- Beranda
- Stories from the Heart
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
...
TS
gitartua24
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
"....and after all, we just have to move on."

"Terkadang, gue ingin menyesali pilihah hidup yang sudah gue ambil. Kemudian, gue menyadari apa yang gue miliki sekarang. Apakah ada jaminan kalau gue akan lebih bahagia."
Ketika sampai di rumah sekitar pukul satu malam, gue langsung beranjak menuju kamar setelah melepas sepatu dan meninggalkannya di pintu depan rumah. Di dalam kamar, kasur dengan sprei berwarna coklat tersusun rapih beserta selimut dengan warna senada yang masih terlipat. Pasti nyokap yang beresin, pikir gue.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Prolog
Tahun Pertama
Part 1 - Encounter
Part 2 - A 'Lil Chat
Part 3 - Introduction
Part 4 - Her Name Is...
Part 5 - Norwegian Wood
Part 6 - Invitation
Part 7 - Not Ready For Collage
Part 8 - Saperate
Part 9 - Request
Part 10 - It's Just The First day Of Collage
Part 11 - Troublemaker
Part 12 - In The Rains
Part 13 - Old Time Sake
Part 14 - Long Night
Part 15 - All Night Long
Part 16 - Hangover Girl
Part 17 - Morning Talk
Part 18 - A Book That Change
Part 19 - Where Are We Going
Part 20 - A Story About Past
Part 21 - Don't Cross The Line
Part 22 - Some Kind A Favor
Part 23 - Mission Almost Impossible
Part 24 - The Game We Play
Part 25 - Game Of Heart
Diubah oleh gitartua24 03-04-2024 07:12
teguhjepang9932 dan 41 lainnya memberi reputasi
40
25.4K
163
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#47
Part 14
Long Night
Hari sabtu ini, atau setidaknya selama satu semester kedepan, gue harus bangun pagi karena ada perkuliahan. Padahal biasanya semasa gue sekolah gue selalu bangun siang selama hari sabtu, apalagi selama liburan kelulusan.
Sekarang, setiap hari sabtu gue diharuskan bangun paling enggak jam tujuh pagi karena gue ada kelas jam sembilan. Itu juga kalau gue bisa langsung bangun. Sementara itu jadwal perkuliahan gue baru selesai pukul lima. Nggak terlalu banyak, karena gue masih punya jam kosong pada pukul sebelas sampai pukul satu.
Masalahnya adalah kemungkinan gue baru akan sampai rumah menjelang maghrib, dan ajakan nongkrong baru akan datang setelahnya. Kadang malas juga buat keluar rumah setelah menjalani rutinitas perkuliahan seharian, tapi jiwa muda dan rasa nggak mau ketinggalan selalu mengalahkan rasa malas gue untuk nggak keluar rumah.
Misalnya kayak sabtu hari ini. Sejak siang Dewa terus memastikan ke hadiran gue di acara party anak baru, tentunya dengan iming-iming mencari kenalan cewek dari jurusan lain. Cukup menggoda juga ajakan Dewa, tapi sebenernya gue rada canggung kalau di keramaian orang-orang yang nggak gue kenal. Kalau jumlahnya masih bisa gue kontrol mungkin nggak masalah, tapi sudah pasti gue nggak bisa mengkontrol berapa banyak orang yang datang.
Memang sih, selama liburan kelulusan kemarin gue baring Rico dan Bobby beberapa kali nongkrong di bar atau sejenis diskotik, tapi itu hanya untuk sekedar ngebeer dan ngobrol-ngobrol, bukan untuk joget. Pengalaman gue dengan alkohol juga cukup banyak semasa sekolah, tetapi tujuan gue saat itu untuk datang ke acara gigs metal, bukan ke tempat yang memainkan lagu EDM.
Satu lagi yang paling ngebuat malas datang, kebanyakan teman yang gue kenal dan akan datang nanti memilih untuk langsung datang ke tempat yang dituju. Perasaan canggung semakin melanda gue kalau harus masuk ke dalam tempat yang sama sekali asing buat gue. jadi gue memberi syarat pada Dewa agar kita bertemu dulu di luar sebelum menuju tempat party anak baru.
“Oke, nanti ngumpul di kampus aja, ada anak-anak yang lain kok.” Begitu kata Dewa ketika gue memberikan syarat kehadiran gue di acara tersebut.
Sialan, gue harus pergi ke kampus, terus pulang ke rumah buat pergi ke kampus lagi. Sekali perjalanan dari rumah ke kampus aja udah ada sekitar dua puluk kilo meter. Hari ini total gue harus naik motor enam puluh kilo meter lebih buat datang ke acara yang sama sekali gue nggak tau bakal ngapain. Mungkin gue sudah sampai bogor kalau nggak harus bulak-balik dari kampus ke rumah.
*****
Pukul tujuh malam gue sudah berdiri di depan cermin dengan pakaian terbaik gue yang bisa gue pakai malam ini. Hoodie hitam polos yang gue balut dengan flannel, celana jeans hitam dan sepatu converse high. Perasaan campur aduk antara canggung dan gelisah menjadi satu, gue takut pakaian yang gue kenakan terlalu berlebihan. Namun ketika gue menyadarkan diri sendiri kalau nantinya nggak akan ada yang terlalu peduli dengan kehadiran gue ngebuat diri gue menjadi sedikit lebih tenang.
Gue pamit dengan kedua orang tua, kemudian mulai pergi. Jalan yang gue lewati sama persis dengan jalan yang gue lalui ketika pagi tadi gue berangkat ke kampus. Hanya saja sekarang sudah gelap. Beruntung gue masih menggunakan motor, kalau gue memaksakan diri untuk membawa mobil mungkin gue lagi terjebang di kemacetan malam minggu.
Tiba di kawasan kampus gue langsung memeriksa handphone. Satu pesan masuk dari Dewa mengabarkan tempat ia berkumpul dengan anak-anak yang lain. Yang dimaksud ‘anak-anak yang lain’ tentu bukan teman-teman kelasan gue, melainkan anak jurusan teknik informatika yang lain yang secara kebetulan atau disengaja mereka saling kenal.
Gue pun menghampiri mereka, kemudian memperkenalkan diri gue ke orang-orang yang berada di dalam meja yang sama. Kira-kira ada lima sampai enam orang. Satu-persatu gue malakukan tos-tosan kemudian duduk di kursi yang masih tersedia. Sisanya, gue hanya menjadi seorang pendengar yang baik. Lagi pula gue belum bisa hafal seluruh nama orang-orang yang ada di meja.
Sekitar pukul sembilan, gue, Dewa, dan yang lainnya berangkat menuju bar di bilangan SCBD. Sebelumnya gue pernah mendegar nama tempat ini waktu gue SMA. Sebuah nama tempat yang menurut gue keren banget buat anak SMA datengin dulu. Apalagi orang-orang yang sering ngomongin tempat ini bisa dibilang anak eksis di sekolah. Sementara gue cuman seseorang yang punya lingkup pertemanan terbatas.
Sebenarnya, selain teman-teman SMA gue nggak pernah ada tujuan buat nongkrong di tempat ini, kalau pun diajak mungkin gue juga akan menolak. Pertama, harganya terlalu mahal buat saku anak SMA dulu. Kedua, gue takut nggak merasa cocok lagunya.
Waktu gue SMP dulu, seluruh playlist handphone gue diisi oleh lagu-lagu Avenged Sevenfold. Sementara waktu zaman SMA, playlist lagu gue sedikit bergeser dan meluas. Tapi itu pun nggak jauh-jauh dari metal, punk, dan hardcore. Sampai-sampai gue nggak pernah diizinin buat muterin lagu kalau gue lagi nongkrong sama teman-teman SMA gue karena nggak ada yang tau lagunya. Ada sih yang sedikit ngepop, itu pun pop punk.
Tapi, entah apa yang ada di pikiran gue saat itu gue mengiyakan ajakan Dewa untuk pergi ke acara party anak baru. Kayaknya iming-iming buat dapet kenalan cewek dari curusan lain cukup ngebuat rasa mager gue kalah dengan rasa penasaran.
Meskipun begitu tiba-tiba aja perasaan gelisah menghampiri ketika sebentar lagi kami sudah mau diba di lokasi. Kalau pun misalnya gue beneran dapet kenalan cewek, toh ujung-ujungnya juga gue nggak tahu gimana cara ngelanjutinnya. Atau mungkin gue ajak kenalan gue ke tempat duduk bareng rombongan gue yang sekarang dan ujung-ujungnya kenalan gue malah lebih akrab sama yang lain.
Belom lagi kalau tiba-tiba ada rombongan lain yang gabung dengan rombongan gue, tau rombongan gue yang gabung ke rombongan lain. Nggak tau kenapa rasanya gue mau muter balik aja dan pulang ke rumah. Tapi kayaknya nggak mungkin.
begitu tiba di basement pakiran, ada bapak-bapak yang menghampiri kami dan langsung menagih duit parkiran. Memang sih untuk parkir motor nggak harus ngambil karcis dulu meskipun berada di basement yang sama, tapi gue nggak mengira kalau balakan langsung ditagih duit parkirnya sekarang juga.
Gue yang saat itu lagi nggak ngebawa duit pecahan kecil pun mengeluarkan satu lembar lima puluh ribu dan memberikannya ke bapak-bapak tukang parkir. Kemudian si bapak-bapak tukang parkir memberikan gue empat lembar uang pecahan sepuluh ribu sebagai kembalian.
“Berapa pak emangnya?”
“Ceban.”
Sialan, gue kirain cuman goceng. Gerutu gue dalam hati. Sepuluh ribu buat ngasih ke tukang parkir yang gue nggak tahu bakalan beneran atau enggak ngejagain motornya. Kalau gue nggak mau rugi, misalnya di tempat parkir motor yang per jamnya bayar dua ribu, itu artinya gue harus di sini selama lima jam. Sementara sekarang sudah jam sepuluh.
Dengan perasaan gondok dan nggak percaya dengan yang baru aja terjadi, gue mengikuti teman-teman gue yang lain menuju tempat yang namanya diambil dari judul lagi The beatles dengan haus memutari lobby.
Di lobby tempat ini, puluhan mobil menganti dan mengeluarkan penumpangnya yang kebanyakan muda mudi dengan penampilan necis dan beragam. Ada yang kelewat rapih, ada juga yang kelewat terbuka. Di ruang komunal ini memang terdapat beberapa bar dan club yang pastinya selalu ramai saat malam minggu, tapi gue nggak nyangka kalau bakalan seramai ini.
Sambil terus mengikuti teman-teman gue yang sedang menaiki anak tangga menuju lantai atas, sampai akhirnya kita tiba di ruangan terbuka. Entah sudah berapa kali orang-orang di dalam rombongan gue menyapa orang-orang yang hadir. Bisa gue duga rata-rata yang ada di sini berada di kampus yang sama dengan gue dan yang lainnya. Sementara itu dari semua orang yang gue temui, belum ada satu pun yang gue kenal. Bahkan untuk sekedar tahu.
Saat kita masih di lobby, suara musik masih terdengar samarr-samar. Tetapi saat tiba di lantai atas, suara musik dari dalam ruangan yang katanya akan kita datangi bahkan bisa terdengar sampai luar. Saat masuk melalui pintu kaca dengan tepian kayu suara musik EDM yang sering diputa di radio pun terdengar.
Tempat ini berbentuk persegi besar dengan dinding yang sebagian besar didominasi oleh kayu dan kaca. Di seberang pintu masuk bahkan terlihat jalanan yang sisi trotoarnya diisi oleh parkir liar. Cahaya yang ada memang remang-remang dan kelap-kelip, tapi gue masih bisa melihat dengan jelas. Orang yang lalu lalang. Meja sofa yang tersebar di seluruh ruangan. Bar yang seluruh kursinya sudah terisi, serta meja DJ yang berada di seberang.
Gue dan rombongan gue berjalan menuju sebuah meja kosong yang sepertinya salah satu dari kami sudah memesannya. Posisi meja kami berada di tengah-tengah ruangan. Itu artinya meja kami terlihat dari berbagai sudut, dan orang yang lalu lalang bisa dengan mudah melihat meja kami.
Salah satu teman gue memanggil pramusaji untuk memesan minuman selagi yang lainny melihat-lihat buku menu. Sementara itu gue izin untuk pergi ke toilet dengan menanyakan posisinya terlebih dahulu. Setidaknya untuk menghilangkan kegugupan, selain gue juga kebelet.
Di dalam toilet bahkan ramai. Gue sampai harus menunggu beberapa saat untuk bisa menggunakan salah satu urinoir. Saat gue keluar dari toilet gue baru menyadari banyak orang. Mungkin temannya minta dianterin atau bisa juga akal-akalan laki-laki. karena gue melihat setidaknya dua sampai tiga orang yang berpasangan. Entah lah, mungkin cuman tuhuhan tanpa dasar yang gue miliki.
Baru aja gue mau berjalan melewati lorong yang harus dilewati untuk kembali ke ruangan dimana suara musik berasal, tiba-tiba gue harus berhenti ketika seseorang memanggil nama gue dari arah samping.
Long Night
Hari sabtu ini, atau setidaknya selama satu semester kedepan, gue harus bangun pagi karena ada perkuliahan. Padahal biasanya semasa gue sekolah gue selalu bangun siang selama hari sabtu, apalagi selama liburan kelulusan.
Sekarang, setiap hari sabtu gue diharuskan bangun paling enggak jam tujuh pagi karena gue ada kelas jam sembilan. Itu juga kalau gue bisa langsung bangun. Sementara itu jadwal perkuliahan gue baru selesai pukul lima. Nggak terlalu banyak, karena gue masih punya jam kosong pada pukul sebelas sampai pukul satu.
Masalahnya adalah kemungkinan gue baru akan sampai rumah menjelang maghrib, dan ajakan nongkrong baru akan datang setelahnya. Kadang malas juga buat keluar rumah setelah menjalani rutinitas perkuliahan seharian, tapi jiwa muda dan rasa nggak mau ketinggalan selalu mengalahkan rasa malas gue untuk nggak keluar rumah.
Misalnya kayak sabtu hari ini. Sejak siang Dewa terus memastikan ke hadiran gue di acara party anak baru, tentunya dengan iming-iming mencari kenalan cewek dari jurusan lain. Cukup menggoda juga ajakan Dewa, tapi sebenernya gue rada canggung kalau di keramaian orang-orang yang nggak gue kenal. Kalau jumlahnya masih bisa gue kontrol mungkin nggak masalah, tapi sudah pasti gue nggak bisa mengkontrol berapa banyak orang yang datang.
Memang sih, selama liburan kelulusan kemarin gue baring Rico dan Bobby beberapa kali nongkrong di bar atau sejenis diskotik, tapi itu hanya untuk sekedar ngebeer dan ngobrol-ngobrol, bukan untuk joget. Pengalaman gue dengan alkohol juga cukup banyak semasa sekolah, tetapi tujuan gue saat itu untuk datang ke acara gigs metal, bukan ke tempat yang memainkan lagu EDM.
Satu lagi yang paling ngebuat malas datang, kebanyakan teman yang gue kenal dan akan datang nanti memilih untuk langsung datang ke tempat yang dituju. Perasaan canggung semakin melanda gue kalau harus masuk ke dalam tempat yang sama sekali asing buat gue. jadi gue memberi syarat pada Dewa agar kita bertemu dulu di luar sebelum menuju tempat party anak baru.
“Oke, nanti ngumpul di kampus aja, ada anak-anak yang lain kok.” Begitu kata Dewa ketika gue memberikan syarat kehadiran gue di acara tersebut.
Sialan, gue harus pergi ke kampus, terus pulang ke rumah buat pergi ke kampus lagi. Sekali perjalanan dari rumah ke kampus aja udah ada sekitar dua puluk kilo meter. Hari ini total gue harus naik motor enam puluh kilo meter lebih buat datang ke acara yang sama sekali gue nggak tau bakal ngapain. Mungkin gue sudah sampai bogor kalau nggak harus bulak-balik dari kampus ke rumah.
*****
Pukul tujuh malam gue sudah berdiri di depan cermin dengan pakaian terbaik gue yang bisa gue pakai malam ini. Hoodie hitam polos yang gue balut dengan flannel, celana jeans hitam dan sepatu converse high. Perasaan campur aduk antara canggung dan gelisah menjadi satu, gue takut pakaian yang gue kenakan terlalu berlebihan. Namun ketika gue menyadarkan diri sendiri kalau nantinya nggak akan ada yang terlalu peduli dengan kehadiran gue ngebuat diri gue menjadi sedikit lebih tenang.
Gue pamit dengan kedua orang tua, kemudian mulai pergi. Jalan yang gue lewati sama persis dengan jalan yang gue lalui ketika pagi tadi gue berangkat ke kampus. Hanya saja sekarang sudah gelap. Beruntung gue masih menggunakan motor, kalau gue memaksakan diri untuk membawa mobil mungkin gue lagi terjebang di kemacetan malam minggu.
Tiba di kawasan kampus gue langsung memeriksa handphone. Satu pesan masuk dari Dewa mengabarkan tempat ia berkumpul dengan anak-anak yang lain. Yang dimaksud ‘anak-anak yang lain’ tentu bukan teman-teman kelasan gue, melainkan anak jurusan teknik informatika yang lain yang secara kebetulan atau disengaja mereka saling kenal.
Gue pun menghampiri mereka, kemudian memperkenalkan diri gue ke orang-orang yang berada di dalam meja yang sama. Kira-kira ada lima sampai enam orang. Satu-persatu gue malakukan tos-tosan kemudian duduk di kursi yang masih tersedia. Sisanya, gue hanya menjadi seorang pendengar yang baik. Lagi pula gue belum bisa hafal seluruh nama orang-orang yang ada di meja.
Sekitar pukul sembilan, gue, Dewa, dan yang lainnya berangkat menuju bar di bilangan SCBD. Sebelumnya gue pernah mendegar nama tempat ini waktu gue SMA. Sebuah nama tempat yang menurut gue keren banget buat anak SMA datengin dulu. Apalagi orang-orang yang sering ngomongin tempat ini bisa dibilang anak eksis di sekolah. Sementara gue cuman seseorang yang punya lingkup pertemanan terbatas.
Sebenarnya, selain teman-teman SMA gue nggak pernah ada tujuan buat nongkrong di tempat ini, kalau pun diajak mungkin gue juga akan menolak. Pertama, harganya terlalu mahal buat saku anak SMA dulu. Kedua, gue takut nggak merasa cocok lagunya.
Waktu gue SMP dulu, seluruh playlist handphone gue diisi oleh lagu-lagu Avenged Sevenfold. Sementara waktu zaman SMA, playlist lagu gue sedikit bergeser dan meluas. Tapi itu pun nggak jauh-jauh dari metal, punk, dan hardcore. Sampai-sampai gue nggak pernah diizinin buat muterin lagu kalau gue lagi nongkrong sama teman-teman SMA gue karena nggak ada yang tau lagunya. Ada sih yang sedikit ngepop, itu pun pop punk.
Tapi, entah apa yang ada di pikiran gue saat itu gue mengiyakan ajakan Dewa untuk pergi ke acara party anak baru. Kayaknya iming-iming buat dapet kenalan cewek dari curusan lain cukup ngebuat rasa mager gue kalah dengan rasa penasaran.
Meskipun begitu tiba-tiba aja perasaan gelisah menghampiri ketika sebentar lagi kami sudah mau diba di lokasi. Kalau pun misalnya gue beneran dapet kenalan cewek, toh ujung-ujungnya juga gue nggak tahu gimana cara ngelanjutinnya. Atau mungkin gue ajak kenalan gue ke tempat duduk bareng rombongan gue yang sekarang dan ujung-ujungnya kenalan gue malah lebih akrab sama yang lain.
Belom lagi kalau tiba-tiba ada rombongan lain yang gabung dengan rombongan gue, tau rombongan gue yang gabung ke rombongan lain. Nggak tau kenapa rasanya gue mau muter balik aja dan pulang ke rumah. Tapi kayaknya nggak mungkin.
begitu tiba di basement pakiran, ada bapak-bapak yang menghampiri kami dan langsung menagih duit parkiran. Memang sih untuk parkir motor nggak harus ngambil karcis dulu meskipun berada di basement yang sama, tapi gue nggak mengira kalau balakan langsung ditagih duit parkirnya sekarang juga.
Gue yang saat itu lagi nggak ngebawa duit pecahan kecil pun mengeluarkan satu lembar lima puluh ribu dan memberikannya ke bapak-bapak tukang parkir. Kemudian si bapak-bapak tukang parkir memberikan gue empat lembar uang pecahan sepuluh ribu sebagai kembalian.
“Berapa pak emangnya?”
“Ceban.”
Sialan, gue kirain cuman goceng. Gerutu gue dalam hati. Sepuluh ribu buat ngasih ke tukang parkir yang gue nggak tahu bakalan beneran atau enggak ngejagain motornya. Kalau gue nggak mau rugi, misalnya di tempat parkir motor yang per jamnya bayar dua ribu, itu artinya gue harus di sini selama lima jam. Sementara sekarang sudah jam sepuluh.
Dengan perasaan gondok dan nggak percaya dengan yang baru aja terjadi, gue mengikuti teman-teman gue yang lain menuju tempat yang namanya diambil dari judul lagi The beatles dengan haus memutari lobby.
Di lobby tempat ini, puluhan mobil menganti dan mengeluarkan penumpangnya yang kebanyakan muda mudi dengan penampilan necis dan beragam. Ada yang kelewat rapih, ada juga yang kelewat terbuka. Di ruang komunal ini memang terdapat beberapa bar dan club yang pastinya selalu ramai saat malam minggu, tapi gue nggak nyangka kalau bakalan seramai ini.
Sambil terus mengikuti teman-teman gue yang sedang menaiki anak tangga menuju lantai atas, sampai akhirnya kita tiba di ruangan terbuka. Entah sudah berapa kali orang-orang di dalam rombongan gue menyapa orang-orang yang hadir. Bisa gue duga rata-rata yang ada di sini berada di kampus yang sama dengan gue dan yang lainnya. Sementara itu dari semua orang yang gue temui, belum ada satu pun yang gue kenal. Bahkan untuk sekedar tahu.
Saat kita masih di lobby, suara musik masih terdengar samarr-samar. Tetapi saat tiba di lantai atas, suara musik dari dalam ruangan yang katanya akan kita datangi bahkan bisa terdengar sampai luar. Saat masuk melalui pintu kaca dengan tepian kayu suara musik EDM yang sering diputa di radio pun terdengar.
Tempat ini berbentuk persegi besar dengan dinding yang sebagian besar didominasi oleh kayu dan kaca. Di seberang pintu masuk bahkan terlihat jalanan yang sisi trotoarnya diisi oleh parkir liar. Cahaya yang ada memang remang-remang dan kelap-kelip, tapi gue masih bisa melihat dengan jelas. Orang yang lalu lalang. Meja sofa yang tersebar di seluruh ruangan. Bar yang seluruh kursinya sudah terisi, serta meja DJ yang berada di seberang.
Gue dan rombongan gue berjalan menuju sebuah meja kosong yang sepertinya salah satu dari kami sudah memesannya. Posisi meja kami berada di tengah-tengah ruangan. Itu artinya meja kami terlihat dari berbagai sudut, dan orang yang lalu lalang bisa dengan mudah melihat meja kami.
Salah satu teman gue memanggil pramusaji untuk memesan minuman selagi yang lainny melihat-lihat buku menu. Sementara itu gue izin untuk pergi ke toilet dengan menanyakan posisinya terlebih dahulu. Setidaknya untuk menghilangkan kegugupan, selain gue juga kebelet.
Di dalam toilet bahkan ramai. Gue sampai harus menunggu beberapa saat untuk bisa menggunakan salah satu urinoir. Saat gue keluar dari toilet gue baru menyadari banyak orang. Mungkin temannya minta dianterin atau bisa juga akal-akalan laki-laki. karena gue melihat setidaknya dua sampai tiga orang yang berpasangan. Entah lah, mungkin cuman tuhuhan tanpa dasar yang gue miliki.
Baru aja gue mau berjalan melewati lorong yang harus dilewati untuk kembali ke ruangan dimana suara musik berasal, tiba-tiba gue harus berhenti ketika seseorang memanggil nama gue dari arah samping.
unhappynes dan 10 lainnya memberi reputasi
11
