- Beranda
- Stories from the Heart
INGGIS (TAKUT)...
...
TS
makmiah123
INGGIS (TAKUT)...
Salam kenal Gan n Sist.. Ane mau nyoba-nyoba nulis di forum SFTH nih.. Kalo ada saran atau kritik bebas aja yah, asal ga ngelanggar aturan/Kode etik SFTH aja.. Sebagian cerita ini real story berdasarkan pengalaman temen ane yang minta segala macam tentang dia dan tempatnya dirahasiakan dan sebagian lagi fiksi.. Sebagai orang yang baru belajar nulis, pasti banyak banget kekurangan nya yaa Gan n Sist.. Jadi harap maklum saja.. Hehe..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
PROLOG..
Ada sesuatu yang membuat dusun indah nan asri tempat ku dilahirkan tak lagi nyaman..

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...10/1/flashback
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...akek-misterius
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...anehan-mak-tua
Raungan Dinar dan Keanehan Teh Nining
Adu Mulut
Penuturan Rima
Pengakuan Ambu
Fadil Kecewa, Ambu..
Dua Penolong Misterius
Kabar Mengejutkan
Antara Nyata dan Tidak...
Tamu Yang Meresahkan
Curhat..
Bang Kosim Dukun Nyentrik (1)
Bang Kosim Dukun Nyentrik (2)
Bang Kosim Kapok
Ada Apa Lagi Ini, Yaa Tuhan...
Bangle, Daun Kelor dan Tebu Hitam
Kerasukan..
KOMA..
Selamat Jalan, Bunda.. Ayah, Ikhlas...
Apa Yang Ambu Lakukan Membuat Malu..
Jangan Bawa Putri Ku..
Mimpi Buruk...
Mata Batin Chyntia
Bantuan Chyntia..
Keluarkan Perempuan Itu Dari Rumahku...
Permintaan Tolong Ratih..
Apakah Salah Lihat?
Penyakit Aneh..
Penuturan Pak Daus..
Meninggalnya Mbak Nur
Pengobatan(Turuti Ikhlas atau Dendam)
Sepenggal Kisah Abah
Godaan Shalat
Aki Maung Hideung..
Hampir Tertabrak..
Chyntia, Kasihan Gadis Itu..
Perempuan Berkebaya Merah (Bukan Yang Lagi Viral, Yak)
Nyaris Tersesat..
Dukun-Dukun Keparat!!
Sebuah Bisikan..
Diubah oleh makmiah123 20-12-2022 08:06
somatt dan 37 lainnya memberi reputasi
38
32.7K
268
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
makmiah123
#6
Raungan Dinar
Aku sengaja tidak menceritakan apapun ke Ratih setibanya di rumah Ambu selepas mengantarkan pulang Mak Tua.. Aku tak mau dicap sebagai suami penakut.. Aku hanya sempat memberikan Ratih benda pemberian Mak Tua yang langsung di simpannya dalam saku daster.. Sempat Ratih bertanya perihal benda aneh pemberian sang Paraji.. Aku jawab saja itu hanya cinderamata khusus buat semua ibu hamil yang menggunakan jasanya..
Jujur, benak ku masih saja dipenuhi kilasan wajah Kakek Tua misterius yang entah demit, jin atau hantu gentayangan dan sikap aneh Mak Tua.. Kedua hal tersebut kerap membuat bulu kudukku meremang sekaligus bingung..
Sedari kecil aku tumbuh didusun ini, memang sudah sering diceritakan hal-hal berbau mistis.. Baik oleh almarhum Abah atau Mang Asep.. Tapi aku anggap cerita-cerita tersebut hanya alasan agar aku tak main terlampau malam atau agar aku tak main terlalu jauh masuk hutan.. Terlebih, aku memang sama sekali belum pernah diperlihatkan wujud mahluk lain alam sampai sekarang.. Itu pun jika sosok Kakek tadi bukanlah hantu..
“Kamu kenapa, Dil? Ambu lihat habis mengantarkan pulang Mak Tua, wajah mu berubah tegang” Tanya Ambu yang datang menghampiri ku diteras sambil membawakan dua gelas minuman..
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Ambu.. Aku malah mengambil minuman buatannya yang ternyata adalah air teh jahe.. Ahh, sudah lama aku tidak merasakan hangat dan segarnya air jahe buatan Ambu yang khas..
“Istri dan anakmu sudah lelap sekali tidurnya.. Ambu baru saja hendak menawarkan mereka minuman” Kata Ambu lagi sesaat setelah meneguk minumannya..
“Ambu tidak merasakan ada yang aneh di dusun ini?” Tanya ku yang membuat kening ambu berkerut pertanda heran..
Mulailah aku bercerita panjang lebar tentang apa saja yang telah aku alami sepanjang hari ini ke Ambu.. Sesekali kerutan di kening ambu kembali terlihat saat mendengar penuturan ku.. Namun tak nampak raut kaget maupun mimik ketakutan diwajahnya.. Seolah apa yang baru aku alami merupakan hal biasa yang terjadi disini..
“Yang namanya dusun terpencil di kaki gunung, pasti banyak lelembutnya, Dil.. Jangan kan di dusun, di Jakarta tempat mu tinggal sekarang pun yang namanya lelembut pasti ada”
“Fadil faham, Ambu.. Oke, Fadil anggap kakek tua yang tadi Fadil temui d jalan adalah hantu kesiangan.. Tapi soal ucapan Mak Tua itu yang membuat Fadil khawatir.. Kaitannya dengan keselamatan menantu dan cucu Ambu.. Ambu lihat sendiri reaksi aneh Mak Tua saat sudah memboceng di motor tadi sore kan?”
Sejenak, Ambu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.. Namun ia segera menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan..
“Sudah lah, Dil.. Jangan terlalu difikirkan.. Mak Tua kan sudah sepuh.. Usianya jauh di atas Ambu.. Barangkali beliau sedang meracau saja.. Soal kekhawatiran kamu dengan keselamatan Ratih dan calon cucu Ibu yang kedua, Inshaa Allah tidak akan terjadi apa-apa pada mereka.. Tenang saja”
Belum sedetik Ambu selesai berucap, tiba-tiba kami berdua dikejutkan dengan raungan tangis putri ku Dinar.. Dengan cepat, aku berlari menuju kamar.. Disana, Ratih nampak kebingungan sambil memeluk Dinar yang terus menangis dengan wajah tenggelam didada Bundanya..
“Dinar kenapa, Bun?” Tanya ku seraya mencoba mengambil Dinar dari pelukan Ratih..
Namun, bukannya pindah pelukan, Dinar yang sempat melihatku malah semakin meraung dengan sorot mata penuh rasa takut..
“Bunda ga tau, Ayah.. Tadi Dinar sudah tidur pulas sama Bunda.. Lalu Bunda dengar suara jendela kamar terbuka.. Bunda bangun dan langsung menutup kembali jendelanya, tiba-tiba Dinar langsung menangis sambil menunjuk-nunjuk ke arah jendela”
“Sini, biar Ambu gendong Dinar” Kata Ambu yang langsung membawa Dinar berpindah kamar menuju kamarnya..
Aku dan Ratih sempat mengikuti Ambu dari belakang, namun dengan tatapan mata tajam Ambu menoleh ke arah kami persis di depan pintu kamarnya yang sudah terbuka.. Tatapan itu seolah melarang kami untuk terus mengikutinya.. Aku dan Ratih sama-sama kebingungan melihat Ambu dengan segera menutup pintu kamar..
“Ambu! Kenapa pintunya di tutup?” Tanya ku dengan nada cukup keras seraya menggedor daun pintu..
Dari dalam, suara tangis Dinar yang semula terdengar masih kencang perlahan-lahan berubah pelan.. Berganti dengan suara Ambu yang lirih sedang mendendangkan sebuah tembang berbahasa Sunda..
“Ambu, buka pintunya Ambu” Pinta ku dengan tangan masih memukul-mukul pintu kamar..
“Sudah, A.. Biarkan Dinar sama Ambu didalam” Ucap Rima yang ternyata sudah berdiri di belakang ku dan Ratih..
Aku menoleh ke arah Rima dan melihat Teh Nining masuk ke dalam kamar ku.. Rasa penasaran membuatku mengikuti Teh Nining yang malah berjalan cepat keluar dari kamar menuju halaman rumah..
Baik aku dan Ratih sama-sama terkejut melihat sosok Teh Nining sedang mengumpat dengan bahasa Sunda kasar.. Bukan hanya itu, wanita berambut panjang yang sudah lama tinggal bersama Ambu tersebut nampak sedang memasang kuda-kuda seolah hendak berkelahi.. Tapi dengan siapa? Tak ada seorang pun yang terlihat di hadapannya..
“Ayah, Bunda takut” Bisik Ratih sambil menggandeng lenganku..
“Rima, ajak Teteh ke kamar mu” Ucapku yang langsung di iyakan oleh Rima..
Ratih segera dibawa Rima menuju kamarnya, sementara aku memberanikan diri berjalan pelan hendak menghampiri Teh Nining yang seperti orang sedang kerasukan.. Bagaimana tidak aneh, sosok perempuan yang selama ini aku kenal pendiam itu, dengan gesit dan sambil berteriak teriak melayangkan pukulan serta tendangan ke udara kosong..
Akan tetapi, disekitar jarak 20 meter dari posisi Teh Nining, seseorang memegang pundakku dari belakang.. Sontak aku menoleh dan melihat Ambu sedang menggelengkan kepala sebagai pertanda aku tak diperbolehkannya lebih mendekat..
“Temani istri mu didalam, Dil.. Biar Ambu disini”
“Dinar bagaimana, Ambu?”
“Dia sudah tidur pulas di kamar Ambu.. Jangan kau bangunkan.. Biar dia tidur sampai pagi disana.. Sudahlah, jangan cemas, Dinar ada yang menjaga”
Kening ku berkerut mendengar jawaban Ambu.. Siapa yang menjaga Dinar? Ohh, mungkin adikku Rima yang menemaninya di kamar Ambu..
Meski masih diserang rasa penasaran melihat Teh Nining bertindak aneh, aku mengikuti anjuran Ambu untuk menemani Ratih.. Setibanya dikamar Rima, aku cukup dibuat bingung melihat Rima sedang berbicara dengan Ratih..
“Kata Ambu, kamu nenemin Dinar dikamarnya? Koq malah masih disini?”
Pertanyaanku dibalas Rima dengan wajah kebingungan.. Tak mau membahas lebih lanjut, aku langsung berjalan menuju kamar Ambu.. Namun tanganku dipegangi oleh Rima..
“Ambu bilang apa, A?”
“Ambu bilang Dinar sedang tidur dikamarnya.. Ada yang jagain.. Aa fikir kamu, tapi malah kamu disini”
“Sudah, A.. Biarin aja Dinar dikamar Ambu.. Inshaa Allah aman.. Dari tadi kita kan ga lagi denger Dinar nangis.. Biar nanti Rima yang kesana.. Sekarang Aa sama Teteh balik lagi aja ke kamar”
“Iya, Yah.. Ga apa-apa Dinar dikamar Ambu” Timpal Ratih..
Aku terdiam sejenak, berusaha menimbang ucapan adik dan istriku.. Lalu aku melemparkan pandangan menatap kamar Ambu.. Semoga Dinar benar-benar tidur pulas dikamar Ambu..
“Jangan sampai kamu ga jagain Dinar di kamar Ambu yah, Rim.. Aa sama Teteh ke kamar dulu.. Kalo ada apa-apa, kabarin Aa langsung”
Sambil memberi tanda hormat sebagai tanda siap jalani tugas, Rima memasang seyuman manis.. Aku tahu Rima pasti akan menjaga Dinar dengan sangat baik.. Oleh karenanya, aku segera mengajak Ratih untuk beristirahat kembali di kamar..
Persis sebelum aku memasuki kamar menyusul Ratih, langkah kaki ku terhenti karena melihat Ambu sedang memapah Teh Nining masuk ke dalam rumah.. Aku berniat membantu Ambu, namun tangan beliau memberi tanda ke arahku agar segera memasuki kamar.. Sekilas, aku sempat melihat wajah Teh Nining nampak sangat keletihan..
Didalam kamar, aku kembali termenung sambil duduk ditepi ranjang.. Ratih yang juga nampak tak lagi mengantuk, ikut duduk bersebelahan denganku.. Sambil mengelus-elus bahuku, Ratih berkali-kali menghela nafas panjang..
“Aku mulai tidak kerasan, Yah.. Jika besok sudah tidak ada lagi kepentingan disini, kita langsung saja kembali ke Jakarta”
Aku menoleh ke arah Ratih dan menatapnya cukup lama.. Dari raut wajah cantiknya, aku bisa melihat sorot mata yang menyiratkan kekhawatiran sekaligus ketakutan.. Satu tarikan nafas aku ambil dan membuangnya perlahan, lalu merubah posisi duduk hingga menghadap Ratih..
“Besok aku bicarakan ke Ambu yah, Bun.. Mudah-mudahan, Ambu bisa faham”
Jujur, benak ku masih saja dipenuhi kilasan wajah Kakek Tua misterius yang entah demit, jin atau hantu gentayangan dan sikap aneh Mak Tua.. Kedua hal tersebut kerap membuat bulu kudukku meremang sekaligus bingung..
Sedari kecil aku tumbuh didusun ini, memang sudah sering diceritakan hal-hal berbau mistis.. Baik oleh almarhum Abah atau Mang Asep.. Tapi aku anggap cerita-cerita tersebut hanya alasan agar aku tak main terlampau malam atau agar aku tak main terlalu jauh masuk hutan.. Terlebih, aku memang sama sekali belum pernah diperlihatkan wujud mahluk lain alam sampai sekarang.. Itu pun jika sosok Kakek tadi bukanlah hantu..
“Kamu kenapa, Dil? Ambu lihat habis mengantarkan pulang Mak Tua, wajah mu berubah tegang” Tanya Ambu yang datang menghampiri ku diteras sambil membawakan dua gelas minuman..
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Ambu.. Aku malah mengambil minuman buatannya yang ternyata adalah air teh jahe.. Ahh, sudah lama aku tidak merasakan hangat dan segarnya air jahe buatan Ambu yang khas..
“Istri dan anakmu sudah lelap sekali tidurnya.. Ambu baru saja hendak menawarkan mereka minuman” Kata Ambu lagi sesaat setelah meneguk minumannya..
“Ambu tidak merasakan ada yang aneh di dusun ini?” Tanya ku yang membuat kening ambu berkerut pertanda heran..
Mulailah aku bercerita panjang lebar tentang apa saja yang telah aku alami sepanjang hari ini ke Ambu.. Sesekali kerutan di kening ambu kembali terlihat saat mendengar penuturan ku.. Namun tak nampak raut kaget maupun mimik ketakutan diwajahnya.. Seolah apa yang baru aku alami merupakan hal biasa yang terjadi disini..
“Yang namanya dusun terpencil di kaki gunung, pasti banyak lelembutnya, Dil.. Jangan kan di dusun, di Jakarta tempat mu tinggal sekarang pun yang namanya lelembut pasti ada”
“Fadil faham, Ambu.. Oke, Fadil anggap kakek tua yang tadi Fadil temui d jalan adalah hantu kesiangan.. Tapi soal ucapan Mak Tua itu yang membuat Fadil khawatir.. Kaitannya dengan keselamatan menantu dan cucu Ambu.. Ambu lihat sendiri reaksi aneh Mak Tua saat sudah memboceng di motor tadi sore kan?”
Sejenak, Ambu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.. Namun ia segera menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan..
“Sudah lah, Dil.. Jangan terlalu difikirkan.. Mak Tua kan sudah sepuh.. Usianya jauh di atas Ambu.. Barangkali beliau sedang meracau saja.. Soal kekhawatiran kamu dengan keselamatan Ratih dan calon cucu Ibu yang kedua, Inshaa Allah tidak akan terjadi apa-apa pada mereka.. Tenang saja”
Belum sedetik Ambu selesai berucap, tiba-tiba kami berdua dikejutkan dengan raungan tangis putri ku Dinar.. Dengan cepat, aku berlari menuju kamar.. Disana, Ratih nampak kebingungan sambil memeluk Dinar yang terus menangis dengan wajah tenggelam didada Bundanya..
“Dinar kenapa, Bun?” Tanya ku seraya mencoba mengambil Dinar dari pelukan Ratih..
Namun, bukannya pindah pelukan, Dinar yang sempat melihatku malah semakin meraung dengan sorot mata penuh rasa takut..
“Bunda ga tau, Ayah.. Tadi Dinar sudah tidur pulas sama Bunda.. Lalu Bunda dengar suara jendela kamar terbuka.. Bunda bangun dan langsung menutup kembali jendelanya, tiba-tiba Dinar langsung menangis sambil menunjuk-nunjuk ke arah jendela”
“Sini, biar Ambu gendong Dinar” Kata Ambu yang langsung membawa Dinar berpindah kamar menuju kamarnya..
Aku dan Ratih sempat mengikuti Ambu dari belakang, namun dengan tatapan mata tajam Ambu menoleh ke arah kami persis di depan pintu kamarnya yang sudah terbuka.. Tatapan itu seolah melarang kami untuk terus mengikutinya.. Aku dan Ratih sama-sama kebingungan melihat Ambu dengan segera menutup pintu kamar..
“Ambu! Kenapa pintunya di tutup?” Tanya ku dengan nada cukup keras seraya menggedor daun pintu..
Dari dalam, suara tangis Dinar yang semula terdengar masih kencang perlahan-lahan berubah pelan.. Berganti dengan suara Ambu yang lirih sedang mendendangkan sebuah tembang berbahasa Sunda..
“Ambu, buka pintunya Ambu” Pinta ku dengan tangan masih memukul-mukul pintu kamar..
“Sudah, A.. Biarkan Dinar sama Ambu didalam” Ucap Rima yang ternyata sudah berdiri di belakang ku dan Ratih..
Aku menoleh ke arah Rima dan melihat Teh Nining masuk ke dalam kamar ku.. Rasa penasaran membuatku mengikuti Teh Nining yang malah berjalan cepat keluar dari kamar menuju halaman rumah..
Baik aku dan Ratih sama-sama terkejut melihat sosok Teh Nining sedang mengumpat dengan bahasa Sunda kasar.. Bukan hanya itu, wanita berambut panjang yang sudah lama tinggal bersama Ambu tersebut nampak sedang memasang kuda-kuda seolah hendak berkelahi.. Tapi dengan siapa? Tak ada seorang pun yang terlihat di hadapannya..
“Ayah, Bunda takut” Bisik Ratih sambil menggandeng lenganku..
“Rima, ajak Teteh ke kamar mu” Ucapku yang langsung di iyakan oleh Rima..
Ratih segera dibawa Rima menuju kamarnya, sementara aku memberanikan diri berjalan pelan hendak menghampiri Teh Nining yang seperti orang sedang kerasukan.. Bagaimana tidak aneh, sosok perempuan yang selama ini aku kenal pendiam itu, dengan gesit dan sambil berteriak teriak melayangkan pukulan serta tendangan ke udara kosong..
Akan tetapi, disekitar jarak 20 meter dari posisi Teh Nining, seseorang memegang pundakku dari belakang.. Sontak aku menoleh dan melihat Ambu sedang menggelengkan kepala sebagai pertanda aku tak diperbolehkannya lebih mendekat..
“Temani istri mu didalam, Dil.. Biar Ambu disini”
“Dinar bagaimana, Ambu?”
“Dia sudah tidur pulas di kamar Ambu.. Jangan kau bangunkan.. Biar dia tidur sampai pagi disana.. Sudahlah, jangan cemas, Dinar ada yang menjaga”
Kening ku berkerut mendengar jawaban Ambu.. Siapa yang menjaga Dinar? Ohh, mungkin adikku Rima yang menemaninya di kamar Ambu..
Meski masih diserang rasa penasaran melihat Teh Nining bertindak aneh, aku mengikuti anjuran Ambu untuk menemani Ratih.. Setibanya dikamar Rima, aku cukup dibuat bingung melihat Rima sedang berbicara dengan Ratih..
“Kata Ambu, kamu nenemin Dinar dikamarnya? Koq malah masih disini?”
Pertanyaanku dibalas Rima dengan wajah kebingungan.. Tak mau membahas lebih lanjut, aku langsung berjalan menuju kamar Ambu.. Namun tanganku dipegangi oleh Rima..
“Ambu bilang apa, A?”
“Ambu bilang Dinar sedang tidur dikamarnya.. Ada yang jagain.. Aa fikir kamu, tapi malah kamu disini”
“Sudah, A.. Biarin aja Dinar dikamar Ambu.. Inshaa Allah aman.. Dari tadi kita kan ga lagi denger Dinar nangis.. Biar nanti Rima yang kesana.. Sekarang Aa sama Teteh balik lagi aja ke kamar”
“Iya, Yah.. Ga apa-apa Dinar dikamar Ambu” Timpal Ratih..
Aku terdiam sejenak, berusaha menimbang ucapan adik dan istriku.. Lalu aku melemparkan pandangan menatap kamar Ambu.. Semoga Dinar benar-benar tidur pulas dikamar Ambu..
“Jangan sampai kamu ga jagain Dinar di kamar Ambu yah, Rim.. Aa sama Teteh ke kamar dulu.. Kalo ada apa-apa, kabarin Aa langsung”
Sambil memberi tanda hormat sebagai tanda siap jalani tugas, Rima memasang seyuman manis.. Aku tahu Rima pasti akan menjaga Dinar dengan sangat baik.. Oleh karenanya, aku segera mengajak Ratih untuk beristirahat kembali di kamar..
Persis sebelum aku memasuki kamar menyusul Ratih, langkah kaki ku terhenti karena melihat Ambu sedang memapah Teh Nining masuk ke dalam rumah.. Aku berniat membantu Ambu, namun tangan beliau memberi tanda ke arahku agar segera memasuki kamar.. Sekilas, aku sempat melihat wajah Teh Nining nampak sangat keletihan..
Didalam kamar, aku kembali termenung sambil duduk ditepi ranjang.. Ratih yang juga nampak tak lagi mengantuk, ikut duduk bersebelahan denganku.. Sambil mengelus-elus bahuku, Ratih berkali-kali menghela nafas panjang..
“Aku mulai tidak kerasan, Yah.. Jika besok sudah tidak ada lagi kepentingan disini, kita langsung saja kembali ke Jakarta”
Aku menoleh ke arah Ratih dan menatapnya cukup lama.. Dari raut wajah cantiknya, aku bisa melihat sorot mata yang menyiratkan kekhawatiran sekaligus ketakutan.. Satu tarikan nafas aku ambil dan membuangnya perlahan, lalu merubah posisi duduk hingga menghadap Ratih..
“Besok aku bicarakan ke Ambu yah, Bun.. Mudah-mudahan, Ambu bisa faham”
sirluciuzenze dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Tutup