- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.8K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#317
gatra 46
Quote:
DALAM PADA ITU, perkelahian di dalam ruangan itu pun menjadi semakin sengit. Lawan-lawan yang tidak terduga ternyata telah dijumpai oleh gerombolan penyerang itu. Yang kemudian menjadi paling parah adalah sekelompok orang yang bertempur melawan Kuda Merta. Sejenak kemudian maka seorang demi seorang telah dijatuhkannya. Mati atau terluka berat. Kuda Merta memang ingin segera menyelesaikan tugasnya untuk dapat menolong Anjam Kayuwangi yang agaknya terdesak.
Arya Gading, yang bertempur dengan segenap kemampuannya, tidak dapat berbuat secepat Kuda Merta. Menghadapi beberapa orang sekaligus, Arya Gading masih harus berjuang sekuat-kuatnya, sekedar untuk bertahan. Namun ia masih mendapatkan kesulitan untuk memecahkan kepungan dan membantu Anjam Kayuwangi.
Ketika Arya Gading sempat melihat perkelahian antara gurunya dengan lawannya maka dadanya menjadi berdebar-debar. Ia dapat melihat, bahwa seorang dari lawan-lawan gurunya adalah seorang yang berilmu tinggi. Dengan demikian, maka Arya Gading pun menjadi semakin garang. Pedangnya menjadi semakin cepat berputar dan menggelegar seperti patuk seekor burung sikatan.
Sementara itu, lawan Kuda Merta seorang demi seorang telah berjatuhan. Namun setiap kali orang baru telah menyerangnya pula. Bahkan orang-orang yang semula berkelahi melawan Anjam Kayuwangi di dalam bilik itu pun telah membantu kawan-kawannya mengepung Kuda Merta yang bersenjata pisau itu. Demikianlah maka akhirnya Arya Gading berhasil melumpuhkan lawan-lawannya, karena sebagian yang lain telah bertempur melawan Kuda Merta, namun yang seorang demi seorang terlempar dari gelanggang.
Pada saat yang gawat itulah Arya Gading mencoba melihat bilik yang lain yang dibatasi dengan dinding bambu. Sambil mematahkan satu dua anyaman ia melihat bahwa keadaan Anjam Kayuwangi benar-benar gawat. Kini ia sudah terjepit di sudut bilik. Sejenak kemudian maka lawannya pasti akan dapat membinasakannya.
“Inikah nilai dari sepuh Pasanggaran?” berkata Welat Kuning.
“Pada saatnya, Jalatunda pasti akan segera menguasai tanah Jawa ini. Jalatunda mempunyai murid -murid yang jauh lebih kuat. Baik jumlahnya maupun kemampuan seorang demi seorang. Nah, sampailah saatnya Pasanggaran akan runtuh.”
“Persetan,” Anjam Kayuwangi menggeram, “kau jangan mengigau. Pasanggaran akan tetap tegak”
“He..?” Welat Kuning mengerutkan keningnya.
“Gila. Kau masih juga mengigau disaat matimu.”
Anjam Kayuwangi tidak menjawab. Tetapi serangan lawannya menjadi semakin garang, sehingga akhirnya Anjam Kayuwangi benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Namun pada saat itulah, tiba-tiba dinding yang menyekat antara kedua bilik di rumah itu pecah oleh dorongan kekuatan yang besar. Seorang anak muda muncul dengan pedang di tangan. Anak muda itu adalah Arya Gading.
“Gila,” geram Welat Kuning. Tetapi ketika pedang Arya Gading berkelebat, ia terpaksa berusaha menghindar. Ternyata bahwa Arya Gading memburunya terus, dengan sabetan - sabetan yang dahsyat.
Namun lawannya adalah seorang yang pilih tanding. Itulah sebabnya, sejenak kemudian ia berhasil menguasai dirinya dan dengan mantap melawan serangan-serangan Arya Gading.
“Licik, kau cari mati anak muda. Kebetulan sekali, kau datang mengantar lehermu kesini. Bukankah kau Arya Gading?” ia berteriak.
Tetapi Arya Gading dan Anjam Kayuwangi tidak menjawab. Keduanya segera menempatkan diri untuk melawan Macan Ireng.
“Sisihkan anak muda ini,” teriak Welat Kuning kepada orang yang berdiri di muka pintu.
Tetapi orang yang berdiri di muka pintu itu sudah tidak mampu berbuat apa-apa, karena ujung pisau Kuda Merta telah menyentuhnya. Demikianlah lambat laun, para penyerang itu pun menjadi semakin berkurang. Seorang demi seorang mereka telah terbunuh. Jika bukan, oleh Kuda Merta, maka seledang Ki Ageng-lah yang telah melemparkan lawannya.
Namun orang yang berilmu paling tinggi dan juga merupakan murid tertua dari padepokan Jalatunda yang bernama Macan Ireng, yang bersama-sama dengan beberapa orang berkelahi melawan Kuda Merta pun masih juga berusaha untuk menang. Namun agaknya kesempatannya semakin lama menjadi semakin tipis. Dalam pada itu, di halaman keadaan para penyerang itu menjadi lebih parah. Cantrik-cantrik Pasanggaran mendesaknya ke satu sudut di halaman sehingga mereka hampir tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu.
“Tentu ada pengkhianatnya di antara kita,” geram salah seorang dari para penyerang itu.
Namun mereka tidak sempat lagi mencari, siapakah pengkhianatnya yang ada di antara mereka itu. Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin jelas akan segera sampai ke akhirnya. Kuda Merta sudah berhasil mengurangi lawannya seorang demi seorang, sehingga akhirnya, Kuda Merta harus berhadapan dengan dua orang saja. Yaitu, Macan Ireng dan seorang lelaki dengan tubuh pendek namun gempal. Justru orang inilah yang paling licik yang pernah dijumpainya.
Demikianlah dalam keadaan terdesak, maka satu orang yang licik itu sama sekali tidak bertanggung jawab lagi terhadap apa yang terjadi. Ketika Macan Ireng mencoba menyerang Kuda Merta dari lambung, dan berhasil menarik perlawanan orang tua itu, maka tiba-tiba saja ia meloncat berlari meninggalkan lawannya.
“Pengecut,” Macan Ireng dan Kuda Merta menggeram hampir berbarengan.
Namun ia tidak melepaskannya. Ditinggalkannya Macan Ireng dan dengan marahnya ia mengejar lawannya yang melarikan diri itu.
Ternyata bahwa lawannya berhasil keluar dari pintu butulan dan turun ke longkangan samping. Namun ia tidak dapat lari lebih jauh lagi. Tiba-tiba saja ia mendengar suara berdesing dengan sangat cepatnya, dan terasa segores luka yang pedih di lambungnya. Dengan serta-merta ia memutar diri. Dengan sekuat tenaga dilemparkannya sebuah pisau belati ke arah Kuda Merta.
Tetapi Kuda Merta sempat melihat pisau belati yang meluncur itu, sehingga ia masih sempat menghindarinya. Sejenak kemudian maka orang itu pun mencoba untuk sekali lagi melepaskan diri dari tangan Kuda Merta.
Namun Kuda Merta yang marah karena kelicikannya itu tidak membiarkannya meninggalkan halaman itu. Ketika orang itu mencoba meloncati dinding batu, maka sekali lagi terdengar pisau Kuda Merta meluncur dan tali pada pisau itu telah menjerat erat kakinya. Dengan suatu hentakan maka orang itu pun terseret jatuh di hadapan Kuda Merta yang sedang marah. Tetapi orang itu ternyata tidak menyerah. Sekali lagi sebuah pisau belati meluncur cepat sekali.
Arya Gading, yang bertempur dengan segenap kemampuannya, tidak dapat berbuat secepat Kuda Merta. Menghadapi beberapa orang sekaligus, Arya Gading masih harus berjuang sekuat-kuatnya, sekedar untuk bertahan. Namun ia masih mendapatkan kesulitan untuk memecahkan kepungan dan membantu Anjam Kayuwangi.
Ketika Arya Gading sempat melihat perkelahian antara gurunya dengan lawannya maka dadanya menjadi berdebar-debar. Ia dapat melihat, bahwa seorang dari lawan-lawan gurunya adalah seorang yang berilmu tinggi. Dengan demikian, maka Arya Gading pun menjadi semakin garang. Pedangnya menjadi semakin cepat berputar dan menggelegar seperti patuk seekor burung sikatan.
Sementara itu, lawan Kuda Merta seorang demi seorang telah berjatuhan. Namun setiap kali orang baru telah menyerangnya pula. Bahkan orang-orang yang semula berkelahi melawan Anjam Kayuwangi di dalam bilik itu pun telah membantu kawan-kawannya mengepung Kuda Merta yang bersenjata pisau itu. Demikianlah maka akhirnya Arya Gading berhasil melumpuhkan lawan-lawannya, karena sebagian yang lain telah bertempur melawan Kuda Merta, namun yang seorang demi seorang terlempar dari gelanggang.
Pada saat yang gawat itulah Arya Gading mencoba melihat bilik yang lain yang dibatasi dengan dinding bambu. Sambil mematahkan satu dua anyaman ia melihat bahwa keadaan Anjam Kayuwangi benar-benar gawat. Kini ia sudah terjepit di sudut bilik. Sejenak kemudian maka lawannya pasti akan dapat membinasakannya.
“Inikah nilai dari sepuh Pasanggaran?” berkata Welat Kuning.
“Pada saatnya, Jalatunda pasti akan segera menguasai tanah Jawa ini. Jalatunda mempunyai murid -murid yang jauh lebih kuat. Baik jumlahnya maupun kemampuan seorang demi seorang. Nah, sampailah saatnya Pasanggaran akan runtuh.”
“Persetan,” Anjam Kayuwangi menggeram, “kau jangan mengigau. Pasanggaran akan tetap tegak”
“He..?” Welat Kuning mengerutkan keningnya.
“Gila. Kau masih juga mengigau disaat matimu.”
Anjam Kayuwangi tidak menjawab. Tetapi serangan lawannya menjadi semakin garang, sehingga akhirnya Anjam Kayuwangi benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Namun pada saat itulah, tiba-tiba dinding yang menyekat antara kedua bilik di rumah itu pecah oleh dorongan kekuatan yang besar. Seorang anak muda muncul dengan pedang di tangan. Anak muda itu adalah Arya Gading.
“Gila,” geram Welat Kuning. Tetapi ketika pedang Arya Gading berkelebat, ia terpaksa berusaha menghindar. Ternyata bahwa Arya Gading memburunya terus, dengan sabetan - sabetan yang dahsyat.
Namun lawannya adalah seorang yang pilih tanding. Itulah sebabnya, sejenak kemudian ia berhasil menguasai dirinya dan dengan mantap melawan serangan-serangan Arya Gading.
“Licik, kau cari mati anak muda. Kebetulan sekali, kau datang mengantar lehermu kesini. Bukankah kau Arya Gading?” ia berteriak.
Tetapi Arya Gading dan Anjam Kayuwangi tidak menjawab. Keduanya segera menempatkan diri untuk melawan Macan Ireng.
“Sisihkan anak muda ini,” teriak Welat Kuning kepada orang yang berdiri di muka pintu.
Tetapi orang yang berdiri di muka pintu itu sudah tidak mampu berbuat apa-apa, karena ujung pisau Kuda Merta telah menyentuhnya. Demikianlah lambat laun, para penyerang itu pun menjadi semakin berkurang. Seorang demi seorang mereka telah terbunuh. Jika bukan, oleh Kuda Merta, maka seledang Ki Ageng-lah yang telah melemparkan lawannya.
Namun orang yang berilmu paling tinggi dan juga merupakan murid tertua dari padepokan Jalatunda yang bernama Macan Ireng, yang bersama-sama dengan beberapa orang berkelahi melawan Kuda Merta pun masih juga berusaha untuk menang. Namun agaknya kesempatannya semakin lama menjadi semakin tipis. Dalam pada itu, di halaman keadaan para penyerang itu menjadi lebih parah. Cantrik-cantrik Pasanggaran mendesaknya ke satu sudut di halaman sehingga mereka hampir tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu.
“Tentu ada pengkhianatnya di antara kita,” geram salah seorang dari para penyerang itu.
Namun mereka tidak sempat lagi mencari, siapakah pengkhianatnya yang ada di antara mereka itu. Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin jelas akan segera sampai ke akhirnya. Kuda Merta sudah berhasil mengurangi lawannya seorang demi seorang, sehingga akhirnya, Kuda Merta harus berhadapan dengan dua orang saja. Yaitu, Macan Ireng dan seorang lelaki dengan tubuh pendek namun gempal. Justru orang inilah yang paling licik yang pernah dijumpainya.
Demikianlah dalam keadaan terdesak, maka satu orang yang licik itu sama sekali tidak bertanggung jawab lagi terhadap apa yang terjadi. Ketika Macan Ireng mencoba menyerang Kuda Merta dari lambung, dan berhasil menarik perlawanan orang tua itu, maka tiba-tiba saja ia meloncat berlari meninggalkan lawannya.
“Pengecut,” Macan Ireng dan Kuda Merta menggeram hampir berbarengan.
Namun ia tidak melepaskannya. Ditinggalkannya Macan Ireng dan dengan marahnya ia mengejar lawannya yang melarikan diri itu.
Ternyata bahwa lawannya berhasil keluar dari pintu butulan dan turun ke longkangan samping. Namun ia tidak dapat lari lebih jauh lagi. Tiba-tiba saja ia mendengar suara berdesing dengan sangat cepatnya, dan terasa segores luka yang pedih di lambungnya. Dengan serta-merta ia memutar diri. Dengan sekuat tenaga dilemparkannya sebuah pisau belati ke arah Kuda Merta.
Tetapi Kuda Merta sempat melihat pisau belati yang meluncur itu, sehingga ia masih sempat menghindarinya. Sejenak kemudian maka orang itu pun mencoba untuk sekali lagi melepaskan diri dari tangan Kuda Merta.
Namun Kuda Merta yang marah karena kelicikannya itu tidak membiarkannya meninggalkan halaman itu. Ketika orang itu mencoba meloncati dinding batu, maka sekali lagi terdengar pisau Kuda Merta meluncur dan tali pada pisau itu telah menjerat erat kakinya. Dengan suatu hentakan maka orang itu pun terseret jatuh di hadapan Kuda Merta yang sedang marah. Tetapi orang itu ternyata tidak menyerah. Sekali lagi sebuah pisau belati meluncur cepat sekali.
Quote:
KALI INI KUDA MERTA tidak menyangka, bahwa orang yang masih terbaring di tanah itu mampu melemparkan pisau sekeras dan secepat itu, sehingga dengan demikian, maka Kuda Merta menjadi agak lengah. Karena itu, maka usahanya untuk menghindari pisau itu tidak sepenuhnya berhasil. Meskipun pisau itu tidak menghunjam di arah jantungnya, namun pisau itu telah menyobek bahunya.
Kemarahan Kuda Merta benar-benar tidak dapat dikendalikannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja pisaunya kembali mematuk dengan ganas. Dua kali patukan pisau yang digerakkan oleh tenaga Kuda Merta. Bukan saja karena kemarahannya melihat kelicikan lawannya, tetapi juga karena pisau lawannya yang menyobek dan bahkan masih melekat di bahunya.
Orang itu masih sempat menggeliat sesaat. Sebuah luka yang mengerikan telah menganga di dadanya dan hampir di lehernya. Orang itu tidak dapat menahan perasaan sakit dan darah yang tidak habis-habisnya mengalir dari lukanya itu, sehingga sejenak kemudian maka ia pun telah melepaskan napasnya yang terakhir. Sejenak Kuda Merta memandang mayat yang terbujur di tanah. Baru kemudian ia sadar, bahwa pisau belati lawannya masih menancap di bahunya, sehingga dengan demikian maka perlahan-lahan pisau itu ditariknya. Demikian pisau itu terlepas, maka darah pun seakan-akan telah menyembur dari luka itu.
Namun Kuda Merta adalah seorang ahli pengobatan yang baik. Sebelum ia sempat mengobati lukanya, maka dipetiknya beberapa genggam daun menir. Setelah dikunyahnya, maka daun menir itu pun segera dilekatkannya pada lukanya, sehingga sejenak kemudian lukanya telah tidak mencucurkan darah terlalu banyak lagi.
Setelah sekali lagi mengawasi lawannya, Kuda Mertapun kemudian melangkah kembali ke dalam. Di dalam, beberapa orang masih berkelahi dengan gigihnya. Apalagi Anjam Kayuwangi. Tetapi ketika ia memasuki rumah itu, Macan Ireng sudah tidak ada di tempatnya lagi. Bergegas Kuda Merta memasuki bilik tempat Anjam Kayuwangi dan Arya Gading bertempur. Di tempat itulah ternyata Macan Ireng telah terjun dalam pertempuran. Lelaki bertubuh tinggi besar dengan kumis tebal itu semakin mengganas tandang grayangnya. Pedangnya yang panjang dan tipis seperti cakaran harimau kumbang. Menari –mari hendak mengoyak mangsanya.
“Menyerah sajalah,” berkata Kuda Merta.
Tetapi Macan Ireng menggelengkan kepalanya sambil menggeram, “Kalian sajalah yang menyerah. Aku mengemban tugas dari bukit Jalatunda untuk membinasakan kalian. Karena itulah maka kalian harus binasa.”
“Apakah dalam keadaan seperti ini kau masih merasa mampu untuk membinasakan kami?” bertanya Kuda Merta.
“Kenapa tidak. Kau semuanya harus mati. Semua orang -orang Pasanggaran harus mati.”
“Ki Sanak,” berkata Kuda Merta, “sebaiknya kau menyadari keadaanmu. Di luar, orang-orangmu telah terkepung oleh cantrik Pasanggaran. Tidak seorang pun dari kalian yang akan berhasil lolos dari halaman padepokan ini, karena sebenarnyalah kalian telah terjebak. Kami telah mengetahui rencana kalian”
“Persetan,” geram Macan Ireng.
Tiba-tiba saja Welat Kuning yang berdiri di samping Macan Ireng telah menyerang Anjam Kayuwangi dengan garangnya. Hampir tidak dapat dicegah lagi, ujung senjatanya telah siap menembus dada lelaki paruh baya yang sedang lengah itu. Arya Gading yang berdiri di samping Anjam Kayuwangi segera meloncat ke samping sambil menebaskan pedangnya ke arah hulu pedang pendak Welat Kuning. Maksudnya agar ujung pedang orang itu bergeser dari dada Anjam Kayuwangi. Sementara itu Anjam Kayuwangi sendiri terkejut bukan kepalang. Karena itu yang dapat dilakukannya hanyalah sekedar menangkis serangan itu dengan pedangnya.
Tetapi untunglah bahwa usaha Arya Gading berhasil, sehingga benturan pedangnya telah menarik serangan orang itu ke samping, sehingga sama sekali tidak mengenai sasarannya. Namun ternyata yang lebih parah dari itu, adalah tindakan Kuda Merta yang terkejut. Hampir di luar sadarnya, tangannya telah bergerak dan ujung pisaunya telah meluncur dan menghunjam ke lambung orang yang sedang menyerang Anjam Kayuwangi. Akibat dari serangan Kuda Merta itu ternyata tidak dapat dihindarkan lagi dari sentuhan maut.
“Ki Sanak,” berkata Kuda Merta yang kemudian berjongkok di samping orang itu, “aku tidak sengaja membunuhmu. Tetapi barangkali aku akan dapat mengobati luka-lukamu.”
“Persetan,” Welat Kuning menggeram sambil meyeringai menahan sakit.
Kuda Merta masih melihat wajah Welat Kuning menegang menahan sakit. Namun agaknya lukanya benar-benar telah parah, sehingga kemungkinan untuk mengobatinya pun tidak ada sama sekali. Dengan demikian Kuda Merta, Arya Gading, dan Anjam Kayuwangi tanpa dapat berbuat apa-apa menyaksikan perlahan Welat Kuning dijemput oleh maut. Ketika ia membuka matanya sekali lagi, dipandanginya Kuda Merta sejenak. Masih tampak keheranan membayang di sorot mata yang sudah redup itu.
Melihat Welat Kuning mati meregang nyawa di depan mata. Macan Ireng menjadi marah bukan kepalang. Wajahnya membesi matanya merah menahan luapan amarah dan dendam. Geramnya dengan gemetar, “ Kau bunuh Welat Kuning. Kalian harus membayar nyawanya dengan semua nyawa orang –orang Pasanggaran!”
Kuda Merta menyahut, “ Maaf Kisanak, bukan maksud aku membunuh adik seperguruan mu itu. Semua aku lakukan karena aku tidak ingin dia melukai saudara –saudara ku “
Macan Ireng mengerutkan alisnya. Ketika ia memandangi keadaan di sekelilingnya, dilihatnya beberapa orang cantrik masih berdiri mengerumuninya. Karena itu, maka Macan Ireng melangkah maju sambil berkata, “Ayo kau Kuda Merta. Mari kita berperang tanding. Setelah aku membunuh mu. Selanjutnya satu persatu dari kalian akan aku sembelih”
“Ayo, mulailah Kuda Merta. Malam telah hampir menjelang pagi. Kita selesaikan, persoalan di antara kita sebelum pagi,” geram Macan Ireng.
Kuda Merta tidak menjawab. Ia melangkah selangkah lagi maju. Ujung pisau yang terikat dengan tali segera menunduk tepat mengarah kedada lawannya. Dalam pada itu, Macan Ireng tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat menyerang dengan sebuah ayunan pedang tipisnya. Meskipun telah bertempur beberapa lama, namun kecepatannya bergerak masih belum susut barang serambutpun.
Kuda Merta yang telah bersiap menghadapi kemungkinan itu, dengan cepatnya menghindarkan diri. Bahkan ujung pisaunya pun segera terjulur mematuk lambung. Namun Macan Ireng masih sempat pula mengelakkan dirinya. Demikianlah kini mereka terlihat dalam perang tanding yang dahsyat. Macan Ireng memeras ilmunya dalam kemungkinan yang terakhir. Disadarinya bahwa Kuda Merta adalah seorang yang pilih tanding. Dalam keadaan yang sempurna pun ia tidak akan mudah mengalahkannya, apalagi kini. Tenaganya sudah banyak berkurang, dan keringatnya pun seolah-olah telah kering terperas. Tetapi ia adalah seorang pendekar besar yang sadar akan kebesaran dan harga dirinya sebagai seorang laki-laki jantan.
Kemarahan Kuda Merta benar-benar tidak dapat dikendalikannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja pisaunya kembali mematuk dengan ganas. Dua kali patukan pisau yang digerakkan oleh tenaga Kuda Merta. Bukan saja karena kemarahannya melihat kelicikan lawannya, tetapi juga karena pisau lawannya yang menyobek dan bahkan masih melekat di bahunya.
Orang itu masih sempat menggeliat sesaat. Sebuah luka yang mengerikan telah menganga di dadanya dan hampir di lehernya. Orang itu tidak dapat menahan perasaan sakit dan darah yang tidak habis-habisnya mengalir dari lukanya itu, sehingga sejenak kemudian maka ia pun telah melepaskan napasnya yang terakhir. Sejenak Kuda Merta memandang mayat yang terbujur di tanah. Baru kemudian ia sadar, bahwa pisau belati lawannya masih menancap di bahunya, sehingga dengan demikian maka perlahan-lahan pisau itu ditariknya. Demikian pisau itu terlepas, maka darah pun seakan-akan telah menyembur dari luka itu.
Namun Kuda Merta adalah seorang ahli pengobatan yang baik. Sebelum ia sempat mengobati lukanya, maka dipetiknya beberapa genggam daun menir. Setelah dikunyahnya, maka daun menir itu pun segera dilekatkannya pada lukanya, sehingga sejenak kemudian lukanya telah tidak mencucurkan darah terlalu banyak lagi.
Setelah sekali lagi mengawasi lawannya, Kuda Mertapun kemudian melangkah kembali ke dalam. Di dalam, beberapa orang masih berkelahi dengan gigihnya. Apalagi Anjam Kayuwangi. Tetapi ketika ia memasuki rumah itu, Macan Ireng sudah tidak ada di tempatnya lagi. Bergegas Kuda Merta memasuki bilik tempat Anjam Kayuwangi dan Arya Gading bertempur. Di tempat itulah ternyata Macan Ireng telah terjun dalam pertempuran. Lelaki bertubuh tinggi besar dengan kumis tebal itu semakin mengganas tandang grayangnya. Pedangnya yang panjang dan tipis seperti cakaran harimau kumbang. Menari –mari hendak mengoyak mangsanya.
“Menyerah sajalah,” berkata Kuda Merta.
Tetapi Macan Ireng menggelengkan kepalanya sambil menggeram, “Kalian sajalah yang menyerah. Aku mengemban tugas dari bukit Jalatunda untuk membinasakan kalian. Karena itulah maka kalian harus binasa.”
“Apakah dalam keadaan seperti ini kau masih merasa mampu untuk membinasakan kami?” bertanya Kuda Merta.
“Kenapa tidak. Kau semuanya harus mati. Semua orang -orang Pasanggaran harus mati.”
“Ki Sanak,” berkata Kuda Merta, “sebaiknya kau menyadari keadaanmu. Di luar, orang-orangmu telah terkepung oleh cantrik Pasanggaran. Tidak seorang pun dari kalian yang akan berhasil lolos dari halaman padepokan ini, karena sebenarnyalah kalian telah terjebak. Kami telah mengetahui rencana kalian”
“Persetan,” geram Macan Ireng.
Tiba-tiba saja Welat Kuning yang berdiri di samping Macan Ireng telah menyerang Anjam Kayuwangi dengan garangnya. Hampir tidak dapat dicegah lagi, ujung senjatanya telah siap menembus dada lelaki paruh baya yang sedang lengah itu. Arya Gading yang berdiri di samping Anjam Kayuwangi segera meloncat ke samping sambil menebaskan pedangnya ke arah hulu pedang pendak Welat Kuning. Maksudnya agar ujung pedang orang itu bergeser dari dada Anjam Kayuwangi. Sementara itu Anjam Kayuwangi sendiri terkejut bukan kepalang. Karena itu yang dapat dilakukannya hanyalah sekedar menangkis serangan itu dengan pedangnya.
Tetapi untunglah bahwa usaha Arya Gading berhasil, sehingga benturan pedangnya telah menarik serangan orang itu ke samping, sehingga sama sekali tidak mengenai sasarannya. Namun ternyata yang lebih parah dari itu, adalah tindakan Kuda Merta yang terkejut. Hampir di luar sadarnya, tangannya telah bergerak dan ujung pisaunya telah meluncur dan menghunjam ke lambung orang yang sedang menyerang Anjam Kayuwangi. Akibat dari serangan Kuda Merta itu ternyata tidak dapat dihindarkan lagi dari sentuhan maut.
“Ki Sanak,” berkata Kuda Merta yang kemudian berjongkok di samping orang itu, “aku tidak sengaja membunuhmu. Tetapi barangkali aku akan dapat mengobati luka-lukamu.”
“Persetan,” Welat Kuning menggeram sambil meyeringai menahan sakit.
Kuda Merta masih melihat wajah Welat Kuning menegang menahan sakit. Namun agaknya lukanya benar-benar telah parah, sehingga kemungkinan untuk mengobatinya pun tidak ada sama sekali. Dengan demikian Kuda Merta, Arya Gading, dan Anjam Kayuwangi tanpa dapat berbuat apa-apa menyaksikan perlahan Welat Kuning dijemput oleh maut. Ketika ia membuka matanya sekali lagi, dipandanginya Kuda Merta sejenak. Masih tampak keheranan membayang di sorot mata yang sudah redup itu.
Melihat Welat Kuning mati meregang nyawa di depan mata. Macan Ireng menjadi marah bukan kepalang. Wajahnya membesi matanya merah menahan luapan amarah dan dendam. Geramnya dengan gemetar, “ Kau bunuh Welat Kuning. Kalian harus membayar nyawanya dengan semua nyawa orang –orang Pasanggaran!”
Kuda Merta menyahut, “ Maaf Kisanak, bukan maksud aku membunuh adik seperguruan mu itu. Semua aku lakukan karena aku tidak ingin dia melukai saudara –saudara ku “
Macan Ireng mengerutkan alisnya. Ketika ia memandangi keadaan di sekelilingnya, dilihatnya beberapa orang cantrik masih berdiri mengerumuninya. Karena itu, maka Macan Ireng melangkah maju sambil berkata, “Ayo kau Kuda Merta. Mari kita berperang tanding. Setelah aku membunuh mu. Selanjutnya satu persatu dari kalian akan aku sembelih”
“Ayo, mulailah Kuda Merta. Malam telah hampir menjelang pagi. Kita selesaikan, persoalan di antara kita sebelum pagi,” geram Macan Ireng.
Kuda Merta tidak menjawab. Ia melangkah selangkah lagi maju. Ujung pisau yang terikat dengan tali segera menunduk tepat mengarah kedada lawannya. Dalam pada itu, Macan Ireng tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat menyerang dengan sebuah ayunan pedang tipisnya. Meskipun telah bertempur beberapa lama, namun kecepatannya bergerak masih belum susut barang serambutpun.
Kuda Merta yang telah bersiap menghadapi kemungkinan itu, dengan cepatnya menghindarkan diri. Bahkan ujung pisaunya pun segera terjulur mematuk lambung. Namun Macan Ireng masih sempat pula mengelakkan dirinya. Demikianlah kini mereka terlihat dalam perang tanding yang dahsyat. Macan Ireng memeras ilmunya dalam kemungkinan yang terakhir. Disadarinya bahwa Kuda Merta adalah seorang yang pilih tanding. Dalam keadaan yang sempurna pun ia tidak akan mudah mengalahkannya, apalagi kini. Tenaganya sudah banyak berkurang, dan keringatnya pun seolah-olah telah kering terperas. Tetapi ia adalah seorang pendekar besar yang sadar akan kebesaran dan harga dirinya sebagai seorang laki-laki jantan.
Quote:
Pertempuran antara Kuda Merta dan Macan Ireng masih berlangsung terus. Semakin lama semakin dahsyat. Sedang Arya Gading dan Anjam Kayuwangi serta beberapa cantrik yang menyaksikan pertempuran itu pun menjadi semakin tegang. Macan Ireng menyerang dengan kekuatannya yang terakhir. Namun tubuh Kuda Merta yang masih segar sempat menghindarinya, tetapi ujung pisaunya dijulurkannya lurus-lurus tepat mengarah ke lambung lawannya. Macan Ireng yang sudah menjadi semakin lemah, kurang tepat memperhitungkan waktu. Ia terdorong oleh kekuatannya sendiri, dan langsung lambungnya tersobek oleh pisau Kuda Merta. Terdengar Macan Ireng menggeram pendek. Selangkah ia surut. sebuah luka yang dalam menganga pada lambungnya.
Betapa kemarahannya membakar jantungnya, namun tiba-tiba terasa tulang-tulangnya seolah-olah terlepas dari tubuhnya. Meskipun demikian tanpa disadari oleh Kuda Merta, Macan Ireng melontarkan pedangnya secepat petir menyambar di udara. Betapa Kuda Merta terkejut melihat sambaran pedang itu. Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia merendahkan dirinya dan berusaha memukul pedang itu dengan sambaran pisaunya. Tetapi demikian cepatnya sehingga ia tidak dapat melakukannya dengan sempurna. Pisaunya berhasil menyentuh bilah pedang itu, tetapi dengan demikian hulu pedang menjadi oleng dan dengan kerasnya memukul kening Kuda Merta.
Kuda Merta yang sedang merendahkan diri itu terdorong mundur, dan sesaat ia kehilangan keseimbangan. Dengan kerasnya ia terbanting jatuh. Beberapa kali ia berguling. Matanya terasa menjadi gelap dan kepalanya menyadi sangat pening. Seakan-akan sebuah bintang di langit telah jatuh menimpanya. Namun ia masih cukup sadar. Ia sadar bahwa lawannya, Macan Ireng masih tegak berdiri di hadapannya. Karena itu cepat ia memusatkan kekuatannya dan meskipun dengan tertatih-tatih ia mencoba berdiri, bersiaga menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atasnya.
Tetapi kini ia sudah tidak menggenggam pisau bertalinya lagi. Pisaunya terpelanting dari tangannya, pada saat ia jatuh berguling di tanah. Meskipun demikian terasa kening Kuda Merta masih sedemikian sakitnya. Bintik-bintik putih seolah-olah berterbangan di dalam rongga matanya. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu. Karena itu maka dengan sekuat tenaganya, ia mencoba untuk menembus keremangan ujung malam dengan pandangan matanya yang kabur. Kuda Merta itu melihat Macan Ireng maju selangkah mendekatinya. Namun tiba-tiba ia terhuyung-huyung. Sesaat kemudian Macan dari Jalatunda yang garang itu terjatuh pada lututnya dan mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.
Kuda Merta masih tetap berdiri di tempatnya. Sekilas matanya menyambar orang-orang yang berdiri mengitarinya. Ketika ia kembali memandangi Macan Ireng, maka dilihatnya orang itu menjadi semakin lemah. Sesaat tempat itu dicekam oleh kesepian. Kesepian yang tegang. Desir angin di dedaunan terdengar seperti tembang megatruh yang menawan hati. Sayup-sayup di kejauhan suara burung hantu terputus-putus seperti sedu sedan yang pedih, sepedih hati biyung kehilangan anaknya di medan peperangan.
Dalam kesenyapan itu, tiba-tiba terdengar suara Macan Ireng bergetar di antara desah angin malam yang lirih, “Kuda Merta, aku mengakui kemenanganmu.”
Perlahan-lahan Macan Ireng terduduk di tanah. Bahkan kemudian terdengar ia menggeram, “Aku akan mati.”
Kuda Merta maju selangkah lagi. Ia melihat dengan wajah yang tegang Macan Ireng menjatuhkan dirinya, terlentang sambil menahan desah yang kadang-kadang terlontar dari mulutnya. Lalu kemudian diam tidak mampu bergerak lagi untuk selamanya. Pada saat itulah Ki Ageng melangkah masuk pintu butulan itu, karena beberapa orang yang berkelahi melawan Ki Ageng itu pun telah berloncatan mundur. Lalu dengan cepat beberapa orang itu lari dengan cepatnya. Melarikan diri tanpa memperdulikan lagi beberapa kawannya yang terkapar mati ataupun yang terluka.
Kuda Merta hendak mengejarnya. Namun, “ Sudahlah Kuda Merta biarkan saja. Kita tidak berkepentingan dengan orang –orang itu “ , kata Ki Ageng sembari membelitkan lagi selendang putih ke pinggangnya.
“ Sekarang pergilah ke Cangkringan bawa Arya Gading dan beberapa cantrik. Biarlah aku disini bersama Anjam Kayuwangi untuk merawat beberapa cantrik yang terluka ataupun terbunuh “
Tanpa banyak bicara Kuda Merta segera mengajak Arya Gading dan beberapa cantrik untuk pergi ke padukuhan Cangkringan. Tidak lama berselang enam kuda berderap meninggalkan halaman padepokan Pasanggaran.
Betapa kemarahannya membakar jantungnya, namun tiba-tiba terasa tulang-tulangnya seolah-olah terlepas dari tubuhnya. Meskipun demikian tanpa disadari oleh Kuda Merta, Macan Ireng melontarkan pedangnya secepat petir menyambar di udara. Betapa Kuda Merta terkejut melihat sambaran pedang itu. Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia merendahkan dirinya dan berusaha memukul pedang itu dengan sambaran pisaunya. Tetapi demikian cepatnya sehingga ia tidak dapat melakukannya dengan sempurna. Pisaunya berhasil menyentuh bilah pedang itu, tetapi dengan demikian hulu pedang menjadi oleng dan dengan kerasnya memukul kening Kuda Merta.
Kuda Merta yang sedang merendahkan diri itu terdorong mundur, dan sesaat ia kehilangan keseimbangan. Dengan kerasnya ia terbanting jatuh. Beberapa kali ia berguling. Matanya terasa menjadi gelap dan kepalanya menyadi sangat pening. Seakan-akan sebuah bintang di langit telah jatuh menimpanya. Namun ia masih cukup sadar. Ia sadar bahwa lawannya, Macan Ireng masih tegak berdiri di hadapannya. Karena itu cepat ia memusatkan kekuatannya dan meskipun dengan tertatih-tatih ia mencoba berdiri, bersiaga menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atasnya.
Tetapi kini ia sudah tidak menggenggam pisau bertalinya lagi. Pisaunya terpelanting dari tangannya, pada saat ia jatuh berguling di tanah. Meskipun demikian terasa kening Kuda Merta masih sedemikian sakitnya. Bintik-bintik putih seolah-olah berterbangan di dalam rongga matanya. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu. Karena itu maka dengan sekuat tenaganya, ia mencoba untuk menembus keremangan ujung malam dengan pandangan matanya yang kabur. Kuda Merta itu melihat Macan Ireng maju selangkah mendekatinya. Namun tiba-tiba ia terhuyung-huyung. Sesaat kemudian Macan dari Jalatunda yang garang itu terjatuh pada lututnya dan mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.
Kuda Merta masih tetap berdiri di tempatnya. Sekilas matanya menyambar orang-orang yang berdiri mengitarinya. Ketika ia kembali memandangi Macan Ireng, maka dilihatnya orang itu menjadi semakin lemah. Sesaat tempat itu dicekam oleh kesepian. Kesepian yang tegang. Desir angin di dedaunan terdengar seperti tembang megatruh yang menawan hati. Sayup-sayup di kejauhan suara burung hantu terputus-putus seperti sedu sedan yang pedih, sepedih hati biyung kehilangan anaknya di medan peperangan.
Dalam kesenyapan itu, tiba-tiba terdengar suara Macan Ireng bergetar di antara desah angin malam yang lirih, “Kuda Merta, aku mengakui kemenanganmu.”
Perlahan-lahan Macan Ireng terduduk di tanah. Bahkan kemudian terdengar ia menggeram, “Aku akan mati.”
Kuda Merta maju selangkah lagi. Ia melihat dengan wajah yang tegang Macan Ireng menjatuhkan dirinya, terlentang sambil menahan desah yang kadang-kadang terlontar dari mulutnya. Lalu kemudian diam tidak mampu bergerak lagi untuk selamanya. Pada saat itulah Ki Ageng melangkah masuk pintu butulan itu, karena beberapa orang yang berkelahi melawan Ki Ageng itu pun telah berloncatan mundur. Lalu dengan cepat beberapa orang itu lari dengan cepatnya. Melarikan diri tanpa memperdulikan lagi beberapa kawannya yang terkapar mati ataupun yang terluka.
Kuda Merta hendak mengejarnya. Namun, “ Sudahlah Kuda Merta biarkan saja. Kita tidak berkepentingan dengan orang –orang itu “ , kata Ki Ageng sembari membelitkan lagi selendang putih ke pinggangnya.
“ Sekarang pergilah ke Cangkringan bawa Arya Gading dan beberapa cantrik. Biarlah aku disini bersama Anjam Kayuwangi untuk merawat beberapa cantrik yang terluka ataupun terbunuh “
Tanpa banyak bicara Kuda Merta segera mengajak Arya Gading dan beberapa cantrik untuk pergi ke padukuhan Cangkringan. Tidak lama berselang enam kuda berderap meninggalkan halaman padepokan Pasanggaran.
Diubah oleh breaking182 06-08-2022 22:42
ashrose dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas