- Beranda
- Stories from the Heart
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
...
TS
gitartua24
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
"....and after all, we just have to move on."

"Terkadang, gue ingin menyesali pilihah hidup yang sudah gue ambil. Kemudian, gue menyadari apa yang gue miliki sekarang. Apakah ada jaminan kalau gue akan lebih bahagia."
Ketika sampai di rumah sekitar pukul satu malam, gue langsung beranjak menuju kamar setelah melepas sepatu dan meninggalkannya di pintu depan rumah. Di dalam kamar, kasur dengan sprei berwarna coklat tersusun rapih beserta selimut dengan warna senada yang masih terlipat. Pasti nyokap yang beresin, pikir gue.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Prolog
Tahun Pertama
Part 1 - Encounter
Part 2 - A 'Lil Chat
Part 3 - Introduction
Part 4 - Her Name Is...
Part 5 - Norwegian Wood
Part 6 - Invitation
Part 7 - Not Ready For Collage
Part 8 - Saperate
Part 9 - Request
Part 10 - It's Just The First day Of Collage
Part 11 - Troublemaker
Part 12 - In The Rains
Part 13 - Old Time Sake
Part 14 - Long Night
Part 15 - All Night Long
Part 16 - Hangover Girl
Part 17 - Morning Talk
Part 18 - A Book That Change
Part 19 - Where Are We Going
Part 20 - A Story About Past
Part 21 - Don't Cross The Line
Part 22 - Some Kind A Favor
Part 23 - Mission Almost Impossible
Part 24 - The Game We Play
Part 25 - Game Of Heart
Diubah oleh gitartua24 03-04-2024 07:12
ismetbakri49508 dan 40 lainnya memberi reputasi
39
25.3K
163
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#44
Part 13
Old Time Sake
Gue dan Cindy baru memutuskan buat kembali jalan saat hari sudah berganti malam dan hujan masih tersisa rintik-riktiknya. Kalau hujannya rintik-rintik setelah hujan gede biasanya bakal awet. Mungkin bisa satu jam lagi kalau emang mau ninggu samapi hujan bener-bener berhenti.
“Cin, masih mau nunggu atau mau jalan aja? Hujannya awet nih kalau kaya gini.”
“Terserah lo, Tre.”
“Kehujanan dikit gapapa ya, dari pada kemaleman.”
“Iya.”
Gue segera bangkit dari duduk gue, kemudian membersihkan celana bagian belakang. Gue melihat ke arah Cindy yang juga ikut berdiri, hari ini dia cuman memakai kemeja tipis sebagai atasan. Buru-buru gue membuka hoodie gue supaya dia nggak terlalu kebasahan.
“Nih.” Gue memberikan hoodie yang baru aja gue lepaskan ketika Cindy baru aja berdiri
“Ga usah, Tre.”
“Pake aja sih.” Ucap gue sedikit memaksa, kemudian Cindy menerimanya dengan sedikit sungkan.
“Terus lo nanti gimana?”
“Santai, deket ini. ga bakal basah-basah banget nanti juga.”
Tanpa melihat ke arah Cindy gue sekera memposisikan motor gue ke arah luar, kemudian segera menaiki motor diikuti dengan Cindy yang duduk di jok penumpang. Secara perlahan sambil melewati rintik-rintik hujan yang masih tersisa, gue memacu motor gue menembus kemacetan jalan di saat orang-orang baru keluar dari kantor masing-masing.
Meskipun hujannya cuman rintik-rintik, tapi lama-lama kaos yang gue pakai basah juga. Kulit pergelangan tangan gue udah mulai mengkerut. Tapi gue sebisa mungkin menahan rasa dingin yang gue rasakan karena takut Cindy ngerasa makin nggak enak.
Sebelumnya gue sempat nanya ke Cindy, gue enaknya nganterin dia sampai mana. Cindy bilang sampai halte di dekat PIM aja karena nanti ada kendaraan umum yang jalurnya langsung ke rumah dia. Tapi mengingat kondisi yang masih turun air gue jadi mengurungkan niat tersebut.
“Tre, kok kelewatan?” Tanya Cindy ketika gue melewati tempat yang seharusnya gue menurunkan dia.
“Gue anterin sampe rumah aja.” Jawabnya singkat.
Bukan, bukan karena gue terlalu peduli dengan Cindy. Mungkin iya sih, sedikit. Kasian juga kalau harus naik kendaraan umum malam-malam, apalagi masih gerimis. Tapi di sisi lain gue akan meminta hoodie gue kembali. agak nggak enak juga ketika Cindy harus melepaskan hoodie di depan umum. Jadi gue memilih mengantarkan Cindy sampai ke rumahnya supaya dia bisa ngebalikin hoodie gue dengan nyaman.
Sampai di depan rumah Cindy hujan sudah berhenti total. Hanya tinggal menyisakan genangan air. Kalau pun masih kecipratan air kemungkinan dari pohon atau kendaraan lain. Cindy langsung turun dari jok penumpang dan hendak masuk ke dalam rumahnya sebelum gue tahan.
“Woy, sweater gue.”
“Kirain lo lupa.” Jawab Cindy sambil cengengesan. “Makasih ya Tre. Besok-besok sekalian jemput gue.”
“Ogah, rugi di bensin.” Cindy hanya tertawa mendengar gerutuan gue sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya. Sementara gue bergegas kembali menuju rumah.
*****
Keesokan pada hari jumat, perkuliahan gue selesai jam tiga sore setelah ada kelas bimbingan dari senior yang sebelumnya juga membimbing kelas gue selama masa orientasi. Jadi di kelas ini, gue dan teman-teman gue yang lain dibagi menjadi beberapa kelompok. Sementara tugas si senior adalah membantu jika mahasiswa baru memiliki kesulitan pada perkuliahan mereka.
Memang kelas yang ngebosenin banget, siapa pun pasti memiliih buat nggak mengikuti kelas tersebut. Sayangnya setiap kelas bimbingan yang kita ikuti di setiap minggunya memiliki poin setara poin seminar yang nantinya dibutuhkan untuk melakukan skripsi. Jadi mau nggak mau para mahasiswa baru diwajibkan mengikuti kelas tersebut.
Beruntung gue mendapatkan senior yang mempermudah absensi kelas. Dia langsung memberikan lembar absensi setiap minggunya untuk kelompok gue paraf sebagai tanda kehadiran. Jadi gue dan kelompok nggak harus dateng setap minggunya ke kelas nggak penting ini. Gue yakin senior gue juga males.
Tapi dia menegaskan kalau salah satu diantara kita ada yang merasa kesulitan dengan perkuliahan, dia akan dengan senang hati akan membantu. Sungguh senior yang bijaksana.
Mendapat angin segar berupa satu kelas kosong, gue mempergunakan kesempatan tersebut buat nongkrong setelah perkuliahan, atau langsung pulang ke rumah di hari pertama kelas tersebut berlangsung karena gue belum memiliki banyak teman nongkrong.
Pukul empat sore lebih ketika gue sedang asik gitaran di dalam kamar, sebuah pesan singkat di Line masuk di handphone gue. Ada nama Rico terlihat di layar. Dalam pesan singkatnya ada ajakan untuk nongkrong bareng Bobby. Gue menanyakan tujuannya dan Rico langsung membalas ‘ke rumah Bobby aja dulu’. Yah, gue udah bisa nebak sih kalau dia belum tau mau kemana.
Gue berangkat ke rumah Bobby jam setengah tujuh malam dengan pakaian sekasual mungkin. Kaos, hoodie hitam, jeans hitam, dan sepatu hitam. Sebuah kombinasi warna yang selalu ngebuat nyokap gue berkomentar kalau gue nggak punya pakaian lain.
Sebenarnya gue bisa aja jalan jam delapan dari rumah karena gue tahu Rico bakalan nyampe lebih malam dari itu, tapi gue kadang suka nggak enak sama bokap dan nyokap gue kalau gue keluar terlalu malam. Dan juga akan lebih banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh mereka. Jadi gue memutuskan untuk menunggu di rumah Bobby.
Tiba di rumah Bobby, gue masih melakukan kebiasaan yang masih sama seperti ketika gue SMA dulu. Parkir di depan rumahnya dengan posisi motor gue yang sama persis. Kemudian gue akan Memanggil nama Bobby dari luar sampai bokapnya yang ada di ruang tengah menyuruh gue untuk langsung naik ke atas.
Di dalam kamarnya gue sedang mendapati Bobby lagi duduk di depan komputernya sambil berkutat dengan rumus-rumus koding. Bobby bahkan hanya melihat sekilas ke arah gue yang baru masuk ke dalam kamarnya sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke arah laptop.
“Baru minggu pertama kuliah udah dapet tugas bikin program aja lo.” Sahut gue, kemudian lagnsung merebahkan diri di atas kasur.
“Kaga, nyoba-nyoba doang ini gue.”
“Beda ya emang anak kampus negeri.”
Bobby emang salah satu dari dua orang di dalam teman kelasan gue dulu yang masuk ke kampus negeri, ditambah lagi jurusannya yang bukan kacangan. Teknik informatika kampus negeri di depok.
Menariknya, lima dari sepuluh teman kelas sebelas gue dulu masuk ke dalam jurusan yang sama namun berbeda kampus. Dua berkuliah di luar kota. Ada juga teman kelas sebelas gue yang kuliah di luar kota namun bukan jurusan teknik infotmatika.
Gue dan Bobby ngobrol-ngobrol seputar kehidupan kampus. Mulai dari gue yang iri dengan keberhasilan Bobby yang masuk di kampus negeri idaman banyak orang sampai Bobby yang bercerita tekanan yang ia dapati selama berkuliah. Semua obrolan itu dilakukan untuk menunggu kedatangan Rico yang saat ini lagi nggak ada kabar.
Jam sembilan malam Rico baru hadir dengan wajah nggak merasa bersalah karena sudah ngebuat gue dan Bobby menunggu nggak jalas. Bahkan gue sampai mengambil sisa makanan yang ada di meja makan Bobby karena gabut.
“Lama banget lo anjing.” Gerutu gue yang masih berada di atas kasur kamar Bobby.
“Langsung cabut aja yok.”
“Kemana?”
“Shisha.”
*****
Di dalam ruangan bertema timur tengah, sebuah tabung shisha beserta tiga gelas minuman yang kami pesan terhampar di atas meja. Shisha memang menjadi salah satu kebiasan gue dan teman SMA gue dulu ketika ingin berkumpul. Apalagi ketika sedang jenuh dari rokok.
Sayangnya tempat shisha yang kami datangi berbeda dengan tempat shisha yang dulu dering datangi. Meskipun sama-sama di bilangan kemang. Tempat yang dulu sering kami datangi sudah digusur, padahal disana harganya lebih murah.
Tapi kalau bagus-bagusan tempat sih, tempat yang sekarang kita datengin jauh lebih bagus meskipun harganya sedikit lebih mahal. Selain itu ada satu hiburan yang nggak dimiliki oleh tempat shisha yang dulu sering kita datengan, yaitu belly dance. Waktu dulu, sebagai ‘anak bocah yang baru keluar rumah’, tentu aja hal tersebut ngebuat gue penasaran dan antusias.
“Nongkrong di tempat shisha gini jadi inget dulu waktu Treya nggak percaya kalau Putri udah ada yang deketin.” Kata Rico meelanjutkan obrolan.
“Kapan nyet?”
“Ada dah, dulu.”
“Oiya Tre, Putri apa kabar sekarang?” Tanya Bobby dengan nada meledeknya.
“Mana gue tau Bob, kan lo yang tetangganya.”
Seketika kenangan-kenangan tentang masa lalu kembali terlintas di pikiran gue. Ketika gue masih denial dengan keadaan yang terjadi, kalau gue sama sekali nggak memiliki kesempatan untuk memiliki perempuan yang pernah gue cintai. Dan yang menjadi topik pembicaraan kita bertiga malam itu adalah Putri. Setidaknya sampai kita memutuskan untuk pulang.
Old Time Sake
Gue dan Cindy baru memutuskan buat kembali jalan saat hari sudah berganti malam dan hujan masih tersisa rintik-riktiknya. Kalau hujannya rintik-rintik setelah hujan gede biasanya bakal awet. Mungkin bisa satu jam lagi kalau emang mau ninggu samapi hujan bener-bener berhenti.
“Cin, masih mau nunggu atau mau jalan aja? Hujannya awet nih kalau kaya gini.”
“Terserah lo, Tre.”
“Kehujanan dikit gapapa ya, dari pada kemaleman.”
“Iya.”
Gue segera bangkit dari duduk gue, kemudian membersihkan celana bagian belakang. Gue melihat ke arah Cindy yang juga ikut berdiri, hari ini dia cuman memakai kemeja tipis sebagai atasan. Buru-buru gue membuka hoodie gue supaya dia nggak terlalu kebasahan.
“Nih.” Gue memberikan hoodie yang baru aja gue lepaskan ketika Cindy baru aja berdiri
“Ga usah, Tre.”
“Pake aja sih.” Ucap gue sedikit memaksa, kemudian Cindy menerimanya dengan sedikit sungkan.
“Terus lo nanti gimana?”
“Santai, deket ini. ga bakal basah-basah banget nanti juga.”
Tanpa melihat ke arah Cindy gue sekera memposisikan motor gue ke arah luar, kemudian segera menaiki motor diikuti dengan Cindy yang duduk di jok penumpang. Secara perlahan sambil melewati rintik-rintik hujan yang masih tersisa, gue memacu motor gue menembus kemacetan jalan di saat orang-orang baru keluar dari kantor masing-masing.
Meskipun hujannya cuman rintik-rintik, tapi lama-lama kaos yang gue pakai basah juga. Kulit pergelangan tangan gue udah mulai mengkerut. Tapi gue sebisa mungkin menahan rasa dingin yang gue rasakan karena takut Cindy ngerasa makin nggak enak.
Sebelumnya gue sempat nanya ke Cindy, gue enaknya nganterin dia sampai mana. Cindy bilang sampai halte di dekat PIM aja karena nanti ada kendaraan umum yang jalurnya langsung ke rumah dia. Tapi mengingat kondisi yang masih turun air gue jadi mengurungkan niat tersebut.
“Tre, kok kelewatan?” Tanya Cindy ketika gue melewati tempat yang seharusnya gue menurunkan dia.
“Gue anterin sampe rumah aja.” Jawabnya singkat.
Bukan, bukan karena gue terlalu peduli dengan Cindy. Mungkin iya sih, sedikit. Kasian juga kalau harus naik kendaraan umum malam-malam, apalagi masih gerimis. Tapi di sisi lain gue akan meminta hoodie gue kembali. agak nggak enak juga ketika Cindy harus melepaskan hoodie di depan umum. Jadi gue memilih mengantarkan Cindy sampai ke rumahnya supaya dia bisa ngebalikin hoodie gue dengan nyaman.
Sampai di depan rumah Cindy hujan sudah berhenti total. Hanya tinggal menyisakan genangan air. Kalau pun masih kecipratan air kemungkinan dari pohon atau kendaraan lain. Cindy langsung turun dari jok penumpang dan hendak masuk ke dalam rumahnya sebelum gue tahan.
“Woy, sweater gue.”
“Kirain lo lupa.” Jawab Cindy sambil cengengesan. “Makasih ya Tre. Besok-besok sekalian jemput gue.”
“Ogah, rugi di bensin.” Cindy hanya tertawa mendengar gerutuan gue sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya. Sementara gue bergegas kembali menuju rumah.
*****
Keesokan pada hari jumat, perkuliahan gue selesai jam tiga sore setelah ada kelas bimbingan dari senior yang sebelumnya juga membimbing kelas gue selama masa orientasi. Jadi di kelas ini, gue dan teman-teman gue yang lain dibagi menjadi beberapa kelompok. Sementara tugas si senior adalah membantu jika mahasiswa baru memiliki kesulitan pada perkuliahan mereka.
Memang kelas yang ngebosenin banget, siapa pun pasti memiliih buat nggak mengikuti kelas tersebut. Sayangnya setiap kelas bimbingan yang kita ikuti di setiap minggunya memiliki poin setara poin seminar yang nantinya dibutuhkan untuk melakukan skripsi. Jadi mau nggak mau para mahasiswa baru diwajibkan mengikuti kelas tersebut.
Beruntung gue mendapatkan senior yang mempermudah absensi kelas. Dia langsung memberikan lembar absensi setiap minggunya untuk kelompok gue paraf sebagai tanda kehadiran. Jadi gue dan kelompok nggak harus dateng setap minggunya ke kelas nggak penting ini. Gue yakin senior gue juga males.
Tapi dia menegaskan kalau salah satu diantara kita ada yang merasa kesulitan dengan perkuliahan, dia akan dengan senang hati akan membantu. Sungguh senior yang bijaksana.
Mendapat angin segar berupa satu kelas kosong, gue mempergunakan kesempatan tersebut buat nongkrong setelah perkuliahan, atau langsung pulang ke rumah di hari pertama kelas tersebut berlangsung karena gue belum memiliki banyak teman nongkrong.
Pukul empat sore lebih ketika gue sedang asik gitaran di dalam kamar, sebuah pesan singkat di Line masuk di handphone gue. Ada nama Rico terlihat di layar. Dalam pesan singkatnya ada ajakan untuk nongkrong bareng Bobby. Gue menanyakan tujuannya dan Rico langsung membalas ‘ke rumah Bobby aja dulu’. Yah, gue udah bisa nebak sih kalau dia belum tau mau kemana.
Gue berangkat ke rumah Bobby jam setengah tujuh malam dengan pakaian sekasual mungkin. Kaos, hoodie hitam, jeans hitam, dan sepatu hitam. Sebuah kombinasi warna yang selalu ngebuat nyokap gue berkomentar kalau gue nggak punya pakaian lain.
Sebenarnya gue bisa aja jalan jam delapan dari rumah karena gue tahu Rico bakalan nyampe lebih malam dari itu, tapi gue kadang suka nggak enak sama bokap dan nyokap gue kalau gue keluar terlalu malam. Dan juga akan lebih banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh mereka. Jadi gue memutuskan untuk menunggu di rumah Bobby.
Tiba di rumah Bobby, gue masih melakukan kebiasaan yang masih sama seperti ketika gue SMA dulu. Parkir di depan rumahnya dengan posisi motor gue yang sama persis. Kemudian gue akan Memanggil nama Bobby dari luar sampai bokapnya yang ada di ruang tengah menyuruh gue untuk langsung naik ke atas.
Di dalam kamarnya gue sedang mendapati Bobby lagi duduk di depan komputernya sambil berkutat dengan rumus-rumus koding. Bobby bahkan hanya melihat sekilas ke arah gue yang baru masuk ke dalam kamarnya sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke arah laptop.
“Baru minggu pertama kuliah udah dapet tugas bikin program aja lo.” Sahut gue, kemudian lagnsung merebahkan diri di atas kasur.
“Kaga, nyoba-nyoba doang ini gue.”
“Beda ya emang anak kampus negeri.”
Bobby emang salah satu dari dua orang di dalam teman kelasan gue dulu yang masuk ke kampus negeri, ditambah lagi jurusannya yang bukan kacangan. Teknik informatika kampus negeri di depok.
Menariknya, lima dari sepuluh teman kelas sebelas gue dulu masuk ke dalam jurusan yang sama namun berbeda kampus. Dua berkuliah di luar kota. Ada juga teman kelas sebelas gue yang kuliah di luar kota namun bukan jurusan teknik infotmatika.
Gue dan Bobby ngobrol-ngobrol seputar kehidupan kampus. Mulai dari gue yang iri dengan keberhasilan Bobby yang masuk di kampus negeri idaman banyak orang sampai Bobby yang bercerita tekanan yang ia dapati selama berkuliah. Semua obrolan itu dilakukan untuk menunggu kedatangan Rico yang saat ini lagi nggak ada kabar.
Jam sembilan malam Rico baru hadir dengan wajah nggak merasa bersalah karena sudah ngebuat gue dan Bobby menunggu nggak jalas. Bahkan gue sampai mengambil sisa makanan yang ada di meja makan Bobby karena gabut.
“Lama banget lo anjing.” Gerutu gue yang masih berada di atas kasur kamar Bobby.
“Langsung cabut aja yok.”
“Kemana?”
“Shisha.”
*****
Di dalam ruangan bertema timur tengah, sebuah tabung shisha beserta tiga gelas minuman yang kami pesan terhampar di atas meja. Shisha memang menjadi salah satu kebiasan gue dan teman SMA gue dulu ketika ingin berkumpul. Apalagi ketika sedang jenuh dari rokok.
Sayangnya tempat shisha yang kami datangi berbeda dengan tempat shisha yang dulu dering datangi. Meskipun sama-sama di bilangan kemang. Tempat yang dulu sering kami datangi sudah digusur, padahal disana harganya lebih murah.
Tapi kalau bagus-bagusan tempat sih, tempat yang sekarang kita datengin jauh lebih bagus meskipun harganya sedikit lebih mahal. Selain itu ada satu hiburan yang nggak dimiliki oleh tempat shisha yang dulu sering kita datengan, yaitu belly dance. Waktu dulu, sebagai ‘anak bocah yang baru keluar rumah’, tentu aja hal tersebut ngebuat gue penasaran dan antusias.
“Nongkrong di tempat shisha gini jadi inget dulu waktu Treya nggak percaya kalau Putri udah ada yang deketin.” Kata Rico meelanjutkan obrolan.
“Kapan nyet?”
“Ada dah, dulu.”
“Oiya Tre, Putri apa kabar sekarang?” Tanya Bobby dengan nada meledeknya.
“Mana gue tau Bob, kan lo yang tetangganya.”
Seketika kenangan-kenangan tentang masa lalu kembali terlintas di pikiran gue. Ketika gue masih denial dengan keadaan yang terjadi, kalau gue sama sekali nggak memiliki kesempatan untuk memiliki perempuan yang pernah gue cintai. Dan yang menjadi topik pembicaraan kita bertiga malam itu adalah Putri. Setidaknya sampai kita memutuskan untuk pulang.
unhappynes dan 8 lainnya memberi reputasi
9
