- Beranda
- The Lounge
Ini Alasan Presiden Indonesia Yang Dipilih Selalu Orang Jawa!
...
TS
.nona.
Ini Alasan Presiden Indonesia Yang Dipilih Selalu Orang Jawa!

Dari semua Presiden Indonesia yang dipilih baik oleh wakil rakyat maupun dipilih langsung adalah Orang Jawa. Hanya Pak Habibie yang bukan orang Jawa, namun dirinya bukan dipilih namun menjadi Presiden karena menggantikan posisi Pak Harto yang lengser.
Maka dari semua Presiden yang dipilih oleh wakil rakyat atau dipilih secara langsung yang ada di Indonesia saat ini memang berasal dari Jawa, maka kalau ada orang yang bertanya kenapa Presiden Indonesia selalu orang Jawa? Sebenarnya mudah untuk dijawab.
Karena mayoritas penduduk Indonesia banyak berasal dari Jawa, jadi secara hitungan kalau pemilihan dilakukan secara langsung banyak pemilih dari suku Jawa akan memilih siapapun calon dari suku yang sama!

Namun jawaban ini banyak yang bertanya masih kurang puas, lantas apa jawaban yang membuat sang penanya itu puas?
Bisa dibilang orang Jawa sudah ditakdirkan menjadi pemimpin di nusantara, hal ini bisa dilihat dari mitologi-mitologi tentang satrio piningit dari ramalan jayabaya dan juga sebagainya. Hal ini juga sesuai dengan lIterasi sejarah dari kertanegara, gajah mada hingga Jokowi semua adalah orang Jawa.
Bahkan ada hal yang mistis bila pemimpin bukan orang Jawa maka akan ada petaka yang sangat besar, bisa disaksikan ketika Pak Habibi berkuasa maka keutuhan NKRI terpecah, Timor Leste pun berpisah. Tapi ini jawaban yang bersifat takdir atau mistis dan bersifat misteri.
Tapi kalau secara ilmiah tentu berkaitan dengan populasi suku, ras dan agama. Karena partai politik di Indonesia semuanya bermain secara pragmatis dengan meraih banyak suara kepada kaum mayoritas demgan cara apa saja. Maka, mereka akan bermain dengan politik identitas baik itu suku, ras dan agama.

Maka setiap pemilu di Indonesia, yang akan jadi pemenangya dalam pencalonan pemimpin adalah yang etnisnya mayoritas dan juga agamanya mayoritas.
Bagaimana dengan jawaban yang seperti ini apakah juragan sudah puas, atau punya jawaban yang berbeda?
Karena terkadang satu pertanyaan akan banyak jawaban yang beraneka ragam, namun siapapun pemimpinnya wong cilik tetap hidupnya ya tidak ada perubahan berarti.
Tapi diharapkan negara aman dan nyaman, agar cari pekerjaan mudah dan juga tentunya tidak banyak kendala, harga pun murah mau siapapun orangnya wong cilik tutup mata dengan hal itu.

Sumber klik
Diubah oleh .nona. 29-07-2022 18:46
alifrian. dan 10 lainnya memberi reputasi
7
6.5K
108
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•104.7KAnggota
Tampilkan semua post
junoon
#52
Yang pasti, walaupun tidak ada dalam peraturan tertulis, presiden harus beragama Islam. Muslim. Sekali lagi walaupun ini tidak tertulis tapi semata-mata untuk menghindari clash dari beberapa pihak yang tidak ingin negara dengan umat Islam terbesar di dunia dipimpin oleh non-Muslim.
Kemudian kenapa harus Jawa??
Di sini masalahnya. Karena presiden harus Muslim, pertanyaan selanjutnya: Muslim yang mana??
Kalau kemudian akhirnya orang Jawa yang jadi presiden, boleh dibilang karena Muslim Jawa adalah Muslim yang paling nasionalis dan bisa dibilang paling moderat dibandingkan Muslim non-Jawa (ini istilah bikinan saya sendiri). Muslim Jawa lebih toleran, dibandingkan kelompok2 Muslim non-Jawa seperti Minang atau Melayu misalnya, yang 100% anggota sukunya harus Muslim, jika keluar dari Islam maka diusir atau dikucilkan dari adat. Minoritas non-Muslim masih lebih merasa tenang hidup di lingkungan orang Jawa daripada di lingkungan Muslim bukan Jawa. Non-Muslim mau membangun tempat ibadah di wilayah Muslim non-Jawa susahnya minta ampun.
Apakah ada Muslim non-Jawa yang moderat?? Sudah tentu ada. Tapi sayangnya gak banyak. Dan mirisnya, yang moderat ini jadi bahan gunjingan orang2 sesukunya sendiri. Contohnya yang wafat baru2 ini, almarhum Buya Syafii Maarif. Orang2 sesukunya justru antipati dengan beliau, bahkan ketika beliau wafat pun sikap orang2 sekampungnya banyak yang "bodo amat".
Masih terkait dengan suku Jawa, karena populasi mereka yang terbesar, maka preferensi politik merekalah yang menentukan siapa presiden negara ini. Paling tidak ada 2 kelompok besar, yaitu "abangan" dan NU.
Kelompok "abangan" adalah basis partai2 "merah" (saya gak mau sebut merek). Kelompok ini dominan di Jawa Tengah dan DIY. Sementara Jawa Timur, basis kuat NU, adalah basis "partainya Gus Dur", tapi bukan satu-satunya, karena orang NU pun banyak yang masuk "partai merah".
Jadi 2 kelompok inilah yang menentukan siapa yang jadi presiden dan siapa yang menguasai pemerintahan. Gak ada masalah sebenarnya mau dari suku apa, sepanjang dia direstui oleh 2 kelompok ini. Cuma, karena di 2 kelompok ini banyakan orang Jawa, dan bahkan orang2 Muslim non-Jawa pun cenderung antipati dengan 2 kelompok ini (juga orang2 non-Jawa yang NU tapi anti dengan "partai merah"), ya akhirnya orang Jawa juga lah yang naik.
Kemudian kenapa harus Jawa??
Di sini masalahnya. Karena presiden harus Muslim, pertanyaan selanjutnya: Muslim yang mana??
Kalau kemudian akhirnya orang Jawa yang jadi presiden, boleh dibilang karena Muslim Jawa adalah Muslim yang paling nasionalis dan bisa dibilang paling moderat dibandingkan Muslim non-Jawa (ini istilah bikinan saya sendiri). Muslim Jawa lebih toleran, dibandingkan kelompok2 Muslim non-Jawa seperti Minang atau Melayu misalnya, yang 100% anggota sukunya harus Muslim, jika keluar dari Islam maka diusir atau dikucilkan dari adat. Minoritas non-Muslim masih lebih merasa tenang hidup di lingkungan orang Jawa daripada di lingkungan Muslim bukan Jawa. Non-Muslim mau membangun tempat ibadah di wilayah Muslim non-Jawa susahnya minta ampun.
Apakah ada Muslim non-Jawa yang moderat?? Sudah tentu ada. Tapi sayangnya gak banyak. Dan mirisnya, yang moderat ini jadi bahan gunjingan orang2 sesukunya sendiri. Contohnya yang wafat baru2 ini, almarhum Buya Syafii Maarif. Orang2 sesukunya justru antipati dengan beliau, bahkan ketika beliau wafat pun sikap orang2 sekampungnya banyak yang "bodo amat".
Masih terkait dengan suku Jawa, karena populasi mereka yang terbesar, maka preferensi politik merekalah yang menentukan siapa presiden negara ini. Paling tidak ada 2 kelompok besar, yaitu "abangan" dan NU.
Kelompok "abangan" adalah basis partai2 "merah" (saya gak mau sebut merek). Kelompok ini dominan di Jawa Tengah dan DIY. Sementara Jawa Timur, basis kuat NU, adalah basis "partainya Gus Dur", tapi bukan satu-satunya, karena orang NU pun banyak yang masuk "partai merah".
Jadi 2 kelompok inilah yang menentukan siapa yang jadi presiden dan siapa yang menguasai pemerintahan. Gak ada masalah sebenarnya mau dari suku apa, sepanjang dia direstui oleh 2 kelompok ini. Cuma, karena di 2 kelompok ini banyakan orang Jawa, dan bahkan orang2 Muslim non-Jawa pun cenderung antipati dengan 2 kelompok ini (juga orang2 non-Jawa yang NU tapi anti dengan "partai merah"), ya akhirnya orang Jawa juga lah yang naik.
Diubah oleh junoon 30-07-2022 12:13
kamica dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup