bisa menyelamatkan diri, dengan mengumpulkan segala sisa tenaga yang masih ada, beringsut - ingsut akhirnya berhasil juga Arya Gading mencapai legukan batu itu. Ternyata legukan ini adalah mulut sebuah goa. Dan pada saat itu dia berhasil mencapai mulut goa itu, untuk kedua kalinya Arya Gading jatuh pingsan kembali. Arya Gading sadarkan diri pada keesokan paginya. Beberapa saat sesudah matahari terbit. Anehnya tubuhnya terasa lebih ringan dibandingkan dengan keadaan hari kemarin.
Arya Gading tak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan ketika dia coba menggerakkan badan dirasakannya kekuatannya yang malam tadi sudah habis sampai ke batas terakhir kini mulai berangsur kembali. Dia duduk bersandar ke dinding goa. Pada saat itulah dirasakannya bahwa dari dalam goa keluar semacam hawa yang sejuk. Hawa inilah agaknya yang telah mempengaruhi keadaan diri Arya Gading yang telah memberikan kepulihan kekuatan kepadanya.
Kemudian sewaktu dia memandang meneliti ke dinding goa di sekelilingnya, samar¬-samar, tertutup oleh debu yang menebal dan tertutup dinding goa yang tertutup oleh lumut tipis. Arya Gading melihat banyak sekali tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan ini kacau balau tak teratur. Arya Gading menjadi penasaran. Sedapat –dapatnya pemuda itu berusaha membaca rentetan tulisan yang samar itu. Semakin lebar Arya Gading membuka kedua matanya. Tiba –tiba dirasakannya kepalanya berputar –putar. Perutnya tiba –tiba terasa sangat mual. Dan untuk kedua kalinya Arya Gading terkapar. Pingsan.
Pada saat Arya Gading berusaha membaca tulisan yang tergurat di dinding goa, ia menjadi tidak sadarkan diri dan tidak tahu apakah yang telah terjadi. Tetapi pada saat ia membuka matanya, ia telah berada di dalam sebuah pondok yang kecil, beratap daun ilalang. Pada saat itu kepalanya rasanya telah retak, dan perasaan nyeri telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ketika Arya Gading mencoba untuk bergerak, sendi-sendi tulangnya terasa sakit bukan main. Pemuda itu juga melihat keadaan tubuhnya. Tangan kanannya telah dibebat kain.
Beberapa bagian tubuhnya yang terluka pun telah diboreh dengan semacam ramuan dedaunan. Akhirnya ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bergerak dan bangun. Yang dapat dilakukannya pada saat itu hanyalah menggerakkan kepalanya untuk melihat-lihat seluruh isi rumah itu. Tetapi di dalam rumah itu tak dilihatnya barang apapun kecuali bale-bale tempat ia terbaring, pagar bambu dengan sebuah kendi dan jlupak minyak di atasnya, cangkul di sudut, dan parang pemotong kayu tergantung di dinding kayu.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah langkah perlahan-lahan memasuki ruang itu. Dan muncullah dari pintu samping, seorang tua yang rambutnya telah memutih, berdahi lebar dan berhidung besar. Wajahnya tampak kasar berkerut –kerut sangat keriput dan menghitam terbakar oleh panas matahari. Tetapi mata orang itu memancarkan sinar kejujuran dan kebaikan hatinya.
Ketika orang itu melihat Arya Gading telah membuka matanya, tampaklah ia tersenyum lebar. “Nah, Angger…, rupa-rupanya Angger telah sadar,” katanya.
Segera Arya Gading tahu bahwa orang itulah yang telah menemukan dan menolongnya pada saat ia pingsan. Meskipun dengan masih agak sukar Arya Gading menjawab perlahan. “Ya aki.”
Orang itu mengangguk, lalu duduk di bale, sambungnya, “ janganlah angger bergerak dahulu. Biarlah kekuatan angger pulih. Sekujur badan angger terluka. Bahkan, tangan kanan angger juga patah. Tapi angger jangan khawatir aki sudah mengobatinya semoga akan cepat pulih”
Arya Gading tidak menjawab. Tetapi ia mencoba menganggukkan kepalanya sebagai ucapan terimakasih. Dan sekali lagi orang tua itu tersenyum lebar. Arya Gading mencoba mengamati orang itu lebih seksama. Kecuali berdahi lebar dan berhidung lebar, memang orang itu sama sekali tidak tampan. Akan tetapi, cenderung menyeramkan. Tetapi tubuhnya masih tampak segar dan kuat. Ototnya kokoh menjalar hampir ke seluruh bagian tubuhnya. Orang tua itu meskipun tidak begitu tinggi, tetapi tidak pula tergolong pendek. Rupanya orang yang telah ditolongnya itu sedang mengamat-mati dirinya.
Kembali senyumnya yang lebar menghiasi bibirnya yang tebal. Katanya, “Adakah sesuatu yang aneh pada diriku?”
Arya Gading terkejut mendengar pertanyaan orang itu. Karena itu ia segera dengan perlahan-lahan menggelengkan kepala.
“Angger..,” sambung orang tua itu, “usahakanlah supaya angger dapat tidur. Jangan berfikir hal yang dapat mengganggu ketentraman perasaan angger. Di sini angger dapat beristirahat seenaknya, sebab tidak ada orang lain yang tinggal di sini kecuali aku seorang diri.”
Kembali Arya Gading mencoba mengangguk.
“Bagus,” orang tua itu melanjutkan, “tidurlah. Atau barangkali angger mau minum.”
Belum lagi Arya Gading menjawab, orang itu telah melangkah keluar rumah menyambar kendi diatas pagar, dan sebentar lagi ia telah masuk kembali. Dengan perlahan dan sangat cermat ia menuangkan air kendi ke dalam mulut Arya Gading. Sebenarnya memang leher Arya Gading terasa kering sekali. Seakan-akan sisi lehernya telah lekat menjadi satu. Dengan air yang dituangkan ke dalam mulutnya, maka lehernya terasa menjadi sejuk. Bahkan seluruh tubuhnya menjadi segar. Meskipun demikian ia masih belum mampu untuk bangun.
“Jangan coba untuk bangun dahulu,” orang tua itu melarangnya. “Tidurlah. Aku akan mencari kayu, merebus air, barangkali dengan minum rebusan daun sereh dan jahe dengan gula kelapa akan membuat tubuh angger lebih segar.”
Sesudah berkata demikian orang itu segera melangkah pergi. Dan tinggallah Arya Gading seorang diri, berbaring di dalam ruangan kecil yang kosong itu. Otaknya yang telah dapat bekerja dengan wajar, sedikit demi sedikit dapat mengenal kembali apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia merasa bersyukur bahwa ia tidak lumat terbanting kedalam jurang. Sebab kalau tidak ia pasti sudah binasa dikeroyok komplotan Bagus Abangan di atas bukit sana.
Quote:
KEMUDIAN OLEH angin yang menghembus lewat pintu disamping tempat berbaring Arya Gading, serta tubuhnya yang terasa sudah agak segar, maka Arya Gading akhirnya jatuh tertidur. Ketika ia terbangun, dilihatnya orang tua itu telah duduk di sampingnya. Tangannya memegang seberkas lontar. Tanpa menoleh kepada Arya Gading orang tua itu mulai membaca naskah yang tertulis di dalam lontar itu. Maka segera menggemalah lagu bait demi bait dari kidung yang berisikan sebuah cerita yang sangat menarik hati. Pada saat itu tubuh Arya Gading telah mulai terasa agak kuat. Karena itu ia telah dapat berusaha untuk duduk dibelakang orang tua yang sedang membaca lontar itu, yang seakan-akan tidak memperhatikannya.
Setelah beberapa saat lelaki tua itu telah selesai menyelesaikan kidungnya. Perlahan –lahan diletakkannya gulungan rontal itu di samping tempatnya duduk. Perlahan-lahan ia menoleh kepada Arya Gading, dan ketika ia melihat Arya Gading duduk di belakangnya, lagi-lagi orang itu tersenyum lebar. “Rupanya Angger telah berangsur baik, dan telah dapat duduk pula, “ katanya.
“Begitulah, aki,” jawab Arya Gading.
“ Maaf Ngger, kalau boleh tahu siapakah nama angger ini? “
“ Namaku Arya Gading aki “
“ Nama yang bagus. Kalau aku dikenal dengan nama Pameling. Orang – orang di desa ini memanggilku dengan sebutan Ki Pameling”
Kemudian orangtua itu berdiri, sambil melangkahkan kaki ke luar ia berkata, “Istirahatlah Angger. Aku akan mengairi sawahku dahulu.”
Lalu hilanglah orangtua itu di balik pintu. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekeliling tempat itu. Perlahan-lahan Arya Gading menggeser tubuhnya ke tepi tempat pembaringannya. Ketika dirasa bahwa tulang-tulangnya telah tidak begitu nyeri lagi, maka dengan sangat hati-hati ia mencoba berdiri. Ia merasa gembira sekali, bahwa agaknya kekuatannya telah berangsur-angsur menjadi baik dan ia sudah tidak merasakan kesulitan apa-apa untuk berjalan. Karena itu perlahan-lahan dan hati-hati Arya Gading melangkah ke luar rumah. Ia menjadi agak bingung ketika sampai di halaman. Ia tidak dapat lagi mengetahui dengan pasti, di manakah utara dan di mana selatan. Ketika memandang ke arah matahari terbit, Arya Gading juga agak keheran-heranan. Ia dapat memastikan bahwa pada saat itu hari masih pagi. Kalau demikian maka ia telah melampaui satu malam berada di dalam pondok Ki Pameling.
Kemudian dengan tubuh yang masih belum sehat benar, Arya Gading melangkah lebih jauh lagi. Ia semakin bertambah heran ketika di depan halaman Ki Pameling itu terdapat sebuah jalur desa. Maka keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekitarnya menjadi semakin besar. Setapak demi setapak Arya Gading melangkah menuruti jalan kecil itu, sehingga kemudian barulah ia percaya bahwa sebenarnya ia telah dirawat oleh seorang yang sama sekali bukan orang yang terasing, tetapi orang biasa. Mungkin seorang petani miskin yang tinggal di dalam sebuah kampung kecil bersama-sama dengan orang-orang miskin lainnya. Tetapi disamping itu, timbul suatu masalah lain di dalam kepalanya.
Arya Gading ingat betul bahwa ia telah terperosok ke dalam jurang yang dalam. Apa yang diketahuinya, daerah itu daerah pegunungan yang berhutan dan bersemak-semak. Jadi tidaklah mungkin bahwa ia telah menggelinding sampai tempat yang didiami oleh manusia. Memang mungkin pada saat itu Ki Pameling sedang mencari kayu, misalnya, lalu menemukannya. Tetapi membawa seseorang sebesar dirinya di tempat yang bergunung-gunung dan bertebing-tebing curam adalah sangat sulit. Sedang daerah ini adalah suatu dataran yang rata, meskipun masih juga dikitari hutan dan pegunungan. Dengan demikian maka pertanyaan-pertanyaan Arya Gading menjadi semakin berbelit-belit di kepalanya. Setelah Arya Gading berjalan beberapa jauh, terasa kakinya amat penat. Kekuatannya baru sebagian kecil saja yang dimilikinya kembali. Karena itu ia berhasrat kembali saja ke rumah Ki Pameling.
Setelah beberapa saat lelaki tua itu telah selesai menyelesaikan kidungnya. Perlahan –lahan diletakkannya gulungan rontal itu di samping tempatnya duduk. Perlahan-lahan ia menoleh kepada Arya Gading, dan ketika ia melihat Arya Gading duduk di belakangnya, lagi-lagi orang itu tersenyum lebar. “Rupanya Angger telah berangsur baik, dan telah dapat duduk pula, “ katanya.
“Begitulah, aki,” jawab Arya Gading.
“ Maaf Ngger, kalau boleh tahu siapakah nama angger ini? “
“ Namaku Arya Gading aki “
“ Nama yang bagus. Kalau aku dikenal dengan nama Pameling. Orang – orang di desa ini memanggilku dengan sebutan Ki Pameling”
Kemudian orangtua itu berdiri, sambil melangkahkan kaki ke luar ia berkata, “Istirahatlah Angger. Aku akan mengairi sawahku dahulu.”
Lalu hilanglah orangtua itu di balik pintu. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekeliling tempat itu. Perlahan-lahan Arya Gading menggeser tubuhnya ke tepi tempat pembaringannya. Ketika dirasa bahwa tulang-tulangnya telah tidak begitu nyeri lagi, maka dengan sangat hati-hati ia mencoba berdiri. Ia merasa gembira sekali, bahwa agaknya kekuatannya telah berangsur-angsur menjadi baik dan ia sudah tidak merasakan kesulitan apa-apa untuk berjalan. Karena itu perlahan-lahan dan hati-hati Arya Gading melangkah ke luar rumah. Ia menjadi agak bingung ketika sampai di halaman. Ia tidak dapat lagi mengetahui dengan pasti, di manakah utara dan di mana selatan. Ketika memandang ke arah matahari terbit, Arya Gading juga agak keheran-heranan. Ia dapat memastikan bahwa pada saat itu hari masih pagi. Kalau demikian maka ia telah melampaui satu malam berada di dalam pondok Ki Pameling.
Kemudian dengan tubuh yang masih belum sehat benar, Arya Gading melangkah lebih jauh lagi. Ia semakin bertambah heran ketika di depan halaman Ki Pameling itu terdapat sebuah jalur desa. Maka keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekitarnya menjadi semakin besar. Setapak demi setapak Arya Gading melangkah menuruti jalan kecil itu, sehingga kemudian barulah ia percaya bahwa sebenarnya ia telah dirawat oleh seorang yang sama sekali bukan orang yang terasing, tetapi orang biasa. Mungkin seorang petani miskin yang tinggal di dalam sebuah kampung kecil bersama-sama dengan orang-orang miskin lainnya. Tetapi disamping itu, timbul suatu masalah lain di dalam kepalanya.
Arya Gading ingat betul bahwa ia telah terperosok ke dalam jurang yang dalam. Apa yang diketahuinya, daerah itu daerah pegunungan yang berhutan dan bersemak-semak. Jadi tidaklah mungkin bahwa ia telah menggelinding sampai tempat yang didiami oleh manusia. Memang mungkin pada saat itu Ki Pameling sedang mencari kayu, misalnya, lalu menemukannya. Tetapi membawa seseorang sebesar dirinya di tempat yang bergunung-gunung dan bertebing-tebing curam adalah sangat sulit. Sedang daerah ini adalah suatu dataran yang rata, meskipun masih juga dikitari hutan dan pegunungan. Dengan demikian maka pertanyaan-pertanyaan Arya Gading menjadi semakin berbelit-belit di kepalanya. Setelah Arya Gading berjalan beberapa jauh, terasa kakinya amat penat. Kekuatannya baru sebagian kecil saja yang dimilikinya kembali. Karena itu ia berhasrat kembali saja ke rumah Ki Pameling.
Diubah oleh breaking182 26-08-2022 02:03
ashrose dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
Tutup