- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.7K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#279
gatra 31
Quote:
SESAAT MACAN IRENG tidak menjawab. Lantas Welat Kuning berteriak nyaring, “ Katakan siapa kisanak yang di depan kami, sebut namamu”
Orang itu diam sesaat , dan kemudian terdengar ia menyebutkan sebuah nama, “Wiro, namaku Wiro”
Welat Kuning menarik nafas panjang-panjang. Bahkan hampir ia tertawa mendengar orang-orang itu menyebutkan namanya. Sekali ia berpaling memandang wajah Macan Ireng.
Agaknya Macan Ireng pun sependapat dengan pikirannya, sehingga karena itu terdengar Macan Ireng menjawab lantang, “Namaku Condro dan kawanku bernama Keling. Nah, apakah kau puas mendengar nama-nama kami?”
Orang itu terdengar tertawa. Suaranya berderai melingkar-lingkar membentur dinding hutan dan menggema kembali berulang-ulang. Katanya, “Adakah gunanya kita menyebutkan nama masing-masing?”
Welat Kuning menyahut, “Nama-nama yang kami sebut, mungkin jauh lebih baik dari nama mu sebenarnya. Nah apakah maksudmu datang kemari.”
“Apakah kita dapat berbicara perlahan-lahan sambil duduk di depan perapian dan menikmati ubi bakar dan sebumbung wedang jahe?” berkata orang itu.
Welat Kuning tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Macan Ireng seakan-akan menyerahkan segenap persoalan kepadanya. Namun Macan Ireng tidak dapat berbuat lain daripada menerima orang itu. Seandainya orang itu lari sekalipun pasti akan dikejarnya. Dan kini orang itu bersedia datang kepadanya.
Karena itu, maka Macan Ireng menjawab tegas, “Datanglah, supaya aku tidak menghajarmu.”
Sekali lagi terdengar orang itu tertawa. Sejenak kemudian bayangan itu bergerak maju perlahan-lahan penuh kewaspadaan. Macan Ireng dan Welat Kuning pun segera berdiri. Semakin dekat bayangan itu, hati mereka masing-masing baik yang menunggu maupun yan mendatangi, saling berdebaran. Semakin dekat, maka wujud masing-masing menjadi semakin jelas dibawah cahaya keremangan bulan sepotong yang menggantung di antara bintang-bintang di langit.
Ketika bayangan itu sudah cukup dekat, maka terdengarlah Macan Ireng menggeram keras. Selangkah ia maju dan tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Bayangan itu pun kemudian berhenti beberapa langkah daripadanya.
Yang terdengar adalah suara Macan Ireng parau, “Kau… Kau hantu Gunung Sumbing. He, apa kerjamu di sini Paraji Gading?”
Terdengar orang itu, yang tak lain adalah Paraji Gading, menarik nafas perlahan-lahan. Dengan menganggukkan kepalanya Paraji Gading menjawab, “Selamat malam Macan Ireng, sudah lama kita tidak bertemu”
“Cepat katakan apa maksudmu keluyuran di hutan ini. Apakah kau bermaksud memata – mataiku? Jangan terlalu banyak bicara melingkar –lingkar atau akan aku penggal dengan pedang ku ini? “
“Jangan marah. Dengarlah dulu maksud kedatangan ku” berkata Paraji Gading. Sesaat ia berpaling kepada Welat Kuning yang berdiri di belakang Macan Ireng. Tampaknya alisnya berkerut, dan dengan ragu-ragu ia berkata, “ Jika dilihat dari penampilan mu kau pasti orang yang bernama Welat Kuning?”
Welat Kuning tertawa pendek. Kini ia maju selangkah. Pedang kembarnya terselip pada ikat pinggangnya. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya, akulah Welat Kuning ”
“Ah… Aku tidak akan dapat melupakan kalian. Sepasang saudara seperguruan dari bukit Jalatunda”
“Huh” potong Macan Ireng, “Kau juga tidak lupa kepada guruku?”
“Tentu tidak Macan Ireng. Aku adalah kawan baik dari Kiai Jalatunda”
“Omong kosong. Kau tinggalkan guru dalam kesulitan. Bahkan kemudian aku melihatmu bergabung dengan Ki Ageng Pandan Arum beserta saudara –saudara seperguruannya.”
Paraji Gading terbahak-bahak.
Sahutnya, “Kau salah duga Macan Ireng. Kau keliru. Pada waktu itu aku tidak punya pilihan lain selain harus bergabung dengan orang –orang itu ”
Macan Ireng mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia bertanya, “Apakah benar seperti itu ?”
“ Sudah pasti benar adanya. Kita lupakan masa lalu dan songsong masa depan. Ada sangkut paut yang erat dengan perjuanganmu, ngger” jawab Paraji Gading, “Karena itulah maka aku sengaja menemuimu. Maksudku aku akan datang keperkemahanmu.”
“Apakah paman Paraji Gading tahu letak perkemahan kami?”
“Aku tidak tahu tepat. Tetapi aku kira-kira saja letak perkemahan itu.”
Macan Ireng menggeram. “Kau sedang memata-matai perkemahan kami untuk kepentingan Pandan Arum?”
“Tidak ngger, tidak”, potong Paraji Gading cepat-cepat. “Aku datang untuk keperluan yang cukup penting.”
“Apa itu?”
“Apakah angger dapat menerima ku di perkemahan angger?”
Macan Ireng menggeleng. Dengan tegas ia berkata, “Tidak. Di sini paman dapat mengatakan keperluan itu.”
Paraji Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi kecewa tetapi ia tahu keberatan Macan Ireng. Karena itu ia berkata, “Angger, aku tahu kau sedang dibakar dendam kesumat dengan orang –orang Pandan Arum. Kebo Peteng adik seperguruan mu tertangkap dan dipermalukan karena pokal dari salah satu murid di padepokan itu. Belum lagi dendam masa lalu mengenai guru mu Kiai Jalatunda. Aku bersedia membantu mu untuk melancarkan semua rencanamu itu agar berhasil”
Macan Ireng mengerutkan keningnya. Desisnya, “Apakah untungnya untuk mu paman?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin membantu mu saja Ngger. Hitung –hitung permintaan maafku pada mendiang guru mu”
Macan Ireng mengerutkan keningnya. Dan dibiarkannya Paraji Gading berkata, “ Aku yakin tenaga ku dan muridku akan banyak sekali membantumu. Apalagi aku sangat kenal seluk beluk padepokan dan siapa saja sekarang yang berada disana. Karena muridku, Bagus Abangan telah aku susupkan kesana jauh –jauh hari untuk menunggu saat yang tepat ini “
Macan Ireng menarik alisnya. Sesaat ia terdiam. Dicobanya untuk menimbang kata-kata Paraji Gading. Namun kemudian terdengar Welat Kuning berkata, “Muridmu yang bernama Bagus Abangan itu, apakah cukup mumpuni kanuragannya?”
Paraji Gading mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Welat Kuning. Namun sejenak kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Hem, aku tidak dapat mengatakannya. Suatu saat kau akan melihatnya sendiri kemampuan Bagus Abangan”
Namun kata-kata itu segera disahut oleh Macan Ireng, “Jangan mengelabuhi aku paman Paraji. Seorang dengan julukan Hantu Gunung Sumbing apakah hanya pemikiran sesederhana itu? Apa sebenarnya yang kau inginkan ?”
Hati Paraji Gading menjadi berdebar-debar karenanya. Jika saja dia tidak mampu meyakinkan Macan Ireng tentu saja situasi akan menjadi sulit. Membunuh Macan Ireng perkara mudah. Namun, hal itu akan mengurangi kekuatan untuk menggulung dan merebut padepokan Pandan Arum.
Lantas Paraji Gading tersenyum, “Ya, angger. Aku tidak ada maksud lain. Aku harap angger Macan Ireng menerima tawaranku ini”
Orang itu diam sesaat , dan kemudian terdengar ia menyebutkan sebuah nama, “Wiro, namaku Wiro”
Welat Kuning menarik nafas panjang-panjang. Bahkan hampir ia tertawa mendengar orang-orang itu menyebutkan namanya. Sekali ia berpaling memandang wajah Macan Ireng.
Agaknya Macan Ireng pun sependapat dengan pikirannya, sehingga karena itu terdengar Macan Ireng menjawab lantang, “Namaku Condro dan kawanku bernama Keling. Nah, apakah kau puas mendengar nama-nama kami?”
Orang itu terdengar tertawa. Suaranya berderai melingkar-lingkar membentur dinding hutan dan menggema kembali berulang-ulang. Katanya, “Adakah gunanya kita menyebutkan nama masing-masing?”
Welat Kuning menyahut, “Nama-nama yang kami sebut, mungkin jauh lebih baik dari nama mu sebenarnya. Nah apakah maksudmu datang kemari.”
“Apakah kita dapat berbicara perlahan-lahan sambil duduk di depan perapian dan menikmati ubi bakar dan sebumbung wedang jahe?” berkata orang itu.
Welat Kuning tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Macan Ireng seakan-akan menyerahkan segenap persoalan kepadanya. Namun Macan Ireng tidak dapat berbuat lain daripada menerima orang itu. Seandainya orang itu lari sekalipun pasti akan dikejarnya. Dan kini orang itu bersedia datang kepadanya.
Karena itu, maka Macan Ireng menjawab tegas, “Datanglah, supaya aku tidak menghajarmu.”
Sekali lagi terdengar orang itu tertawa. Sejenak kemudian bayangan itu bergerak maju perlahan-lahan penuh kewaspadaan. Macan Ireng dan Welat Kuning pun segera berdiri. Semakin dekat bayangan itu, hati mereka masing-masing baik yang menunggu maupun yan mendatangi, saling berdebaran. Semakin dekat, maka wujud masing-masing menjadi semakin jelas dibawah cahaya keremangan bulan sepotong yang menggantung di antara bintang-bintang di langit.
Ketika bayangan itu sudah cukup dekat, maka terdengarlah Macan Ireng menggeram keras. Selangkah ia maju dan tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Bayangan itu pun kemudian berhenti beberapa langkah daripadanya.
Yang terdengar adalah suara Macan Ireng parau, “Kau… Kau hantu Gunung Sumbing. He, apa kerjamu di sini Paraji Gading?”
Terdengar orang itu, yang tak lain adalah Paraji Gading, menarik nafas perlahan-lahan. Dengan menganggukkan kepalanya Paraji Gading menjawab, “Selamat malam Macan Ireng, sudah lama kita tidak bertemu”
“Cepat katakan apa maksudmu keluyuran di hutan ini. Apakah kau bermaksud memata – mataiku? Jangan terlalu banyak bicara melingkar –lingkar atau akan aku penggal dengan pedang ku ini? “
“Jangan marah. Dengarlah dulu maksud kedatangan ku” berkata Paraji Gading. Sesaat ia berpaling kepada Welat Kuning yang berdiri di belakang Macan Ireng. Tampaknya alisnya berkerut, dan dengan ragu-ragu ia berkata, “ Jika dilihat dari penampilan mu kau pasti orang yang bernama Welat Kuning?”
Welat Kuning tertawa pendek. Kini ia maju selangkah. Pedang kembarnya terselip pada ikat pinggangnya. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya, akulah Welat Kuning ”
“Ah… Aku tidak akan dapat melupakan kalian. Sepasang saudara seperguruan dari bukit Jalatunda”
“Huh” potong Macan Ireng, “Kau juga tidak lupa kepada guruku?”
“Tentu tidak Macan Ireng. Aku adalah kawan baik dari Kiai Jalatunda”
“Omong kosong. Kau tinggalkan guru dalam kesulitan. Bahkan kemudian aku melihatmu bergabung dengan Ki Ageng Pandan Arum beserta saudara –saudara seperguruannya.”
Paraji Gading terbahak-bahak.
Sahutnya, “Kau salah duga Macan Ireng. Kau keliru. Pada waktu itu aku tidak punya pilihan lain selain harus bergabung dengan orang –orang itu ”
Macan Ireng mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia bertanya, “Apakah benar seperti itu ?”
“ Sudah pasti benar adanya. Kita lupakan masa lalu dan songsong masa depan. Ada sangkut paut yang erat dengan perjuanganmu, ngger” jawab Paraji Gading, “Karena itulah maka aku sengaja menemuimu. Maksudku aku akan datang keperkemahanmu.”
“Apakah paman Paraji Gading tahu letak perkemahan kami?”
“Aku tidak tahu tepat. Tetapi aku kira-kira saja letak perkemahan itu.”
Macan Ireng menggeram. “Kau sedang memata-matai perkemahan kami untuk kepentingan Pandan Arum?”
“Tidak ngger, tidak”, potong Paraji Gading cepat-cepat. “Aku datang untuk keperluan yang cukup penting.”
“Apa itu?”
“Apakah angger dapat menerima ku di perkemahan angger?”
Macan Ireng menggeleng. Dengan tegas ia berkata, “Tidak. Di sini paman dapat mengatakan keperluan itu.”
Paraji Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi kecewa tetapi ia tahu keberatan Macan Ireng. Karena itu ia berkata, “Angger, aku tahu kau sedang dibakar dendam kesumat dengan orang –orang Pandan Arum. Kebo Peteng adik seperguruan mu tertangkap dan dipermalukan karena pokal dari salah satu murid di padepokan itu. Belum lagi dendam masa lalu mengenai guru mu Kiai Jalatunda. Aku bersedia membantu mu untuk melancarkan semua rencanamu itu agar berhasil”
Macan Ireng mengerutkan keningnya. Desisnya, “Apakah untungnya untuk mu paman?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin membantu mu saja Ngger. Hitung –hitung permintaan maafku pada mendiang guru mu”
Macan Ireng mengerutkan keningnya. Dan dibiarkannya Paraji Gading berkata, “ Aku yakin tenaga ku dan muridku akan banyak sekali membantumu. Apalagi aku sangat kenal seluk beluk padepokan dan siapa saja sekarang yang berada disana. Karena muridku, Bagus Abangan telah aku susupkan kesana jauh –jauh hari untuk menunggu saat yang tepat ini “
Macan Ireng menarik alisnya. Sesaat ia terdiam. Dicobanya untuk menimbang kata-kata Paraji Gading. Namun kemudian terdengar Welat Kuning berkata, “Muridmu yang bernama Bagus Abangan itu, apakah cukup mumpuni kanuragannya?”
Paraji Gading mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Welat Kuning. Namun sejenak kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Hem, aku tidak dapat mengatakannya. Suatu saat kau akan melihatnya sendiri kemampuan Bagus Abangan”
Namun kata-kata itu segera disahut oleh Macan Ireng, “Jangan mengelabuhi aku paman Paraji. Seorang dengan julukan Hantu Gunung Sumbing apakah hanya pemikiran sesederhana itu? Apa sebenarnya yang kau inginkan ?”
Hati Paraji Gading menjadi berdebar-debar karenanya. Jika saja dia tidak mampu meyakinkan Macan Ireng tentu saja situasi akan menjadi sulit. Membunuh Macan Ireng perkara mudah. Namun, hal itu akan mengurangi kekuatan untuk menggulung dan merebut padepokan Pandan Arum.
Lantas Paraji Gading tersenyum, “Ya, angger. Aku tidak ada maksud lain. Aku harap angger Macan Ireng menerima tawaranku ini”
Quote:
MACAN IRENG mendengarkan kata-kata Paraji Gadingitu dengan wajah yang tegang. Sepercik harapan timbul di dalam hatinya. Melalui bantuan Paraji Gading dan muridnya yang bernama Bagus Abangan tentu akan menambah kekuatannya untuk menggempur padepokan Pandan Arum.
Tetapi tidak demikian yang terlintas di otak Welat Kuning. Ia tidak dapat menerima Paraji Gading dan Bagus Abangan apa pun alasannya. Ia tidak mau melihat Praji Gading dan Bagus Abangan mengkhianati Macan Ireng. Menusuk dari belakang atau perbuatan apa pun yang akan mencelakakannya. Karena itu, ketika diketahuinya Macan Ireng menjadi ragu-ragu maka Welat Kuning itu pun menjadi cemas.
Sehingga ketika Macan Ireng tidak segera menjawab, berkatalah Welat Kuning sambil tertawa lirih, “Sebuah dongeng yang bagus paman Paraji Gading.”
Paraji Gading terkajut mendengar tanggapan Welat Kuning itu. Karena itu, maka segera wajahnya menjadi tegang. Suaranya pun menjadi tegang pula. Katanya, “Welat Kuning. Apakah kau tidak percaya kepada ku? ”
“Paman, bagaimana aku akan percaya. Ingatkah paman apa yang telah paman lakukan pada saat-saat Kiai Jalatunda terjepit antara orang –orang sakti mandraguna, yang dipimpin langsung oleh Ki Ageng Pandan Arum dan saudara –saudaranya? Guru ku itu berjuang mati-matian tanpa mengenal takut meskipun usianya telah lanjut. Nah, apa kerjamu waktu itu Paraji Gading? Seandainya kau tidak meninggalkannya dan membelot waktu itu, setidak-tidaknya guru ku akan dapat meloloskan dirinya.”
Wajah Paraji Gading menjadi merah semerah bara. Untunglah malam yang remang-remang telah melindunginya, sehingga perubahan wajah itu tidak segera diketahui oleh Macan Ireng.
Namun demikian terasa dadanya bergetar dan suaranya pun gemetar pula. “Welat Kuning kau terlalu berparasangka. Aku sudah menasehatkan Kiai Jalatunda untuk menghindar dari Pandan Arum. Namun, guru mu waktu itu menolak.”
Mendengar jawaban Paraji Gading Welat Kuning tertawa. Dengan menengadahkan wajahnya ia berkata, “Kata-katamu aneh paman ”
Tubuh Paraji Gading menjadi gemetar menahan marah. Meskipun demikian ditenangkannya hatinya sejauh mungkin. Ia masih mengharap Macan Ireng menerima tawarannya. Karena itu, maka katanya, “Angger Macan Ireng, terserahlah dalam penilaian angger. Tetapi kalau angger mau bekerja bersama dengan ku dan Bagus Abangan, maka aku janjikan bahwa tenagaku akan aku serahkan pula. Angger pasti percaya, bahwa kita dapat melumpuhkan padepokan itu secara bersama -sama”
Tetapi tidak demikian yang terlintas di otak Welat Kuning. Ia tidak dapat menerima Paraji Gading dan Bagus Abangan apa pun alasannya. Ia tidak mau melihat Praji Gading dan Bagus Abangan mengkhianati Macan Ireng. Menusuk dari belakang atau perbuatan apa pun yang akan mencelakakannya. Karena itu, ketika diketahuinya Macan Ireng menjadi ragu-ragu maka Welat Kuning itu pun menjadi cemas.
Sehingga ketika Macan Ireng tidak segera menjawab, berkatalah Welat Kuning sambil tertawa lirih, “Sebuah dongeng yang bagus paman Paraji Gading.”
Paraji Gading terkajut mendengar tanggapan Welat Kuning itu. Karena itu, maka segera wajahnya menjadi tegang. Suaranya pun menjadi tegang pula. Katanya, “Welat Kuning. Apakah kau tidak percaya kepada ku? ”
“Paman, bagaimana aku akan percaya. Ingatkah paman apa yang telah paman lakukan pada saat-saat Kiai Jalatunda terjepit antara orang –orang sakti mandraguna, yang dipimpin langsung oleh Ki Ageng Pandan Arum dan saudara –saudaranya? Guru ku itu berjuang mati-matian tanpa mengenal takut meskipun usianya telah lanjut. Nah, apa kerjamu waktu itu Paraji Gading? Seandainya kau tidak meninggalkannya dan membelot waktu itu, setidak-tidaknya guru ku akan dapat meloloskan dirinya.”
Wajah Paraji Gading menjadi merah semerah bara. Untunglah malam yang remang-remang telah melindunginya, sehingga perubahan wajah itu tidak segera diketahui oleh Macan Ireng.
Namun demikian terasa dadanya bergetar dan suaranya pun gemetar pula. “Welat Kuning kau terlalu berparasangka. Aku sudah menasehatkan Kiai Jalatunda untuk menghindar dari Pandan Arum. Namun, guru mu waktu itu menolak.”
Mendengar jawaban Paraji Gading Welat Kuning tertawa. Dengan menengadahkan wajahnya ia berkata, “Kata-katamu aneh paman ”
Tubuh Paraji Gading menjadi gemetar menahan marah. Meskipun demikian ditenangkannya hatinya sejauh mungkin. Ia masih mengharap Macan Ireng menerima tawarannya. Karena itu, maka katanya, “Angger Macan Ireng, terserahlah dalam penilaian angger. Tetapi kalau angger mau bekerja bersama dengan ku dan Bagus Abangan, maka aku janjikan bahwa tenagaku akan aku serahkan pula. Angger pasti percaya, bahwa kita dapat melumpuhkan padepokan itu secara bersama -sama”
Quote:
DENTANG JANTUNG Macan Ireng seakan-akan menjadi semakin cepat. Sekali-sekali dipalingkannya wajahnya memandang Welat Kuning, namun Welat Kuning tidak sedang memandangnya. Bahkan Welat Kuning itu agaknya benar-benar menyerahkan persoalan itu kepadanya. Namun percakapan Paraji Gading dan Welat Kuning telah memberinya banyak bahan. Dikenangnya apa yang pernah dilakukan oleh Paraji Gading itu atas gurunya, Kiai Jalatunda.
Macan Ireng menggeram, kemudian katanya sambil menggeleng, “Aku semakin yakin, bahwa kejujurannya tidak dapat dipercaya. Mungkin kau sedang berselisih dengan Ki Ageng Pandan Arum dan orang –orang padepokan itu. Jangan disangka bahwa aku akan terjebak”
Sekali lagi Paraji Gading menggeram keras. Tubuhnya menjadi semakin gemetar oleh kemarahannya yang semakin memuncak. Namun lebih dari Paraji Gading yang sudah tua itu. Pada saat itu lah terdengar suara seseorang yang tengah tersulut amarah. Suara itu milik Bagus Abangan tidak dapat melawan kemarahannya.
Karena itu sembari meloncat dari gerumbul semak dengan lantang ia berteriak, “Guru. Kenapa kita harus mengemis belas kasihannya?”
Macan Ireng menggeram, kemudian katanya sambil menggeleng, “Aku semakin yakin, bahwa kejujurannya tidak dapat dipercaya. Mungkin kau sedang berselisih dengan Ki Ageng Pandan Arum dan orang –orang padepokan itu. Jangan disangka bahwa aku akan terjebak”
Sekali lagi Paraji Gading menggeram keras. Tubuhnya menjadi semakin gemetar oleh kemarahannya yang semakin memuncak. Namun lebih dari Paraji Gading yang sudah tua itu. Pada saat itu lah terdengar suara seseorang yang tengah tersulut amarah. Suara itu milik Bagus Abangan tidak dapat melawan kemarahannya.
Karena itu sembari meloncat dari gerumbul semak dengan lantang ia berteriak, “Guru. Kenapa kita harus mengemis belas kasihannya?”
simounlebon dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas