- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.3K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#306
gatra 40
Quote:
“TENTU BUKAN PEMBURU,” keduanya mendapat kepastian. “Pemburu-pemburu tidak akan menyembelih kambing di hutan perburuannya. Dan hal yang aneh juga. Ditempat ini tidak ada kambing liar. Jadi kambing itu bisa jadi dicuri dari kandang padukuhan di sekitar tempat ini”
Karena itu, maka keduanya menjadi semakin bernafsu untuk mengetahui siapakah mereka sebenarnya itu. Arya Gading dan Doran duduk beberapa langkah dari Mahesa Branjangan. Mereka pun melihat merahnya api di dedaunan dan pepohonan. Namun mereka tidak dapat melihat dengan jelas, siapa saja yang berada di sekitar perapian itu dan apa saja yang sedang mereka lakukan. Ketika Doran akan berbisik sesuatu, Arya Gading meletakkan jari telunjuknya di bibir anak muda yang kurus namun tinggi menjulang itu, sehingga Doran mengurungkan loncatan kata-katanya yang sudah ada di tenggorokan.
Baru setelah daging yang mereka panggang di perapian itu masak, terdengar salah seorang dari mereka berbicara, “Kita makan sekarang.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Tetapi mereka pun kemudian bergeser sedikit. Salah seorang dari orang-orang yang mengelilingi perapian itu pun berdiri dan melangkah beberapa langkah untuk mengambil beberapa bungkus nasi.
Mahesa Branjangan dan Damar Tahun harus menahan hati mereka. Dengan demikian keduanya harus duduk menunggu sampai orang-orang itu selesai makan dan berbicara sesuatu, sehingga keduanya mendapatkan suatu kesimpulan tentang orang-orang itu. Sementara itu yang dapat dilakukan adalah sekedar menghitung orang-orang itu. Meskipun agak sulit, namun akhirnya Mahesa Branjangan berdesis di dalam hati, “Tujuh orang.”
“ Sebentar, aku kenal beberapa orang itu. Meski samar, namun aku masih ingat dengan perawakan orang – orang itu. Itulah orang –orang yang aku temui di tepian sungai kemarin”, bisik Mahesa Branjangan.
Sambil menunggu mereka makan, maka Mahesa Branjangan memberi isyarat kepada Damar Tahun untuk mendapat pertimbangan memanggil Arya Gading dan Doran. Menurut penilaiannya, orang-orang yang berada di perapian itu bukanlah orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan.
Damar Tahun yang mengerti isyarat itu pun mengangguk, karena ia pun sependapat dengan Mahesa Branjangan. Dengan demikian, maka Arya Gading dan Doran yang sudah mulai menjadi jemu, kini dapat ikut serta menunggui orang-orang yang sedang makan itu. Namun dengan demikian mereka pun menemukan kejemuan baru. Orang-orang yang sedang makan itu membuat Arya Gading dan Doran menjadi tidak sabar lagi menunggu.
Karena itu, maka keduanya menjadi semakin bernafsu untuk mengetahui siapakah mereka sebenarnya itu. Arya Gading dan Doran duduk beberapa langkah dari Mahesa Branjangan. Mereka pun melihat merahnya api di dedaunan dan pepohonan. Namun mereka tidak dapat melihat dengan jelas, siapa saja yang berada di sekitar perapian itu dan apa saja yang sedang mereka lakukan. Ketika Doran akan berbisik sesuatu, Arya Gading meletakkan jari telunjuknya di bibir anak muda yang kurus namun tinggi menjulang itu, sehingga Doran mengurungkan loncatan kata-katanya yang sudah ada di tenggorokan.
Baru setelah daging yang mereka panggang di perapian itu masak, terdengar salah seorang dari mereka berbicara, “Kita makan sekarang.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Tetapi mereka pun kemudian bergeser sedikit. Salah seorang dari orang-orang yang mengelilingi perapian itu pun berdiri dan melangkah beberapa langkah untuk mengambil beberapa bungkus nasi.
Mahesa Branjangan dan Damar Tahun harus menahan hati mereka. Dengan demikian keduanya harus duduk menunggu sampai orang-orang itu selesai makan dan berbicara sesuatu, sehingga keduanya mendapatkan suatu kesimpulan tentang orang-orang itu. Sementara itu yang dapat dilakukan adalah sekedar menghitung orang-orang itu. Meskipun agak sulit, namun akhirnya Mahesa Branjangan berdesis di dalam hati, “Tujuh orang.”
“ Sebentar, aku kenal beberapa orang itu. Meski samar, namun aku masih ingat dengan perawakan orang – orang itu. Itulah orang –orang yang aku temui di tepian sungai kemarin”, bisik Mahesa Branjangan.
Sambil menunggu mereka makan, maka Mahesa Branjangan memberi isyarat kepada Damar Tahun untuk mendapat pertimbangan memanggil Arya Gading dan Doran. Menurut penilaiannya, orang-orang yang berada di perapian itu bukanlah orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan.
Damar Tahun yang mengerti isyarat itu pun mengangguk, karena ia pun sependapat dengan Mahesa Branjangan. Dengan demikian, maka Arya Gading dan Doran yang sudah mulai menjadi jemu, kini dapat ikut serta menunggui orang-orang yang sedang makan itu. Namun dengan demikian mereka pun menemukan kejemuan baru. Orang-orang yang sedang makan itu membuat Arya Gading dan Doran menjadi tidak sabar lagi menunggu.
Quote:
TETAPI MEREKA harus memaksa diri duduk saja merenung. Bahkan Doran sudah mulai terkantuk-kantuk, bersandar sebatang pohon, justru membelakangi orang-orang yang sedang makan itu. Namun tiba-tiba saja mereka terkejut ketika terdengar, derap kaki kuda di kejauhan. Semakin lama menjadi semakin dekat.
Dan ternyata, bahwa bukan saja Mahesa Branjangan, Doran dan Arya Gading serta Damar Tahun sajalah yang terkejut, tetapi juga orang-orang yang sedang mengelilingi perapian itu. Tiba-tiba saja terdengar perintah, “Padamkan api.”
Beberapa orang segera berdiri dan mencakup tanah kering dan dihamburkannya di atas perapian, sehingga sejenak kemudian api itu pun menjadi padam, meskipun masih juga tampak asap yang mengepul. Namun ketika angin berhembus, asap itu pun segera pecah berserakan. Derap kaki kuda itu pun menjadi semakin dekat. Tetapi ternyata, bahwa kuda-kuda itu sama sekali tidak berhenti. Agaknya beberapa orang peronda telah lewat di jalan yang membujur di pinggir hutan itu.
“Anak setan,” terdengar salah seorang dari orang-orang yang mengitari perapian yang telah padam itu mengumpat. “Malam kemarin tidak ada seorang pun yang lewat. Sekarang peronda-peronda itu berkeliling sampai ke tempat ini.”
“Apakah ada orang yang berhasil mencium kehadiran kita di sini Ki Lurah?” bertanya yang lain.
“Aku belum mendapatkan tanda-tanda itu,” sahut yang mula-mula berbicara, yang agaknya adalah pemimpin mereka.
“Makanlah,” desis suara yang lain, “kita akan segera pergi.”
“Sudah habis,” terdengar jawaban.
“Sst,” desis pemimpin mereka, “kita masih harus mengawasi kesiagaan orang – orang Pandan Arum semalam ini. Besok kita dapat memastikan, di mana kita akan mulai, karena besok lusa, kita harus sudah harus pulang ke Jalatunda. Kehadiran kita sudah hampir sepekan, kerusuhan kecil –kecilan sudah kita lakukan untuk memancing pergerakan orang –orang Pandan Arum. Namun, tampaknya Ki Ageng cukup cerdas menyikapi hal ini. Pancingan kita tidak membuat orang –orang Pandan Arum bergeming. Kita harus bertindak dengan cepat ”
Maka sejenak kemudian, hutan itu telah dicengkam oleh kesenyapan. Yang terdengar adalah suara binatang malam di kejauhan. Suara burung hantu dan belalang yang berderik di rerumputan. Mahesa Branjangan dan Damar Tahun yang duduk berdekatan saling memandang sejenak. Tanpa disadarinya keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata yang mereka duga telah benar-benar terjadi. Orang-orang itu adalah orang-orang yang sama ditemuinya di tepian sungai. Namun keduanya masih belum dapat menyatakan pendapatnya. Mereka masih harus menunggu sejenak, untuk melihat perkembangan yang bakal terjadi.
“Marilah kita pergi,” terdengar suara pemimpinnya, “kita melihat keadaan di Pasanggaran. Biarlah padukuhan ini tenang untuk malam ini. Kita masih mempunyai waktu sampai malam besok. Di dalam waktu itu kita harus sudah dapat menentukan, apakah yang akan kita lakukan dan di mana?”
“Sekarang kita sudah mendapat gambaran itu,” sahut suara yang lain.
Mahesa Branjangan dan Damar Tahun bersama kedua anak-anak muda yang mengikutinya itu menjadi berdebar-debar. Namun mereka menjadi kecewa, karena ternyata orang-orang itu tidak mengatakan apa pun tentang rencana itu. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Marilah kita pergi.”
“Kita memutari padukuhan - padukuhan dari sebelah timur. Kita akan mencari kemungkinan yang lebih baik dari yang telah kita dapatkan apabila mungkin”
“Arah itu tidak menguntungkan Ki Lurah Macan Ireng,” sahut yang lain.
“Marilah kita coba melihatnya.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Di dalam kegelapan, Mahesa Branjangan dan Damar Tahun hampir tidak dapat melihat orang-orang itu. Namun pandangan mata mereka yang tajam, masih juga dapat menangkap bayangan-bayangan yang bergerak-gerak dan kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Sejenak kemudian, mereka telah benar-benar hilang di dalam kegelapan terlindung oleh pepohonan. Bahkan langkah kaki mereka serta desah dedaunan telah tidak terdengar lagi.
Sejenak kemudian, Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih harus berbisik, “Mereka pergi ke sebelah timur. Jalan itu akan tembus ke gerbang padepokan sebelah belakang.”
“Ya. Orang-orang itulah yang diperhitungkan oleh Ki Ageng,” sahut Damar Tahun.
“ Maaf kakang, apakah benar kericuhan orang –orang itu diakibatkan oleh salah seorang saudara seperguruannya yang telah di tangkap oleh para prajurit Pajang karena telah saya kalahkan beberapa waktu yang lalu? “, Arya Gading bertanya dengan wajah sedikit muram.
Mahesa Branjangan menggeleng, “ Itu bukan karena salahmu Gading. Orang – orang itu hanya mencari perkara saja. Ada hal yang lebih besar lagi dari sebuah balas dendam. Seperti penuturan Bagus Abangan ada masalah yang lebih besar beberapa belas tahun yang lalu menyangkut perselisihan Ki Ageng Pandan Arum dan Kiai Jalatunda. Dan orang –orang itu sepertinya belum puas dengan akhir peristiwa itu. Dan hari ini mereka memutuskan untuk menuntut balas “
Arya Gading dan Doran mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja Doran bertanya, “Tetapi, jika mereka adalah orang-orang Kiai Jalatunda, apakah mereka tidak sangat berbahaya, kakang? Dan apakah kita akan dapat mengikutinya dan menyadap pembicaraan mereka?”
“Tentu bukan orang-orang yang duduk di perapian itu. Maksudku, yang akan memimpin mereka. Ada dua orang yang pininjung diantara orang –orang itu. Mereka murid – murid utama Kiai Jalatunda. Macan Ireng dan Welat Kuning.”
Namun sebelum Doran bertanya lebih lanjut, maka Mahesa Branjangan pun berkata, “Kita mengikutinya sampai ke Gunung Butak.”
“Bagaimana dengan kuda-kuda itu, kakang?” bertanya Doran.
“Biar saja ia berada di pategalan itu. Tidak akan terjadi apa-apa atas mereka. Mungkin kuda-kuda itu sekarang sedang tidur dengan nyenyak.”
Doran mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
“Kita akan memintas, sehingga kita akan mendahului mereka sampai ke Gunung Butak,” berkata Mahesa Branjangan kemudian.
“Apakah mereka tidak juga memilih jalan memintas?” bertanya Arya Gading.
“Agaknya mereka bukan orang yang tinggal di sekitar daerah ini. Mereka tidak mengenal jalan-jalan sempit di tengah hutan ini.”
Dan ternyata, bahwa bukan saja Mahesa Branjangan, Doran dan Arya Gading serta Damar Tahun sajalah yang terkejut, tetapi juga orang-orang yang sedang mengelilingi perapian itu. Tiba-tiba saja terdengar perintah, “Padamkan api.”
Beberapa orang segera berdiri dan mencakup tanah kering dan dihamburkannya di atas perapian, sehingga sejenak kemudian api itu pun menjadi padam, meskipun masih juga tampak asap yang mengepul. Namun ketika angin berhembus, asap itu pun segera pecah berserakan. Derap kaki kuda itu pun menjadi semakin dekat. Tetapi ternyata, bahwa kuda-kuda itu sama sekali tidak berhenti. Agaknya beberapa orang peronda telah lewat di jalan yang membujur di pinggir hutan itu.
“Anak setan,” terdengar salah seorang dari orang-orang yang mengitari perapian yang telah padam itu mengumpat. “Malam kemarin tidak ada seorang pun yang lewat. Sekarang peronda-peronda itu berkeliling sampai ke tempat ini.”
“Apakah ada orang yang berhasil mencium kehadiran kita di sini Ki Lurah?” bertanya yang lain.
“Aku belum mendapatkan tanda-tanda itu,” sahut yang mula-mula berbicara, yang agaknya adalah pemimpin mereka.
“Makanlah,” desis suara yang lain, “kita akan segera pergi.”
“Sudah habis,” terdengar jawaban.
“Sst,” desis pemimpin mereka, “kita masih harus mengawasi kesiagaan orang – orang Pandan Arum semalam ini. Besok kita dapat memastikan, di mana kita akan mulai, karena besok lusa, kita harus sudah harus pulang ke Jalatunda. Kehadiran kita sudah hampir sepekan, kerusuhan kecil –kecilan sudah kita lakukan untuk memancing pergerakan orang –orang Pandan Arum. Namun, tampaknya Ki Ageng cukup cerdas menyikapi hal ini. Pancingan kita tidak membuat orang –orang Pandan Arum bergeming. Kita harus bertindak dengan cepat ”
Maka sejenak kemudian, hutan itu telah dicengkam oleh kesenyapan. Yang terdengar adalah suara binatang malam di kejauhan. Suara burung hantu dan belalang yang berderik di rerumputan. Mahesa Branjangan dan Damar Tahun yang duduk berdekatan saling memandang sejenak. Tanpa disadarinya keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata yang mereka duga telah benar-benar terjadi. Orang-orang itu adalah orang-orang yang sama ditemuinya di tepian sungai. Namun keduanya masih belum dapat menyatakan pendapatnya. Mereka masih harus menunggu sejenak, untuk melihat perkembangan yang bakal terjadi.
“Marilah kita pergi,” terdengar suara pemimpinnya, “kita melihat keadaan di Pasanggaran. Biarlah padukuhan ini tenang untuk malam ini. Kita masih mempunyai waktu sampai malam besok. Di dalam waktu itu kita harus sudah dapat menentukan, apakah yang akan kita lakukan dan di mana?”
“Sekarang kita sudah mendapat gambaran itu,” sahut suara yang lain.
Mahesa Branjangan dan Damar Tahun bersama kedua anak-anak muda yang mengikutinya itu menjadi berdebar-debar. Namun mereka menjadi kecewa, karena ternyata orang-orang itu tidak mengatakan apa pun tentang rencana itu. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Marilah kita pergi.”
“Kita memutari padukuhan - padukuhan dari sebelah timur. Kita akan mencari kemungkinan yang lebih baik dari yang telah kita dapatkan apabila mungkin”
“Arah itu tidak menguntungkan Ki Lurah Macan Ireng,” sahut yang lain.
“Marilah kita coba melihatnya.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Di dalam kegelapan, Mahesa Branjangan dan Damar Tahun hampir tidak dapat melihat orang-orang itu. Namun pandangan mata mereka yang tajam, masih juga dapat menangkap bayangan-bayangan yang bergerak-gerak dan kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Sejenak kemudian, mereka telah benar-benar hilang di dalam kegelapan terlindung oleh pepohonan. Bahkan langkah kaki mereka serta desah dedaunan telah tidak terdengar lagi.
Sejenak kemudian, Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih harus berbisik, “Mereka pergi ke sebelah timur. Jalan itu akan tembus ke gerbang padepokan sebelah belakang.”
“Ya. Orang-orang itulah yang diperhitungkan oleh Ki Ageng,” sahut Damar Tahun.
“ Maaf kakang, apakah benar kericuhan orang –orang itu diakibatkan oleh salah seorang saudara seperguruannya yang telah di tangkap oleh para prajurit Pajang karena telah saya kalahkan beberapa waktu yang lalu? “, Arya Gading bertanya dengan wajah sedikit muram.
Mahesa Branjangan menggeleng, “ Itu bukan karena salahmu Gading. Orang – orang itu hanya mencari perkara saja. Ada hal yang lebih besar lagi dari sebuah balas dendam. Seperti penuturan Bagus Abangan ada masalah yang lebih besar beberapa belas tahun yang lalu menyangkut perselisihan Ki Ageng Pandan Arum dan Kiai Jalatunda. Dan orang –orang itu sepertinya belum puas dengan akhir peristiwa itu. Dan hari ini mereka memutuskan untuk menuntut balas “
Arya Gading dan Doran mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja Doran bertanya, “Tetapi, jika mereka adalah orang-orang Kiai Jalatunda, apakah mereka tidak sangat berbahaya, kakang? Dan apakah kita akan dapat mengikutinya dan menyadap pembicaraan mereka?”
“Tentu bukan orang-orang yang duduk di perapian itu. Maksudku, yang akan memimpin mereka. Ada dua orang yang pininjung diantara orang –orang itu. Mereka murid – murid utama Kiai Jalatunda. Macan Ireng dan Welat Kuning.”
Namun sebelum Doran bertanya lebih lanjut, maka Mahesa Branjangan pun berkata, “Kita mengikutinya sampai ke Gunung Butak.”
“Bagaimana dengan kuda-kuda itu, kakang?” bertanya Doran.
“Biar saja ia berada di pategalan itu. Tidak akan terjadi apa-apa atas mereka. Mungkin kuda-kuda itu sekarang sedang tidur dengan nyenyak.”
Doran mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
“Kita akan memintas, sehingga kita akan mendahului mereka sampai ke Gunung Butak,” berkata Mahesa Branjangan kemudian.
“Apakah mereka tidak juga memilih jalan memintas?” bertanya Arya Gading.
“Agaknya mereka bukan orang yang tinggal di sekitar daerah ini. Mereka tidak mengenal jalan-jalan sempit di tengah hutan ini.”
Quote:
DEMIKIANLAH, maka mereka berempat pun segera berangkat menyusuri pinggiran hutan. Namun kemudian mereka pun segera memotong, setelah mereka menemukan sebuah jalan sempit yang memintas. Mereka menyusup pepohonan dan pohon-pohon perdu. Tetapi hutan ini tidak seganas Alas Tambak Baya, apalagi Alas Mentaok. Karena itu, bagi keempat orang itu, perjalanan mereka bukannya perjalanan yang terlampau sulit.
Setelah beberapa lama mereka berjalan, maka mereka pun menjadi semakin dekat dengan daerah Gunung Butak tempat biasa Arya Gading dan Mahesa Branjangan berlatih kanuragan di malam hari. Sebuah hutan kecil terbentang di sebelah Utara daerah yang masih liar itu. Beberapa batang pohon yang besar tumbuh di antara kekerdilan semak-semak. Dan di atas sebuah puntuk kecil terdapat sebuah batu yang aneh. Seolah-olah batu itu diatur oleh tangan manusia dan diletakkannya di atas gumuk kecil itu.
“Kita menunggu di sini. Mereka pasti akan melintas jalan ini,” berkata Mahesa Branjangan.
Kedua murid Pasanggaran dan Damar Tahun hanya menganggukkan kepalanya. Mereka percaya, bahwa Mahesa Branjangan memiliki firasat yang sangat tajam. Demikianlah, mereka kemudian bersembunyi di balik semak-semak untuk menunggu orang-orang yang semula mengelilingi perapian dan yang kemudian berusaha untuk mengacaukan padepokan Pasanggaran. Ternyata bahwa perhitungan Mahesa Branjangan tidak salah. Sejenak kemudian, mereka telah mendengar suara ranting-ranting perdu yang berpatahan.
“Kalian di sini, Arya Gading dan Doran. Kali ini kita tidak sekedar mengintai orang-orang yang duduk mengelilingi perapian. Tetapi kita akan mengikuti mereka bergeser dari satu tempat ke tempat yang lain. Jangan pergi ke mana pun. Aku berdua bersama Damar Tahun akan mengikuti mereka dan akan mencari kalian ke tempat ini jika kami sudah merasa cukup.”
Ia melihat kekecewaan membayang di wajah kedua pemuda itu. Namun kali ini Mahesa Branjangan tidak dapat mempertimbangkan kemungkinan lain yang lebih baik. Betapa pun kecewa bergejolak di dalam hatinya, namun Arya Gading dan Doran harus mematuhi kata-kata kakak seperguruanya, karena hal itu pasti sudah dipertimbangkannya baik-baik. Sesaat kemudian, maka ketujuh orang yang sedang mereka tunggu itu pun lewat beberapa langkah di hadapan Mahesa Branjangan menuju ke rumpun-rumpun perdu yang lebih lebat di pinggir hutan kecil agak ke utara.
Dengan isyarat, Mahesa Branjangan mengajak Damar Tahun untuk segera mengikuti mereka Tetapi untuk sementara keduanya tidak berani mendekat, karena mereka masih berada di tempat yang agak terbuka. Namun ketika kemudian mereka memasuki hutan perdu yang liar, barulah keduanya berusaha untuk mengikutinya dari jarak yang semakin dekat.
“Ternyata tempat ini cukup baik,” desis salah seorang dari mereka.
Tidak ada yang segera menanggapi. Tetapi mereka berjalan terus menelusuri rumpun-rumpun perdu yang menjadi semakin lebat, dan kemudian sampai di daerah hutan kecil yang gelap.
Sesaat kemudian, pemimpin mereka yang bernama Macan Ireng pun berkata, “Kita berhenti sebentar. Kita pertimbangkan tempat ini.”
Orang-orang itu pun kemudian berhenti. Mereka berdiri menghadap ke arah Pasanggaran.
“Kita akan membuat pertimbangan-pertimbangan,” berkata Macan Ireng, “apakah tempat ini lebih menguntungkan atau tidak, dibandingkan dengan hutan tempat kita membuat perkemahan?”
Kawan-kawannya tidak segera menyahut.
“Kita akan menyerang padukuhan –padukuhan di sekitar Pasanggaran dan berusaha membuat kegaduhan sehebat mungkin. Kita mengharap betapapun mereka bersiaga, namun mereka akan lengah juga karena padukuhan – padukuhan akan kita buat menjadi karang abang. Karena tidak mungkin para cantrik itu akan berjaga –jada disetiap padukuhan. Sehingga mereka akan terpecah perhatiannya. Aku sangat yakin Ki Ageng Pandan Arum tidak akan berpangku tangan melihat padukuhan –padukuhan disekitar padepokannya terjadi kerusuhan “
Setelah itu kita akan menghindari jalan langsung ke Pasanggaran. Yang harus kita lakukan adalah memasuki padepokan itu. Pada saat para cantrik tidak sebanyak biasanya di padepokan itu. Langkah kita akan semakin ringan. Kita bakar padepokan itu. Dan jangan lupa cari pemuda yang bernama Arya Gading. Bunuh anak itu. Balaskan dendam Kebo Peteng”
“Kalau ternyata Ki Ageng ada di padepokan itu bagaimana Ki Lurah?,” sahut seseorang.
“ Apa boleh buat, kita akan menghancurkannya. Mungkin orang tua itu sangat tangguh. Namun, jumlah dan kemampuan orang –orang yang kita miliki dapat dimanfaatkan. Bertempurlah secara berpasangan”
Setelah beberapa lama mereka berjalan, maka mereka pun menjadi semakin dekat dengan daerah Gunung Butak tempat biasa Arya Gading dan Mahesa Branjangan berlatih kanuragan di malam hari. Sebuah hutan kecil terbentang di sebelah Utara daerah yang masih liar itu. Beberapa batang pohon yang besar tumbuh di antara kekerdilan semak-semak. Dan di atas sebuah puntuk kecil terdapat sebuah batu yang aneh. Seolah-olah batu itu diatur oleh tangan manusia dan diletakkannya di atas gumuk kecil itu.
“Kita menunggu di sini. Mereka pasti akan melintas jalan ini,” berkata Mahesa Branjangan.
Kedua murid Pasanggaran dan Damar Tahun hanya menganggukkan kepalanya. Mereka percaya, bahwa Mahesa Branjangan memiliki firasat yang sangat tajam. Demikianlah, mereka kemudian bersembunyi di balik semak-semak untuk menunggu orang-orang yang semula mengelilingi perapian dan yang kemudian berusaha untuk mengacaukan padepokan Pasanggaran. Ternyata bahwa perhitungan Mahesa Branjangan tidak salah. Sejenak kemudian, mereka telah mendengar suara ranting-ranting perdu yang berpatahan.
“Kalian di sini, Arya Gading dan Doran. Kali ini kita tidak sekedar mengintai orang-orang yang duduk mengelilingi perapian. Tetapi kita akan mengikuti mereka bergeser dari satu tempat ke tempat yang lain. Jangan pergi ke mana pun. Aku berdua bersama Damar Tahun akan mengikuti mereka dan akan mencari kalian ke tempat ini jika kami sudah merasa cukup.”
Ia melihat kekecewaan membayang di wajah kedua pemuda itu. Namun kali ini Mahesa Branjangan tidak dapat mempertimbangkan kemungkinan lain yang lebih baik. Betapa pun kecewa bergejolak di dalam hatinya, namun Arya Gading dan Doran harus mematuhi kata-kata kakak seperguruanya, karena hal itu pasti sudah dipertimbangkannya baik-baik. Sesaat kemudian, maka ketujuh orang yang sedang mereka tunggu itu pun lewat beberapa langkah di hadapan Mahesa Branjangan menuju ke rumpun-rumpun perdu yang lebih lebat di pinggir hutan kecil agak ke utara.
Dengan isyarat, Mahesa Branjangan mengajak Damar Tahun untuk segera mengikuti mereka Tetapi untuk sementara keduanya tidak berani mendekat, karena mereka masih berada di tempat yang agak terbuka. Namun ketika kemudian mereka memasuki hutan perdu yang liar, barulah keduanya berusaha untuk mengikutinya dari jarak yang semakin dekat.
“Ternyata tempat ini cukup baik,” desis salah seorang dari mereka.
Tidak ada yang segera menanggapi. Tetapi mereka berjalan terus menelusuri rumpun-rumpun perdu yang menjadi semakin lebat, dan kemudian sampai di daerah hutan kecil yang gelap.
Sesaat kemudian, pemimpin mereka yang bernama Macan Ireng pun berkata, “Kita berhenti sebentar. Kita pertimbangkan tempat ini.”
Orang-orang itu pun kemudian berhenti. Mereka berdiri menghadap ke arah Pasanggaran.
“Kita akan membuat pertimbangan-pertimbangan,” berkata Macan Ireng, “apakah tempat ini lebih menguntungkan atau tidak, dibandingkan dengan hutan tempat kita membuat perkemahan?”
Kawan-kawannya tidak segera menyahut.
“Kita akan menyerang padukuhan –padukuhan di sekitar Pasanggaran dan berusaha membuat kegaduhan sehebat mungkin. Kita mengharap betapapun mereka bersiaga, namun mereka akan lengah juga karena padukuhan – padukuhan akan kita buat menjadi karang abang. Karena tidak mungkin para cantrik itu akan berjaga –jada disetiap padukuhan. Sehingga mereka akan terpecah perhatiannya. Aku sangat yakin Ki Ageng Pandan Arum tidak akan berpangku tangan melihat padukuhan –padukuhan disekitar padepokannya terjadi kerusuhan “
Setelah itu kita akan menghindari jalan langsung ke Pasanggaran. Yang harus kita lakukan adalah memasuki padepokan itu. Pada saat para cantrik tidak sebanyak biasanya di padepokan itu. Langkah kita akan semakin ringan. Kita bakar padepokan itu. Dan jangan lupa cari pemuda yang bernama Arya Gading. Bunuh anak itu. Balaskan dendam Kebo Peteng”
“Kalau ternyata Ki Ageng ada di padepokan itu bagaimana Ki Lurah?,” sahut seseorang.
“ Apa boleh buat, kita akan menghancurkannya. Mungkin orang tua itu sangat tangguh. Namun, jumlah dan kemampuan orang –orang yang kita miliki dapat dimanfaatkan. Bertempurlah secara berpasangan”
Quote:
SEJENAK TIDAK ADA seorang pun yang segera menyahut. Agaknya mereka sedang merenungi rencana itu. Daerah ini memang baik mereka jadikan daerah persiapan. Sedang daerah lereng Merapi adalah daerah yang baik untuk mereka jadikan tempat menghindar. Batu-batu padas yang besar dan liku-liku lereng yang berselimut batang-batang perdu memberikan kemungkinan lolos yang sebesar-besarnya. Apalagi mereka sempat meninggalkan Pasanggaran, kemudian memasuki alas mlandingan yang meskipun tidak begitu luas, mereka akan dapat hampir memastikan untuk berhasil menyelamatkan diri di lereng-lereng yang berbatu padas.
Untuk beberapa saat lamanya orang-orang itu masih berdiam diri sambil mengawasi keadaan di sekitarnya. Tetapi gelap malam rasa-rasanya menjadi semakin pepat, sehingga sejenak kemudian, salah seorang dari mereka berkata, “Aku kira kita dapat mengajukan rencana ini. Tetapi sebaiknya besok siang kita melihat keadaan ini untuk mendapatkan kepastian.”
“Di siang hari?”
“Ya.”
“Berbahaya sekali.”
“Tentu tidak perlu kita semua berbareng datang kemari. Aku akan datang dengan seorang dari kalian.”
“Hanya dua orang?”
“Ya, tentu tidak akan menumbuhkan kecurigaan. Adalah merupakan hal yang biasa bila dua orang berjalan bersama-sama. Apakah yang aneh? Jika kita datang bertujuh, memang hal itu akan dapat menumbuhkan persoalan.”
Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang mereka harus melihat keadaan ini di siang hari supaya mereka dapat memastikan apa yang harus mereka lakukan.
“Marilah, kita sekarang pergi.”
“Apakah kita tidak melihat padepokan Pasanggaran?”
“Tidak ada yang baru di Pasanggaran ”
Tidak ada seorang pun yang menyahut. Welat Kuning yang berdiri tepat di samping Macn Ireng pun berdiam diri. Hanya pandangan matanya saja yang tajam memandang
“Marilah,” gumam Macan Ireng sambil melangkah.
Sejenak kemudian mereka pun berjalan berurutan meninggalkan tempat itu. Dalam pada itu, Damar Tahun dan Mahesa Branjangan yang mengintip mereka, membiarkan mereka pergi. Mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu, selain memandang bayangan yang kehitam-hitaman itu hilang di dalam kelam.
Sejenak kemudian, barulah mereka berdiri sambil menggeliat. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Mahesa Branjangan berdesis, “Rencana yang baik.”
Damar Tahun pun mengangguk-angguk pula, katanya, “Tentu rencana ini di susun oleh orang yang cukup berpengalaman.”
“Ya,” sahut Mahesa Branjangan, “kita harus berhati-hati. Kita tidak dapat menghadapi mereka tanpa orang lain.”
“Jadi para pemuda di padukuhan –padukuhan itu?”
“Kita harus berhati-hati. Siapa tahu, bahwa ada orang-orang mereka yang menyusup di dalam lingkungan sekitar tanda kita sadari keberadaannya.”
Damar Tahun mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera menemukan sesuatu untuk mengatasi persoalan itu.
“Marilah, kita kembali kepada Arya Gading dan Doran. Barangkali kita akan menemukan sikap sambil berjalan.”
Keduanya pun segera kembali ke tempat mereka meninggalkan Arya Gading dan Doran. Mahesa Branjangan menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika dilihatnya Doran sedang tidur dengan nyenyaknya.
“Dapat juga ia tidur nyenyak,” desis Mahesa Branjangan.
Arya Gading tersenyum sambil menjawab, “Ia kecewa sekali karena kami tidak boleh ikut serta. Karena itu, lebih baik baginya untuk tidur saja daripada menggerutu tidak habis-habisnya.”
Kedua orang itu pun tersenyum.
Ternyata percakapan itu telah membangunkan Doran, sehingga sambil menggeliat ia berkata, “Apakah sekarang sudah fajar pagi?”
“Sudah lewat,” jawab Arya Gading.
Doran pun kemudian berdiri sambil bertanya, “Di mana orang-orang itu, kakang?”
“Sudah pergi.”
“Pergi? Dan kita membiarkan mereka pergi tanpa berbuat apa-apa?”
“Kita tidak berbuat apa-apa.”
“Kenapa kakang?” Arya Gading pun bertanya, “bukankah mereka orang-orang yang berbahaya?”
“Ya. Mereka memang orang-orang yang berbahaya. Tetapi kita tidak dapat berbuat sesuatu atas mereka itu sekarang. Dengan demikian, kita tidak akan dapat membasmi sampai ke akar – akarnya. Bisa saja jika kita serang, mereka bisa meloloskan diri dan dilain waktu akan membawa pasukan segelar sepapan untuk menggilas kita disini”
Untuk beberapa saat lamanya orang-orang itu masih berdiam diri sambil mengawasi keadaan di sekitarnya. Tetapi gelap malam rasa-rasanya menjadi semakin pepat, sehingga sejenak kemudian, salah seorang dari mereka berkata, “Aku kira kita dapat mengajukan rencana ini. Tetapi sebaiknya besok siang kita melihat keadaan ini untuk mendapatkan kepastian.”
“Di siang hari?”
“Ya.”
“Berbahaya sekali.”
“Tentu tidak perlu kita semua berbareng datang kemari. Aku akan datang dengan seorang dari kalian.”
“Hanya dua orang?”
“Ya, tentu tidak akan menumbuhkan kecurigaan. Adalah merupakan hal yang biasa bila dua orang berjalan bersama-sama. Apakah yang aneh? Jika kita datang bertujuh, memang hal itu akan dapat menumbuhkan persoalan.”
Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang mereka harus melihat keadaan ini di siang hari supaya mereka dapat memastikan apa yang harus mereka lakukan.
“Marilah, kita sekarang pergi.”
“Apakah kita tidak melihat padepokan Pasanggaran?”
“Tidak ada yang baru di Pasanggaran ”
Tidak ada seorang pun yang menyahut. Welat Kuning yang berdiri tepat di samping Macn Ireng pun berdiam diri. Hanya pandangan matanya saja yang tajam memandang
“Marilah,” gumam Macan Ireng sambil melangkah.
Sejenak kemudian mereka pun berjalan berurutan meninggalkan tempat itu. Dalam pada itu, Damar Tahun dan Mahesa Branjangan yang mengintip mereka, membiarkan mereka pergi. Mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu, selain memandang bayangan yang kehitam-hitaman itu hilang di dalam kelam.
Sejenak kemudian, barulah mereka berdiri sambil menggeliat. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Mahesa Branjangan berdesis, “Rencana yang baik.”
Damar Tahun pun mengangguk-angguk pula, katanya, “Tentu rencana ini di susun oleh orang yang cukup berpengalaman.”
“Ya,” sahut Mahesa Branjangan, “kita harus berhati-hati. Kita tidak dapat menghadapi mereka tanpa orang lain.”
“Jadi para pemuda di padukuhan –padukuhan itu?”
“Kita harus berhati-hati. Siapa tahu, bahwa ada orang-orang mereka yang menyusup di dalam lingkungan sekitar tanda kita sadari keberadaannya.”
Damar Tahun mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera menemukan sesuatu untuk mengatasi persoalan itu.
“Marilah, kita kembali kepada Arya Gading dan Doran. Barangkali kita akan menemukan sikap sambil berjalan.”
Keduanya pun segera kembali ke tempat mereka meninggalkan Arya Gading dan Doran. Mahesa Branjangan menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika dilihatnya Doran sedang tidur dengan nyenyaknya.
“Dapat juga ia tidur nyenyak,” desis Mahesa Branjangan.
Arya Gading tersenyum sambil menjawab, “Ia kecewa sekali karena kami tidak boleh ikut serta. Karena itu, lebih baik baginya untuk tidur saja daripada menggerutu tidak habis-habisnya.”
Kedua orang itu pun tersenyum.
Ternyata percakapan itu telah membangunkan Doran, sehingga sambil menggeliat ia berkata, “Apakah sekarang sudah fajar pagi?”
“Sudah lewat,” jawab Arya Gading.
Doran pun kemudian berdiri sambil bertanya, “Di mana orang-orang itu, kakang?”
“Sudah pergi.”
“Pergi? Dan kita membiarkan mereka pergi tanpa berbuat apa-apa?”
“Kita tidak berbuat apa-apa.”
“Kenapa kakang?” Arya Gading pun bertanya, “bukankah mereka orang-orang yang berbahaya?”
“Ya. Mereka memang orang-orang yang berbahaya. Tetapi kita tidak dapat berbuat sesuatu atas mereka itu sekarang. Dengan demikian, kita tidak akan dapat membasmi sampai ke akar – akarnya. Bisa saja jika kita serang, mereka bisa meloloskan diri dan dilain waktu akan membawa pasukan segelar sepapan untuk menggilas kita disini”
Diubah oleh breaking182 20-07-2022 23:57
ashrose dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas
Tutup