- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
Diubah oleh breaking182 30-12-2022 23:12
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.8K
Kutip
622
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#327
gatra 49
Quote:
DI DALAM SALAH satu bilik di padepokan Pasanggaran, Mahesa Branjangan masih terbaring lemah. Nafasnya masih terlihat tersengal –sengal. Namun, darah yang mengucur dari luka di punggungnya sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Ki Ageng Pandan Arum Kemudian dengan sangat hati-hati ia mengamati dan meraba-raba luka Mahesa Branjangan itu. Semua orang yang berada di bilik itu menegang nafas. Mereka berharap-harap cemas, mudah-mudahan orang tua itu dapat menyembuhkan luka. Tampaklah Ki Ageng Pandan Arum mengerutkan keningnya.
“ Aneh, pisau yang menancap di punggung Branjangan tadi sudah aku teliti tidak ada secuil pun racun warangan. Namun, mengapa keadaan pernafasan anak ini masih tidak beraturan. Bahkan tenaga dalam yang aku salurkan untuk melancarkan peredaran darahnya masih juga belum menemui hasil yang berarti aliran darahnya masih juga tidak pada tempatnya“
Kemudian kepada Arya Gading ia berkata, “Angger, tolonglah aku membuka bajunya. Barangkali aku lupa ada luka yang terlewat di badannya”
Dengan tergesa-gesa Arya Gading pun segera menolong Ki Ageng Pandan Arum, dengan sangat hati-hati membuka baju Mahesa Branjangan.
“Para sedulur” berkata Ki Ageng Pandan Arum kepada beberapa orang yang berada di bilik itu, “Biarlah Branjangan beristirahat. Dan biarlah udara di bilik ini menjadi sejuk. Karena itu, apabila tidak berkeberatan, biarlah yang kurang berkepentingan meninggalkan ruangan ini”
Anjam Kayuwangi dan beberapa orang menjadi ragu-ragu untuk sesaat, diamatinya wajah orang tua itu. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah, kakang. Biarlah ruangan ini menjadi sejuk”
Beberapa orang lain segera meninggalkan ruangan itu. Mereka mengerti juga, bahwa dengan demikian udara di dalam bilik itu menjadi tidak terlalu panas.
Di dalam ruang itu kini tinggal Kuda Merta dan Arya Gading. Dari balik dinding Ratri Hening sesekali mengusap air mata yang seakan –akan selalu jatuh berderai di pipinya tanpa mampu di bendung. Begitu mendengar kalau Mahesa Branjangan terluka gadis itu memutuskan untuk pulang ke Pasanggaran dari tempat pengungsiannya. Meski di cegah oleh Nyai Branjangan nampaknya, gadis itu sudah tidak dapat dibujuk lagi.
Gadis anak tunggal Mahesa Branjangan itu mencoba mengintip mereka. Tetapi ia tidak berani masuk ke dalam bilik itu, sebab agaknya kakek nya dan beberapa orang yang lain lagi berwajah tegang. Dari beberapa orang ia mendengar bahwa Mahesa Branjangan terluka sangat parah.
Ratri Hening menjadi gembira ketika Anjam Kayuwangi memanggilnya. Setelah ia berlari menjauh, maka dari kejauhan itu ia menjawab, “Ya paman”
“Kemarilah”
Dengan berlari-lari kecil Ratri Hening menghampiri Anjam Kayuwangi. Gadis itu masih sempat melirik melalui pintu yang sedikit terbuka. Gadis itu tertegun di pintu ketika ia memandang wajah Arya Gading yang suram. Sedikit gadis itu juga melihat sesosok tubuh terbaring dengan lemah. Hati nya ingin sekali masuk ke dalam bilik itu. Namun, hal itu urung dilakukannya.
“Ambillah jeruk” berkata Anjam Kayuwangi memecah lamunannya.
“Jeruk apa paman?”
“Jeruk pecel” sahut Anjam Kayuwangi.
“Ya paman” jawab gadis itu sambil berlari.
Anjam Kayuwangi sekejap memandang wajah kemenakan perempuannya itu. Ia melihat sesuatu pada wajah itu, tetapi ia tidak berkata apapun.
Setelah ruangan itu menjadi sepi, maka terdengarlah Arya Gading bertanya, “Ki Ageng apakah luka kakang Mahesa Branjangan tidak begitu parah?”
“Luka itu tidak parah ngger, tetapi aku kira tidak membahayakan jiwanya apabila aku berhasil mengembalikan pernafasannya dengan wajar. Yang lebih berbahaya bagi Branjangan bukan luka itu, tetapi lihatlah” Ki Ageng Pandan Arum kemudian menunjukkan sebuah noda kebiru-biruan di lambung kanan Mahesa Branjangan.
Semua yang menyaksikan noda itu terkejut karenanya. Dengan serta-merta Arya Gading bertanya, “Noda apakah itu Ki Ageng? Tadi sewaktu saya membersihkan tubuhnya untuk pertama kali luka itu belum ada”
“ Pastinya luka itu sudah ada disitu. Kemungkinan tadi kelewatan karena kita sangat khawatir dengan keadaan Branjangan. Itu pukulan yang tepat di arah ulu hati. Pukulan itu bukan sembarang pukulan. Kalau dilihat dari luka yang ditimbulkannya. Itu pukulan yang dilambari dangan Ajian Raga Bajra. Untunglah bahwa pukulan itu dilakukan agak tergesa-gesa atau lebih tepatnya ajian itu belum mapan sepenuhnya sehingga agaknya pukulan itu tidak berakibat yang terlalu parah”
“ Aneh, pisau yang menancap di punggung Branjangan tadi sudah aku teliti tidak ada secuil pun racun warangan. Namun, mengapa keadaan pernafasan anak ini masih tidak beraturan. Bahkan tenaga dalam yang aku salurkan untuk melancarkan peredaran darahnya masih juga belum menemui hasil yang berarti aliran darahnya masih juga tidak pada tempatnya“
Kemudian kepada Arya Gading ia berkata, “Angger, tolonglah aku membuka bajunya. Barangkali aku lupa ada luka yang terlewat di badannya”
Dengan tergesa-gesa Arya Gading pun segera menolong Ki Ageng Pandan Arum, dengan sangat hati-hati membuka baju Mahesa Branjangan.
“Para sedulur” berkata Ki Ageng Pandan Arum kepada beberapa orang yang berada di bilik itu, “Biarlah Branjangan beristirahat. Dan biarlah udara di bilik ini menjadi sejuk. Karena itu, apabila tidak berkeberatan, biarlah yang kurang berkepentingan meninggalkan ruangan ini”
Anjam Kayuwangi dan beberapa orang menjadi ragu-ragu untuk sesaat, diamatinya wajah orang tua itu. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah, kakang. Biarlah ruangan ini menjadi sejuk”
Beberapa orang lain segera meninggalkan ruangan itu. Mereka mengerti juga, bahwa dengan demikian udara di dalam bilik itu menjadi tidak terlalu panas.
Di dalam ruang itu kini tinggal Kuda Merta dan Arya Gading. Dari balik dinding Ratri Hening sesekali mengusap air mata yang seakan –akan selalu jatuh berderai di pipinya tanpa mampu di bendung. Begitu mendengar kalau Mahesa Branjangan terluka gadis itu memutuskan untuk pulang ke Pasanggaran dari tempat pengungsiannya. Meski di cegah oleh Nyai Branjangan nampaknya, gadis itu sudah tidak dapat dibujuk lagi.
Gadis anak tunggal Mahesa Branjangan itu mencoba mengintip mereka. Tetapi ia tidak berani masuk ke dalam bilik itu, sebab agaknya kakek nya dan beberapa orang yang lain lagi berwajah tegang. Dari beberapa orang ia mendengar bahwa Mahesa Branjangan terluka sangat parah.
Ratri Hening menjadi gembira ketika Anjam Kayuwangi memanggilnya. Setelah ia berlari menjauh, maka dari kejauhan itu ia menjawab, “Ya paman”
“Kemarilah”
Dengan berlari-lari kecil Ratri Hening menghampiri Anjam Kayuwangi. Gadis itu masih sempat melirik melalui pintu yang sedikit terbuka. Gadis itu tertegun di pintu ketika ia memandang wajah Arya Gading yang suram. Sedikit gadis itu juga melihat sesosok tubuh terbaring dengan lemah. Hati nya ingin sekali masuk ke dalam bilik itu. Namun, hal itu urung dilakukannya.
“Ambillah jeruk” berkata Anjam Kayuwangi memecah lamunannya.
“Jeruk apa paman?”
“Jeruk pecel” sahut Anjam Kayuwangi.
“Ya paman” jawab gadis itu sambil berlari.
Anjam Kayuwangi sekejap memandang wajah kemenakan perempuannya itu. Ia melihat sesuatu pada wajah itu, tetapi ia tidak berkata apapun.
Setelah ruangan itu menjadi sepi, maka terdengarlah Arya Gading bertanya, “Ki Ageng apakah luka kakang Mahesa Branjangan tidak begitu parah?”
“Luka itu tidak parah ngger, tetapi aku kira tidak membahayakan jiwanya apabila aku berhasil mengembalikan pernafasannya dengan wajar. Yang lebih berbahaya bagi Branjangan bukan luka itu, tetapi lihatlah” Ki Ageng Pandan Arum kemudian menunjukkan sebuah noda kebiru-biruan di lambung kanan Mahesa Branjangan.
Semua yang menyaksikan noda itu terkejut karenanya. Dengan serta-merta Arya Gading bertanya, “Noda apakah itu Ki Ageng? Tadi sewaktu saya membersihkan tubuhnya untuk pertama kali luka itu belum ada”
“ Pastinya luka itu sudah ada disitu. Kemungkinan tadi kelewatan karena kita sangat khawatir dengan keadaan Branjangan. Itu pukulan yang tepat di arah ulu hati. Pukulan itu bukan sembarang pukulan. Kalau dilihat dari luka yang ditimbulkannya. Itu pukulan yang dilambari dangan Ajian Raga Bajra. Untunglah bahwa pukulan itu dilakukan agak tergesa-gesa atau lebih tepatnya ajian itu belum mapan sepenuhnya sehingga agaknya pukulan itu tidak berakibat yang terlalu parah”
Quote:
SEMUA ORANG yang masih berada di tempat itu terkejut manakala Ki Ageng menyebutkan luka di ulu hati Mahesa Branjangan karena pukulan Raga Bajra. Para sepuh yang berada di tempat itu seperti Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta paham benar keampuhan dari pukulan Raga Bajra. Ilmu pamungkas dari kitab Lawang Pitu yang hingga saat ini belum diketahui rimbanya. Semua mata merenungi noda di ulu hati Mahesa Branjangan dengan seksama. Mereka melihat di sekitar noda yang kebiru-biruan itu menjadi agak bengkak dan berwarna kemerah-merahan.
“ Maaf kakang, jika benar pukulan itu karena Raga Bajra bisa kita katakan bahwa pelaku yang melukai angger Branjangan adalah orang yang sama dengan pencuri kitab Lawang Pitu ?”, berkata Kuda Merta.
“ Kemungkinan itu sangat besar adi Kuda Merta. Raga Bajra ilmu pamungkas yang sulit untuk dikuasai bahkan dari kita berempat hanya aku yang menguasainya. Berarti ilmu itu telah bocor keluar dari padepokan”
Kuda Merta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Mungkin. Namun menilik kemudian yang dapat dilakukan atas Angger Mahesa Branjangan, maka orang itu pasti bukan orang kebanyakan”
Kembali ruangan itu menjadi diam. Masing-masing mencoba untuk mencari setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas Mahesa Branjangan itu, namun tak seorang pun yang mampu untuk mencoba menebak, siapakah yang telah melakukannya. Bilik itu kini menjadi sepi. Ki Ageng Pandan Arum masih saja merenungi tubuh Mahesa Branjangan. Diraba-rabanya dan dipijit-pijitnya. Ratri Heningpun kemudian masuk ke dalam bilik itu dengan beberapa buah jeruk nipis. Air matanya tidak terbendung lagi melihat keadaan Mahesa Branjangan yang masih belum sadarkan diri. Penuh dengan kelembutan Ki Ageng menyuruh gadis itu untuk keluar. Setelah menyerahkan jeruk itu kepada Ki Ageng, dan kemudian oleh Anjam Kayuwangi di papah untuk meninggalkan bilik tersebut.
Setelah dipotong-potong maka jeruk nipis itu pun diperasnya dan dicampurkannya pada ramuan obat-obatan. Dengan ramuan itu Ki Ageng Pandan Arum mencoba mengurut-urut jalan pernafasan Mahesa Branjangan. Dari lambung dada dan punggungnya. Sesaat kemudian terdengarlah Mahesa Branjangan itu berdesah, lalu terdengar pula sebuah tarikan nafas yang panjang.
“Bagaimana kakang?” terdengar Kuda Merta bertanya.
Ki Ageng Pandan Arum tidak segera menjawab. ia masih menekan bagian bawah dada Mahesa Branjangan dan mengurutnya perlahan-lahan. Sekali lagi Mahesa Branjangan menarik nafas panjang, kemudian terdengar ia mengeluh pendek. Arya Gading dan Kuda Merta mendesak maju.
Mereka kemudian menarik nafas lega ketika Ki Ageng Pandan Arum berkata, “Pernafasan Branjangan sudah berangsur membaik. Mudah-mudahan segera ia menjadi sadar kembali. Gabungan dari dua luka di tubuhnya, benar-benar menjadikannya menderita. Luka tusukan di punggungnya telah sangat melemahkannya, dan noda biru Raga Bajra itu telah mengganggu pernafasannya.
Ternyata gerak dada Mahesa Branjangan kini telah jauh berbeda. Kini Mahesa Branjangan telah tampak bernafas dengan mudah. Sekali-sekali ia telah bergerak dan menggeliat perlahan-lahan sekali. Apalagi dengan obat-obat yang dilumurkan oleh Ki Ageng Pandan Arum pada lukanya, sama sekali telah menyumbat pendarahan.
Kemudian Ki Ageng Pandan Arum yang menarik nafas dalam-dalam. Lirih ia bergumam, “Mudah-mudahan kau sembuh ngger”
Setelah pernafasan Mahesa Branjangan itu menjadi baik kembali, serta beberapa kali ia telah dapat menggerakkan tangannya, maka Ki Ageng Pandan Arum berkata, “Biarlah Mahesa Branjangan tidur. Ia kini sudah tidak pingsan lagi. Namun karena tubuhnya yang sangat lemah, maka ia belum dapat menyadari dirinya sesadar-sadarnya”
“Jadi, luka-luka itu tidak membahayakan jiwanya Ki Ageng?” desak Arya Gading
Ki Ageng Pandan Arum menggeleng, “Marilah kita berdoa. Mudah-mudahan dugaanku benar. Mahesa Branjangan akan sembuh kembali”
Bilik itu menjadi sepi kembali. Mereka kini tidak lagi berdiri melingkari Mahesa Branjangan, namun mereka kini tidak lagi berdiri melingkari Mahesa Branjangan, namun mereka kini duduk di samping tubuh Mahesa Branjangan yang masih terbaring diam. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.
“Hampir fajar” gumam Ki Ageng Pandan Arum.
Arya Gading mengangguk. Perlahan-lahan ia bangkit dan mendekati tubuh Mahesa Branjangan terbaring.
Tiba-tiba Arya Gading membungkukkan badannya sambil berkata lirih, “Ki Ageng, kakang Mahesa Branjangan telah bangun”
“ Maaf kakang, jika benar pukulan itu karena Raga Bajra bisa kita katakan bahwa pelaku yang melukai angger Branjangan adalah orang yang sama dengan pencuri kitab Lawang Pitu ?”, berkata Kuda Merta.
“ Kemungkinan itu sangat besar adi Kuda Merta. Raga Bajra ilmu pamungkas yang sulit untuk dikuasai bahkan dari kita berempat hanya aku yang menguasainya. Berarti ilmu itu telah bocor keluar dari padepokan”
Kuda Merta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Mungkin. Namun menilik kemudian yang dapat dilakukan atas Angger Mahesa Branjangan, maka orang itu pasti bukan orang kebanyakan”
Kembali ruangan itu menjadi diam. Masing-masing mencoba untuk mencari setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas Mahesa Branjangan itu, namun tak seorang pun yang mampu untuk mencoba menebak, siapakah yang telah melakukannya. Bilik itu kini menjadi sepi. Ki Ageng Pandan Arum masih saja merenungi tubuh Mahesa Branjangan. Diraba-rabanya dan dipijit-pijitnya. Ratri Heningpun kemudian masuk ke dalam bilik itu dengan beberapa buah jeruk nipis. Air matanya tidak terbendung lagi melihat keadaan Mahesa Branjangan yang masih belum sadarkan diri. Penuh dengan kelembutan Ki Ageng menyuruh gadis itu untuk keluar. Setelah menyerahkan jeruk itu kepada Ki Ageng, dan kemudian oleh Anjam Kayuwangi di papah untuk meninggalkan bilik tersebut.
Setelah dipotong-potong maka jeruk nipis itu pun diperasnya dan dicampurkannya pada ramuan obat-obatan. Dengan ramuan itu Ki Ageng Pandan Arum mencoba mengurut-urut jalan pernafasan Mahesa Branjangan. Dari lambung dada dan punggungnya. Sesaat kemudian terdengarlah Mahesa Branjangan itu berdesah, lalu terdengar pula sebuah tarikan nafas yang panjang.
“Bagaimana kakang?” terdengar Kuda Merta bertanya.
Ki Ageng Pandan Arum tidak segera menjawab. ia masih menekan bagian bawah dada Mahesa Branjangan dan mengurutnya perlahan-lahan. Sekali lagi Mahesa Branjangan menarik nafas panjang, kemudian terdengar ia mengeluh pendek. Arya Gading dan Kuda Merta mendesak maju.
Mereka kemudian menarik nafas lega ketika Ki Ageng Pandan Arum berkata, “Pernafasan Branjangan sudah berangsur membaik. Mudah-mudahan segera ia menjadi sadar kembali. Gabungan dari dua luka di tubuhnya, benar-benar menjadikannya menderita. Luka tusukan di punggungnya telah sangat melemahkannya, dan noda biru Raga Bajra itu telah mengganggu pernafasannya.
Ternyata gerak dada Mahesa Branjangan kini telah jauh berbeda. Kini Mahesa Branjangan telah tampak bernafas dengan mudah. Sekali-sekali ia telah bergerak dan menggeliat perlahan-lahan sekali. Apalagi dengan obat-obat yang dilumurkan oleh Ki Ageng Pandan Arum pada lukanya, sama sekali telah menyumbat pendarahan.
Kemudian Ki Ageng Pandan Arum yang menarik nafas dalam-dalam. Lirih ia bergumam, “Mudah-mudahan kau sembuh ngger”
Setelah pernafasan Mahesa Branjangan itu menjadi baik kembali, serta beberapa kali ia telah dapat menggerakkan tangannya, maka Ki Ageng Pandan Arum berkata, “Biarlah Mahesa Branjangan tidur. Ia kini sudah tidak pingsan lagi. Namun karena tubuhnya yang sangat lemah, maka ia belum dapat menyadari dirinya sesadar-sadarnya”
“Jadi, luka-luka itu tidak membahayakan jiwanya Ki Ageng?” desak Arya Gading
Ki Ageng Pandan Arum menggeleng, “Marilah kita berdoa. Mudah-mudahan dugaanku benar. Mahesa Branjangan akan sembuh kembali”
Bilik itu menjadi sepi kembali. Mereka kini tidak lagi berdiri melingkari Mahesa Branjangan, namun mereka kini tidak lagi berdiri melingkari Mahesa Branjangan, namun mereka kini duduk di samping tubuh Mahesa Branjangan yang masih terbaring diam. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.
“Hampir fajar” gumam Ki Ageng Pandan Arum.
Arya Gading mengangguk. Perlahan-lahan ia bangkit dan mendekati tubuh Mahesa Branjangan terbaring.
Tiba-tiba Arya Gading membungkukkan badannya sambil berkata lirih, “Ki Ageng, kakang Mahesa Branjangan telah bangun”
Quote:
KI AGENG PANDAN Arum itu pun segera berdiri dan mendekati Mahesa Branjangan pula. Demikian pula Kuda Merta. Mereka bersama-sama berdiri mengelilingi pembaringan Mahesa Branjangan. Mahesa Branjangan itu kini telah dapat menggerakkan kepalanya. Sekali ia menarik nafas panjang, dan kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya. Namun sesaat kemudian mata itu terpejam kembali.
“Masih sangat lemah” desis Ki Ageng Pandan Arum, “Tetapi pernafasannya telah menjadi wajar kembali”
Arya Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tegang ia menunggu perkembangan keadaan Mahesa Branjangan. Sehingga karenanya maka ia tetap saja berdiri di samping kakak seperguruannya itu ketika orang-orang lain telah duduk kembali ke tempatnya. Dalam pada itu sekali lagi Arya Gading melihat Mahesa Branjangan menggerakkan kepalanya. Kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya. Ketika ia melihat Arya Gading berdiri di sampingnya terdengar ia berdesis, “Gading”
“Ya kakang” jawab Arya Gading serta-merta.
Namun Mahesa Branjangan itu terdiam. Kembali matanya terkatub. Namun wajahnya kini sudah tdak seputih mayat. Perlahan-lahan warna-warna merah mulai menjalari wajah itu. Dan perlahan-lahan hati Arya Gading yang tadi di cekam ketakutan perlahan –lahan berkurang. Ki Ageng Pandan Arum, setelah meneguk minuman hangat dari sebuah meja kecil di bilik itu, berdiri mendekati Mahesa Branjangan. Dirabanya dada anak tunggalnya itu, kemudian diurut-urutnya lambungnya pula. Sekali lagi Mahesa Branjangan membuka matanya. Ketika ia melihat Ki Ageng Pandan Arum berdiri di sampingnya pula, maka tampaklah bibirnya bergerak.
“Bapa di sini?”
“Ya ngger, jangan banyak bergerak dulu. Biarkan luka dalam mu membaik”
Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ya, aku terluka”. Kemudian desisnya, “Gading. Kemarilah. Kau ingin tahu siapa yang melukai aku?”
Bukan main terkejutnya Arya Gading mendengar kata-kata lelaki itu. Karena itu dengan serta-merta ia melangkah lebih mendekati lelaki itu sambil berdesis, “Ya kakang, katakanlah siapa yang telah melukai kakang?”
Tidak saja Arya Gading yang tertarik pada kata-kata itu. Namun semuanya tertarik pula. Bahkan, Ki Ageng sendiri ikut terperanjat. Karena itu, maka semua yang hadir disitu bergeser mendekat. Namun Mahesa Branjangan ternyata masih terlalu lemah. Tiba-tiba matanya terpejam kembali.
“Kakang” panggil Arya Gading.
“Jangan ngger” berkata Ki Ageng Pandan Arum, “Jangan dipaksa”
“Hem” Arya Gading menggeram. Ia ingin segera tahu siapa yang telah melakukan perbuatan itu.
“Masih sangat lemah” desis Ki Ageng Pandan Arum, “Tetapi pernafasannya telah menjadi wajar kembali”
Arya Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tegang ia menunggu perkembangan keadaan Mahesa Branjangan. Sehingga karenanya maka ia tetap saja berdiri di samping kakak seperguruannya itu ketika orang-orang lain telah duduk kembali ke tempatnya. Dalam pada itu sekali lagi Arya Gading melihat Mahesa Branjangan menggerakkan kepalanya. Kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya. Ketika ia melihat Arya Gading berdiri di sampingnya terdengar ia berdesis, “Gading”
“Ya kakang” jawab Arya Gading serta-merta.
Namun Mahesa Branjangan itu terdiam. Kembali matanya terkatub. Namun wajahnya kini sudah tdak seputih mayat. Perlahan-lahan warna-warna merah mulai menjalari wajah itu. Dan perlahan-lahan hati Arya Gading yang tadi di cekam ketakutan perlahan –lahan berkurang. Ki Ageng Pandan Arum, setelah meneguk minuman hangat dari sebuah meja kecil di bilik itu, berdiri mendekati Mahesa Branjangan. Dirabanya dada anak tunggalnya itu, kemudian diurut-urutnya lambungnya pula. Sekali lagi Mahesa Branjangan membuka matanya. Ketika ia melihat Ki Ageng Pandan Arum berdiri di sampingnya pula, maka tampaklah bibirnya bergerak.
“Bapa di sini?”
“Ya ngger, jangan banyak bergerak dulu. Biarkan luka dalam mu membaik”
Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ya, aku terluka”. Kemudian desisnya, “Gading. Kemarilah. Kau ingin tahu siapa yang melukai aku?”
Bukan main terkejutnya Arya Gading mendengar kata-kata lelaki itu. Karena itu dengan serta-merta ia melangkah lebih mendekati lelaki itu sambil berdesis, “Ya kakang, katakanlah siapa yang telah melukai kakang?”
Tidak saja Arya Gading yang tertarik pada kata-kata itu. Namun semuanya tertarik pula. Bahkan, Ki Ageng sendiri ikut terperanjat. Karena itu, maka semua yang hadir disitu bergeser mendekat. Namun Mahesa Branjangan ternyata masih terlalu lemah. Tiba-tiba matanya terpejam kembali.
“Kakang” panggil Arya Gading.
“Jangan ngger” berkata Ki Ageng Pandan Arum, “Jangan dipaksa”
“Hem” Arya Gading menggeram. Ia ingin segera tahu siapa yang telah melakukan perbuatan itu.
Quote:
DI LUAR, kabut yang tebal mulai turun dari puncak Merapi. Hawa dingin seperti menggigit samapi ke tulang. Namun ayam jantan yang berkokok semakin lama menjadi semakin ramai bersahutan. Meskipun demikian, lewat pintu mereka masih melihat kehitaman yang kelam di antara kabut yang keputih-putihan. Tetapi mereka menyadari bahwa sebentar lagi, fajar telah menjenguk di garis kaki langit. Kini mereka tidak dapat berdiri saja di seputar Mahesa Branjangan. Kuda Merta dan Ki Ageng Pandan Arum keluar sejenak untuk membersihkan diri, untuk kemudian mereka bergantian menunggu Mahesa Branjangan yang terluka itu. Kini tinggallah Arya Gading seorang diri.
Sepeninggal Ki Ageng dan Kuda Merta, Arya Gading masih juga menunggu Mahesa Branjangan dengan sabar. Sekali-sekali dilihatnya Mahesa Branjangan menarik nafas panjang. Namun Mahesa Branjangan itu masih belum juga membuka matanya kembali. Arya Gading hampir-hampir menjadi tidak sabar menunggu. Ia ingin segera tahu, siapakah yang melukai kakak seperguruannya itu. Tetapi ia tidak berani memaksanya untuk berbicara.
Sesaat kemudian ketika Mahesa Branjangan itu membuka matanya kembali, segera Arya Gading membungkukkan badannya sambil berbisik, “Kakang, apakah akan mengatakan kepadaku, siapakah yang telah melukai kakang?”
Mahesa Branjangan menarik nafas panjang. Tampak ia menyeringai, kemudian mencoba menggerakkan tangannya, “Tanganku masih lemah sekali” desisnya.
“Jangan bergerak-gerak dulu kakang” Arya Gading mencoba mencegahnya.
Mahesa Branjangan mengangguk kecil. “Dimana bapa?”
“Baru membersihkan diri kakang” sahut Arya Gading.
“Aku ingin mengatakan kepadanya, siapakah yang telah melukai aku”
“Katakanlah kakang, selagi kakang sempat, nanti kakang dapat tidur dengan nyenyak”
“Dimana paman Kuda Merta?”
“Biarlah nanti aku sampaikan”
Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan susah payah ia berkata, “Arya Gading. Sebenarnya aku telah berusaha untuk melupakan setiap persoalan yang ada di dalam padepokan ini untuk kepentingan yang lebih besar. Tetapi ternyata aku menghadapi bahaya yang hampir saja merenggut nyawaku. Kalau kali ini aku, maka mungkin lain kali paman Kuda Merta dan kau. Atau bahkan bapa Pandan Arum sendiri. Karena itu maka sebelum terjadi, kau harus mencegahnya. Aku percaya bahwa kau akan dapat melakukannya bersama- sama para sesepuh dan orang –orang Pasanggaran”
“Ya kakang”sahut Arya Gading tidak sabar, “Aku siap berbuat”
“Jangan orang itu mendapat kesempatan meninggalkan tempat ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih berbahaya bagimu dan bagi Pasanggaran”
“Ya kakang, tetapi siapakah itu? Katakan lah dengan cepat”
“Ya. Memang harus dilakukan secepatnya. Kalau ia tahu aku belum mati dan masih dapat mengatakannya, maka ada kemungkinan ia segera akan kembali”
“Ya, ya” sahut Arya Gading tidak sabar.
“Anak itu adalah Bagus Abangan”
“He?” alangkah terperanjat Arya Gading, “Bagus Abangan” ulangnya, “Bagaimana mungkin? Bukankah pada saat pengejaran itu kakang dengan beberapa cantrik dan bukan dengan Bagus Abangan saja?”
“ Anak itu memang licin seperti ular. Dan ternyata Bagus Abangan telah melakukan rencananya sendiri. Pada saat selesai pengejaran aku berada di belakang barisan sendirian. Pada saat itulah aku melihat bayangan yang mencurigakan mengendap –endap di dekat banjar desa. Pada saat itu suasana masih sangat kacau. Lantas tanpa membuat keributan aku ikuti bayangan orang itu. Bayangan itu gesit sekali. Nampaknya, ia sadar jika aku ikuti atau mungkin orang itu memang sudah tahu dan berniat memancingku agar mengikutinya”
“ Aku terkejut ketika tiba-tiba ia menggamit aku. Sembari berkata kalau ia juga mengikuti bayangan mencurigakan itu. Tetapi aku menjadi lengah pada saat itu. Aku berpaling pada saat pisaunya menembus punggungku. Tetapi aku tidak segera pingsan. Pukulannyalah yang menyebabkan aku tidak tahu apa lagi yang terjadi. Sekilas aku mengenai pukulan itu. Ajian itu ada di kitab Lawang Pitu. Hanya satu orang yang mengusai pukulan itu bapa Pandan Arum sendiri. Dan tenyata anak itu juga telah menguasainya meski belum sempurna. Dan aku juga yakin kalau Bagus Abangan tidak berdiri sendiri. Tentu ada orang lain yang berdiri di belakangnya “
Terdengar gigi Arya Gading gemeretak. Namun ketika ia masih ingin mengajukan pertanyaan lagi, dilihatnya nafas Mahesa Branjangan menjadi agak cepat.
“Kakang” panggil Arya Gading.
Mahesa Branjangan memejamkan matanya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Disadarinya bahwa ia masih belum dapat terlalu banyak berbicara. Karena itu katanya, “Aku akan beristirahat. Katakanlah hal ini kepada bapa Pandan Arum”
Arya Gading tidak menjawab. tetapi dadanya seakan-akan hampir meledak. Dilihatnya Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam, dan sekali Mahesa Branjangan itu berdesis, “Aku masih terlalu lemah. Kini kepalaku terasa agak pening. Aku akan mencoba tidur lagi”
“Tidurlah kakang” jawab Arya Gading, “Tenangkanlah hatimu. Biarkan aku selesaikan persoalan Bagus Abangan”
“Jangan seorang diri” desis Mahesa Branjangan.
Tetapi Arya Gading tidak menjawab, hatinya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Meskipun selama ini Bagus Abangan baginya seakan-akan hantu yang selalu mengejarnya kemana ia pergi, namun hantu itu kini sama sekali tidak menakutkan lagi baginya. Karena itu, maka demikian Mahesa Branjangan memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, cepat-cepat Arya Gading beringsut surut, dan dengan tergesa-gesa ia meloncat keluar bilik. Sedemikian tergesa-gesa sehingga ia lupa menyandang pedangnya yang telah diletakkannya di samping pembaringan Mahesa Branjangan. Di pendapa dengan nanar Arya Gading mencari Bagus Abangan. Namun di sudut pendapa itu tak dilihatnya seseorang. Karena itu dengan berlari-lari ia turun ke halaman dan langsung dicarinya di belakang padepokan.
Sepeninggal Ki Ageng dan Kuda Merta, Arya Gading masih juga menunggu Mahesa Branjangan dengan sabar. Sekali-sekali dilihatnya Mahesa Branjangan menarik nafas panjang. Namun Mahesa Branjangan itu masih belum juga membuka matanya kembali. Arya Gading hampir-hampir menjadi tidak sabar menunggu. Ia ingin segera tahu, siapakah yang melukai kakak seperguruannya itu. Tetapi ia tidak berani memaksanya untuk berbicara.
Sesaat kemudian ketika Mahesa Branjangan itu membuka matanya kembali, segera Arya Gading membungkukkan badannya sambil berbisik, “Kakang, apakah akan mengatakan kepadaku, siapakah yang telah melukai kakang?”
Mahesa Branjangan menarik nafas panjang. Tampak ia menyeringai, kemudian mencoba menggerakkan tangannya, “Tanganku masih lemah sekali” desisnya.
“Jangan bergerak-gerak dulu kakang” Arya Gading mencoba mencegahnya.
Mahesa Branjangan mengangguk kecil. “Dimana bapa?”
“Baru membersihkan diri kakang” sahut Arya Gading.
“Aku ingin mengatakan kepadanya, siapakah yang telah melukai aku”
“Katakanlah kakang, selagi kakang sempat, nanti kakang dapat tidur dengan nyenyak”
“Dimana paman Kuda Merta?”
“Biarlah nanti aku sampaikan”
Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan susah payah ia berkata, “Arya Gading. Sebenarnya aku telah berusaha untuk melupakan setiap persoalan yang ada di dalam padepokan ini untuk kepentingan yang lebih besar. Tetapi ternyata aku menghadapi bahaya yang hampir saja merenggut nyawaku. Kalau kali ini aku, maka mungkin lain kali paman Kuda Merta dan kau. Atau bahkan bapa Pandan Arum sendiri. Karena itu maka sebelum terjadi, kau harus mencegahnya. Aku percaya bahwa kau akan dapat melakukannya bersama- sama para sesepuh dan orang –orang Pasanggaran”
“Ya kakang”sahut Arya Gading tidak sabar, “Aku siap berbuat”
“Jangan orang itu mendapat kesempatan meninggalkan tempat ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih berbahaya bagimu dan bagi Pasanggaran”
“Ya kakang, tetapi siapakah itu? Katakan lah dengan cepat”
“Ya. Memang harus dilakukan secepatnya. Kalau ia tahu aku belum mati dan masih dapat mengatakannya, maka ada kemungkinan ia segera akan kembali”
“Ya, ya” sahut Arya Gading tidak sabar.
“Anak itu adalah Bagus Abangan”
“He?” alangkah terperanjat Arya Gading, “Bagus Abangan” ulangnya, “Bagaimana mungkin? Bukankah pada saat pengejaran itu kakang dengan beberapa cantrik dan bukan dengan Bagus Abangan saja?”
“ Anak itu memang licin seperti ular. Dan ternyata Bagus Abangan telah melakukan rencananya sendiri. Pada saat selesai pengejaran aku berada di belakang barisan sendirian. Pada saat itulah aku melihat bayangan yang mencurigakan mengendap –endap di dekat banjar desa. Pada saat itu suasana masih sangat kacau. Lantas tanpa membuat keributan aku ikuti bayangan orang itu. Bayangan itu gesit sekali. Nampaknya, ia sadar jika aku ikuti atau mungkin orang itu memang sudah tahu dan berniat memancingku agar mengikutinya”
“ Aku terkejut ketika tiba-tiba ia menggamit aku. Sembari berkata kalau ia juga mengikuti bayangan mencurigakan itu. Tetapi aku menjadi lengah pada saat itu. Aku berpaling pada saat pisaunya menembus punggungku. Tetapi aku tidak segera pingsan. Pukulannyalah yang menyebabkan aku tidak tahu apa lagi yang terjadi. Sekilas aku mengenai pukulan itu. Ajian itu ada di kitab Lawang Pitu. Hanya satu orang yang mengusai pukulan itu bapa Pandan Arum sendiri. Dan tenyata anak itu juga telah menguasainya meski belum sempurna. Dan aku juga yakin kalau Bagus Abangan tidak berdiri sendiri. Tentu ada orang lain yang berdiri di belakangnya “
Terdengar gigi Arya Gading gemeretak. Namun ketika ia masih ingin mengajukan pertanyaan lagi, dilihatnya nafas Mahesa Branjangan menjadi agak cepat.
“Kakang” panggil Arya Gading.
Mahesa Branjangan memejamkan matanya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Disadarinya bahwa ia masih belum dapat terlalu banyak berbicara. Karena itu katanya, “Aku akan beristirahat. Katakanlah hal ini kepada bapa Pandan Arum”
Arya Gading tidak menjawab. tetapi dadanya seakan-akan hampir meledak. Dilihatnya Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam, dan sekali Mahesa Branjangan itu berdesis, “Aku masih terlalu lemah. Kini kepalaku terasa agak pening. Aku akan mencoba tidur lagi”
“Tidurlah kakang” jawab Arya Gading, “Tenangkanlah hatimu. Biarkan aku selesaikan persoalan Bagus Abangan”
“Jangan seorang diri” desis Mahesa Branjangan.
Tetapi Arya Gading tidak menjawab, hatinya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Meskipun selama ini Bagus Abangan baginya seakan-akan hantu yang selalu mengejarnya kemana ia pergi, namun hantu itu kini sama sekali tidak menakutkan lagi baginya. Karena itu, maka demikian Mahesa Branjangan memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, cepat-cepat Arya Gading beringsut surut, dan dengan tergesa-gesa ia meloncat keluar bilik. Sedemikian tergesa-gesa sehingga ia lupa menyandang pedangnya yang telah diletakkannya di samping pembaringan Mahesa Branjangan. Di pendapa dengan nanar Arya Gading mencari Bagus Abangan. Namun di sudut pendapa itu tak dilihatnya seseorang. Karena itu dengan berlari-lari ia turun ke halaman dan langsung dicarinya di belakang padepokan.
Diubah oleh breaking182 12-08-2022 22:25
ashrose dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas
Tutup