- Beranda
- The Lounge
Menggugat Seragam Sekolah Negeri yang Panjang, Rindu Lihat Aurat Ciwi-ciwi Lagi??
...
TS
Kokonata
Menggugat Seragam Sekolah Negeri yang Panjang, Rindu Lihat Aurat Ciwi-ciwi Lagi??

Seragam sekolah negeri menjadi perdebatan di media sosial. Sebagian orang menganggap seragam sekolah negeri zaman now berlebihan. Terlalu panjang dan tertutup, seperti seragam sekolah Islam. Padahal tidak semua murid sekolah negeri beragama Islam.
Seperti Seragam Tahun 1990-an
Orang-orang yang keberatan dengan seragam panjang menginginkan seragam seperti tahun 1990-an. Kemeja dan celana pendek bagi siswa SD dan SMP, barulah pakai celana panjang bagi siswa SMA. Bagi sisiwi SD, SMP, dan SMA rok cukup selutut saja. Tidak perlu panjang semata kaki. Kecuali bagi sisiwi yang menggunakan jilbab, bisa menyesuaikan dengan menggunakan rok panjang dan kemeja lengan panjang.
Alasan orang-orang yang menolak seragam panjang karena menghilangkan kebhinekaan. Indonesia NKRI, bukan negara Islam. Seragam rok selutut juga lebih membebaskan anak-anak bergerak, tidak seribet pakai rok panjang. Ada kasus juga guru-guru yang mengharuskan anak perempuan menggunakan celana training selaion rok panjang. Apabila mengendarai sepeda motor atau melakukan kegiatan yang perlu mengangkat rok, tidak masalah lagi.


Penolakan seragam panjang itu juga merupakan buntut beberapa kasus di sekolah tertentu. Ada sisiwi yang beragama Islam namun enggan mengenakan jilbab sehingga dipanggil guru BK. Kabarnya si murid jadi stres karena hal itu. Sebagian orang tua menjadi khawatir anaknya bakal dipaksa berjilbab juga.


Lebih Nyaman dengan Seragam Panjang
Sebagian orang tua juga setuju dengan seragam panjang. Lebih aman, meskipun anaknya laki-laki. Anak zaman now juga lebih cepat puber, sehingga menggunakan celana pendek dan rok selutut terasa kurang pantas. Meskipun seragam panjang tidak menutup kemungkinan pelecehan seksual, namun setidaknya sudah ada upaya mencegah.


Apabila kita meninjau peraturan pemerintah yang mengatur tentang seragam yaitu Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014, tidak ada keharusan menggunakan seragam panjang. Ada beberapa pilihan seragam, termasuk seragam zaman old berupa celana pendek dan rok selutut.
Hanya saja apabila di satu sekolah mayoritas siswa dan siswinya mengenakan seragam panjang, bakal terlihat mencolok siswa dan siswi yang mengenakan seragam pendek. Potensi perundungan sangat besar. Tentu membuat sisiwa bersangkutan stres.
Agan dan Sista sendiri gimana, nih. Seandainya balin jadi anak sekolah negeri lagi, bakal pilih seragam yang mana? Seragam versi panjang atau yang pendek saja?
Sumber 1, 2, 3, 4
Foto dari Canva
Diubah oleh Kokonata 02-08-2022 09:32
Swararuri dan 14 lainnya memberi reputasi
13
9.3K
268
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.8KAnggota
Tampilkan semua post
User telah dihapus
#69
Quote:
karena sifatnya seragam ini menyeragamkan akibat kebutuhan latihan pendidikan moral sebelum siap mengisi sistem dalam republik. saya pilih panjang baik bagi laki maupun perempuan.
banyak dari kita mengisi blue-collar, dan akan mengisi blue-collar yang relatif memang dituntut disiplin dalam berpakaian yang seragam. Kenapa? Tidak ada perguruan tinggi merata di seluruh Indonesia. Dan untuk menciptakan itu semua mahal dan dituntut sumbangsih masyarakat yang tidak mungkin dilakukan. Karena mahal. Gaji saja rata2 seluruh Indonesia 1,45 juta per bulan. Ujung - ujungnya tetap blue-collar dan seragam.
Kecuali industri kita mengarah seperti Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara, Jepang - Korea dan Amerika Utara seragam tidak lagi diperlukan.
Jadi gini ketimbang ngurusin agama, ngurusin seks, ngurusin mental anak2, dll. Mereka sebenarnya anak2 tidak paham dan hanya diberi paham oleh orang yang lebih tua dan lebih berkuasa. Ya, mereka cuma digiring untuk dipaksa melakukan ini dan itu. Termasuk mengisi sistem. Kalau gak ngisi sistem, mereka gak bisa KPR. Gak ada jaminan hari tua. Gak ada fasilitas kesehatan. Hak - hak kewarganegaraan mereka gak terpenuhi. Jadi mau apa selain terpaksa dan dipaksa ngisi sistem. Dan sekarang yang dipropagandakan oleh rezim ke rezim begitu.
Terutama mental mereka ya. Omong kosong peduli mental. Mereka anak - anak lama kelamaan tahu posisinya akan mengisi sistem dengan rata2 penghasilan seluruh Indonesia 1,45 juta per bulan. Itu yang lebih stress bagi mereka. Tapi orang tua menekan mereka sekolah untuk mengisi sistem. Negara meminta. Kalian semua setuju dengan sistem ini dengan memilih pemimpin yang menjalankan semua sistem ini.
Dan terakhir dari saya, sebenarnya kalian boleh mikirin agama mikirin hak2 individu lainnya kalau satu hal. Negara ini sudah kaya seperti Amerika. Kalau masih berkembang yang diutamakan bukan hak individu tapi investasi supayakaya dan investasi jangka panjang pendidikan untuk mengisi sistem investasi bangsa.
0
Tutup