- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.6K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#299
gatra 36
Quote:
BAGUS ABANGAN benar –benar dalam situasi yang terjepit. Sambaran –sambaran ujung senjata para anak buah Macan Ireng yang mengeroyoknya semakin deras. Bagai hujan yang terus menderanya. Beberapa kali Bagus Abangan terpaksa bergulingan di tanah untuk menghindari tebasan ujung pedang. Namun,meskipun demikian tak urung satu dua serangan menyengat kulitnya.
“ Setan Alas, tikus –tikus ini kalau dijadikan satu ternyata cukup menyulitkan ku. Ada baiknya aku tinggalkan saja tempat ini. Persetan dengan guru daripada aku mati dicincang di tempat terkutuk ini “, kata Bagus Abangan dalam hati.
Pemuda itu lantas menggebrak dengan satu serangan mematikan ke arah dua lawannya yang sudah terluka lumayan parah. Dua orang itupun terkejut menerima serangan yang demikian hebatnya. Pada saat mereka tampak keteteran. Bagus Abangan segera mendobrak kepungan yang longgar. Lantas pemuda itu berkelebat meninggalkan arena pertempuran.
Melihat lawannya kabur, para anak buah Macan Ireng sontak berhamburan mengejarnya. Tubuh Bagus Abangan berlari dengan cepat. Beberapa kali ia meloncati batang –batang pohon yang telah ambruk di tanah. Sementara di kejauhan terdengar sayup –sayup suara teriakan dari orang –orang yang mengejarnya.
“ Tikus –tikus itu rupanya masih terus memburu ku. Baiklah, lain waktu aku akan membunuh kalian semua “
Sekian lamanya Bagus Abangan berlari. Langkah kakinya tiba –tiba terhenti. Perlahan –lahan ia berjalan berjingkat dan menyusup di kerapatan pepohonan. Matanya yang tajam melihat tida orang tengah berdiri di bagian hutan yang tidak terlalu lebat. Setelah dekat Bagus Abangan segera mengenali salah satu dari ketiga orang itu. Orang itu adalah Paraji Gading yang tidak lain adalah gurunya. Beberapa lama Bagus Abangan mendengarkan percakapan gurunya itu dari balik gerumbul semak. Sesekali kening pemuda itu berkerut.
“ Hmmm..jadi itu Macan Ireng. Mengapa guru sudi beramah tamah dengan mereka? Apa hebatnya Macan Ireng sehingga guru sampai berbuat sejauh itu. Aku sudah tidak tahan dan tidak telaten dengan pembicaraan yang ngalor ngidul ini. Aku juga ingin sekali menjajal sampai dimana kehebatan orang yang bernama Macan Ireng itu “
“ Setan Alas, tikus –tikus ini kalau dijadikan satu ternyata cukup menyulitkan ku. Ada baiknya aku tinggalkan saja tempat ini. Persetan dengan guru daripada aku mati dicincang di tempat terkutuk ini “, kata Bagus Abangan dalam hati.
Pemuda itu lantas menggebrak dengan satu serangan mematikan ke arah dua lawannya yang sudah terluka lumayan parah. Dua orang itupun terkejut menerima serangan yang demikian hebatnya. Pada saat mereka tampak keteteran. Bagus Abangan segera mendobrak kepungan yang longgar. Lantas pemuda itu berkelebat meninggalkan arena pertempuran.
Melihat lawannya kabur, para anak buah Macan Ireng sontak berhamburan mengejarnya. Tubuh Bagus Abangan berlari dengan cepat. Beberapa kali ia meloncati batang –batang pohon yang telah ambruk di tanah. Sementara di kejauhan terdengar sayup –sayup suara teriakan dari orang –orang yang mengejarnya.
“ Tikus –tikus itu rupanya masih terus memburu ku. Baiklah, lain waktu aku akan membunuh kalian semua “
Sekian lamanya Bagus Abangan berlari. Langkah kakinya tiba –tiba terhenti. Perlahan –lahan ia berjalan berjingkat dan menyusup di kerapatan pepohonan. Matanya yang tajam melihat tida orang tengah berdiri di bagian hutan yang tidak terlalu lebat. Setelah dekat Bagus Abangan segera mengenali salah satu dari ketiga orang itu. Orang itu adalah Paraji Gading yang tidak lain adalah gurunya. Beberapa lama Bagus Abangan mendengarkan percakapan gurunya itu dari balik gerumbul semak. Sesekali kening pemuda itu berkerut.
“ Hmmm..jadi itu Macan Ireng. Mengapa guru sudi beramah tamah dengan mereka? Apa hebatnya Macan Ireng sehingga guru sampai berbuat sejauh itu. Aku sudah tidak tahan dan tidak telaten dengan pembicaraan yang ngalor ngidul ini. Aku juga ingin sekali menjajal sampai dimana kehebatan orang yang bernama Macan Ireng itu “
Quote:
DALAM PADA ITU, ketika mereka berempat telah luluh dalam satu lingkaran perkelahian yang sengit. Tanpa mereka sadari beberapa bayangan datang mendekati dengan perlahan –lahan. Jarak mereka menjadi semakin dekat. Mereka berjalan perlahan-lahan dengan penuh kebimbangan. Setapak mereka maju, dan sesaat mereka berhenti. Sejenak mereka maju lagi, namun dua tiga langkah mereka kembali tegak mengawasi perkelahian yang semakin seru.
“Mereka bertempur berpasangan” berkata salah seorang dari mereka.
“Ya. Salah satu pihak sedang mencari keseimbangan” jawab yang lain.
“Siapakah mereka?”
“ Aku pun tidak tahu siapa mereka. Pastinya kita harus mengetahui orang –orang itu siapa. Jangan sampai ada orang yang tahu tempat persembunyian kita ini . Pemuda gemblung itu harus kita tangkap. Perilakunya mencurigakan. Kanuragannya juga hebat, beberapa teman kita ada yang terluka. Bahkan, Dugul dua jarinya putus dibabat pedang“
Tak seorang pun yang dapat menjawab. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Marilah kita mendekat agar pertanyaan ini terjawab”
Mereka berjalan maju lagi. Langkah mereka terayun satu-satu di antara rumput-rumput liar. Ragu-ragu dan penuh kewaspadaan, Namun kemudian mereka berhenti pada jarak yang tidak terlalu dekat.
“Dahsyat” terdengar salah seorang bergumam.
“Ya” sahut yang lain.
Dan yang lain lagi berkata, “Aku kira mereka adalah guru dan murid saling berpasangan. Dua perguruan bertemu di padang rumput ini”
Namun sesaat kemudian beberapa orang ini mengerutkan kening mereka. Hampir bersamaan mereka dapat melihat semakin jelas ketika mereka sudah menjadi lebih dekat lagi. Perlahan-lahan di sela deru angin malam terdengar salah seorang berdesis, “ Itu Ki Lurah Macan Ireng dan kakang Welat Kuning”
Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sepasang pedang pendek putihnya, yang berkilat-kilat di keremangan cahaya bulan yang hampir tenggelam telah menunjukkan kepada mereka, siapakah salah seorang dari mereka yang sedang bertempur itu.
Namun kemudian timbulah kebimbangan di hati mereka bertiga. Salah seorang berkata, “ Ki Lurah bertempur berpasangan dengan kakang Welat Kuning. Siapakah yang sedang dihadapinya itu?”
Salah seorang bergumam lirih, “Mana aku tahu”
Kedua orang yang lain kini berdiam diri. Namun mata mereka tajam menatap pasangan-pasangan yang sedang bertempur dengan serunya. Dalam keremangan cahaya bulan, maka mereka seolah-olah hanya melihat bayangan-bayangan hitam yang berputaran dan berbenturan, di sela-sela cahaya keputih-putihan yang memantul dari pedang Macan Ireng dan sekali-sekali gemerlapnya pedang Bagus Abangan.
“Apakah kalian ingin melihat lebih jelas?” terdengar salah seorang bertanya.
“Marilah kakang Bajang” jawab yang lain.
Orang yang mengajak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tubuhnya yang pendek dengan tubuh gembal dan kekar itu tampak basah oleh keringat setengah berjingkat mendekati arena pertempuran. Sedang kedua orang yang lain, berjalan di belakangnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka adalah Banaspati dan Gumarang. Dua orang anak buah dari Macan Ireng. Yang seorang bertubuh tinggi sedang dan yang lain pendek gemuk hampir bulat. Di lambung mereka masing-masing tergantung sehelai pedang. Namun di lambung orang yang berjalan dipaling depan terselip sebuah pisau dengan ukuran yang besar.
Tiba-tiba orang yang bernama Bajang itu berkata, “Kemarilah”
Kedua orang yang berjalan di belakangnya segera berdiri di sampingnya sebelah menyebelah.
“Apakah kalian kenal yang seorang lagi?”
Keduanya mengerutkan kening mereka dan mempertajam pandangan mata mereka. Tiba-tiba mereka berdesis, “ Itu pemuda gemblung yang bernama Bagus Abangan”
“Ya, Bagus Abangan” berkata Bajang, “Yang seorang pasti gurunya yang bergelar Hantu Gunung Sumbing”
Banaspati dan Gumarang mengangguk-anggukkan kepala mereka. Perlahan-lahan mereka berdesis, “Bajang apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus ikut dalam pertempuran itu membantu Ki Lurah?”
Bajang menjawab, “ Kita lihat dulu keadaan ini. Nanti kalau Ki Lurah terdesak adalah kewajiban kita untuk membantu. Sementara kau pergilah dulu Gumarang. Katakan pada kawan –kawan kita yang lain untuk datang ke tempat ini. Sementara aku dan Banaspati akan mengawasi pertempuran itu “
Tanpa banyak berkata lagi, Gumarang perlahan beringsut dari tempat itu untuk memanggil kawan –kawannya yang lain. Di balik semak belukar sepasang mata Bajang dan Banaspati masih mengawasi jalannya pertempuran yang semakin sengit.
Karena itu maka Banspati kemudian berkata, “Marilah kita dekati lagi Bajang. Aku ingin melihat dengan kepala mataku sendiri seberapa hebat orang yang dijuluki Hantu Gunung Sumbing itu”
Bajang mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menjawab, “Marilah. Tetapi berhati-hatilah. Jangan sampai keberadaan kita diketahui “
Lantas keduanya pun segera beranjak dari tempat semula. Selangkah lebih maju. Tetapi ia segera berhenti ketika ia melihat perkelahian itu cepat bergeser dari tempatnya.
“Kenapa?” desis Banaspati. “Apakah ada perubahan dari keseimbangan mereka?”
Tetapi ternyata perkelahian itu segera berjalan kembali dengan sengitnya. Mereka hanya bergerak sekedar menemukan bentuk yang baru dari daerah perkelahian serta letak pasangan dari antara mereka. Tanpa mereka sadari jarak mereka menjadi semakin dekat, bahkan terlalu dekat. Yang sedang bertempur itu pun kemudian terkejut melihat kehadiran mereka yang terlalu dekat itu. Apalagi dengan demikian segera mereka mengenal siapakah orang-orang yang datang mendekat.
Yang pertama-tama berteriak di antara mereka adalah Macan Ireng, “He, Bajang apakah kerjamu di sini? Kau membangkang perintahku?”
“ Maaf Ki Lurah. Saya kesini memburu penyusup yang telah kurang ajar karena mengacak –acak perkemahan kita “
Bagus Abangan yang melihat dua orang itu matanya Nampak berkilat-kilat. Lantas pemuda itu tertawa, “ Hei, kalian tikus –tikus hutan rupanya kalian benar –benar ingin aku kirim ke neraka malam ini “
Bajang menjawab, “ Diam kau pemuda gendeng, malam ini juga kau lah yang akan kami ringkus “
Bagus Abangan masih mau berkata lagi. Tetapi tiba-tiba terdengar Macan Ireng berteriak, “He, jadi kau lah orang yang telah berani menyelinap ke perkemahan ku?”
“Ya, akulah itu. Bahkan, aku telah melukai beberapa anak buahmu dengan ujung pedang ku ini”, jawab Bagus Abangan jumawa.
“Mereka bertempur berpasangan” berkata salah seorang dari mereka.
“Ya. Salah satu pihak sedang mencari keseimbangan” jawab yang lain.
“Siapakah mereka?”
“ Aku pun tidak tahu siapa mereka. Pastinya kita harus mengetahui orang –orang itu siapa. Jangan sampai ada orang yang tahu tempat persembunyian kita ini . Pemuda gemblung itu harus kita tangkap. Perilakunya mencurigakan. Kanuragannya juga hebat, beberapa teman kita ada yang terluka. Bahkan, Dugul dua jarinya putus dibabat pedang“
Tak seorang pun yang dapat menjawab. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Marilah kita mendekat agar pertanyaan ini terjawab”
Mereka berjalan maju lagi. Langkah mereka terayun satu-satu di antara rumput-rumput liar. Ragu-ragu dan penuh kewaspadaan, Namun kemudian mereka berhenti pada jarak yang tidak terlalu dekat.
“Dahsyat” terdengar salah seorang bergumam.
“Ya” sahut yang lain.
Dan yang lain lagi berkata, “Aku kira mereka adalah guru dan murid saling berpasangan. Dua perguruan bertemu di padang rumput ini”
Namun sesaat kemudian beberapa orang ini mengerutkan kening mereka. Hampir bersamaan mereka dapat melihat semakin jelas ketika mereka sudah menjadi lebih dekat lagi. Perlahan-lahan di sela deru angin malam terdengar salah seorang berdesis, “ Itu Ki Lurah Macan Ireng dan kakang Welat Kuning”
Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sepasang pedang pendek putihnya, yang berkilat-kilat di keremangan cahaya bulan yang hampir tenggelam telah menunjukkan kepada mereka, siapakah salah seorang dari mereka yang sedang bertempur itu.
Namun kemudian timbulah kebimbangan di hati mereka bertiga. Salah seorang berkata, “ Ki Lurah bertempur berpasangan dengan kakang Welat Kuning. Siapakah yang sedang dihadapinya itu?”
Salah seorang bergumam lirih, “Mana aku tahu”
Kedua orang yang lain kini berdiam diri. Namun mata mereka tajam menatap pasangan-pasangan yang sedang bertempur dengan serunya. Dalam keremangan cahaya bulan, maka mereka seolah-olah hanya melihat bayangan-bayangan hitam yang berputaran dan berbenturan, di sela-sela cahaya keputih-putihan yang memantul dari pedang Macan Ireng dan sekali-sekali gemerlapnya pedang Bagus Abangan.
“Apakah kalian ingin melihat lebih jelas?” terdengar salah seorang bertanya.
“Marilah kakang Bajang” jawab yang lain.
Orang yang mengajak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tubuhnya yang pendek dengan tubuh gembal dan kekar itu tampak basah oleh keringat setengah berjingkat mendekati arena pertempuran. Sedang kedua orang yang lain, berjalan di belakangnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka adalah Banaspati dan Gumarang. Dua orang anak buah dari Macan Ireng. Yang seorang bertubuh tinggi sedang dan yang lain pendek gemuk hampir bulat. Di lambung mereka masing-masing tergantung sehelai pedang. Namun di lambung orang yang berjalan dipaling depan terselip sebuah pisau dengan ukuran yang besar.
Tiba-tiba orang yang bernama Bajang itu berkata, “Kemarilah”
Kedua orang yang berjalan di belakangnya segera berdiri di sampingnya sebelah menyebelah.
“Apakah kalian kenal yang seorang lagi?”
Keduanya mengerutkan kening mereka dan mempertajam pandangan mata mereka. Tiba-tiba mereka berdesis, “ Itu pemuda gemblung yang bernama Bagus Abangan”
“Ya, Bagus Abangan” berkata Bajang, “Yang seorang pasti gurunya yang bergelar Hantu Gunung Sumbing”
Banaspati dan Gumarang mengangguk-anggukkan kepala mereka. Perlahan-lahan mereka berdesis, “Bajang apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus ikut dalam pertempuran itu membantu Ki Lurah?”
Bajang menjawab, “ Kita lihat dulu keadaan ini. Nanti kalau Ki Lurah terdesak adalah kewajiban kita untuk membantu. Sementara kau pergilah dulu Gumarang. Katakan pada kawan –kawan kita yang lain untuk datang ke tempat ini. Sementara aku dan Banaspati akan mengawasi pertempuran itu “
Tanpa banyak berkata lagi, Gumarang perlahan beringsut dari tempat itu untuk memanggil kawan –kawannya yang lain. Di balik semak belukar sepasang mata Bajang dan Banaspati masih mengawasi jalannya pertempuran yang semakin sengit.
Karena itu maka Banspati kemudian berkata, “Marilah kita dekati lagi Bajang. Aku ingin melihat dengan kepala mataku sendiri seberapa hebat orang yang dijuluki Hantu Gunung Sumbing itu”
Bajang mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menjawab, “Marilah. Tetapi berhati-hatilah. Jangan sampai keberadaan kita diketahui “
Lantas keduanya pun segera beranjak dari tempat semula. Selangkah lebih maju. Tetapi ia segera berhenti ketika ia melihat perkelahian itu cepat bergeser dari tempatnya.
“Kenapa?” desis Banaspati. “Apakah ada perubahan dari keseimbangan mereka?”
Tetapi ternyata perkelahian itu segera berjalan kembali dengan sengitnya. Mereka hanya bergerak sekedar menemukan bentuk yang baru dari daerah perkelahian serta letak pasangan dari antara mereka. Tanpa mereka sadari jarak mereka menjadi semakin dekat, bahkan terlalu dekat. Yang sedang bertempur itu pun kemudian terkejut melihat kehadiran mereka yang terlalu dekat itu. Apalagi dengan demikian segera mereka mengenal siapakah orang-orang yang datang mendekat.
Yang pertama-tama berteriak di antara mereka adalah Macan Ireng, “He, Bajang apakah kerjamu di sini? Kau membangkang perintahku?”
“ Maaf Ki Lurah. Saya kesini memburu penyusup yang telah kurang ajar karena mengacak –acak perkemahan kita “
Bagus Abangan yang melihat dua orang itu matanya Nampak berkilat-kilat. Lantas pemuda itu tertawa, “ Hei, kalian tikus –tikus hutan rupanya kalian benar –benar ingin aku kirim ke neraka malam ini “
Bajang menjawab, “ Diam kau pemuda gendeng, malam ini juga kau lah yang akan kami ringkus “
Bagus Abangan masih mau berkata lagi. Tetapi tiba-tiba terdengar Macan Ireng berteriak, “He, jadi kau lah orang yang telah berani menyelinap ke perkemahan ku?”
“Ya, akulah itu. Bahkan, aku telah melukai beberapa anak buahmu dengan ujung pedang ku ini”, jawab Bagus Abangan jumawa.
Quote:
DADA MACAN IRENG berdesir mendengar pengakuan itu, meskipun hal itu telah diketahuinya atau setidak-tidaknya telah digambarkannya. Sehingga karena itu ia berkata, “Aku sudah menyangka. Kalau aku tahu bahwa kalian berdua guru dan murid merencanakan sesuatu hal yang busuk kepadaku. Maka, pada saat ini kalian akan aku bunuh”
Yang terdengar adalah suara tertawa Paraji Gading. Dan di antara derai tertawa itu terdengar Paraji Gading berkata, “Jangan sombong Macan Ireng yang gagah perkasa. Sampai saat ini pun kalian berdua belum mampu melumpuhkan kami berdua. Apakah dengan kehadiran oang –orang mu disini kau yakin mampu mengalahkan kami berdua?”
Lalu yang terdengar kemudian adalah geram Bagus Abangan penuh kemarahan, “Ayo lah, jangan banyak bicara layaknya perempuan. Aku tahu kalian sudah jemu hidup sehingga kau berani mendatangi tempat ini, dimana aku dan guruku sedang berpesta? Kedatangan kalian akan merupakan hadiah terbesar bagiku sesudah kepala Macan Ireng aku penggal malam ini”
Kemudian Macan Ireng menggeram, “Tutup mulutmu anak muda, kau sangka bahwa kepala ku sama murahnya dengan kepalamu?”
“Jangan marah ngger” sahut Paraji Gading, “Bagus Abangan hanya berkata sebenarnya”
Betapa marahnya Macan Ireng mendengar penghinaan itu.
Paraji Gading dan Bagus Abangan tidak lagi berteriak-teriak dan saling mengancam. Mereka kini memusatkan tenaga mereka dalam pertempuran yang terjadi. Namun meskipun demikian hati mereka telah digelisahkan oleh kehadiran anak buah Macan Ireng. Tetapi sejak saat itu Macan Ireng selalu dihantui oleh kemungkinan yang sangat pahit. Terjebak oleh perangkap Paraji Gading dan muridnya bersama-sama. Karena itu maka otaknya bekerja dengan sibuknya, di samping tenaganya yang berjuang melawan lawan-lawannya, ia harus menemukan jalan untuk melepaskan diri seandainya Paraji Gading benar –benar mengeluarkan segenap kemampuannya.
Karena itulah maka Macan Ireng harus menemukan suatu cara untuk mengusir mereka dari padang rumput ini. Bukan karena ia takut untuk bertempur sampai mati, tetapi ia tidak mau mati meringkuk dalam perangkap lawannya. Tiba-tiba dalam kesibukan pertempuran itu Macan Ireng memasukkan jari-jari tangan kirinya kedalam mulutnya, dan sesaat kemudian terdengarlah ia bersuit nyaring membelah sepi malam. Sekali suaranya seolah-olah meluncur memenuhi padang rumput, bahkan terpantul oleh bukit dikejauhan melengking berkali-kali.
Paraji Gading terkejut mendengar suara itu. Bahkan semua orang yang mendengarnya, termasuk Welat Kuning, Bajang dan Banaspati. Namun sebelum mereka menyadari keadaan mereka, terdengar kembali suitan Macan Ireng untuk kedua kalinya dan sesaat kemudian untuk ketiga kalinya.
“Gila!” teriak Bagus Abangan, “Apakah yang kau lakukan pengecut?”
“Mari, mari Paraji Gading dan kau Bagus Abangan, majulah bersama-sama. Cobalah tangkap Macan Ireng dan Welat Kuning malam ini”
“Kau panggil anak buahmu?” bertanya Bagus Abangan.
“Itu adalah hakku”
“Pengecut, kau tidak berani berkelahi sebagai seorang laki-laki”
“Aku adalah pemimpin disini. Aku tidak mau masuk kedalam perangkap kalian. Apakah aku harus membiarkan kalian berbuat licik, berusaha memasukkan kami berdua ke dalam perangkap? Sedang aku, Macan Ireng sebagai pemimpin pasukan tidak boleh memanggil pasukannya?”
“Gila” desis Paraji Gading.
Namun sebelum mereka sempat berkata lagi, kembali terdengar Macan Ireng bersuit. Kali ini berkepanjangan.
“Apa artinya?” gumam Paraji Gading.
Macan Ireng tertawa, katanya, “Orang-orangku harus menangkap kalian hidup-hidup”
“Kau benar-benar licik seperti setan” geram Paraji Gading.
Macan Ireng tidak menjawab, namun dengan cepat pedangnya berputar cepat menyambar lawan-lawannya.
Dalam pada itu timbullah pikiran baru di dalam benak Paraji Gading. Kalau pasukan Macan Ireng segera datang dan membantu, maka keseimbangan akan segera berubah. Betapapun lemahnya orang seorang dalam pasukan Macan Ireng, namun mereka pasti akan mampu menambah kekuatan kedua orang yang tak dapat mereka kalahkan bersama dengan Bagus Abangan.
Karena itu, maka tiba-tiba Paraji Gading itu menggeram, “Bagus Macan Ireng, karena kau tidak menepati kejantananmu, maka biarlah aku melepaskan kesempatan kali ini memenggal lehermu, serta memenggal leher para anak buah mu. Tetapi ingatlah, aku pasti akan datang untuk kedua kalinya”
“Pengecut” terdengar suara Macan Ireng, “Kau akan lari?”
“Bukan aku yang licik”
“Tidak ada kesempatan. Perintahku, mengepung tempat ini dan merapat dari jarak yang agak jauh, supaya setiap usaha untuk lari dapat digagalkan”
“Persetan, anak buah mu akan aku tumpas kalau berani menghalangi aku”
Macan Ireng itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jangan mengigau. Umurmu tidak akan lebih dari umur bintang pagi yang baru terbit itu”
Paraji Gading menggeram sekali lagi. Tiba-tiba ia berkata kepada muridnya, “Musuh kita kali ini licik seperti demit. Tak ada gunanya kita menjual kejantanan diri, menghadapi setan-setan pengecut itu. Marilah kita tinggalkan padang rumput ini, kita mencari kesempatan dilain kali”
“Tunggulah sebentar” cegah Welat Kuning, “Aku belum selesai”
“Persetan” sahut Paraji Gading yang menyangka bahwa Welat Kuning ingin memperlambatnya, sehingga anak buah Macan Ireng cukup waktu untuk mengepung mereka.
Sesaat kemudian Paraji Gading dan Bagus Abangan itu berloncatan menarik diri masing-masing, kemudian segera mereka berlari meninggalkan gelanggang sebelum mereka terjebak dalam kepungan para anak buah Macan Ireng. Sesaat kemudian terdorong dalam suatu kesepian yang pekat. Malam menjadi sangat gelapnya. Di langit bintang-bintang masih bercanda dengan awan yang mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut.
Sementara itu Paraji Gading dan Bagus Abangan berlari kencang-kencang meninggalkan padang rumput itu. Mereka benar-benar menyangka bahwa Macan Ireng sedang memanggil anak buahnya. Apabila demikian, maka mereka pasti akan dibinasakan. Binasa dalam keadaan yang benar-benar mengecewakan. Apalagi ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga buah bayangan mengejarnya, maka segera mereka mempercepat langkah mereka. Sesaat kemudian mereka telah menyelinap kedalam gerumbul-gerumbul liar dan hilang di dalamnya.
Yang terdengar adalah suara tertawa Paraji Gading. Dan di antara derai tertawa itu terdengar Paraji Gading berkata, “Jangan sombong Macan Ireng yang gagah perkasa. Sampai saat ini pun kalian berdua belum mampu melumpuhkan kami berdua. Apakah dengan kehadiran oang –orang mu disini kau yakin mampu mengalahkan kami berdua?”
Lalu yang terdengar kemudian adalah geram Bagus Abangan penuh kemarahan, “Ayo lah, jangan banyak bicara layaknya perempuan. Aku tahu kalian sudah jemu hidup sehingga kau berani mendatangi tempat ini, dimana aku dan guruku sedang berpesta? Kedatangan kalian akan merupakan hadiah terbesar bagiku sesudah kepala Macan Ireng aku penggal malam ini”
Kemudian Macan Ireng menggeram, “Tutup mulutmu anak muda, kau sangka bahwa kepala ku sama murahnya dengan kepalamu?”
“Jangan marah ngger” sahut Paraji Gading, “Bagus Abangan hanya berkata sebenarnya”
Betapa marahnya Macan Ireng mendengar penghinaan itu.
Paraji Gading dan Bagus Abangan tidak lagi berteriak-teriak dan saling mengancam. Mereka kini memusatkan tenaga mereka dalam pertempuran yang terjadi. Namun meskipun demikian hati mereka telah digelisahkan oleh kehadiran anak buah Macan Ireng. Tetapi sejak saat itu Macan Ireng selalu dihantui oleh kemungkinan yang sangat pahit. Terjebak oleh perangkap Paraji Gading dan muridnya bersama-sama. Karena itu maka otaknya bekerja dengan sibuknya, di samping tenaganya yang berjuang melawan lawan-lawannya, ia harus menemukan jalan untuk melepaskan diri seandainya Paraji Gading benar –benar mengeluarkan segenap kemampuannya.
Karena itulah maka Macan Ireng harus menemukan suatu cara untuk mengusir mereka dari padang rumput ini. Bukan karena ia takut untuk bertempur sampai mati, tetapi ia tidak mau mati meringkuk dalam perangkap lawannya. Tiba-tiba dalam kesibukan pertempuran itu Macan Ireng memasukkan jari-jari tangan kirinya kedalam mulutnya, dan sesaat kemudian terdengarlah ia bersuit nyaring membelah sepi malam. Sekali suaranya seolah-olah meluncur memenuhi padang rumput, bahkan terpantul oleh bukit dikejauhan melengking berkali-kali.
Paraji Gading terkejut mendengar suara itu. Bahkan semua orang yang mendengarnya, termasuk Welat Kuning, Bajang dan Banaspati. Namun sebelum mereka menyadari keadaan mereka, terdengar kembali suitan Macan Ireng untuk kedua kalinya dan sesaat kemudian untuk ketiga kalinya.
“Gila!” teriak Bagus Abangan, “Apakah yang kau lakukan pengecut?”
“Mari, mari Paraji Gading dan kau Bagus Abangan, majulah bersama-sama. Cobalah tangkap Macan Ireng dan Welat Kuning malam ini”
“Kau panggil anak buahmu?” bertanya Bagus Abangan.
“Itu adalah hakku”
“Pengecut, kau tidak berani berkelahi sebagai seorang laki-laki”
“Aku adalah pemimpin disini. Aku tidak mau masuk kedalam perangkap kalian. Apakah aku harus membiarkan kalian berbuat licik, berusaha memasukkan kami berdua ke dalam perangkap? Sedang aku, Macan Ireng sebagai pemimpin pasukan tidak boleh memanggil pasukannya?”
“Gila” desis Paraji Gading.
Namun sebelum mereka sempat berkata lagi, kembali terdengar Macan Ireng bersuit. Kali ini berkepanjangan.
“Apa artinya?” gumam Paraji Gading.
Macan Ireng tertawa, katanya, “Orang-orangku harus menangkap kalian hidup-hidup”
“Kau benar-benar licik seperti setan” geram Paraji Gading.
Macan Ireng tidak menjawab, namun dengan cepat pedangnya berputar cepat menyambar lawan-lawannya.
Dalam pada itu timbullah pikiran baru di dalam benak Paraji Gading. Kalau pasukan Macan Ireng segera datang dan membantu, maka keseimbangan akan segera berubah. Betapapun lemahnya orang seorang dalam pasukan Macan Ireng, namun mereka pasti akan mampu menambah kekuatan kedua orang yang tak dapat mereka kalahkan bersama dengan Bagus Abangan.
Karena itu, maka tiba-tiba Paraji Gading itu menggeram, “Bagus Macan Ireng, karena kau tidak menepati kejantananmu, maka biarlah aku melepaskan kesempatan kali ini memenggal lehermu, serta memenggal leher para anak buah mu. Tetapi ingatlah, aku pasti akan datang untuk kedua kalinya”
“Pengecut” terdengar suara Macan Ireng, “Kau akan lari?”
“Bukan aku yang licik”
“Tidak ada kesempatan. Perintahku, mengepung tempat ini dan merapat dari jarak yang agak jauh, supaya setiap usaha untuk lari dapat digagalkan”
“Persetan, anak buah mu akan aku tumpas kalau berani menghalangi aku”
Macan Ireng itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jangan mengigau. Umurmu tidak akan lebih dari umur bintang pagi yang baru terbit itu”
Paraji Gading menggeram sekali lagi. Tiba-tiba ia berkata kepada muridnya, “Musuh kita kali ini licik seperti demit. Tak ada gunanya kita menjual kejantanan diri, menghadapi setan-setan pengecut itu. Marilah kita tinggalkan padang rumput ini, kita mencari kesempatan dilain kali”
“Tunggulah sebentar” cegah Welat Kuning, “Aku belum selesai”
“Persetan” sahut Paraji Gading yang menyangka bahwa Welat Kuning ingin memperlambatnya, sehingga anak buah Macan Ireng cukup waktu untuk mengepung mereka.
Sesaat kemudian Paraji Gading dan Bagus Abangan itu berloncatan menarik diri masing-masing, kemudian segera mereka berlari meninggalkan gelanggang sebelum mereka terjebak dalam kepungan para anak buah Macan Ireng. Sesaat kemudian terdorong dalam suatu kesepian yang pekat. Malam menjadi sangat gelapnya. Di langit bintang-bintang masih bercanda dengan awan yang mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut.
Sementara itu Paraji Gading dan Bagus Abangan berlari kencang-kencang meninggalkan padang rumput itu. Mereka benar-benar menyangka bahwa Macan Ireng sedang memanggil anak buahnya. Apabila demikian, maka mereka pasti akan dibinasakan. Binasa dalam keadaan yang benar-benar mengecewakan. Apalagi ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga buah bayangan mengejarnya, maka segera mereka mempercepat langkah mereka. Sesaat kemudian mereka telah menyelinap kedalam gerumbul-gerumbul liar dan hilang di dalamnya.
Diubah oleh breaking182 15-07-2022 08:50
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas