- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.2K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#311
gatra 43
Quote:
SENJATA BAGUS ABANGAN menjadi semakin dahsyat berputar-putar mengitari tubuh lawannya. Bagaimana Banaspatipun telah mencapai puncak kemarahannya. Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi bertambah seru. Sebenarnyalah Bagus Abangan memiliki beberapa keanehan. Ia mampu meloncat-loncat seperti kijang, namun kadang-kadang ia menyambar seperti elang. Dengan penuh tekad, ia ingin menunjukkan kelebihannya dari setiap orang dari kedua belah pikak. Ia ingin membunuh lawannya itu, dan karena itu ia ingin membanggakan dirinya kepada setiap orang di Pasanggaran.
Namun hal itu telah mendorong Bagus Abangan untuk berbuat lebih banyak. Kekecewaannya pada Ki Ageng Pandan Arum, kemarahannya kepada Mahesa Branjangan, dirangkapi oleh kemarahannya kepada Arya Gading menjadikannya berjuang sekuat-kuat tenaganya seperti orang kesetanan. Dalam keadaan yang demikian itu, maka Bagus Abangan benar-benar menjadi seorang anak muda yang pilih tanding. Maka, kini ia berusaha memeras segenap kemampuan yang ada padanya untuk membinasakan lawannya. Selain itu, ternyata Bagus Abangan pun seorang yang keras hati. Sekali ia bertekad untuk membunuh lawannya, maka tak ada alasan apa pun yang dapat mencegahnya. Kali ini pun ia bertekad membunuh Banaspati. Tak ada pikiran lain di dalam benaknya. Membunuh. Hanya itu. Membunuh.
Dengan demikian maka Bagus Abangan itu pun kemudian memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Senjatanya bergerak berputaran sehingga kemudian seakan-akan telah berubah menjadi asap yang hitam kebiru-biruan. Senjata yang hanya sebatang, namun berujung sangat tajam itu, seakan-akan berubah menjadi senjata yang berpuluh-puluh jumlahnya. Menyerang tubuh Banaspati dari segenap arah.
Meskipun Banaspati bukan seorang yang baru saja belajar memegang senjata, namun tiba-tiba ia menjadi bingung menghadapi permainan Bagus Abangan. Permainan murid Paraji Gading itu benar-benar memeningkan kepalanya. Meskipun demikian, Banaspatipun tidak segera menjadi cemas. Banaspati adalah seorang yang berpuluh bahkan beratus kali ia mengalami kesulitan di dalam peperangan dan perkelahian perseorangan. Namun berpuluh bahkan beratus kali ia dapat menghindarkan kesulitan itu. Karena itu, maka dengan sekuat-kuat tenaga yang ada padanya, maka ia berusaha untuk mematahkan gumpalan sinar hitam kebiru-biruan yang melandanya.
Tetapi gumpalan sinar hitam kebiru-biruan itu benar-benar seperti asap yang tak dapat disentuh oleh senjatanya. Bagus Abangan yang menjadi semakin bernafsu itu, telah menyerangnya tanpa pertimbangan kecuali membinasakan. Sekali-sekali Banaspati meloncat mundur. Tetapi ia tidak dapat menutup kenyataan bahwa desing senjata Bagus Abangan itu seakan-akan sebuah siulan maut yang selalu mengejarnya.
Paksi Jalak Kuning yang bertempur di dekat Bagus Abangan melihat kelebihan Bagus Abangan dari lawannya. Meskipun ada rasa tidak suka kepada anak itu tetapi, dalam menghadapi musuhnya, Paksi Jalak Kuning mengakui bahwa Bagus Abangan pemuda yang bilih tanding. Bagus Abangan sesekali melirik kearah medan pertempuran. Gerombolan Macan Ireng terpukul mundur.
Banaspati pun semakin lama menjadi semakin sulit pula. Sesekali ia meloncat ke belakang dan berusaha untuk berlindung di balik pertempuran. Namun akhirnya Bagus Abangan berhasil menekannya semakin dalam. Bagus Abangan pun mampu memperhitungkan keadaan, bahwa rombongan orang berkuda itu sebentar lagi perlawanannya akan dapat dipadamkan. Sehingga karena itu, maka Bagus Abangan kemudian memusatkan segenap kemampuannya untuk membinasakan lawannya itu. Banaspatipun benar-benar merasakan, betapa serangan-serangan Bagus Abangan semakin menekannya. Senjatanya yang berupa pedang tipis itu benar-benar telah berputar-putar ditelinganya. Betapapun Banaspati mencoba mempertahankan dirinya, namun Bagus Abangan itu mendesaknya semakin kuat.
Namun hal itu telah mendorong Bagus Abangan untuk berbuat lebih banyak. Kekecewaannya pada Ki Ageng Pandan Arum, kemarahannya kepada Mahesa Branjangan, dirangkapi oleh kemarahannya kepada Arya Gading menjadikannya berjuang sekuat-kuat tenaganya seperti orang kesetanan. Dalam keadaan yang demikian itu, maka Bagus Abangan benar-benar menjadi seorang anak muda yang pilih tanding. Maka, kini ia berusaha memeras segenap kemampuan yang ada padanya untuk membinasakan lawannya. Selain itu, ternyata Bagus Abangan pun seorang yang keras hati. Sekali ia bertekad untuk membunuh lawannya, maka tak ada alasan apa pun yang dapat mencegahnya. Kali ini pun ia bertekad membunuh Banaspati. Tak ada pikiran lain di dalam benaknya. Membunuh. Hanya itu. Membunuh.
Dengan demikian maka Bagus Abangan itu pun kemudian memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Senjatanya bergerak berputaran sehingga kemudian seakan-akan telah berubah menjadi asap yang hitam kebiru-biruan. Senjata yang hanya sebatang, namun berujung sangat tajam itu, seakan-akan berubah menjadi senjata yang berpuluh-puluh jumlahnya. Menyerang tubuh Banaspati dari segenap arah.
Meskipun Banaspati bukan seorang yang baru saja belajar memegang senjata, namun tiba-tiba ia menjadi bingung menghadapi permainan Bagus Abangan. Permainan murid Paraji Gading itu benar-benar memeningkan kepalanya. Meskipun demikian, Banaspatipun tidak segera menjadi cemas. Banaspati adalah seorang yang berpuluh bahkan beratus kali ia mengalami kesulitan di dalam peperangan dan perkelahian perseorangan. Namun berpuluh bahkan beratus kali ia dapat menghindarkan kesulitan itu. Karena itu, maka dengan sekuat-kuat tenaga yang ada padanya, maka ia berusaha untuk mematahkan gumpalan sinar hitam kebiru-biruan yang melandanya.
Tetapi gumpalan sinar hitam kebiru-biruan itu benar-benar seperti asap yang tak dapat disentuh oleh senjatanya. Bagus Abangan yang menjadi semakin bernafsu itu, telah menyerangnya tanpa pertimbangan kecuali membinasakan. Sekali-sekali Banaspati meloncat mundur. Tetapi ia tidak dapat menutup kenyataan bahwa desing senjata Bagus Abangan itu seakan-akan sebuah siulan maut yang selalu mengejarnya.
Paksi Jalak Kuning yang bertempur di dekat Bagus Abangan melihat kelebihan Bagus Abangan dari lawannya. Meskipun ada rasa tidak suka kepada anak itu tetapi, dalam menghadapi musuhnya, Paksi Jalak Kuning mengakui bahwa Bagus Abangan pemuda yang bilih tanding. Bagus Abangan sesekali melirik kearah medan pertempuran. Gerombolan Macan Ireng terpukul mundur.
Banaspati pun semakin lama menjadi semakin sulit pula. Sesekali ia meloncat ke belakang dan berusaha untuk berlindung di balik pertempuran. Namun akhirnya Bagus Abangan berhasil menekannya semakin dalam. Bagus Abangan pun mampu memperhitungkan keadaan, bahwa rombongan orang berkuda itu sebentar lagi perlawanannya akan dapat dipadamkan. Sehingga karena itu, maka Bagus Abangan kemudian memusatkan segenap kemampuannya untuk membinasakan lawannya itu. Banaspatipun benar-benar merasakan, betapa serangan-serangan Bagus Abangan semakin menekannya. Senjatanya yang berupa pedang tipis itu benar-benar telah berputar-putar ditelinganya. Betapapun Banaspati mencoba mempertahankan dirinya, namun Bagus Abangan itu mendesaknya semakin kuat.
Quote:
AKHIRNYA BANASPATI menganggap bahwa tak akan ada gunanya ia bertahan seorang diri. Karena itu, tiba-tiba terdengar ia bersuit nyaring. Bagus Abangan mendengar suara suitan itu. Terasa dadanya bergetar. Ia pun tahu pasti, bahwa Banaspati memanggil seorang atau dua orang untuk membantunya. Dan sebenarnyalah, seseorang yang bertubuh tinggi, namun tidak cukup besar dibandingkan dengan tingginya, meloncat dengan lincahnya, menyerbu ke tempat pertempuran antara Banaspati dan Bagus Abangan. Di tangannya tergenggam sebilah tombak pendek. Dengan cepatnya ujung tombak itu bergetar, dan dengan tangkasnya ia memotong serangan-serangan Bagus Abangan.
Bagus Abangan surut selangkah. Terdengar ia menggeram parau, “Setan. Apakah kau sudah kehabisan akal?”
Banaspati tertawa, “Di dalam pertempuran, maka setiap orang di pihak lawan adalah musuhnya. Panggillah orang-orangmu untuk ikut serta dalam pertempuran berpasangan ini. Hai, Dugul tentu kau tidak lupa dengan wajah orang yang telah memutuskan tiga jemari tangan mu bukan?”
Orang yang baru datang memegang sebilah tombak pendek itu mendengus marah. Matanya menyorot tajam ke arah Bagus Abangan.
“ Sebagai ganti jari ku yang terputus. Aku minta leher mu anak muda “
Bagus Abangan menjadi semakin marah. Pedangnya berputar secepat kilat. Dugul yang hendak membantu Baspati pun terpaksa berjibaku menghindari hujan senjata yang terus menerjangnya. Tidak butuh waktu lama untuk Bagus Abangan melumpuhkan Dugul. Lelaki itu berteriak merobek langit manakala lambungnya disabet pedang. Tubuh itu terhuyung ke belakang lantas jatuh terhampar di atas tanah.
Dalam keadaan yang demikian itulah Bagus Abangan yang berotak cerdas mempergunakan keadaan sebaik-baiknya. Bagus Abangan meloncat dengan garangnya. Memutar senjatanya dan mendesak Banaspatisejadi-jadinya. Banaspati benar-benar terkejut dan karena itu sesaat ia kehilangan keseimbangan. Keseimbangan gerak dan keseimbangan pikiran. Dengan demikian maka justru ia lupa untuk memberi isyarat kepada orang lain lagi untuk membantunya. Perhatiannya tercurah sepenuhnya dalam usahanya untuk mempertahankan dirinya. Tetapi ketika kembali terasa nyawanya seakan-akan telah melekat di ujung senjata Bagus Abangan, maka barulah ia teringat kembali kepada orang-orang yang berdiri mengitarinya.
Tetapi Banaspati telah terlambat. Getar senjata Bagus Abangan telah benar-benar memusingkan kepalanya. Maka demikian terdengar ia bersuit dua kali untuk memanggil orangnya yang lain, maka demikian pundaknya tergores oleh senjata Bagus Abangan. Banaspati terkejut bukan buatan. Sekali ia melontar mundur, namun Bagus Abangan itu sempat mengejarnya, dengan satu loncatan pula. Dan sebelum seseorang berhasil datang membantunya karena masing –masing telah sibuk menyelamatkan dirinya sendiri, terdengarlah Banaspati Cumiik pendek. Sekali lagi pedang Bagus Abangan yang dahsyat itu merobek dadanya.
Kini Banaspati benar-benar telah kehilangan keseimbangannya. Matanya kemudian seakan-akan mejadi gelap, dan sinar-sinar obor di sekitarnya itu serasa menjadi padam bersama-sama. Yang terasa kemudian sekali lagi sebuah tusukan menghunjam dadanya, langsung menembus jantungnya. Banaspati mengaduh sekali, kemudian ketika Bagus Abangan menarik senjatanya yang berlumuran darah, Banaspatiitu terseret selangkah maju untuk kemudian jatuh terjerebab di bawah kaki anak muda itu.
Ketika seseorang datang mendekatinya, orang itu terkejut. Yang dilihatnya adalah Bagus Abangan berdiri tegak di atas tubuh Banaspati. Karena itu betapa marahnya orang itu. Dengan serta-merta ia menyerang Bagus Abangan tepat di dadanya. Tetapi serangan itu tidak banyak berarti buat Bagus Abangan. Sekali Bagus Abangan mengelak dan ketika senjata orang itu terjulur di samping tubuh Bagus Abangan, maka tangan Bagus Abangan bergerak dengan cepatnya. Sebuah goresan yang panjang telah melukai lambung orang itu. Ketika orang itu berteriak ngeri, maka sekali lagi Bagus Abangan menusuk perutnya. Orang itu pun terbanting jatuh di samping tubuh Banaspati.
Tetapi agaknya kemarahan Bagus Abangan masih belum tercurahkan seluruhnya. Ketika sekali lagi ia melihat tubuh Banaspati, maka terungkatlah geram di hatinya. Karena itu dengan serta-merta ia menggerakkan senjatanya, menyobek punggun lawannya yang sudah tidak bernafas itu. Sekali, dua kali dan dipuaskannya hatinya.
Paksi Jalak Kuning yang semula tersenyum melihat kemenangan Bagus Abangan, tiba-tiba mengerutkan keningnya. Sambil melayani lawannya ia melihat betapa Bagus Abangan berbuat melampaui batas. Paksi Jalak Kuning sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam hati Bagus Abangan itu tersimpan kekerasan, kekejaman dan kekasaran. Ditubuh anak muda itu ternyata mengalir darah yang buram, sehingga dengan tangannya, anak muda itu sampai hati berbuat demikian atas lawannya yang sudah tidak dapat melawannya.
“Anak setan” geram Paksi Jalak Kuning itu, “Anak itu telah menjelma menjadi seorang iblis”
Bagus Abangan itu benar-benar seperti orang yang sedang kesurupan. Dengan mata yang merah liar dan gigi gemeretak, disobeknya tubuh lawannya yang terbaring diam.
“Bagus Abangan” desis Paksi Jalak Kuning yang tidak tahan lagi melihat perbuatan Bagus Abangan, “Sudahlah. Jangan kau turuti hatimu yang gelap”
“Tutup mulutmu” Bagus Abangan itu membentak.
Dan Paksi Jalak Kuning menutup mulutnya. Dalam keadaan itu, ia lebih baik tidak membuat persoalan, sebab kemungkinan menjadi salah paham sangat besar. Pada saat Bagus Abangan sedang kehilangan segenap pertimbangannya. Karena itu, maka ia lebih baik memusatkan perhatiannya pada lawannya. Diputarnya senjatanya dan dengan dahsyatnya ia menyerang seperti taufan. Ternyata bukan saja Paksi Jalak Kuning yang heran melihat perbuatan Bagus Abangan. Hampir setiap orang, baik dari pemuda Cangkringan, cantrik Pasanggarang maupun dari orang –orang Macan Ireng, hatinya tergetar melihat perbuatan itu. Apalagi anak-anak muda Cangkringan. Mereka menjadi ngeri. Bagi mereka, lebih baik memalingkan wajah-wajah mereka, dan memusatkan segenap perhatian mereka untuk menyelamatkan diri mereka dari sergapan senjata lawannya.
Perbuatan Bagus Abangan itu ternyata berpengaruh bagi lawannya. Mereka menjadi ngeri dan cemas. Selain kematian pemimpin mereka, maka apa yang mereka lihat itu benar-benar telah mengerutkan hati mereka. Setelah puas dengan perbuatannya, Bagus Abangan tegak berdiri di atas mayat lawannya, satu kakinya menginjak punggung, dan satu kakinya di atas kepala.
Dengan lantang ia berkata kepada semua orang yang masih bertempur dengan gigihnya, “He, orang –orang Jalatunda yang keras kepala. Lihatlah, pemimpinmu telah terbunuh mati oleh tangan Bagus Abangan. Inilah Bagus Abangan, murid Paraji Gading yang bergelar Hantu Gunung Sumbing”
Suara Bagus Abangan itu menggelegar, menyusup di antara dentang senjata dan jerit kesakitan, menggema berputar-putar di dalam malam yang kelam, seakan-akan getar suara dari neraka, memanggil-manggil setiap nama yang ikut serta dalam pertempuran itu. Malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang yang gemerlapan di langit bergeser setapak-setapak kebarat dalam hembusan angin malam yang dingin. Selembar-selembar awan yang putih mengalir keutara seperti gumpalan-gumpalan kapuk raksasa yang sedang hanyut. Pertempuran di perbatasan padukuhan Cangkringan masih berlangsung dengan sengitnya.namun, lama kelamaan nyapa pertempuran itu semakin redup, redup dan akhirnya padam. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Beberapa orang – orang itu terluka parah dan beberapa lagi mampu meloloskan diri dengan tubuh penuh luka karena sabetan atau tusukan senjata lawan.
Bagus Abangan surut selangkah. Terdengar ia menggeram parau, “Setan. Apakah kau sudah kehabisan akal?”
Banaspati tertawa, “Di dalam pertempuran, maka setiap orang di pihak lawan adalah musuhnya. Panggillah orang-orangmu untuk ikut serta dalam pertempuran berpasangan ini. Hai, Dugul tentu kau tidak lupa dengan wajah orang yang telah memutuskan tiga jemari tangan mu bukan?”
Orang yang baru datang memegang sebilah tombak pendek itu mendengus marah. Matanya menyorot tajam ke arah Bagus Abangan.
“ Sebagai ganti jari ku yang terputus. Aku minta leher mu anak muda “
Bagus Abangan menjadi semakin marah. Pedangnya berputar secepat kilat. Dugul yang hendak membantu Baspati pun terpaksa berjibaku menghindari hujan senjata yang terus menerjangnya. Tidak butuh waktu lama untuk Bagus Abangan melumpuhkan Dugul. Lelaki itu berteriak merobek langit manakala lambungnya disabet pedang. Tubuh itu terhuyung ke belakang lantas jatuh terhampar di atas tanah.
Dalam keadaan yang demikian itulah Bagus Abangan yang berotak cerdas mempergunakan keadaan sebaik-baiknya. Bagus Abangan meloncat dengan garangnya. Memutar senjatanya dan mendesak Banaspatisejadi-jadinya. Banaspati benar-benar terkejut dan karena itu sesaat ia kehilangan keseimbangan. Keseimbangan gerak dan keseimbangan pikiran. Dengan demikian maka justru ia lupa untuk memberi isyarat kepada orang lain lagi untuk membantunya. Perhatiannya tercurah sepenuhnya dalam usahanya untuk mempertahankan dirinya. Tetapi ketika kembali terasa nyawanya seakan-akan telah melekat di ujung senjata Bagus Abangan, maka barulah ia teringat kembali kepada orang-orang yang berdiri mengitarinya.
Tetapi Banaspati telah terlambat. Getar senjata Bagus Abangan telah benar-benar memusingkan kepalanya. Maka demikian terdengar ia bersuit dua kali untuk memanggil orangnya yang lain, maka demikian pundaknya tergores oleh senjata Bagus Abangan. Banaspati terkejut bukan buatan. Sekali ia melontar mundur, namun Bagus Abangan itu sempat mengejarnya, dengan satu loncatan pula. Dan sebelum seseorang berhasil datang membantunya karena masing –masing telah sibuk menyelamatkan dirinya sendiri, terdengarlah Banaspati Cumiik pendek. Sekali lagi pedang Bagus Abangan yang dahsyat itu merobek dadanya.
Kini Banaspati benar-benar telah kehilangan keseimbangannya. Matanya kemudian seakan-akan mejadi gelap, dan sinar-sinar obor di sekitarnya itu serasa menjadi padam bersama-sama. Yang terasa kemudian sekali lagi sebuah tusukan menghunjam dadanya, langsung menembus jantungnya. Banaspati mengaduh sekali, kemudian ketika Bagus Abangan menarik senjatanya yang berlumuran darah, Banaspatiitu terseret selangkah maju untuk kemudian jatuh terjerebab di bawah kaki anak muda itu.
Ketika seseorang datang mendekatinya, orang itu terkejut. Yang dilihatnya adalah Bagus Abangan berdiri tegak di atas tubuh Banaspati. Karena itu betapa marahnya orang itu. Dengan serta-merta ia menyerang Bagus Abangan tepat di dadanya. Tetapi serangan itu tidak banyak berarti buat Bagus Abangan. Sekali Bagus Abangan mengelak dan ketika senjata orang itu terjulur di samping tubuh Bagus Abangan, maka tangan Bagus Abangan bergerak dengan cepatnya. Sebuah goresan yang panjang telah melukai lambung orang itu. Ketika orang itu berteriak ngeri, maka sekali lagi Bagus Abangan menusuk perutnya. Orang itu pun terbanting jatuh di samping tubuh Banaspati.
Tetapi agaknya kemarahan Bagus Abangan masih belum tercurahkan seluruhnya. Ketika sekali lagi ia melihat tubuh Banaspati, maka terungkatlah geram di hatinya. Karena itu dengan serta-merta ia menggerakkan senjatanya, menyobek punggun lawannya yang sudah tidak bernafas itu. Sekali, dua kali dan dipuaskannya hatinya.
Paksi Jalak Kuning yang semula tersenyum melihat kemenangan Bagus Abangan, tiba-tiba mengerutkan keningnya. Sambil melayani lawannya ia melihat betapa Bagus Abangan berbuat melampaui batas. Paksi Jalak Kuning sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam hati Bagus Abangan itu tersimpan kekerasan, kekejaman dan kekasaran. Ditubuh anak muda itu ternyata mengalir darah yang buram, sehingga dengan tangannya, anak muda itu sampai hati berbuat demikian atas lawannya yang sudah tidak dapat melawannya.
“Anak setan” geram Paksi Jalak Kuning itu, “Anak itu telah menjelma menjadi seorang iblis”
Bagus Abangan itu benar-benar seperti orang yang sedang kesurupan. Dengan mata yang merah liar dan gigi gemeretak, disobeknya tubuh lawannya yang terbaring diam.
“Bagus Abangan” desis Paksi Jalak Kuning yang tidak tahan lagi melihat perbuatan Bagus Abangan, “Sudahlah. Jangan kau turuti hatimu yang gelap”
“Tutup mulutmu” Bagus Abangan itu membentak.
Dan Paksi Jalak Kuning menutup mulutnya. Dalam keadaan itu, ia lebih baik tidak membuat persoalan, sebab kemungkinan menjadi salah paham sangat besar. Pada saat Bagus Abangan sedang kehilangan segenap pertimbangannya. Karena itu, maka ia lebih baik memusatkan perhatiannya pada lawannya. Diputarnya senjatanya dan dengan dahsyatnya ia menyerang seperti taufan. Ternyata bukan saja Paksi Jalak Kuning yang heran melihat perbuatan Bagus Abangan. Hampir setiap orang, baik dari pemuda Cangkringan, cantrik Pasanggarang maupun dari orang –orang Macan Ireng, hatinya tergetar melihat perbuatan itu. Apalagi anak-anak muda Cangkringan. Mereka menjadi ngeri. Bagi mereka, lebih baik memalingkan wajah-wajah mereka, dan memusatkan segenap perhatian mereka untuk menyelamatkan diri mereka dari sergapan senjata lawannya.
Perbuatan Bagus Abangan itu ternyata berpengaruh bagi lawannya. Mereka menjadi ngeri dan cemas. Selain kematian pemimpin mereka, maka apa yang mereka lihat itu benar-benar telah mengerutkan hati mereka. Setelah puas dengan perbuatannya, Bagus Abangan tegak berdiri di atas mayat lawannya, satu kakinya menginjak punggung, dan satu kakinya di atas kepala.
Dengan lantang ia berkata kepada semua orang yang masih bertempur dengan gigihnya, “He, orang –orang Jalatunda yang keras kepala. Lihatlah, pemimpinmu telah terbunuh mati oleh tangan Bagus Abangan. Inilah Bagus Abangan, murid Paraji Gading yang bergelar Hantu Gunung Sumbing”
Suara Bagus Abangan itu menggelegar, menyusup di antara dentang senjata dan jerit kesakitan, menggema berputar-putar di dalam malam yang kelam, seakan-akan getar suara dari neraka, memanggil-manggil setiap nama yang ikut serta dalam pertempuran itu. Malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang yang gemerlapan di langit bergeser setapak-setapak kebarat dalam hembusan angin malam yang dingin. Selembar-selembar awan yang putih mengalir keutara seperti gumpalan-gumpalan kapuk raksasa yang sedang hanyut. Pertempuran di perbatasan padukuhan Cangkringan masih berlangsung dengan sengitnya.namun, lama kelamaan nyapa pertempuran itu semakin redup, redup dan akhirnya padam. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Beberapa orang – orang itu terluka parah dan beberapa lagi mampu meloloskan diri dengan tubuh penuh luka karena sabetan atau tusukan senjata lawan.
Quote:
LEBIH DARI sepuluh sosok tubuh berkelebat dengan cepat di sela –sela pepohonan. Gerakan orang –orang itu sangat ringan dan enteng. Orang –orang itu semuanya bergerak dengan cekatan. Bagai ular bandotan macam yang sedang merayap di dalam gelapnya malam. Tiba –tiba semuanya berhenti. Salah seorang memandang nyala merah di sebelah timur.
“ Mereka sudah memulainya Welat Kuning. Di dalam padepokan akan menjadi bagian kita. Aku ingatkan kembali kepada kalian. Bergeraklah dengan cepat, bakar padepokan itu dan cari anak yang bernama Arya Gading. Kalian paham? “
“ Paham Ki Lurah”, orang – orang itu menjawab serempak.
“ Lihatlah di depan itu ada dinding batu. Setelah kita melompati dinding itu akan semakin dekat dengan padepokan Pasanggaran. Marilah kita cepat bergerak. Jangan sampai kamanungsan”
Lantas orang –orang itu dengan sangat hati-hati mendekati dinding batu. Di kedua gardu sebelah-menyebelah yang tidak terlampau jauh jaraknya itu sudah tidak terdengar suara apa pun lagi. Untunglah malam itu gelapnya bukan kepalang, sehingga oang –orang ini dapat merayap tanpa dapat dilihat di antara rerumputan yang tinggi. Kemudian ia harus menyeberang sawah yang tidak terlampau luas, menyelusur pematang. Tetapi sawah itu agaknya tidak terlampau subur, sehingga daerah itu kurang mendapat perhatian. Bahkan daerah yang bersemak-semak liar itu pun masih juga tidak pernah disentuh tangan apalagi digarap. Daerah di sebelah utara Pasanggaran itu memang masih diperlukan saluran air yang cukup untuk membuatnya menjadi tanah pertanian.
Dalam pada itu, seorang demi seorang merayap mendekati dinding batu padukuhan Benda yang berbatasan langsung dengan padepokan Pasanggaran. Seorang demi seorang telah meloncat masuk dengan sangat hati-hati di dalam lindungan gelapnya malam. Sementara itu di Pasanggaran, para cantrik pilihan yang berada di halaman rumah itu pun hampir menjadi semakin jemu menunggu. Bahkan ada satu dua di antara mereka yang tanpa dikehendakinya sendiri, telah terkantuk-kantuk bersandar sebatang pohon perdu yang rimbun. Malam yang sunyi dan mencekam itu tiba –tiba terusik. Suara isyarat namun tidak begitu keras itu ternyata telah menumbuhkan kecurigaan. Suara burung hantu itu disekat oleh irama yang terlampau teratur, sehingga suara itu telah mengusik ketenangan para cantrik di padepokan Pasanggaran.
Ternyata bukan saja para cantrik yang telah mendengar suara isyarat itu. Anjam Kayuwangi, Ki Ageng Pandan Arum, Arya Gading, dan Kuda Merta pun telah menjadi curiga mendengar suara burung yang aneh itu. Meskipun demikian, ada juga di antara mereka yang menyangka, bahwa suara itu adalah suara burung hantu yang sebenarnya. Tetapi, ternyata bahwa para pemimpin kelompok cantrik yang ada di dalam halaman itu telah memberikan aba-aba pula, dengan menyentuh seorang yang bertugas di sampingnya, kemudian sentuhan itu pun menjalar dari yang seorang kepada orang lain. Bagi mereka yang berada pada jarak beberapa langkah, maka para cantrik itu pun telah mempergunakan batu-batu kerikil sebagai isyarat, bahwa mereka harus bersiap. Pada saat itulah, beberapa orang penyerang mulai tersembul dari balik dinding halaman di belakang padepokan. Dengan sangat hati-hati, seorang demi seorang telah meloncat dinding itu.
Maka sejenak kemudian, saat-saat yang paling menegangkan telah terjadi di halaman padepokan Pasanggaran. Beberapa orang cantrik yang terpencar dan bersembunyi di balik semak-semak dapat melihat beberapa orang yang meloncat masuk itu. Tetapi seperti pesan yang mereka terima, mereka tidak boleh berbuat sesuatu jika belum ada perintah, kecuali apabila tanpa disengaja mereka telah diketahui oleh para penyerang itu. Tetapi karena para cantrik itu telah menempatkan diri pada tempat yang paling baik menurut pilihan mereka, maka orang-orang yang memasuki halaman di dalam gelap itu pun tidak segera dapat melihat mereka. Bahkan mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa kedatangan mereka telah ditunggu oleh cantrik-cantrik dari Pasanggaran.
“ Mereka sudah memulainya Welat Kuning. Di dalam padepokan akan menjadi bagian kita. Aku ingatkan kembali kepada kalian. Bergeraklah dengan cepat, bakar padepokan itu dan cari anak yang bernama Arya Gading. Kalian paham? “
“ Paham Ki Lurah”, orang – orang itu menjawab serempak.
“ Lihatlah di depan itu ada dinding batu. Setelah kita melompati dinding itu akan semakin dekat dengan padepokan Pasanggaran. Marilah kita cepat bergerak. Jangan sampai kamanungsan”
Lantas orang –orang itu dengan sangat hati-hati mendekati dinding batu. Di kedua gardu sebelah-menyebelah yang tidak terlampau jauh jaraknya itu sudah tidak terdengar suara apa pun lagi. Untunglah malam itu gelapnya bukan kepalang, sehingga oang –orang ini dapat merayap tanpa dapat dilihat di antara rerumputan yang tinggi. Kemudian ia harus menyeberang sawah yang tidak terlampau luas, menyelusur pematang. Tetapi sawah itu agaknya tidak terlampau subur, sehingga daerah itu kurang mendapat perhatian. Bahkan daerah yang bersemak-semak liar itu pun masih juga tidak pernah disentuh tangan apalagi digarap. Daerah di sebelah utara Pasanggaran itu memang masih diperlukan saluran air yang cukup untuk membuatnya menjadi tanah pertanian.
Dalam pada itu, seorang demi seorang merayap mendekati dinding batu padukuhan Benda yang berbatasan langsung dengan padepokan Pasanggaran. Seorang demi seorang telah meloncat masuk dengan sangat hati-hati di dalam lindungan gelapnya malam. Sementara itu di Pasanggaran, para cantrik pilihan yang berada di halaman rumah itu pun hampir menjadi semakin jemu menunggu. Bahkan ada satu dua di antara mereka yang tanpa dikehendakinya sendiri, telah terkantuk-kantuk bersandar sebatang pohon perdu yang rimbun. Malam yang sunyi dan mencekam itu tiba –tiba terusik. Suara isyarat namun tidak begitu keras itu ternyata telah menumbuhkan kecurigaan. Suara burung hantu itu disekat oleh irama yang terlampau teratur, sehingga suara itu telah mengusik ketenangan para cantrik di padepokan Pasanggaran.
Ternyata bukan saja para cantrik yang telah mendengar suara isyarat itu. Anjam Kayuwangi, Ki Ageng Pandan Arum, Arya Gading, dan Kuda Merta pun telah menjadi curiga mendengar suara burung yang aneh itu. Meskipun demikian, ada juga di antara mereka yang menyangka, bahwa suara itu adalah suara burung hantu yang sebenarnya. Tetapi, ternyata bahwa para pemimpin kelompok cantrik yang ada di dalam halaman itu telah memberikan aba-aba pula, dengan menyentuh seorang yang bertugas di sampingnya, kemudian sentuhan itu pun menjalar dari yang seorang kepada orang lain. Bagi mereka yang berada pada jarak beberapa langkah, maka para cantrik itu pun telah mempergunakan batu-batu kerikil sebagai isyarat, bahwa mereka harus bersiap. Pada saat itulah, beberapa orang penyerang mulai tersembul dari balik dinding halaman di belakang padepokan. Dengan sangat hati-hati, seorang demi seorang telah meloncat dinding itu.
Maka sejenak kemudian, saat-saat yang paling menegangkan telah terjadi di halaman padepokan Pasanggaran. Beberapa orang cantrik yang terpencar dan bersembunyi di balik semak-semak dapat melihat beberapa orang yang meloncat masuk itu. Tetapi seperti pesan yang mereka terima, mereka tidak boleh berbuat sesuatu jika belum ada perintah, kecuali apabila tanpa disengaja mereka telah diketahui oleh para penyerang itu. Tetapi karena para cantrik itu telah menempatkan diri pada tempat yang paling baik menurut pilihan mereka, maka orang-orang yang memasuki halaman di dalam gelap itu pun tidak segera dapat melihat mereka. Bahkan mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa kedatangan mereka telah ditunggu oleh cantrik-cantrik dari Pasanggaran.
Diubah oleh breaking182 27-07-2022 11:20
ashrose dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas