- Beranda
- Stories from the Heart
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
...
TS
gitartua24
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
"....and after all, we just have to move on."

"Terkadang, gue ingin menyesali pilihah hidup yang sudah gue ambil. Kemudian, gue menyadari apa yang gue miliki sekarang. Apakah ada jaminan kalau gue akan lebih bahagia."
Ketika sampai di rumah sekitar pukul satu malam, gue langsung beranjak menuju kamar setelah melepas sepatu dan meninggalkannya di pintu depan rumah. Di dalam kamar, kasur dengan sprei berwarna coklat tersusun rapih beserta selimut dengan warna senada yang masih terlipat. Pasti nyokap yang beresin, pikir gue.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Prolog
Tahun Pertama
Part 1 - Encounter
Part 2 - A 'Lil Chat
Part 3 - Introduction
Part 4 - Her Name Is...
Part 5 - Norwegian Wood
Part 6 - Invitation
Part 7 - Not Ready For Collage
Part 8 - Saperate
Part 9 - Request
Part 10 - It's Just The First day Of Collage
Part 11 - Troublemaker
Part 12 - In The Rains
Part 13 - Old Time Sake
Part 14 - Long Night
Part 15 - All Night Long
Part 16 - Hangover Girl
Part 17 - Morning Talk
Part 18 - A Book That Change
Part 19 - Where Are We Going
Part 20 - A Story About Past
Part 21 - Don't Cross The Line
Part 22 - Some Kind A Favor
Part 23 - Mission Almost Impossible
Part 24 - The Game We Play
Part 25 - Game Of Heart
Diubah oleh gitartua24 03-04-2024 07:12
ismetbakri49508 dan 40 lainnya memberi reputasi
39
25.3K
163
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#40
Part 12
In The Rains
“Gue bilang juga apa kan, itu orang emang nggak bisa baca situasi.”
Gue lagi menikmati suapan pertama indomie yang gue pesan ketika Kirana ngedumel tentang kelakuan anggota kelompok kita beberapa saat yang lalu. Saat ini gue sedang berada di warkop yang ada di area kos-kosan Kirana. Setelah menyelesaikan apa-apa aja yang perlu diselesaikan kelompok gue memutuskan untuk membubarkan diri.
Sebenernya gue mau pesen makanan di minimarket Jepang tempat kita ngumpul sebelumnya. Kayaknya enak juga makan ayam goreng karage pake saus ala Jepang, tapi ketika gue meilhat harganya gue jadi mengurungkan niat, terlebih lagi dengan porsi yang nggak seberapa.
Sebenernya lagi, setelah nganterin Kirana balik ke kosannya, gue berniat untuk langsung cabut. Tapi entah kenapa Kirana menahan gue untuk menemaninya sementara waktu, ada yang mau ia bicarakan katanya. Awalnya Kirana mengajak untuk memesan makanan secara delivery dan makan di kamarnya, namun gue menolaknya dengan halus dengan mengatakan ingin merokok.
“Masa lagi urusan penting dia ngajak cabut buat beli minum, mana pake maksa lagi.” Lanjut Kirana dengan suara berapi-api. Beberapa orang (mungkin tiga) di sekitar kita bahkan sampai menengok ke arah kami.
“Emang dia maksa gimana?” Tanya gue penasaran. Kayaknya gue melewatkan hal ini karena nggak terlalu memperhatikan ke arah belakang.
“Gitu deh, si Aldo sampe ngerengek-rengek berkali-kali gitu. Katanya haus, panas. Semuanya juga kepanasan sama kehausan.” Kirana menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian membuang asapnya. “Maksud gue, kalau haus yaa jalan aja sendiri, nggak usah berisik. Udah gede juga.”
“Tadi juga gue bilang ke dia gitu sih.”
“Lo bilang gitu doang ke dia?”
“Iya.”
“Harusnya lo bilang apa kek gitu, Tre. Kasih hukuman atau ancem apa, kek.”
“Biarin aja, dari pada suasana kelompok jadi nggak enak.” Sebenernya gue doang sih yang ngerasa nggak enak jadinya.
“Tapi kalau dia nanti gitu lagi gimana? Jangan sampe dia ngebebanin kelomppok.”
“Itu dia yang gue takutin kalo negurnya berlebihan, yang ada dia malah bisa jadi makin rebek.”
“Jangan sampe dia nggak ngerjain apa-apa, nggak terima gue.”
“Sebenernya gapapa juga sih kalau dia nggak ada kontribusinya, selama nggak ngegerecokin.”
“Nah, itu dia. Setuju gue, setuju.”
Gue ngobrol-ngobrol di warung yang ada di kosan Kirana sampai jam tiga lewat, setelah itu gue izin pergi ke kelas terakhir di hari ini yang berada di gedung kampus yang bukan biasa gue datangi. Gedung kampus yang memang mirip kampus. Itu artinya gue harus mencari parkiran motor lagi.
*****
Sesaat setelah kelas terakhir hari ini bubar, ada pesan masuk melalui line. Gue baru aja keluar dari kelas dan masih bercengkramah dengan teman-teman yang lain. Buru-buru gue ngeluarin handphone dari kantong, biasanya nggak pernah ada yang ngechat gue di jam segini.
Di layar handphone gue tertulis nama si pengirim pesan, Cindy. Gue bisa mennebak apa isi dari pesan tersebut. Seminggu belakangan ini Cindy sering nanyain jam pergi dan pulang kuliah gue. Tujuannya cuman satu, minta nebeng. Meskipun kita berada di kampus yang sama, tapi jadwalnya nggak kayak sma lagi. Gue dan Cindy punya jadwal masing-masing karena berbeda jurusan.
Kalau nganterin balik, sebenernya gue bisa nunggu di suatu tempat. Tapi di awal-awal semester gua masih jadi mahasiswa ‘kupu-kupu’, dan belum punya tempat dan temen-temen nongkrong sehabis kelas. Kalau jemput pas perginya gue agak males kalau harus nunggu satu matkul kosong buat bela-belain jemput Cindy. Terlebih lagi, rumah Cindy dan rumah gue nggak satu arah kala dari kampus.
Gue membuka pesan yang dikirimkan Cindy, ia menanyakan posisi gue sekarang. Kemudian gue membalasnya dengan memberitahukan posisi gue sekarang.
“Bareng balik dong, Tre.” Bener kan dugaan gue. Tapi karena gue juga udah mau pulang apa salahnya nganterin temen balik. Udah lama juga gue nggak ngobrol bareng dia.
“Lo dimana sekarang? Gue tunggu di lawson depan kampus.”
“Oke.” Balas Cindy. Setelah itu gue kembali memasukkan handphone gue ke dalam saku celana dan berjalan menuju mini market tempat gue memarkirkan motor.
Sore ini cuaca mendung. Awan-awannya berwarna abu-abu pekat menandakan hujan akan segera turun. Gue udah punya firasat ini sebelumnya. Siang tadi matahari lagi terik-teriknya, tapi gue merasakan udara yang lembab nggak ada angin. Gue nyebut cuaca kayak gini dengan cuaca pembawa penyakit. Kalau siang tadi gue minum air es pasti gue langsung radang, kalau pulang nanti gue kehujanan gue harus keramas biar nggak meriang.
Jujur aja, gue nggak suka cuaca kayak begini. Terlebih lagi gue nggak membiasakan diri buat bawa jas hujan. Tapi gue lebih nggak suka lagi kalau mendungnya pas gue masih ada di rumah dan harus keluar. Biasanya kalau kehujanan gue bakalan menunggu sampai hujannya benar-benar reda, nggak peduli gue bakalan telat atau enggak.
Kalau hujan tapi tujuan akhir gue ke rumah, biasanya akan gue terobos, nggak peduli kebasahan atau enggak. Tapi karena gue bareng sama Cindy, otomatis gue akan menunggu sampai hujan reda.
Tiba di mini market yang gue tentukan, gue masih belum menemukan keberadaan Cindy. Mungkin masih ada yang harus dia selesaikan. Perasaan gelisah mulai menyerang diri gue. Takut kehujanan, takut macet. Beberapa detik sekali gue melihat ke arah jam tangan, padahal gue yakin waktu gue menunggu cuman sebentar.
“Lama banget lo.” Gerutu gue saat Cindy hadir.
“Sorry, sorry, tadi ada urusan dulu.”
Gue segera mengeluarkan motor dari tempat parkir dengan buru-buru karena takut hujan turun, kemudian memberika sejumlah uang yang diluar harga normal parkir liar ke tukang parkir ilegal yang kemungkinan akamsi. Cindy segera naik ke jok belakang dan gue mulai melaju.
“Ini gapapa Tre, ga pake helm?”
“Gapapa, kalau ada polisi ya lo turun.” Jawab gue bercanda. Cindy nggak menimpali ucapan gue, malahan menepuk pundak gue dengan cukup keras.
Gue baru memacu motor beberapa menit meninggalkan kawasan kampus ketika tiba-tiba rintik hujan mulai turun. Awalnya gue berharap hujannya belum terlalu deres selama di perjalanan, atau malah lebih bagus lagi berenti. Tapi waktu gue lihat awan dari arah tujuan gue, kayaknya mustahil rintik hujannya berhenti.
Bener aja, belum jauh ngelewatin pertigaan rawa belong hujan deres turun. Semua sepeda motor yang pengendaranya belum siap-siap memakai jas hujan langsung pada melipir ke trotoar.
Gue belum bisa menemukan tempat yang cocok untuk memberhentikan motor dan berteduh dari hujan, kemungkinan akan tetep tampias atau kebasahan kalau gue berhenti di sejumlah tempat yang gue lewati. Selain itu beberapa spot juga sudah diisi oleh pengendara motor lain. Gue sedikit memaksakan diri waktu hujan masih rintik-rintik.
Gue segera mengarahkan motor ke sebuah bangunan dekat tikungan. Bangunan yang sepertinya digunakan untuk sebuah toko namun saat gue dan Cindy berteduh sedang tutup. Memang lokasinya cukup strategis, bahkan ada atap untuk menutupi motor gue juga. Tapi karena gue sedikit telat buat nyari tempat neduh jadi sedikit kebasahan juga. Gue juga jadi nggak enak sama Cindy karena dia ikut kebasahan. Tapi kayaknya dia nggak terlalu khawatir karena dia nggak komentar apa-apa dari tadi.
Cindy segera mencari tempat duduk sementara gue masih membenahi posisi helm gue di motor. Gue buka tas yang gue taro di dada buat ngambil rokok, tapi sayangnya rokok gue sudah sedikit kebasahan. Jadi gue urungkan niat dan duduk nggak jauh dari posisi Cindy duduk.
Terjadi kebisuan antara kita berdua selama beberapa saat. Pada dasarnya gue emang jarang atau nggak bisa ngobrol sama cewek sih. Sebenernya sama semua orang juga, lebih tepatnya gue agak sungkan bertanya karena takut tertanyaan gue terlalu pribadi dan ngebuat mereka tersinggung.
Tapi berduaan tanpa bicara satu kalimat pun rasanya canggung juga. Kayak gue selalu kepikiran buat ngelakuin sesuatu supaya suasana jadi cair. Sayangnya ada suatu hal yang ngebuat gue menahan diri buat ngobrol sama Cindy.
Dulu, entah gimana mulainya, gue yang di kelas sebelas sekelas sama dia sempet ‘dicie-ciein’ sama anak kelas gue yang lain. Gue cukup tahu gimana rasanya digituan, apalagi untuk orang yang menjadi ‘pasangan’ gue di dalam ledekat tersebut. Itu juga yang sepertinya ngebuat Putri dulu illfeel sama gue, dan gue nggak mau ngebuat Cindy nggak nyaman.
Alih-alih gue yang terperangkap dengan ketakutan gue, Cindy yang akhirnya malah membuka obrolan.
“Gimana kuliah lo, Tre?” Gue melihat ke arahnya yang sedang melihat ke arah gue.
“Masih belum gimana-gimana sih, tapi ada satu matkul yang udah mulai ngoding.”
“Emangnya lo jurusan apaan sih? lupa gue.”
“IT.” Jawab gue. “Kalo lo? Lo sendiri gimana kuliahnya?”
“Sumpah ribet banget!” Sahut Cindy antusias. “Baru seminggu barang-barang yang gue bawa udah banyak banget, yang kertas lah, yang penggaris gede lah.”
“Lo design kan?”
“Iya.”
“Gue kira langsung pake komputer gitu.”
“Enggak lah, tetep manual gitu.”
“Oiya, pasti tugas pertamanya kayak gambar nirmana gitu ya.”
“Kok lo tau?”
“Gue dulu sempet mau ngambil desing juga.”
“Kok nggak jadi, tau gitu kan biar ada temennya gue.”
“Nggak tau gue kenapa tiba-tiba jadi ngambil IT.” Kata gue disusul dengan tawa kecut. “Bukannya nirmana tinggal gambar item putih gitu doang yaa?”
“Tetep aja kan harus presisi, belum lagi garis-garis item putihnya juga nggak sedikit.”
Gue mengangguk-angguk tanda mengerti. “Btw, lo matkul cb juga disuruh ngajar paud kan Cin?”
“Iya, lo juga kan?”
Gue mengangguk lagi. “Gimana, udah dapet paudnya?”
“Udah, kemaren banget gue sama kelompok gue nyari.” Jaleasnya. “Kalo lo?”
“Baru aja tadi siang.”
Kebisuan kembali menghampiri kita berdua. Saat Cindy kehabisa kata-katanya, begitu juga dengan gue. Hujan belum menunjukkan tanda-tanda berhenti, malahan makin kencang disertai angin yang membuat cipratan air menghampiri gue yang duduk nggak sedalam Cindy.
“Ngomong-ngomong Putri apa kabar Tre?”
Pertanyaan Cindy membuat gue diam terlebih dahulu sebelum menemukan kata-kata yang cocok untuk ngebalesnya. Sayangnya kata-kata tersebut nggak muncul. “Yaelah, Cin, masih aja dibahas.”
Mendengar gue yang nggak antusian menjawab pertanyaan darinya malah membuat Cindy tertawa. “Masih belom move on lo ya.” Ledek Cindy.
“Au amat dah.” Gerutu gue. “Masih awet ya dia sama cowoknya.”
“Masih lah, baru aja setahun.”
Seketika obrolan menjadi lancar ketika gue dan Cindy membahas tentang masa lalu, masa-masa sama lebih tepatnya. Bagaimana perasaan gue dan Cindy ketika pertama kali sekelas, kejadian-kejadian lucu, dan memori-memori yang nggak bisa dilupakan.
In The Rains
“Gue bilang juga apa kan, itu orang emang nggak bisa baca situasi.”
Gue lagi menikmati suapan pertama indomie yang gue pesan ketika Kirana ngedumel tentang kelakuan anggota kelompok kita beberapa saat yang lalu. Saat ini gue sedang berada di warkop yang ada di area kos-kosan Kirana. Setelah menyelesaikan apa-apa aja yang perlu diselesaikan kelompok gue memutuskan untuk membubarkan diri.
Sebenernya gue mau pesen makanan di minimarket Jepang tempat kita ngumpul sebelumnya. Kayaknya enak juga makan ayam goreng karage pake saus ala Jepang, tapi ketika gue meilhat harganya gue jadi mengurungkan niat, terlebih lagi dengan porsi yang nggak seberapa.
Sebenernya lagi, setelah nganterin Kirana balik ke kosannya, gue berniat untuk langsung cabut. Tapi entah kenapa Kirana menahan gue untuk menemaninya sementara waktu, ada yang mau ia bicarakan katanya. Awalnya Kirana mengajak untuk memesan makanan secara delivery dan makan di kamarnya, namun gue menolaknya dengan halus dengan mengatakan ingin merokok.
“Masa lagi urusan penting dia ngajak cabut buat beli minum, mana pake maksa lagi.” Lanjut Kirana dengan suara berapi-api. Beberapa orang (mungkin tiga) di sekitar kita bahkan sampai menengok ke arah kami.
“Emang dia maksa gimana?” Tanya gue penasaran. Kayaknya gue melewatkan hal ini karena nggak terlalu memperhatikan ke arah belakang.
“Gitu deh, si Aldo sampe ngerengek-rengek berkali-kali gitu. Katanya haus, panas. Semuanya juga kepanasan sama kehausan.” Kirana menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian membuang asapnya. “Maksud gue, kalau haus yaa jalan aja sendiri, nggak usah berisik. Udah gede juga.”
“Tadi juga gue bilang ke dia gitu sih.”
“Lo bilang gitu doang ke dia?”
“Iya.”
“Harusnya lo bilang apa kek gitu, Tre. Kasih hukuman atau ancem apa, kek.”
“Biarin aja, dari pada suasana kelompok jadi nggak enak.” Sebenernya gue doang sih yang ngerasa nggak enak jadinya.
“Tapi kalau dia nanti gitu lagi gimana? Jangan sampe dia ngebebanin kelomppok.”
“Itu dia yang gue takutin kalo negurnya berlebihan, yang ada dia malah bisa jadi makin rebek.”
“Jangan sampe dia nggak ngerjain apa-apa, nggak terima gue.”
“Sebenernya gapapa juga sih kalau dia nggak ada kontribusinya, selama nggak ngegerecokin.”
“Nah, itu dia. Setuju gue, setuju.”
Gue ngobrol-ngobrol di warung yang ada di kosan Kirana sampai jam tiga lewat, setelah itu gue izin pergi ke kelas terakhir di hari ini yang berada di gedung kampus yang bukan biasa gue datangi. Gedung kampus yang memang mirip kampus. Itu artinya gue harus mencari parkiran motor lagi.
*****
Sesaat setelah kelas terakhir hari ini bubar, ada pesan masuk melalui line. Gue baru aja keluar dari kelas dan masih bercengkramah dengan teman-teman yang lain. Buru-buru gue ngeluarin handphone dari kantong, biasanya nggak pernah ada yang ngechat gue di jam segini.
Di layar handphone gue tertulis nama si pengirim pesan, Cindy. Gue bisa mennebak apa isi dari pesan tersebut. Seminggu belakangan ini Cindy sering nanyain jam pergi dan pulang kuliah gue. Tujuannya cuman satu, minta nebeng. Meskipun kita berada di kampus yang sama, tapi jadwalnya nggak kayak sma lagi. Gue dan Cindy punya jadwal masing-masing karena berbeda jurusan.
Kalau nganterin balik, sebenernya gue bisa nunggu di suatu tempat. Tapi di awal-awal semester gua masih jadi mahasiswa ‘kupu-kupu’, dan belum punya tempat dan temen-temen nongkrong sehabis kelas. Kalau jemput pas perginya gue agak males kalau harus nunggu satu matkul kosong buat bela-belain jemput Cindy. Terlebih lagi, rumah Cindy dan rumah gue nggak satu arah kala dari kampus.
Gue membuka pesan yang dikirimkan Cindy, ia menanyakan posisi gue sekarang. Kemudian gue membalasnya dengan memberitahukan posisi gue sekarang.
“Bareng balik dong, Tre.” Bener kan dugaan gue. Tapi karena gue juga udah mau pulang apa salahnya nganterin temen balik. Udah lama juga gue nggak ngobrol bareng dia.
“Lo dimana sekarang? Gue tunggu di lawson depan kampus.”
“Oke.” Balas Cindy. Setelah itu gue kembali memasukkan handphone gue ke dalam saku celana dan berjalan menuju mini market tempat gue memarkirkan motor.
Sore ini cuaca mendung. Awan-awannya berwarna abu-abu pekat menandakan hujan akan segera turun. Gue udah punya firasat ini sebelumnya. Siang tadi matahari lagi terik-teriknya, tapi gue merasakan udara yang lembab nggak ada angin. Gue nyebut cuaca kayak gini dengan cuaca pembawa penyakit. Kalau siang tadi gue minum air es pasti gue langsung radang, kalau pulang nanti gue kehujanan gue harus keramas biar nggak meriang.
Jujur aja, gue nggak suka cuaca kayak begini. Terlebih lagi gue nggak membiasakan diri buat bawa jas hujan. Tapi gue lebih nggak suka lagi kalau mendungnya pas gue masih ada di rumah dan harus keluar. Biasanya kalau kehujanan gue bakalan menunggu sampai hujannya benar-benar reda, nggak peduli gue bakalan telat atau enggak.
Kalau hujan tapi tujuan akhir gue ke rumah, biasanya akan gue terobos, nggak peduli kebasahan atau enggak. Tapi karena gue bareng sama Cindy, otomatis gue akan menunggu sampai hujan reda.
Tiba di mini market yang gue tentukan, gue masih belum menemukan keberadaan Cindy. Mungkin masih ada yang harus dia selesaikan. Perasaan gelisah mulai menyerang diri gue. Takut kehujanan, takut macet. Beberapa detik sekali gue melihat ke arah jam tangan, padahal gue yakin waktu gue menunggu cuman sebentar.
“Lama banget lo.” Gerutu gue saat Cindy hadir.
“Sorry, sorry, tadi ada urusan dulu.”
Gue segera mengeluarkan motor dari tempat parkir dengan buru-buru karena takut hujan turun, kemudian memberika sejumlah uang yang diluar harga normal parkir liar ke tukang parkir ilegal yang kemungkinan akamsi. Cindy segera naik ke jok belakang dan gue mulai melaju.
“Ini gapapa Tre, ga pake helm?”
“Gapapa, kalau ada polisi ya lo turun.” Jawab gue bercanda. Cindy nggak menimpali ucapan gue, malahan menepuk pundak gue dengan cukup keras.
Gue baru memacu motor beberapa menit meninggalkan kawasan kampus ketika tiba-tiba rintik hujan mulai turun. Awalnya gue berharap hujannya belum terlalu deres selama di perjalanan, atau malah lebih bagus lagi berenti. Tapi waktu gue lihat awan dari arah tujuan gue, kayaknya mustahil rintik hujannya berhenti.
Bener aja, belum jauh ngelewatin pertigaan rawa belong hujan deres turun. Semua sepeda motor yang pengendaranya belum siap-siap memakai jas hujan langsung pada melipir ke trotoar.
Gue belum bisa menemukan tempat yang cocok untuk memberhentikan motor dan berteduh dari hujan, kemungkinan akan tetep tampias atau kebasahan kalau gue berhenti di sejumlah tempat yang gue lewati. Selain itu beberapa spot juga sudah diisi oleh pengendara motor lain. Gue sedikit memaksakan diri waktu hujan masih rintik-rintik.
Gue segera mengarahkan motor ke sebuah bangunan dekat tikungan. Bangunan yang sepertinya digunakan untuk sebuah toko namun saat gue dan Cindy berteduh sedang tutup. Memang lokasinya cukup strategis, bahkan ada atap untuk menutupi motor gue juga. Tapi karena gue sedikit telat buat nyari tempat neduh jadi sedikit kebasahan juga. Gue juga jadi nggak enak sama Cindy karena dia ikut kebasahan. Tapi kayaknya dia nggak terlalu khawatir karena dia nggak komentar apa-apa dari tadi.
Cindy segera mencari tempat duduk sementara gue masih membenahi posisi helm gue di motor. Gue buka tas yang gue taro di dada buat ngambil rokok, tapi sayangnya rokok gue sudah sedikit kebasahan. Jadi gue urungkan niat dan duduk nggak jauh dari posisi Cindy duduk.
Terjadi kebisuan antara kita berdua selama beberapa saat. Pada dasarnya gue emang jarang atau nggak bisa ngobrol sama cewek sih. Sebenernya sama semua orang juga, lebih tepatnya gue agak sungkan bertanya karena takut tertanyaan gue terlalu pribadi dan ngebuat mereka tersinggung.
Tapi berduaan tanpa bicara satu kalimat pun rasanya canggung juga. Kayak gue selalu kepikiran buat ngelakuin sesuatu supaya suasana jadi cair. Sayangnya ada suatu hal yang ngebuat gue menahan diri buat ngobrol sama Cindy.
Dulu, entah gimana mulainya, gue yang di kelas sebelas sekelas sama dia sempet ‘dicie-ciein’ sama anak kelas gue yang lain. Gue cukup tahu gimana rasanya digituan, apalagi untuk orang yang menjadi ‘pasangan’ gue di dalam ledekat tersebut. Itu juga yang sepertinya ngebuat Putri dulu illfeel sama gue, dan gue nggak mau ngebuat Cindy nggak nyaman.
Alih-alih gue yang terperangkap dengan ketakutan gue, Cindy yang akhirnya malah membuka obrolan.
“Gimana kuliah lo, Tre?” Gue melihat ke arahnya yang sedang melihat ke arah gue.
“Masih belum gimana-gimana sih, tapi ada satu matkul yang udah mulai ngoding.”
“Emangnya lo jurusan apaan sih? lupa gue.”
“IT.” Jawab gue. “Kalo lo? Lo sendiri gimana kuliahnya?”
“Sumpah ribet banget!” Sahut Cindy antusias. “Baru seminggu barang-barang yang gue bawa udah banyak banget, yang kertas lah, yang penggaris gede lah.”
“Lo design kan?”
“Iya.”
“Gue kira langsung pake komputer gitu.”
“Enggak lah, tetep manual gitu.”
“Oiya, pasti tugas pertamanya kayak gambar nirmana gitu ya.”
“Kok lo tau?”
“Gue dulu sempet mau ngambil desing juga.”
“Kok nggak jadi, tau gitu kan biar ada temennya gue.”
“Nggak tau gue kenapa tiba-tiba jadi ngambil IT.” Kata gue disusul dengan tawa kecut. “Bukannya nirmana tinggal gambar item putih gitu doang yaa?”
“Tetep aja kan harus presisi, belum lagi garis-garis item putihnya juga nggak sedikit.”
Gue mengangguk-angguk tanda mengerti. “Btw, lo matkul cb juga disuruh ngajar paud kan Cin?”
“Iya, lo juga kan?”
Gue mengangguk lagi. “Gimana, udah dapet paudnya?”
“Udah, kemaren banget gue sama kelompok gue nyari.” Jaleasnya. “Kalo lo?”
“Baru aja tadi siang.”
Kebisuan kembali menghampiri kita berdua. Saat Cindy kehabisa kata-katanya, begitu juga dengan gue. Hujan belum menunjukkan tanda-tanda berhenti, malahan makin kencang disertai angin yang membuat cipratan air menghampiri gue yang duduk nggak sedalam Cindy.
“Ngomong-ngomong Putri apa kabar Tre?”
Pertanyaan Cindy membuat gue diam terlebih dahulu sebelum menemukan kata-kata yang cocok untuk ngebalesnya. Sayangnya kata-kata tersebut nggak muncul. “Yaelah, Cin, masih aja dibahas.”
Mendengar gue yang nggak antusian menjawab pertanyaan darinya malah membuat Cindy tertawa. “Masih belom move on lo ya.” Ledek Cindy.
“Au amat dah.” Gerutu gue. “Masih awet ya dia sama cowoknya.”
“Masih lah, baru aja setahun.”
Seketika obrolan menjadi lancar ketika gue dan Cindy membahas tentang masa lalu, masa-masa sama lebih tepatnya. Bagaimana perasaan gue dan Cindy ketika pertama kali sekelas, kejadian-kejadian lucu, dan memori-memori yang nggak bisa dilupakan.
unhappynes dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Tutup
