Kaskus

Story

c4punk1950...Avatar border
TS
c4punk1950...
Misteri Gunung Kembar



Cerita ini hanya fiktif semata, semoga terhibur dengan cerita pendek yang ts hadirkan.

Misteri Gunung Kembar



"Hosh ... hosh ... hosh ...." Suara nafas terengah-engah dari kedua orang yang sedang berjalan menyusuri jalan yang cukup sepi, dimana kedua belah sisinya adalah pematang sawah yang cukup luas.

"Istirahat dulu Don, ah elo bukannya naik ojek aja! Malah maksa jalan, belum juga dengkul udah ledes ini."

Doni hanya nyengir kuda, tak begitu menanggapi keluhan kawannya. "Tapi, tuh lo liat tinggal dikit lagi Her! Dari sini jelas terlihat gunung kembar yang akan kita daki," ucapnya sambil mengambilair mineral dari genggaman Heri.

"Cape gw Don, istirahat dulu sejenak tuh dibawah pohon," sambil menunjuk pohon beringin yang berada di tepian jalan. Pohon yang cukup tua, terlihat dari lebat dan rimbunnya dedaunan yang menghalangi sinar matahari menembus hingga sanggup membuat pejalan kaki nyaman berada dibawahnya.

"Oke, deh! Nanti kalau ada mobil bak gw coba berentiin, lumayan betis gw juga dah mulai berasa."

"Nah, gitu dong! Itu baru sohib gw."

Kedua pemuda itu berteduh di bawah pohon beringin yang sangat rindang, sambil melihat pemandangan alam.yang tersaji.

Terlihat dari kejauhan dua gunung kembar, Sindoro dan Sumbing nampak gagah terpancang memanggil siapapun para pecinta alam untuk menjamahanya.

Sumbing berada disebelah barat daya kota Temanggung dan sebelah Timur kota Wonosobo. Sedangkan Sindoro disebelah barat laut Temanggung danTimur laut Wonosobo. Keduanya memang terlihat kembar karena kalau dari jauh terlihat berdekatan.

Tinggi Gunung Sumbing sekitar 3.340 m dari permukaan laut (dpl), sedikit lebih tinggi daripada Sindoro (3.155 m dpl). Tapi kedua gunung ini mempunyai panorama yang indah untuk dinikmati.

Ketika dua pemuda itu sedang istirahat mereka didekati oleh seorang pria setengah baya, dengan topi caping khas petani pria itu memperhatikan keduanya.

"Loh, kok istirahat disini dek, Memang pada mau kemana?" Tanya pria setengah baya kepada mereka berdua.

Heri langsung menjawab, "Anu pak, kita rencana mau mendaki gunung Sindoro kalau tidak gunung Sumbing,"

"Wah, masih jauh dari sini dek! Kalau mau daripada istirahat disini mending istirahat di tempat bapak saja. Gak jauh kok tempatnya dari sini."

"Aduh pak, maaf ndak apa disini saja takut ngerepotin." Ujar Heri

"Dekat kok, daripada disini. Takutnya hari mau hujan, sepertinya cuaca sedang mendung."

"Oh, iya boleh deh pak!" Doni langsung memanggul kembali tasnya. Heri nampak kurang setuju, tetapi akhirnya mereka berdua mengikuti langkah si Bapak.

Hanya butuh beberapa menit menerabas indahnya persawahan, terlihat sebuah rumah Joglo khas Jawa yang sederhana namun dengan pekarangan yang luas. Lengkap dengan bale tempat istirahat.

"Nah, kalian daripada di pohon tadi mending istirahat di bale itu lebih aman dan nyaman," ucap si lelaki paruh baya.

"Oh, iya pakde. Terima kasih!"

"Ya, saya tinggal dulu! Ini mau ganti baju, habis dari ladang," ucapnya.

Pria tua itu masuk kedalam rumah, sementara Heri dan Doni melepas lelah di bale yang cukup besar. Bahkan mirip dengan bentuk saung gazebo yang cukup untuk istirahat sambil tiduran.

Tak lama, keduanya dikejutkan oleh dua orang anak kembar yang bermain di dekat mereka. Tiba-tiba,

#Bersambung

Klik Disini
Diubah oleh c4punk1950... 11-07-2022 11:45
dewisuzannaAvatar border
bukhoriganAvatar border
User telah dihapus
User telah dihapus dan 31 lainnya memberi reputasi
32
10.3K
171
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.1KAnggota
Tampilkan semua post
c4punk1950...Avatar border
TS
c4punk1950...
#48
Gunung Sindoro



"Gunung Sindoro." Ucap Heri.

"Oh, ya udah yuk ikut saya," kata si kembar bernama Sindoro, yang anaknya sangat sopan kalau berbicara. Bahkan tak hanya itu gestur tubuhnya juga mengenal tata krama yang tinggi.

Ketika kami berdua di tarik tangannya oleh si kembar, tiba-tiba pandangan menjadi gelap. Bahkan kepala terasa berputar dan ketika pandangan sudah kembali normal.

Si kembar sudah tak ada, kami berdua berada di wilayah berbeda namun cukup familiar.

Kami sudah berada di sebuah base camp di Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo. Jalur ini bisa dibilang jalur termudah untuk menaklukkan Sindoro, yaitu jalur Ndoro Arum.

"Her, kok bisa kita langsung kesini?"

Heri, nampak diam mukanya pucat. Namun perlahan, dia mulai bisa mengendalikan diri.

"Sudah Don, jangan banyak tanya mending kita langsung saja mengurus simaksi."

Kami berdua terdiam, tak lagi membahas kejadian aneh yang sudah terjadi. Walau hal itu diluar nalar akal dan logika pada umumnya.

Sebenarnya ada beberapa jalur lainnya untuk sampai ke puncak Sindoro, yaitu Kledung, Alang-Alang Sewu, Bansari, Sigedang, Bedakah.

Merekapun segera mengurus simaksi terlebih dahulu, biaya untuk mendaki per orang Rp 25.000 tak lupa petugas memberikan trash bag. Agar sampah yang habis digunakan dibawa kembali turun.

Untuk menghemat waktu pendakian, kami berdua pun naik ojek yang harganya cukup murah sekitar Rp 25.000 bisa menghemat waktu untuk berjalan sekitar 1,8 km.

Perjalanan naik ojek melewati pemandangan yang cukup indah dan banyak perkebunan warga lokal, batas ojek dikit lagi mencapai pos satu.

Kami pun melanjutkan dengan berjalan menuju pos satu, yaitu Ngrata kira-kira 200 meter. Dari tenpat turun dari tempat ojek, cukup menghemat waktu kalau lewat jalur sini.

Pendakian terus berlanjut dengan rimbunnya pepohonan yang memanjakan mata. Hingga sampailah kita di taman ageng, sebuah tempat yang luas dan banyak bunga berwarna merah, kuning, orange yang mekar.

Perjalanan terus berlanjut hingga menemui ilalang yang cukup tinggi, namun dalam perjalanan ada bau-bau harum bunga, baunya itu sangat menenangkan.

"Don, lo cium bau bunga ga?"

"Iya, kayaknya bikin seger nih! Tapi aromanya timbul tenggelam, mungkin diterpa angin."

"Iya, tapi kita jalan terus sampai jalur naga."

Pemandangan tak ada perubahan, hanya ilalang dan perbukitan yang menghampar. Tiba di pos bayangan dua, siap memasuki jalur naga dimana melewati jalur bukit yang kecil diapit dua lembah.

kaskus-image

Jadi ketika melintasi jalur naga, Heri dan Doni banyak diam kalau keseringan bercanda, bahaya kkarena kiri dan kanannya jurang. Bisa wassalam kalau jatuh, auto bertemu dengan Tuhan.

"Her, istirahat dulu."

"Oke, gw juga gak nyangka trek habis jalur naga curam juga naiknya,l."

Sebotol air mineral ditenggak habis oleh kami berdua, namun ada sekelebat bayangan putih melintas. Doni sempat melihatnya, namun dia hanya diam.

Perjalanan terus berlanjut, karena jalur ini yang paling singkat dibandingkan jalur lainnya.

Akhirnya tiba juga di pos dua Kayu Sawa, jaraknya sekitar 1,5 km dari Pos satu. Berhubung tadi sudah istirahat pendakian terus lanjut menuju pos ketiga.

Hingga perjalanan tiba di tanjakan mrongkol, lumayan sudah menguras tenaga. Tiba-tiba bayangan sekelebat putih terlihat lagi, Heri pun kaget.

"Don lo lihat ga, bayangan putih?"

"Iya, dari tadi dibawah itu sudah sering terlihat cuma gw diem aja."

"Wah, gila lo! Kalau ada apa-apa gimana?"

"Udah, berdo'a aja! Semoga bukan keburukan yang datang."

Pendakian kembali berlanjut, vegetasi hutan memang tidak rapat namun track yang terus menanjak dan ilalang tinggi-tinggi sering menjadi teman dalam perjalanan.

Hingga tibalah di Watu Putih, pos ketiga. Dimana ada batu-batu gunung dan hamparan ilalang yang menyapa.

Sepertinya kabut Sindoro juga hadir, untuk mengatakan selamat datang! Jarak pandangpun semakin terhalang.

Hingga sampai di post 4 bayangan, viewsnya menarik dan cocok untuk ngecamp karena hari sudah menjelang malam.

Anehnya jalur ini sangat sepi sekali, tidak ada pendaki lain yang melintas.

Malam menjelang, namun suasana diluar tenda cukup bising. Suara-suara transaksi jual beli terdengar sayup-sayup ditelinga. Karena dari tadi suasana memang cukup suram, kami kembali tarik selimut hingga pagi menyambut.

"Lanjut muncak ora?"

"Lanjut Don! Dah tanggung."

Perjalanan muncak seperti biasa meninggalkan tenda dan peralatan besar lainnya, dibutuhkan waktu 2 jam untuk naik ke puncak.

Namun sekelebat bayangan putih kembali terlihat, mirip seperti wanita cantik yang melayang di udara dan bersayap apakah itu bidadari? Entahlah, bayangannya hanya sekejap namun terlihat jelas kalau sosok itu berparas cantik.

Beberapa kali fenomena itu terlihat, namun langkah kaki terus melangkah naik.

Setelah sampai di puncak Doni dan Heri merasa bangga, karena walau banyak pengalaman mistis tapi tak ada marabahaya yang menghadang.


#Ending
pulaukapok
pulaukapok memberi reputasi
1
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.