- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.8K
Kutip
623
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#296
gatra 34
Quote:
BEBERAPA SAAT sebelum pertempuran itu. Bagus Abangan duduk dibalik gerumbul perdu yang tumbuh subur di hutan itu. Sepasang matanya tajam mengawasi gubug –gubug yang berdiri memerah karena dijilat nyala apa dari sebuah perapian. Sesekali pemuda anak murid Paraji Gading ini mengumpat karena badannya habis dikerubuti oleh nyamuk –nyamuk hutan yang jumlahnya tidak terkirakan.
“ Dimana guru, mengapa lama sekali mencari tenda Macan Ireng. Nyamuk – nyamuk laknat ini masih terus saja menggigit “
Bagus Abangan menepuk nyamuk yang hinggap di tangannya. Sementara di sebuah gubug muncul dua orang lelaki dengan wajah kasar dan dihiasi bekas luka. Seorang seorang lelaki berbadab pendek namun gempal. Satunya seorang lelaki tinggi besar dengan rambut panjang riap –riapan.
“ Bajang, kita berdua tugaskan untuk meronda di sekitar perkemahan. Sementara Ki Lurah dan kakang Welat Kuning akan mengawasi perguruan Pandan Arum. Marilah kita putari kawasan ini jangan sampai ada penyusup “
Lelaki pendek yang bernama Bajang itu mengangguk perlahan. Lantas keduanya berjalan beriringan. Namun, tiba –tiba Bajang menghentikan langkah kakinya. Temannya ikut berhenti pula.
“ Ada apa Bajang? Mengapa kau berhenti disini? “
“ Diamlah Banaspati, kau perhatikan gerumbul semak di ujung sana. Tepat di bawah pohon Benda”
“ Kenapa dengan gerumbul semak itu? Tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan “
“ Diamlah, perhatikan sekali lagi. Gerumbul itu bergerak –gerak sedari tadi. Ada sesuatu yang berada di dalamnya “
“ Sudahlah, mungkin itu garangan atau kucing hutan. Kita lanjutkan perondaan kita “
“ Aku penasaran, mari kita lihat apakah benar itu seekor garangan “
“ Baiklah “
Akhirnya Banaspati mengikuti Bajang untuk memeriksa gerumbulan semak yang dirasa sangat mencurigakan. Perlahan –lahan keduanya berjalan ke arah semak itu. Sementara Bagus Abangan yang melihat dua orang mendekatinya menahan nafas. Tegang. Jarak dua orang itu semakin dekat dari tempatnya bersembunyi. Setelah berjarak kurang dari lima langkah. Bajang dan Banaspati menghentikan langkahnya. Keduanya lantas mencabut pedang yang tergantung di pinggang.
“ Hei..anjing yang berada di balik semak keluarlah. Mungkin kami tidak akan mencincang mu “
Mendengar teriakan itu Bagus Abangan yang memiliki sifat berangasan serasa di sundut dengan bara panas telinganya. Amarahnya tidak terkendali lagi.
Lantas Banaspati dan Banspati masing-masing kemudian setapak maju lagi. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika dari balik belukar melompat sesosok tubuh. Disusul dengan suara tawa nyaring. Kemudian terdengar teriakannya.
“Aku datang dengan dada terbuka. Ayo. Siapa yang berada di perkemahan ini?”
“Jangan membunuh diri,” terdengar jawaban Bajang
“ Siapa kau anak muda? Kelakuan mu seperti maling, mengendap –endap di perkemahan orang”
Tiba-tiba sekali lagi terdengar suara tertawa pemuda itu. Sambil tertawa ia berdiri bertolak pinggang. Kemuadian katanya, “He, apakah apakah orang –ornag Macan Ireng cuma segelintir ini untuk menggempur padepokan Pandan Arum? Jangan mimpi di siang bolong. Kalian hanya akan jadi endog pangamun -amun”
Banaspati terkejut bukan buatan melihat anak muda itu. Anak muda itu belum pernah dilihatnya namun perilakunya membuatnya tersulut amarah. Karena itu maka tubuhnya segera menjadi gemetar. Gemetar karena marah. Namun juga gemetar karena cemas. Nalarnya mengatakan keberanian pemuda itu tenu bukan tanpa alasan. Besar kemungkinan pemuda di hadapannya itu memiliki kanuragan yang mumpuni.
Sekali lagi Banaspati melihat orang itu tertawa sambil bertolak pinggang. Sambil menunjuk kepadanya ia berkata, “Ha… Itu datang satu lagi. Ayo. Kumpulkan semua kawan-kawanmu yang tinggal. Lima puluh atau sepuluh orang?”
Banaspati memandang kedua kawannya yang lebih dahulu melihat orang yang bertolak pinggang itu. Kemudia ia berpaling, dan dilihatnya di belakangnya. Punggungnya terasa berdesir, sebab Bajang masih menggenggem pisau berukuran besar yang tajam berkilat-kilat. Tetapi Banaspati itu berlega hati ketika ternyata Bajang pun kemudian berdiri di sampingnya sambil memandang anak muda yang tertawa menjengkelkan.
“Kau siapa?” yang bertanya mula-mula sekali adalah Bajang.
Yang ditanya masih juga tertawa.
Bajang menjadi marah. Sekali ia membentak. , “He… Diam! Jangan seperti orang kesambet demit hutan ini ”
Suara tertawa itu terputus. Dipandangnya Bajang dari ujung kaki ke ujung kepalanya. “Kau belum mengenal aku?”
“Apakah namamu cukup bernilai untuk dikenal oleh setiap orang?”
“ Dimana guru, mengapa lama sekali mencari tenda Macan Ireng. Nyamuk – nyamuk laknat ini masih terus saja menggigit “
Bagus Abangan menepuk nyamuk yang hinggap di tangannya. Sementara di sebuah gubug muncul dua orang lelaki dengan wajah kasar dan dihiasi bekas luka. Seorang seorang lelaki berbadab pendek namun gempal. Satunya seorang lelaki tinggi besar dengan rambut panjang riap –riapan.
“ Bajang, kita berdua tugaskan untuk meronda di sekitar perkemahan. Sementara Ki Lurah dan kakang Welat Kuning akan mengawasi perguruan Pandan Arum. Marilah kita putari kawasan ini jangan sampai ada penyusup “
Lelaki pendek yang bernama Bajang itu mengangguk perlahan. Lantas keduanya berjalan beriringan. Namun, tiba –tiba Bajang menghentikan langkah kakinya. Temannya ikut berhenti pula.
“ Ada apa Bajang? Mengapa kau berhenti disini? “
“ Diamlah Banaspati, kau perhatikan gerumbul semak di ujung sana. Tepat di bawah pohon Benda”
“ Kenapa dengan gerumbul semak itu? Tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan “
“ Diamlah, perhatikan sekali lagi. Gerumbul itu bergerak –gerak sedari tadi. Ada sesuatu yang berada di dalamnya “
“ Sudahlah, mungkin itu garangan atau kucing hutan. Kita lanjutkan perondaan kita “
“ Aku penasaran, mari kita lihat apakah benar itu seekor garangan “
“ Baiklah “
Akhirnya Banaspati mengikuti Bajang untuk memeriksa gerumbulan semak yang dirasa sangat mencurigakan. Perlahan –lahan keduanya berjalan ke arah semak itu. Sementara Bagus Abangan yang melihat dua orang mendekatinya menahan nafas. Tegang. Jarak dua orang itu semakin dekat dari tempatnya bersembunyi. Setelah berjarak kurang dari lima langkah. Bajang dan Banaspati menghentikan langkahnya. Keduanya lantas mencabut pedang yang tergantung di pinggang.
“ Hei..anjing yang berada di balik semak keluarlah. Mungkin kami tidak akan mencincang mu “
Mendengar teriakan itu Bagus Abangan yang memiliki sifat berangasan serasa di sundut dengan bara panas telinganya. Amarahnya tidak terkendali lagi.
Lantas Banaspati dan Banspati masing-masing kemudian setapak maju lagi. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika dari balik belukar melompat sesosok tubuh. Disusul dengan suara tawa nyaring. Kemudian terdengar teriakannya.
“Aku datang dengan dada terbuka. Ayo. Siapa yang berada di perkemahan ini?”
“Jangan membunuh diri,” terdengar jawaban Bajang
“ Siapa kau anak muda? Kelakuan mu seperti maling, mengendap –endap di perkemahan orang”
Tiba-tiba sekali lagi terdengar suara tertawa pemuda itu. Sambil tertawa ia berdiri bertolak pinggang. Kemuadian katanya, “He, apakah apakah orang –ornag Macan Ireng cuma segelintir ini untuk menggempur padepokan Pandan Arum? Jangan mimpi di siang bolong. Kalian hanya akan jadi endog pangamun -amun”
Banaspati terkejut bukan buatan melihat anak muda itu. Anak muda itu belum pernah dilihatnya namun perilakunya membuatnya tersulut amarah. Karena itu maka tubuhnya segera menjadi gemetar. Gemetar karena marah. Namun juga gemetar karena cemas. Nalarnya mengatakan keberanian pemuda itu tenu bukan tanpa alasan. Besar kemungkinan pemuda di hadapannya itu memiliki kanuragan yang mumpuni.
Sekali lagi Banaspati melihat orang itu tertawa sambil bertolak pinggang. Sambil menunjuk kepadanya ia berkata, “Ha… Itu datang satu lagi. Ayo. Kumpulkan semua kawan-kawanmu yang tinggal. Lima puluh atau sepuluh orang?”
Banaspati memandang kedua kawannya yang lebih dahulu melihat orang yang bertolak pinggang itu. Kemudia ia berpaling, dan dilihatnya di belakangnya. Punggungnya terasa berdesir, sebab Bajang masih menggenggem pisau berukuran besar yang tajam berkilat-kilat. Tetapi Banaspati itu berlega hati ketika ternyata Bajang pun kemudian berdiri di sampingnya sambil memandang anak muda yang tertawa menjengkelkan.
“Kau siapa?” yang bertanya mula-mula sekali adalah Bajang.
Yang ditanya masih juga tertawa.
Bajang menjadi marah. Sekali ia membentak. , “He… Diam! Jangan seperti orang kesambet demit hutan ini ”
Suara tertawa itu terputus. Dipandangnya Bajang dari ujung kaki ke ujung kepalanya. “Kau belum mengenal aku?”
“Apakah namamu cukup bernilai untuk dikenal oleh setiap orang?”
Quote:
ANAK MUDA itu mengerutkan keningnya. Jawaban Bajang benar-benar menyakitkan hatinya. Namun selain menyakitkan hati anak muda itu, juga menyakitkan hati Banaspati. Seakan-akan Bajang itu lebih berani daripadanya.
Karena itu Banaspati itu pun berteriak, “Jangan merasa dirimu dikenal setiap orang. Andaikata aku mengenalmu sekalipun aku tidak akan terkejut melihat tampangmu di sini.”
Anak muda itu menggeram. Namun sekali lagi ia tertawa. Katanya, “Hem…Dua orang datang lagi. Genap sudah empat orang. Apakah masih ada yang lain?”
“ Untuk apa kau cari yang lain? Agaknya kau anak yang terlalu sombong.”
“Terserahlah kau menilai diriku. Tetapi kalian berempat ini bagiku hampir tak berarti sama sekali. Aku datang karena aku ingin melihat kekuatan perkemahanmu. Aku ingin menghitung ada berapa gubug yang kau dirikan di sini, dan ada berapa luas tanah yang kau perlukan.”
“Cukup!” teriak Banaspati.
Tetapi anak muda itu masih tertawa. Suaranya semakin menyakitkan hati. Bahkan suara tertawa itu menjadi semakin dibuat-buat agar yang mendengar menjadi marah.
“Jangan membentak-bentak. Aku ingin berjalan berkeliling kemah ini. Kau dengar. Kalau kau berani, halangi aku. Berempat, atau panggil kawan-kawanmu yang lain. Kalau tidak, biarkan aku berjalan-jalan di sini.”
Anak muda itu memandangnya dengan nyala ketidaksenangan di matanya. Kemudian kepada Banaspati ia berkata, “Apakah kau juga belum mengenal aku?”
Banaspati menggeleng. Katanya pula, “Yang aku kenal hanyalah orang-orang yang penting di daerah ini. Ki Ageng Pandan Arum dan Mahesa Branjangan. Sedang tampangmu sama sekali tidak berarti bagiku. Apalagi sebentar lagi kau akan mati di sini. Mayat mu akan aku lempar ke dalam hutan sana agar dimakan anjing –anjing hutan”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Bagus. Mungkin kalian akan mencincang aku. Tetapi baiklah aku perkenalkan diriku. Kalian pernah mendengar nama Paraji Gading atau Hantu Gunung Sumbing? ”
“Jangan menyebut nama itu. Apakah kau bermaksud menempatkan dirimu di sisi nama itu?”
Anak muda itu tertawa. “Tidak. Itu tidak mungkin, sebab aku adalah muridnya.”
Mendengar jawaban itu terkejut bukan kepalang. Mereka pernah mendengar ceritera tentang seorang Paraji Gading. Tokoh yang sakti mandraguna dan dapat menghilang. Karena itu maka dada mereka menjadi semakin berdebar-debar. Namun dengan demikian ia menjadi ragu-ragu. Apalagi kedua kawan-kawannya yang lain. Mereka berdiri membeku di tempatnya. Kalau benar pemuda itu murid Hantu Gunung Sumbing tentu bekal kanuragannya sudah sangat masak. Maka, akan binasalah mereka semuanya.
Tetapi tiba-tiba timbul pikiran yang memberi harapan bagi Banaspati. Apabila pemuda itu benar-benar murid Paraji Gading mengapa keluyuran di tempat ini. Sepengetahuannya Paraji Gading merupakan salah satu tetua di padepokan Pandan Arum. Apakah ada perselisihan dengan orang –orang padepokan? apakah kedatangannya itu dapat dianggap sebagai kawan?
Karena itu maka segera Banaspati bertanya, “Anak muda, kenapa kau tidak berada di padepokan? Bukankah gurumu salah seorang tetua di padepokan Pandan Arum?”
Bagus Abangan mengerutkan keningnya. Ia menjajagi pertanyaan itu. Katanya, “Kenapa kau bertanya tentang hal itu”
“Ya kenapa? Bukankah kau juga murid di padepokan itu?”
Bagus Abangan tertawa. Jawabnya, “Aku dapat berbuat sekehendakku. Apakah aku ingin disini, disana. Apakah aku ingin melihat-lihat hutan ini. Tak seorang pun pula yang dapat mencegah kehendakku.”
Dada Banaspati menjadi berdebar-debar. Namun dipaksanya juga mulutnya berkata, “Hem, jawab pertanyaanku anak muda.”
Banaspati terkejut mendengar jawaban Bagus Abangan. “Apa perdulimu?”
Sesaat Banaspati terdiam. Tetapi kemudian ia bertanya pula, “Lalu apa maksudmu kemari?”
“Sudah aku katakan. Aku ingin melihat, berapa kemah yang ada dan berapa luas tanah yang diperlukan. Aku ingin mengira-ngirakan kekuatan Macan Ireng.”
“Untuk apa?”
“Sekehendakku.”
Tiba-tiba Banaspati bertanya, “Apakah kau tidak bermaksud bekerja bersama dengan Macan Ireng?”
Bagus Abangan tertawa. Benar-benar menyakitkan telinga, katanya, “Kau sudah gila agaknya. Apa arti Macan Ireng bagiku, dan apakah arti seluruh kekuatannya?”
Karena itu Banaspati itu pun berteriak, “Jangan merasa dirimu dikenal setiap orang. Andaikata aku mengenalmu sekalipun aku tidak akan terkejut melihat tampangmu di sini.”
Anak muda itu menggeram. Namun sekali lagi ia tertawa. Katanya, “Hem…Dua orang datang lagi. Genap sudah empat orang. Apakah masih ada yang lain?”
“ Untuk apa kau cari yang lain? Agaknya kau anak yang terlalu sombong.”
“Terserahlah kau menilai diriku. Tetapi kalian berempat ini bagiku hampir tak berarti sama sekali. Aku datang karena aku ingin melihat kekuatan perkemahanmu. Aku ingin menghitung ada berapa gubug yang kau dirikan di sini, dan ada berapa luas tanah yang kau perlukan.”
“Cukup!” teriak Banaspati.
Tetapi anak muda itu masih tertawa. Suaranya semakin menyakitkan hati. Bahkan suara tertawa itu menjadi semakin dibuat-buat agar yang mendengar menjadi marah.
“Jangan membentak-bentak. Aku ingin berjalan berkeliling kemah ini. Kau dengar. Kalau kau berani, halangi aku. Berempat, atau panggil kawan-kawanmu yang lain. Kalau tidak, biarkan aku berjalan-jalan di sini.”
Anak muda itu memandangnya dengan nyala ketidaksenangan di matanya. Kemudian kepada Banaspati ia berkata, “Apakah kau juga belum mengenal aku?”
Banaspati menggeleng. Katanya pula, “Yang aku kenal hanyalah orang-orang yang penting di daerah ini. Ki Ageng Pandan Arum dan Mahesa Branjangan. Sedang tampangmu sama sekali tidak berarti bagiku. Apalagi sebentar lagi kau akan mati di sini. Mayat mu akan aku lempar ke dalam hutan sana agar dimakan anjing –anjing hutan”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Bagus. Mungkin kalian akan mencincang aku. Tetapi baiklah aku perkenalkan diriku. Kalian pernah mendengar nama Paraji Gading atau Hantu Gunung Sumbing? ”
“Jangan menyebut nama itu. Apakah kau bermaksud menempatkan dirimu di sisi nama itu?”
Anak muda itu tertawa. “Tidak. Itu tidak mungkin, sebab aku adalah muridnya.”
Mendengar jawaban itu terkejut bukan kepalang. Mereka pernah mendengar ceritera tentang seorang Paraji Gading. Tokoh yang sakti mandraguna dan dapat menghilang. Karena itu maka dada mereka menjadi semakin berdebar-debar. Namun dengan demikian ia menjadi ragu-ragu. Apalagi kedua kawan-kawannya yang lain. Mereka berdiri membeku di tempatnya. Kalau benar pemuda itu murid Hantu Gunung Sumbing tentu bekal kanuragannya sudah sangat masak. Maka, akan binasalah mereka semuanya.
Tetapi tiba-tiba timbul pikiran yang memberi harapan bagi Banaspati. Apabila pemuda itu benar-benar murid Paraji Gading mengapa keluyuran di tempat ini. Sepengetahuannya Paraji Gading merupakan salah satu tetua di padepokan Pandan Arum. Apakah ada perselisihan dengan orang –orang padepokan? apakah kedatangannya itu dapat dianggap sebagai kawan?
Karena itu maka segera Banaspati bertanya, “Anak muda, kenapa kau tidak berada di padepokan? Bukankah gurumu salah seorang tetua di padepokan Pandan Arum?”
Bagus Abangan mengerutkan keningnya. Ia menjajagi pertanyaan itu. Katanya, “Kenapa kau bertanya tentang hal itu”
“Ya kenapa? Bukankah kau juga murid di padepokan itu?”
Bagus Abangan tertawa. Jawabnya, “Aku dapat berbuat sekehendakku. Apakah aku ingin disini, disana. Apakah aku ingin melihat-lihat hutan ini. Tak seorang pun pula yang dapat mencegah kehendakku.”
Dada Banaspati menjadi berdebar-debar. Namun dipaksanya juga mulutnya berkata, “Hem, jawab pertanyaanku anak muda.”
Banaspati terkejut mendengar jawaban Bagus Abangan. “Apa perdulimu?”
Sesaat Banaspati terdiam. Tetapi kemudian ia bertanya pula, “Lalu apa maksudmu kemari?”
“Sudah aku katakan. Aku ingin melihat, berapa kemah yang ada dan berapa luas tanah yang diperlukan. Aku ingin mengira-ngirakan kekuatan Macan Ireng.”
“Untuk apa?”
“Sekehendakku.”
Tiba-tiba Banaspati bertanya, “Apakah kau tidak bermaksud bekerja bersama dengan Macan Ireng?”
Bagus Abangan tertawa. Benar-benar menyakitkan telinga, katanya, “Kau sudah gila agaknya. Apa arti Macan Ireng bagiku, dan apakah arti seluruh kekuatannya?”
Quote:
SEKALI LAGI dada Banaspati berdesir. Betapapun juga ia adalah seorang yang kenyang asam garam dunia persilatan. Karena itu, maka meskipun ia telah mendengar bahwa Paraji Gading mempunyai kesaktian yang hampir setingkat dengan Macan Ireng, namun adalah kewajibannya untuk menunaikan tugasnya.
Karena itu maka katanya, “Anak Muda. Aku hormat kepada gurumu. Aku pernah mendengar bahwa Kiai Paraji Gading memang seorang yang pilih tanding. Tetapi kali ini perkemahan ini menjadi tanggung jawabku. Maka jangan mencoba berbuat hal-hal yang dapat membahayakan keselamatannmu.”
Kini Bagus Abangan itu tertawa terbahak-bahak. Di antara tertawanya terdengar ia berkata, “O, tikus yang malang. Kenapa kau berani berkata demikian padaku? Sudah aku katakan, tak seorang pun dapat memerintah aku, dan tak seorang pun dapat menghalangi kemauanku. Kali ini aku ingin berjalan-jalan mengelilingi perkemahan ini. Jangan mencoba mencegahnya.”
Hati Banaspati adalah hati yang mudah terbakar. Kali ini pun betapa bara menyaka di dadanya. Namun terhadap Bagus Abangan ia harus berhati-hati. Sekali lagi ia memandang kedua kawannya yang seolah-olah telah membeku. Di sampingnya berdiri Bajang seperti patung pula. Namun tampak bahwa wajah orang yang bertubuh kecil ini sama sekali tidak menunjukkan kecemasan di hatinya. Bajang masih juga berdiri dengan wajah menyala.
Bahkan kemudian ia menggeram. “Pemuda gemblung. Jangan menganggap kami di sini sebagai anak-anak yang takut mendengar anjing menggonggong.”
Bagus Abangan terkejut mendengar kata-kata itu. Benar-benar menyakitkan hati. Karena itu maka tiba-tiba warna merah menjalar di wajahnya. Katanya, “Siapa kau?”
“Namaku Bajang.”
“Kau masih belum terlalu tua. Kenapa kau mencoba membunuh dirimu? Apakah kau tidak senang hidup menjadi anak buah Macan Ireng?”
“Jangan mengigau. Cobalah kau maju selangkah lagi. Maka kau akan berkubur di tanah ini.”
Bagus Abangan benar-benar telah terbakar oleh kemarahannya yang memuncak. Karena itu tiba-tiba ia meloncat maju sambil berteriak. “Kumpulkan semua pengawal barak-barak di perkemahan ini. Ayo, inilah Bagus Abangan, murid Paraji Gading.”
Banaspati, kedua orang yang lain, dan Bajang sendiri kini tidak dapat mengelakkan diri lagi. Mereka harus menghadapi anak muda yang berani dan perkasa ini. Bagaimanapun juga mereka adalah orang -orang yang sudah terlalu sering bermain-main dengan senjata dan bercumbu dengan maut.
Ketika mereka melihat Bagus Abangan dengan sigapnya meloncat maju, maka mereka pun segera mendekat pula. Tanpa berjanji mereka berdiri seberang-menyeberang. Seakan-akan mereka sengaja mengepung Bagus Abangan yang dengan garangnya berdiri di antara mereka.
“Kau yang tajam mulut,” geram Bagus Abangan sambil menunjuk kepada Bajang, “kaulah yang pertama-tama akan aku sobek mulutmu.”
Tetapi agaknya Bajang sama sekali tidak takut. Dengan pisaunya ia bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Banaspati pun kemudian bersiap pula. Ia tidak mau kalah daripada Bajang. Bajang yang hanya bersenjatakan pisau dapur Betapapun besar dan tajamnya, berani menghadapi Bagus Abangan dengan tatagnya, maka Banaspati yang di pinggangnya tergantung sebilah pedang, pasti harus lebih berani daripadanya. Bagus Abangan yang berdiri di antara mereka, sekali lagi memandang setiap wajah di sekitarnya. Banaspati yang cacat, Bajang yang kecil dan kedua kawannya yang lain.
Tiba-tiba Bagus Abangan itu berkata nyaring. “Ayo, siapkan senjata-senjata kalian. Apakah kalian dapat menggerakkannya dengan baik?”
Tanpa dikehendaki, maka tiba-tiba tangan mereka yang berdiri di sekeliling Bagus Abangan itu menarik senjata masing-masing. Dengan serta merta senjata-senjata itu pun segera tertuju ke arah Bagus Abangan.
“Nah, kalian ternyata sigap pula menarik senjata. Sekarang aku ingin tahu, apakah kalian mampu bermain-main dengan senjata-senjata itu.”
Banaspati tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia melompat menusuk Bagus Abangan. Tetapi Bagus Abangan benar-benar lincah selincah sikatan. Pedang itu meluncur beberapa cengkang di muka telinga kanannya.
Sambil menghindar Bagus Abangan sempat berteriak. “Ha. Ternyata kau memiliki kecepatan yang baik. Meskipun tubuhmu telah dipenuhi oleh cacat, namun kesetiaanmu kepada Macan Ireng tidak juga berkurang.”
Banaspati tidak menjawab. Tetapi ia menggeram keras. Serangannya yang gagal itu segera diulangi. Sambil memutar tubuhnya ia menyerang mendatar, setinggi leher. Namun kembali serangannya dapat dihindari oleh lawannya. Bagus Abangan dengan cepatnya merendahkan dirinya. Ketiga kawan Banaspati yang melihat bahwa perkelahian sudah mulai segera berloncatan pula dengan senjata masing-masing. Serangan mereka datang beruntun, seperti ombak lautan menghantam pantai, Satu-satu tak henti-hentinya.
Tetapi alangkah sakit hati orang -orang itu. Meskipun Bagus Abangan harus melawan empat orang bersama-sama, namun ia masih sempat tertawa, “Nah, nilailah dirimu. Apa yang dapat kau lakukan atas Bagus Abangan, murid Paraji Gading.”
Keempat orang anak buah Macan Ireng itu sama sekali tidak menjawab. Mereka terus menghujani Bagus Abangan dengan serangan demi serangan. Tetapi Bagus Abangan itu benar-benar lincah. Ia masih saja berloncatan kian mari menghindari pedang-pedang yang bersimpang siur disekitar tubuhnya. Keempat orang itu berdesir. Baru mereka sadari bahwa Bagus Abangan ternyata belum mempergunakan senjatanya. Ia baru meloncat-loncat menghindar dan menghindar. Karena itu maka Banaspati segera menyadari betapa berbahayanya Bagus Abangan itu.
Sehingga dengan demikian sebelum terlambat segera ia berteriak memerintah, “Bunyikan kentongan titir”
Salah searang daripadanya segera meloncat mundur dari perkelahian itu. Ketiga kawannya pun mencoba untuk melindungi seorang yang akan membunyikan tanda itu. Mereka menyangka bahwa Bagus Abangan pasti akan berusaha mencegahnya. Karena itu, maka mereka harus berjuang mati-matian. Meskipun hanya pada saat tanda bahaya dibunyikan, namun menilik ketangkasan Bagus Abangan, waktu yang pendek itu sangat mengkhawatirkan.
Tetapi ternyata mereka salah sangka. Bagus Abangan sama sekali tidak berusaha untuk mencegah orang yang membunyikan tanda bahaya itu.
Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Baik. Aku beri kesempatan kalian memanggil kawan-kawan kalian. Berapa orangkah semua yang masih ada di perkemahan ini? Sepuluh atau lebih? Kalau lebih dari sepuluh, aku harus berpikir-pikir untuk segera mengurangi jumlah itu supaya aku tidak kelelahan.”
Kata-kata itu benar-benar menyiksa perasaan orang -orang itu. Dengan penuh luapan kemarahan mereka berjuang sekuat tenaga mereka. Tetapi bagi Bagus Abangan mereka benar-benar tidak berarti. Beberapa kawan-kawan mereka di tempat-tempat yang lain terkejut mendengar kentongan titir. Mereka menyangka bahwa orang-orang desa di bantu oleh para cantrik padepokan Pandan Arum. Karena itu segera mereka berlari-lari menuju ke arah tanda itu. Empat orang dari dua sudut penjagaan datang hampir bersamaan. Tetapi mereka terkejut ketika mereka melihat, bahwa di tempat itu hanya ada seorang pemuda yang sudah bertempur melawan empat orang. Dengan nanar mereka mencoba memandang berkeliling. Namun mereka tidak melihat orang selain daripada yang sedang bertempur itu.
Sehingga salah seorang dari mereka berteriak, “Kenapa dibunyikan kentongan titir?”
“Kau lihat lawan ini?” berteriak Banaspati.
“Yang hanya seorang itu?”
“Buka matamu lebar-lebar,” jawab Banaspati. “Meskipun seorang tetapi ia adalah anak iblis.”
Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa Bagus Abangan, katanya, “Ya. Yang seorang ini anak iblis. Berapa orang kalian yang datang? Apakah genap enam orang, sehingga semua berjumlah sepuluh dengan orang-orang yang pertama?”
Karena itu maka katanya, “Anak Muda. Aku hormat kepada gurumu. Aku pernah mendengar bahwa Kiai Paraji Gading memang seorang yang pilih tanding. Tetapi kali ini perkemahan ini menjadi tanggung jawabku. Maka jangan mencoba berbuat hal-hal yang dapat membahayakan keselamatannmu.”
Kini Bagus Abangan itu tertawa terbahak-bahak. Di antara tertawanya terdengar ia berkata, “O, tikus yang malang. Kenapa kau berani berkata demikian padaku? Sudah aku katakan, tak seorang pun dapat memerintah aku, dan tak seorang pun dapat menghalangi kemauanku. Kali ini aku ingin berjalan-jalan mengelilingi perkemahan ini. Jangan mencoba mencegahnya.”
Hati Banaspati adalah hati yang mudah terbakar. Kali ini pun betapa bara menyaka di dadanya. Namun terhadap Bagus Abangan ia harus berhati-hati. Sekali lagi ia memandang kedua kawannya yang seolah-olah telah membeku. Di sampingnya berdiri Bajang seperti patung pula. Namun tampak bahwa wajah orang yang bertubuh kecil ini sama sekali tidak menunjukkan kecemasan di hatinya. Bajang masih juga berdiri dengan wajah menyala.
Bahkan kemudian ia menggeram. “Pemuda gemblung. Jangan menganggap kami di sini sebagai anak-anak yang takut mendengar anjing menggonggong.”
Bagus Abangan terkejut mendengar kata-kata itu. Benar-benar menyakitkan hati. Karena itu maka tiba-tiba warna merah menjalar di wajahnya. Katanya, “Siapa kau?”
“Namaku Bajang.”
“Kau masih belum terlalu tua. Kenapa kau mencoba membunuh dirimu? Apakah kau tidak senang hidup menjadi anak buah Macan Ireng?”
“Jangan mengigau. Cobalah kau maju selangkah lagi. Maka kau akan berkubur di tanah ini.”
Bagus Abangan benar-benar telah terbakar oleh kemarahannya yang memuncak. Karena itu tiba-tiba ia meloncat maju sambil berteriak. “Kumpulkan semua pengawal barak-barak di perkemahan ini. Ayo, inilah Bagus Abangan, murid Paraji Gading.”
Banaspati, kedua orang yang lain, dan Bajang sendiri kini tidak dapat mengelakkan diri lagi. Mereka harus menghadapi anak muda yang berani dan perkasa ini. Bagaimanapun juga mereka adalah orang -orang yang sudah terlalu sering bermain-main dengan senjata dan bercumbu dengan maut.
Ketika mereka melihat Bagus Abangan dengan sigapnya meloncat maju, maka mereka pun segera mendekat pula. Tanpa berjanji mereka berdiri seberang-menyeberang. Seakan-akan mereka sengaja mengepung Bagus Abangan yang dengan garangnya berdiri di antara mereka.
“Kau yang tajam mulut,” geram Bagus Abangan sambil menunjuk kepada Bajang, “kaulah yang pertama-tama akan aku sobek mulutmu.”
Tetapi agaknya Bajang sama sekali tidak takut. Dengan pisaunya ia bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Banaspati pun kemudian bersiap pula. Ia tidak mau kalah daripada Bajang. Bajang yang hanya bersenjatakan pisau dapur Betapapun besar dan tajamnya, berani menghadapi Bagus Abangan dengan tatagnya, maka Banaspati yang di pinggangnya tergantung sebilah pedang, pasti harus lebih berani daripadanya. Bagus Abangan yang berdiri di antara mereka, sekali lagi memandang setiap wajah di sekitarnya. Banaspati yang cacat, Bajang yang kecil dan kedua kawannya yang lain.
Tiba-tiba Bagus Abangan itu berkata nyaring. “Ayo, siapkan senjata-senjata kalian. Apakah kalian dapat menggerakkannya dengan baik?”
Tanpa dikehendaki, maka tiba-tiba tangan mereka yang berdiri di sekeliling Bagus Abangan itu menarik senjata masing-masing. Dengan serta merta senjata-senjata itu pun segera tertuju ke arah Bagus Abangan.
“Nah, kalian ternyata sigap pula menarik senjata. Sekarang aku ingin tahu, apakah kalian mampu bermain-main dengan senjata-senjata itu.”
Banaspati tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia melompat menusuk Bagus Abangan. Tetapi Bagus Abangan benar-benar lincah selincah sikatan. Pedang itu meluncur beberapa cengkang di muka telinga kanannya.
Sambil menghindar Bagus Abangan sempat berteriak. “Ha. Ternyata kau memiliki kecepatan yang baik. Meskipun tubuhmu telah dipenuhi oleh cacat, namun kesetiaanmu kepada Macan Ireng tidak juga berkurang.”
Banaspati tidak menjawab. Tetapi ia menggeram keras. Serangannya yang gagal itu segera diulangi. Sambil memutar tubuhnya ia menyerang mendatar, setinggi leher. Namun kembali serangannya dapat dihindari oleh lawannya. Bagus Abangan dengan cepatnya merendahkan dirinya. Ketiga kawan Banaspati yang melihat bahwa perkelahian sudah mulai segera berloncatan pula dengan senjata masing-masing. Serangan mereka datang beruntun, seperti ombak lautan menghantam pantai, Satu-satu tak henti-hentinya.
Tetapi alangkah sakit hati orang -orang itu. Meskipun Bagus Abangan harus melawan empat orang bersama-sama, namun ia masih sempat tertawa, “Nah, nilailah dirimu. Apa yang dapat kau lakukan atas Bagus Abangan, murid Paraji Gading.”
Keempat orang anak buah Macan Ireng itu sama sekali tidak menjawab. Mereka terus menghujani Bagus Abangan dengan serangan demi serangan. Tetapi Bagus Abangan itu benar-benar lincah. Ia masih saja berloncatan kian mari menghindari pedang-pedang yang bersimpang siur disekitar tubuhnya. Keempat orang itu berdesir. Baru mereka sadari bahwa Bagus Abangan ternyata belum mempergunakan senjatanya. Ia baru meloncat-loncat menghindar dan menghindar. Karena itu maka Banaspati segera menyadari betapa berbahayanya Bagus Abangan itu.
Sehingga dengan demikian sebelum terlambat segera ia berteriak memerintah, “Bunyikan kentongan titir”
Salah searang daripadanya segera meloncat mundur dari perkelahian itu. Ketiga kawannya pun mencoba untuk melindungi seorang yang akan membunyikan tanda itu. Mereka menyangka bahwa Bagus Abangan pasti akan berusaha mencegahnya. Karena itu, maka mereka harus berjuang mati-matian. Meskipun hanya pada saat tanda bahaya dibunyikan, namun menilik ketangkasan Bagus Abangan, waktu yang pendek itu sangat mengkhawatirkan.
Tetapi ternyata mereka salah sangka. Bagus Abangan sama sekali tidak berusaha untuk mencegah orang yang membunyikan tanda bahaya itu.
Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Baik. Aku beri kesempatan kalian memanggil kawan-kawan kalian. Berapa orangkah semua yang masih ada di perkemahan ini? Sepuluh atau lebih? Kalau lebih dari sepuluh, aku harus berpikir-pikir untuk segera mengurangi jumlah itu supaya aku tidak kelelahan.”
Kata-kata itu benar-benar menyiksa perasaan orang -orang itu. Dengan penuh luapan kemarahan mereka berjuang sekuat tenaga mereka. Tetapi bagi Bagus Abangan mereka benar-benar tidak berarti. Beberapa kawan-kawan mereka di tempat-tempat yang lain terkejut mendengar kentongan titir. Mereka menyangka bahwa orang-orang desa di bantu oleh para cantrik padepokan Pandan Arum. Karena itu segera mereka berlari-lari menuju ke arah tanda itu. Empat orang dari dua sudut penjagaan datang hampir bersamaan. Tetapi mereka terkejut ketika mereka melihat, bahwa di tempat itu hanya ada seorang pemuda yang sudah bertempur melawan empat orang. Dengan nanar mereka mencoba memandang berkeliling. Namun mereka tidak melihat orang selain daripada yang sedang bertempur itu.
Sehingga salah seorang dari mereka berteriak, “Kenapa dibunyikan kentongan titir?”
“Kau lihat lawan ini?” berteriak Banaspati.
“Yang hanya seorang itu?”
“Buka matamu lebar-lebar,” jawab Banaspati. “Meskipun seorang tetapi ia adalah anak iblis.”
Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa Bagus Abangan, katanya, “Ya. Yang seorang ini anak iblis. Berapa orang kalian yang datang? Apakah genap enam orang, sehingga semua berjumlah sepuluh dengan orang-orang yang pertama?”
Dukung saya Gan, untuk mengikuti kompetisi cerpen di KASKUS
koment, rate dan share. Biar jadi HT
koment, rate dan share. Biar jadi HT
KUNJUNGI LINK DI ATAS. MATURSEMBAH NUWUN
Diubah oleh breaking182 09-07-2022 09:19
itkgid dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas