- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#239
Chapter 150
Quote:
Malam begitu dingin dengan salju yang menolak untuk tidak terus turun. Orang-orang berjalan menggunakan pakaian yang paling hangat, yang ketebalan hampir menyaingi salju yang dipinggirkan di jalan. Sebuah rumah tidak berpenghuni dengan lampu yang tidak dinyalakan, menjadi tempat kediaman dari duo kembar pembawa teror di Surban City, yaitu Atlas dan Globe.
“Ikut aku ke bawah sebentar,” ucap Atlas yang kemudian Globe mengikutinya.
Bagian bawah rumah ini sama seperti rumah-rumah pada umumnya di sekitaran perumahan tempat duo kembar tinggal. Digunakan sebagai tempat mencuci pakaiannya, sebagian menggunakannya sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Dengan menuruni beberapa anak tangga, mereka sudah sampai di lantai paling bawah. Atlas menekan saklar lalu lampu berwarna kuning hangat muncul, ada sebuah meja kayu persegi berukuran kecil kokoh berdiri di tengah ruangan.
Atlas mengeluarkan sebuah amplop putih persegi panjang yang dilipatnya agar masuk ke dalam saku belakang celana berbahan karet yang dikenakannya. Lalu membukanya dan mengeluarkan beberapa foto yang ada beserta kertas yang berisikan tulisan. “Ini target kita selanjutnya,” tambahnya.
Globe memandangi foto yang memperlihatkan seorang bapak tua lengkap dengan rambut brewok yang memenuhi wajahnya. “Hah? Siapa?”
“Orang ini adalah pimpinan dari perusahaan media nomor satu di kota ini, di kertas putih ini juga berisikan info yang sangat detil,” Atlas memegang sebuah kertas lalu memberikannya kepada Globe tuk dibacanya.
“Hm, bunuh orang ini, lalu orang-orang mulai menyadari kengerian monster Beaters….,” ucap Globe membaca tulisan yang ada. “ah apa ini tidak terlalu kenakak-kanakan? Apa yang diperoleh dari menjadi terkenal?” Globe melempar kertasnya dengan tidak sopan, menutupi foto yang tergeletak di atas meja.
“Entahlah, pekerjaan utama kita sudah selesai, mestinya itu saja sudah cukup. Tapi orang itu ingin kita melakukan sesuatu hal lain, yaitu dengan membunuh…,” Atlas kembali mengambil kertasnya, “Brock?”
Globe menyangga kepalanya dengan kedua telapak tangannya sambil menaiki kedua kakinya ke atas meja yang kecil. “Baiklah, jika orang itu yang meminta kita tidak bisa menolaknya. Lagipula orang itu pula yang merancang semua ini untuk kita,” matanya menatap lampu bohlam yang menyala terang.
“Jika kita beruntung, malam ini kita sudah bisa menyelesaikan tugasnya,” Atlas membaca dengan seksama detil yang diberikan.
Sementara itu kondisi Kaizer sedikit membaik setelah pemberian obat dan juga vitamin yang diberikan oleh Dokter Lucas pada dirinya. Namun ia tidak bisa untuk harus berpatroli malam, tempat tidurnya yang empuk dan juga suasana kamarnya yang tenang sekarang menjadi tempat favoritnya. Selain itu Cronic sudah mulai melakukan tugasnya lagi setelah beberapa hari mengurung diri di tempat latihan di ruangan bawah tanah. Meski kemampuan yang sudah dikuasainya belum terlalu sempurna tekniknya, tetapi cukup untuk melawan duo kembar jika diperlukan.
“Aku pergi dulu, tolong perhatikan tuan Kaizer jika pekerjaanmu di sini sudah selesai,” ucap Cronic tenang.
“Baiklah, tinggal dua orang lagi yang tersisa, tolong putar papan penandannya untukku,” pinta Gonzalo.
Cronic pergi sambil membalikan papan penanda bar. Udaranya sangat dingin, angin yang berhembus cukup kencang, jarang-jarang terjadi hal seperti ini. Meskipun Cronic baru tinggal hampir dua bulan, tetapi lingkungan di sini sudah cukup familiar baginya.
“Aku tidak boleh membuang waktu lagi, sudah terlalu lama aku membiarkan mereka terus melakukan teror di sini!” dengan semangat yang tinggi dan juga untuk membanggakan ketuanya, Cronic mulai bergerak cepat mencari keberadaan duo kembar.
Seorang pria tua terlihat sangat mabuk berkeliaran seorang diri di sekitaran jalan kota. Keseimbangannya goyah akibat mengusir pergi dua orang yang berjalan mendampinginya barusan. orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya harus mengindar, karena tidak sanggup dengan kata-kata kasar yang terdengar nyaring di telinga.
“HA!...HA!...aku orang paling kaya di sini, dan mereka menolak kerjasama yang aku tawarkan! BERENGSEK!” matanya terbuka setengah, wajahnya merah karena kadar alkohol yang tinggi ditubuhnya. “akan kusewa penyidik swasta untuk membongkar kedok kalian, lalu akan kusebarkan ke seluruh dunia, JANGAN MACAM-MACAM DENGAN MISTER BROCK!” tertawa sangat keras, lalu tersandung dan jatuh ke tumpukan salju di pinggir jalan.
Atlas dan Globe sudah bergerak menjalankan misinya, menurut informasi yang tertera dalam kertas, tempat yang mereka datangi sudah menjadi sebuah rutinitas dari Mr. Brock tuk dikunjungi pada waktu dan jam tertentu. Kedatangan mereka berdua jelas menjadi pemandangan yang cukup jarang, karena berpenampilan aneh dan nyentrik.
“Cih, orang-orang idiot ini memandangi kita layaknya melihat sesuatu benda yang menjijikan,” ucap Globe.
“Tenangkan dirimu, orang-orang ini sudah jelas tidak layak kita jadikan monster, fokus mencari target saja, itu misi kita,” Atlas mulai mencari dan Globe mengikutinya. Tidak lupa kumbang berukuran mikro disebar untuk mencari.
Sebuah bar mewah di mana terdapat beberapa meja yang ditancapkan tiang besi ditengahnya, seorang wanita telanjang menari tanpa tahu batasan, semakin erotis maka uang yang dilemparkan oleh pria-pria tua hidung belang ini semakin banyak. Hanya penjaga pintu depan yang menilai Atlas dan Globe memiliki banyak uang karena melihat pakaiannya yang berkilau, selebihnya orang berjas di dalam memandang lain.
Atlas dan Globe berpencar, yang satu menulusuri lantai bawah sedangkan satunya lantai atas sambil terus memandangi foto sebagai pegangan. Setelah cukup lama mencari, tidak ada satu pun orang yang berpenampilan sama. Ada beberapa ruangan bertuliskan ‘VIP’, tugas kumbang kecil untuk memeriksanya. Setelah mendapatkan informasi, Atlas menunggu Globe turun untuk membahasnya.
“Bagaimana? Menemukan sesuatu? Kumbang kecil yang disebar dan mengintai di ruangan privat tidak menemukan apa-apa,” tanya Atlas.
“Aku tidak melihat sosoknya di lantai dua,” ucap Globe.
Pencarian pun berlanjut, Globe sempat mengoceh dengan memaki seseorang yang memberinya misi itu. Padahal secara logika orang yang ditargetkan untuk dibunuh akan jauh lebih mudah dilakukan jika langsung dihampiri ke tempat kediamannya. Informasi yang diberikan sangat tidak berguna menurutnya, lain hal bagi Atlas. Mungkin ada tujuan lain mengapa target harus dibunuh saat berada di luar tempatnya.
“Jika ingin terkenal, kita serang di stasiun televisinya, kita buat teror skala kota!” ucap Globe tinggi.
“Sejauh ini tidak ada orang yang melakukannya secara terang-terangan seperti idemu itu, jika kita melakukannya, kita yang akan diburu, bukan memburu.”
“Eh, kau takut pada manusia?”
“Bukan, tetapi pada monster yang menyamar sebagai manusia biasa,” ucapan Atlas membuat Globe terdiam, maksud dari perkataannya itu sudah dipahaminya langsung.
Mister Brock terbangun setelah tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, tubuhnya sudah terkubur dalam salju yang terus turun, beruntung dirinya selamat karena alkohol di aliran darahnya tetap membuatnya hangat. Pakaian rapih dan bagusnya dipenuhi oleh salju, kepalanya sangat sakit dan pandangannya masih kabur. Sangat jarang jalanan di tengah Surban City terlihat sepi seperti sekarang, tetapi mister Brock membawa dirinya ke sebuah sisi kota yang asing.
“Ah…kepalaku sakit, terlalu banyak minum,” mister Brock duduk di atas tumpukan salju. Matanya melirik ke kiri dan kanan, jalanan begitu kosong. “tumben sekali, apa hari ini libur,” mencoba bangkit dan berdiri dengan kedua kakinya. “aku harus menghubungi penjaga yang aku bentak dan usir, harusnya mereka tetap mengikutiku, tapi perintahku lebih dahsyat dari nyalinya rupanya,” merogoh saku jaket panjangnya, ponselnya tidak ditemukan di sana. “baiklah, aku akan berjalan sebentar dan mencari taksi,” mister Brock mengambil langkahnya pelan.
Setelah berjalan beberapa saat, mister Brock menemukan persimpangan, lampu-lampu yang berkilau dari kendaraan membuat perasaannya lega, akan mudah menemukan tumpangan pikirnya. Namun sebuah tepukan pada pundaknya menghentikan langkahnya, lalu kepalanya menoleh kebelakangan. Dua orang berambut aneh berwarna-warni berdiri dibelakangnya.
“Oi pak tua, kau tersesat?” ucap Globe sambil memamerkan senyum lebarnya.
“Ikut aku ke bawah sebentar,” ucap Atlas yang kemudian Globe mengikutinya.
Bagian bawah rumah ini sama seperti rumah-rumah pada umumnya di sekitaran perumahan tempat duo kembar tinggal. Digunakan sebagai tempat mencuci pakaiannya, sebagian menggunakannya sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Dengan menuruni beberapa anak tangga, mereka sudah sampai di lantai paling bawah. Atlas menekan saklar lalu lampu berwarna kuning hangat muncul, ada sebuah meja kayu persegi berukuran kecil kokoh berdiri di tengah ruangan.
Atlas mengeluarkan sebuah amplop putih persegi panjang yang dilipatnya agar masuk ke dalam saku belakang celana berbahan karet yang dikenakannya. Lalu membukanya dan mengeluarkan beberapa foto yang ada beserta kertas yang berisikan tulisan. “Ini target kita selanjutnya,” tambahnya.
Globe memandangi foto yang memperlihatkan seorang bapak tua lengkap dengan rambut brewok yang memenuhi wajahnya. “Hah? Siapa?”
“Orang ini adalah pimpinan dari perusahaan media nomor satu di kota ini, di kertas putih ini juga berisikan info yang sangat detil,” Atlas memegang sebuah kertas lalu memberikannya kepada Globe tuk dibacanya.
“Hm, bunuh orang ini, lalu orang-orang mulai menyadari kengerian monster Beaters….,” ucap Globe membaca tulisan yang ada. “ah apa ini tidak terlalu kenakak-kanakan? Apa yang diperoleh dari menjadi terkenal?” Globe melempar kertasnya dengan tidak sopan, menutupi foto yang tergeletak di atas meja.
“Entahlah, pekerjaan utama kita sudah selesai, mestinya itu saja sudah cukup. Tapi orang itu ingin kita melakukan sesuatu hal lain, yaitu dengan membunuh…,” Atlas kembali mengambil kertasnya, “Brock?”
Globe menyangga kepalanya dengan kedua telapak tangannya sambil menaiki kedua kakinya ke atas meja yang kecil. “Baiklah, jika orang itu yang meminta kita tidak bisa menolaknya. Lagipula orang itu pula yang merancang semua ini untuk kita,” matanya menatap lampu bohlam yang menyala terang.
“Jika kita beruntung, malam ini kita sudah bisa menyelesaikan tugasnya,” Atlas membaca dengan seksama detil yang diberikan.
Sementara itu kondisi Kaizer sedikit membaik setelah pemberian obat dan juga vitamin yang diberikan oleh Dokter Lucas pada dirinya. Namun ia tidak bisa untuk harus berpatroli malam, tempat tidurnya yang empuk dan juga suasana kamarnya yang tenang sekarang menjadi tempat favoritnya. Selain itu Cronic sudah mulai melakukan tugasnya lagi setelah beberapa hari mengurung diri di tempat latihan di ruangan bawah tanah. Meski kemampuan yang sudah dikuasainya belum terlalu sempurna tekniknya, tetapi cukup untuk melawan duo kembar jika diperlukan.
“Aku pergi dulu, tolong perhatikan tuan Kaizer jika pekerjaanmu di sini sudah selesai,” ucap Cronic tenang.
“Baiklah, tinggal dua orang lagi yang tersisa, tolong putar papan penandannya untukku,” pinta Gonzalo.
Cronic pergi sambil membalikan papan penanda bar. Udaranya sangat dingin, angin yang berhembus cukup kencang, jarang-jarang terjadi hal seperti ini. Meskipun Cronic baru tinggal hampir dua bulan, tetapi lingkungan di sini sudah cukup familiar baginya.
“Aku tidak boleh membuang waktu lagi, sudah terlalu lama aku membiarkan mereka terus melakukan teror di sini!” dengan semangat yang tinggi dan juga untuk membanggakan ketuanya, Cronic mulai bergerak cepat mencari keberadaan duo kembar.
Seorang pria tua terlihat sangat mabuk berkeliaran seorang diri di sekitaran jalan kota. Keseimbangannya goyah akibat mengusir pergi dua orang yang berjalan mendampinginya barusan. orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya harus mengindar, karena tidak sanggup dengan kata-kata kasar yang terdengar nyaring di telinga.
“HA!...HA!...aku orang paling kaya di sini, dan mereka menolak kerjasama yang aku tawarkan! BERENGSEK!” matanya terbuka setengah, wajahnya merah karena kadar alkohol yang tinggi ditubuhnya. “akan kusewa penyidik swasta untuk membongkar kedok kalian, lalu akan kusebarkan ke seluruh dunia, JANGAN MACAM-MACAM DENGAN MISTER BROCK!” tertawa sangat keras, lalu tersandung dan jatuh ke tumpukan salju di pinggir jalan.
Atlas dan Globe sudah bergerak menjalankan misinya, menurut informasi yang tertera dalam kertas, tempat yang mereka datangi sudah menjadi sebuah rutinitas dari Mr. Brock tuk dikunjungi pada waktu dan jam tertentu. Kedatangan mereka berdua jelas menjadi pemandangan yang cukup jarang, karena berpenampilan aneh dan nyentrik.
“Cih, orang-orang idiot ini memandangi kita layaknya melihat sesuatu benda yang menjijikan,” ucap Globe.
“Tenangkan dirimu, orang-orang ini sudah jelas tidak layak kita jadikan monster, fokus mencari target saja, itu misi kita,” Atlas mulai mencari dan Globe mengikutinya. Tidak lupa kumbang berukuran mikro disebar untuk mencari.
Sebuah bar mewah di mana terdapat beberapa meja yang ditancapkan tiang besi ditengahnya, seorang wanita telanjang menari tanpa tahu batasan, semakin erotis maka uang yang dilemparkan oleh pria-pria tua hidung belang ini semakin banyak. Hanya penjaga pintu depan yang menilai Atlas dan Globe memiliki banyak uang karena melihat pakaiannya yang berkilau, selebihnya orang berjas di dalam memandang lain.
Atlas dan Globe berpencar, yang satu menulusuri lantai bawah sedangkan satunya lantai atas sambil terus memandangi foto sebagai pegangan. Setelah cukup lama mencari, tidak ada satu pun orang yang berpenampilan sama. Ada beberapa ruangan bertuliskan ‘VIP’, tugas kumbang kecil untuk memeriksanya. Setelah mendapatkan informasi, Atlas menunggu Globe turun untuk membahasnya.
“Bagaimana? Menemukan sesuatu? Kumbang kecil yang disebar dan mengintai di ruangan privat tidak menemukan apa-apa,” tanya Atlas.
“Aku tidak melihat sosoknya di lantai dua,” ucap Globe.
Pencarian pun berlanjut, Globe sempat mengoceh dengan memaki seseorang yang memberinya misi itu. Padahal secara logika orang yang ditargetkan untuk dibunuh akan jauh lebih mudah dilakukan jika langsung dihampiri ke tempat kediamannya. Informasi yang diberikan sangat tidak berguna menurutnya, lain hal bagi Atlas. Mungkin ada tujuan lain mengapa target harus dibunuh saat berada di luar tempatnya.
“Jika ingin terkenal, kita serang di stasiun televisinya, kita buat teror skala kota!” ucap Globe tinggi.
“Sejauh ini tidak ada orang yang melakukannya secara terang-terangan seperti idemu itu, jika kita melakukannya, kita yang akan diburu, bukan memburu.”
“Eh, kau takut pada manusia?”
“Bukan, tetapi pada monster yang menyamar sebagai manusia biasa,” ucapan Atlas membuat Globe terdiam, maksud dari perkataannya itu sudah dipahaminya langsung.
Mister Brock terbangun setelah tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, tubuhnya sudah terkubur dalam salju yang terus turun, beruntung dirinya selamat karena alkohol di aliran darahnya tetap membuatnya hangat. Pakaian rapih dan bagusnya dipenuhi oleh salju, kepalanya sangat sakit dan pandangannya masih kabur. Sangat jarang jalanan di tengah Surban City terlihat sepi seperti sekarang, tetapi mister Brock membawa dirinya ke sebuah sisi kota yang asing.
“Ah…kepalaku sakit, terlalu banyak minum,” mister Brock duduk di atas tumpukan salju. Matanya melirik ke kiri dan kanan, jalanan begitu kosong. “tumben sekali, apa hari ini libur,” mencoba bangkit dan berdiri dengan kedua kakinya. “aku harus menghubungi penjaga yang aku bentak dan usir, harusnya mereka tetap mengikutiku, tapi perintahku lebih dahsyat dari nyalinya rupanya,” merogoh saku jaket panjangnya, ponselnya tidak ditemukan di sana. “baiklah, aku akan berjalan sebentar dan mencari taksi,” mister Brock mengambil langkahnya pelan.
Setelah berjalan beberapa saat, mister Brock menemukan persimpangan, lampu-lampu yang berkilau dari kendaraan membuat perasaannya lega, akan mudah menemukan tumpangan pikirnya. Namun sebuah tepukan pada pundaknya menghentikan langkahnya, lalu kepalanya menoleh kebelakangan. Dua orang berambut aneh berwarna-warni berdiri dibelakangnya.
“Oi pak tua, kau tersesat?” ucap Globe sambil memamerkan senyum lebarnya.
69banditos memberi reputasi
1
Kutip
Balas