- Beranda
- Stories from the Heart
Ocult Around You
...
TS
taosipudan
Ocult Around You
"Karena setiap tempat punya sejarah dan setiap orang punya masa lalu"

Prolog
Jodoh...
Mungkin itu yang pertama kali ada di benak Gideon ketika mendapatkan
kosan baru yang nyaman, luas dan lengkap tapi aman di kantong.
Setelah kecelakaan bus yang dialaminya beberapa minggu lalu,
memulai suasana baru di kosan sekarang sepertinya pilihan yang tepat, pikirnya.
Namun kehadirannya di rumah kos baru ternyata tidak baik-baik saja.
Sambutan datang dari penghuni lama yang tak kasat mata.
Antara Gideon, para penghuni lama, terkuak sejarah kelam dan
rahasia yang ‘tak diharapkan'.
1. Hari ke-30
selanjutnya»
"Kalian pernah ga, merasa ada yang aneh di kosan kalian?
atau ketika ada teman yang main ke kosanmu dan mereka menyadari ada hawa yang beda?..."
"Mulai keluar kibulan si Johan, nck nck..."
"...hampir semua anak kosan ngalaminya Sam.
Apalagi kos-kosan yang sudah tua bangunannya,
dengan barang-barang yang belum pernah diganti...
Atau kos-kosan yang selalu sunyi mengalahkan kuburan, padahal masih jam 9 malam"
"Ayoklah fokus lagi belajarnya, masih banyak kalipun tugas kita"
"...Ketika kita merasa sendirian, sebenarnya kita tidak sendirian.
Kata orang, selalu ada yang menemani kita.
Setidaknya... menemani dalam diam di malam hari.
Hanya melihat dari pojok kamar,
atau terkadang ikut duduk disebelah..."
"Udahlah Jo, kasihan si Samuel, ntar ga bisa tidur,
yang ada malah gangguin kita hahaha"
"...Bukan mau nakuti Hans, tapi memang dilema anak kosan gitu kan?
Tidur di kamar yang ga tau siapa penghuni sebelumnya.
Tinggal di rumah yang ga tau bagaimana sejarahnya.
Matikan lampu, naik ke kasur, mencoba memejamkan mata.
Berharap segera tidur, tapi seringnya otak menolak istirahat
dan mata masih terjaga...",
Johan menarik nafas dan menghelanya kemudian.
"...Dalam keadaan yang sunyi,
mencoba menenangkan pikiran dengan melihat sekeliling kamar,
menyusuri setiap sudut ruangan...
Memastikan semua baik-baik saja...
Tapi justru ketakutanmu semakin bertambah.
dan kaupun juga menyadari ada yang beda di kamarmu...
Seperti ada yang mengawasi...
Saat itulah, yang menemani tidur kita...
Akan mencoba berinteraksi...
Menunjukkan eksistensinya,
dan....."
BUUKKHH...
"...Memberi tanda."
Suasana menjadi hening. Suara hempasan pintu yang terdengar berasal dari arah dapur membuat Samuel berhenti mengetik di laptopnya. Gideon yang tadinya sibuk mencari materi di internet seakan terambil perhatiannya.
.
.
.
"Woy, serius banget muka kalian HAHAHA...",
Johan tertawa puas melihat ekspresi teman-temannya.
"Kau bilang, nanti mau balik dulu ke kosan sebelum pergi ke cafe kan Jo?
Harusnya kau yang hati-hati",
balas Hans yang kembali sibuk dengan ponselnya.
"Udah jam sepuluh nih, balik sana kau Jo.
Kirim salam sama yang NEMANIN kau nanti di kamar",
timpal Samuel sambil melempar remukan bola kertas ke arah Johan.
Malam itu Johan dapat shift tengah malam kerja di cafe yang buka 24 jam, dan jarak kosannya lumayan jauh dari kosan Gideon. Jadi dia tidak bisa ikut menginap untuk menyelesaikan tugas kelompok.
"Okey okey, aku balik dulu. Kalian semangat kelarin tugasnya.
Jangan lupa masukkan namaku, capek juga dongengin kalian",
Johan mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Samuel, Hans dan Gideon.
"Hati-hati Jo... Besok datang lagi kan? Kayaknya tugasnya ga kelar malam ini",
Gideon bangkit dari kasur dan menyingkirkan buku yang ada di pahanya, menemani Johan berjalan ke pintu depan rumah kosannya.
"Siap brader...",
Johan mengacungkan jempol sembari menaiki motornya,
meninggalkan Gideon dan teman lainnya yang masih lembur malam itu.
Gideon kembali ke kamarnya, melangkahi Hans yang tiduran memegang ponselnya, menuju pojok kasur, posisi dia semula dengan buku-bukunya.
"Mana si Samuel?"
"Boker... dari tadi ternyata ditahannya ga ke WC..."
"Berarti tadi yang bau mengganggu itu...",
Gideon memandang muka Hans yang ternyata tahu maksud perkataannya.
Sejurus kemudian mereka tak kuasa menahan tawa,
dan cukup lama untuk kembali tenang.
***
"Eh coba buka link yang barusan ku kirim, cocok ga buat nambah materi tugas kita?"
"Eehmm...kayaknya bisa ni. Bentar Hans, ku cek dulu yang udah kita buat",
Gideon mengecek ponselnya, menarik laptop Samuel,
menggumam sambil menganggukkan kepalanya.
Hans yang sedari tadi diam, melirik Gideon dan menunggu responnya.
"Gimana? Bisakan dimasukkan?"
" Bisa sih tapi..."
Hans akhirnya mendekati Gideon, melihat kembali layar ponselnya kemudian beralih ke laptop Samuel. Hans menunjukkan ponselnya dan menjelaskan kepada Gideon sambil telunjuknya mengarah ke laptop Samuel.
***

Prolog
Jodoh...
Mungkin itu yang pertama kali ada di benak Gideon ketika mendapatkan
kosan baru yang nyaman, luas dan lengkap tapi aman di kantong.
Setelah kecelakaan bus yang dialaminya beberapa minggu lalu,
memulai suasana baru di kosan sekarang sepertinya pilihan yang tepat, pikirnya.
Namun kehadirannya di rumah kos baru ternyata tidak baik-baik saja.
Sambutan datang dari penghuni lama yang tak kasat mata.
Antara Gideon, para penghuni lama, terkuak sejarah kelam dan
rahasia yang ‘tak diharapkan'.
1. Hari ke-30
selanjutnya»
"Kalian pernah ga, merasa ada yang aneh di kosan kalian?
atau ketika ada teman yang main ke kosanmu dan mereka menyadari ada hawa yang beda?..."
"Mulai keluar kibulan si Johan, nck nck..."
"...hampir semua anak kosan ngalaminya Sam.
Apalagi kos-kosan yang sudah tua bangunannya,
dengan barang-barang yang belum pernah diganti...
Atau kos-kosan yang selalu sunyi mengalahkan kuburan, padahal masih jam 9 malam"
"Ayoklah fokus lagi belajarnya, masih banyak kalipun tugas kita"
"...Ketika kita merasa sendirian, sebenarnya kita tidak sendirian.
Kata orang, selalu ada yang menemani kita.
Setidaknya... menemani dalam diam di malam hari.
Hanya melihat dari pojok kamar,
atau terkadang ikut duduk disebelah..."
"Udahlah Jo, kasihan si Samuel, ntar ga bisa tidur,
yang ada malah gangguin kita hahaha"
"...Bukan mau nakuti Hans, tapi memang dilema anak kosan gitu kan?
Tidur di kamar yang ga tau siapa penghuni sebelumnya.
Tinggal di rumah yang ga tau bagaimana sejarahnya.
Matikan lampu, naik ke kasur, mencoba memejamkan mata.
Berharap segera tidur, tapi seringnya otak menolak istirahat
dan mata masih terjaga...",
Johan menarik nafas dan menghelanya kemudian.
"...Dalam keadaan yang sunyi,
mencoba menenangkan pikiran dengan melihat sekeliling kamar,
menyusuri setiap sudut ruangan...
Memastikan semua baik-baik saja...
Tapi justru ketakutanmu semakin bertambah.
dan kaupun juga menyadari ada yang beda di kamarmu...
Seperti ada yang mengawasi...
Saat itulah, yang menemani tidur kita...
Akan mencoba berinteraksi...
Menunjukkan eksistensinya,
dan....."
BUUKKHH...
"...Memberi tanda."
Suasana menjadi hening. Suara hempasan pintu yang terdengar berasal dari arah dapur membuat Samuel berhenti mengetik di laptopnya. Gideon yang tadinya sibuk mencari materi di internet seakan terambil perhatiannya.
.
.
.
"Woy, serius banget muka kalian HAHAHA...",
Johan tertawa puas melihat ekspresi teman-temannya.
"Kau bilang, nanti mau balik dulu ke kosan sebelum pergi ke cafe kan Jo?
Harusnya kau yang hati-hati",
balas Hans yang kembali sibuk dengan ponselnya.
"Udah jam sepuluh nih, balik sana kau Jo.
Kirim salam sama yang NEMANIN kau nanti di kamar",
timpal Samuel sambil melempar remukan bola kertas ke arah Johan.
Malam itu Johan dapat shift tengah malam kerja di cafe yang buka 24 jam, dan jarak kosannya lumayan jauh dari kosan Gideon. Jadi dia tidak bisa ikut menginap untuk menyelesaikan tugas kelompok.
"Okey okey, aku balik dulu. Kalian semangat kelarin tugasnya.
Jangan lupa masukkan namaku, capek juga dongengin kalian",
Johan mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Samuel, Hans dan Gideon.
"Hati-hati Jo... Besok datang lagi kan? Kayaknya tugasnya ga kelar malam ini",
Gideon bangkit dari kasur dan menyingkirkan buku yang ada di pahanya, menemani Johan berjalan ke pintu depan rumah kosannya.
"Siap brader...",
Johan mengacungkan jempol sembari menaiki motornya,
meninggalkan Gideon dan teman lainnya yang masih lembur malam itu.
Gideon kembali ke kamarnya, melangkahi Hans yang tiduran memegang ponselnya, menuju pojok kasur, posisi dia semula dengan buku-bukunya.
"Mana si Samuel?"
"Boker... dari tadi ternyata ditahannya ga ke WC..."
"Berarti tadi yang bau mengganggu itu...",
Gideon memandang muka Hans yang ternyata tahu maksud perkataannya.
Sejurus kemudian mereka tak kuasa menahan tawa,
dan cukup lama untuk kembali tenang.
***
"Eh coba buka link yang barusan ku kirim, cocok ga buat nambah materi tugas kita?"
"Eehmm...kayaknya bisa ni. Bentar Hans, ku cek dulu yang udah kita buat",
Gideon mengecek ponselnya, menarik laptop Samuel,
menggumam sambil menganggukkan kepalanya.
Hans yang sedari tadi diam, melirik Gideon dan menunggu responnya.
"Gimana? Bisakan dimasukkan?"
" Bisa sih tapi..."
Hans akhirnya mendekati Gideon, melihat kembali layar ponselnya kemudian beralih ke laptop Samuel. Hans menunjukkan ponselnya dan menjelaskan kepada Gideon sambil telunjuknya mengarah ke laptop Samuel.
***
selanjutnya»
(jangan lupa di savedan subscribe karna lanjutan di kolom komentar ya GanSis
)Daftar isi:
1. Hari ke-30
2. Hari ke-30 [part 2]
3. Hari ke-29
4. Hari ke-29 [part 2]
5. Hari ke-21
6. Hari ke-21 [part 2]
7. Hari ke-13
8. Hari ke-8
9. Hari ke-5
10. Hari ke-3
11. Hari Ke-2
12. Hari Ke-1
Note:
*segala properti tulisan maupun gambar milik pribadi.
Diubah oleh taosipudan 08-06-2022 19:08
widiantopamu621 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
2.2K
37
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taosipudan
#22
10. Hari ke-3
selanjutnya>>
"Ini ditaruh di mana Dion?"
"Diluar kamar aja dulu Hans. Semuanya ditaruh di dekat kamar aja Jo, Sam.
Biar bisa di cek dulu barang-barangnya."
"Siap pak!",
Johan dan Samuel serentak menyahut.
Siang itu Gideon pindahan ke kos baru.
Rencana sebenarnya pagi jam 9 mulai angkat barang, tapi selimut dan bantal tidak mau melepaskan begitu saja tubuh Samuel dan Johan.
Sementara Hans yang dari jam 8 sudah berada di kosan mereka ikutan terbawa suasana. Gideonpun sama saja.
Layaknya seperti ikan asin yang dijemur, mereka tidur berjejeran di kamar Johan hingga pukul 11 siang nyawa mereka akhirnya terisi penuh.
***
Sudah bersandar enam kardus, satu koper dan satu galon kosong air minum di dinding luar kamar baru Gideon.
"Banyak juga barang kau Dion",
Samuel yang kelelahan menyandarkan badannya ke tembok ruang tengah.
"Iya nih Dion, udah kayak pindahan aja",
Johan menambahkan.
"EMANG LAGI PINDAHAN WOY!
KAU KIRA KITA LAGI NGAPAIN JO?
GORENG TAHU BULAT?!",
timpal Samuel dengan kesal.
"Lagi ngangkat barang. hehehe",
balas Johan polos.
"Iya Jo, paham... PAHAM!"
Gideon dan Hans yang dari tadi berdiri hanya bisa tertawa melihat tingkah dua teman mereka.
Gideon memperhatikan kardus-kardus yang ada di ruang tengah. Tapi...
"Sam, tadi dua karduskan kau taruh di depanmu?"
"Iyaak",
Samuel membenarkan.
"Aku bawa dua juga di depan",
Hans menambahkan.
"Aku koper doang Dion",
Johan ikut bersuara.
"Tapi, kok, ada, enam kardus ya?
Aku tadi bawa satu dibonceng Sam sambil pegang galon air",
sahut Gideon mulai bingung.
Dia mengecek label tulisan nama barang yang ada di masing-masing sisi kardus
dan ada satu kardus paling pojok dari yang lain tanpa tertulis apapun di sisinya.
Kardus yang satu itu juga terikat tali rapiah merah dengan simpul berbentuk pita di atasnya.
"Ini kardus isinya apa ya? Kok ga ada label namanya?",
Gideon penasaran dengan kardus yang dari tadi dia cek.
"Aku ga ada ngecek tadi label namanya pas ngangkat kardus, Dion",
Samuel membalas penasaran Gideon.
"Angkat ke sini aja Dion, kita buka bareng-bareng.
Kali aja calon istri masa depanku hehehe"
"Ngawuurr... Palingan mantanmu Jo hahaha"
Hans menimpal omongan Johan.
"Cemana kalian ini?! Mana muat orang di kardus kecilnya segitu.
Kecuali kalau udah di..."
"Kan kan kan... Ga bisa diajak becanda si Sam ini loh.
Udah-udah, bawa aja kesini Dion. Jadi penasaran juga aku!",
Johan memotong omongan Samuel.
Gideon meraih sisi bawah kiri dan kanan kardus, tapi dia kesulitan untuk mengangkatnya.
"Perlu bantuan Dion?"
"Ga papa Hans, bisa kok",
Gideon kemudian mendorong kardus itu mendekat ke teman-temannya.
"Hhuuuff...",
Gideon menghempas kasar nafasnya
lalu membuka ikatan rapiah pada kardus itu.
Setelah semua rapiah dilucuti, perlahan Gideon membuka tutup atas kardus itu
dan...
"DUAAAARRR..."
Suara Johan mengagetkan semua orang diruangan itu, terlebih Samuel yang berdiri sangat dekat dengan Johan.
"Bangkeee
Kau teriak janganlah dekat telingaku.
Bisa pekak (a.k.a. tuli) aku nanti",
kesal Samuel sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di lubang telinganya yang berdengung. Johan, Gideon dan Hans tertawa mendengarnya.
"Maafkan sahabatmu ini kawan hahaha...",
Johan memohon sambil menepuk dan mengelus pundak Samuel.
"Sstt... Brisikk. Mau di buka ga?",
Hans menenangkan keduanya.
"Mauuu...",
sahut Johan dan Samuel bersamaan.
"Lanjutkan Dion",
dengan nada berwibawa Hans mempersilakan Gideon kembali membuka kardus itu. Betapa terkejutnya semua orang melihat apa isi di dalam kardus itu.
"Aseeemmm...kirain apa!?",
Johan menggerutu.
"HAHAHA... Jo, ambil kreseknya. Siapa tahu itu titipan istri masa depanmu.",
Hans tertawa puas.
"Bah bah bah... Pintar kalipun akting kau Dion.
Kantong kresek ini bisa ga terangkat kau...",
Samuel kecewa dengan yang dilihatnya.
Gideon hanya bisa tersenyum kaku.
"Ya udahlah. Kita bongkar sekalian aja semua kardusnya. Biar bisa disusun si Dion barang-barangnya.",
Johan mengecek sisi kardus dan memilah mana yang harus dibongkar dahulu.
"Yok bisa yok... Sam bantu si Dion nyusun barang-barangnya di dalam. Aku bantu si Johan ngangkat ke dalam.",
Hans menginstruksikan Gideon dan Samuel untuk ngurus di dalam kamar.
***
"Lumayan juga ya...",
Johan menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya.
"Makasih Jo, Sam, Hans. Jadi cepat kelarnya"
"Ehmm. Bisalah mie ayam" Hans melebarkan senyumnya ke arah Gideon.
"Bisaaa, santuyyy...
Yang penting uangnya udah dikumpulin",
balas Gideon dengan alis mata yang naik turun.
"Udah udah... Masak mie aja kita.
Kan ada banyak stock si Dion",
Johan bangkit berdiri mengambil beberapa bungkus mie yang tersusun di rak dalam kamar Gideon.
"Iyak kayak gitu aja, biar bisa juga nambah porsinya.
Nanti minumnya yang dingin-dingin, biar si Jo yang ngurus itu.
Awal bulan pasti udah cairkan Jo?",
Samuel berdiri lalu menepuk pundak Johan.
"BUNGKUS",
Gideon dan Hans serempak menyahut.
Johan hanya bisa tersenyum lesu.
***
"Mantap kalipun si Hans ini, dua porsi habis di aku.
Kau tambah apa di bumbunya Hans?",
Samuel bersandar santai ke tembok ruang tengah. Sabuk pinggang celananya harus dilonggarkan demi kenyamanan buntelan perutnya.
"Ga ada tambahan Sam.
Karna lagi lapar banget kita, jadi makan mienya lebih enak.
Udah gitu dapat jus mangga lagi dari si Johan, mantab hahaha",
balas Hans yang juga bersandar di tembok ruang tengah dekat kamar kosong/gudang.
"Bisa jadi Hans.
Tapi kawanku yang satu ini memang tahu kali mau beli minum apa.
Mauliate laeku",
timpal Samuel bangga sambil menepuk-nepuk pundak Johan yang duduk disebelahnya.
"Siap laeku",
Johan menyahut.
"Eh... kumpulin aja di situ Dion.
Nanti aku yang nyuci pun",
Samuel menghentikan Gideon yang hendak membawa piring kotor ke dapur.
"Siap Sam. Ini ku taroh di dapur biar ga berantakan",
Gideon mengkonfirmasi perintah Samuel.
Samuel mengangkat jempolnya.
"Nah, gini kan lebih lega",
Johan segera membaringkan badannya di lantai ruang tengah yang beralaskan tikar plastik. Samuel ikut pula mencari posisi yang nyaman untuk menopang tubuhnya. Sementara Hans meraih remote TV, mencari tontonan yang dia sukai.
Sekembalinya Gideon dari dapur,
dia lalu ke kamar dan mengambil bantal
untuk kemudian dikasih ke teman-temannya.
Gideonpun ikut tiduran di ruang tengah dengan selimut menopang kepalanya.
***
Samuel terbangun dari tidurnya sore itu.
Dilihatnya Johan tidur di sebelahnya dan juga Gideon dekat pintu kamar.
Hans tidak terlihat di ruangan itu.
Kemudian Samuel melirik ke kamar dan terlihat tubuh Hans menguasai sepenuhnya kasur Gideon dengan seprai yang sudah berantakan.
Samuel tersadar kalau ada piring kotor menunggunya di dapur. Berjalan menuju dapur, Samuel ingin mampir sebentar ke WC untuk buang air kecil. Tapi kamar mandi pertama terkunci dari dalam, jadinya Samuel masuk ke kamar mandi sebelahnya.
Dengan muka yang basah karena sempat dibasuh air, Samuel keluar dari kamar mandi untuk mencuci empat piring dan empat sendok yang sudah ditumpuk Gideon sebelumnya di atas wajan penggorengan.
Penglihatan Samuel sedikit terhalang butiran air yang masih menempel di bulu matanya, tapi dia langsung mencuci piring yang sedikit itu tanpa mengeringkan wajahnya terlebih dahulu.
Asik dengan urusan pencucianpiringnya,
Samuel mendengar pintu WC yang terbuka dan terlihat dari ujung mata kirinya seseorang keluar
lalu pergi meninggalkannya,
tapi dia tidak mempedulikannya, justru bernyanyi kecil.
Paling teman kos Gideon, batinnya.
***
"Makasih Jo, Sam, Hans, udah mau direpotin. Hati-hati kalian..."
"Siap pak, balik dulu ya.",
Johan melambaikan tangannya ke Gideon.
"Balik Dion...",
Hans dan Samuel hampir bersamaan pamit.
"Yo... Hati-hati",
Gideon melambaikan tangan ke arah teman-temannya.
Minggu malam itu pertama kalinya Gideon di kosan barunya
dan sendirian tanpa ditemani seorangpun.
Dua anak kos tidak menyambut kepindahannya
karena masih belum balik dari rumah mereka.
*****
selanjutnya>>
"Ini ditaruh di mana Dion?"
"Diluar kamar aja dulu Hans. Semuanya ditaruh di dekat kamar aja Jo, Sam.
Biar bisa di cek dulu barang-barangnya."
"Siap pak!",
Johan dan Samuel serentak menyahut.
Siang itu Gideon pindahan ke kos baru.
Rencana sebenarnya pagi jam 9 mulai angkat barang, tapi selimut dan bantal tidak mau melepaskan begitu saja tubuh Samuel dan Johan.
Sementara Hans yang dari jam 8 sudah berada di kosan mereka ikutan terbawa suasana. Gideonpun sama saja.
Layaknya seperti ikan asin yang dijemur, mereka tidur berjejeran di kamar Johan hingga pukul 11 siang nyawa mereka akhirnya terisi penuh.
***
Sudah bersandar enam kardus, satu koper dan satu galon kosong air minum di dinding luar kamar baru Gideon.
"Banyak juga barang kau Dion",
Samuel yang kelelahan menyandarkan badannya ke tembok ruang tengah.
"Iya nih Dion, udah kayak pindahan aja",
Johan menambahkan.
"EMANG LAGI PINDAHAN WOY!
KAU KIRA KITA LAGI NGAPAIN JO?
GORENG TAHU BULAT?!",
timpal Samuel dengan kesal.
"Lagi ngangkat barang. hehehe",
balas Johan polos.
"Iya Jo, paham... PAHAM!"
Gideon dan Hans yang dari tadi berdiri hanya bisa tertawa melihat tingkah dua teman mereka.
Gideon memperhatikan kardus-kardus yang ada di ruang tengah. Tapi...
"Sam, tadi dua karduskan kau taruh di depanmu?"
"Iyaak",
Samuel membenarkan.
"Aku bawa dua juga di depan",
Hans menambahkan.
"Aku koper doang Dion",
Johan ikut bersuara.
"Tapi, kok, ada, enam kardus ya?
Aku tadi bawa satu dibonceng Sam sambil pegang galon air",
sahut Gideon mulai bingung.
Dia mengecek label tulisan nama barang yang ada di masing-masing sisi kardus
dan ada satu kardus paling pojok dari yang lain tanpa tertulis apapun di sisinya.
Kardus yang satu itu juga terikat tali rapiah merah dengan simpul berbentuk pita di atasnya.
"Ini kardus isinya apa ya? Kok ga ada label namanya?",
Gideon penasaran dengan kardus yang dari tadi dia cek.
"Aku ga ada ngecek tadi label namanya pas ngangkat kardus, Dion",
Samuel membalas penasaran Gideon.
"Angkat ke sini aja Dion, kita buka bareng-bareng.
Kali aja calon istri masa depanku hehehe"
"Ngawuurr... Palingan mantanmu Jo hahaha"
Hans menimpal omongan Johan.
"Cemana kalian ini?! Mana muat orang di kardus kecilnya segitu.
Kecuali kalau udah di..."
"Kan kan kan... Ga bisa diajak becanda si Sam ini loh.
Udah-udah, bawa aja kesini Dion. Jadi penasaran juga aku!",
Johan memotong omongan Samuel.
Gideon meraih sisi bawah kiri dan kanan kardus, tapi dia kesulitan untuk mengangkatnya.
"Perlu bantuan Dion?"
"Ga papa Hans, bisa kok",
Gideon kemudian mendorong kardus itu mendekat ke teman-temannya.
"Hhuuuff...",
Gideon menghempas kasar nafasnya
lalu membuka ikatan rapiah pada kardus itu.
Setelah semua rapiah dilucuti, perlahan Gideon membuka tutup atas kardus itu
dan...
"DUAAAARRR..."
Suara Johan mengagetkan semua orang diruangan itu, terlebih Samuel yang berdiri sangat dekat dengan Johan.
"Bangkeee
Kau teriak janganlah dekat telingaku.
Bisa pekak (a.k.a. tuli) aku nanti",
kesal Samuel sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di lubang telinganya yang berdengung. Johan, Gideon dan Hans tertawa mendengarnya.
"Maafkan sahabatmu ini kawan hahaha...",
Johan memohon sambil menepuk dan mengelus pundak Samuel.
"Sstt... Brisikk. Mau di buka ga?",
Hans menenangkan keduanya.
"Mauuu...",
sahut Johan dan Samuel bersamaan.
"Lanjutkan Dion",
dengan nada berwibawa Hans mempersilakan Gideon kembali membuka kardus itu. Betapa terkejutnya semua orang melihat apa isi di dalam kardus itu.
"Aseeemmm...kirain apa!?",
Johan menggerutu.
"HAHAHA... Jo, ambil kreseknya. Siapa tahu itu titipan istri masa depanmu.",
Hans tertawa puas.
"Bah bah bah... Pintar kalipun akting kau Dion.
Kantong kresek ini bisa ga terangkat kau...",
Samuel kecewa dengan yang dilihatnya.
Gideon hanya bisa tersenyum kaku.
"Ya udahlah. Kita bongkar sekalian aja semua kardusnya. Biar bisa disusun si Dion barang-barangnya.",
Johan mengecek sisi kardus dan memilah mana yang harus dibongkar dahulu.
"Yok bisa yok... Sam bantu si Dion nyusun barang-barangnya di dalam. Aku bantu si Johan ngangkat ke dalam.",
Hans menginstruksikan Gideon dan Samuel untuk ngurus di dalam kamar.
***
"Lumayan juga ya...",
Johan menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya.
"Makasih Jo, Sam, Hans. Jadi cepat kelarnya"
"Ehmm. Bisalah mie ayam" Hans melebarkan senyumnya ke arah Gideon.
"Bisaaa, santuyyy...
Yang penting uangnya udah dikumpulin",
balas Gideon dengan alis mata yang naik turun.
"Udah udah... Masak mie aja kita.
Kan ada banyak stock si Dion",
Johan bangkit berdiri mengambil beberapa bungkus mie yang tersusun di rak dalam kamar Gideon.
"Iyak kayak gitu aja, biar bisa juga nambah porsinya.
Nanti minumnya yang dingin-dingin, biar si Jo yang ngurus itu.
Awal bulan pasti udah cairkan Jo?",
Samuel berdiri lalu menepuk pundak Johan.
"BUNGKUS",
Gideon dan Hans serempak menyahut.
Johan hanya bisa tersenyum lesu.
***
"Mantap kalipun si Hans ini, dua porsi habis di aku.
Kau tambah apa di bumbunya Hans?",
Samuel bersandar santai ke tembok ruang tengah. Sabuk pinggang celananya harus dilonggarkan demi kenyamanan buntelan perutnya.
"Ga ada tambahan Sam.
Karna lagi lapar banget kita, jadi makan mienya lebih enak.
Udah gitu dapat jus mangga lagi dari si Johan, mantab hahaha",
balas Hans yang juga bersandar di tembok ruang tengah dekat kamar kosong/gudang.
"Bisa jadi Hans.
Tapi kawanku yang satu ini memang tahu kali mau beli minum apa.
Mauliate laeku",
timpal Samuel bangga sambil menepuk-nepuk pundak Johan yang duduk disebelahnya.
"Siap laeku",
Johan menyahut.
"Eh... kumpulin aja di situ Dion.
Nanti aku yang nyuci pun",
Samuel menghentikan Gideon yang hendak membawa piring kotor ke dapur.
"Siap Sam. Ini ku taroh di dapur biar ga berantakan",
Gideon mengkonfirmasi perintah Samuel.
Samuel mengangkat jempolnya.
"Nah, gini kan lebih lega",
Johan segera membaringkan badannya di lantai ruang tengah yang beralaskan tikar plastik. Samuel ikut pula mencari posisi yang nyaman untuk menopang tubuhnya. Sementara Hans meraih remote TV, mencari tontonan yang dia sukai.
Sekembalinya Gideon dari dapur,
dia lalu ke kamar dan mengambil bantal
untuk kemudian dikasih ke teman-temannya.
Gideonpun ikut tiduran di ruang tengah dengan selimut menopang kepalanya.
***
Samuel terbangun dari tidurnya sore itu.
Dilihatnya Johan tidur di sebelahnya dan juga Gideon dekat pintu kamar.
Hans tidak terlihat di ruangan itu.
Kemudian Samuel melirik ke kamar dan terlihat tubuh Hans menguasai sepenuhnya kasur Gideon dengan seprai yang sudah berantakan.
Samuel tersadar kalau ada piring kotor menunggunya di dapur. Berjalan menuju dapur, Samuel ingin mampir sebentar ke WC untuk buang air kecil. Tapi kamar mandi pertama terkunci dari dalam, jadinya Samuel masuk ke kamar mandi sebelahnya.
Dengan muka yang basah karena sempat dibasuh air, Samuel keluar dari kamar mandi untuk mencuci empat piring dan empat sendok yang sudah ditumpuk Gideon sebelumnya di atas wajan penggorengan.
Penglihatan Samuel sedikit terhalang butiran air yang masih menempel di bulu matanya, tapi dia langsung mencuci piring yang sedikit itu tanpa mengeringkan wajahnya terlebih dahulu.
Asik dengan urusan pencucianpiringnya,
Samuel mendengar pintu WC yang terbuka dan terlihat dari ujung mata kirinya seseorang keluar
lalu pergi meninggalkannya,
tapi dia tidak mempedulikannya, justru bernyanyi kecil.
Paling teman kos Gideon, batinnya.
***
"Makasih Jo, Sam, Hans, udah mau direpotin. Hati-hati kalian..."
"Siap pak, balik dulu ya.",
Johan melambaikan tangannya ke Gideon.
"Balik Dion...",
Hans dan Samuel hampir bersamaan pamit.
"Yo... Hati-hati",
Gideon melambaikan tangan ke arah teman-temannya.
Minggu malam itu pertama kalinya Gideon di kosan barunya
dan sendirian tanpa ditemani seorangpun.
Dua anak kos tidak menyambut kepindahannya
karena masih belum balik dari rumah mereka.
*****
selanjutnya>>
Diubah oleh taosipudan 08-06-2022 19:07
widiantopamu621 dan indrag057 memberi reputasi
2