- Beranda
- Stories from the Heart
JANJI? (MINI SERIES)
...
TS
beavermoon
JANJI? (MINI SERIES)

Pernahkah kalian jatuh cinta? Pernahkah kalian menyembunyikan perasaan kepada orang yang kalian suka? Kenapa kalian menyembunyikan hal itu? Bukankah lebih baik untuk mengutarakannya?
Fika dan Rama akan menemani perjalanan kalian dalam mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersyukurlah jika kalian dapat menemukan jawabannya, namun jika tidak?
Spoiler for Episode:
Diubah oleh beavermoon 16-06-2022 19:03
ndoro_mant0 dan 7 lainnya memberi reputasi
4
3.3K
Kutip
40
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#27
Episode 24
Spoiler for Episode 24:
Apa yang ada di pikiran kalian ketika mendengar kata jatuh cinta? Indah bukan? Rasanya apapun yang terjadi berubah menjadi indah ketika kita bisa merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun, pernahkah kalian berfikir bahwa jatuh cinta itu menyiksa?
Ada kalanya jatuh cinta itu berubah menjadi sebuah perasaan yang menyiksa, ketika kita tidak bisa memberikan rasa jatuh cinta yang kita miliki. Kenapa tidak bisa? Ragam alasan pun terdengar nyata di telinga.
“Gue takut dia ngga suka sama gue.”
“Gue ngga sehebat dia. Gue ngerasa minder jika seandainya harus bersanding dengan dia.”
“Apa yang kita percaya berbeda.”
Banyak ragamnya bukan? Lantas apakah alasan-alasan itu membuat kalian berhenti untuk jatuh cinta? Atau jangan-jangan kalian tetap berusaha memberikan rasa jatuh cinta tersebut?
“Lebih baik berhenti sekarang sebelum semuanya masuk lebih dalam.”
“Ngga ada salahnya nyoba sih, seenggaknya kita udah usaha. Apapun hasilnya ya belakangan.”
“Bodo amat lah.”
Beragam jawaban pun silih berganti menempati hati kalian, entah apa lagi jawaban-jawaban yang akan terdengar. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mempertahankan kerahasiaan itu hingga berlarut-larut dan tenggelam bersama rahasia itu? Bukankah itu sangat menyiksa untuk dirinya? Atau jangan-jangan orang itu menikmati kerahasiaan itu, meskipun ia tidak tahu sampai kapan kenikmatan itu menutupi tersiksanya dirinya.
Akan bermunculan alasan-alasan lain untuk orang-orang yang dengan sukarela menutupi perasaannya, seperti apa yang dilakukan oleh Fika. Sederhana, ia tidak mau merusak hubungan persahabatannya yang sudah ia bangun sejak lama.
Mudah saja jika ia mau mengungkapkan perasaannya, namun ia tidak bisa menerima apa yang akan terjadi selanjutnya. Bisa saja hubungannya berjalan dengan baik, namun bisa saja hubungan persahabatannya hancur begitu saja.
“Harusnya dia bilang aja, toh ngga ada salahnya sekedar ngasih tau perasaanya. Abis itu mereka tinggal buat perjanjian untuk tetap bersahabat apapun hasilnya.”
Terdengar sangat mudah namun tidak untuk pelaksanaannya.
“Kalau gue jadi dia ya...”
Stop! Kita ngga tau apa yang udah dialami oleh orang tersebut. Apa yang kalian ucapkan adalah hasil dari pemikiran sesaat dan dalam keadaan baik-baik saja. Orang yang mengalami hal itu berfikir dalam keadaan tidak baik-baik saja dan tidak sesaat.
“Pasti ujung-ujungnya mereka akan punya pacar masing-masing.”
Semua kemungkinan terbuka dengan sangat lebar.
“Salah satu dari mereka pasti akan sakit hati sesakit-sakitnya.”
Perasaan seseorang tidak ada yang tahu pastinya. Bisa saja ia terlihat baik-baik saja namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia terluka dengan sangat parah. Begitu juga apa yang dialami dengan Fika. Lantas apa yang akan dilakukan oleh Fika? Tenggelam hingga ke dasar dan tak bisa kembali ke permukaan?
“Fika...”
Fika mengedipkan matanya berkali-kali hingga fokusnya kembali, di hadapannya ada Rama yang sedang memandangnya dalam jarak yang cukup dekat.
“...kamu kenapa Fik?” Tanya Rama.
“Aku kenapa? Aku baik-baik aja Ram.” Jawab Fika.
Rama menggerakkan tangannya untuk menyentil dahi Fika, Fika yang menyadari akan hal itu pun dengan cepat menutup matanya. Rama menahan tangannya, membiarkan Fika menunggu kapan waktunya ia menerima sentilan itu. Fika membuka matanya secara perlahan dan tanpa ragu, Rama pun menyentil dahi Fika dengan pelan.
“Nggapapa apanya? Kamu daritadi aku ngajak ngobrol malah ngelamun.” Ucap Rama.
“Emang iya Ram?” Tanya Fika heran.
Rama memandang malas ke arah Fika, ia kembali meminum bir kaleng yang ada di tangannya. Fika mengikuti gerakan yang sama, meninggalkan khayalannya pergi dengan sendirinya.
Malam semakin larut, mereka dapat melihat beberapa tenda juga ikut menyalakan api unggun seperti yang sudah mereka lakukan. Rama meletakkan kaleng kosong di dekat bangkunya.
“Kamu bawa banyak ngga Ram?” Tanya Fika.
“Bir?...” Rama melihat ke arah tenda, “aku bawa satu krat di dalem kotak pendingin.”
“Aku mau lagi boleh?” Tanya Fika.
Rama mengangguk, “Aku ambilin, tunggu sebentar.”
Rama bangun dari duduknya menuju tenda, Fika menatap ke arah api unggun sambil menggelengkan kepalanya. Ia bahkan menampar pipinya dengan pelan beberapa kali dengan cepat untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
“Kenapa khayalan gue begitu sih.” Ucap Fika seorang diri.
Rama kembali duduk di samping Fika dengan dua kaleng bir di tangannya, ia kembali membuka tutup kaleng lalu memberikannya kepada Fika.
“Makasih Ram.” Ucap Fika.
“Ngga biasanya kamu minta lagi.” Ucap Rama.
“Sekali-kali nggapapa kali ya. Mumpung di waktu yang tepat, setelah melewati sidang yang menegangkan tadi, sekarang waktunya untuk menikmati kemenangan.” Jelas Fika.
Rama tertawa mendengar ucapan Fika, mereka pun kembali meminum bir kaleng di tangan mereka masing-masing. Rama mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya, asap yang ia hembuskan pun tersapu oleh angin yang datang begitu saja.
“Ram, aku boleh nanya ngga?...”
Rama mengangguk tanpa memandang ke arah Fika.
“...kenapa kamu dulu suka sama aku?” Tanya Fika.
Rama menghela nafasnya, “Sederhana sih, karena aku udah kenal kamu cukup lama. Kedengeran ngga masuk akal sih, biasanya orang-orang suka sama seseorang karena penampilan atau sifat. Aku lebih ke arah karena kita udah lama kenal, jadi ngga ada salahnya buat aku suka sama kamu.”
“Bukan karena sifat atau penampilan aku?” Tanya Fika.
Rama mengangguk, “Sayangnya bukan Fik.”
Fika mengangguk sekali lagi secara perlahan, ia kembali meminum bir yang ada di tangannya.
“Terus yang bikin kamu ngga suka sama aku lagi apa?” Tanya Fika penasaran.
Rama berfikir sejenak, “Jujur aja aku lupa kalau soal itu, karena tiba-tiba aja aku nganggep kamu udah kayak dulu lagi. Bukan sebagai orang yang aku suka tapi ya sebagai Fika sahabat kecil aku.”
Fika kembali mengangguk secara perlahan. Angin semilir kembali berhembus begitu saja, Fika mendekap tubuhnya sendiri untuk mengurangi rasa dingin pada malam hari ini. Sesekali ia menggerakkan kakinya berulang-ulang dengan sengaja, Rama pun membuka jaket yang ia kenakan untuk menutupi Fika dari depan.
“Kamu ngga kedinginan Ram?” Tanya Fika.
Rama menggeleng kemudian tersenyum, ia kembali menatap ke arah api unggun meninggalkan Fika yang masih menatap ke arahnya. Matanya tak berkedip beberapa saat sampai angin kembali berhembus, ia pun kembali menatap ke arah api unggun.
“Ram...”
Rama menatap ke arah Fika.
“...kenapa kamu ngga bilang dulu kalau suka sama aku?” Tanya Fika.”
“Aku ngga berani...”
Fika menatap cepat ke arah Rama.
“...butuh keberanian yang sangat besar buat ngelakuin hal itu Fik, sayangnya aku ngga punya keberanian sebesar itu. Bisa dibilang aku culun atau cemen lah, itu juga yang buat aku ngga pernah pacaran dari dulu.” Jelas Rama.
“Jadi itu juga yang bikin kamu ngga pernah pacaran?” Tanya Fika.
Rama mengangguk dengan pasti kemudian tersenyum malu kepada Fika. Fika hanya menatap Rama dalam diam, ia seperti mengetahui sisi lain yang baru ia tahu tentang Rama setelah beberapa tahun mengenalnya.
“Kamu kayaknya ngga percaya ya sama aku?” Tanya Rama.
Fika nampak salah tingkah, “Bukan gitu sih Ram. Gimana ya jelasinnya, aku juga bingung sih. Kayak gini deh, aku udah kenal sama kamu dari lama tapi aku baru tahu kalau kamu orangnya begitu. Kesannya kayak belasan tahun aku kenal kamu tuh percuma.”
Rama tersenyum, “Ngga ada yang percuma Fik, semuanya punya nilai masing-masing. Kalau kamu sampai berpikiran sesuatu hanya sia-sia, berarti kamu bisa nerima kenyataannya.”
Fika mengangguk perlahan, kemudian ia tersenyum simpul kepada Rama. Beberapa saat berlalu, bir kaleng sudah habis tak bersisa. Rama mengumpulkan kaleng tersebut di satu tempat agar mudah untuk membuangnya nanti.
“Nih...”
Rama kembali duduk di samping Fika setelah memberikan kaleng bir ke tiga kepada Fika.
”...kamu yakin mau lagi?” Tanya Rama.
Fika mengangguk, “Boleh kan Ram? Aku juga minumnya sama kamu, jadi nggapapa kan?”
“Iya nggapapa.” Jawab Rama singkat.
“Kalau semisal aku minum ngga sama kamu gimana?” Tanya Fika.
“Aku cuma bisa bilang hati-hati aja Fik, selagi kamu bisa jaga diri ya boleh-boleh aja. Kadang suka banyak orang-orang yang memanfaatin kesempatan dalam kesempitan.” Jelas Rama.
Fika mengangguk lalu tersenyum, kemudian mereka kembali meminum bir kaleng yang ke tiga pada malam hari ini. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelahnya, suara retakan kayu di dalam panasnya api yang menemani dalam kesunyian.
Rama menatap ke arah Fika, kemudian ia tersenyum begitu saja. Ia mendapati Fika yang sudah tertidur bersandar pada bangku dan tangannya yang masih menggenggam bir kaleng yang tersisa setengah. Rama membenarkan jaketnya yang dikenakan Fika di depan agar Fika tidak merasakan kedinginan, ia pun menggelengkan kepala seraya tersenyum menatap Fika.
*
“Selamat ya...”
Ucapan yang paling mudah didengar untuk saat ini, di mana para pengunjung yang datang mengucapkan selamat kepada mahasiswa yang wisuda pada hari ini. Beramai-ramai orang-orang datang untuk merayakan sekaligus memeriahkan acara yang biasanya diakan setahun sekali.
Fika dan Rama pun ke luar dari dalam Gedung Serbaguna mengenakan toga mereka, kemudian mereka menghampiri Ibu dan juga Lea yang sudah menunggu mereka di luar. Dengan cepat Rama berjalan menuju Ibu lalu memeluknya cukup erat.
“Selamat ya Ram.” Ucap Ibu.
Rama melepas pelukannya lalu memeluk Lea dengan hangat sementara Ibu memeluk Fika bergantian.
“Fika, selamat ya atas kelulusannya.” Ucap Ibu.
“Makasih ya Bu.” Jawab Fika.
Fika tak melepas pelukannya, ia mendekap Ibu lebih lama dan air mata pun tak bisa ia bendung lebih lama lagi. Fika tak bisa membohongi dirinya ketika ia merindukan Papa dan juga Mama, pelukan hangat Ibu kembali mengingatkannya pada mereka. Ibu mengusap punggung Fika beberapa kali dengan pelan.
“Papa sama Mama pasti bangga sama kamu, setelah ini kamu minta Rama nemenin ketemu mereka. Sekalian Rama ketemu sama Ayahnya juga.” Ucap Ibu.
Fika mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata, hanya air matanya yang menjadi jawaban atas ucapan Ibu. Rama yang menggandeng Lea pun mendekat ke arah mereka.
“Ini wisuda, momen bahagia buat kita. Kenapa kamu malah nangis kayak gini? Udah jangan nangis lagi, percuma kamu dandan susah-susah dari pagi.” Ucap Rama.
“Abang!...”
Protes Lea pun bersambut dengan pukulan pelan ke arah lengan Rama yang berasal dari Fika.
“...Kamu emang ngga bisa lihat suasana.” Sambut Fika.
Ibu dan Lea pun tertawa melihat kejadian itu, sementara Rama hanya bisa mengusap lengannya beberapa kali. Mereka pun menyempatkan diri untuk foto bersama, Fika bersiap-siap untuk menghapus air matanya.
“Nih...”
Rama memberikan tisu kepada Fika.
“...anggep aja hadiah wisuda dari aku.” Ucap Rama.
Fika menerima tisu tersebut seraya tersenyum, ia pun berusaha menghapus air matanya agar tak nampak ketika foto bersama. Setelah dirasa cukup, mereka pun melakukan foto bersama beberapa kali dengan suka cita.
“Ibu sama Lea duluan ya soalnya ada urusan, nanti kamu ajak Fika buat ketemu Papa sama Mamanya sekalian kamu ketemu sama Ayah.” Ucap Ibu.
Rama mengangguk setuju, Ibu dan Lea pun pergi lebih dahulu meninggalkan mereka berdua. Lea sempat mengacungkan ibu jari kepada Rama, ia pun membalasnya seraya tersenyum.
“Ram, kita foto berdua yuk.” Ajak Fika.
“Boleh.” Jawab Rama singkat.
FIka mengeluarkan handphonenya, kemudian mereka berfoto bersama sebegai kenang-kenangan. Beberapa foto pun sudah tersimpan di dalam handphone, Fika menunjukkan isi foto tersebut kepada Rama.
“Jadi, koleksi aku udah lengkap sekarang.” Ucap Fika.
“Koleksi apaan Fik?” Tanya Rama.
“Koleksi foto wisuda kita berdua Ram...”
Rama melihat ada kolase foto yang sudah dibuat oleh Fika. Kumpulan foto-foto wisuda Rama dan juga Fika semenjak mereka TK hingga kuliah saat ini.
“...lengkap kan?” Tanya Fika.
Rama sempat menatap Fika dalam diam, kemudian ia memeluk Fika cukup erat.
“Makasih ya Fik.” Ucap Rama.
Fika mengusap punggung Rama, “Makasih buat apa Ram? Harusnya aku yang bilang makasih sama kamu karena udah mau nemenin aku sampai sejauh ini dengan sabar, aku tau sebenernya kamu udah males nanggepin kebodohan-kebodohan yang aku buat sendiri.”
“Kalau itu sih emang bener, aku udah males nanggepin kebodohan kamu.” Ucap Rama.
Kali ini Fika memukul punggung Rama dengan pelan, kemudian mereka tertawa bersama-sama. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.
“Maaf ya mengganggu...”
Rama dan Fika melepas pelukan, mereka menatap ke arah Dosen pembimbing yang datang.
“...Ibu ganggu ya Fik?” Tanya Dosen tersebut.
“Eh Ibu, ngga kok Bu.” Jawab Fika.
“Selamat ya buat kalian berdua...”
Rama dan Fika membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada Dosen.
“...ada yang mau Ibu kasih tau ke kamu Fik soal tulisan kamu.” Ucap Dosen.
“Oh iya, gimana Bu?” Tanya Fika penasaran.
“Tulisan kamu udah diterima sama kenalan Ibu, mereka tertarik dengan tulisan kamu dan berharap banyak dari itu...”
Fika menatap dengan seksama.
“...kamu mau ngga berangkat ke Tokyo bulan depan?”
Ada kalanya jatuh cinta itu berubah menjadi sebuah perasaan yang menyiksa, ketika kita tidak bisa memberikan rasa jatuh cinta yang kita miliki. Kenapa tidak bisa? Ragam alasan pun terdengar nyata di telinga.
“Gue takut dia ngga suka sama gue.”
“Gue ngga sehebat dia. Gue ngerasa minder jika seandainya harus bersanding dengan dia.”
“Apa yang kita percaya berbeda.”
Banyak ragamnya bukan? Lantas apakah alasan-alasan itu membuat kalian berhenti untuk jatuh cinta? Atau jangan-jangan kalian tetap berusaha memberikan rasa jatuh cinta tersebut?
“Lebih baik berhenti sekarang sebelum semuanya masuk lebih dalam.”
“Ngga ada salahnya nyoba sih, seenggaknya kita udah usaha. Apapun hasilnya ya belakangan.”
“Bodo amat lah.”
Beragam jawaban pun silih berganti menempati hati kalian, entah apa lagi jawaban-jawaban yang akan terdengar. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mempertahankan kerahasiaan itu hingga berlarut-larut dan tenggelam bersama rahasia itu? Bukankah itu sangat menyiksa untuk dirinya? Atau jangan-jangan orang itu menikmati kerahasiaan itu, meskipun ia tidak tahu sampai kapan kenikmatan itu menutupi tersiksanya dirinya.
Akan bermunculan alasan-alasan lain untuk orang-orang yang dengan sukarela menutupi perasaannya, seperti apa yang dilakukan oleh Fika. Sederhana, ia tidak mau merusak hubungan persahabatannya yang sudah ia bangun sejak lama.
Mudah saja jika ia mau mengungkapkan perasaannya, namun ia tidak bisa menerima apa yang akan terjadi selanjutnya. Bisa saja hubungannya berjalan dengan baik, namun bisa saja hubungan persahabatannya hancur begitu saja.
“Harusnya dia bilang aja, toh ngga ada salahnya sekedar ngasih tau perasaanya. Abis itu mereka tinggal buat perjanjian untuk tetap bersahabat apapun hasilnya.”
Terdengar sangat mudah namun tidak untuk pelaksanaannya.
“Kalau gue jadi dia ya...”
Stop! Kita ngga tau apa yang udah dialami oleh orang tersebut. Apa yang kalian ucapkan adalah hasil dari pemikiran sesaat dan dalam keadaan baik-baik saja. Orang yang mengalami hal itu berfikir dalam keadaan tidak baik-baik saja dan tidak sesaat.
“Pasti ujung-ujungnya mereka akan punya pacar masing-masing.”
Semua kemungkinan terbuka dengan sangat lebar.
“Salah satu dari mereka pasti akan sakit hati sesakit-sakitnya.”
Perasaan seseorang tidak ada yang tahu pastinya. Bisa saja ia terlihat baik-baik saja namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia terluka dengan sangat parah. Begitu juga apa yang dialami dengan Fika. Lantas apa yang akan dilakukan oleh Fika? Tenggelam hingga ke dasar dan tak bisa kembali ke permukaan?
“Fika...”
Fika mengedipkan matanya berkali-kali hingga fokusnya kembali, di hadapannya ada Rama yang sedang memandangnya dalam jarak yang cukup dekat.
“...kamu kenapa Fik?” Tanya Rama.
“Aku kenapa? Aku baik-baik aja Ram.” Jawab Fika.
Rama menggerakkan tangannya untuk menyentil dahi Fika, Fika yang menyadari akan hal itu pun dengan cepat menutup matanya. Rama menahan tangannya, membiarkan Fika menunggu kapan waktunya ia menerima sentilan itu. Fika membuka matanya secara perlahan dan tanpa ragu, Rama pun menyentil dahi Fika dengan pelan.
“Nggapapa apanya? Kamu daritadi aku ngajak ngobrol malah ngelamun.” Ucap Rama.
“Emang iya Ram?” Tanya Fika heran.
Rama memandang malas ke arah Fika, ia kembali meminum bir kaleng yang ada di tangannya. Fika mengikuti gerakan yang sama, meninggalkan khayalannya pergi dengan sendirinya.
Malam semakin larut, mereka dapat melihat beberapa tenda juga ikut menyalakan api unggun seperti yang sudah mereka lakukan. Rama meletakkan kaleng kosong di dekat bangkunya.
“Kamu bawa banyak ngga Ram?” Tanya Fika.
“Bir?...” Rama melihat ke arah tenda, “aku bawa satu krat di dalem kotak pendingin.”
“Aku mau lagi boleh?” Tanya Fika.
Rama mengangguk, “Aku ambilin, tunggu sebentar.”
Rama bangun dari duduknya menuju tenda, Fika menatap ke arah api unggun sambil menggelengkan kepalanya. Ia bahkan menampar pipinya dengan pelan beberapa kali dengan cepat untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
“Kenapa khayalan gue begitu sih.” Ucap Fika seorang diri.
Rama kembali duduk di samping Fika dengan dua kaleng bir di tangannya, ia kembali membuka tutup kaleng lalu memberikannya kepada Fika.
“Makasih Ram.” Ucap Fika.
“Ngga biasanya kamu minta lagi.” Ucap Rama.
“Sekali-kali nggapapa kali ya. Mumpung di waktu yang tepat, setelah melewati sidang yang menegangkan tadi, sekarang waktunya untuk menikmati kemenangan.” Jelas Fika.
Rama tertawa mendengar ucapan Fika, mereka pun kembali meminum bir kaleng di tangan mereka masing-masing. Rama mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya, asap yang ia hembuskan pun tersapu oleh angin yang datang begitu saja.
“Ram, aku boleh nanya ngga?...”
Rama mengangguk tanpa memandang ke arah Fika.
“...kenapa kamu dulu suka sama aku?” Tanya Fika.
Rama menghela nafasnya, “Sederhana sih, karena aku udah kenal kamu cukup lama. Kedengeran ngga masuk akal sih, biasanya orang-orang suka sama seseorang karena penampilan atau sifat. Aku lebih ke arah karena kita udah lama kenal, jadi ngga ada salahnya buat aku suka sama kamu.”
“Bukan karena sifat atau penampilan aku?” Tanya Fika.
Rama mengangguk, “Sayangnya bukan Fik.”
Fika mengangguk sekali lagi secara perlahan, ia kembali meminum bir yang ada di tangannya.
“Terus yang bikin kamu ngga suka sama aku lagi apa?” Tanya Fika penasaran.
Rama berfikir sejenak, “Jujur aja aku lupa kalau soal itu, karena tiba-tiba aja aku nganggep kamu udah kayak dulu lagi. Bukan sebagai orang yang aku suka tapi ya sebagai Fika sahabat kecil aku.”
Fika kembali mengangguk secara perlahan. Angin semilir kembali berhembus begitu saja, Fika mendekap tubuhnya sendiri untuk mengurangi rasa dingin pada malam hari ini. Sesekali ia menggerakkan kakinya berulang-ulang dengan sengaja, Rama pun membuka jaket yang ia kenakan untuk menutupi Fika dari depan.
“Kamu ngga kedinginan Ram?” Tanya Fika.
Rama menggeleng kemudian tersenyum, ia kembali menatap ke arah api unggun meninggalkan Fika yang masih menatap ke arahnya. Matanya tak berkedip beberapa saat sampai angin kembali berhembus, ia pun kembali menatap ke arah api unggun.
“Ram...”
Rama menatap ke arah Fika.
“...kenapa kamu ngga bilang dulu kalau suka sama aku?” Tanya Fika.”
“Aku ngga berani...”
Fika menatap cepat ke arah Rama.
“...butuh keberanian yang sangat besar buat ngelakuin hal itu Fik, sayangnya aku ngga punya keberanian sebesar itu. Bisa dibilang aku culun atau cemen lah, itu juga yang buat aku ngga pernah pacaran dari dulu.” Jelas Rama.
“Jadi itu juga yang bikin kamu ngga pernah pacaran?” Tanya Fika.
Rama mengangguk dengan pasti kemudian tersenyum malu kepada Fika. Fika hanya menatap Rama dalam diam, ia seperti mengetahui sisi lain yang baru ia tahu tentang Rama setelah beberapa tahun mengenalnya.
“Kamu kayaknya ngga percaya ya sama aku?” Tanya Rama.
Fika nampak salah tingkah, “Bukan gitu sih Ram. Gimana ya jelasinnya, aku juga bingung sih. Kayak gini deh, aku udah kenal sama kamu dari lama tapi aku baru tahu kalau kamu orangnya begitu. Kesannya kayak belasan tahun aku kenal kamu tuh percuma.”
Rama tersenyum, “Ngga ada yang percuma Fik, semuanya punya nilai masing-masing. Kalau kamu sampai berpikiran sesuatu hanya sia-sia, berarti kamu bisa nerima kenyataannya.”
Fika mengangguk perlahan, kemudian ia tersenyum simpul kepada Rama. Beberapa saat berlalu, bir kaleng sudah habis tak bersisa. Rama mengumpulkan kaleng tersebut di satu tempat agar mudah untuk membuangnya nanti.
“Nih...”
Rama kembali duduk di samping Fika setelah memberikan kaleng bir ke tiga kepada Fika.
”...kamu yakin mau lagi?” Tanya Rama.
Fika mengangguk, “Boleh kan Ram? Aku juga minumnya sama kamu, jadi nggapapa kan?”
“Iya nggapapa.” Jawab Rama singkat.
“Kalau semisal aku minum ngga sama kamu gimana?” Tanya Fika.
“Aku cuma bisa bilang hati-hati aja Fik, selagi kamu bisa jaga diri ya boleh-boleh aja. Kadang suka banyak orang-orang yang memanfaatin kesempatan dalam kesempitan.” Jelas Rama.
Fika mengangguk lalu tersenyum, kemudian mereka kembali meminum bir kaleng yang ke tiga pada malam hari ini. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelahnya, suara retakan kayu di dalam panasnya api yang menemani dalam kesunyian.
Rama menatap ke arah Fika, kemudian ia tersenyum begitu saja. Ia mendapati Fika yang sudah tertidur bersandar pada bangku dan tangannya yang masih menggenggam bir kaleng yang tersisa setengah. Rama membenarkan jaketnya yang dikenakan Fika di depan agar Fika tidak merasakan kedinginan, ia pun menggelengkan kepala seraya tersenyum menatap Fika.
*
“Selamat ya...”
Ucapan yang paling mudah didengar untuk saat ini, di mana para pengunjung yang datang mengucapkan selamat kepada mahasiswa yang wisuda pada hari ini. Beramai-ramai orang-orang datang untuk merayakan sekaligus memeriahkan acara yang biasanya diakan setahun sekali.
Fika dan Rama pun ke luar dari dalam Gedung Serbaguna mengenakan toga mereka, kemudian mereka menghampiri Ibu dan juga Lea yang sudah menunggu mereka di luar. Dengan cepat Rama berjalan menuju Ibu lalu memeluknya cukup erat.
“Selamat ya Ram.” Ucap Ibu.
Rama melepas pelukannya lalu memeluk Lea dengan hangat sementara Ibu memeluk Fika bergantian.
“Fika, selamat ya atas kelulusannya.” Ucap Ibu.
“Makasih ya Bu.” Jawab Fika.
Fika tak melepas pelukannya, ia mendekap Ibu lebih lama dan air mata pun tak bisa ia bendung lebih lama lagi. Fika tak bisa membohongi dirinya ketika ia merindukan Papa dan juga Mama, pelukan hangat Ibu kembali mengingatkannya pada mereka. Ibu mengusap punggung Fika beberapa kali dengan pelan.
“Papa sama Mama pasti bangga sama kamu, setelah ini kamu minta Rama nemenin ketemu mereka. Sekalian Rama ketemu sama Ayahnya juga.” Ucap Ibu.
Fika mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata, hanya air matanya yang menjadi jawaban atas ucapan Ibu. Rama yang menggandeng Lea pun mendekat ke arah mereka.
“Ini wisuda, momen bahagia buat kita. Kenapa kamu malah nangis kayak gini? Udah jangan nangis lagi, percuma kamu dandan susah-susah dari pagi.” Ucap Rama.
“Abang!...”
Protes Lea pun bersambut dengan pukulan pelan ke arah lengan Rama yang berasal dari Fika.
“...Kamu emang ngga bisa lihat suasana.” Sambut Fika.
Ibu dan Lea pun tertawa melihat kejadian itu, sementara Rama hanya bisa mengusap lengannya beberapa kali. Mereka pun menyempatkan diri untuk foto bersama, Fika bersiap-siap untuk menghapus air matanya.
“Nih...”
Rama memberikan tisu kepada Fika.
“...anggep aja hadiah wisuda dari aku.” Ucap Rama.
Fika menerima tisu tersebut seraya tersenyum, ia pun berusaha menghapus air matanya agar tak nampak ketika foto bersama. Setelah dirasa cukup, mereka pun melakukan foto bersama beberapa kali dengan suka cita.
“Ibu sama Lea duluan ya soalnya ada urusan, nanti kamu ajak Fika buat ketemu Papa sama Mamanya sekalian kamu ketemu sama Ayah.” Ucap Ibu.
Rama mengangguk setuju, Ibu dan Lea pun pergi lebih dahulu meninggalkan mereka berdua. Lea sempat mengacungkan ibu jari kepada Rama, ia pun membalasnya seraya tersenyum.
“Ram, kita foto berdua yuk.” Ajak Fika.
“Boleh.” Jawab Rama singkat.
FIka mengeluarkan handphonenya, kemudian mereka berfoto bersama sebegai kenang-kenangan. Beberapa foto pun sudah tersimpan di dalam handphone, Fika menunjukkan isi foto tersebut kepada Rama.
“Jadi, koleksi aku udah lengkap sekarang.” Ucap Fika.
“Koleksi apaan Fik?” Tanya Rama.
“Koleksi foto wisuda kita berdua Ram...”
Rama melihat ada kolase foto yang sudah dibuat oleh Fika. Kumpulan foto-foto wisuda Rama dan juga Fika semenjak mereka TK hingga kuliah saat ini.
“...lengkap kan?” Tanya Fika.
Rama sempat menatap Fika dalam diam, kemudian ia memeluk Fika cukup erat.
“Makasih ya Fik.” Ucap Rama.
Fika mengusap punggung Rama, “Makasih buat apa Ram? Harusnya aku yang bilang makasih sama kamu karena udah mau nemenin aku sampai sejauh ini dengan sabar, aku tau sebenernya kamu udah males nanggepin kebodohan-kebodohan yang aku buat sendiri.”
“Kalau itu sih emang bener, aku udah males nanggepin kebodohan kamu.” Ucap Rama.
Kali ini Fika memukul punggung Rama dengan pelan, kemudian mereka tertawa bersama-sama. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.
“Maaf ya mengganggu...”
Rama dan Fika melepas pelukan, mereka menatap ke arah Dosen pembimbing yang datang.
“...Ibu ganggu ya Fik?” Tanya Dosen tersebut.
“Eh Ibu, ngga kok Bu.” Jawab Fika.
“Selamat ya buat kalian berdua...”
Rama dan Fika membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada Dosen.
“...ada yang mau Ibu kasih tau ke kamu Fik soal tulisan kamu.” Ucap Dosen.
“Oh iya, gimana Bu?” Tanya Fika penasaran.
“Tulisan kamu udah diterima sama kenalan Ibu, mereka tertarik dengan tulisan kamu dan berharap banyak dari itu...”
Fika menatap dengan seksama.
“...kamu mau ngga berangkat ke Tokyo bulan depan?”
ippeh22 memberi reputasi
1
Kutip
Balas