- Beranda
- Stories from the Heart
INGGIS (TAKUT)...
...
TS
makmiah123
INGGIS (TAKUT)...
Salam kenal Gan n Sist.. Ane mau nyoba-nyoba nulis di forum SFTH nih.. Kalo ada saran atau kritik bebas aja yah, asal ga ngelanggar aturan/Kode etik SFTH aja.. Sebagian cerita ini real story berdasarkan pengalaman temen ane yang minta segala macam tentang dia dan tempatnya dirahasiakan dan sebagian lagi fiksi.. Sebagai orang yang baru belajar nulis, pasti banyak banget kekurangan nya yaa Gan n Sist.. Jadi harap maklum saja.. Hehe..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
Diubah oleh makmiah123 20-12-2022 08:06
somatt dan 37 lainnya memberi reputasi
38
32.8K
268
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
makmiah123
#27
Tamu Yang Meresahkan
Sesuai janji yang telah aku buat ke Ratih, aku meminta izin ke Kepala Cabang untuk pulang cepat dengan alasan ada keperluan kaluarga.. Sampai dirumah hampir jam 3 sore.. Mbak Nur yang sudah baikan membuka pintu gerbang meski wajahnya nampak masih sedikit pucat..
Tentang kejadian yang aku alami semalam, akal sehatku menyimpulkan itu hanya mimpi buruk saja.. Aku tak berniat untuk menyangkut pautkan dengan hal gaib.. Aku juga sempat browsing mencari info ilmiah akan kejadian yang kualami.. Secara ilmiah, artikel tentang sleep paralysis dan lucid dream sepertinya hampir menjelaskan semua..
Aku segera berjalan memasuki rumah dan langsung disambut oleh teriakan riang Dinar yang jarang mendapati Ayahnya pulang cepat.. Sambil terus merengek minta digendong, Dinar berbicara panjang lebar dengan bahasa cadelnya..
“Ayah mau Bunda masakin cemilan apa?” Teriak Ratih dari arah dapur..
“Adanya apa aja, Bun?”
“Ada cireng bumbu rujak, piscok lumer, pempek sama bakso goreng kemasan”
“Kamu mau buka warung, Bun? Lengkap amat cemilannya” Canda ku yang masih menggendong Dinar di belakang punggung..
“Ayah, namanya Bumil itu memang harus siapin makanan ekstra.. Kan yang makan bukan aku sendiri, jagoan kamu juga ngerasain nih didalam” Jawab Ratih seraya menunjuk nujuk ke perutnya yang buncit..
“Kaka mau apa?” Tanyaku beralih ke Dinar yang melingkarkan tangannya dileherku dari belakang..
“Icok ume (Piscok lumer)” Jawab Dinar yang sempat diam memasang wajah lucu seolah olah sedang berfikir keras untuk memilih cemilan..
Merasa gemas, aku memutar gendongan Dinar menjadi ke depan dan menghujani pipinya dengan ciuman..
“Aku temenin Dinar main dulu yah dikamarnya” Ucapku ke arah Ratih yang mulai menyiapkan cemilan untuk dimasak..
Diatas kasurnya yang berukuran kecil dengan seprei bernuansa warna pink, Dinar menyebar semua boneka mainannya.. Aku tersenyum dan tertawa beberapa kali melihat tingkah putri kesayanganku yang sedang bermain imajinasi dengan mainannya..
“Ini Inal, Ayah, Unda(Ini Dinar, Ayah, Bunda)” Ucap Dinar seraya menjejerkan tiga boneka Barbie dengan sosok laki-laki, perempuan dan anak kecil diatas kasur..
“Ini Aki, Nini” Ucap Dinar lagi sambil menjejerkan dua boneka lain disampingnya..
Seketika aku tercekat mendengar Dinar menyebut kata Aki dan Nini.. Tidak sampai disitu, saat menyebut dua kata tadi, tatapan mata putriku berubah arah sambil tersenyum senang menatap ke lemari pakaiannya yang bergambar peri Tinkerbell..
Aku dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah sama dengan Dinar.. Tidak ada siapapun yang terlihat didekat lemari.. Disamping kiri, kanan dan atas tempat penyimpanan pakaian milik Dinar benar-benar tak nampak siapapun..
Bulu kudukku langsung meremang dan dengan cepat menggendong Dinar keluar dari kamarnya.. Bersamaan dengan itu Ratih juga sedang berjalan ke arah kami dengan membawa piring berisi cemilan matang..
“Koq keluar, Bunda baru mau nyusul ke kamar Dinar”
“Di ruang tengah aja Bun makan cemilannya” Jawabku singkat setelah menutup pintu kamar Dinar..
Diruang tengah, aku sempat termenung memikirkan ucapan Dinar yang menyebut kata Aki dan Nini.. Entah mengapa dalam benak ku terlintas bayangan wajah kedua orang tua kandung Ambu yang aku pernah lihat dari photo usang..
Apa mungkin arwah dua sosok tersebut mengikuti kami pulang? Konon, anak kecil yang belum berdosa bisa dengan mudah melihat mahluk halus.. Tidak, tidak.. Tidak ada yang namanya Arwah gentayangan.. Roh orang yang sudah mati tidak mungkin kembali ke dunia.. Begitu Almarhum Abah mengajarkan sewaktu aku kecil.. Gumamku dalam hati menolak fikiran fikiran sesat yang mulai muncul memenuhi benak..
Tapi mengapa Dinar bisa menyebut kata Aki dan Nini? Dua kali aku mendengar putri kecil ku menyebut dua kata yang seingat ku, ia mengucapkannya sambil menatap atau menunjuk ke tempat tertentu.. Yang pertama saat kami pulang melintasi hutan dan yang kedua baru saja terjadi..
“Yah.. Ayah”
“Ehh, iya.. Kenapa, Bun?” Tanya ku saat tersadar dari lamunan dan melihat Ratih bermuka masam..
“Cemilan aku koq dilietin aja? Ga suka yah? Padahal aku udah capek capek masak”
Tak mau memperpanjang cakap, aku langsung mengambil gorengan pisang isi coklat olahan Ratih dan memasukkannya ke mulut.. Seketika aku megap-megap kepanasan dan memuntahkan cemilan itu.. Dengan cekatan Ratih mengambil tissue meski sempat tertawa melihat aku menjulurkan lidah karena rasa panas masih tersisa disana..
Aku juga mentertawai kebodohan ku sendiri.. Hanya karena takut Ratih merajuk, aku lupa jika cemilan yang aku masukkan ke mulut, baru saja diangkat dari penggorengan.. Hingga akhirnya suara dua kali klakson motor didepan gerbang rumah terdengar dan menyudahi tawa kami..
Tanpa disuruh, Mbak Nur segera membuka pintu rumah dan setengah berlari menuju gerbang.. Aku sempat mengerutkan kening begitu dua orang laki-laki berhelm menggunakan motor matic warna hitam memasuki gerbang rumah..
“Kayaknya itu saudaranya Mbak Nur yang mau ketemu kamu, Yah” Bisik Ratih yang ikut berdiri disebelah dengan tatapan sama ke gerbang..
Aku tidak menjawab apapun, hanya menganggukkan kepala menimpali kalimat Ratih.. Khawatir keberadaan Dinar dan dirinya akan menggangu pembicaraan ku dengan tamu nantinya, Ratih segera menggendong Dinar kemudian membawa putriku itu ke ruangan lain..
Kedua mataku yang masih memandangi dua orang tamu sempat terpicingkan saat melihat salah satu dari mereka berjalan mengitari gerbang, memandangi rumah lekat-lekat, lalu menggerakkan mulut seolah sedang membaca sesuatu dengan kedua mata tertutup..
Tak berapa lama, dua laki-laki yang berpakaian hitam-hitam laksana pendekar lengkap dengan blangkon khas daerah Jawa itu, berjalan beriringan dengan Mbak Nur menuju ke rumah..
Aku sempat membalas ucapan salam salah satu dari mereka yang berperawakan lebih tinggi dan berumur lebih muda.. Sementara, salah satunya lagi nampak terdiam sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dalam rumah..
“Silahkan duduk, pak.. Mbak Nur tolong buatkan minuman” Ucapku mempersilahkan sekaligus memerintahkan asisten rumah tangga kami..
Dengan anggukan kepala, Mbak Nur langsung pergi ke dapur.. Sementara dua orang tamu sudah mendudukkan diri di sofa dihadapanku..
“Bapak-bapak ini saudara Mbak Nur?” Tanya ku memulai percakapan..
“Betul pak Fadil.. Saya kebetulan sepupunya Nur langsung.. Nama saya Wigno dan ini Pakde saya.. Beliau suami dari bibi saya dan Nur di kampung, namanya Pak Daus” Jawab sosok laki-laki yang berusia lebih muda dengan jempol tangan kanan terangkat ke arah Pakde nya saat memperkenalkan diri..
Kurang lebih 5 menit aku berbasa basi dalam obrolan dengan menanyakan berbagai hal klise terkait mereka tinggal dimana, kapan sang Pakde tiba di Jakarta dan beberapa pertanyaan umum lain.. Baru setelah aku merasa cukup mengobrol ringan, aku langsung menanyakan tujuan mereka bertamu..
“Oh iya, kata istri saya bapak-bapak ada yang mau dibicarakan langsung dengan saya?”
Untuk beberapa saat, dua tamu saudaranya Mbak Nur terlihat saling pandang.. Lalu laki-laki paruh baya yang dikenalkan bernama Pak Daus berdehem dua kali..
“Jadi begini pak, Fadil.. Saya kebetulan berprofesi sebagai paranormal.. Beberapa hari lalu, saya sempat mendapat kabar dari Wigno bahwa Nur sedang sakit dan penyebabnya karena melihat penampakan mahluk halus”
Aku sempat memasang wajah bingung untuk sesaat begitu mendengar kalimat dari Pak Daus, namun dengan cepat aku tersenyum ke arah mereka..
“Mbak Nur demam biasa sepertinya Pak Daus.. Tempo hari sudah dibawa ke dokter oleh istri saya dan seperti yang kita bisa lihat, sekarang Mbak Nur sudah sehat”
“Bukan begitu pak, Fadil.. Sebagai paranormal, mata batin saya bisa melihat kalau rumah bapak sudah dilindungi pagar gaib sebagai penghalang mahluk halus masuk.. Saya juga bisa merasakan adanya dua mahluk halus yang auranya sangat kuat didalam rumah ini”
“Cukup, cukup pak.. Tolong jangan bicarakan hal-hal yang diluar nalar terkait rumah saya.. Saya paling tidak suka dengan obrolan tentang segala hal yang gaib.. Saya faham, memang ada alam gaib dan saya percaya itu.. Jikalau bapak sebagai paranormal melihat pagar gaib melindungi rumah saya, biarkan saja.. Jika bapak merasakan adanya mahluk halus disini pun tolong abaikan dan saya mohon jangan coba lakukan hal aneh disini”
Sepersekian detik aku berhenti mengucap kalimat dengan nada tegas, telingaku mendengar suara tawa dan langkah kaki Dinar yang sedang berlari kecil dari belakang.. Aku lantas menoleh ke belakang hendak meminta Ratih kembali membawa Dinar masuk..
Namun niat itu aku urungkan menakala melihat Dinar sudah berdiri mematung beberapa meter di belakang dengan tatapan tajam ke arah dua orang tamu.. Aku sempat melihat pemuda bernama Wigno kebingungan menatap Pak De nya yang langsung berdiri dan membalas tatapan Dinar sama tajam..
“Minggat Kowe.. Ojo ganggu urusanku”
Kedua mata ku terbelalak mendengar Dinar mengucap lancar dua kalimat berbahasa Jawa dengan suara yang terdengar seperti suara wanita dewasa, sambil terus menatap tajam ke arah Wigno dan Pak Daus..
Sementara Pak Daus sendiri untuk beberapa saat masih menatap putri ku dengan tajam seraya menggerakkan mulut berkomat kamit.. Aku yang masih saja terpaku menyaksikan kejadian aneh itu, sesekali melempar pandang ke Dinar dan Pak Daus.. Baru setelah melihat tubuh Pak Daus bergetar dengan keringat seukuran biji jagung muncul didahinya, aku sadar bahwa sesuatu yang gaib mungkin sedang benar-benar terjadi saat ini.. Dan...
BRAKKK..
Kembali aku dibuat tercengang melihat Pak Daus terjungkal kebelakang sofa seolah dirinya telah didorong oleh sesuatu tak kasat mata dari depan.. Menyadari Pak De nya terjungkal, Wigno dengan cepat melangkahi sofa dan membantu Pak Daus berdiri.. Dilain pihak, aku yang melemparkan pandangan ke arah Dinar, sudah tak menemukan lagi putri ku ditempatnya semula berada.. Yang terdengar hanya suara tawa renyah Dinar dari arah lain..
Tanpa mengucap apapun dan dengan wajah sama-sama diliputi ketakutan, Wigno serta Pak Daus berjalan keluar dari rumah, meninggalkan ku yang masih tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi.. Aku langsung berjalan cepat mencari keberadaan istri dan putriku sambil memanggil nama mereka. begitu benak ini kembali sadar..
Rasa lega muncul di batinku saat berhasil menemukan Ratih sedang menemani Dinar bermain di gazebo halaman belakang.. Lantas aku mendekati mereka dan menatap putri ku dalam-dalam untuk beberapa lama..
“Tamunya sudah pulang, Yah?” Tanya Ratih yang membuatku menoleh ke arahnya, lalu duduk disebelah Dinar..
“Kamu kenapa biarin Dinar lari-lari didalam rumah dan gangguin obrolan aku dengan tamu tadi?”
Bukannya ucapan minta maaf yang diberikan Ratih sebagai jawaban, ia malah menatapku dengan raut wajah bingung..
“Loh, aku dari tadi disini temenin Dinar main.. Dinar juga ga kemana-mana”
DEG..
Jantung ku terasa terhenti sesaat setelah mendengar jawaban Ratih.. Aku pandangi wajah dan sorot matanya yang sama sekali tidak ada kebohongan disana..
“Yaa Tuhan, yang aku lihat tadi itu siapa?” Batin ku dalam hati dan memutuskan harus mencari seseorang untuk aku ajak bicara tentang berbagai hal aneh yang aku temui akhir-akhir ini..
Tentang kejadian yang aku alami semalam, akal sehatku menyimpulkan itu hanya mimpi buruk saja.. Aku tak berniat untuk menyangkut pautkan dengan hal gaib.. Aku juga sempat browsing mencari info ilmiah akan kejadian yang kualami.. Secara ilmiah, artikel tentang sleep paralysis dan lucid dream sepertinya hampir menjelaskan semua..
Aku segera berjalan memasuki rumah dan langsung disambut oleh teriakan riang Dinar yang jarang mendapati Ayahnya pulang cepat.. Sambil terus merengek minta digendong, Dinar berbicara panjang lebar dengan bahasa cadelnya..
“Ayah mau Bunda masakin cemilan apa?” Teriak Ratih dari arah dapur..
“Adanya apa aja, Bun?”
“Ada cireng bumbu rujak, piscok lumer, pempek sama bakso goreng kemasan”
“Kamu mau buka warung, Bun? Lengkap amat cemilannya” Canda ku yang masih menggendong Dinar di belakang punggung..
“Ayah, namanya Bumil itu memang harus siapin makanan ekstra.. Kan yang makan bukan aku sendiri, jagoan kamu juga ngerasain nih didalam” Jawab Ratih seraya menunjuk nujuk ke perutnya yang buncit..
“Kaka mau apa?” Tanyaku beralih ke Dinar yang melingkarkan tangannya dileherku dari belakang..
“Icok ume (Piscok lumer)” Jawab Dinar yang sempat diam memasang wajah lucu seolah olah sedang berfikir keras untuk memilih cemilan..
Merasa gemas, aku memutar gendongan Dinar menjadi ke depan dan menghujani pipinya dengan ciuman..
“Aku temenin Dinar main dulu yah dikamarnya” Ucapku ke arah Ratih yang mulai menyiapkan cemilan untuk dimasak..
Diatas kasurnya yang berukuran kecil dengan seprei bernuansa warna pink, Dinar menyebar semua boneka mainannya.. Aku tersenyum dan tertawa beberapa kali melihat tingkah putri kesayanganku yang sedang bermain imajinasi dengan mainannya..
“Ini Inal, Ayah, Unda(Ini Dinar, Ayah, Bunda)” Ucap Dinar seraya menjejerkan tiga boneka Barbie dengan sosok laki-laki, perempuan dan anak kecil diatas kasur..
“Ini Aki, Nini” Ucap Dinar lagi sambil menjejerkan dua boneka lain disampingnya..
Seketika aku tercekat mendengar Dinar menyebut kata Aki dan Nini.. Tidak sampai disitu, saat menyebut dua kata tadi, tatapan mata putriku berubah arah sambil tersenyum senang menatap ke lemari pakaiannya yang bergambar peri Tinkerbell..
Aku dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah sama dengan Dinar.. Tidak ada siapapun yang terlihat didekat lemari.. Disamping kiri, kanan dan atas tempat penyimpanan pakaian milik Dinar benar-benar tak nampak siapapun..
Bulu kudukku langsung meremang dan dengan cepat menggendong Dinar keluar dari kamarnya.. Bersamaan dengan itu Ratih juga sedang berjalan ke arah kami dengan membawa piring berisi cemilan matang..
“Koq keluar, Bunda baru mau nyusul ke kamar Dinar”
“Di ruang tengah aja Bun makan cemilannya” Jawabku singkat setelah menutup pintu kamar Dinar..
Diruang tengah, aku sempat termenung memikirkan ucapan Dinar yang menyebut kata Aki dan Nini.. Entah mengapa dalam benak ku terlintas bayangan wajah kedua orang tua kandung Ambu yang aku pernah lihat dari photo usang..
Apa mungkin arwah dua sosok tersebut mengikuti kami pulang? Konon, anak kecil yang belum berdosa bisa dengan mudah melihat mahluk halus.. Tidak, tidak.. Tidak ada yang namanya Arwah gentayangan.. Roh orang yang sudah mati tidak mungkin kembali ke dunia.. Begitu Almarhum Abah mengajarkan sewaktu aku kecil.. Gumamku dalam hati menolak fikiran fikiran sesat yang mulai muncul memenuhi benak..
Tapi mengapa Dinar bisa menyebut kata Aki dan Nini? Dua kali aku mendengar putri kecil ku menyebut dua kata yang seingat ku, ia mengucapkannya sambil menatap atau menunjuk ke tempat tertentu.. Yang pertama saat kami pulang melintasi hutan dan yang kedua baru saja terjadi..
“Yah.. Ayah”
“Ehh, iya.. Kenapa, Bun?” Tanya ku saat tersadar dari lamunan dan melihat Ratih bermuka masam..
“Cemilan aku koq dilietin aja? Ga suka yah? Padahal aku udah capek capek masak”
Tak mau memperpanjang cakap, aku langsung mengambil gorengan pisang isi coklat olahan Ratih dan memasukkannya ke mulut.. Seketika aku megap-megap kepanasan dan memuntahkan cemilan itu.. Dengan cekatan Ratih mengambil tissue meski sempat tertawa melihat aku menjulurkan lidah karena rasa panas masih tersisa disana..
Aku juga mentertawai kebodohan ku sendiri.. Hanya karena takut Ratih merajuk, aku lupa jika cemilan yang aku masukkan ke mulut, baru saja diangkat dari penggorengan.. Hingga akhirnya suara dua kali klakson motor didepan gerbang rumah terdengar dan menyudahi tawa kami..
Tanpa disuruh, Mbak Nur segera membuka pintu rumah dan setengah berlari menuju gerbang.. Aku sempat mengerutkan kening begitu dua orang laki-laki berhelm menggunakan motor matic warna hitam memasuki gerbang rumah..
“Kayaknya itu saudaranya Mbak Nur yang mau ketemu kamu, Yah” Bisik Ratih yang ikut berdiri disebelah dengan tatapan sama ke gerbang..
Aku tidak menjawab apapun, hanya menganggukkan kepala menimpali kalimat Ratih.. Khawatir keberadaan Dinar dan dirinya akan menggangu pembicaraan ku dengan tamu nantinya, Ratih segera menggendong Dinar kemudian membawa putriku itu ke ruangan lain..
Kedua mataku yang masih memandangi dua orang tamu sempat terpicingkan saat melihat salah satu dari mereka berjalan mengitari gerbang, memandangi rumah lekat-lekat, lalu menggerakkan mulut seolah sedang membaca sesuatu dengan kedua mata tertutup..
Tak berapa lama, dua laki-laki yang berpakaian hitam-hitam laksana pendekar lengkap dengan blangkon khas daerah Jawa itu, berjalan beriringan dengan Mbak Nur menuju ke rumah..
Aku sempat membalas ucapan salam salah satu dari mereka yang berperawakan lebih tinggi dan berumur lebih muda.. Sementara, salah satunya lagi nampak terdiam sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dalam rumah..
“Silahkan duduk, pak.. Mbak Nur tolong buatkan minuman” Ucapku mempersilahkan sekaligus memerintahkan asisten rumah tangga kami..
Dengan anggukan kepala, Mbak Nur langsung pergi ke dapur.. Sementara dua orang tamu sudah mendudukkan diri di sofa dihadapanku..
“Bapak-bapak ini saudara Mbak Nur?” Tanya ku memulai percakapan..
“Betul pak Fadil.. Saya kebetulan sepupunya Nur langsung.. Nama saya Wigno dan ini Pakde saya.. Beliau suami dari bibi saya dan Nur di kampung, namanya Pak Daus” Jawab sosok laki-laki yang berusia lebih muda dengan jempol tangan kanan terangkat ke arah Pakde nya saat memperkenalkan diri..
Kurang lebih 5 menit aku berbasa basi dalam obrolan dengan menanyakan berbagai hal klise terkait mereka tinggal dimana, kapan sang Pakde tiba di Jakarta dan beberapa pertanyaan umum lain.. Baru setelah aku merasa cukup mengobrol ringan, aku langsung menanyakan tujuan mereka bertamu..
“Oh iya, kata istri saya bapak-bapak ada yang mau dibicarakan langsung dengan saya?”
Untuk beberapa saat, dua tamu saudaranya Mbak Nur terlihat saling pandang.. Lalu laki-laki paruh baya yang dikenalkan bernama Pak Daus berdehem dua kali..
“Jadi begini pak, Fadil.. Saya kebetulan berprofesi sebagai paranormal.. Beberapa hari lalu, saya sempat mendapat kabar dari Wigno bahwa Nur sedang sakit dan penyebabnya karena melihat penampakan mahluk halus”
Aku sempat memasang wajah bingung untuk sesaat begitu mendengar kalimat dari Pak Daus, namun dengan cepat aku tersenyum ke arah mereka..
“Mbak Nur demam biasa sepertinya Pak Daus.. Tempo hari sudah dibawa ke dokter oleh istri saya dan seperti yang kita bisa lihat, sekarang Mbak Nur sudah sehat”
“Bukan begitu pak, Fadil.. Sebagai paranormal, mata batin saya bisa melihat kalau rumah bapak sudah dilindungi pagar gaib sebagai penghalang mahluk halus masuk.. Saya juga bisa merasakan adanya dua mahluk halus yang auranya sangat kuat didalam rumah ini”
“Cukup, cukup pak.. Tolong jangan bicarakan hal-hal yang diluar nalar terkait rumah saya.. Saya paling tidak suka dengan obrolan tentang segala hal yang gaib.. Saya faham, memang ada alam gaib dan saya percaya itu.. Jikalau bapak sebagai paranormal melihat pagar gaib melindungi rumah saya, biarkan saja.. Jika bapak merasakan adanya mahluk halus disini pun tolong abaikan dan saya mohon jangan coba lakukan hal aneh disini”
Sepersekian detik aku berhenti mengucap kalimat dengan nada tegas, telingaku mendengar suara tawa dan langkah kaki Dinar yang sedang berlari kecil dari belakang.. Aku lantas menoleh ke belakang hendak meminta Ratih kembali membawa Dinar masuk..
Namun niat itu aku urungkan menakala melihat Dinar sudah berdiri mematung beberapa meter di belakang dengan tatapan tajam ke arah dua orang tamu.. Aku sempat melihat pemuda bernama Wigno kebingungan menatap Pak De nya yang langsung berdiri dan membalas tatapan Dinar sama tajam..
“Minggat Kowe.. Ojo ganggu urusanku”
Kedua mata ku terbelalak mendengar Dinar mengucap lancar dua kalimat berbahasa Jawa dengan suara yang terdengar seperti suara wanita dewasa, sambil terus menatap tajam ke arah Wigno dan Pak Daus..
Sementara Pak Daus sendiri untuk beberapa saat masih menatap putri ku dengan tajam seraya menggerakkan mulut berkomat kamit.. Aku yang masih saja terpaku menyaksikan kejadian aneh itu, sesekali melempar pandang ke Dinar dan Pak Daus.. Baru setelah melihat tubuh Pak Daus bergetar dengan keringat seukuran biji jagung muncul didahinya, aku sadar bahwa sesuatu yang gaib mungkin sedang benar-benar terjadi saat ini.. Dan...
BRAKKK..
Kembali aku dibuat tercengang melihat Pak Daus terjungkal kebelakang sofa seolah dirinya telah didorong oleh sesuatu tak kasat mata dari depan.. Menyadari Pak De nya terjungkal, Wigno dengan cepat melangkahi sofa dan membantu Pak Daus berdiri.. Dilain pihak, aku yang melemparkan pandangan ke arah Dinar, sudah tak menemukan lagi putri ku ditempatnya semula berada.. Yang terdengar hanya suara tawa renyah Dinar dari arah lain..
Tanpa mengucap apapun dan dengan wajah sama-sama diliputi ketakutan, Wigno serta Pak Daus berjalan keluar dari rumah, meninggalkan ku yang masih tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi.. Aku langsung berjalan cepat mencari keberadaan istri dan putriku sambil memanggil nama mereka. begitu benak ini kembali sadar..
Rasa lega muncul di batinku saat berhasil menemukan Ratih sedang menemani Dinar bermain di gazebo halaman belakang.. Lantas aku mendekati mereka dan menatap putri ku dalam-dalam untuk beberapa lama..
“Tamunya sudah pulang, Yah?” Tanya Ratih yang membuatku menoleh ke arahnya, lalu duduk disebelah Dinar..
“Kamu kenapa biarin Dinar lari-lari didalam rumah dan gangguin obrolan aku dengan tamu tadi?”
Bukannya ucapan minta maaf yang diberikan Ratih sebagai jawaban, ia malah menatapku dengan raut wajah bingung..
“Loh, aku dari tadi disini temenin Dinar main.. Dinar juga ga kemana-mana”
DEG..
Jantung ku terasa terhenti sesaat setelah mendengar jawaban Ratih.. Aku pandangi wajah dan sorot matanya yang sama sekali tidak ada kebohongan disana..
“Yaa Tuhan, yang aku lihat tadi itu siapa?” Batin ku dalam hati dan memutuskan harus mencari seseorang untuk aku ajak bicara tentang berbagai hal aneh yang aku temui akhir-akhir ini..
sirluciuzenze dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup