- Beranda
- Stories from the Heart
Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]
...
TS
harrywjyy
Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]
![Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]](https://s.kaskus.id/images/2022/07/31/10600510_202207310531050465.jpg)
Sumber gambar: freepik
Salam kenal, semuanya. Aku mau mulai cerita bersambung yang lumayan panjang. Semoga lancar ya.
Cerita kali ini mengenai sepasang suami-istri yang menempati sebuah rumah baru. Sejak saat itu gangguan dari makhluk halus datang dan mengincar bayi dalam kandungan istrinya.
Langsung saja kita ke ceritanya!

Prolog:
Sore itu menjelang magrib. Adik melakukan sepeda motornya di jalanan desa. Di belakangnya ia membonceng sangat istri yang tengah mengandung anak pertama mereka. Keduanya baru pulang dari rumah sakit setelah melakukan kontrol kandungan bersama bidan.
Setelah melewati area persawahan, mereka berdua pun sampai di dekat rumah. Adi mengurangi kecepatan motornya lalu berhenti tepat di depan rumah. Sebuah rumah tua yang baru mereka beli sekitar satu bulan yang lalu. Rumah ini sangat nyaman ditempati. Apalagi di samping rumah berdiri sebuah pohon beringin besar yang rindang membuat udara sekitar menjadi sejuk.
"Mas, aku masuk duluan ya!" ucap Lia istri Adi yang sedang mengandung.
"Iya silahkan, aku di luar dulu mau cek mesin motor. Kamu istirahat ya," jawab Adi.
"Iya, Mas."
Lia pun berjalan masuk ke rumahnya sambil mengelus perut buncitnya. Hari mulai gelap, cahaya matahari mulai memudar di langit sana. Alunan doa dan sholawat sudah terdengar dari masjid terdekat. Menandakan segera datangnya waktu sholat magrib.
Lia berjalan masuk ke kamarnya, kemudian membuka pintu. Ia merasa heran sebab jendela kamar yang menghadap ke pohon beringin terbuka. Segera ia mendekat untuk menutupnya kembali.
"Ini siapa yang buka? Perasaan udah dikunci."
Saat hendak menutup pintu, tiba-tiba sebuah angin kencang masuk dan meniup badan Lia. Rambutnya terbang dan suatu aura negatif masuk.
"AAAAAA!!!" Lia berteriak sekuat tenaga.
Adi yang mendengar suara istrinya langsung berlari masuk ke rumah dengan wajah panik. Segera ia menuju ke kamar sumber suara. Di kamarnya, ia melihat sang istri terkulai lemas tak berdaya di lantai. Adi segera mendekatinya.
"Lia, kamu kenapa? Lia!" ucap Adi yang panik.
Adi kaget bukan main. Saat ia memegang perut istrinya, perut sang istri yang semula buncit tiba-tiba kempes. Bayi yang ada di dalam kandungannya menghilang entah ke mana. Awalnya ia tak percaya, tapi setelah beberapa kali mengecek. Ternyata benar, bayinya dalam kandungan istrinya hilang!
"Lia!!!"
Adi semakin histeris saat menyadari bahwa istrinya sudah tidak bernapas lagi.
Bersambung....
Untuk part-part selanjutnya, akan saya posting di INDEX di bawah ini.
⬇⬇⬇
Part 1 - Rumah Baru
Part 2 - Kakek Tua Yang Aneh
Part 3 - Barang Pemberian
Part 4 - Bersama Ranti
Part 5 - Sesuatu Di Balik Sesuatu
Part 6 - Penunggu Pohon Beringin
Part 7 - Anak Pertama
Part 8 - Kunjungan
Part 9 - Suara Tangis
Part 10 - Sikap Aneh
Part 11 - Hilang
Part 12 - Kendali Setan
Part 13 - Kebaya Putih
Part 14 - Ancaman Dalam Diam
Part 15 - Pasutri Licik
Part 16 - Masa Lalu Ranti
Part 17 - Rahasia
Part 18 - Skakmat
Part 19 - Ratu Kuntilanak
Part 20 - Kisah Sang Ratu
Part 21 - Kabur
Part 22 - Pengejaran
Part 23 - Ki Dana
Part 24 - Dendam
Part 25 - Penyelidikan
Part 26 - Kepala Desa Baru
Part 27 - Bangkitnya Sang Ratu Kuntilanak
Part 28 - Balas Dendam
Jangan Lupa Mampir ke Cerita Ane yang baru gan berjudul: Pocong Keliling
Bercerita tentang hantu pocong yang meneror seluruh warga desa setiap malam, ikuti keseruannya!

Klik link di bawah ini untuk membaca Pocong Keliling!
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...2f0762992c9cb4
Terima kasih bagi yang sudah membaca!
Tunggu update dari ane gan! Mohon maaf bila ada kesalahan.


Diubah oleh harrywjyy 18-09-2022 20:40
sampeuk dan 15 lainnya memberi reputasi
16
15.9K
109
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
harrywjyy
#8
Part 3 - Barang Pemberian
Petang itu, langit perlahan pudar. Cahaya mentari mulai hilang menyisakan gelap. Angin bertiup dengan sejuk, menerbangkan daun-daun dari pohon beringin besar di samping rumah. Berserakan di tanah sekitar pohon.
Sebelum azan magrib berkumandang, Abbas sudah sampai di rumah. Suara motornya terdengar hingga ke dalam, membuat sang istri berjalan ke luar dan menyambut kepulangan suaminya. Abbas turun dari motor dan buru-buru masuk ke dalam rumah, senyuman merekah di wajahnya kala melihat sang istri menunggunya di ambang pintu sambil mengelus perut buncitnya.
"Gimana hari ini?" tanya Abbas.
"Baik-baik aja sih, cuma ada sedikit masalah," jawab Nina dengan wajah sedikit lesu.
"Kenapa-kenapa? Cerita dong." Abbas duduk di kursi sambil melepas sepatu dan kaos kakinya. Pelan-pelan Nina lalu ikut duduk di kursi kosong samping suaminya.
"Ada orang aneh yang liatin aku terus, aku takut deh," kata Nina. "Katanya warga dia orang gangguan jiwa, gimana ya? Aku jadi takut sendirian di sini," lanjutnya.
Abbas sedikit berpikir, matanya menatap ke atas sambil terdiam. "Emang dia ngapain?" tanya Abbas.
"Tadi pagi dia hampir masuk ke sini lho! Aku takut banget!" ucapnya.
Abbas mengangguk sambil menatap ke depan. "Yaudah, besok kan kita mau jalan-jalan. Sekalian kita mampir dan lapor ke Pak Kades ya. Semoga dia punya solusi, kamu tenang aja," ucap Abbas sambil menenangkan dan mengelus kepala istrinya.
Sang istri lalu mengalihkan topik. Wajah lesunya kini berganti dengan senyuman. "Sekarang, coba cerita soal hari pertama di sekolah!" ujar Nina penasaran.
"Yuk, di dalem aja. Sholat dulu," ajak Abbas yang kemudian berdiri.
Nina memegang tangan sang suami dengan wajah manja. Keduanya berjalan masuk ke dalam dan menutup pintu. Sementara di luar, suara azan magrib pun berkumandang. Para warga mulai masuk ke dalam masing-masing rumahnya. Beberapa berjalan mendatangi masjid setempat untuk menunaikan ibadah salat magrib.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah berjam-jam berlalu. Abbas memasak makanan sederhana untuk sang istri. Di meja makan, keduanya mengobrol hingga lupa waktu. Perutnya yang kenyang serta badannya yang letih membuat mata Abbas kian meredup. Sekitar pukul sembilan malam ia sudah mengantuk. Keduanya lalu masuk ke kamar untuk beristirahat.
***
Pukul 23.30
Nina terbangun dari tidurnya. Entah bagaimana, matanya tiba-tiba terbuka. Ia menoleh ke belakang, mendapati sang suami yang tertidur dengan pulas. Tampak ekspresi lelah di wajah pria itu. Nina tersenyum, tangannya dengan lembut mengelus pipi sang suami. Sedangkan tangan satunya mengelus perutnya. Merasakan sang anak yang akan segera lahir ke dunia.
Namun, tiba-tiba dirinya merasa haus. Nina ingin membangunkan sang suami, tapi tak tega rasanya. Mau tak mau, ia bangkit dari kasur. Badannya terasa berat saat turun dari kasur. Sambil memegangi perutnya, ia berdiri lalu berjalan ke arah pintu.
Karena lampu ruang tengah dan ruang tamu dimatikan, suasana pun gelap gulita. Hanya lampu dapur dan kamar mandi yang menyala. Nina berjalan perlahan ke dapur sambil mengucek matanya yang sedikit berair karena menguap.
Sayang kulkas miliknya masih belum bisa menyala. Jadi ia mendekat ke sebuah termos untuk mengambil air. Satu gelas keramik ia isi penuh dengan air, lalu sambil bersandar di meja ia meminum air itu untuk melegakan dahaganya.
Suuurrrrrtt
Terdengar suara dari kamar mandi, Nina agak kaget. Ia melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara itu seperti suara keran yang menyala. Air keran itu mengucur ke bak mandi. Padahal tidak ada orang di sana. Ia itu lalu menaruh gelas dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengeceknya sendiri.
"Apa Abbas lupa matiin keran ya?" pikirnya dalam hati yang penuh tanda tanya.
Nina membuka pintu kamar mandi dengan perlahan, lalu kepalanya masuk untuk melihat ke dalam. Suara keran itu mendadak menghilang saat ia datang. Dan keran itu pun dalam keadaan tertutup, sehingga tak mungkin air bisa mengucur dari sana. Aneh. Dari mana suara kucuran air itu?
Nina kembali menutup pintu kamar mandi.Setelah suara keran itu menghilang, suasana rumah kembali hening dan sepi. Ia merapikan kembali gelasnya. Dirinya sudah kembali mengantuk. Nina lalu meregangkan tubuhnya sesaat sambil menghirup napas panjang.
Anehnya saat menghirup napas panjang, dirinya mencium wangi yang asing. Wangi bunga melati tiba-tiba tercium di dapurnya. Nina mengendus asal wangi tersebut, tapi tak bisa ia temukan asalnya. Wangi melati itu terus memenuhi seisi rumahnya, ke ruang tamu hingga ke kamar.
"Ini wangi dari mana lagi?" gumamnya.
Lagi-lagi, Nina yang sudah sangat mengantuk memilih untuk mengabaikan wangi itu. Dirinya buru-buru masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tidurnya. "Kita bobo lagi ya, Sayang," gumam Nina sambil mengelus si jabang bayi yang ada dalam perutnya. Ia masuk dan menutup pintu.
Tanpa ia sadari, tampak sesosok perempuan berambut panjang acak-acakan dengan memakai gaun putih yang panjang sedang duduk di atas kulkasnya. Sambil mengayun-ayunkan kakinya, sosok itu sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Nina dengan pupil matanya yang kecil.
***
Keesokan paginya menjadi hari yang cerah bagi Abbas. Dengan memakai celana bahan sutra yang halus, ia mengikat sepatun ya di depan rumah. Sementara sang istri sudah siap menunggunya di samping pohon beringin. Keduanya telah sepakat untuk jalan-jalan keliling desa untuk mengenal lingkungan dan warganya. Abbas memanfaatkan momen ini untuk sekaligus berolahraga.
Nina memakai baju dan celana yang longgar. Di kepalanya terpasang sebuah topi yang melindunginya dari silau matahari. Setelah sepatu terpasang, Abbas berdiri dan mulai berjalan kaki mendekati sang istri.
"Yuk," ajaknya untuk memulai perjalanan.
Pemandangan sawah yang membentang luas menyambut mata mereka. Hamparan padi hijau tampak di sana sini, di sekitarnya rumah-rumah warga berdiri. Hutan bambu terlihat dari kejauhan. Menambah aura hijau desa yang sejuk dan menyegarkan.
Mereka mengambil jalan desa yang cukup luas, namun sedikit rusak di beberapa bagian. Mereka juga sempat bertemu dengan para petani dan saling bertukar sapa, lalu ada gerombolan kambing dan bebek yang lewat. Mereka terlebih dahulu memberi jalan sambil melihat hal yang tak bisa mereka lihat di kota.
"Sayang, aku mau lari ke sana. Abis itu aku balik lagi, kamu tunggu di sini ya," kata Abbas sambil menunjuk ke tengah sawah. Nina mengiyakan dan membiarkan sang suami berlari, melatih tubuhnya agar tetap bugar. Sementara dirinya duduk di sebuah gazebo kecil yang sudah usang. Matanya terus melihat sang suami yang berlari di pematang sawah.
Sungguh sial nasibnya. Kakek Adi si pria tua dengan gangguan jiwa itu datang lagi, ditambah suasana sepi. Menyadari orang itu kembali datang. Nina ketakutan bukan main. Pria tua itu berjalan dari arah depan sehingga sangat sulit dirinya untuk kabur. Apalagi di tengah kondisinya yang sedang berbadan dua.
"Mau ngapain? Pergi!" usir Nina sambil menoleh ke sang suami. Sayangnya Abbas terhenti di tengah sawah dan asik mengobrol dengan seorang petani. "Habislah aku," gumamnya dalam hati.
"Saya bukan orang jahat," ucap si Kakek Adi sambil berdiri di depan gazebo.
Mendengar Kakek Adi bicara, Nina kembali menoleh. "Terus mau ngapain? Dari kemarin liatin saya terus, saya takut! Mending pergi aja deh!" usir Nina ketakutan.
"Saya kasih tahu, kamu dalam bahaya," kata Kakek Adi.
"Iyalah bahaya! Soalnya ada Bapak, justru bahaya kalo Bapak di sini! Aneh!" jawab Nina dengan nada panik.
"Bukan itu!" Kakek Adi lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia lalu memberikan sebuah barang kepada Nina. Ia menyodorkan sebuah gunting kecil berwarna keemasan yang tampak antik. Warnanya yang berkilau membuat Nina terpikat, gunting kecil itu tampak sangat indah. "Simpan ini untuk melindungi diri!" tambahnya.
"Gak, saya takut! Nanti ada apa-apanya lagi," kata Nina.
Si pria tua membuang muka dan mendengus kesal. "Ambil aja dulu, saya bukan orang jahat kok," lanjutnya.
"Buat apa ini?" tanya Nina yang dengan hati-hati menerima pemberian pria tua itu.
"Itu untuk menjagamu dari bahaya. Melindungimu dari 'dia.' Selalu pegang gunting itu saat di rumah. Dan ketika tidur, letakkan gunting itu di bawah bantal," ucap si pria tua.
"Menjagaku?" gumam Nina sambil terpaku menatap gunting antik di tangannya itu. Sementara Kakek Adi yang merasa sudah melakukan tugasnya lalu berbalik badan dan berjalan pergi.
Nina terus melamun memikirkan maksud dari gunting dan pria tua itu. "Sayang!" suara kedatangan Abbas pun memecah lamunannya. Ia buru-buru memasukkan gunting itu ke sakunya dan berjalan mendekati Abbas untuk kemudian mampir ke rumah Kepala Desa.
Bersambung....
Sebelum azan magrib berkumandang, Abbas sudah sampai di rumah. Suara motornya terdengar hingga ke dalam, membuat sang istri berjalan ke luar dan menyambut kepulangan suaminya. Abbas turun dari motor dan buru-buru masuk ke dalam rumah, senyuman merekah di wajahnya kala melihat sang istri menunggunya di ambang pintu sambil mengelus perut buncitnya.
"Gimana hari ini?" tanya Abbas.
"Baik-baik aja sih, cuma ada sedikit masalah," jawab Nina dengan wajah sedikit lesu.
"Kenapa-kenapa? Cerita dong." Abbas duduk di kursi sambil melepas sepatu dan kaos kakinya. Pelan-pelan Nina lalu ikut duduk di kursi kosong samping suaminya.
"Ada orang aneh yang liatin aku terus, aku takut deh," kata Nina. "Katanya warga dia orang gangguan jiwa, gimana ya? Aku jadi takut sendirian di sini," lanjutnya.
Abbas sedikit berpikir, matanya menatap ke atas sambil terdiam. "Emang dia ngapain?" tanya Abbas.
"Tadi pagi dia hampir masuk ke sini lho! Aku takut banget!" ucapnya.
Abbas mengangguk sambil menatap ke depan. "Yaudah, besok kan kita mau jalan-jalan. Sekalian kita mampir dan lapor ke Pak Kades ya. Semoga dia punya solusi, kamu tenang aja," ucap Abbas sambil menenangkan dan mengelus kepala istrinya.
Sang istri lalu mengalihkan topik. Wajah lesunya kini berganti dengan senyuman. "Sekarang, coba cerita soal hari pertama di sekolah!" ujar Nina penasaran.
"Yuk, di dalem aja. Sholat dulu," ajak Abbas yang kemudian berdiri.
Nina memegang tangan sang suami dengan wajah manja. Keduanya berjalan masuk ke dalam dan menutup pintu. Sementara di luar, suara azan magrib pun berkumandang. Para warga mulai masuk ke dalam masing-masing rumahnya. Beberapa berjalan mendatangi masjid setempat untuk menunaikan ibadah salat magrib.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah berjam-jam berlalu. Abbas memasak makanan sederhana untuk sang istri. Di meja makan, keduanya mengobrol hingga lupa waktu. Perutnya yang kenyang serta badannya yang letih membuat mata Abbas kian meredup. Sekitar pukul sembilan malam ia sudah mengantuk. Keduanya lalu masuk ke kamar untuk beristirahat.
***
Pukul 23.30
Nina terbangun dari tidurnya. Entah bagaimana, matanya tiba-tiba terbuka. Ia menoleh ke belakang, mendapati sang suami yang tertidur dengan pulas. Tampak ekspresi lelah di wajah pria itu. Nina tersenyum, tangannya dengan lembut mengelus pipi sang suami. Sedangkan tangan satunya mengelus perutnya. Merasakan sang anak yang akan segera lahir ke dunia.
Namun, tiba-tiba dirinya merasa haus. Nina ingin membangunkan sang suami, tapi tak tega rasanya. Mau tak mau, ia bangkit dari kasur. Badannya terasa berat saat turun dari kasur. Sambil memegangi perutnya, ia berdiri lalu berjalan ke arah pintu.
Karena lampu ruang tengah dan ruang tamu dimatikan, suasana pun gelap gulita. Hanya lampu dapur dan kamar mandi yang menyala. Nina berjalan perlahan ke dapur sambil mengucek matanya yang sedikit berair karena menguap.
Sayang kulkas miliknya masih belum bisa menyala. Jadi ia mendekat ke sebuah termos untuk mengambil air. Satu gelas keramik ia isi penuh dengan air, lalu sambil bersandar di meja ia meminum air itu untuk melegakan dahaganya.
Suuurrrrrtt
Terdengar suara dari kamar mandi, Nina agak kaget. Ia melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara itu seperti suara keran yang menyala. Air keran itu mengucur ke bak mandi. Padahal tidak ada orang di sana. Ia itu lalu menaruh gelas dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengeceknya sendiri.
"Apa Abbas lupa matiin keran ya?" pikirnya dalam hati yang penuh tanda tanya.
Nina membuka pintu kamar mandi dengan perlahan, lalu kepalanya masuk untuk melihat ke dalam. Suara keran itu mendadak menghilang saat ia datang. Dan keran itu pun dalam keadaan tertutup, sehingga tak mungkin air bisa mengucur dari sana. Aneh. Dari mana suara kucuran air itu?
Nina kembali menutup pintu kamar mandi.Setelah suara keran itu menghilang, suasana rumah kembali hening dan sepi. Ia merapikan kembali gelasnya. Dirinya sudah kembali mengantuk. Nina lalu meregangkan tubuhnya sesaat sambil menghirup napas panjang.
Anehnya saat menghirup napas panjang, dirinya mencium wangi yang asing. Wangi bunga melati tiba-tiba tercium di dapurnya. Nina mengendus asal wangi tersebut, tapi tak bisa ia temukan asalnya. Wangi melati itu terus memenuhi seisi rumahnya, ke ruang tamu hingga ke kamar.
"Ini wangi dari mana lagi?" gumamnya.
Lagi-lagi, Nina yang sudah sangat mengantuk memilih untuk mengabaikan wangi itu. Dirinya buru-buru masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tidurnya. "Kita bobo lagi ya, Sayang," gumam Nina sambil mengelus si jabang bayi yang ada dalam perutnya. Ia masuk dan menutup pintu.
Tanpa ia sadari, tampak sesosok perempuan berambut panjang acak-acakan dengan memakai gaun putih yang panjang sedang duduk di atas kulkasnya. Sambil mengayun-ayunkan kakinya, sosok itu sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Nina dengan pupil matanya yang kecil.
***
Keesokan paginya menjadi hari yang cerah bagi Abbas. Dengan memakai celana bahan sutra yang halus, ia mengikat sepatun ya di depan rumah. Sementara sang istri sudah siap menunggunya di samping pohon beringin. Keduanya telah sepakat untuk jalan-jalan keliling desa untuk mengenal lingkungan dan warganya. Abbas memanfaatkan momen ini untuk sekaligus berolahraga.
Nina memakai baju dan celana yang longgar. Di kepalanya terpasang sebuah topi yang melindunginya dari silau matahari. Setelah sepatu terpasang, Abbas berdiri dan mulai berjalan kaki mendekati sang istri.
"Yuk," ajaknya untuk memulai perjalanan.
Pemandangan sawah yang membentang luas menyambut mata mereka. Hamparan padi hijau tampak di sana sini, di sekitarnya rumah-rumah warga berdiri. Hutan bambu terlihat dari kejauhan. Menambah aura hijau desa yang sejuk dan menyegarkan.
Mereka mengambil jalan desa yang cukup luas, namun sedikit rusak di beberapa bagian. Mereka juga sempat bertemu dengan para petani dan saling bertukar sapa, lalu ada gerombolan kambing dan bebek yang lewat. Mereka terlebih dahulu memberi jalan sambil melihat hal yang tak bisa mereka lihat di kota.
"Sayang, aku mau lari ke sana. Abis itu aku balik lagi, kamu tunggu di sini ya," kata Abbas sambil menunjuk ke tengah sawah. Nina mengiyakan dan membiarkan sang suami berlari, melatih tubuhnya agar tetap bugar. Sementara dirinya duduk di sebuah gazebo kecil yang sudah usang. Matanya terus melihat sang suami yang berlari di pematang sawah.
Sungguh sial nasibnya. Kakek Adi si pria tua dengan gangguan jiwa itu datang lagi, ditambah suasana sepi. Menyadari orang itu kembali datang. Nina ketakutan bukan main. Pria tua itu berjalan dari arah depan sehingga sangat sulit dirinya untuk kabur. Apalagi di tengah kondisinya yang sedang berbadan dua.
"Mau ngapain? Pergi!" usir Nina sambil menoleh ke sang suami. Sayangnya Abbas terhenti di tengah sawah dan asik mengobrol dengan seorang petani. "Habislah aku," gumamnya dalam hati.
"Saya bukan orang jahat," ucap si Kakek Adi sambil berdiri di depan gazebo.
Mendengar Kakek Adi bicara, Nina kembali menoleh. "Terus mau ngapain? Dari kemarin liatin saya terus, saya takut! Mending pergi aja deh!" usir Nina ketakutan.
"Saya kasih tahu, kamu dalam bahaya," kata Kakek Adi.
"Iyalah bahaya! Soalnya ada Bapak, justru bahaya kalo Bapak di sini! Aneh!" jawab Nina dengan nada panik.
"Bukan itu!" Kakek Adi lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia lalu memberikan sebuah barang kepada Nina. Ia menyodorkan sebuah gunting kecil berwarna keemasan yang tampak antik. Warnanya yang berkilau membuat Nina terpikat, gunting kecil itu tampak sangat indah. "Simpan ini untuk melindungi diri!" tambahnya.
"Gak, saya takut! Nanti ada apa-apanya lagi," kata Nina.
Si pria tua membuang muka dan mendengus kesal. "Ambil aja dulu, saya bukan orang jahat kok," lanjutnya.
"Buat apa ini?" tanya Nina yang dengan hati-hati menerima pemberian pria tua itu.
"Itu untuk menjagamu dari bahaya. Melindungimu dari 'dia.' Selalu pegang gunting itu saat di rumah. Dan ketika tidur, letakkan gunting itu di bawah bantal," ucap si pria tua.
"Menjagaku?" gumam Nina sambil terpaku menatap gunting antik di tangannya itu. Sementara Kakek Adi yang merasa sudah melakukan tugasnya lalu berbalik badan dan berjalan pergi.
Nina terus melamun memikirkan maksud dari gunting dan pria tua itu. "Sayang!" suara kedatangan Abbas pun memecah lamunannya. Ia buru-buru memasukkan gunting itu ke sakunya dan berjalan mendekati Abbas untuk kemudian mampir ke rumah Kepala Desa.
Bersambung....
Quote:
hernawan911 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup