- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.6K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#307
gatra 41
Quote:
DENGAN DEMIKIAN, maka semakin jauh matahari menjelajahi langit di sebelah Barat, maka ketegangan-ketegangan menjadi semakin nampak. Baik di padepokan Pasanggaran, Cangkringan, maupun di padukuhan –padukuhan sepanjang kaki Merapi di sebelah selatan. Sekelompok kecil orang-orang yang tidak dikenal memasuki hutan itu dan hilang di antara rimbunnya pepohonan. Mereka tidak datang bersamaan untuk menghindari kecurigaan orang lain. Kadang-kadang mereka hanya datang berdua, bertiga dan tidak lebih dari empat orang setiap kelompok. Namun ternyata mereka berkumpul menjadi sekelompok orang yang cukup banyak setelah mereka berada di dalam hutan yang terlindung itu.
“Setelah gelap, kita akan mempersiapkan diri kita di Gunung Butak,” berkata salah seorang dari mereka. “Kita akan melingkar dan memasuki Pasanggaran dari utara.”
“Dari utara?” bertanya salah seorang dari mereka. “Apakah kita tidak dapat memasuki Pasanggaran dari timur?”
Macan Ireng menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Kita akan datang dari utara. Kemarin aku sudah memastikan setelah aku melihat daerah Gunung Butak di sore hari. Daerah itu memang agak sulit. Gerumbul-gerumbul berduri. Dan jika ada yang masih percaya, di sana ada seekor harimau putih. Tetapi kita tidak mempunyai kepentingan apa pun dengan harimau putih itu, meskipun seandainya harimau itu adalah harimau jadi-jadian.”
Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Lewat gerumbul- gerumbul berduri itu kita mendekati Pasanggaran, dan kita akan menyusup di sela-sela para peronda dan gardu-gardu yang sudah kita kenal letaknya. Kita akan langsung memasuki halaman padepokan. Kita mulai bergerak setelah nanti terjadi kekecauan di padukuhan –padukuhan itu. Beberapa orang bertugas membakar rumah – rumah penduduk itu. Aku berharap perhatian orang –orang Pasanggaran akan terpecah”
Kawan-kawannya menarik napas dalam-dalam. Pekerjaan itu memang sulit. Mereka harus bergerak dengan cepat.
“Kita akan masuk lewat bagian belakang. Kita harus menyergap dengan tiba-tiba. Sebagian para penjaga di depan regol dan yang lain para cantrik yang berada di dalam rumah itu. Sekali lagi aku peringatkan, mereka jangan sampai mendapat kesempatan untuk membunyikan tanda apa pun. Tetapi mereka jangan ditumpas semuanya. Biarlah satu dua orang yang telah terluka parah dapat hidup terus untuk menceriterakan apa yang telah terjadi. Jangan lupa cari anak muda yang bernama Arya Gading ”
Apakah kalian mengerti?”
“Mengerti, Ki Lurah.”
Macan Ireng masih memberikan beberapa pesan kepada anak buahnya, agar usaha mereka itu tidak gagal. Tanpa sepengetahuan Macan Ireng dan para anak buahnya. Pasanggaran ternyata telah bersiap pula. Meskipun mereka tidak tahu pasti, dari mana orang-orang itu akan memasuki Pasanggaran, namun mereka telah menyiapkan cantrik pilihan yang akan menyambut mereka,di bawah pimpinan Bagus Abangan dan Paksi Jalak Kuning.
Meskipun sampai matahari menyentuh pucuk pepohonan di ujung barat, mereka masih belum mengetahui apa yang bakal terjadi. Mereka hanya sekedar mendapat perintah untuk bersiaga. Dalam pada itu Mahesa Branjangan dan Ki Ageng Padan Arum masih juga mempertimbangkan beberapa lama, apakah Arya Gading lebih baik berada di Cangkringan saja bersama Doran.
Namun akhirnya mereka mengambil keputusan bahwa biarlah anak muda itu berada di padepokan yang akan menjadi sasaran itu, namun keduanya harus berhati-hati dan benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang berat, karena Mahesa Branjangan dan Ki Ageng yakin, bahwa orang-orang yang akan memasuki padepokan itu pun adalah orang-orang pilihan. Demikianlah, matahari pun semakin lama menjadi makin rendah, sehingga akhirnya wajah langit pun menjadi kemerah-merahan dan senja pun turun dengan perlahan-lahan.
“Kita harus segera bersiaga paman,” berkata Mahesa Branjangan kepada Anjam Kayuwangi.
Lelaki paruh baya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah siap dengan para cantrik pilihannya hingga setelah hari menjadi benar-benar gelap, dipanggilnya kelompok cantrik itu.
“Kau mendapat tugas khusus malam ini,” berkata Anjam Kayuwangi kepada pemimpin cantrik pilihan itu.
Perintah itu sebenarnya tidak begitu mengherankan bagi mereka. Adalah menjadi kewajiban seorang cantrik dari padepokan untuk berjaga-jaga di dalam setiap kemungkinan.
“Malam ini adalah malam yang mendebarkan jantung,” berkata Anjam Kayuwangi kemudian, “karena itu, aku telah memilih kalian. Karena kalian adalah sekelompok cantrik pilihan.”
Pemimpin kelompok cantrik pilihan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyangka, bahwa malam itu seperti malam – malam sebelumnya. Bahwa penjagaan harus diperkuat.
“Nah,” berkata Anjam Kayuwangi, “kalian akan bertugas di padukuhan Cangkringan. Pada saatnya aku akan memberikan perintah lebih lanjut.”
Barulah pemimpin kelompok itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih belum bertanya apa pun selain bersiap untuk menjalankan perintah. Tidak banyak yang dapat mereka tanyakan. Para cantrik itu pun kemudian pergi menuju ke Cangkringan. Meninggalkan padepokan Pasanggaran.
“Setelah gelap, kita akan mempersiapkan diri kita di Gunung Butak,” berkata salah seorang dari mereka. “Kita akan melingkar dan memasuki Pasanggaran dari utara.”
“Dari utara?” bertanya salah seorang dari mereka. “Apakah kita tidak dapat memasuki Pasanggaran dari timur?”
Macan Ireng menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Kita akan datang dari utara. Kemarin aku sudah memastikan setelah aku melihat daerah Gunung Butak di sore hari. Daerah itu memang agak sulit. Gerumbul-gerumbul berduri. Dan jika ada yang masih percaya, di sana ada seekor harimau putih. Tetapi kita tidak mempunyai kepentingan apa pun dengan harimau putih itu, meskipun seandainya harimau itu adalah harimau jadi-jadian.”
Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Lewat gerumbul- gerumbul berduri itu kita mendekati Pasanggaran, dan kita akan menyusup di sela-sela para peronda dan gardu-gardu yang sudah kita kenal letaknya. Kita akan langsung memasuki halaman padepokan. Kita mulai bergerak setelah nanti terjadi kekecauan di padukuhan –padukuhan itu. Beberapa orang bertugas membakar rumah – rumah penduduk itu. Aku berharap perhatian orang –orang Pasanggaran akan terpecah”
Kawan-kawannya menarik napas dalam-dalam. Pekerjaan itu memang sulit. Mereka harus bergerak dengan cepat.
“Kita akan masuk lewat bagian belakang. Kita harus menyergap dengan tiba-tiba. Sebagian para penjaga di depan regol dan yang lain para cantrik yang berada di dalam rumah itu. Sekali lagi aku peringatkan, mereka jangan sampai mendapat kesempatan untuk membunyikan tanda apa pun. Tetapi mereka jangan ditumpas semuanya. Biarlah satu dua orang yang telah terluka parah dapat hidup terus untuk menceriterakan apa yang telah terjadi. Jangan lupa cari anak muda yang bernama Arya Gading ”
Apakah kalian mengerti?”
“Mengerti, Ki Lurah.”
Macan Ireng masih memberikan beberapa pesan kepada anak buahnya, agar usaha mereka itu tidak gagal. Tanpa sepengetahuan Macan Ireng dan para anak buahnya. Pasanggaran ternyata telah bersiap pula. Meskipun mereka tidak tahu pasti, dari mana orang-orang itu akan memasuki Pasanggaran, namun mereka telah menyiapkan cantrik pilihan yang akan menyambut mereka,di bawah pimpinan Bagus Abangan dan Paksi Jalak Kuning.
Meskipun sampai matahari menyentuh pucuk pepohonan di ujung barat, mereka masih belum mengetahui apa yang bakal terjadi. Mereka hanya sekedar mendapat perintah untuk bersiaga. Dalam pada itu Mahesa Branjangan dan Ki Ageng Padan Arum masih juga mempertimbangkan beberapa lama, apakah Arya Gading lebih baik berada di Cangkringan saja bersama Doran.
Namun akhirnya mereka mengambil keputusan bahwa biarlah anak muda itu berada di padepokan yang akan menjadi sasaran itu, namun keduanya harus berhati-hati dan benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang berat, karena Mahesa Branjangan dan Ki Ageng yakin, bahwa orang-orang yang akan memasuki padepokan itu pun adalah orang-orang pilihan. Demikianlah, matahari pun semakin lama menjadi makin rendah, sehingga akhirnya wajah langit pun menjadi kemerah-merahan dan senja pun turun dengan perlahan-lahan.
“Kita harus segera bersiaga paman,” berkata Mahesa Branjangan kepada Anjam Kayuwangi.
Lelaki paruh baya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah siap dengan para cantrik pilihannya hingga setelah hari menjadi benar-benar gelap, dipanggilnya kelompok cantrik itu.
“Kau mendapat tugas khusus malam ini,” berkata Anjam Kayuwangi kepada pemimpin cantrik pilihan itu.
Perintah itu sebenarnya tidak begitu mengherankan bagi mereka. Adalah menjadi kewajiban seorang cantrik dari padepokan untuk berjaga-jaga di dalam setiap kemungkinan.
“Malam ini adalah malam yang mendebarkan jantung,” berkata Anjam Kayuwangi kemudian, “karena itu, aku telah memilih kalian. Karena kalian adalah sekelompok cantrik pilihan.”
Pemimpin kelompok cantrik pilihan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyangka, bahwa malam itu seperti malam – malam sebelumnya. Bahwa penjagaan harus diperkuat.
“Nah,” berkata Anjam Kayuwangi, “kalian akan bertugas di padukuhan Cangkringan. Pada saatnya aku akan memberikan perintah lebih lanjut.”
Barulah pemimpin kelompok itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih belum bertanya apa pun selain bersiap untuk menjalankan perintah. Tidak banyak yang dapat mereka tanyakan. Para cantrik itu pun kemudian pergi menuju ke Cangkringan. Meninggalkan padepokan Pasanggaran.
Quote:
PADA SAAT MALAM menjadi semakin larut, Ki Ageng memanggil setiap orang yang masih ada di Pasanggaran, termasuk pemimpin kelompok cantrik - cantrik pilihan itu.
“Malam menjadi semakin jauh,” katanya, “sebentar lagi kita akan menghadapi tugas yang berat dan menegangkan. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Mungkin sebentar lagi, selagi kita masih berbicara ini, tetapi mungkin pula menjelang fajar.”
Para cantrik dan pemimpin kelompok cantrik pilihan itu menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan dan dengan sejelas-jelasnya Ki Ageng Pandan Arum menguraikan apa yang mungkin akan terjadi malam itu. Hasil pengamatan Mahesa Branjangan dan Damar Tahun. Hubungan persoalan yang tidak terlepas yang satu dengan yang lain, serta yang paling akhir adalah keadaan padepokan itu sendiri.
“Penjagaan itu harus diletakkan di tempat yang sudah aku tentukan. Sebentar lagi kita akan pergi ke halaman, ke kebun belakang dan tempat-tempat di sekitar padepokan ini yang pantas mendapat pengawasan,” berkata Ki Ageng kemudian. “Aku sengaja tidak memberitahukan kepada siapa pun juga selain kalian.”
Mereka yang mendengarkan penjelasan Ki Ageng itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terbayang sekelompok orang-orang yang tentu juga pilihan sedang merayap mendekati halaman padepokan itu. Namun demikian salah seorang dari ketiga pimpinan cantrik itu bertanya, “Apakah para peronda di gardu-gardu sudah diberitahukan, setidak-tidaknya untuk bersiaga?”
“Aku tidak memberitahukan tepat apa yang terjadi. Aku hanya memerintahkan mereka untuk bersiap lebih mantap jika sesuatu terjadi.”
Cantrik itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan mereka di halaman ini, sehingga ada di antara mereka yang berhasil lolos. Jika demikian, kita memerlukan peronda-peronda itu.”
“Ya. Bukan saja peronda-peronda itu, tetapi juga cantrik di banjar”
“Kenapa mereka tidak diberitahukan saja?”
“Bukan karena kita tidak percaya. Tetapi aku ingin membatasi persoalan ini sesempit mungkin. Jika kita berhasil, maka kita akan menangkap mereka di halaman ini tanpa menimbulkan ketegangan dan keributan. Semakin banyak orang yang mengetahui bahwa kita sudah bersiap, maka bahaya tentang hal itu semakin besar bagi kita, karena mereka tentu memiliki telinga di sekitar kita.”
Para pimpinan cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, sekarang, marilah kita mengatur diri. Mungkin orang-orang itu sekarang sudah ada di balik dinding kebun belakang.”
Demikianlah mereka segera pergi ke kebun belakang. Ki Ageng menunjukkan kepada pemimpin kelompok cantrik pilihan itu untuk menempatkan orang-orangnya di tempat terlindung. Bukan saja di bagian belakang, tetapi juga di samping dan di depan rumah. Sedang mereka yang ada di gardu, dipersiapkan seperti penjagaan yang biasa dilakukan setiap hari.”
“Ingat,” berkata Ki Ageng, “mereka adalah orang-orang pilihan. Biarkan mereka semuanya masuk. Yang akan mereka lakukan adalah menyergap para penjaga di depan dan sebagian yang lebih matang akan memasuki rumah ini. Biarlah kami yang berada di dalam pringgitan itu.”
Pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, lakukan tugasmu sebaik-baiknya,” berkata Ki Ageng, lalu katanya kepada para cantrik, “Kalian masing-masing akan mendapat tugas. Satu di belakang, satu di sisi kanan dan yang satu di sisi kiri. Ternyata menurut pertimbanganku, tenaga kalian akan sangat diperlukan. Jika aku yang ada di dalam memerlukan, aku akan memberikan isyarat. Pemimpin kelompok itu sendiri akan berada di gardu sebagai salah satu sasaran utama sergapan para penyerang itu.”
Pemimpin kelompok cantrik pilihan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan demikian, maka yang akan ada di dalam rumah itu hanyalah Ki Ageng Pandan Arum dengan beberapa cantrik, meskipun ada di antara mereka adalah Arya Gading, adik tumenggung anom Pajang. Sejenak kemudian, maka pemimpin kelompok itu pun telah memberikan penjelasan kepada para cantrik. Dengan cepat ia membagi kelompoknya menjadi empat kelompok yang lebih kecil yang masing-masing akan dipimpin langsung oleh seorang pemimpin, sedang pemimpin kelompok itu sendiri akan berada di gardu depan, seperti penjagaan yang biasa dilakukan setiap hari di padepokan Pasanggaran.
Tetapi pemimpin kelompok itu tidak mau lengah. Sergapan itu dapat datang setiap saat dari arah yang tidak terduga-duga. Tidak dapat dipastikan bahwa para penyerang itu akan masuk lewat kebun belakang. Mungkin mereka justru masuk lewat gerbang depan dan langsung menyerang para penjaga di gardu itu. Karena itu, maka selain mereka yang ada di gardu, pemimpin kelompok itu telah menempatkan beberapa orang di tempat yang terlindung, bahkan tiga orang terpencar di luar halaman, di seberang jalan. Mereka duduk di atas sebatang dahan yang tidak terlalu tinggi, tetapi cukup terlindung oleh segerumbul dedaunan di dalam gelapnya malam.
Ketiga orang yang terpencar itu harus mengawasi jalan dan halaman rumah di seberang jalan. Mungkin para penyerang itu akan datang lewat halaman itu. Jika tidak, maka mereka akan dapat menjadi tenaga cadangan apabila dengan tiba-tiba saja para penyerang itu menyergap gardu. Selain tiga orang itu, maka ditempatkannya juga dua orang setiap sudut depan, sehingga ada empat orang yang tidak berada di gardu selain tiga orang yang berada di seberang jalan. Demikianlah, mereka memasuki malam yang semakin dalam dengan dada yang tegang. Setiap kejap rasa-rasanya terlampau lama berjalan. Dan karena itu, malam menjadi sangat panjang.
“Malam menjadi semakin jauh,” katanya, “sebentar lagi kita akan menghadapi tugas yang berat dan menegangkan. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Mungkin sebentar lagi, selagi kita masih berbicara ini, tetapi mungkin pula menjelang fajar.”
Para cantrik dan pemimpin kelompok cantrik pilihan itu menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan dan dengan sejelas-jelasnya Ki Ageng Pandan Arum menguraikan apa yang mungkin akan terjadi malam itu. Hasil pengamatan Mahesa Branjangan dan Damar Tahun. Hubungan persoalan yang tidak terlepas yang satu dengan yang lain, serta yang paling akhir adalah keadaan padepokan itu sendiri.
“Penjagaan itu harus diletakkan di tempat yang sudah aku tentukan. Sebentar lagi kita akan pergi ke halaman, ke kebun belakang dan tempat-tempat di sekitar padepokan ini yang pantas mendapat pengawasan,” berkata Ki Ageng kemudian. “Aku sengaja tidak memberitahukan kepada siapa pun juga selain kalian.”
Mereka yang mendengarkan penjelasan Ki Ageng itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terbayang sekelompok orang-orang yang tentu juga pilihan sedang merayap mendekati halaman padepokan itu. Namun demikian salah seorang dari ketiga pimpinan cantrik itu bertanya, “Apakah para peronda di gardu-gardu sudah diberitahukan, setidak-tidaknya untuk bersiaga?”
“Aku tidak memberitahukan tepat apa yang terjadi. Aku hanya memerintahkan mereka untuk bersiap lebih mantap jika sesuatu terjadi.”
Cantrik itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan mereka di halaman ini, sehingga ada di antara mereka yang berhasil lolos. Jika demikian, kita memerlukan peronda-peronda itu.”
“Ya. Bukan saja peronda-peronda itu, tetapi juga cantrik di banjar”
“Kenapa mereka tidak diberitahukan saja?”
“Bukan karena kita tidak percaya. Tetapi aku ingin membatasi persoalan ini sesempit mungkin. Jika kita berhasil, maka kita akan menangkap mereka di halaman ini tanpa menimbulkan ketegangan dan keributan. Semakin banyak orang yang mengetahui bahwa kita sudah bersiap, maka bahaya tentang hal itu semakin besar bagi kita, karena mereka tentu memiliki telinga di sekitar kita.”
Para pimpinan cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, sekarang, marilah kita mengatur diri. Mungkin orang-orang itu sekarang sudah ada di balik dinding kebun belakang.”
Demikianlah mereka segera pergi ke kebun belakang. Ki Ageng menunjukkan kepada pemimpin kelompok cantrik pilihan itu untuk menempatkan orang-orangnya di tempat terlindung. Bukan saja di bagian belakang, tetapi juga di samping dan di depan rumah. Sedang mereka yang ada di gardu, dipersiapkan seperti penjagaan yang biasa dilakukan setiap hari.”
“Ingat,” berkata Ki Ageng, “mereka adalah orang-orang pilihan. Biarkan mereka semuanya masuk. Yang akan mereka lakukan adalah menyergap para penjaga di depan dan sebagian yang lebih matang akan memasuki rumah ini. Biarlah kami yang berada di dalam pringgitan itu.”
Pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, lakukan tugasmu sebaik-baiknya,” berkata Ki Ageng, lalu katanya kepada para cantrik, “Kalian masing-masing akan mendapat tugas. Satu di belakang, satu di sisi kanan dan yang satu di sisi kiri. Ternyata menurut pertimbanganku, tenaga kalian akan sangat diperlukan. Jika aku yang ada di dalam memerlukan, aku akan memberikan isyarat. Pemimpin kelompok itu sendiri akan berada di gardu sebagai salah satu sasaran utama sergapan para penyerang itu.”
Pemimpin kelompok cantrik pilihan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan demikian, maka yang akan ada di dalam rumah itu hanyalah Ki Ageng Pandan Arum dengan beberapa cantrik, meskipun ada di antara mereka adalah Arya Gading, adik tumenggung anom Pajang. Sejenak kemudian, maka pemimpin kelompok itu pun telah memberikan penjelasan kepada para cantrik. Dengan cepat ia membagi kelompoknya menjadi empat kelompok yang lebih kecil yang masing-masing akan dipimpin langsung oleh seorang pemimpin, sedang pemimpin kelompok itu sendiri akan berada di gardu depan, seperti penjagaan yang biasa dilakukan setiap hari di padepokan Pasanggaran.
Tetapi pemimpin kelompok itu tidak mau lengah. Sergapan itu dapat datang setiap saat dari arah yang tidak terduga-duga. Tidak dapat dipastikan bahwa para penyerang itu akan masuk lewat kebun belakang. Mungkin mereka justru masuk lewat gerbang depan dan langsung menyerang para penjaga di gardu itu. Karena itu, maka selain mereka yang ada di gardu, pemimpin kelompok itu telah menempatkan beberapa orang di tempat yang terlindung, bahkan tiga orang terpencar di luar halaman, di seberang jalan. Mereka duduk di atas sebatang dahan yang tidak terlalu tinggi, tetapi cukup terlindung oleh segerumbul dedaunan di dalam gelapnya malam.
Ketiga orang yang terpencar itu harus mengawasi jalan dan halaman rumah di seberang jalan. Mungkin para penyerang itu akan datang lewat halaman itu. Jika tidak, maka mereka akan dapat menjadi tenaga cadangan apabila dengan tiba-tiba saja para penyerang itu menyergap gardu. Selain tiga orang itu, maka ditempatkannya juga dua orang setiap sudut depan, sehingga ada empat orang yang tidak berada di gardu selain tiga orang yang berada di seberang jalan. Demikianlah, mereka memasuki malam yang semakin dalam dengan dada yang tegang. Setiap kejap rasa-rasanya terlampau lama berjalan. Dan karena itu, malam menjadi sangat panjang.
Quote:
PADA SAAT AYAM JANTAN berkokok untuk yang terakhir kalinya, terdengar beberapa derap kaki – kaki kuda yang di pacu dengan kencang. Para cantrik yang berjaga di regol padukuhan Cangkringan Nampak tegang. Beberapa orang telah menghunus senjatanya masing –masing. Seperti rencana semula, maka para cantrik dna pemuda padukuhan itu pun segera menyembunyikan diri di belakang puntuk-puntuk, parit dan pepohonan. Dengan hati yang tegang mereka menunggu.
Bagus Abangan duduk bersandar sebatang pohon aren. Tangannya yang bergelang akar bahar itu membelai senjatanya, sebuah pedang, dengan ujung tajam dikedua sisinya. Senjata pemberian gurunya, yang selama ini dibangga-banggakan. Pada tangkai senjatanya itu terukir gambar dua ekor ular naga yang saling membelit. Anak muda itu pun menunggu dengan hati yang tegang. Yang berada di dalam kepalanya adalah Macan Ireng. Seorang yang memiliki kanuragan yang tinggi. Bagus Abangan pernah bertarung dengan orang ini. Bahkan, ia telah berhasil menggureskan ujung pedangnya di tubuh Macan Ireng. Meski pada akhirnya ia terdesak juga.
Sekali-sekali dipandanginya senjatanya, seakan-akan ia bertanya kepadanya, “Apakah kali ini kau akan mampu menemani ku melawan Macan Ireng yang mengerikan itu?
Bagus Abangan menyeringai, “ Macan Ireng tidak akan ada apa –apanya kali ini “
Bagus Abangan ingat bahwa Paraji Gading pernah berkata kepada muridnya, “Bagus Abangan, kitab ini aku ambil dari Pandan Arum akan ku serahkan kepadamu. Pelajari kitab ini dan jaga baik –baik. Kalau perlu pertaruhkan nyawamu untuk menjaga kitab ini. Inilah pusaka dari Pasanggaran. Kitab Lawang Pitu. Jika kau menguasai ilmu yang ada di kitab itu maka bukanlah pekerjaan yang sulit bagimu untuk menyingkirkan Mahesa Branjangan, Arya Gading dan orang –orang tua di pasanggaran. Biarlah Pandan Arum kelak menjadi urusanku”
Pemuda itu lantas mengambil sebuah rontal dari balik bajunya. Dipandangi tanpa berkedip gulungan rontal yang berada di tangannya itu. Lantas disimpannya kembali di balik pakaiannya. Bagus Abangan tersenyum. Terbayang di dalam angan-angannya sebuah jalan lurus menuju ke Pasanggaran meskipun jauh.
Tiba-tiba Bagus Abangan terkejut ketika ia mendengar gemerisik di belakangnya. Ketika menoleh dilihatnya Doran berjalan terbungkuk-bungkuk kepadanya.
“Apa kerjamu?” bertanya Bagus Abangan berbisik.
Doran duduk di sampingnya, dan dijawabnya lirih, “Mencarimu. Kau akan melawan Macan Ireng?”
Bagus Abangan mengangguk
“Sendiri?”
Kembali Bagus Abangan mengangguk.
“Aku ikut” minta Doran
“Jangan gila” desis Bagus Abangan.
“Kenapa?”
“Kita tidak sedang bermain kucing-kucingan, tetapi kita akan menentukan hidup mati bagi Pasanggaran”
“Aku tahu, karena itu Macan Ireng harus mati. Kita keroyok berdua”
“Jangan mengigau. Kembali ke kelompokmu”
“Aku di sini” bantah Doran.
Bagus Abangan menjadi tidak senang. Karena itu ia membentak perlahan-lahan, “Kembali. Atau aku tampar mulutmu”
Doran mengerutkan keningnya. Ia tidak mau ditampar untuk kedua kalinya. Karena itu ia pun diam. Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara burung bence. Itulah pertanda bahwa oranhg –orang Macan Ireng telah dilihat oleh pengawas.
“Kembali ke kelompokmu” Bagus Abangan mengulangi, dan Doran pun segera merangkak ke kelompoknya.
Bagus Abangan duduk bersandar sebatang pohon aren. Tangannya yang bergelang akar bahar itu membelai senjatanya, sebuah pedang, dengan ujung tajam dikedua sisinya. Senjata pemberian gurunya, yang selama ini dibangga-banggakan. Pada tangkai senjatanya itu terukir gambar dua ekor ular naga yang saling membelit. Anak muda itu pun menunggu dengan hati yang tegang. Yang berada di dalam kepalanya adalah Macan Ireng. Seorang yang memiliki kanuragan yang tinggi. Bagus Abangan pernah bertarung dengan orang ini. Bahkan, ia telah berhasil menggureskan ujung pedangnya di tubuh Macan Ireng. Meski pada akhirnya ia terdesak juga.
Sekali-sekali dipandanginya senjatanya, seakan-akan ia bertanya kepadanya, “Apakah kali ini kau akan mampu menemani ku melawan Macan Ireng yang mengerikan itu?
Bagus Abangan menyeringai, “ Macan Ireng tidak akan ada apa –apanya kali ini “
Bagus Abangan ingat bahwa Paraji Gading pernah berkata kepada muridnya, “Bagus Abangan, kitab ini aku ambil dari Pandan Arum akan ku serahkan kepadamu. Pelajari kitab ini dan jaga baik –baik. Kalau perlu pertaruhkan nyawamu untuk menjaga kitab ini. Inilah pusaka dari Pasanggaran. Kitab Lawang Pitu. Jika kau menguasai ilmu yang ada di kitab itu maka bukanlah pekerjaan yang sulit bagimu untuk menyingkirkan Mahesa Branjangan, Arya Gading dan orang –orang tua di pasanggaran. Biarlah Pandan Arum kelak menjadi urusanku”
Pemuda itu lantas mengambil sebuah rontal dari balik bajunya. Dipandangi tanpa berkedip gulungan rontal yang berada di tangannya itu. Lantas disimpannya kembali di balik pakaiannya. Bagus Abangan tersenyum. Terbayang di dalam angan-angannya sebuah jalan lurus menuju ke Pasanggaran meskipun jauh.
Tiba-tiba Bagus Abangan terkejut ketika ia mendengar gemerisik di belakangnya. Ketika menoleh dilihatnya Doran berjalan terbungkuk-bungkuk kepadanya.
“Apa kerjamu?” bertanya Bagus Abangan berbisik.
Doran duduk di sampingnya, dan dijawabnya lirih, “Mencarimu. Kau akan melawan Macan Ireng?”
Bagus Abangan mengangguk
“Sendiri?”
Kembali Bagus Abangan mengangguk.
“Aku ikut” minta Doran
“Jangan gila” desis Bagus Abangan.
“Kenapa?”
“Kita tidak sedang bermain kucing-kucingan, tetapi kita akan menentukan hidup mati bagi Pasanggaran”
“Aku tahu, karena itu Macan Ireng harus mati. Kita keroyok berdua”
“Jangan mengigau. Kembali ke kelompokmu”
“Aku di sini” bantah Doran.
Bagus Abangan menjadi tidak senang. Karena itu ia membentak perlahan-lahan, “Kembali. Atau aku tampar mulutmu”
Doran mengerutkan keningnya. Ia tidak mau ditampar untuk kedua kalinya. Karena itu ia pun diam. Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara burung bence. Itulah pertanda bahwa oranhg –orang Macan Ireng telah dilihat oleh pengawas.
“Kembali ke kelompokmu” Bagus Abangan mengulangi, dan Doran pun segera merangkak ke kelompoknya.
Diubah oleh breaking182 23-07-2022 05:23
ashrose dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas