- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
Diubah oleh breaking182 30-12-2022 23:12
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.7K
Kutip
622
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#322
gatra 48
Quote:
KETIKA MEREKA SAMPAI, dan ketika mereka melihat orang yang terbaring diam dengan darah yang memerahi tubuhnya, ternyatabahwa orang itu Mahesa Branjangan. Tubuhnya telah menjadi sangat lemah, karena darah yang banyak sekali mengalir dari lukanya, bahkan beberapa orang telah menyangkanya mati. Pikiran pemuda itu melayang –layang. Seolah –olah peristiwa pembunuhan pamannya di Kedungtuban kembali segar di pelupuk matanya.
Arya Gading dengan gemetar berlutut di samping lelaki yang terbaring diam itu sambil memanggil-manggil, “Kakang, Kakang Mahesa Branjangan. Kakang”
Tetapi Mahesa Branjangan tidak menjawab. Bibirnya menjadi seputih kapas, dan tubuhnya telah menjadi sangat dingin. Perlahan-lahan Anjam Kayuwangi menempelkan telinganya di dada Mahesa Branjangan.
Kemudian dengan penuh harapan ia berkata, “Masih aku dengar jantungnya berdetak. Karena itu, carilah lukanya. Usahakan untuk menyumbatnya, supaya darahnya tidak terlalu banyak mengalir”
Tubuh Mahesa Branjangan yang lemah itu pun segera diangkat. Dan serentak mereka terkejut bukan kepalang. Sebuah pisau belati tertancap cukup dalam di punggung Mahesa Branjangan.
”Hem” terdengar Anjam Kayuwangi menggeram. Dengan hati-hati pisau itu ditariknya. Dan kemudian katanya tergesa-gesa, “Kain. Balutlah lukanya”
Beberapa orang menjadi bingung. Mereka tidak membawa secarik kain pun untuk membalut luka itu. Namun kemudian Arya Gading dengan cekatan membuka ikat kepalanya, dan dengan ikat kepala itu ia mencoba menyumbat luka Mahesa Branjangan. Mahesa Branjangan kemudian dikerumuni oleh hampir semua orang di tempat itu.
Bagus Abangan pun kemudian datang pula, menerobos lingkaran itu sambil berkata, “Apakah benar kakang Mahesa Branjangan terluka?"
Arya Gading mengangkat wajahnya, ditatapnya wajah Bagus Abangan. Wajah yang keras dan tajam. Namun ia tidak menjawab pertanyaan itu.
Yang menjawab adalah Anjam Kayuwangi, “Ya, Mahesa Branjangan terluka”
“ Aku benar-benar tidak menyangka” katanya sambil melangkah maju.
Kini anak muda itu berdiri selangkah di belakang Anjam Kayuwangi. Ditatapnya tubuh Mahesa Branjangan yang lemah terbaring di tanah, sedang beberapa orang masih berusaha membalut luka itu.
Bagus Abangan itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Aku masih bersamanya pada saat pengejaran tadi. Setahuku ia baik – baik saja. Tetapi kenapa tiba-tiba ia terluka?”
Tak seorang pun yang menjawab kata-kata itu. Anjam Kayuwangi juga tidak. Sedang Arya Gading telah sibuk kembali dengan luka Mahesa Branjangan. Semua orang yang berdiri melingkar itu menahan nafas mereka. Seolah-olah ikut merasakan, betapa pedihnya luka itu. Luka yang menghunjam masuk ke dalam punggung Mahesa Branjangan.
Arya Gading dengan gemetar berlutut di samping lelaki yang terbaring diam itu sambil memanggil-manggil, “Kakang, Kakang Mahesa Branjangan. Kakang”
Tetapi Mahesa Branjangan tidak menjawab. Bibirnya menjadi seputih kapas, dan tubuhnya telah menjadi sangat dingin. Perlahan-lahan Anjam Kayuwangi menempelkan telinganya di dada Mahesa Branjangan.
Kemudian dengan penuh harapan ia berkata, “Masih aku dengar jantungnya berdetak. Karena itu, carilah lukanya. Usahakan untuk menyumbatnya, supaya darahnya tidak terlalu banyak mengalir”
Tubuh Mahesa Branjangan yang lemah itu pun segera diangkat. Dan serentak mereka terkejut bukan kepalang. Sebuah pisau belati tertancap cukup dalam di punggung Mahesa Branjangan.
”Hem” terdengar Anjam Kayuwangi menggeram. Dengan hati-hati pisau itu ditariknya. Dan kemudian katanya tergesa-gesa, “Kain. Balutlah lukanya”
Beberapa orang menjadi bingung. Mereka tidak membawa secarik kain pun untuk membalut luka itu. Namun kemudian Arya Gading dengan cekatan membuka ikat kepalanya, dan dengan ikat kepala itu ia mencoba menyumbat luka Mahesa Branjangan. Mahesa Branjangan kemudian dikerumuni oleh hampir semua orang di tempat itu.
Bagus Abangan pun kemudian datang pula, menerobos lingkaran itu sambil berkata, “Apakah benar kakang Mahesa Branjangan terluka?"
Arya Gading mengangkat wajahnya, ditatapnya wajah Bagus Abangan. Wajah yang keras dan tajam. Namun ia tidak menjawab pertanyaan itu.
Yang menjawab adalah Anjam Kayuwangi, “Ya, Mahesa Branjangan terluka”
“ Aku benar-benar tidak menyangka” katanya sambil melangkah maju.
Kini anak muda itu berdiri selangkah di belakang Anjam Kayuwangi. Ditatapnya tubuh Mahesa Branjangan yang lemah terbaring di tanah, sedang beberapa orang masih berusaha membalut luka itu.
Bagus Abangan itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Aku masih bersamanya pada saat pengejaran tadi. Setahuku ia baik – baik saja. Tetapi kenapa tiba-tiba ia terluka?”
Tak seorang pun yang menjawab kata-kata itu. Anjam Kayuwangi juga tidak. Sedang Arya Gading telah sibuk kembali dengan luka Mahesa Branjangan. Semua orang yang berdiri melingkar itu menahan nafas mereka. Seolah-olah ikut merasakan, betapa pedihnya luka itu. Luka yang menghunjam masuk ke dalam punggung Mahesa Branjangan.
Quote:
SUASANA KEMUDIAN menjadi sepi. Angin malam yang dingin menghembus perlahan-lahan, mengguncang batang-batang padi yang bergerak-gerak terinjak-injak oleh kaki-kaki mereka yang tadi sedang bertempur. Sedang dikejauhan terdengar bunyi binatang-binatang malam bersahut-sahutan. Di langit yang biru bersih, terpancang berjuta bintang gemintang yang berkilat-kilat. Sekali-sekali tampak kelelawar beterbangan merajai langit dimalam hari.
Dalam keheningan malam itu tiba-tiba terdengar Bagus Abangan berdesah, “Terlambat. Tidak ada gunanya lagi. Mahesa Branjangan akan mati”
Semua yang mendengar desah itu terkejut. Lebih-lebih Arya Gading. Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata lantang, “Tutup mulut mu Bagus Abangan. Kami sedang berusaha!”
“Aku memandang segala persoalan menurut pertimbangan nalar” sahut Bagus Abangan.
“Keadaan itu sudah sangat gawat. Apa pun yang kalian usahakan akan sia-sia saja”
“Tidak” potong Anjam Kayuwangi, “Kemungkinan masih ada”
Terdengar Bagus Abangan tertawa pendek, “Mahesa Branjangan bukan malaikat. Tusukan itu tepat dan sepertinya sangat dalam. Mahesa Branjangan, seperti juga orang lain yang mengalami peristiwa serupa, pasti akan mati”
“Sekali lagi tutup mulutmu! Atau aku akan menyobeknya dengan pedang ku ini!” tiba-tiba Arya Gadingyang tidak dapat menahan hati lagi membentak lantang, “Kalau kau tidak merasa perlu untuk menolongnya, jangan membuat kami berputus asa. Cepat pergilah dari tempat ini!”
Bagus Abangan mengerutkan keningnya mendengar bentakan itu. Dengan tidak kalah lantangnya ia menjawab, “Jangan bersikap seperti kaulah pemimpin disini. Yang mendapat kepercayaan dari Ki Ageng bukan kau. Karena itu jangan membentak-bentak”
“Aku tidak peduli apakah dan siapakah yang memimpin disini. Tetapi aku tidak mau mendengar kau berkata seolah-olah sudah sewajarnya kakang Mahesa Branjangan harus mati. Kau lihat kami sedang berusaha untuk menolongnya”
“Itu urusanmu” sahut Bagus Abangan, “Aku hanya mengatakan bahwa menurut pendapatku, Mahesa Branjangan tidak akan dapat ditolong lagi”
“Jangan kau katakan di hadapanku”
“Apa hakmu melarang aku berkata menurut pertimbanganku sendiri”
Arya Gading bukanlah seorang yang cepat menjadi marah karena pengaruh sifat-sifatnya. Ia adalah seorang yang lemah hati yang memandang semua persoalan dari segi yang paling damai. Tetapi meskipun demikian kali ini ia merasa benar-benar tersinggung. Mahesa Branjangan adalah orang yang paling dihormati selain Ki Ageng sendiri. Mahesa Branjangan adalah orang yang paling baik di muka bumi ini, yang telah banyak berbuat untuknya untuk kepentingannya. Karena itu, maka tanggapan Bagus Abangan atas Mahesa Branjangan itu benar-benar telah membakar telinganya sehingga Arya Gading seakan-akan kehilangan segenap sifat-sifatnya.
Tiba-tiba ia menjadi keras dan dengan serta-merta ia berdiri sambil berkata, “Bagus Abangan, kau ingin perselisihan, maka sekarang adalah waktunya. Aku selalu mencoba menghindari setiap benturan di antara kita sejauh mungkin. Namun kau selalu membuat persoalan. Sekarang, kalau kau menantang aku, aku terima tantanganmu. Dengan atau tanpa senjata”
Tak seorang pun yang menyangka bahwa Arya Gading akan mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang terlalu keras dan langsung. Kata-kata yang menggeletar karena getaran di dalam dadanya. Getaran yang telah memenuhi rongga hatinya yang betapapun luasnya. Sehingga akhirnya meluap juga, menggetarkan udara malam yang dingin.
Bagus Abangan pun sama sekali tidak menyangka, bahwa Arya Gading tiba-tiba saja berbuat demikian. Sesaat ia berdiri termangu-mangu dilihatnya di dalam sinar obor yang kemerah-merahan mata Arya Gading yang menyala-nyala. Namun Bagus Abangan adalah seorang yang keras hati.
Ketika ia menyadari keadaan, tiba-tiba ia mengangkat dadanya. Dengan lantang ia menjawab kata-kata Arya Gading, “Bagus. Aku tantang kau saat ini”
Arya Gading tidak menunggu apa pun lagi. Setapak ia maju. Dan ketika ia melihat di tangan Bagus Abangan masih tergenggam senjatanya. Sebuah pedang panjang yang sangat tipis, maka dengan tanpa menghiraukan apa pun lagi, dengan tangkasnya ditariknya pedangnya dari warangkanya.
Tetapi tepat pada saatnya Anjam Kayuwangi telah berdiri di antara mereka. Dengan tenang ia berkata, “Aku memerintahkan kalian menghindari bentrokan yang dapat terjadi”
Kembali suasana menjadi sunyi senyap. Bagus Abangan dan Arya Gading merasakan wibawa kata-kata Anjam Kayuwangi. Karena itu, maka mereka pun menundukkan wajah masing-masing.
Sesaat kemudian terdengar pula Anjam Kayuwangi itu berkata, “Sekarang bawa Mahesa Branjangan kembali ke Pasanggaran. Cepat supaya kita dapat memberikan pertolongan yang lebih baik. Darah telah terlampau banyak tertumpah di sini. Apakah masih ada yang akan memeras lagi darahnya? Apalagi tanpa arti?”
Arya Gading tidak menjawab. Tetapi segera ia melangkah mendekati tubuh Mahesa Branjangan dan ikut serta mengangkatnya. Namun terasa bahwa sesuatu bergolak di dalam dadanya. Sedang Bagus Abangan masih tegak di tempatnya. Diawasinya Arya Gading melangkah pergi, menyarungkan pedangnya dan kemudian bersama-sama dengan beberapa orang mengangkat tubuh Mahesa Branjangan.
Anjam Kayuwangi pun kemudian meninggalkan Bagus Abangan itu pula. di belakang mereka yang mengangkat tubuh Mahesa Branjangan, Anjam Kayuwangi berjalan sambil menggigit bibirnya. Seribu satu macam persoalan membentur dinding hatinya. Mahesa Branjangan yang kini telah terluka. Bahkan sangat parah. Kalau lelaki itu tidak segera mendapat pengobatan yang baik, maka jiwanya ada dalam bahaya.
Ketika para cantrik Pasanggaran dan anak-anak muda Cangkringan pergi meninggalkan tempat itu, maka Bagus Abangan masih saja berdiri seperti patung. Dilihatnya Anjam Kayuwangi berjalan sambil menundukkan kepalanya dan dilihatnya orang - orang itu seakan-akan berduka.
Tiba-tiba timbullah iri di hatinya, “Apakah kalau aku terluka maka semua orang akan berduka seperti itu?” katanya dalam hati.
Ketika kemudian terdengar suara ayam jantan berkokok, Bagus Abangan itu terkejut. Terasa kemudian betapa silirnya angin yang mengusap tubuhnya. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya bintang-bintang masih bercahaya di langit di atas kepalanya. Dilihatnya bintang Bima Sakti melintang dari kutub ke kutub, di lingkaran serbuk bintang yang keputih-putihan seperti awan yang bercahaya.
Dalam keheningan malam itu tiba-tiba terdengar Bagus Abangan berdesah, “Terlambat. Tidak ada gunanya lagi. Mahesa Branjangan akan mati”
Semua yang mendengar desah itu terkejut. Lebih-lebih Arya Gading. Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata lantang, “Tutup mulut mu Bagus Abangan. Kami sedang berusaha!”
“Aku memandang segala persoalan menurut pertimbangan nalar” sahut Bagus Abangan.
“Keadaan itu sudah sangat gawat. Apa pun yang kalian usahakan akan sia-sia saja”
“Tidak” potong Anjam Kayuwangi, “Kemungkinan masih ada”
Terdengar Bagus Abangan tertawa pendek, “Mahesa Branjangan bukan malaikat. Tusukan itu tepat dan sepertinya sangat dalam. Mahesa Branjangan, seperti juga orang lain yang mengalami peristiwa serupa, pasti akan mati”
“Sekali lagi tutup mulutmu! Atau aku akan menyobeknya dengan pedang ku ini!” tiba-tiba Arya Gadingyang tidak dapat menahan hati lagi membentak lantang, “Kalau kau tidak merasa perlu untuk menolongnya, jangan membuat kami berputus asa. Cepat pergilah dari tempat ini!”
Bagus Abangan mengerutkan keningnya mendengar bentakan itu. Dengan tidak kalah lantangnya ia menjawab, “Jangan bersikap seperti kaulah pemimpin disini. Yang mendapat kepercayaan dari Ki Ageng bukan kau. Karena itu jangan membentak-bentak”
“Aku tidak peduli apakah dan siapakah yang memimpin disini. Tetapi aku tidak mau mendengar kau berkata seolah-olah sudah sewajarnya kakang Mahesa Branjangan harus mati. Kau lihat kami sedang berusaha untuk menolongnya”
“Itu urusanmu” sahut Bagus Abangan, “Aku hanya mengatakan bahwa menurut pendapatku, Mahesa Branjangan tidak akan dapat ditolong lagi”
“Jangan kau katakan di hadapanku”
“Apa hakmu melarang aku berkata menurut pertimbanganku sendiri”
Arya Gading bukanlah seorang yang cepat menjadi marah karena pengaruh sifat-sifatnya. Ia adalah seorang yang lemah hati yang memandang semua persoalan dari segi yang paling damai. Tetapi meskipun demikian kali ini ia merasa benar-benar tersinggung. Mahesa Branjangan adalah orang yang paling dihormati selain Ki Ageng sendiri. Mahesa Branjangan adalah orang yang paling baik di muka bumi ini, yang telah banyak berbuat untuknya untuk kepentingannya. Karena itu, maka tanggapan Bagus Abangan atas Mahesa Branjangan itu benar-benar telah membakar telinganya sehingga Arya Gading seakan-akan kehilangan segenap sifat-sifatnya.
Tiba-tiba ia menjadi keras dan dengan serta-merta ia berdiri sambil berkata, “Bagus Abangan, kau ingin perselisihan, maka sekarang adalah waktunya. Aku selalu mencoba menghindari setiap benturan di antara kita sejauh mungkin. Namun kau selalu membuat persoalan. Sekarang, kalau kau menantang aku, aku terima tantanganmu. Dengan atau tanpa senjata”
Tak seorang pun yang menyangka bahwa Arya Gading akan mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang terlalu keras dan langsung. Kata-kata yang menggeletar karena getaran di dalam dadanya. Getaran yang telah memenuhi rongga hatinya yang betapapun luasnya. Sehingga akhirnya meluap juga, menggetarkan udara malam yang dingin.
Bagus Abangan pun sama sekali tidak menyangka, bahwa Arya Gading tiba-tiba saja berbuat demikian. Sesaat ia berdiri termangu-mangu dilihatnya di dalam sinar obor yang kemerah-merahan mata Arya Gading yang menyala-nyala. Namun Bagus Abangan adalah seorang yang keras hati.
Ketika ia menyadari keadaan, tiba-tiba ia mengangkat dadanya. Dengan lantang ia menjawab kata-kata Arya Gading, “Bagus. Aku tantang kau saat ini”
Arya Gading tidak menunggu apa pun lagi. Setapak ia maju. Dan ketika ia melihat di tangan Bagus Abangan masih tergenggam senjatanya. Sebuah pedang panjang yang sangat tipis, maka dengan tanpa menghiraukan apa pun lagi, dengan tangkasnya ditariknya pedangnya dari warangkanya.
Tetapi tepat pada saatnya Anjam Kayuwangi telah berdiri di antara mereka. Dengan tenang ia berkata, “Aku memerintahkan kalian menghindari bentrokan yang dapat terjadi”
Kembali suasana menjadi sunyi senyap. Bagus Abangan dan Arya Gading merasakan wibawa kata-kata Anjam Kayuwangi. Karena itu, maka mereka pun menundukkan wajah masing-masing.
Sesaat kemudian terdengar pula Anjam Kayuwangi itu berkata, “Sekarang bawa Mahesa Branjangan kembali ke Pasanggaran. Cepat supaya kita dapat memberikan pertolongan yang lebih baik. Darah telah terlampau banyak tertumpah di sini. Apakah masih ada yang akan memeras lagi darahnya? Apalagi tanpa arti?”
Arya Gading tidak menjawab. Tetapi segera ia melangkah mendekati tubuh Mahesa Branjangan dan ikut serta mengangkatnya. Namun terasa bahwa sesuatu bergolak di dalam dadanya. Sedang Bagus Abangan masih tegak di tempatnya. Diawasinya Arya Gading melangkah pergi, menyarungkan pedangnya dan kemudian bersama-sama dengan beberapa orang mengangkat tubuh Mahesa Branjangan.
Anjam Kayuwangi pun kemudian meninggalkan Bagus Abangan itu pula. di belakang mereka yang mengangkat tubuh Mahesa Branjangan, Anjam Kayuwangi berjalan sambil menggigit bibirnya. Seribu satu macam persoalan membentur dinding hatinya. Mahesa Branjangan yang kini telah terluka. Bahkan sangat parah. Kalau lelaki itu tidak segera mendapat pengobatan yang baik, maka jiwanya ada dalam bahaya.
Ketika para cantrik Pasanggaran dan anak-anak muda Cangkringan pergi meninggalkan tempat itu, maka Bagus Abangan masih saja berdiri seperti patung. Dilihatnya Anjam Kayuwangi berjalan sambil menundukkan kepalanya dan dilihatnya orang - orang itu seakan-akan berduka.
Tiba-tiba timbullah iri di hatinya, “Apakah kalau aku terluka maka semua orang akan berduka seperti itu?” katanya dalam hati.
Ketika kemudian terdengar suara ayam jantan berkokok, Bagus Abangan itu terkejut. Terasa kemudian betapa silirnya angin yang mengusap tubuhnya. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya bintang-bintang masih bercahaya di langit di atas kepalanya. Dilihatnya bintang Bima Sakti melintang dari kutub ke kutub, di lingkaran serbuk bintang yang keputih-putihan seperti awan yang bercahaya.
Quote:
BEBERAPA BELAS TOMBAK di depannya berpuluh-puluh obor berjalan semakin lama menjadi semakin jauh. Ketika ia kemudian melangkah, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah desir yang lembut. Cepat ia berpaling sambil menyiagakan senjatanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat orang yang mendatanginya. Gurunya, Paraji Gading.
“Apakah lau terkejut Bagus Abangan?”
Bagus Abangan menarik nafas. Jawabnya, “Ya guru. Aku baru saja bertempur di sini. Karena itu, maka aku masih diliputi oleh suasana itu”
Gurunya itu tertawa pendek, “Aku melihat pertempuran ini. Aku melihat pula kalian mencari anak Pandan Arum yang bernama Mahesa Branjangan itu”
Bagus Abangan tersenyum pula, “Hem. Pokal orang-orang gila itu” desisnya.
Paraji Gading itu pun kemudian mengawasi obor-obor yang semakin menjauh. Nyala apinya kemudian seakan-akan hanya merupakan bintik-bintik merah yang bergerak-gerak di atas layar yang hitam. Dalam pada itu, Arya Gading dengan penuh keprihatinan dan kesedihan membawa tubuh Mahesa Branjangan bersama-sama beberapa orang lain. Di daerah bekas pertempuran itu masih banyak tubuh-tubuh lain yang bergelimpangan. Kawan atau lawan. Beberapa di antara mereka sudah tidak bernyawa lagi. Namun sebagian lagi masih hidup, merintih-rintih menahan sakit.
Karena itu, tiba-tiba Arya Gadingitu berpaling kepada pamannya sambil berkata, “Paman Kayuwangi apakah orang-orang lain yang terluka itu tidak mendapat perawatan seperti kakang Mahesa Branjangan ini?”
Anjam Kayuwangi mengangguk. Jawabnya, “Ya. Beberapa orang lain bertugas mengurusi mereka. Baik yang sudah meninggal. Maupun yang masih mungkin mendapat pertolongan”
Arya Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketika terpandang kembali wajah Mahesa Branjangan yang pucat, hatinya berdesir keras. Dengan demikian, maka Arya Gading dan orang-orang yang membawa Mahesa Branjangan itu berjalan semakin cepat. Mahesa Branjangan harus segera mendapat pengobatan secepatnya.
Kabar tentang Mahesa Branjangan segera tersebar ke seluruh padukuhan yang berada di sekitaran Pasanggaran. Beberapa orang semula menjadi kecewa mendengar berita itu. Salah seorang di antara mereka berkata, “Kalau begitu, Mahesa Branjangan benar-benar bukan orang yang pantas kita harapkan di sini. Seperti kabar-kabar yang kita dengar, ternyata Mahesa Branjangan sama sekali tidak mampu mempertahankan dan menyelamatkan dirinya sendiri”
“Kau salah” jawab yang lain. “Mahesa Branjangan sepertinya diserang dari belakang. Letak pisau itu katanya menancap di punggungnya. Dan itu sangat curang dan culas “
Orang pertama menyesal atas penilaiannya terhadap Mahesa Branjangan. Karena itu cepat-cepat ia membetulkan kesalahan, “Oh, aku keliru. Ternyata Mahesa Branjangan benar-benar mengagumkan. Namun jika seandainya seseorang berhasil melukainya, meskipun dari belakang, maka orang yang melakukan itu pasti seseorang yang pilih tanding pula. Mungkin sebanding dengan Ki Ageng Pandan Arum”
“Mungkin” jawab orang kedua.
Kemudian keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya beberapa kawan-kawan mereka sedang berbaring-baring saja di muka regol padukuhan karena kelelahan. Beberapa orang duduk-duduk di halaman, sedang yang lain masih berada di banjar desa. Orang-orang yang terluka pun kemudian dibawa kebajar desa itu untuk mendapat pertolongan sekedarnya. Iring –iringan para cantrik yang membawa tubuh Mahesa Branjangan telah tiba di Pasanggaran. Ki Ageng terkejut melihat anak lelakinya itu terbaring diam dengan tubuh terluka dan basah oleh darah.
Mahesa Branjangan itu pun kemudian dibaringkan di dalam pringgitan padepokan. Arya Gading, Kuda Merta, Paksi Jalak Kuning dan Anjam Kayuwangi beserta Ki Ageng dan beberapa orang lagi berdiri memagarinya. Mereka menyaksikan dengan penuh haru, tubuh Mahesa Branjangan yang terbaring diam. Meskipun demikian, mereka masih mempunyai harapan bahwa Mahesa Branjangan akan dapat sadar kembali, karena mereka masih melihat dada Mahesa Branjangan bergerak-gerak dalam pernafasan yang sulit. Ki Ageng pun menjadi gelisah pula. Ia telah menyuruh beberapa orang untuk mencari daun-daun yang dapat menolong sementara, menghentikan aliran darahnya.
Damar Tahun setengah berbisik kepada Ki Ageng, “ Maaf Ki Ageng. Apakah nyai dan nimas Ratri Hening akan kita beritahukan mengenai apa yang telah menimpa kakang Branjangan ?”
“ Jangan dulu Damar, aku tidak ingin istri dan anaknya menjadi sangat cemas. Biarkan dulu seperti ini. Nanti kalau segala sesuatunya sudah membaik. Tolong kau jemput dia di pengungsian “
“ Baik Ki Ageng “
“Untunglah” gumam Anjam Kayuwangi, “Lukanya agak terlalu tinggi, sehingga tidak langsung menyentuh jantungnya”
Kuda Merta mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian, keadaan Mahesa Branjangan cukup berbahaya. Dalam pada itu, hampir setiap orang berbicara tentang Mahesa Branjangan, tentang luka di punggungnya. Mereka bersepakat bahwa Mahesa Branjangan mendapat serangan dari belakang dengan cara yang curang.
“Apakah lau terkejut Bagus Abangan?”
Bagus Abangan menarik nafas. Jawabnya, “Ya guru. Aku baru saja bertempur di sini. Karena itu, maka aku masih diliputi oleh suasana itu”
Gurunya itu tertawa pendek, “Aku melihat pertempuran ini. Aku melihat pula kalian mencari anak Pandan Arum yang bernama Mahesa Branjangan itu”
Bagus Abangan tersenyum pula, “Hem. Pokal orang-orang gila itu” desisnya.
Paraji Gading itu pun kemudian mengawasi obor-obor yang semakin menjauh. Nyala apinya kemudian seakan-akan hanya merupakan bintik-bintik merah yang bergerak-gerak di atas layar yang hitam. Dalam pada itu, Arya Gading dengan penuh keprihatinan dan kesedihan membawa tubuh Mahesa Branjangan bersama-sama beberapa orang lain. Di daerah bekas pertempuran itu masih banyak tubuh-tubuh lain yang bergelimpangan. Kawan atau lawan. Beberapa di antara mereka sudah tidak bernyawa lagi. Namun sebagian lagi masih hidup, merintih-rintih menahan sakit.
Karena itu, tiba-tiba Arya Gadingitu berpaling kepada pamannya sambil berkata, “Paman Kayuwangi apakah orang-orang lain yang terluka itu tidak mendapat perawatan seperti kakang Mahesa Branjangan ini?”
Anjam Kayuwangi mengangguk. Jawabnya, “Ya. Beberapa orang lain bertugas mengurusi mereka. Baik yang sudah meninggal. Maupun yang masih mungkin mendapat pertolongan”
Arya Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketika terpandang kembali wajah Mahesa Branjangan yang pucat, hatinya berdesir keras. Dengan demikian, maka Arya Gading dan orang-orang yang membawa Mahesa Branjangan itu berjalan semakin cepat. Mahesa Branjangan harus segera mendapat pengobatan secepatnya.
Kabar tentang Mahesa Branjangan segera tersebar ke seluruh padukuhan yang berada di sekitaran Pasanggaran. Beberapa orang semula menjadi kecewa mendengar berita itu. Salah seorang di antara mereka berkata, “Kalau begitu, Mahesa Branjangan benar-benar bukan orang yang pantas kita harapkan di sini. Seperti kabar-kabar yang kita dengar, ternyata Mahesa Branjangan sama sekali tidak mampu mempertahankan dan menyelamatkan dirinya sendiri”
“Kau salah” jawab yang lain. “Mahesa Branjangan sepertinya diserang dari belakang. Letak pisau itu katanya menancap di punggungnya. Dan itu sangat curang dan culas “
Orang pertama menyesal atas penilaiannya terhadap Mahesa Branjangan. Karena itu cepat-cepat ia membetulkan kesalahan, “Oh, aku keliru. Ternyata Mahesa Branjangan benar-benar mengagumkan. Namun jika seandainya seseorang berhasil melukainya, meskipun dari belakang, maka orang yang melakukan itu pasti seseorang yang pilih tanding pula. Mungkin sebanding dengan Ki Ageng Pandan Arum”
“Mungkin” jawab orang kedua.
Kemudian keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya beberapa kawan-kawan mereka sedang berbaring-baring saja di muka regol padukuhan karena kelelahan. Beberapa orang duduk-duduk di halaman, sedang yang lain masih berada di banjar desa. Orang-orang yang terluka pun kemudian dibawa kebajar desa itu untuk mendapat pertolongan sekedarnya. Iring –iringan para cantrik yang membawa tubuh Mahesa Branjangan telah tiba di Pasanggaran. Ki Ageng terkejut melihat anak lelakinya itu terbaring diam dengan tubuh terluka dan basah oleh darah.
Mahesa Branjangan itu pun kemudian dibaringkan di dalam pringgitan padepokan. Arya Gading, Kuda Merta, Paksi Jalak Kuning dan Anjam Kayuwangi beserta Ki Ageng dan beberapa orang lagi berdiri memagarinya. Mereka menyaksikan dengan penuh haru, tubuh Mahesa Branjangan yang terbaring diam. Meskipun demikian, mereka masih mempunyai harapan bahwa Mahesa Branjangan akan dapat sadar kembali, karena mereka masih melihat dada Mahesa Branjangan bergerak-gerak dalam pernafasan yang sulit. Ki Ageng pun menjadi gelisah pula. Ia telah menyuruh beberapa orang untuk mencari daun-daun yang dapat menolong sementara, menghentikan aliran darahnya.
Damar Tahun setengah berbisik kepada Ki Ageng, “ Maaf Ki Ageng. Apakah nyai dan nimas Ratri Hening akan kita beritahukan mengenai apa yang telah menimpa kakang Branjangan ?”
“ Jangan dulu Damar, aku tidak ingin istri dan anaknya menjadi sangat cemas. Biarkan dulu seperti ini. Nanti kalau segala sesuatunya sudah membaik. Tolong kau jemput dia di pengungsian “
“ Baik Ki Ageng “
“Untunglah” gumam Anjam Kayuwangi, “Lukanya agak terlalu tinggi, sehingga tidak langsung menyentuh jantungnya”
Kuda Merta mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian, keadaan Mahesa Branjangan cukup berbahaya. Dalam pada itu, hampir setiap orang berbicara tentang Mahesa Branjangan, tentang luka di punggungnya. Mereka bersepakat bahwa Mahesa Branjangan mendapat serangan dari belakang dengan cara yang curang.
Diubah oleh breaking182 09-08-2022 08:27
ashrose dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas