- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.8K
Kutip
623
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#319
gatra 47
Quote:
DI UJUNG SELATAN padukuhan Cangkringan, suasana sudah sunyi. Hanya beberapa kali terlihat beberapa orang –orang mondar –mandir membawa tubuh orang –orang yang terluka maupun terbunuh. Sesekali bau anyir darah masih santer tercium terbawa angin. Di kejauhan lolongan asu ajag sesekali terdengar. Sepertinya binatang itu mencium aroma darah sisa pertempuran di Cangkringan.
Demikianlah maka seluruh kelompok orang –orang yang hendak membuat kerusuhan di Pasanggaran telah dapat dilumpuhkan. Bagus Abangan dan beberapa cantrik yang dipimpin oleh Mahesa Branjangan sempat mengejar lawannya sampai ke desa pertama yang dapat dicapai oleh orang –orang itu. Demikian mereka memasuki desa itu, maka seakan-akan mereka telah lenyap ditelan kegelapan. Obor-obor mereka segera menjadi padam, dan orang-orang mereka pun segera menyelinap dan hilang di balik daun-daunan yang rimbun serta rumpun-rumpun bambu yang lebat.
Para cantrik sejenak menjadi ragu-ragu. Mereka sama sekali tidak mendengar seorang pun memberikan aba-aba kepada mereka. Apakah mereka harus mengejar lawan itu terus atau mereka harus berhenti di batas desa itu. Sebab alangkah berbahayanya melakukan pengejaran di dalam gelap yang pekat itu.
Yang terdengar kemudian adalah suara Bagus Abangan, “He, apakah yang harus kami lakukan?”
Tak ada suara yang menyahut. Karena itu sekali lagi Bagus Abangan berteriak, “ Kakang Mahesa Branjangan apakah tidak baiknya kita tumpas orang –orang itu. Mereka adalah orang –orang yang liar, yang dapat berbuat sekehendak hatinya masing -masing? Ayo, kakang yang memegang pimpinan, berikan perintah”
Kembali suara itu bergulung-gulung dan hilang ditelan kabut malam. Semua yang mendengar suara Bagus Abangan itu menjadi tegang. Mereka menunggu jawaban dari Mahesa Branjangan. Namun jawaban yang ditunggunya itu tidak juga kunjung datang.
Hingga akhirnya, “ Sudahlah, mereka sudah menghilang dalam kegelapan. Sangat berbahaya untuk terus mengejar mereka. Marilah kita pulang ke Cangkringan untuk membantu kawan –kawan kita merawat para cantrik yang terluka ataupun telah gugur “
Bagus Abangan mendengus kesal. Lantas pemuda itu tanpa berkata apa –apa lagi berjalan meninggalkan tempat itu. Diikuti oleh Mahesa Branjangan dan beberapa cantrik.
Demikianlah maka seluruh kelompok orang –orang yang hendak membuat kerusuhan di Pasanggaran telah dapat dilumpuhkan. Bagus Abangan dan beberapa cantrik yang dipimpin oleh Mahesa Branjangan sempat mengejar lawannya sampai ke desa pertama yang dapat dicapai oleh orang –orang itu. Demikian mereka memasuki desa itu, maka seakan-akan mereka telah lenyap ditelan kegelapan. Obor-obor mereka segera menjadi padam, dan orang-orang mereka pun segera menyelinap dan hilang di balik daun-daunan yang rimbun serta rumpun-rumpun bambu yang lebat.
Para cantrik sejenak menjadi ragu-ragu. Mereka sama sekali tidak mendengar seorang pun memberikan aba-aba kepada mereka. Apakah mereka harus mengejar lawan itu terus atau mereka harus berhenti di batas desa itu. Sebab alangkah berbahayanya melakukan pengejaran di dalam gelap yang pekat itu.
Yang terdengar kemudian adalah suara Bagus Abangan, “He, apakah yang harus kami lakukan?”
Tak ada suara yang menyahut. Karena itu sekali lagi Bagus Abangan berteriak, “ Kakang Mahesa Branjangan apakah tidak baiknya kita tumpas orang –orang itu. Mereka adalah orang –orang yang liar, yang dapat berbuat sekehendak hatinya masing -masing? Ayo, kakang yang memegang pimpinan, berikan perintah”
Kembali suara itu bergulung-gulung dan hilang ditelan kabut malam. Semua yang mendengar suara Bagus Abangan itu menjadi tegang. Mereka menunggu jawaban dari Mahesa Branjangan. Namun jawaban yang ditunggunya itu tidak juga kunjung datang.
Hingga akhirnya, “ Sudahlah, mereka sudah menghilang dalam kegelapan. Sangat berbahaya untuk terus mengejar mereka. Marilah kita pulang ke Cangkringan untuk membantu kawan –kawan kita merawat para cantrik yang terluka ataupun telah gugur “
Bagus Abangan mendengus kesal. Lantas pemuda itu tanpa berkata apa –apa lagi berjalan meninggalkan tempat itu. Diikuti oleh Mahesa Branjangan dan beberapa cantrik.
Quote:
DI BANJAR PADUKUHAN Cangkringan, Ki Bekel, Jagabaya dan beberapa bebahu kini sudah duduk di muka Arya Gading dan Kuda Merta. Dengan cermat diceritakan apa yang terjadi digaris pertempuran. Dan diceritakan pula tentang beberapa orang yang berhasil meloloskan diri.
Akhirnya Kuda Merta berkata dengan rendah hati, “Sebenarnya kami harus berterima kasih kepadamu dan para pemuda Cangkringan, sebab dengan demikian kami telah kalian bebaskan dari kehancuran mutlak”
Keduanya kemudian berdiam diri. Namun di hati Arya Gading masih belum tenang benar. Karena itu ia bertanya, “Tetapi, dengan demikian, tidakkah ada kemungkinan bahwa orang –orang itu akan datang kembali untuk membalas dendam?”
“Mungkin, sangat mungkin” sahut Kuda Merta.
Sebenarnya ia pun kecewa terhadap hasil yang dicapainya. Namun kemampuan pemuda padesan itu juga sangat terbatas, dan hasil itulah yang sebesar-besanya dapat dicapai. Sesaat ruangan itu menjadi sepi. Hanya sesekali terdengar rintihan kesakitan dari orang –orang yang terluka. Semua orang yang berada banjar desa itu seperti sibuk dengan pikirannya masing –masing. Pada saat itu lah mereka mendengar langkah masuk. Dan sesaat kemudian duduklah diatara mereka Paksi Jalak Kuning dan Bagus Abangan. Wajah Paksi Jalak Kuning menjadi merah dan debu yang melekat di wajah itu belum sempat diusapnya. Bajunya masih baju yang dipakainya bertempur. Basah oleh keringat.
Bagus Abangan tersenyum aneh melihat Arya Gading, “ Rupanya kau datang juga ke tempat ini Gading. Aku kira seorang pimpinan hanya duduk manis melipat tangan di bale – bale sembari menghirup wedang jahe hangat dengan sebakul jenang alot. Ternyata Ki Ageng tidak salah pilih orang. Arya Gading memang seorang yang bisa diandalkan”
Arya Gading hanya mendesah saja. Kuda Merta yang melihat sesuatu yang kurang mapan segera mengalihkan pembicaraan.
“ Paksi Jalak Kuning dan kau Ngger Bagus Abangan. Apakah kalian berdua terluka? “
Paksi Jalak Kuning menjawab, “ Tidak paman, kami berdua sama sekali tidak terluka “
“ Maaf paman Paksi Jalak Kuning, mengapa kakang Mahesa Branjangan tidak nampak sedari tadi? “, kali ini Arya Gading yang bertanya.
Bekel Cangkringan dan para bebahu saling tengok dan saling lirik. Dan kini baru mereka sadari. Bahwa, ternyata Mahesa Branjangan sudah tidak nampak sedari tadi.
“ Ki Jagabaya apakah kau melihat kakang Mahesa Branjangan? Terakhir aku melihatnya pada saat bertempur di jalan dekat dengan perbatasan desa “
“ Betul Ki bekel. Aku juga melihat Ki Branjangan bertempur di belakang ku. Setelah itu aku tidak melihatnya lagi “
Paksi Jalak Kuning berkerut keningnya. Lelaki itu juga baru sadar ternyata Mahesa Branjangan tidak ada di tempat itu. Katanya, “ Aku melihat Mahesa Branjangan setelah pulang dari pengejarannya bersama Bagus Abangan. Hanya saja karena saat itu masih kalut dan sibuk menolong cantrik dan para pemuda yang terluka. Aku pun tidak begitu memperhatikannya lagi”
Kuda Merta, Bagus Abangan dan beberapa orang lagi yang baru sampai di Cangkringan menjadi gelisah. Dalam ketegangan itu terdengar suara Arya Gading mendesah gelisah, “Kakang Mahesa Branjangan, kakang Mahesa Branjangan”
Karena itu seluruh cantrik dan para pemuda Cangkringan pun menjadi gelisah. Dalam hiruk pikuk pengejaran mereka sempat melihat Mahesa Branjangan pergi. Beberapa orang dari mereka masih melihat Mahesa Branjangan berhasil melukai beberapa orang. Dan kemudian berusaha mengejarnya. Pada saat kembali dari pengejaran pun mereka masih melihat Mahesa Branjangan. Namun, selang beberapa saat kemudian Mahesa Branjangan seakan-akan menjadi hilang lenyap ditelan oleh malam yang kelam.
Akhirnya Kuda Merta berkata dengan rendah hati, “Sebenarnya kami harus berterima kasih kepadamu dan para pemuda Cangkringan, sebab dengan demikian kami telah kalian bebaskan dari kehancuran mutlak”
Keduanya kemudian berdiam diri. Namun di hati Arya Gading masih belum tenang benar. Karena itu ia bertanya, “Tetapi, dengan demikian, tidakkah ada kemungkinan bahwa orang –orang itu akan datang kembali untuk membalas dendam?”
“Mungkin, sangat mungkin” sahut Kuda Merta.
Sebenarnya ia pun kecewa terhadap hasil yang dicapainya. Namun kemampuan pemuda padesan itu juga sangat terbatas, dan hasil itulah yang sebesar-besanya dapat dicapai. Sesaat ruangan itu menjadi sepi. Hanya sesekali terdengar rintihan kesakitan dari orang –orang yang terluka. Semua orang yang berada banjar desa itu seperti sibuk dengan pikirannya masing –masing. Pada saat itu lah mereka mendengar langkah masuk. Dan sesaat kemudian duduklah diatara mereka Paksi Jalak Kuning dan Bagus Abangan. Wajah Paksi Jalak Kuning menjadi merah dan debu yang melekat di wajah itu belum sempat diusapnya. Bajunya masih baju yang dipakainya bertempur. Basah oleh keringat.
Bagus Abangan tersenyum aneh melihat Arya Gading, “ Rupanya kau datang juga ke tempat ini Gading. Aku kira seorang pimpinan hanya duduk manis melipat tangan di bale – bale sembari menghirup wedang jahe hangat dengan sebakul jenang alot. Ternyata Ki Ageng tidak salah pilih orang. Arya Gading memang seorang yang bisa diandalkan”
Arya Gading hanya mendesah saja. Kuda Merta yang melihat sesuatu yang kurang mapan segera mengalihkan pembicaraan.
“ Paksi Jalak Kuning dan kau Ngger Bagus Abangan. Apakah kalian berdua terluka? “
Paksi Jalak Kuning menjawab, “ Tidak paman, kami berdua sama sekali tidak terluka “
“ Maaf paman Paksi Jalak Kuning, mengapa kakang Mahesa Branjangan tidak nampak sedari tadi? “, kali ini Arya Gading yang bertanya.
Bekel Cangkringan dan para bebahu saling tengok dan saling lirik. Dan kini baru mereka sadari. Bahwa, ternyata Mahesa Branjangan sudah tidak nampak sedari tadi.
“ Ki Jagabaya apakah kau melihat kakang Mahesa Branjangan? Terakhir aku melihatnya pada saat bertempur di jalan dekat dengan perbatasan desa “
“ Betul Ki bekel. Aku juga melihat Ki Branjangan bertempur di belakang ku. Setelah itu aku tidak melihatnya lagi “
Paksi Jalak Kuning berkerut keningnya. Lelaki itu juga baru sadar ternyata Mahesa Branjangan tidak ada di tempat itu. Katanya, “ Aku melihat Mahesa Branjangan setelah pulang dari pengejarannya bersama Bagus Abangan. Hanya saja karena saat itu masih kalut dan sibuk menolong cantrik dan para pemuda yang terluka. Aku pun tidak begitu memperhatikannya lagi”
Kuda Merta, Bagus Abangan dan beberapa orang lagi yang baru sampai di Cangkringan menjadi gelisah. Dalam ketegangan itu terdengar suara Arya Gading mendesah gelisah, “Kakang Mahesa Branjangan, kakang Mahesa Branjangan”
Karena itu seluruh cantrik dan para pemuda Cangkringan pun menjadi gelisah. Dalam hiruk pikuk pengejaran mereka sempat melihat Mahesa Branjangan pergi. Beberapa orang dari mereka masih melihat Mahesa Branjangan berhasil melukai beberapa orang. Dan kemudian berusaha mengejarnya. Pada saat kembali dari pengejaran pun mereka masih melihat Mahesa Branjangan. Namun, selang beberapa saat kemudian Mahesa Branjangan seakan-akan menjadi hilang lenyap ditelan oleh malam yang kelam.
Quote:
SUASANA SEGERA meningkat menjadi semakin tegang. Ternyata Mahesa Branjangan telah hilang. Dengan demikian, maka para cantrik Pasanggaran benar-benar menjadi bingung. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.
Dalam ketegangan itu terdengar suara Paksi Jalak Kuning, “Siapakah yang melihat Mahesa Branjangan untuk yang terakhir kalinya?”
“Aku” jawab salah seorang, “Kakang Mahesa Branjangan tadi bertempur dengan beberapa orang. Tetapi putra Ki Ageng itu berhasil melumpuhkan pengeroyoknya. Setelah itu aku melihatnya melihatnya mengejar orang –orang yang melarikan diri dengan beberapa cantrik dan pemuda Cangkringan”
“Dimana?” bertanya Paksi Jalak Kuning pula.
“Digaris pertempuran tadi”
“Mari kita cari”
Arya Gading sontak melompat dari tempat duduknya diikuti beberapa orang segera bergerak kembali ke luar banjar menuju ke garis pertempuran beberapa langkah di belakang mereka. Tetapi terdengar Bagus Abangan berkata, “Kenapa kita cari ia di sana. Bukankah ia telah berhasil melukai beberapa orang dan mengejarnya. Marilah kita cari ke depan, kedalam desa ini”
Paksi Jalak Kuning berpikir sejenak. Mahesa Branjangan pasti tidak akan berbuat demikian. Berbuat sendiri dan meninggalkan para cantrik dalam keragu-raguan. Pemimpin yang bodoh pun akan tahu, bahwa keragu-raguan dalam barisannya adalah sangat berbahaya.
Maka sesaat kemudian ia menyahut, “Kita cari digaris pertempuran”
“Tidak” sahut Bagus Abangan, “Jangan membuang waktu”
Ketegangan menjadi semakin memuncak karenanya. Masing-masing agaknya mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Bagus Abangan pun kemudian sudah bergerak diikuti oleh beberapa orang yang kebingungan, siap memasuki padesan di hadapannya.
Tetapi terdengar Paksi Jalak Kuning berteriak, “Jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan diri kita sendiri, dalam usaha yang sia-sia. Kalau kita pasti Mahesa Branjangan ada di depan kita, maka biarlah kita pertaruhkan nyawa kita untuk mencarinya. Tetapi kemungkinan itu tipis sekali”
“Kau jangan menghinanya” sahut Bagus Abangan keras-keras. “Apakah kau sangka Mahesa Branjangan terluka? Mahesa Branjangan adalah seorang yang luar biasa sakti. Aku sendiri pernah berkelahi melawannya. Karena itu, maka tak akan ia terluka dan terbaring di antara orang-orang yang luka. Aku hormati dia aku kagumi dia sebagai kakang seperguruan ku”
Kata-kata itu masuk akal pula. Karena itu beberapa orang menjadi mempercayai perhitungan itu. Tetapi Paksi Jalak Kuning tetap pada pendiriannya. Seandainya Mahesa Branjangan telah terlanjur memasuki desa itu, maka pasti ia akan segera kembali dan memberikan aba-aba kepada mereka yang mengikutinya.
Dalam ketegangan yang dipenuhi oleh keragu-raguan itu tiba-tiba terdengar kembali Bagus Abangan berkata, “Taati perintahku. Aku mengambil alih pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik di antara kalian”
“Tidak!” Paksi Jalak Kuning tiba-tiba berteriak tak kalah kerasnya, “Aku ambil alih pimpinan. Aku adalah orang yang memiliki kedudukan tertua di antara kalian. Karena aku merupakan salah satu sesepuh di Pasanggaran”
“Persetan dengan tata cara itu. Sekarang aku mengkat diri menjadi pemimpin kalian. Apa maumu? Apakah aku harus membunuhmu?”
“Jangan berlagak jantan sendiri Bagus Abangan. Aku tahu kau memiliki beberapa kelebihan dari kami. Dan aku masih memandang kepada paman Paraji Gading. Tetapi kami bukan kelinci-kelinci yang patuh karena kami kau takut-takuti. Dengan meninggalkan tata cara yang ditetapkan oleh peraturan di Pasanggaran “
“Gila” teriak Bagus Abangan, “Ayo, siapakah yang menentang Bagus Abangan, majulah”
Paksi Jalak Kuning bukan seorang penakut. Betapapun ia menyadari kedidayaan Bagus Abangan, tetapi ia adalah seorang pendekar yang tidak dapat dianggap remeh. Karena itu, maka ia tidak gentar menghadapi apapun. Tetapi sayang, bahwa Paksi Jalak Kuning pun telah terbakar oleh perasaannya, sehingga ia lupa pada pokok persoalannya. Hilangnya Mahesa Branjangan. Lelaki itu segera meraba hulu keris yang terselip di pinggangnya.
Tetapi dalam pada itu terdengar suara Arya Gading memecah ketegangan dan kepekatan malam. Katanya, “Persetan dengan siapa pimpinan para cantrik disini. Bertempurlah di antara kalian. Aku akan mencari kakang Mahesa Branjangan. Dan siapakah di antara kalian yang masih merasa bahwa kakang Mahesa Branjangan adalah kakang seperguruan kita. Maka, ikutlah aku. Yang merasa diri kalian seorang cantrik - cantrik yang baik, tunggulah sampai salah seorang berhasil membunuh orang-orang lain, dan mengangkat dirinya menjadi pemimpin wakil Pasanggaran di tempat ini ”
Kata-kata Arya Gadingitu seakan-akan merupakan suatu pemecahan yang dapat mereka lakukan. tiba-tiba salah seorang dari mereka, seorang penghubung berlari ke arah padesan di belakang mereka. Di sanalah kudanya ditambatkan.
“He, kemana kau?” teriak Bagus Abangan yang menjadi marah.
“Aku akan mencari kakang Mahesa Branjangan”
Bagus Abangan tidak mencegahnya. Sikap itu agaknya telah mendapat dukungan dari setiap cantrik dan beberapa pemuda Cangkringan.
Sedang Arya Gading kemudian tidak memperdulikan apa-apa lagi. Paksi Jalak Kuning, Doran dan sebagian besar dari mereka kemudian berjalan mengikuti Arya Gading. Mereka berjalan sambil memperhatikan keadaan di sekeliling mereka. Dengan beberapa buah obor di tangan mereka mencoba mengamati setiap tubuh yang terbaring. Dengan demikian maka sekaligus mereka dapat menemukan beberapa orang yang terluka, namun jika dilihat dari wajah dan baju yang dikenakan orang yang terluka itu merupakan salah satu dari anak buah Macan Ireng.
“Rawat mereka” berkata Arya Gading. Ia tidak tahu lagi apakah ia berhak berkata demikian atau tidak. Namun menurut pendapatnya, semua orang berkepentingan dalam masalah kemanusiaan. Berhak atau tidak berhak.
Dalam ketegangan itu terdengar suara Paksi Jalak Kuning, “Siapakah yang melihat Mahesa Branjangan untuk yang terakhir kalinya?”
“Aku” jawab salah seorang, “Kakang Mahesa Branjangan tadi bertempur dengan beberapa orang. Tetapi putra Ki Ageng itu berhasil melumpuhkan pengeroyoknya. Setelah itu aku melihatnya melihatnya mengejar orang –orang yang melarikan diri dengan beberapa cantrik dan pemuda Cangkringan”
“Dimana?” bertanya Paksi Jalak Kuning pula.
“Digaris pertempuran tadi”
“Mari kita cari”
Arya Gading sontak melompat dari tempat duduknya diikuti beberapa orang segera bergerak kembali ke luar banjar menuju ke garis pertempuran beberapa langkah di belakang mereka. Tetapi terdengar Bagus Abangan berkata, “Kenapa kita cari ia di sana. Bukankah ia telah berhasil melukai beberapa orang dan mengejarnya. Marilah kita cari ke depan, kedalam desa ini”
Paksi Jalak Kuning berpikir sejenak. Mahesa Branjangan pasti tidak akan berbuat demikian. Berbuat sendiri dan meninggalkan para cantrik dalam keragu-raguan. Pemimpin yang bodoh pun akan tahu, bahwa keragu-raguan dalam barisannya adalah sangat berbahaya.
Maka sesaat kemudian ia menyahut, “Kita cari digaris pertempuran”
“Tidak” sahut Bagus Abangan, “Jangan membuang waktu”
Ketegangan menjadi semakin memuncak karenanya. Masing-masing agaknya mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Bagus Abangan pun kemudian sudah bergerak diikuti oleh beberapa orang yang kebingungan, siap memasuki padesan di hadapannya.
Tetapi terdengar Paksi Jalak Kuning berteriak, “Jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan diri kita sendiri, dalam usaha yang sia-sia. Kalau kita pasti Mahesa Branjangan ada di depan kita, maka biarlah kita pertaruhkan nyawa kita untuk mencarinya. Tetapi kemungkinan itu tipis sekali”
“Kau jangan menghinanya” sahut Bagus Abangan keras-keras. “Apakah kau sangka Mahesa Branjangan terluka? Mahesa Branjangan adalah seorang yang luar biasa sakti. Aku sendiri pernah berkelahi melawannya. Karena itu, maka tak akan ia terluka dan terbaring di antara orang-orang yang luka. Aku hormati dia aku kagumi dia sebagai kakang seperguruan ku”
Kata-kata itu masuk akal pula. Karena itu beberapa orang menjadi mempercayai perhitungan itu. Tetapi Paksi Jalak Kuning tetap pada pendiriannya. Seandainya Mahesa Branjangan telah terlanjur memasuki desa itu, maka pasti ia akan segera kembali dan memberikan aba-aba kepada mereka yang mengikutinya.
Dalam ketegangan yang dipenuhi oleh keragu-raguan itu tiba-tiba terdengar kembali Bagus Abangan berkata, “Taati perintahku. Aku mengambil alih pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik di antara kalian”
“Tidak!” Paksi Jalak Kuning tiba-tiba berteriak tak kalah kerasnya, “Aku ambil alih pimpinan. Aku adalah orang yang memiliki kedudukan tertua di antara kalian. Karena aku merupakan salah satu sesepuh di Pasanggaran”
“Persetan dengan tata cara itu. Sekarang aku mengkat diri menjadi pemimpin kalian. Apa maumu? Apakah aku harus membunuhmu?”
“Jangan berlagak jantan sendiri Bagus Abangan. Aku tahu kau memiliki beberapa kelebihan dari kami. Dan aku masih memandang kepada paman Paraji Gading. Tetapi kami bukan kelinci-kelinci yang patuh karena kami kau takut-takuti. Dengan meninggalkan tata cara yang ditetapkan oleh peraturan di Pasanggaran “
“Gila” teriak Bagus Abangan, “Ayo, siapakah yang menentang Bagus Abangan, majulah”
Paksi Jalak Kuning bukan seorang penakut. Betapapun ia menyadari kedidayaan Bagus Abangan, tetapi ia adalah seorang pendekar yang tidak dapat dianggap remeh. Karena itu, maka ia tidak gentar menghadapi apapun. Tetapi sayang, bahwa Paksi Jalak Kuning pun telah terbakar oleh perasaannya, sehingga ia lupa pada pokok persoalannya. Hilangnya Mahesa Branjangan. Lelaki itu segera meraba hulu keris yang terselip di pinggangnya.
Tetapi dalam pada itu terdengar suara Arya Gading memecah ketegangan dan kepekatan malam. Katanya, “Persetan dengan siapa pimpinan para cantrik disini. Bertempurlah di antara kalian. Aku akan mencari kakang Mahesa Branjangan. Dan siapakah di antara kalian yang masih merasa bahwa kakang Mahesa Branjangan adalah kakang seperguruan kita. Maka, ikutlah aku. Yang merasa diri kalian seorang cantrik - cantrik yang baik, tunggulah sampai salah seorang berhasil membunuh orang-orang lain, dan mengangkat dirinya menjadi pemimpin wakil Pasanggaran di tempat ini ”
Kata-kata Arya Gadingitu seakan-akan merupakan suatu pemecahan yang dapat mereka lakukan. tiba-tiba salah seorang dari mereka, seorang penghubung berlari ke arah padesan di belakang mereka. Di sanalah kudanya ditambatkan.
“He, kemana kau?” teriak Bagus Abangan yang menjadi marah.
“Aku akan mencari kakang Mahesa Branjangan”
Bagus Abangan tidak mencegahnya. Sikap itu agaknya telah mendapat dukungan dari setiap cantrik dan beberapa pemuda Cangkringan.
Sedang Arya Gading kemudian tidak memperdulikan apa-apa lagi. Paksi Jalak Kuning, Doran dan sebagian besar dari mereka kemudian berjalan mengikuti Arya Gading. Mereka berjalan sambil memperhatikan keadaan di sekeliling mereka. Dengan beberapa buah obor di tangan mereka mencoba mengamati setiap tubuh yang terbaring. Dengan demikian maka sekaligus mereka dapat menemukan beberapa orang yang terluka, namun jika dilihat dari wajah dan baju yang dikenakan orang yang terluka itu merupakan salah satu dari anak buah Macan Ireng.
“Rawat mereka” berkata Arya Gading. Ia tidak tahu lagi apakah ia berhak berkata demikian atau tidak. Namun menurut pendapatnya, semua orang berkepentingan dalam masalah kemanusiaan. Berhak atau tidak berhak.
Quote:
DALAM KESIBUKAN ITU, maka mereka mendengar derap beberapa ekor kuda yang datang dari padepokan Pasanggaran. Ketika mereka mengangkat wajah-wajah mereka, maka mereka melihat kedatangan Anjam Kayuwangi beserta beberapa orang cantrik.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” bertanya Anjam Kayuwangi masih dari atas kudanya.
“Kami mencari kakang Mahesa Branjangan” sahut Arya Gading.
Anjam Kayuwangi mengerutkan keningnya. Sukar dimengerti olehnya bahwa Mahesa Branjangan terluka, dan terbaring di antara mereka yang jatuh di dalam pertempuran itu.
“Apakah menurut perhitunganmu, hal itu mungkin terjadi Gading?” bertanya Anjam Kayuwangi.
Sebelum Arya Gading menjawab, terdengar suara Bagus Abangan lantang, “Aku sudah mengatakan kepada mereka, bahwa Mahesa Branjangan tidak mungkin terluka. Beberapa orang melihat bahwa Mahesa Branjangan yang melukai para pengacau itu bukan Mahesa Branjangan yang dilukai. Aku melihatnya masih segar bugar manakala mengejar para pengacau itu karena aku pun ada bersamanya saat itu. Namun setelahnya aku tidak melihatnya lagi”
Anjam Kayuwangi mengangkat alisnya. Dipandangnya Arya Gading yang masih termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Kalau kakang Mahesa Branjangan tidak terluka, maka ia pasti sudah kembali. Apakah menurut dugaan paman, kakang Mahesa Branjangan tidak terluka tetapi justru tertangkap oleh orang –orang itu?”
“Tidak mungkin” sahut Anjam Kayuwangi serta-merta.
“Nah kalau begitu kemana? Terluka tidak, tertangkap tidak. Apakah kakang Mahesa Branjangan mengejar musuh itu seorang diri tanpa memberikan perintah kepada kami di sini?”
Anjam Kayuwangi menggeleng-gelengkan kepala. Jawabnya, “Juga tidak”
“Lalu bagaimana?” bertanya Arya Gading yang menjadi sangat gelisah karena kehilangan kakak seperguruannya yang dianggap sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Semula, ketika ia masih digenggam oleh perasaan takut setiap saat karena bayang - bayang kematian pamannya yang telah merenggut semua keberaniannya, maka Mahesa Branjangan adalah satu-satunya tempat untuk melindungkan dirinya. Namun kini, meskipun ia merasa bahwa akhirnya dirinya sendirilah yang paling baik untuk menyelamatkan dirinya itu, maka yang tinggal adalah suatu ikatan kasih sayang seorang adik terhadap seorang kakak yang meskipun bukan kakak kandungnya sendiri. Seorang kakak yang telah banyak berkorban untuknya. Dan karena itu maka terasa di dalam dirinya suatu kewajiban untuk berbuat sesuatu untuk kepentingan kakaknya itu. Apa pun yang akan dihadapinya.
Anjam Kayuwangi itu pun kemudian meloncat pula dari kudanya. Setelah ia melayangkan pandangan matanya sejenak berkeliling bekas medan peperangan itu, ia bergumam, “Aku sependapat dengan kau Gading” Kemudian kepada seluruh orang –orang yang berada di tempat itu Anjam Kayuwangi itu mengeluarkan perintah, “Semua mencari di antara orang-orang yang terluka”
Beberapa orang kemudian tersebar di sepanjang garis pertempuran. Mereka berusaha untuk melihat satu persatu dibawah cahaya obor yang suram. Hanya Bagus Abangan sajalah yang berjalan mondar-mandir dengan malasnya. Bahkan terdengar ia bergumam, “Tak ada gunanya”
Arya Gading sama sekali tidak memperhatikannya. Dengan tekun ia mencari Mahesa Branjangan bersama-sama dengan Paksi Jalak Kuning dan Doran. Sedangkan Anjam Kayuwangi sendiri bersama dengan beberapa orang lain pun telah ikut mencari pula di antara mereka.
Tiba-tiba dalam kesepian malam itu terdengar seseorang berteriak lantang sambil melambai-lambaikan obornya, “Inilah. Inilah yang kita cari”
Arya Gading benar-benar terkejut mendengar teriakan itu. Seperti kuda yang terlepas dari ikatan, ia meloncat hampir melanggar beberapa orang lain yang berdiri di sampingnya. Diloncatinya saja setiap tubuh yang terbaring di tanah. Bahkan beberapa kali kakinya telah terperosok kedalam lubang-lubang di pematang. Demikian pula dengan beberapa orang yang lain. Anjam Kayuwangi pun terkejut bukan main. Seperti Arya Gading segera ia meloncat berlari ke arah suara itu.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” bertanya Anjam Kayuwangi masih dari atas kudanya.
“Kami mencari kakang Mahesa Branjangan” sahut Arya Gading.
Anjam Kayuwangi mengerutkan keningnya. Sukar dimengerti olehnya bahwa Mahesa Branjangan terluka, dan terbaring di antara mereka yang jatuh di dalam pertempuran itu.
“Apakah menurut perhitunganmu, hal itu mungkin terjadi Gading?” bertanya Anjam Kayuwangi.
Sebelum Arya Gading menjawab, terdengar suara Bagus Abangan lantang, “Aku sudah mengatakan kepada mereka, bahwa Mahesa Branjangan tidak mungkin terluka. Beberapa orang melihat bahwa Mahesa Branjangan yang melukai para pengacau itu bukan Mahesa Branjangan yang dilukai. Aku melihatnya masih segar bugar manakala mengejar para pengacau itu karena aku pun ada bersamanya saat itu. Namun setelahnya aku tidak melihatnya lagi”
Anjam Kayuwangi mengangkat alisnya. Dipandangnya Arya Gading yang masih termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Kalau kakang Mahesa Branjangan tidak terluka, maka ia pasti sudah kembali. Apakah menurut dugaan paman, kakang Mahesa Branjangan tidak terluka tetapi justru tertangkap oleh orang –orang itu?”
“Tidak mungkin” sahut Anjam Kayuwangi serta-merta.
“Nah kalau begitu kemana? Terluka tidak, tertangkap tidak. Apakah kakang Mahesa Branjangan mengejar musuh itu seorang diri tanpa memberikan perintah kepada kami di sini?”
Anjam Kayuwangi menggeleng-gelengkan kepala. Jawabnya, “Juga tidak”
“Lalu bagaimana?” bertanya Arya Gading yang menjadi sangat gelisah karena kehilangan kakak seperguruannya yang dianggap sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Semula, ketika ia masih digenggam oleh perasaan takut setiap saat karena bayang - bayang kematian pamannya yang telah merenggut semua keberaniannya, maka Mahesa Branjangan adalah satu-satunya tempat untuk melindungkan dirinya. Namun kini, meskipun ia merasa bahwa akhirnya dirinya sendirilah yang paling baik untuk menyelamatkan dirinya itu, maka yang tinggal adalah suatu ikatan kasih sayang seorang adik terhadap seorang kakak yang meskipun bukan kakak kandungnya sendiri. Seorang kakak yang telah banyak berkorban untuknya. Dan karena itu maka terasa di dalam dirinya suatu kewajiban untuk berbuat sesuatu untuk kepentingan kakaknya itu. Apa pun yang akan dihadapinya.
Anjam Kayuwangi itu pun kemudian meloncat pula dari kudanya. Setelah ia melayangkan pandangan matanya sejenak berkeliling bekas medan peperangan itu, ia bergumam, “Aku sependapat dengan kau Gading” Kemudian kepada seluruh orang –orang yang berada di tempat itu Anjam Kayuwangi itu mengeluarkan perintah, “Semua mencari di antara orang-orang yang terluka”
Beberapa orang kemudian tersebar di sepanjang garis pertempuran. Mereka berusaha untuk melihat satu persatu dibawah cahaya obor yang suram. Hanya Bagus Abangan sajalah yang berjalan mondar-mandir dengan malasnya. Bahkan terdengar ia bergumam, “Tak ada gunanya”
Arya Gading sama sekali tidak memperhatikannya. Dengan tekun ia mencari Mahesa Branjangan bersama-sama dengan Paksi Jalak Kuning dan Doran. Sedangkan Anjam Kayuwangi sendiri bersama dengan beberapa orang lain pun telah ikut mencari pula di antara mereka.
Tiba-tiba dalam kesepian malam itu terdengar seseorang berteriak lantang sambil melambai-lambaikan obornya, “Inilah. Inilah yang kita cari”
Arya Gading benar-benar terkejut mendengar teriakan itu. Seperti kuda yang terlepas dari ikatan, ia meloncat hampir melanggar beberapa orang lain yang berdiri di sampingnya. Diloncatinya saja setiap tubuh yang terbaring di tanah. Bahkan beberapa kali kakinya telah terperosok kedalam lubang-lubang di pematang. Demikian pula dengan beberapa orang yang lain. Anjam Kayuwangi pun terkejut bukan main. Seperti Arya Gading segera ia meloncat berlari ke arah suara itu.
Diubah oleh breaking182 08-08-2022 01:22
ashrose dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas