- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
28K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#224
Chapter 141
Quote:
Perpisahan rekanan dengan pemerintah, khususnya pasukan BASS membuat orang-orang dalam Silver Clan jauh lebih leluasa. Meskipun masih ada kekhawatiran jika BASS masih mengawasi gerak-gerik mereka. Tuan Stam dan Sterling juga sudah beberapa hari pergi dari Surban City, untuk bertemu dengan kolega lainnya. Tampaknya untuk membicarakan tentang Beaters yang semakin menggila akhir-akhir ini, sudah hampir 3 bulan lamanya, situasinya cenderung semakin mencekam bagi warga.
Para anggota yang tersisa tetap menjalani kehidupannya seperti biasa, mereka masih bahu-membahu melayani pelanggan yang datang untuk menikmati kopi maupun hidangan lainya di Wilson Bar and Caffe. Kecuali Vivian yang sekarang masih aktif walaupun koneksinya ke kepolisian setempat harus terputus juga. Perbedaannya kini hanyalah tidak ada daftar resmi dan ia bekerja secara acak tuk menumpas kriminal.
Suasana caffe pagi ini masih sepi, karena papan petunjuknya belum diputar oleh karyawan yaitu Solo ataupun Djohan. Ditemani oleh Gonzalo dan juga Lio mereka berkumpul, tanpa kehadiran tuan Stam nampaknya mereka sedikit kehilangan arah dan motivasi.
“Pertemuan itu, nampaknya mereka melakukan pembicaraan yang serius,” ucap Solo.
“Mungkin, karena sejak belasan tahun lalu, baru kali ini tuan Stam bepergian lama, biasanya hanya satu hari lalu keesokannya sudah tiba lagi ke sini,” timpah Gonzalo.
“Oh iya, kenapa senior Sterling yang dipinta untuk menemaninya? Bukankah kau rekrutan paling pertama?” tanya Djohan. “karena senior pernah bercerita, ketika bergabung kau sudah menjadi penjaga meja bar,” melengkapi dengan pernyataan.
“Ya, aku memang orang yang pertama kali meminta untuk bergabung,” sontak membuat semuanya terkejut, karena baru kali ini Gonzalo mengungkapkan sebuah fakta yang jarang terdengar.
“Meminta tuk bergabung?” tanya Solo.
“Ya, semuanya bermula setelah tragedi itu, peristiwa yang mengubah sosok tuan Stam menjadi lebih dingin….,” semuanya memperhatikan dengan seksama, Gonzalo mulai bercerita.
Waktu itu di bulan desember, salju turun lebat, membuat Surban City menjadi putih tuk sementara, menutup warna hitam yang sudah melekat. Kaizer dan juga Cronic sampai di sebuah kota yang menurut salah satu Black Clan Beaters yang bertugas, Allison. Mengatakan bahwa Surban City sudah dipenuhi oleh monster-monster yang jumlahnya setiap harinya terus bertambah dan terus memakan korban. Untuk melakukan pembersihan, maka Kaizer selaku ketua Silver Clan menawarkan dirinya.
Dari laporan Allison, Beaters yang ada di sini berwarna hijau dan juga coklat. Berbeda dengan laporan Bronze Clan yang membasmi para Beaters berwarna oranye yang menempati daerah benua biru lainnya. Lebih spesifik, Allison membeberkan bahwa monster ini lebih suka berkeliaran di malam hari tuk memburu. Selain itu juga mereka kerap kali merubah seseorang menjadi sosok monster dengan menyuntikan parasit melalui cakarnya, sebuah informasi yang benar-benar baru setelah berpuluh-puluh tahun lamanya.
Kaizer sudah memesan taksi, lalu mobil itu membawanya ke sebuah daerah di pertengahan kota. Banyak gedung kantoran dan juga terlihat manusia yang berlalu-lalang. Di waktu yang masih pagi keadaan kota sangatlah sibuk. Mobil berhenti dipersimpangan jalan, diseberangnya terdapat sebuah bangunan dua lantai yang cukup besar berdiri kokoh.
“Tempat ini sudah dikerjakan atau belum yah?” ucap Kaizer dalam hati, matanya mengecil.
“Tuan Kaizer, jadi ini akan menjadi markas kita?” tanya Cronic.
“Ah, aku merasa canggung dipanggil tuan, lagipula kau kan bukan pelayanku,” ucapnya merasa terganggu, namun juniornya itu memasang muka serius. “iya, ini menjadi tempat tinggal sementara, setidaknya sampai semua masalah selesai,” Kaizer berjalan menuju bangunan itu, ketika sudah sampai didepannya, ia meraih kunci yang ada di saku jaket panjangnya. “kau siap?” Cronic mengangguk, lalu Kaizer membukakan pintunya.
Sebuah bangunan luas yang kosong melompong terpampang dihadapan mereka berdua. Yang menarik pandangan hanyalah sebuah tangga menuju lantai atas. Kaizer memperhatikan setiap sudut ruangan, dengan mengangguk tandanya di lantai bawah ini semua sudah sesuai dengan keinginannya. Tingkah lakunya yang ingin banyak tahu mondar-mandir ke sana kemari sangat berbanding terbalik dengan Cronic yang terdiam terpaku. Sesekali matanya melirik, namun tidak ada apa-apa karena masih kosong.
“Ah ini jalan menuju lantai rahasia,” sebuah tangga di area dapur membawa Kaizer ke area bawah tanah. Tidak begitu banyak anak tangga yang dilalui, ketika sampai di bawah ada sebuah lorong panjang yang di sisi-sisinya terdapat pipa-pipa yang panjang.
Langkahnya sampai ke ujung lorong di mana terdapat sebuah pintu, Kaizer tersenyum lebar tidak sabar dengan apa yang akan dilihatnya nanti. Tangannya bergetar hebat, daun pintu yang sudah digenggam pun ditariknya dan pintu terbuka. Cahaya besar menampar wajah Kaizer ketika sebuah lapang besar tersaji di depan matanya. Ia bahkan terheran-heran bagaimana pekerja ini mampu membuatnya lebih dari apa yang diinginkannya.
“Tidak bisa! Aku harus memberikan bonus besar pada para pekerja!” semangatnya menggebu. “lapangan besar ini---,” merasa seperti ada sosok yang berdiri di belakangnya, Kaizer membalikan badan dan ternyata Cronic yang ada di belakang. “ah……mengagetkan saja…,” dirinya lega.
Cronic mengintip ke dalam, ia juga tidak menyangka bahwa ada lapangan luas begini di atas bangunan yang bahkan kalah luasnya. “Tempat ini untuk apa?”
“Hm, aku sudah menunggumu menanyakan itu. Ini tempat untuk latihan kita!” melebarkan kedua tangannya, namun Cronic tampaknya tidak berkesan. Melihat pimpinannya yang langsung lesu, ia berinisiatif menepuk tangan, setidaknya untuk menghargai Kaizer.
Selesai di bawah mereka kembali ke atas, dan kali ini mencoba untuk melihat lantai dua. Lantai ini terdapat beberapa kamar yang bisa digunakan, hal ini lagi-lagi sesuai dengan pesanan Kaizer. Melakukan pembersihan di kota besar seperti ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Lagipula mereka tidak seperti Bronze Clan yang berperilaku layaknya pemburu.
“Kau bisa memilih kamarmu, silahkan….,” mempersilahkan Cronic untuk memilih kamar yang disukainya. Ia memilih tepat diseberang kamar Kaizer.
Keduanya kembali ke bawah, duduk di lantai untuk menyiapkan rencana selanjutnya. Hal pertama yang akan dilakukan adalah merubah tempat kosong ini menjadi tempat kamuflase sebagai penyamaran sekaligus tempat yang bisa dijadikan tempat bertukarnya informasi tanpa adanya kecurigaan dari warga sekitar.
“Ah! Bagaimana kalau tempat bermain judi?” ucap Kaizer
Cronic menatapnya tajam, tempat judi membutuhkan banyak biaya untuk membuatnya, belum lagi banyak orang-orang yang suka mabok datang untuk bersenang-senang tanpa memperdulikan orang lain.
“Aku tidak setuju, tempat berjudi terlalu mencolok, lagipula itu bisa memecah konsetrasi kita dalam melaksanakan tugas di sini,” jawab Cronic yang membuat atasannya itu diam dan mengangguk layaknya seperti murid yang diberitahu sesuatu oleh gurunya.
Ide-ide aneh lainnya mulai bermunculan dari mulut Kaizer, sampai Cronic cukup sebal mendengarnya. Padahal banyak ide sederhana yang dapat di mulai dengan biaya yang tidak begitu mahal, dan tentunya ide tersebut dapat membuat mereka cepat berbaur dengan warga sekitar untuk mengurangi kecurigaan. Akhirnya Cronic mengeluarkan ide yang simpel, yaitu membuat bar sekaligus caffe bagi yang tidak menyukai alkohol.
“Ah! Ya! Ya! Aku menyukainya!” matanya berbinar-binar setelah mendengarnya. “tidak salah aku memilihmu sebagai penerus clan ini!”
“Apa? penerus?” tanya Cronic yang tidak mengerti dengan apa yang Kaizer katakan.
“Itu…,” Kaizer diam sejenak lalu melanjutkan. “ah tidak perlu dipikirkan, maksudku regenerasi harus tetap dilakukan bukan?” ucapnya sambil tertawa.
Dengan pembiayaan dari Golden Clan, maka tempat yang tadinya kosong pun kini berubah menjadi sebuah bar dan caffe yang minimalis, dengan beberapa bagian yang diubah sedikit menggunakan para tukang yang sama dengan yang membuat ruangan bawah tanah itu. Dalam rentang waktu renovasi, Kaizer dan Cronic sudah mulai memburu, ada satu dua monster yang berhasil dimusnahkan, namun mereka belum menemukan siapa indukan untuk monster jenis baru ini.
“Hei, selamat datang!” ucap pegawai yang direkrut setelah tempat ini selesai direnovasi.
“Kau tidak merasa capek kerja seorang diri….,” Kaizer coba mengingat karyawannya ini.
“Gonzalo! Namaku Gonzalo,” jawab karyawan berbadan besar berkulit gelap ini. “tidak tuan, pelanggannya belum terlalu banyak beberapa hari ini,” lanjutnya dengan nada orang yang polos.
Kaizer mendekat ke arah Cronic, lalu membisikan sesuatu. “Cobalah untuk sedikit lebih terbuka, dia kan seumuran mu, yah….,” Cronic hanya menjawabnya dengan anggukan secara pelan. “baiklah! Jika kau membutuhkan bantuan, ada Cronic yang siap membantumu,” sambil menepuk pundak Cronic dengan cukup keras hingga membuatnya tidak nyaman.
“Apa dia tidak tertekan memiliki bos yang seperti itu?” ucap Gonzalo dalam hati.
Para anggota yang tersisa tetap menjalani kehidupannya seperti biasa, mereka masih bahu-membahu melayani pelanggan yang datang untuk menikmati kopi maupun hidangan lainya di Wilson Bar and Caffe. Kecuali Vivian yang sekarang masih aktif walaupun koneksinya ke kepolisian setempat harus terputus juga. Perbedaannya kini hanyalah tidak ada daftar resmi dan ia bekerja secara acak tuk menumpas kriminal.
Suasana caffe pagi ini masih sepi, karena papan petunjuknya belum diputar oleh karyawan yaitu Solo ataupun Djohan. Ditemani oleh Gonzalo dan juga Lio mereka berkumpul, tanpa kehadiran tuan Stam nampaknya mereka sedikit kehilangan arah dan motivasi.
“Pertemuan itu, nampaknya mereka melakukan pembicaraan yang serius,” ucap Solo.
“Mungkin, karena sejak belasan tahun lalu, baru kali ini tuan Stam bepergian lama, biasanya hanya satu hari lalu keesokannya sudah tiba lagi ke sini,” timpah Gonzalo.
“Oh iya, kenapa senior Sterling yang dipinta untuk menemaninya? Bukankah kau rekrutan paling pertama?” tanya Djohan. “karena senior pernah bercerita, ketika bergabung kau sudah menjadi penjaga meja bar,” melengkapi dengan pernyataan.
“Ya, aku memang orang yang pertama kali meminta untuk bergabung,” sontak membuat semuanya terkejut, karena baru kali ini Gonzalo mengungkapkan sebuah fakta yang jarang terdengar.
“Meminta tuk bergabung?” tanya Solo.
“Ya, semuanya bermula setelah tragedi itu, peristiwa yang mengubah sosok tuan Stam menjadi lebih dingin….,” semuanya memperhatikan dengan seksama, Gonzalo mulai bercerita.
Waktu itu di bulan desember, salju turun lebat, membuat Surban City menjadi putih tuk sementara, menutup warna hitam yang sudah melekat. Kaizer dan juga Cronic sampai di sebuah kota yang menurut salah satu Black Clan Beaters yang bertugas, Allison. Mengatakan bahwa Surban City sudah dipenuhi oleh monster-monster yang jumlahnya setiap harinya terus bertambah dan terus memakan korban. Untuk melakukan pembersihan, maka Kaizer selaku ketua Silver Clan menawarkan dirinya.
Dari laporan Allison, Beaters yang ada di sini berwarna hijau dan juga coklat. Berbeda dengan laporan Bronze Clan yang membasmi para Beaters berwarna oranye yang menempati daerah benua biru lainnya. Lebih spesifik, Allison membeberkan bahwa monster ini lebih suka berkeliaran di malam hari tuk memburu. Selain itu juga mereka kerap kali merubah seseorang menjadi sosok monster dengan menyuntikan parasit melalui cakarnya, sebuah informasi yang benar-benar baru setelah berpuluh-puluh tahun lamanya.
Kaizer sudah memesan taksi, lalu mobil itu membawanya ke sebuah daerah di pertengahan kota. Banyak gedung kantoran dan juga terlihat manusia yang berlalu-lalang. Di waktu yang masih pagi keadaan kota sangatlah sibuk. Mobil berhenti dipersimpangan jalan, diseberangnya terdapat sebuah bangunan dua lantai yang cukup besar berdiri kokoh.
“Tempat ini sudah dikerjakan atau belum yah?” ucap Kaizer dalam hati, matanya mengecil.
“Tuan Kaizer, jadi ini akan menjadi markas kita?” tanya Cronic.
“Ah, aku merasa canggung dipanggil tuan, lagipula kau kan bukan pelayanku,” ucapnya merasa terganggu, namun juniornya itu memasang muka serius. “iya, ini menjadi tempat tinggal sementara, setidaknya sampai semua masalah selesai,” Kaizer berjalan menuju bangunan itu, ketika sudah sampai didepannya, ia meraih kunci yang ada di saku jaket panjangnya. “kau siap?” Cronic mengangguk, lalu Kaizer membukakan pintunya.
Sebuah bangunan luas yang kosong melompong terpampang dihadapan mereka berdua. Yang menarik pandangan hanyalah sebuah tangga menuju lantai atas. Kaizer memperhatikan setiap sudut ruangan, dengan mengangguk tandanya di lantai bawah ini semua sudah sesuai dengan keinginannya. Tingkah lakunya yang ingin banyak tahu mondar-mandir ke sana kemari sangat berbanding terbalik dengan Cronic yang terdiam terpaku. Sesekali matanya melirik, namun tidak ada apa-apa karena masih kosong.
“Ah ini jalan menuju lantai rahasia,” sebuah tangga di area dapur membawa Kaizer ke area bawah tanah. Tidak begitu banyak anak tangga yang dilalui, ketika sampai di bawah ada sebuah lorong panjang yang di sisi-sisinya terdapat pipa-pipa yang panjang.
Langkahnya sampai ke ujung lorong di mana terdapat sebuah pintu, Kaizer tersenyum lebar tidak sabar dengan apa yang akan dilihatnya nanti. Tangannya bergetar hebat, daun pintu yang sudah digenggam pun ditariknya dan pintu terbuka. Cahaya besar menampar wajah Kaizer ketika sebuah lapang besar tersaji di depan matanya. Ia bahkan terheran-heran bagaimana pekerja ini mampu membuatnya lebih dari apa yang diinginkannya.
“Tidak bisa! Aku harus memberikan bonus besar pada para pekerja!” semangatnya menggebu. “lapangan besar ini---,” merasa seperti ada sosok yang berdiri di belakangnya, Kaizer membalikan badan dan ternyata Cronic yang ada di belakang. “ah……mengagetkan saja…,” dirinya lega.
Cronic mengintip ke dalam, ia juga tidak menyangka bahwa ada lapangan luas begini di atas bangunan yang bahkan kalah luasnya. “Tempat ini untuk apa?”
“Hm, aku sudah menunggumu menanyakan itu. Ini tempat untuk latihan kita!” melebarkan kedua tangannya, namun Cronic tampaknya tidak berkesan. Melihat pimpinannya yang langsung lesu, ia berinisiatif menepuk tangan, setidaknya untuk menghargai Kaizer.
Selesai di bawah mereka kembali ke atas, dan kali ini mencoba untuk melihat lantai dua. Lantai ini terdapat beberapa kamar yang bisa digunakan, hal ini lagi-lagi sesuai dengan pesanan Kaizer. Melakukan pembersihan di kota besar seperti ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Lagipula mereka tidak seperti Bronze Clan yang berperilaku layaknya pemburu.
“Kau bisa memilih kamarmu, silahkan….,” mempersilahkan Cronic untuk memilih kamar yang disukainya. Ia memilih tepat diseberang kamar Kaizer.
Keduanya kembali ke bawah, duduk di lantai untuk menyiapkan rencana selanjutnya. Hal pertama yang akan dilakukan adalah merubah tempat kosong ini menjadi tempat kamuflase sebagai penyamaran sekaligus tempat yang bisa dijadikan tempat bertukarnya informasi tanpa adanya kecurigaan dari warga sekitar.
“Ah! Bagaimana kalau tempat bermain judi?” ucap Kaizer
Cronic menatapnya tajam, tempat judi membutuhkan banyak biaya untuk membuatnya, belum lagi banyak orang-orang yang suka mabok datang untuk bersenang-senang tanpa memperdulikan orang lain.
“Aku tidak setuju, tempat berjudi terlalu mencolok, lagipula itu bisa memecah konsetrasi kita dalam melaksanakan tugas di sini,” jawab Cronic yang membuat atasannya itu diam dan mengangguk layaknya seperti murid yang diberitahu sesuatu oleh gurunya.
Ide-ide aneh lainnya mulai bermunculan dari mulut Kaizer, sampai Cronic cukup sebal mendengarnya. Padahal banyak ide sederhana yang dapat di mulai dengan biaya yang tidak begitu mahal, dan tentunya ide tersebut dapat membuat mereka cepat berbaur dengan warga sekitar untuk mengurangi kecurigaan. Akhirnya Cronic mengeluarkan ide yang simpel, yaitu membuat bar sekaligus caffe bagi yang tidak menyukai alkohol.
“Ah! Ya! Ya! Aku menyukainya!” matanya berbinar-binar setelah mendengarnya. “tidak salah aku memilihmu sebagai penerus clan ini!”
“Apa? penerus?” tanya Cronic yang tidak mengerti dengan apa yang Kaizer katakan.
“Itu…,” Kaizer diam sejenak lalu melanjutkan. “ah tidak perlu dipikirkan, maksudku regenerasi harus tetap dilakukan bukan?” ucapnya sambil tertawa.
Dengan pembiayaan dari Golden Clan, maka tempat yang tadinya kosong pun kini berubah menjadi sebuah bar dan caffe yang minimalis, dengan beberapa bagian yang diubah sedikit menggunakan para tukang yang sama dengan yang membuat ruangan bawah tanah itu. Dalam rentang waktu renovasi, Kaizer dan Cronic sudah mulai memburu, ada satu dua monster yang berhasil dimusnahkan, namun mereka belum menemukan siapa indukan untuk monster jenis baru ini.
“Hei, selamat datang!” ucap pegawai yang direkrut setelah tempat ini selesai direnovasi.
“Kau tidak merasa capek kerja seorang diri….,” Kaizer coba mengingat karyawannya ini.
“Gonzalo! Namaku Gonzalo,” jawab karyawan berbadan besar berkulit gelap ini. “tidak tuan, pelanggannya belum terlalu banyak beberapa hari ini,” lanjutnya dengan nada orang yang polos.
Kaizer mendekat ke arah Cronic, lalu membisikan sesuatu. “Cobalah untuk sedikit lebih terbuka, dia kan seumuran mu, yah….,” Cronic hanya menjawabnya dengan anggukan secara pelan. “baiklah! Jika kau membutuhkan bantuan, ada Cronic yang siap membantumu,” sambil menepuk pundak Cronic dengan cukup keras hingga membuatnya tidak nyaman.
“Apa dia tidak tertekan memiliki bos yang seperti itu?” ucap Gonzalo dalam hati.
69banditos dan gabrielllllllll memberi reputasi
3
Kutip
Balas