- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
Diubah oleh breaking182 30-12-2022 23:12
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.7K
Kutip
622
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#315
gatra 44
Quote:
PERLAHAN-LAHAN orang-orang yang memasuki halaman itu merayap semakin dalam. Seperti pesan yang telah mereka terima, maka mereka pun segera mengambil tempat mereka masing-masing. Dua kelompok dari mereka harus menyergap para cantrik yang bertugas di gardu depan. Sedang sekelompok yang lain harus memasuki rumah itu tersama dengan pemimpin kelompok dan seorang yang dikirim langsung oleh pemimpin-pemimpin mereka untuk membantu pemimpin kelompok itu membunuh para cantrik yang berada di dalam padepokan. Satu kelompok lagi harus mengawasi suasana, dan membunuh setiap orang yang berusaha melarikan diri dari halaman itu.
Demikianlah, keempat kelompok itu telah berada di tempatnya masing-masing seperti pesan Macan Ireng. Mereka menemukan tempat-tempat yang telah ditentukan, yang agaknya oleh seseorang yang telah mengenal halaman rumah itu sebaik-baiknya. Namun mereka tidak menyangka, bahwa di setiap sudut, bahkan beberapa, langkah dari tempat mereka bersembunyi, cantrik-cantrik terpilih selalu mengawasi mereka dengan seksama.
Kelompok-kelompok penyerang itu telah siap untuk melakukan penyergapan. Yang terakhir adalah usaha memasuki rumah itu tanpa menimbulkan persoalan. Karena itu, maka Macan Ireng dan Welat Kuning sendirilah yang akan melakukannya, sementara kelompok yang lain mengawasi dengan saksama jika ada di antara mereka yang melarikan diri.
Macan Ireng seorang pemimpin kelompok yang berpengalaman. Dengan hati-hati ia memutus tali-tali pengikat dinding di sudut rumah Untara yang paling lemah, di sudut belakang. Hampir tidak menimbulkan desir yang paling lembut sekalipun ia kemudian membuka dinding-dinding itu, dan dengan sangat hati-hati ia pun merayap masuk. Seorang dari anak buahnya dibawanya serta memasuki rumah yang sepi itu. Sejenak orang-orangnya menunggu. Ternyata bahwa ketegangan yang menghentak-hentak dada hampir tidak tertahankan. Rasa-rasanya jantung mereka menjadi semakin cepat berdentangan.
Bukan saja para penyerang, tetapi cantrik-cantrik yang menyaksikan itu pun menjadi berdebar-debar pula. Rasa-rasanya mereka tidak dapat menunggu lagi. Tangan mereka telah bergetar dan darah mereka menjadi semakin cepat mengalir. Sejenak kemudian mereka mendengar derit yang lirih sekali. Ternyata para cantrik yang berada di sisi rumah itu melihat bahwa pintu butulan telah terbuka.
Dengan isyarat tangan, maka Macan Ireng memanggil orang-orangnya yang bertugas masuk ke dalam padepokan itu bersama seorang yang dipercaya langsung dari pimpinan mereka. Jantungf seorang cantrik yang melihat pintu yang terbuka itu pun menjadi berdebar-debar pula. Dan ia pun yakin bahwa di antara para penyerang itu pasti ada satu atau dua orang yang benar-benar dapat dipercaya melakukan tugas itu.
“Jika saja rencana ini tidak dapat diketahui, maka akulah yang ada di dalam rumah itu bersama beberapa orang kawan. Barangkali aku dan beberapa orang kawan itu sama sekali tidak sempat berbuat sesuatu ketika pedang-pedang mereka menikam dada ini, selagi kami masih tidur,” katanya di dalam hati. Dan ia pun merasa bersukur bahwa ia sempat mendengar rencana itu dan kini ia telah siap menghadapi setiap kemungkinan.
“Meskipun seandainya aku akan mati juga malam ini, tetapi aku mati sambil menggenggam pedang seperti seharusnya seorang cantrik, bukan mati di pembaringan tanpa berbuat sesuatu,” cantrik itu menggeram di dalam hati. Tanpa disadarinya maka tangannya pun telah meraba hulu pedangnya.
“Apakah Ki Anjam Kayuwangi dan Ki Ageng yang ada di dalam rumah itu tidak tertidur, dan mereka mengetahui bahwa yang mereka tunggu telah datang?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi karena yang ada di dalam padepokan itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya, maka ia pun mencoba untuk menenteramkan dirinya sendiri.
Sejenak kemudian cantrik itu melihat beberapa orang merayap mendekati pintu butulan itu. Sedang di bagian lain, beberapa bayangan yang bergerak-gerak menjadi semakin dekat dengan regol halaman. Mereka harus langsung menyergap para cantrik yang jumlahnya tidak begitu banyak itu tanpa memberi kesempatan mereka membunyikan tanda apa pun juga.
Demikianlah, keempat kelompok itu telah berada di tempatnya masing-masing seperti pesan Macan Ireng. Mereka menemukan tempat-tempat yang telah ditentukan, yang agaknya oleh seseorang yang telah mengenal halaman rumah itu sebaik-baiknya. Namun mereka tidak menyangka, bahwa di setiap sudut, bahkan beberapa, langkah dari tempat mereka bersembunyi, cantrik-cantrik terpilih selalu mengawasi mereka dengan seksama.
Kelompok-kelompok penyerang itu telah siap untuk melakukan penyergapan. Yang terakhir adalah usaha memasuki rumah itu tanpa menimbulkan persoalan. Karena itu, maka Macan Ireng dan Welat Kuning sendirilah yang akan melakukannya, sementara kelompok yang lain mengawasi dengan saksama jika ada di antara mereka yang melarikan diri.
Macan Ireng seorang pemimpin kelompok yang berpengalaman. Dengan hati-hati ia memutus tali-tali pengikat dinding di sudut rumah Untara yang paling lemah, di sudut belakang. Hampir tidak menimbulkan desir yang paling lembut sekalipun ia kemudian membuka dinding-dinding itu, dan dengan sangat hati-hati ia pun merayap masuk. Seorang dari anak buahnya dibawanya serta memasuki rumah yang sepi itu. Sejenak orang-orangnya menunggu. Ternyata bahwa ketegangan yang menghentak-hentak dada hampir tidak tertahankan. Rasa-rasanya jantung mereka menjadi semakin cepat berdentangan.
Bukan saja para penyerang, tetapi cantrik-cantrik yang menyaksikan itu pun menjadi berdebar-debar pula. Rasa-rasanya mereka tidak dapat menunggu lagi. Tangan mereka telah bergetar dan darah mereka menjadi semakin cepat mengalir. Sejenak kemudian mereka mendengar derit yang lirih sekali. Ternyata para cantrik yang berada di sisi rumah itu melihat bahwa pintu butulan telah terbuka.
Dengan isyarat tangan, maka Macan Ireng memanggil orang-orangnya yang bertugas masuk ke dalam padepokan itu bersama seorang yang dipercaya langsung dari pimpinan mereka. Jantungf seorang cantrik yang melihat pintu yang terbuka itu pun menjadi berdebar-debar pula. Dan ia pun yakin bahwa di antara para penyerang itu pasti ada satu atau dua orang yang benar-benar dapat dipercaya melakukan tugas itu.
“Jika saja rencana ini tidak dapat diketahui, maka akulah yang ada di dalam rumah itu bersama beberapa orang kawan. Barangkali aku dan beberapa orang kawan itu sama sekali tidak sempat berbuat sesuatu ketika pedang-pedang mereka menikam dada ini, selagi kami masih tidur,” katanya di dalam hati. Dan ia pun merasa bersukur bahwa ia sempat mendengar rencana itu dan kini ia telah siap menghadapi setiap kemungkinan.
“Meskipun seandainya aku akan mati juga malam ini, tetapi aku mati sambil menggenggam pedang seperti seharusnya seorang cantrik, bukan mati di pembaringan tanpa berbuat sesuatu,” cantrik itu menggeram di dalam hati. Tanpa disadarinya maka tangannya pun telah meraba hulu pedangnya.
“Apakah Ki Anjam Kayuwangi dan Ki Ageng yang ada di dalam rumah itu tidak tertidur, dan mereka mengetahui bahwa yang mereka tunggu telah datang?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi karena yang ada di dalam padepokan itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya, maka ia pun mencoba untuk menenteramkan dirinya sendiri.
Sejenak kemudian cantrik itu melihat beberapa orang merayap mendekati pintu butulan itu. Sedang di bagian lain, beberapa bayangan yang bergerak-gerak menjadi semakin dekat dengan regol halaman. Mereka harus langsung menyergap para cantrik yang jumlahnya tidak begitu banyak itu tanpa memberi kesempatan mereka membunyikan tanda apa pun juga.
Quote:
DADA SETIAP ORANG di halaman padepokan Pasanggaran itu menjadi semakin tegang. Bahkan para cantrik yang ada di regol itu bagaikan duduk di atas bara api. Mereka mengerti, bahwa beterapa orang sedang merayap untuk menerkam mereka, namun mereka masih harus duduk di tempatnya. Meskipun demikian, senjata-senjata mereka telah siap di lambung. Sekejap saja senjata itu akan berada di genggaman. Demikian juga kawan-kawannya yang ada di sudut-sudut halaman depan. Rasa-rasanya mereka sudah ingin meloncat menyerang bayangan yang merambat semakin dekat dengan regol itu.
Dalam pada itu, orang-orang yang ada di dalam rumah itu pun segera berdiri di depan bilik yang mereka perkirakan di pakai oleh para sesepuh Pasanggaran. Sejenak mereka memusatkan segenap pikiran dan perhatian mereka kepada tugas yang akan mereka lakukan. Ketika semuanya menurut perhitungan pemimpin kelompok menyerang itu sudah siap, maka terdengarlah dari dalam rumah itu suara burung hantu yang keras sekali tiga kali. Hanya tiga kali. Dan yang tiga kali itu adalah perintah bagi setiap orang di dalam pasukan kecilnya untuk menyerang semua sasaran yang telah ditentukan.
Demikianlah mereka menunggu apa yang terjadi di dalam padepokan dan di halamannya itu. Dalam pada itu, demikian isyarat itu berbunyi, maka setiap orang yang ada di dalam rumah itu pun segera mendorong pintu bilik. Senjata-senjata telanjang yang ada di tangan mereka telah bergetar. Pemimpin kelompok itu berada di depan satu bilik bersama beberapa orang kawannya, sedang orang yang langsung diperbantukan kepadanya oleh pemimpin mereka itu berada di bilik yang lain bersama beberapa orang pula. Mereka harus melakukan tugas mereka dengan cepat dan cermat. Sedang beberapa orang lainnya berada di bilik yang lain pula, untuk mengawasi jika di dalam bilik itu ada juga penghuninya.
Bersama dengan gerit pintu-pintu bilik itu, para penyerang yang sudah siap menunggu di halaman pun segera berloncatan. Jumlah mereka ternyata cukup banyak untuk membinasakan beberapa orang yang bertugas di regol itu. Beberapa orang terlihat menyalakan obor untuk dilemparkan ke arah bangunan padepokan. Namun, demikian isyarat itu berbunyi, maka cantrik-cantrik Pasanggaran yang berada di regol itu pun segera berloncatan berdiri. Seakan-akan suara burung hantu itu memang merupakan perintah bagi mereka untuk bersiap menghadapi setiap kemungkinan.
Sekejap para penyerang itu pun menjadi heran. Namun mereka tidak menghiraukannya lagi. Seperti banjir bandang mereka pun segera menyerang. Orang-orang yang ada di regol itu harus ditumpas. Tetapi mereka tiba-tiba saja mereka mendengar gemerisik dedaunan dan semak-semak di sekitar mereka. Sebelum mereka mencapai gardu itu, mereka menjadi terpukau karena beberapa orang yang tiba-tiba saja justru berloncatan menyerang mereka. Obaor –obor yang hendak dipakai untuk membakar padepokan beberapa jatuh ke tanah karena keterkejutan mereka.
Sebelum mereka menyadari keadaan mereka, maka tiba-tiba mereka mendengar salah seorang dari cantrik itu berkata lantang, “Kalian terjebak. Menyerahlah.”
Tetapi para penyerang itu tidak yakin akan kata-kata cantrik itu meskipun mereka melihat beberapa orang berdatangan. Karena itu, maka pemimpin kelompok mereka pun berkata, “Tumpas mereka. Jangan ada yang tersisa. Ambil obor –obor yang terjatuh dan nyalakan. Malam ini Pasanggaran harus menjadi karang abang !”
Kata-kata itu mendebarkan jantung para cantrik Pasanggaran. Untunglah mereka sudah mengetahui dengan siapa mereka berhadapan, sehingga mereka pun tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata itu.
Dalam pada itu, orang-orang yang ada di dalam rumah itu pun segera berdiri di depan bilik yang mereka perkirakan di pakai oleh para sesepuh Pasanggaran. Sejenak mereka memusatkan segenap pikiran dan perhatian mereka kepada tugas yang akan mereka lakukan. Ketika semuanya menurut perhitungan pemimpin kelompok menyerang itu sudah siap, maka terdengarlah dari dalam rumah itu suara burung hantu yang keras sekali tiga kali. Hanya tiga kali. Dan yang tiga kali itu adalah perintah bagi setiap orang di dalam pasukan kecilnya untuk menyerang semua sasaran yang telah ditentukan.
Demikianlah mereka menunggu apa yang terjadi di dalam padepokan dan di halamannya itu. Dalam pada itu, demikian isyarat itu berbunyi, maka setiap orang yang ada di dalam rumah itu pun segera mendorong pintu bilik. Senjata-senjata telanjang yang ada di tangan mereka telah bergetar. Pemimpin kelompok itu berada di depan satu bilik bersama beberapa orang kawannya, sedang orang yang langsung diperbantukan kepadanya oleh pemimpin mereka itu berada di bilik yang lain bersama beberapa orang pula. Mereka harus melakukan tugas mereka dengan cepat dan cermat. Sedang beberapa orang lainnya berada di bilik yang lain pula, untuk mengawasi jika di dalam bilik itu ada juga penghuninya.
Bersama dengan gerit pintu-pintu bilik itu, para penyerang yang sudah siap menunggu di halaman pun segera berloncatan. Jumlah mereka ternyata cukup banyak untuk membinasakan beberapa orang yang bertugas di regol itu. Beberapa orang terlihat menyalakan obor untuk dilemparkan ke arah bangunan padepokan. Namun, demikian isyarat itu berbunyi, maka cantrik-cantrik Pasanggaran yang berada di regol itu pun segera berloncatan berdiri. Seakan-akan suara burung hantu itu memang merupakan perintah bagi mereka untuk bersiap menghadapi setiap kemungkinan.
Sekejap para penyerang itu pun menjadi heran. Namun mereka tidak menghiraukannya lagi. Seperti banjir bandang mereka pun segera menyerang. Orang-orang yang ada di regol itu harus ditumpas. Tetapi mereka tiba-tiba saja mereka mendengar gemerisik dedaunan dan semak-semak di sekitar mereka. Sebelum mereka mencapai gardu itu, mereka menjadi terpukau karena beberapa orang yang tiba-tiba saja justru berloncatan menyerang mereka. Obaor –obor yang hendak dipakai untuk membakar padepokan beberapa jatuh ke tanah karena keterkejutan mereka.
Sebelum mereka menyadari keadaan mereka, maka tiba-tiba mereka mendengar salah seorang dari cantrik itu berkata lantang, “Kalian terjebak. Menyerahlah.”
Tetapi para penyerang itu tidak yakin akan kata-kata cantrik itu meskipun mereka melihat beberapa orang berdatangan. Karena itu, maka pemimpin kelompok mereka pun berkata, “Tumpas mereka. Jangan ada yang tersisa. Ambil obor –obor yang terjatuh dan nyalakan. Malam ini Pasanggaran harus menjadi karang abang !”
Kata-kata itu mendebarkan jantung para cantrik Pasanggaran. Untunglah mereka sudah mengetahui dengan siapa mereka berhadapan, sehingga mereka pun tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata itu.
Quote:
TERNYATA SERANGAN itu telah mendapat sambutan hangat. Para penjaga di regol halaman pun sudah siap menunggu mereka menyergap. Namun ternyata bahwa para penyerang tidak dapat memusatkan kekuatan mereka, kepada para cantrik yang tidak begitu banyak jumlahnya di regol, tetapi mereka harus melayani cantrik-cantrik yang bermunculan seperti laron di musim hujan. Ternyata bahwa jumlah cantrik Pasanggaran itu pun cukup banyak sehingga para penyerang itu pun menjadi berdebar-debar. Apalagi cantrik Pasanggaran yang mereka hadapi adalah cantrik pilihan.
“Gila,” pemimpin kelompok penyerang itu menggeram, “kita harus berpencar. Kita binasakan semua orang yang ada di halaman ini.”
Dalam pada itu kelompok cadangan yang harus mengawasi jika ada di antara para cantrik yang melarikan diri itu pun tidak lagi dapat tinggal diam. Mereka pun segera terlibat pula di dalam perkelahian melawan para cantrik Pasanggaran. Dalam pada itu, yang ada di dalam rumah pun terkejut bukan kepalang. Ternyata mereka hanya menjumpai dua sepuh Pasanggaran di dalam padepokan itu. Dan sepuh itu adalah Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta. Namun justru karena itulah, maka kemudian mereka menjumpai banyak sekali kesulitan.
Para penyerang yang belum mengenal Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta semula tidak begitu menghiraukannya. Pembunuhan di dalam rumah itu akan tetap berlangsung, siapa pun yang ada di dalamnya.
“Kalian tidak usah melawan,” berkata Macan Ireng, “kami datang dengan kekuatan yang tidak akan terlawan oleh kalian. Marilah kalian berkumpul di ruang tengah.”
Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta memandang Macan Ireng sejenak, lalu sambil mengangguk-angguk Anjam Kayuwangi menjawab, “Apakah yang akan kalian lakukan atas kami?”
“Sayang, kami akan membunuh kalian. Siapa pun yang ada di dalam rumah ini.”
Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta tidak segera menyahut, sedang di depan pintu bilik yang lain terdengar seorang dari para penyerang itu berkata, “Keluar. Kami akan memenggal lehermu. Lebih baik kau mati di ruang yang agak luas daripada dibilik yang sempit agar rohmu mendapat jalan yang agak lapang.”
Dan terdengar jawab Ki Ageng Pandan Arum, “Baiklah. Kami akan keluar ke ruang yang lebih luas. Tetapi apakah kalian benar-benar akan membunuh kami?”
Macan Ireng menengok ke arah suara itu. Ia masih sangat mengenali suara itu. Bibirnya bergetar, “ Ki Ageng. Apakah Kiai masih ingat aku? “
Ki Ageng tersenyum, “ Tentu Ngger. Aku masih mengingatmu. Kau adalah murid tertua di bukit Jalatunda. Apa gerangan kau datang kemari di malam buta seperti ini? Marilah kita duduk di pringgitan sembari minum wedang sereh hangat dengan gula batu atau gula aren. Tentu sangatlah nikmat daripada kita disini saling mengacungkan senjata “
“Jangan banyak bicara Kiai. Kami sudah mengepung tempat ini. Tentu Kiai masih ingat peristiwa puluhan tahun silam. Dan lagi aku minta pertanggung jawaban Kiai untuk pokal yang telah dilakukan oleh salah satu cantrik perguruan ini yang bernama Arya Gading. Anak itu telah menyeret salah satu murid Jalatunda ke tiang gantungan di Pajang .”
Tetapi yang terdengar kemudian adalah kata-kata Arya Gading, “ Ternyata tujuan mu hanya untuk menangkapku kisanak. Apakah tidak terlalu pengecut mencari seorang anak muda ingusan semacam aku ini. Kisanak semua mengerahkan orang –orang segelar sepapan? “
Pertanyaan itu benar-benar tidak diduga oleh orang-orang yang datang memasuki rumah itu. Karena itu, sejenak mereka hanya memandang Arya Gading dengan tatapan mata yang berkilat -kilat.
“Persetan,” orang yang dikirim oleh pemimpin para penyerang itu menggeram, “kaulah yang akan kami tangkap hidup –hidup. Akalu kau masih melawan juga terpaksa kami akan membunuhmu.”
“ Sudahlah, Simo. Janga terlalu banyak bicara ringkus anak itu. Biarlah Ki Ageng dan para sepuh ini menjadi bagianku dan Welat Kuning “
Orang yang bernama Simo itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia menyergap masuk. Agaknya kemarahannya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun. Beberapa orang kawannya pun ikut pula menyergap. Mereka langsung menyerang Arya Gading dan berusaha membunuh sebelum mereka sempat berbuat apa pun juga.
Demikian juga Macan Ireng dan Welat Kuning. Mereka pun telah menyerang Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta di dalam biliknya yang sempit. Sementara Ki Ageng menghadapi tiga orang anak buah Macan Ireng.
“ Kakang Anjam Kayuwangi,” berkata Kuda Merta, “agak menjauhlah. Senjataku memerlukan ruang yang agak luas.”
“Eh,” sahut Anjam Kayuwangi, “apakah aku tidak akan kau beri sisa tempat di ruang ini? Jika demikian, sebaiknya aku keluar saja "
“Jangan sekarang. Kita memilih tempat yang sempit ini saja dahulu.”
Anjam Kayuwangi tidak menjawab, tetapi ia bergeser ke sudut yang lain menjauhi Kuda Merta yang kemudian menggenggam senjatanya yang aneh. Sebilah pisau tipis panjang sejengkal dengan seutas tali panjang yang terikat di hulu pisau itu. Pisau Kuda Merta telah berputar pula pada tali yang mengikatnya. Suaranya berdesing mengerikan. Sedang Anjam Kayuwangi yang bersenjata pedang pun telah mulai pula bertempur melawan orang-orang yang menyerangnya. Betapapun juga, namun putaran pisau di tangan Kuda Merta telah menimbulkan persoalan bagi para penyerangnya, sehingga beberapa orang terpaksa terdesak surut oleh kawan-kawan mereka. Dengan lambat laun pasti Kuda Merta telah mendesak lawannya ke pintu keluar dari bilik itu.
“Kita akan mencari jalan keluar,” berkata Kuda Merta kepada Anjam Kayuwangi, “supaya kita dapat lebih leluasa bermain-main.”
“Aku sependapat,” berkata Anjam Kayuwangi. Meskipun ia tidak mendesak lawannya, namun suara pisau Kuda Merta yang berdesing itu berpengaruh juga, sehingga Anjam Kayuwangi pun telah mendesak lawannya pula.
Demikianlah maka para penyerang itu tidak mau bertahan di dalam bilik yang sempit itu pula. Mereka pun segera berloncatan keluar disusul oleh Kuda Merta dengan senjatanya yang mengerikan. Yang terakhir keluar dari bilik itu adalah Anjam Kayuwangi. Tetapi ketika beberapa orang lawan menyambutnya, maka ia tidak langsung pergi ke ruang tengah yang agak luas, tetapi ia berhenti saja di pintu sambil bertempur. Jika ia agak terdesak oleh beberapa orang lawannya maka ia melangkah surut, sehingga ia langsung menghadapi sebuah pintu yang sempit. Dengan demikian ia sempat mempergunakan pintu bilik itu sebagai perisai, sehingga lawannya terpaksa berdiri di satu arah daripadanya.
“Licik,” geram salah seorang lawannya, “jangan berdiri di pintu.”
Tetapi Anjam Kayuwangi tertawa. Katanya, “Bagaimana mungkin kau dapat mengatakan aku licik, sedang kau menyerang dengan pasukan segelar sepapan?”
Lawan-lawannya tidak menjawab. Tetapi mereka berusaha mendesak Anjam Kayuwangi masuk ke dalam bilik itu kembali dan beramai-ramai membinasakannya. Tetapi Anjam Kayuwangi menyadari keadaannya, sehingga karena itu maka ia pun bertahan mati-matian agar ia tetap berada di pintu bilik itu.
“Untunglah bahwa kami dapat mengetahui lebih dahulu serangan ini. Jika tidak, maka kami akan benar-benar dibantai tanpa perlawanan,” berkata Anjam Kayuwangi di dalam hatinya. Seperti yang tersirat di hati setiap cantrik Pasanggaran. Namun demikian ia masih juga memikirkan Kuda Merta, Mahesa Branjangan dan para cantriknya yang bertugas mencegat gerombolan Macan Ireng di padukuhan Cangkringan.
“Gila,” pemimpin kelompok penyerang itu menggeram, “kita harus berpencar. Kita binasakan semua orang yang ada di halaman ini.”
Dalam pada itu kelompok cadangan yang harus mengawasi jika ada di antara para cantrik yang melarikan diri itu pun tidak lagi dapat tinggal diam. Mereka pun segera terlibat pula di dalam perkelahian melawan para cantrik Pasanggaran. Dalam pada itu, yang ada di dalam rumah pun terkejut bukan kepalang. Ternyata mereka hanya menjumpai dua sepuh Pasanggaran di dalam padepokan itu. Dan sepuh itu adalah Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta. Namun justru karena itulah, maka kemudian mereka menjumpai banyak sekali kesulitan.
Para penyerang yang belum mengenal Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta semula tidak begitu menghiraukannya. Pembunuhan di dalam rumah itu akan tetap berlangsung, siapa pun yang ada di dalamnya.
“Kalian tidak usah melawan,” berkata Macan Ireng, “kami datang dengan kekuatan yang tidak akan terlawan oleh kalian. Marilah kalian berkumpul di ruang tengah.”
Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta memandang Macan Ireng sejenak, lalu sambil mengangguk-angguk Anjam Kayuwangi menjawab, “Apakah yang akan kalian lakukan atas kami?”
“Sayang, kami akan membunuh kalian. Siapa pun yang ada di dalam rumah ini.”
Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta tidak segera menyahut, sedang di depan pintu bilik yang lain terdengar seorang dari para penyerang itu berkata, “Keluar. Kami akan memenggal lehermu. Lebih baik kau mati di ruang yang agak luas daripada dibilik yang sempit agar rohmu mendapat jalan yang agak lapang.”
Dan terdengar jawab Ki Ageng Pandan Arum, “Baiklah. Kami akan keluar ke ruang yang lebih luas. Tetapi apakah kalian benar-benar akan membunuh kami?”
Macan Ireng menengok ke arah suara itu. Ia masih sangat mengenali suara itu. Bibirnya bergetar, “ Ki Ageng. Apakah Kiai masih ingat aku? “
Ki Ageng tersenyum, “ Tentu Ngger. Aku masih mengingatmu. Kau adalah murid tertua di bukit Jalatunda. Apa gerangan kau datang kemari di malam buta seperti ini? Marilah kita duduk di pringgitan sembari minum wedang sereh hangat dengan gula batu atau gula aren. Tentu sangatlah nikmat daripada kita disini saling mengacungkan senjata “
“Jangan banyak bicara Kiai. Kami sudah mengepung tempat ini. Tentu Kiai masih ingat peristiwa puluhan tahun silam. Dan lagi aku minta pertanggung jawaban Kiai untuk pokal yang telah dilakukan oleh salah satu cantrik perguruan ini yang bernama Arya Gading. Anak itu telah menyeret salah satu murid Jalatunda ke tiang gantungan di Pajang .”
Tetapi yang terdengar kemudian adalah kata-kata Arya Gading, “ Ternyata tujuan mu hanya untuk menangkapku kisanak. Apakah tidak terlalu pengecut mencari seorang anak muda ingusan semacam aku ini. Kisanak semua mengerahkan orang –orang segelar sepapan? “
Pertanyaan itu benar-benar tidak diduga oleh orang-orang yang datang memasuki rumah itu. Karena itu, sejenak mereka hanya memandang Arya Gading dengan tatapan mata yang berkilat -kilat.
“Persetan,” orang yang dikirim oleh pemimpin para penyerang itu menggeram, “kaulah yang akan kami tangkap hidup –hidup. Akalu kau masih melawan juga terpaksa kami akan membunuhmu.”
“ Sudahlah, Simo. Janga terlalu banyak bicara ringkus anak itu. Biarlah Ki Ageng dan para sepuh ini menjadi bagianku dan Welat Kuning “
Orang yang bernama Simo itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia menyergap masuk. Agaknya kemarahannya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun. Beberapa orang kawannya pun ikut pula menyergap. Mereka langsung menyerang Arya Gading dan berusaha membunuh sebelum mereka sempat berbuat apa pun juga.
Demikian juga Macan Ireng dan Welat Kuning. Mereka pun telah menyerang Anjam Kayuwangi dan Kuda Merta di dalam biliknya yang sempit. Sementara Ki Ageng menghadapi tiga orang anak buah Macan Ireng.
“ Kakang Anjam Kayuwangi,” berkata Kuda Merta, “agak menjauhlah. Senjataku memerlukan ruang yang agak luas.”
“Eh,” sahut Anjam Kayuwangi, “apakah aku tidak akan kau beri sisa tempat di ruang ini? Jika demikian, sebaiknya aku keluar saja "
“Jangan sekarang. Kita memilih tempat yang sempit ini saja dahulu.”
Anjam Kayuwangi tidak menjawab, tetapi ia bergeser ke sudut yang lain menjauhi Kuda Merta yang kemudian menggenggam senjatanya yang aneh. Sebilah pisau tipis panjang sejengkal dengan seutas tali panjang yang terikat di hulu pisau itu. Pisau Kuda Merta telah berputar pula pada tali yang mengikatnya. Suaranya berdesing mengerikan. Sedang Anjam Kayuwangi yang bersenjata pedang pun telah mulai pula bertempur melawan orang-orang yang menyerangnya. Betapapun juga, namun putaran pisau di tangan Kuda Merta telah menimbulkan persoalan bagi para penyerangnya, sehingga beberapa orang terpaksa terdesak surut oleh kawan-kawan mereka. Dengan lambat laun pasti Kuda Merta telah mendesak lawannya ke pintu keluar dari bilik itu.
“Kita akan mencari jalan keluar,” berkata Kuda Merta kepada Anjam Kayuwangi, “supaya kita dapat lebih leluasa bermain-main.”
“Aku sependapat,” berkata Anjam Kayuwangi. Meskipun ia tidak mendesak lawannya, namun suara pisau Kuda Merta yang berdesing itu berpengaruh juga, sehingga Anjam Kayuwangi pun telah mendesak lawannya pula.
Demikianlah maka para penyerang itu tidak mau bertahan di dalam bilik yang sempit itu pula. Mereka pun segera berloncatan keluar disusul oleh Kuda Merta dengan senjatanya yang mengerikan. Yang terakhir keluar dari bilik itu adalah Anjam Kayuwangi. Tetapi ketika beberapa orang lawan menyambutnya, maka ia tidak langsung pergi ke ruang tengah yang agak luas, tetapi ia berhenti saja di pintu sambil bertempur. Jika ia agak terdesak oleh beberapa orang lawannya maka ia melangkah surut, sehingga ia langsung menghadapi sebuah pintu yang sempit. Dengan demikian ia sempat mempergunakan pintu bilik itu sebagai perisai, sehingga lawannya terpaksa berdiri di satu arah daripadanya.
“Licik,” geram salah seorang lawannya, “jangan berdiri di pintu.”
Tetapi Anjam Kayuwangi tertawa. Katanya, “Bagaimana mungkin kau dapat mengatakan aku licik, sedang kau menyerang dengan pasukan segelar sepapan?”
Lawan-lawannya tidak menjawab. Tetapi mereka berusaha mendesak Anjam Kayuwangi masuk ke dalam bilik itu kembali dan beramai-ramai membinasakannya. Tetapi Anjam Kayuwangi menyadari keadaannya, sehingga karena itu maka ia pun bertahan mati-matian agar ia tetap berada di pintu bilik itu.
“Untunglah bahwa kami dapat mengetahui lebih dahulu serangan ini. Jika tidak, maka kami akan benar-benar dibantai tanpa perlawanan,” berkata Anjam Kayuwangi di dalam hatinya. Seperti yang tersirat di hati setiap cantrik Pasanggaran. Namun demikian ia masih juga memikirkan Kuda Merta, Mahesa Branjangan dan para cantriknya yang bertugas mencegat gerombolan Macan Ireng di padukuhan Cangkringan.
Diubah oleh breaking182 29-07-2022 21:51
ashrose dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas
Tutup