- Beranda
- Stories from the Heart
INGGIS (TAKUT)...
...
TS
makmiah123
INGGIS (TAKUT)...
Salam kenal Gan n Sist.. Ane mau nyoba-nyoba nulis di forum SFTH nih.. Kalo ada saran atau kritik bebas aja yah, asal ga ngelanggar aturan/Kode etik SFTH aja.. Sebagian cerita ini real story berdasarkan pengalaman temen ane yang minta segala macam tentang dia dan tempatnya dirahasiakan dan sebagian lagi fiksi.. Sebagai orang yang baru belajar nulis, pasti banyak banget kekurangan nya yaa Gan n Sist.. Jadi harap maklum saja.. Hehe..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
Diubah oleh makmiah123 20-12-2022 08:06
somatt dan 37 lainnya memberi reputasi
38
32.8K
268
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
makmiah123
#26
Antara Nyata dan Tidak..
Sepulang kerja, aku tidak disambut oleh Ratih maupun Dinar kemungkinan mereka berdua sudah tertidur pulas.. Karena tadi ada rapat dengan Kepala Cabang selepas jam kerja selesai, aku memang sempat mengabarkan Ratih lewat WA untuk tidak menungguku pulang sebab akan sedikit larut..
Aku juga terpaksa membuka gerbang sendiri karena setelah membunyikan klakson mobil dua kali Mbak Nur tidak jua menampakkan diri.. Sepertinya asisten rumah tangga ku itu masih kurang enak badan.. Tidak jadi masalah besar bagiku untuk membuka gerbang seorang diri sampai memarkirkan mobil dalam garasi..
Aku yang memang sudah makan malam bersama Kepala Cabang selepas rapat, masih merasa kenyang namun belum begitu mengantuk untuk segera menyusul Ratih tidur di kamar.. Aku hanya mengganti pakaian dengan kaus dan celana pendek.. Dengan membawa segelas teh tawar panas dan sebungkus rokok, aku memutuskan untuk duduk beberapa saat diteras depan rumah sambil menunggu kantuk datang..
Suasana malam nampak sepi, padahal baru jam 10 an malam.. Mungkin semua orang sudah terlelap karena lelah melewati aktifitas rutin nan padat dihari pertama kerja selepas weekend.. Suara jalan raya didepan rumahku pun terdengar cukup lengang, ditandai dengan jarangnya bunyi klakson dan suara kendaraan lewat..
Beberapa hembusan asap putih aku keluarkan dari mulut dan sesudahnya meneguk air teh hangat buatanku sendiri.. Jujur, sejak mendengar kabar mengejutkan dari Rima terkait atas meninggalnya Mak Tua karena gantung diri, membuat fikiranku terus memikirkan hal tersebut..
Semua terasa janggal bagiku, mengetahui sosok Mak Tua yang sudah berusia senja seharusnya tinggal menunggu sedikit saja waktu sebelum ajal menjemput, namun malah nekat menghabiskan sisa umurnya dengan cara tidak wajar..
Sempat terlintas dalam benak, kematian Mak Tua ada hubungannya dengan kemarahan Ambu saat ia mengetahui sang paraji menintipkan benda berbau mistis untuk Ratih.. Namun aku segera tepis dugaan keji tersebut karena Ambu tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu.. Lagi pula, jika Ambu yang melakukan pasti ia akan luapkan amarahnya lewat sesuatu yang gaib, bukan dengan cara menggantung Mak Tua..
Apalagi aku sempat meminta Rima menceritakan secara detail tentang kematian Mak Tua lewat WA dan bagaimana reaksi Ambu.. Rima bilang jasad Mak Tua yang sudah menggantung di pintu ruang tamu rumahnya, dilihat pertama kali oleh Mang Rohim, salah satu petani yang dipekerjakan Ambu..
Saat Mang Rohim berjalan melintasi rumah Mak Tua sempat dia mendengar samar-samar suara erangan seseorang dari dalam.. Karena curiga, laki-laki yang aku tahu memiliki 6 orang anak itu mencoba mengintip dari lubang dinding bilik rumah Mak Tua.. Dan ia melihat sang Paraji sudah tergantung dengan wajah membiru, kedua mata terbelalak keatas serta lidah menjulur keluar..
Terkait reaksi Ambu, Rima hanya membalas pesan WA yang bilang Ambu hanya bersikap dingin tanpa mengatakan apapun setelah mendengar kabar kematian salah satu wanita tertua didusun.. Aku juga sempat mewanti wanti Rima agar jangan sampai ia bercerita ke Ratih akan kematian Mak Tua yang tak wajar..
Aku menyudahi aktifitas menghisap rokok dan meneguk sisa teh hangat saat melihat jam tangan menunjukkan hampir pukul 11 malam.. Dengan perlahan aku bangkit dari kursi jati sambil mengangkat gelas kosong bekas air teh, dan berniat masuk ke dalam untuk istirahat..
Namun tiba-tiba, telinga ku menangkap suara benda yang seperti dipukul-pukulkan kegerbang dari arah luar.. Dugaan awalku itu adalah ulah anak-anak muda iseng yang lewat.. Semula, aku ingin mengacuhkan karena suaranya pun terdengar tidak begitu kencang.. Tapi baru saja aku ingin melanjutkan langkah masuk ke dalam, suara pukulan dari luar gerbang terdengar semakin sering..
Tanpa pikir panjang dan sudah menyiapkan kalimat omelan bagi siapa saja yang iseng memukul gerbang rumahku dari luar dimasa hampir tengah malam, aku berjalan cepat menuju ke depan..
Aneh! Cahaya lampu depan gerbangku mendadak redup dengan sendirinya bahkan hampir mati seiring suara pukulan yang terdengar tadi juga menghilang, begitu aku sudah berdiri persis didepan pintu gerbang.. Aku sempat menduga ada masalah tegangan listrik dirumah, dan akan mengecek nya nanti setelah aku berhasil memarahi para pengganggu..
Aku bahkan sempat mengintip keluar dari celah antara dua pintu gerbang yang memang sedikit renggang.. Namun temaramnya cahaya lampu membuatku sedikit kesulitan untuk melihat jelas keadaan diluar.. Baru setelah ada sorot lampu kendaraan yang terang melintasi jalan untuk sesaat, aku mampu melihat meski sebentar..
Tidak ada siapapun diluar.. Aku bernafas lega karena mungkin anak-anak muda iseng sudah kabur saat menyadari sang pemilik rumah akan muncul.. Saat aku hendak berjalan lagi ke arah rumah, suara pukulan kembali terdengar dari luar.. Emosi ku sontak memuncak dan langsung memutar anak kunci dari sarangnya lalu membuka lebar-lebar pintu gerbang..
TUKK..
Bukannya mendapati anak-anak muda yang iseng sedang berkumpul didepan gerbang rumah, aku malah terkejut begitu sesuatu terasa baru saja membentur dahi.. Sialnya, lampu diseluruh rumah dan jalan padam secara bersamaan.. Hal itu tentu menyulitkan aku untuk melihat benda apa yang barusan mengenai kening..
Tangan kanan sengaja aku kibaskan ke depan wajah untuk menepis jika memang ada benda dihadapan.. Dan benar, tanganku sempat mengenai suatu benda yang terasa dingin.. Secara perlahan dan dalam keadaan gelap, aku meraba raba ke arah depan dan berhasil memegang benda yang ternyata ada dua dan terasa sedingin es..
Kedua bola mata ku seketika membesar sewaktu menyadari bahwa dua benda yang saat ini aku pegang adalah sepasang kaki manusia..
Sontak aku langsung jatuh kebelakang karena terkejut sekaligus diserang rasa takut luar biasa, saat menoleh ke atas ternyata ada mahluk menakutkan sedang menggantung melayang dibawah pencahayaan lampu gerbang yang perlahan kembali menyala redup..
Meski masih nampak tak jelas, aku tahu sosok mahluk yang menggantung diatasku itu melayang turun ke bawah dengan gerakan lambat.. Gelas bekas wadah air teh hangat sempat terlepas dari genggaman seiring aku mulai mengenali wajah sosok menyeramkan tersebut..
“Mm.. Mak Tu.. Aaa” Ucapku dengan suara terbata-bata karena rasa takut telah menguasai diri dan membuat lidah terasa kelu..
Sosok mahluk menyerupai Mak Tua dengan rambut putih panjang acak-acakan dan wajah membiru serta lidah panjang menjulur karena jeratan kain batik dileher yang tergolek patah kesamping kiri, terus melayang turun masih dengan kedua mata membelalak keatas.. Mengapa aku bisa melihat wajahnya dengan jelas,sebab lampu depan gerbang yang awalnya redup malah bertambah terang, seolah disengaja agar aku makin termakan rasa takut..
Untuk beberapa lamanya, tubuhku terasa menegang.. Keringat dingin mengucur deras dan jantung berdegup kencang saat sosok menakutkan yang berdiri sejengkal diatas tanah, perlahan melayang mendekat kearahku.. Semakin mendekatnya ia, makin jelas mata ini melihat tubuhnya yang kaku dan kian tercium pula aroma kotoran manusia bercampur bau busuk menyengat hidung..
Boleh percaya atau tidak, saat itu lidahku tak lagi bisa mengeluarkan suara.. Jangankan membaca ayat ayat suci Alqur’an, untuk bergerak memejamkan kedua mata pun aku tak mampu.. Sebab rasa takut sudah benar-benar mengambil alih akal sehat..
Pandangan pun seolah dipaksa untuk terus menyaksikan Dedemit berupa sosok Mak Tua.. Dipaksa terus memandangi kedua bola matanya yang awal mendelik ke atas sudah berputar melotot menatapku, bersamaan dengan leher patahnya yang kesamping kiri berubah lurus..
Aku mencoba terus mengingat ingat bacaan Ayat suci yang sepertinya hilang dari benak sambil berusaha berteriak minta tolong kepada siapapun yang aku harap bisa mendengar.. Tapi tetap saja leherku terasa kering seperti tercekik.. Tak ada suara yang keluar dari sana..
Mendadak dari arah belakang telinga ku mendengar suara seorang laki-laki dengan lantang membentak dalam bahasa sunda kasar..
“INDIT SIA(PERGI KAU)!!!”
Dua kata sama yang pernah aku dengar saat bertemu sosok misterius Kakek pembaca cangkul sewaktu didusun, terdengar berteriak ke arah Mak Tua, bersamaan dengan hilangnya kesadaranku begitu pundak sebelah kiri terasa dipegang seseorang dari belakang..
“Yah.. Ayah bangun.. Kenapa tidur di sofa?”
Suara Ratih terdengar samar ditelinga, hingga aku perlahan membuka mata dan melihat Ratih sedang duduk bertumpu lutut persis di samping.. Aku seketika bangkit dan berdiri mencari sosok penampakan Mak Tua yang sepertinya baru saja aku temui didepan gerbang..
Berkali-kali aku mengedarkan pandangan ke segala arah, dan baru mengucap istighfar begitu menyadari hari sudah pagi dan aku tak lagi berada di depan gerbang..
“Ayah kenapa? Koq muka nya panik gitu?” Tanya Ratih yang menatapku dengan pandangan bingung..
Aku mendudukkan diri kembali di atas sofa dan mengusap wajah beberapa kali dengan dua telapak tangan.. Sempat juga aku memeriksa kaus yang aku kenakan masih terasa basah oleh keringat..
“Tolong buatin aku teh manis, Bun” Pinta ku kepada Ratih yang langsung beranjak pergi menuju dapur..
“Astaghfirullahaladziem, ternyata cuma mimpi.. Kenapa berasa kek nyata banget” Ucapku dalam hati dengan rasa masih tak percaya akan mimpi buruk yang aku alami semalam..
“Ayah kenapa tidur disofa?” Tanya Ratih lagi sambil menyodorkanku segelas teh manis hangat..
Aku yang masih merasa sedikit lemas meski dalam hati bersyukur karena kejadian menyeramkan yang terasa nyata semalam hanyalah bunga tidur semata, mengambil minuman dan meneguknya secara perlahan..
“Ayah kecapean keknya, Bun.. Semalem ayah pulang udah malem” Jawabku beralasan, sengaja tidak menceritakan hal menakutkan dalam mimpiku ke Ratih..
“Aku juga mimpi aneh semalam, Yah” Sambung Ratih seraya menyandarkan punggung ke sofa sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit..
“Mimpi apa?”
“Aku mimpi Mak Tua datang kesini”
Aku hampir tersedak mendengar kalimat Ratih barusan, hingga terbatuk beberapa saat.. Sementara Ratih sendiri nampak bingung melihat reaksiku dan langsung mengambil beberapa helai tissue diatas meja, lalu mengelap mulut ku menggunakan benda putih itu..
“Ceritain ke aku mimpi kamu semalam, Bun” Pintaku sedikit memaksa Ratih, saat rasa gatal dileher telah hilang..
Ratih menghela nafas panjang dan terdiam untuk beberapa saat.. Kemudian, wanita yang bagiku sudah sangat sempurna sebagai istri sekaligus ibu itu, mengambil gelas dari tanganku dan ikut meminum teh manis hangat buatannya sendiri..
“Jadi dalam mimpi, aku lagi temenin Dinar main di taman depan.. Nah pas aku lihat ke arah gerbang yang masih terbuka lebar, ada Mak Tua lagi berdiri diluar gerbang sambil menatap tajam ke arah ku dan Dinar.. Aku sempet mau jalan menjemput Mak Tua untuk menyuruhnya masuk, tapi Dinar tiba-tiba pegangin tangan ku kenceng banget sambil teriak teriak nda oleh unda, nda oleh unda(Ga boleh Bunda 2x).. Pas aku tengok lagi ke gerbang, Mak Tua udah ga ada.. Itu aja sih, Yah”
Aku termenung mencermati penuturan Ratih tentang mimpinya semalam.. Aneh, kenapa bisa kami berdua mimpi sama-sama bertemu dengan Mak Tua.. Sosok yang jelas-jelas sudah meninggal.. Meski mimpi ku jauh lebih menyeramkan, namun tetap saja terasa ada yang janggal..
“Sudah, Yah.. Cuma mimpi aja koq.. Lebih baik Ayah sekarang mandi, habis itu sarapan.. Oh iya, Mbak Nur udah baikan.. Kalo bisa ayah nanti izin pulang cepat, soalnya ada kerabat Mbak Nur yang mau datang dari kampung dan berbicara sesuatu ke Ayah”
“Bicara soal apa, Bun?”
“Ga tau.. Bunda tanya Mbak Nur nya juga ga mau bilang”
Tak mau pusing memikirkan hal apa gerangan yang akan dibicarakan oleh kerabatnya Mbak Nur nanti sore, aku bangkit bersama Ratih dari sofa.. Aku lantas berjalan masuk ke kamar untuk mengambil Hp dan memeriksa barangkali ada pesan terbaru.. Sementara Ratih keluar rumah menuju halaman depan..
Saat aku sedang berjalan menuju kamar mandi, aku sempat menghentikan langkah begitu melihat Ratih masuk kembali ke dalam rumah dengan wajah diliputi kebingungan sambil membawa sesuatu ditangan..
“Kenapa. Bun?”
“Engga kenapa napa, Yah.. Cuma bingung aja pas aku ke gerbang, ada gelas kosong tergeletak dibawah”
Handuk mandi yang sudah aku pegangi tanpa sadar terjatuh, karena aku terkejut mendengar jawaban Ratih.. Jadi kejadian semalam itu nyata atau tidak? Jika nyata, siapa yang memindahkan ku ke sofa? Seharusnya, aku terbangun didepan gerbang saat hilang kesadaran.. Jika mimpi, mengapa gelas sisa teh yang aku minum semalam ada di depan sana..
Aku juga terpaksa membuka gerbang sendiri karena setelah membunyikan klakson mobil dua kali Mbak Nur tidak jua menampakkan diri.. Sepertinya asisten rumah tangga ku itu masih kurang enak badan.. Tidak jadi masalah besar bagiku untuk membuka gerbang seorang diri sampai memarkirkan mobil dalam garasi..
Aku yang memang sudah makan malam bersama Kepala Cabang selepas rapat, masih merasa kenyang namun belum begitu mengantuk untuk segera menyusul Ratih tidur di kamar.. Aku hanya mengganti pakaian dengan kaus dan celana pendek.. Dengan membawa segelas teh tawar panas dan sebungkus rokok, aku memutuskan untuk duduk beberapa saat diteras depan rumah sambil menunggu kantuk datang..
Suasana malam nampak sepi, padahal baru jam 10 an malam.. Mungkin semua orang sudah terlelap karena lelah melewati aktifitas rutin nan padat dihari pertama kerja selepas weekend.. Suara jalan raya didepan rumahku pun terdengar cukup lengang, ditandai dengan jarangnya bunyi klakson dan suara kendaraan lewat..
Beberapa hembusan asap putih aku keluarkan dari mulut dan sesudahnya meneguk air teh hangat buatanku sendiri.. Jujur, sejak mendengar kabar mengejutkan dari Rima terkait atas meninggalnya Mak Tua karena gantung diri, membuat fikiranku terus memikirkan hal tersebut..
Semua terasa janggal bagiku, mengetahui sosok Mak Tua yang sudah berusia senja seharusnya tinggal menunggu sedikit saja waktu sebelum ajal menjemput, namun malah nekat menghabiskan sisa umurnya dengan cara tidak wajar..
Sempat terlintas dalam benak, kematian Mak Tua ada hubungannya dengan kemarahan Ambu saat ia mengetahui sang paraji menintipkan benda berbau mistis untuk Ratih.. Namun aku segera tepis dugaan keji tersebut karena Ambu tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu.. Lagi pula, jika Ambu yang melakukan pasti ia akan luapkan amarahnya lewat sesuatu yang gaib, bukan dengan cara menggantung Mak Tua..
Apalagi aku sempat meminta Rima menceritakan secara detail tentang kematian Mak Tua lewat WA dan bagaimana reaksi Ambu.. Rima bilang jasad Mak Tua yang sudah menggantung di pintu ruang tamu rumahnya, dilihat pertama kali oleh Mang Rohim, salah satu petani yang dipekerjakan Ambu..
Saat Mang Rohim berjalan melintasi rumah Mak Tua sempat dia mendengar samar-samar suara erangan seseorang dari dalam.. Karena curiga, laki-laki yang aku tahu memiliki 6 orang anak itu mencoba mengintip dari lubang dinding bilik rumah Mak Tua.. Dan ia melihat sang Paraji sudah tergantung dengan wajah membiru, kedua mata terbelalak keatas serta lidah menjulur keluar..
Terkait reaksi Ambu, Rima hanya membalas pesan WA yang bilang Ambu hanya bersikap dingin tanpa mengatakan apapun setelah mendengar kabar kematian salah satu wanita tertua didusun.. Aku juga sempat mewanti wanti Rima agar jangan sampai ia bercerita ke Ratih akan kematian Mak Tua yang tak wajar..
Aku menyudahi aktifitas menghisap rokok dan meneguk sisa teh hangat saat melihat jam tangan menunjukkan hampir pukul 11 malam.. Dengan perlahan aku bangkit dari kursi jati sambil mengangkat gelas kosong bekas air teh, dan berniat masuk ke dalam untuk istirahat..
Namun tiba-tiba, telinga ku menangkap suara benda yang seperti dipukul-pukulkan kegerbang dari arah luar.. Dugaan awalku itu adalah ulah anak-anak muda iseng yang lewat.. Semula, aku ingin mengacuhkan karena suaranya pun terdengar tidak begitu kencang.. Tapi baru saja aku ingin melanjutkan langkah masuk ke dalam, suara pukulan dari luar gerbang terdengar semakin sering..
Tanpa pikir panjang dan sudah menyiapkan kalimat omelan bagi siapa saja yang iseng memukul gerbang rumahku dari luar dimasa hampir tengah malam, aku berjalan cepat menuju ke depan..
Aneh! Cahaya lampu depan gerbangku mendadak redup dengan sendirinya bahkan hampir mati seiring suara pukulan yang terdengar tadi juga menghilang, begitu aku sudah berdiri persis didepan pintu gerbang.. Aku sempat menduga ada masalah tegangan listrik dirumah, dan akan mengecek nya nanti setelah aku berhasil memarahi para pengganggu..
Aku bahkan sempat mengintip keluar dari celah antara dua pintu gerbang yang memang sedikit renggang.. Namun temaramnya cahaya lampu membuatku sedikit kesulitan untuk melihat jelas keadaan diluar.. Baru setelah ada sorot lampu kendaraan yang terang melintasi jalan untuk sesaat, aku mampu melihat meski sebentar..
Tidak ada siapapun diluar.. Aku bernafas lega karena mungkin anak-anak muda iseng sudah kabur saat menyadari sang pemilik rumah akan muncul.. Saat aku hendak berjalan lagi ke arah rumah, suara pukulan kembali terdengar dari luar.. Emosi ku sontak memuncak dan langsung memutar anak kunci dari sarangnya lalu membuka lebar-lebar pintu gerbang..
TUKK..
Bukannya mendapati anak-anak muda yang iseng sedang berkumpul didepan gerbang rumah, aku malah terkejut begitu sesuatu terasa baru saja membentur dahi.. Sialnya, lampu diseluruh rumah dan jalan padam secara bersamaan.. Hal itu tentu menyulitkan aku untuk melihat benda apa yang barusan mengenai kening..
Tangan kanan sengaja aku kibaskan ke depan wajah untuk menepis jika memang ada benda dihadapan.. Dan benar, tanganku sempat mengenai suatu benda yang terasa dingin.. Secara perlahan dan dalam keadaan gelap, aku meraba raba ke arah depan dan berhasil memegang benda yang ternyata ada dua dan terasa sedingin es..
Kedua bola mata ku seketika membesar sewaktu menyadari bahwa dua benda yang saat ini aku pegang adalah sepasang kaki manusia..
Sontak aku langsung jatuh kebelakang karena terkejut sekaligus diserang rasa takut luar biasa, saat menoleh ke atas ternyata ada mahluk menakutkan sedang menggantung melayang dibawah pencahayaan lampu gerbang yang perlahan kembali menyala redup..
Meski masih nampak tak jelas, aku tahu sosok mahluk yang menggantung diatasku itu melayang turun ke bawah dengan gerakan lambat.. Gelas bekas wadah air teh hangat sempat terlepas dari genggaman seiring aku mulai mengenali wajah sosok menyeramkan tersebut..
“Mm.. Mak Tu.. Aaa” Ucapku dengan suara terbata-bata karena rasa takut telah menguasai diri dan membuat lidah terasa kelu..
Sosok mahluk menyerupai Mak Tua dengan rambut putih panjang acak-acakan dan wajah membiru serta lidah panjang menjulur karena jeratan kain batik dileher yang tergolek patah kesamping kiri, terus melayang turun masih dengan kedua mata membelalak keatas.. Mengapa aku bisa melihat wajahnya dengan jelas,sebab lampu depan gerbang yang awalnya redup malah bertambah terang, seolah disengaja agar aku makin termakan rasa takut..
Untuk beberapa lamanya, tubuhku terasa menegang.. Keringat dingin mengucur deras dan jantung berdegup kencang saat sosok menakutkan yang berdiri sejengkal diatas tanah, perlahan melayang mendekat kearahku.. Semakin mendekatnya ia, makin jelas mata ini melihat tubuhnya yang kaku dan kian tercium pula aroma kotoran manusia bercampur bau busuk menyengat hidung..
Boleh percaya atau tidak, saat itu lidahku tak lagi bisa mengeluarkan suara.. Jangankan membaca ayat ayat suci Alqur’an, untuk bergerak memejamkan kedua mata pun aku tak mampu.. Sebab rasa takut sudah benar-benar mengambil alih akal sehat..
Pandangan pun seolah dipaksa untuk terus menyaksikan Dedemit berupa sosok Mak Tua.. Dipaksa terus memandangi kedua bola matanya yang awal mendelik ke atas sudah berputar melotot menatapku, bersamaan dengan leher patahnya yang kesamping kiri berubah lurus..
Aku mencoba terus mengingat ingat bacaan Ayat suci yang sepertinya hilang dari benak sambil berusaha berteriak minta tolong kepada siapapun yang aku harap bisa mendengar.. Tapi tetap saja leherku terasa kering seperti tercekik.. Tak ada suara yang keluar dari sana..
Mendadak dari arah belakang telinga ku mendengar suara seorang laki-laki dengan lantang membentak dalam bahasa sunda kasar..
“INDIT SIA(PERGI KAU)!!!”
Dua kata sama yang pernah aku dengar saat bertemu sosok misterius Kakek pembaca cangkul sewaktu didusun, terdengar berteriak ke arah Mak Tua, bersamaan dengan hilangnya kesadaranku begitu pundak sebelah kiri terasa dipegang seseorang dari belakang..
“Yah.. Ayah bangun.. Kenapa tidur di sofa?”
Suara Ratih terdengar samar ditelinga, hingga aku perlahan membuka mata dan melihat Ratih sedang duduk bertumpu lutut persis di samping.. Aku seketika bangkit dan berdiri mencari sosok penampakan Mak Tua yang sepertinya baru saja aku temui didepan gerbang..
Berkali-kali aku mengedarkan pandangan ke segala arah, dan baru mengucap istighfar begitu menyadari hari sudah pagi dan aku tak lagi berada di depan gerbang..
“Ayah kenapa? Koq muka nya panik gitu?” Tanya Ratih yang menatapku dengan pandangan bingung..
Aku mendudukkan diri kembali di atas sofa dan mengusap wajah beberapa kali dengan dua telapak tangan.. Sempat juga aku memeriksa kaus yang aku kenakan masih terasa basah oleh keringat..
“Tolong buatin aku teh manis, Bun” Pinta ku kepada Ratih yang langsung beranjak pergi menuju dapur..
“Astaghfirullahaladziem, ternyata cuma mimpi.. Kenapa berasa kek nyata banget” Ucapku dalam hati dengan rasa masih tak percaya akan mimpi buruk yang aku alami semalam..
“Ayah kenapa tidur disofa?” Tanya Ratih lagi sambil menyodorkanku segelas teh manis hangat..
Aku yang masih merasa sedikit lemas meski dalam hati bersyukur karena kejadian menyeramkan yang terasa nyata semalam hanyalah bunga tidur semata, mengambil minuman dan meneguknya secara perlahan..
“Ayah kecapean keknya, Bun.. Semalem ayah pulang udah malem” Jawabku beralasan, sengaja tidak menceritakan hal menakutkan dalam mimpiku ke Ratih..
“Aku juga mimpi aneh semalam, Yah” Sambung Ratih seraya menyandarkan punggung ke sofa sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit..
“Mimpi apa?”
“Aku mimpi Mak Tua datang kesini”
Aku hampir tersedak mendengar kalimat Ratih barusan, hingga terbatuk beberapa saat.. Sementara Ratih sendiri nampak bingung melihat reaksiku dan langsung mengambil beberapa helai tissue diatas meja, lalu mengelap mulut ku menggunakan benda putih itu..
“Ceritain ke aku mimpi kamu semalam, Bun” Pintaku sedikit memaksa Ratih, saat rasa gatal dileher telah hilang..
Ratih menghela nafas panjang dan terdiam untuk beberapa saat.. Kemudian, wanita yang bagiku sudah sangat sempurna sebagai istri sekaligus ibu itu, mengambil gelas dari tanganku dan ikut meminum teh manis hangat buatannya sendiri..
“Jadi dalam mimpi, aku lagi temenin Dinar main di taman depan.. Nah pas aku lihat ke arah gerbang yang masih terbuka lebar, ada Mak Tua lagi berdiri diluar gerbang sambil menatap tajam ke arah ku dan Dinar.. Aku sempet mau jalan menjemput Mak Tua untuk menyuruhnya masuk, tapi Dinar tiba-tiba pegangin tangan ku kenceng banget sambil teriak teriak nda oleh unda, nda oleh unda(Ga boleh Bunda 2x).. Pas aku tengok lagi ke gerbang, Mak Tua udah ga ada.. Itu aja sih, Yah”
Aku termenung mencermati penuturan Ratih tentang mimpinya semalam.. Aneh, kenapa bisa kami berdua mimpi sama-sama bertemu dengan Mak Tua.. Sosok yang jelas-jelas sudah meninggal.. Meski mimpi ku jauh lebih menyeramkan, namun tetap saja terasa ada yang janggal..
“Sudah, Yah.. Cuma mimpi aja koq.. Lebih baik Ayah sekarang mandi, habis itu sarapan.. Oh iya, Mbak Nur udah baikan.. Kalo bisa ayah nanti izin pulang cepat, soalnya ada kerabat Mbak Nur yang mau datang dari kampung dan berbicara sesuatu ke Ayah”
“Bicara soal apa, Bun?”
“Ga tau.. Bunda tanya Mbak Nur nya juga ga mau bilang”
Tak mau pusing memikirkan hal apa gerangan yang akan dibicarakan oleh kerabatnya Mbak Nur nanti sore, aku bangkit bersama Ratih dari sofa.. Aku lantas berjalan masuk ke kamar untuk mengambil Hp dan memeriksa barangkali ada pesan terbaru.. Sementara Ratih keluar rumah menuju halaman depan..
Saat aku sedang berjalan menuju kamar mandi, aku sempat menghentikan langkah begitu melihat Ratih masuk kembali ke dalam rumah dengan wajah diliputi kebingungan sambil membawa sesuatu ditangan..
“Kenapa. Bun?”
“Engga kenapa napa, Yah.. Cuma bingung aja pas aku ke gerbang, ada gelas kosong tergeletak dibawah”
Handuk mandi yang sudah aku pegangi tanpa sadar terjatuh, karena aku terkejut mendengar jawaban Ratih.. Jadi kejadian semalam itu nyata atau tidak? Jika nyata, siapa yang memindahkan ku ke sofa? Seharusnya, aku terbangun didepan gerbang saat hilang kesadaran.. Jika mimpi, mengapa gelas sisa teh yang aku minum semalam ada di depan sana..
somatt dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup