- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.6K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#259
gatra 26
Quote:
DAN DENGAN wajah cerah Bagus Abangan berkata kepada orang yang baru datang itu, “Selamat datang guru”
Paraji Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Badannya yang besar dan tinggi tegap dengan wajah panjang runcing serta sepasang matanya yang tajam, setajam mata burung hantu merupakan pertanda, bahwa Paraji Gading adalah seorang yang tidak dapat mengenal puas atas segenap usaha yang pernah dicapainya.
Mahesa Branjangan pun kemudian mengangguk pula. Seperti Bagus Abangan, ia pun mencoba memberi salam kepada orang sakti yang terhitung masih paman gurunya itu, “Paman Paraji Gading”
Paraji Gading mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Mahesa Branjangan dengan tajamnya, seperti akan ditelannya hidup-hidup. Kemudian sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Hem, kau sangat kuat Mahesa Branjangan. Ternyata kau mampu meladeni dan bahkan menyamai Bagus Abangan”
Mahesa Branjangan mengangguk kecil. Jawabnya, “Aku hanya mecoba melayani adi Bagus Abangan bermain-main paman”
“Jangan sombong” sahut Paraji Gading. “Meskipun kau berhasil mempertahankan namamu, tapi jangan berkeras kepala. Aku tidak senang melihat sikap dan ketidak adilan mu pada murid ku ini”
Mahesa Branjangan tidak segera menjawab. Sekali lagi ia mencoba menatap wajah Paraji Gading yang sedemikian saktinya, sehingga orang mengatakan bahwa ia mampu menangkap angin.
“Mahesa Branjangan” berkata Paraji Gading kemudian. “Aku heran, bahwa kau mampu bertempur dalam tataranmu sekarang. Aku sangka kau tidak akan dapat menyamai muridku. Namun agaknya ilmumu pun bertambah. Aku sangka, setelah Bagus Abangan menambah ilmunya akhir-akhir ini kau akan menjadi ketinggalan karenanya”
Kali ini pun Mahesa Branjangan tidak menjawab. Ia masih tegak seperti patung. Patung yang kurang seimbang, sehingga setiap sentuhan akan dapat merobohkannya.
“Tetapi” berkata Paraji Gadingitu pula, “Dugaanku itu keliru. Darah pendekar yang mengalir ditubuhmu itu darah kakang Pandan Arum juga” Paraji Gading diam untuk sesaat. Kemudian katanya, “Meskipun demikian itu bukan berarti bahwa kau memperlakukan Bagus Abangan dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan cantrik –cantrik disini”
Mahesa Branjangan menjadi semakin berdebar-debar. Paman gurunya itu kini ternyata telah secara langsung turut dalam persoalan yang awalnya hanya remeh temeh itu.
Meskipun demikian dibiarkannya Paraji Gading itu berkata, “Mahesa Branjangan, sebenarnya aku tidak ingin mencampuri persoalan ini. Apabila kau tidak berbuat banyak kesalahan. Aku bermaksud membiarkan Bagus Abangan melakukannya sendiri, tetapi ternyata karena Bagus Abangan tak dapat mengalahkanmu, maka kau pasti masih akan berkeras kepala. Kini biarlah aku meneruskan permintaan Bagus Abangan itu. Terus terang, tanpa berbelit-belit . Mahesa Branjangan, kau harus menyingkirkan Arya Gading. Kedua, kau harus menyampaikan pada kakang Pandan Arum bahwa Bagus Abangan harus memiliki kedudukan yang lebih terpandang di padepokan ini”
“Ingat, masa depan Bagus Abangan harus berbeda dari masa depanmu. Kau sudah puas dengan kedudukanmu sekarang. Tetapi Bagus Abangan tidak ”
Mahesa Branjangan masih berdiam diri. Namun tiba-tiba ia menjadi muak mendengar semua kata-katanya Paraji Gading. Tetapi ia harus menjaga dirinya. Paraji Gading adalah seorang yang sakti. Selain itu sekaligus paman gurunya. Terbersit dalam hatinya, jangan –jangan Paraki Gading terlibat dalam pencurian kitab Lawang Pitu. Atau mungkin dia sendirilah sebenarnya pencuri itu? Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Mahesa Branjangan menyingkirkan dugaan itu jauh –jauh dari kepalanya.
Hatinya sedikit tersentak ketika Paraji Gading berkata, “Kau adalah anak tangga yang pertama bagi Bagus Abangan , Mahesa Branjangan. Bagaimana?”
Tiba-tiba Mahesa Branjangan itu pun menggeleng. Kini ia menjawab dengan ketegasan yang sama seperti jawabannya kepada Bagus Abangan. “Sayang paman, aku tidak dapat memberikan apa-apa kepada Bagus Abangan. Itu nanti biarlah menjadi persoalan yang akan dibicarakan oleh Ki Ageng kelak saat beliau sudah pulang dari pengembaraannya”
Paraji Gading menarik alisnya. Kemudian ia tersenyum. Katanya, “Jangan berkeras kepala Mahesa Branjangan. Ingat, nasibmu akan dapat menjadi kurang baik”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menggeleng. “Paman, mungkin aku dapat menjanjikannya di sini karena aku takut kepada paman. Sekaligus menghormati paman sebagai paman guruku dan saudara seperguruan bapa.Namun aku tidak akan dapat melaksanakannya kelak. Bukankah dengan demikian aku sekedar menipu paman. Karena itu lebih baik berkata terus terang”
Bagus Abangan yang mendengar percakapan itupun, wajahnya menjadi semakin membara. Bahkan kemudian ia menggeram, “Bukankah guru dapat memaksanya?”
“Tentu Bagus Abangan” sahut Paraji Gading. “Aku akan bisa memaksanya. Menangkapnya sekarang dan mengikatnya di batang jambu mete ini dengan posisi kepala di bawah adalah hal yang sangat mudah. Tetapi Mahesa Branjangan tidak akan membiarkannya aku berbuat demikian, bukankah begitu?”
Dada Mahesa Branjangan pun menjadi semakin berdebar-debar. Meskipun demikian ia menjawab, “Benar paman, aku mengharap paman tidak akan berbuat demikian. Tetapi permintaan paman itu pun tak akan dapat aku penuhi”
Paraji Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Jangan begitu Mahesa Branjangan. Nasibmu, hidup matimu kini ada di tanganku”
“Terserahlah kepada Paman”
Paraji Gading mengerutkan keningnya. Jawaban itu benar-benar tidak menyenangkan. Katanya, “Mahesa Branjangan, jangan membuat aku marah. Aku bisa membunuhmu sekarang. Apalah arti hubungan keponakan dan paman disini”
“Terserah kepada Paman. Aku harus tetap pada perintahku. Hidup atau mati adalah suratan takdir yang telah tertulis pada saat semua manusia dilahirkan. Adalah sudah seharusnya aku mati sambil menggenggam kewajiban. Bukan mengingkari”
Paraji Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Badannya yang besar dan tinggi tegap dengan wajah panjang runcing serta sepasang matanya yang tajam, setajam mata burung hantu merupakan pertanda, bahwa Paraji Gading adalah seorang yang tidak dapat mengenal puas atas segenap usaha yang pernah dicapainya.
Mahesa Branjangan pun kemudian mengangguk pula. Seperti Bagus Abangan, ia pun mencoba memberi salam kepada orang sakti yang terhitung masih paman gurunya itu, “Paman Paraji Gading”
Paraji Gading mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Mahesa Branjangan dengan tajamnya, seperti akan ditelannya hidup-hidup. Kemudian sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Hem, kau sangat kuat Mahesa Branjangan. Ternyata kau mampu meladeni dan bahkan menyamai Bagus Abangan”
Mahesa Branjangan mengangguk kecil. Jawabnya, “Aku hanya mecoba melayani adi Bagus Abangan bermain-main paman”
“Jangan sombong” sahut Paraji Gading. “Meskipun kau berhasil mempertahankan namamu, tapi jangan berkeras kepala. Aku tidak senang melihat sikap dan ketidak adilan mu pada murid ku ini”
Mahesa Branjangan tidak segera menjawab. Sekali lagi ia mencoba menatap wajah Paraji Gading yang sedemikian saktinya, sehingga orang mengatakan bahwa ia mampu menangkap angin.
“Mahesa Branjangan” berkata Paraji Gading kemudian. “Aku heran, bahwa kau mampu bertempur dalam tataranmu sekarang. Aku sangka kau tidak akan dapat menyamai muridku. Namun agaknya ilmumu pun bertambah. Aku sangka, setelah Bagus Abangan menambah ilmunya akhir-akhir ini kau akan menjadi ketinggalan karenanya”
Kali ini pun Mahesa Branjangan tidak menjawab. Ia masih tegak seperti patung. Patung yang kurang seimbang, sehingga setiap sentuhan akan dapat merobohkannya.
“Tetapi” berkata Paraji Gadingitu pula, “Dugaanku itu keliru. Darah pendekar yang mengalir ditubuhmu itu darah kakang Pandan Arum juga” Paraji Gading diam untuk sesaat. Kemudian katanya, “Meskipun demikian itu bukan berarti bahwa kau memperlakukan Bagus Abangan dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan cantrik –cantrik disini”
Mahesa Branjangan menjadi semakin berdebar-debar. Paman gurunya itu kini ternyata telah secara langsung turut dalam persoalan yang awalnya hanya remeh temeh itu.
Meskipun demikian dibiarkannya Paraji Gading itu berkata, “Mahesa Branjangan, sebenarnya aku tidak ingin mencampuri persoalan ini. Apabila kau tidak berbuat banyak kesalahan. Aku bermaksud membiarkan Bagus Abangan melakukannya sendiri, tetapi ternyata karena Bagus Abangan tak dapat mengalahkanmu, maka kau pasti masih akan berkeras kepala. Kini biarlah aku meneruskan permintaan Bagus Abangan itu. Terus terang, tanpa berbelit-belit . Mahesa Branjangan, kau harus menyingkirkan Arya Gading. Kedua, kau harus menyampaikan pada kakang Pandan Arum bahwa Bagus Abangan harus memiliki kedudukan yang lebih terpandang di padepokan ini”
“Ingat, masa depan Bagus Abangan harus berbeda dari masa depanmu. Kau sudah puas dengan kedudukanmu sekarang. Tetapi Bagus Abangan tidak ”
Mahesa Branjangan masih berdiam diri. Namun tiba-tiba ia menjadi muak mendengar semua kata-katanya Paraji Gading. Tetapi ia harus menjaga dirinya. Paraji Gading adalah seorang yang sakti. Selain itu sekaligus paman gurunya. Terbersit dalam hatinya, jangan –jangan Paraki Gading terlibat dalam pencurian kitab Lawang Pitu. Atau mungkin dia sendirilah sebenarnya pencuri itu? Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Mahesa Branjangan menyingkirkan dugaan itu jauh –jauh dari kepalanya.
Hatinya sedikit tersentak ketika Paraji Gading berkata, “Kau adalah anak tangga yang pertama bagi Bagus Abangan , Mahesa Branjangan. Bagaimana?”
Tiba-tiba Mahesa Branjangan itu pun menggeleng. Kini ia menjawab dengan ketegasan yang sama seperti jawabannya kepada Bagus Abangan. “Sayang paman, aku tidak dapat memberikan apa-apa kepada Bagus Abangan. Itu nanti biarlah menjadi persoalan yang akan dibicarakan oleh Ki Ageng kelak saat beliau sudah pulang dari pengembaraannya”
Paraji Gading menarik alisnya. Kemudian ia tersenyum. Katanya, “Jangan berkeras kepala Mahesa Branjangan. Ingat, nasibmu akan dapat menjadi kurang baik”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menggeleng. “Paman, mungkin aku dapat menjanjikannya di sini karena aku takut kepada paman. Sekaligus menghormati paman sebagai paman guruku dan saudara seperguruan bapa.Namun aku tidak akan dapat melaksanakannya kelak. Bukankah dengan demikian aku sekedar menipu paman. Karena itu lebih baik berkata terus terang”
Bagus Abangan yang mendengar percakapan itupun, wajahnya menjadi semakin membara. Bahkan kemudian ia menggeram, “Bukankah guru dapat memaksanya?”
“Tentu Bagus Abangan” sahut Paraji Gading. “Aku akan bisa memaksanya. Menangkapnya sekarang dan mengikatnya di batang jambu mete ini dengan posisi kepala di bawah adalah hal yang sangat mudah. Tetapi Mahesa Branjangan tidak akan membiarkannya aku berbuat demikian, bukankah begitu?”
Dada Mahesa Branjangan pun menjadi semakin berdebar-debar. Meskipun demikian ia menjawab, “Benar paman, aku mengharap paman tidak akan berbuat demikian. Tetapi permintaan paman itu pun tak akan dapat aku penuhi”
Paraji Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Jangan begitu Mahesa Branjangan. Nasibmu, hidup matimu kini ada di tanganku”
“Terserahlah kepada Paman”
Paraji Gading mengerutkan keningnya. Jawaban itu benar-benar tidak menyenangkan. Katanya, “Mahesa Branjangan, jangan membuat aku marah. Aku bisa membunuhmu sekarang. Apalah arti hubungan keponakan dan paman disini”
“Terserah kepada Paman. Aku harus tetap pada perintahku. Hidup atau mati adalah suratan takdir yang telah tertulis pada saat semua manusia dilahirkan. Adalah sudah seharusnya aku mati sambil menggenggam kewajiban. Bukan mengingkari”
Quote:
PARAJI GADING, seorang yang sudah kenyang mengenyam pahit manisnya kehidupan itu, mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Mahesa Branjangan. Ia kagum pada kejantanannya. Kagum pada tanggung-jawabnya. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak senang mendengar jawaban itu.
Karena itu, maka sekali lagi Paraji Gading itu berkata, “Mahesa Branjangan, orang-orang seperti kau ini benar-benar merupakan mutiara yang tersimpan dalam perbendaharaan padepokan. Aku ingin agar mutiara-mutiara demikian itu tidak akan hilang tertimbun oleh tanah. Karena itu Mahesa Branjangan, aku minta kau membantu Bagus Abangan dalam usahanya mendapatkan tempat yang baik dalam hidupnya yang penuh dengan cita-cita itu. Aku sendiri pasti akan merupakan kekuatan yang akan selalu ada di belakangnya”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menjadi muak. Bahkan ia menjadi muak melihat wajah yang panjang bermata seperti mata burung hantu dan berhidung terlalu runcing itu. Meskipun demikian, tak ada suatu pun yang dapat dilakukannya. Dan ia masih mendengar Paraji Gading meneruskan, “Apabila kelak Bagus Abangan akan sampai di tempat itu, maka kau pun akan ikut serta mukti pula bersamanya”
Mahesa Branjangan menggeleng tegas. Jawabnya, “Biarlah aku di tempatku. Apa pun yang akan aku alami”
Dada Paraji Gadingitu pun sudah mulai dirayapi oleh kemarahan yang semakin lama semakin menyala. Agaknya Mahesa Branjangan sudah tidak mungkin dapat dibujuknya. Karena itu katanya, “Mahesa Branjangan, apakah kau benar-benar menunggu aku marah?”
Mahesa Branjangan yang berdiri seperti pucang kanginan itu menjawab, “Sudah aku katakan Paman. Namun aku tetap pemimpin sementara di padepokan Pandan Arum. Bukan orang lain. Itu titah Ki Ageng sebelum pergi”
Paraji Gadingmengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sudah menduga bahwa kau akan tetap pada pendirianmu. Nah, bagaimanakah kalau aku membunuhmu sekarang?”
Mahesa Branjangan menyadari keadaannya. Ia tidak lebih dari seorang yang kecil di hadapan Paraji Gading. Tetapi ia tidak mau mengorbankan kewibawaan, sebagai seorang pemimpin. Sekaligus putra semata wayang Ki Ageng Pandan Arum. Sedang orang seperti Paraji Gadingitu pasti akan dapat melakukan apa saja yang dikatakannya.
Meskipun demikian Mahesa Branjangan menjawab, “Paman pasti akan mampu melakukannya. Terserahlah kepada Paman. Tetapi Paman harus menyadari keadaan Bagus Abangan. Anak itu keluar bersama aku. Apakah kata mereka kalau anak itu kembali seorang diri, dan besok mayatku diketemukan di sini?”
Mendengar jawaban itu Paraji Gading tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Katanya di antara derai tawanya, “He Mahesa Branjangan, ternyata kau tidak sejantan yang aku sangka. Ternyata kau mulai ketakutan dan mencari jalan untuk menolong dirimu sendiri”
Mendengar suara tertawa dan kata-kata Paraji Gadingitu, telinga Mahesa Branjangan seperti terjilat api. Sehingga ia lupa, dengan siapa ia berhadapan. Hampir berteriak ia membentak, “Cukup paman!”
Paraji Gading terkejut mendengar bentakan itu, sehingga dengan serta-merta derai tawanya itu terputus. Dengan tajamnya ia memandang wajah Mahesa Branjangan yang masih berkata terus, “Apakah kau sangka bahwa setiap makhluk akan menyerahkan hidupnya demikian saja tanpa usaha untuk menyelamatkan diri. Bukankah hak setiap hidup untuk mempertahankan hidupnya?”
“Tetapi caramu adalah cara yang licik” sahut Paraji Gading.
“Tidak” bantah Mahesa Branjangan. “Tetapi aku hanya ingin mengatakan, kalau kau bunuh aku, maka pekerjaanmu itu tidak akan bermanfaat. Setiap orang dapat segera mengambil kesimpulan apa yang sudah terjadi”
“Seandainya mereka mengetahui sekalipun, apa yang akan mereka lakukan terhadap Bagus Abangan? Apakah mereka berani melakukan tindakan apa pun terhadap anak itu?”
“Tentu”
“Aku akan dapat membunuh mereka semua”
“Mereka adalah para cantrik. Kalau mereka tak dapat mengatasi seseorang, maka banyak yang akan melakukan. Bagaimana anggapan Paman tentang seorang paman Kuda Merta. Paman Anjam Kayuwangi dan Paksi Jalak Kuning atau bahkan Ki Ageng sendiri?”
Paraji Gading mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Persetan dengan mereka. Tetapi aku tidak sebodoh yang kau sangka. Aku sudah bersedia alat untuk membunuhmu. Semua orang mengenal bahwa senjata Bagus Abangan adalah senjata tajam. Sekarang aku akan membunuhmu dengan kedua tangan ku ini”
Dada Mahesa Branjangan menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi ketika tiba-tiba ia melihat, Paraji Gading itu memperlihatkan ke dua tangannya yang tiba –tiba saja berwarna kehitam –hitaman.
Diamat-amatinya kedua tangan Paraji Gading itu sambil bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Hem, ilmu apa yang dimiliki orang ini ?”
Getar di dalam dada Mahesa Branjangan menjadi semakin cepat. Kini ia benar-benar berhadapan dengan maut. Dan ia tidak akan dapat menemukan jalan untuk menyelamatkan diri. Meskipun demikian sama sekali tak terlintas di dalam otaknya untuk memenuhi permintaan Bagus Abangan, menebus nyawanya dengan menjual kewibawaan padepokan Pandan Arum.
Demikianlah maka sesaat mereka berada dalam keadaan yang tegang. Mahesa Branjangan, Bagus Abangan dan Paraji Gadingseperti tonggak-tonggak yang kaku. Yang mula-mula menyobek kesepian adalah Paraji Gading.
Katanya, “Bagaimana Mahesa Branjangan. Apakah kau masih ingin bertahan pada pendirianmu? Memang keadaanmu masih cukup baik. Kalau kau mati, maka kau akan dihormati sebagai pahlawan. Namun bukankah lebih baik apabila kita dapat melihat dan merasakan dalam hidup kita ini kehormatan itu daripada sesudah kita mati?”
Mahesa Branjangan tidak menjawab sepatah katapun. Ia sedang mempersiapkan dirinya menghadapi maut.
“Bagaimana Mahesa Branjangan?” bentak Paraji Gadingyang sudah mulai kehilangan kesabaran. “Kalau kau mati, aku akan berusaha Bagus Abangan lah yang akan mengganti kedudukanmu”
Mahesa Branjangan menggeram mendengar rencana gila-gilaan itu. Namun kali ini pun ia tidak menjawab. baginya, sudah tidak ada gunanya lagi untuk berbicara apapun. Maka yang dapat dilakukan adalah menunggu apa saja yang akan terjadi.
Paraji Gading ternyata benar-benar telah kehilangan kesabaran. Dengan perlahan -lahan ia berjalan mendekati Mahesa Branjangan sambil berkata, “Aku akan memecah batok kepalamu, dengan ilmu yang mungkin kau juga belum tahu. Ini adalah Ajian Watu Item”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menggeram. Tanpa disengaja ia mengangkat kerisnya. Melihat gerak pedang itu Paraji Gading tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Gila. Apakah kau akan melawan aku? Dengan satu sentuhan dari anak kecil, kau pasti sudah akan roboh. Jangan gila. Kau hanya tinggal mempersiapkan kepalamu saja. Manakah yang sebaiknya aku pukul supaya kau segera mati. Dengan demikian aku sudah bermurah hati kepadamu”
Mulut Mahesa Branjangan benar-benar telah terkunci. Mahesa Branjangan kini melihat Paraji Gadingsemakin lama semakin dekat. Suara tertawanya masih saja terdengar berkepanjangan.
Karena itu, maka sekali lagi Paraji Gading itu berkata, “Mahesa Branjangan, orang-orang seperti kau ini benar-benar merupakan mutiara yang tersimpan dalam perbendaharaan padepokan. Aku ingin agar mutiara-mutiara demikian itu tidak akan hilang tertimbun oleh tanah. Karena itu Mahesa Branjangan, aku minta kau membantu Bagus Abangan dalam usahanya mendapatkan tempat yang baik dalam hidupnya yang penuh dengan cita-cita itu. Aku sendiri pasti akan merupakan kekuatan yang akan selalu ada di belakangnya”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menjadi muak. Bahkan ia menjadi muak melihat wajah yang panjang bermata seperti mata burung hantu dan berhidung terlalu runcing itu. Meskipun demikian, tak ada suatu pun yang dapat dilakukannya. Dan ia masih mendengar Paraji Gading meneruskan, “Apabila kelak Bagus Abangan akan sampai di tempat itu, maka kau pun akan ikut serta mukti pula bersamanya”
Mahesa Branjangan menggeleng tegas. Jawabnya, “Biarlah aku di tempatku. Apa pun yang akan aku alami”
Dada Paraji Gadingitu pun sudah mulai dirayapi oleh kemarahan yang semakin lama semakin menyala. Agaknya Mahesa Branjangan sudah tidak mungkin dapat dibujuknya. Karena itu katanya, “Mahesa Branjangan, apakah kau benar-benar menunggu aku marah?”
Mahesa Branjangan yang berdiri seperti pucang kanginan itu menjawab, “Sudah aku katakan Paman. Namun aku tetap pemimpin sementara di padepokan Pandan Arum. Bukan orang lain. Itu titah Ki Ageng sebelum pergi”
Paraji Gadingmengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sudah menduga bahwa kau akan tetap pada pendirianmu. Nah, bagaimanakah kalau aku membunuhmu sekarang?”
Mahesa Branjangan menyadari keadaannya. Ia tidak lebih dari seorang yang kecil di hadapan Paraji Gading. Tetapi ia tidak mau mengorbankan kewibawaan, sebagai seorang pemimpin. Sekaligus putra semata wayang Ki Ageng Pandan Arum. Sedang orang seperti Paraji Gadingitu pasti akan dapat melakukan apa saja yang dikatakannya.
Meskipun demikian Mahesa Branjangan menjawab, “Paman pasti akan mampu melakukannya. Terserahlah kepada Paman. Tetapi Paman harus menyadari keadaan Bagus Abangan. Anak itu keluar bersama aku. Apakah kata mereka kalau anak itu kembali seorang diri, dan besok mayatku diketemukan di sini?”
Mendengar jawaban itu Paraji Gading tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Katanya di antara derai tawanya, “He Mahesa Branjangan, ternyata kau tidak sejantan yang aku sangka. Ternyata kau mulai ketakutan dan mencari jalan untuk menolong dirimu sendiri”
Mendengar suara tertawa dan kata-kata Paraji Gadingitu, telinga Mahesa Branjangan seperti terjilat api. Sehingga ia lupa, dengan siapa ia berhadapan. Hampir berteriak ia membentak, “Cukup paman!”
Paraji Gading terkejut mendengar bentakan itu, sehingga dengan serta-merta derai tawanya itu terputus. Dengan tajamnya ia memandang wajah Mahesa Branjangan yang masih berkata terus, “Apakah kau sangka bahwa setiap makhluk akan menyerahkan hidupnya demikian saja tanpa usaha untuk menyelamatkan diri. Bukankah hak setiap hidup untuk mempertahankan hidupnya?”
“Tetapi caramu adalah cara yang licik” sahut Paraji Gading.
“Tidak” bantah Mahesa Branjangan. “Tetapi aku hanya ingin mengatakan, kalau kau bunuh aku, maka pekerjaanmu itu tidak akan bermanfaat. Setiap orang dapat segera mengambil kesimpulan apa yang sudah terjadi”
“Seandainya mereka mengetahui sekalipun, apa yang akan mereka lakukan terhadap Bagus Abangan? Apakah mereka berani melakukan tindakan apa pun terhadap anak itu?”
“Tentu”
“Aku akan dapat membunuh mereka semua”
“Mereka adalah para cantrik. Kalau mereka tak dapat mengatasi seseorang, maka banyak yang akan melakukan. Bagaimana anggapan Paman tentang seorang paman Kuda Merta. Paman Anjam Kayuwangi dan Paksi Jalak Kuning atau bahkan Ki Ageng sendiri?”
Paraji Gading mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Persetan dengan mereka. Tetapi aku tidak sebodoh yang kau sangka. Aku sudah bersedia alat untuk membunuhmu. Semua orang mengenal bahwa senjata Bagus Abangan adalah senjata tajam. Sekarang aku akan membunuhmu dengan kedua tangan ku ini”
Dada Mahesa Branjangan menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi ketika tiba-tiba ia melihat, Paraji Gading itu memperlihatkan ke dua tangannya yang tiba –tiba saja berwarna kehitam –hitaman.
Diamat-amatinya kedua tangan Paraji Gading itu sambil bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Hem, ilmu apa yang dimiliki orang ini ?”
Getar di dalam dada Mahesa Branjangan menjadi semakin cepat. Kini ia benar-benar berhadapan dengan maut. Dan ia tidak akan dapat menemukan jalan untuk menyelamatkan diri. Meskipun demikian sama sekali tak terlintas di dalam otaknya untuk memenuhi permintaan Bagus Abangan, menebus nyawanya dengan menjual kewibawaan padepokan Pandan Arum.
Demikianlah maka sesaat mereka berada dalam keadaan yang tegang. Mahesa Branjangan, Bagus Abangan dan Paraji Gadingseperti tonggak-tonggak yang kaku. Yang mula-mula menyobek kesepian adalah Paraji Gading.
Katanya, “Bagaimana Mahesa Branjangan. Apakah kau masih ingin bertahan pada pendirianmu? Memang keadaanmu masih cukup baik. Kalau kau mati, maka kau akan dihormati sebagai pahlawan. Namun bukankah lebih baik apabila kita dapat melihat dan merasakan dalam hidup kita ini kehormatan itu daripada sesudah kita mati?”
Mahesa Branjangan tidak menjawab sepatah katapun. Ia sedang mempersiapkan dirinya menghadapi maut.
“Bagaimana Mahesa Branjangan?” bentak Paraji Gadingyang sudah mulai kehilangan kesabaran. “Kalau kau mati, aku akan berusaha Bagus Abangan lah yang akan mengganti kedudukanmu”
Mahesa Branjangan menggeram mendengar rencana gila-gilaan itu. Namun kali ini pun ia tidak menjawab. baginya, sudah tidak ada gunanya lagi untuk berbicara apapun. Maka yang dapat dilakukan adalah menunggu apa saja yang akan terjadi.
Paraji Gading ternyata benar-benar telah kehilangan kesabaran. Dengan perlahan -lahan ia berjalan mendekati Mahesa Branjangan sambil berkata, “Aku akan memecah batok kepalamu, dengan ilmu yang mungkin kau juga belum tahu. Ini adalah Ajian Watu Item”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menggeram. Tanpa disengaja ia mengangkat kerisnya. Melihat gerak pedang itu Paraji Gading tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Gila. Apakah kau akan melawan aku? Dengan satu sentuhan dari anak kecil, kau pasti sudah akan roboh. Jangan gila. Kau hanya tinggal mempersiapkan kepalamu saja. Manakah yang sebaiknya aku pukul supaya kau segera mati. Dengan demikian aku sudah bermurah hati kepadamu”
Mulut Mahesa Branjangan benar-benar telah terkunci. Mahesa Branjangan kini melihat Paraji Gadingsemakin lama semakin dekat. Suara tertawanya masih saja terdengar berkepanjangan.
Quote:
TIDAK JAUH dari tempat itu sesosok tubuh berpakaian serba putih tampak mendesah berat. Lantas dengan cepat orang berpakaian putih itu mencabut tangkai pohon talas. Tangkai itu lantas dilecutkan seperti cemeti dengan sekuat tenaga. Akibatnya sungguh dahsyat suara lecutannya keras dan bergemuruh bagai ledakkan gunung Merapi.
Suara tertawa Paraji Gading pun terputus. Mereka semua terkejut bukan buatan. Apalagi Mahesa Branjangan dan Bagus Abangan. Dalam sepi malam itu terdengar tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat. Sehingga getarannya telah menggerakkan daun-daun pepohonan dan menggugurkan daun-daun kuning yang tidak mampu berpegangan dahan-dahannya lagi. Bahkan ledakan itu telah menggetarkan dada mereka yang mendengarnya. Lebih-lebih Mahesa Branjangan dan Bagus Abangan.
Paraji Gading itu kini tegak seperti patung. Namun tampaklah ia memusatkan perhatiannya memandang segenap arah. Matanya yang tajam setajam mata burung hantu itu pun menjadi liar. Dalam ketegangan itu pun sekali lagi terdengar suara ledakan itu. Lebih keras dan getarannya semakin dalam menusuk dada. Mahesa Branjangan dan Bagus Abangan terpaksa memejamkan mata mereka dan memusatkan perlawanan mereka dengan kekuatan batin melawan getaran yang aneh itu.
Mata Paraji Gading itu pun menjadi semakin liar. Bahkan tiba-tiba ia berteriak, “Dahsyat. Kekuatan orang itu pasti sama dengan kekuatan raksasa. Tetapi jangan seperti seorang pengecut. Mari, datanglah kemari. Aku bersedia menyambutmu”
Namun tak ada jawaban. Yang terdengar sekali lagi suara lecutan yang menyerupai ledakan itu. Lebih keras pula dari yang terdahulu.
Paraji Gading pun kemudian menjadi marah bukan kepalang. Seperti orang gila ia berteriak-teriak, “Ayo, kemarilah. Jangan bersembunyi. Inilah Paraji Gading”
Tetapi kemudian tegalan itu menjadi sepi. Suara ledakan itu pun tak terdengar lagi. Mengerutkan keningnya Paraji Gading itu masih tegak seperti patung. Ia masih mencoba mengetahui dari manakah arah suara ledakan-ledakan itu. Namun suara itu tak terdengar lagi. Dalam pada itu, tumbuhlah suatu persoalan di dalam dirinya. Dalam diri Paraji Gading yang perkasa itu. Ia tidak akan takut berhadapan dengan setiap orang bagaimanapun saktinya.
Paraji Gading merasa, bahwa dirinya pasti akan mampu menghadapi siapa saja dalam pertempuran seorang lawan seorang. Biar pun orang itu Hadiwijaya, yang terkenal memiliki aji Lembu sekilan, Rog-rog Asem, Sapu Angin sejak masa kanak-kanaknya, sejak ia masih bernama Mas Karebet. Setidak-tidaknya ia pasti akan dapat menyelamatkan dirinya dari lawannya. Namun orang yang meledakkan suara –suara aneh itu pun bukan orang kebanyakan, sehingga apabila ia mengejarnya, maka ada kemungkinan orang itu berhasil melarikan diri.
Yang kemudian mengganggunya adalah, apabila Mahesa Branjangan itu dibunuhnya, maka ternyata akan hadir sedikit-dikitnya seorang saksi. Orang yang menyuarakan lecutan-lecutan dahsyat itu. Dengan demikian maka cerita Bagus Abangan lambat atau cepat, pasti akan diketahui kebohongannya. Karena itu, tiba-tiba Paraji Gadingitu pun mengumpat tak habis-habisnya.
Katanya, “Setan itu ternyata berhasil menolong memperpanjang nyawamu Mahesa Branjangan. Ia akan merupakan saksi yang mengganggu jalan Bagus Abangan. Meskipun demikian, ingatlah, Bagus Abangan tak akan pernah melepaskan tuntutannya. Biarlah kali ini kau tetap hidup. Aku beri waktu kau sepasar. Setelah perpindahan kepemimpinan di padepokan ini. Kalau dalam sepasar kau tidak merubah pendirianmu, dalam setiap kesempatan aku akan dengan mudah membunuhmu. Mungkin dengan cara-cara yang sangat mengerikan”
Mahesa Branjangan masih berdiam diri. Apalagi kini, dadanya masih dipengaruhi oleh getaran-getaran lecutan yang dahsyat itu. Karena itu ia sama sekali tidak menjawab kata-kata Paraji Gading.
“Pulanglah berdua. Jangan membuat persoalan supaya aku mempunyai pertimbangan- pertimbangan lain”
Mahesa Branjangan masih tetap tegak seperti tiang-tiang yang beku. Ia mendengar kata-kata Paraji Gadingitu, namun seakan-akan ia tidak mengerti maknanya. Untuk sesaat Bagus Abangan pun menjadi seolah-olah kehilangan kesadarannya. Namun seperti orang yang tersentak bangun dari tidurnya ia mendengar gurunya itu berkata, bahwa Mahesa Branjangan akan dibebaskannya. Karena itu, maka timbullah berbagai pertanyaan di dalam dirinya. Keadaan itu sudah terlanjur sedemikian buruknya. Apabila Mahesa Branjangan itu masih tetap hidup, apakah keadaannya tidak menjadi semakin sulit.
Maka dengan terbata-bata terdengarlah Bagus Abangan itu bertanya, “Guru, apakah guru akan memaafkan kakang Mahesa Branjangan?”
“Tidak” sahut gurunya. “Aku hanya memberinya waktu sepasar”
“Kenapa guru masih memberinya waktu?”
“Ada bermacam-macam pertimbangan. Aku masih berusaha untuk mencari jalan yang baik bagimu. Kecuali apabila dalam sepasar Mahesa Branjangan masih tetap keras kepala. Selain yang sudah aku katakan, setan yang memperdengarkan suara lecutan itu pun dapat mengganggu jalanmu Bagus Abangan, “
“Kenapa guru tidak menangkapnya saja, dan membunuhnya pula?”
“Kau dengar suara lecutannya?” bertanya gurunya. “Kau merasakan getaran di dadamu? Nah, itu pertanda bahwa orang itu pun bukan orang kebanyakan. Mungkin ia dapat melepaskan diri dari tanganku meskipun ia tidak berani langsung melawan aku dalam satu perkelahian”
Bagus Abangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun masih tampak di wajahnya, bahwa ia menyesal akan keadaan itu. Kemudian terdengarlah kembali suara Paraji Gading, kali ini kepada Mahesa Branjangan.
“Nah Mahesa Branjangan. Aku masih akan membiarkan kau hidup sepasar lagi. Kembalilah kalian berdua. Sekali lagi aku memperingatkan kau Mahesa Branjangan. Jangan membuat persoalan atas Bagus Abangan ”
Kini Mahesa Branjangan telah menyadari keadaannya seluruhnya. Ia mendengar semua kata-kata Paraji Gading. Ternyata orang itu seperti musuh dalam selimut. Ia sama sekali tidak menyangka paman gurunya itu berbuat sedemikian jauhnya. Perlahan –lahan kecurigaannya semakin menguat pada Paraji Gading. Dengan demikian maka Paraji Gading maupun Bagus Abangan adalah benar-benar orang yang sangat berbahaya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Paraji Gading pula, “Nah Bagus Abangan. Jangan cemas, aku akan terus menerus mengawasi keadaan. Kau dengar pula itu, Mahesa Branjangan?”
Sebelum Mahesa Branjangan berkata sepatah katapun, dan sebelum Bagus Abangan menjawab terdengarlah Paraji Gadingitu menggeram. Kemudian dengan satu loncatan yang cepat, Paraji Gading menghilang di balik pepohonan. Ia masih akan mencoba mencari, siapakah yang telah memperdengarkan suara lecutan yang dahsyat, yang telah mengganggu pekerjaannya. Namun karena suara itu sudah tidak terdengar lagi, serta Paraji Gading menyadari, bahwa belum pasti ia kan dapat menangkapnya, akhirnya Paraji Gadingitu pun melepaskan maksudnya.
Bagus Abangan dan Mahesa Branjangan masih tegak di tempat masing-masing. Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Paraji Gading benar-benar luar biasa. Namanya yang menakutkan itu, tidak saja karena kesombongannya, namun ia benar-benar memiliki kekuatan yang tidak ada taranya.
Suara tertawa Paraji Gading pun terputus. Mereka semua terkejut bukan buatan. Apalagi Mahesa Branjangan dan Bagus Abangan. Dalam sepi malam itu terdengar tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat. Sehingga getarannya telah menggerakkan daun-daun pepohonan dan menggugurkan daun-daun kuning yang tidak mampu berpegangan dahan-dahannya lagi. Bahkan ledakan itu telah menggetarkan dada mereka yang mendengarnya. Lebih-lebih Mahesa Branjangan dan Bagus Abangan.
Paraji Gading itu kini tegak seperti patung. Namun tampaklah ia memusatkan perhatiannya memandang segenap arah. Matanya yang tajam setajam mata burung hantu itu pun menjadi liar. Dalam ketegangan itu pun sekali lagi terdengar suara ledakan itu. Lebih keras dan getarannya semakin dalam menusuk dada. Mahesa Branjangan dan Bagus Abangan terpaksa memejamkan mata mereka dan memusatkan perlawanan mereka dengan kekuatan batin melawan getaran yang aneh itu.
Mata Paraji Gading itu pun menjadi semakin liar. Bahkan tiba-tiba ia berteriak, “Dahsyat. Kekuatan orang itu pasti sama dengan kekuatan raksasa. Tetapi jangan seperti seorang pengecut. Mari, datanglah kemari. Aku bersedia menyambutmu”
Namun tak ada jawaban. Yang terdengar sekali lagi suara lecutan yang menyerupai ledakan itu. Lebih keras pula dari yang terdahulu.
Paraji Gading pun kemudian menjadi marah bukan kepalang. Seperti orang gila ia berteriak-teriak, “Ayo, kemarilah. Jangan bersembunyi. Inilah Paraji Gading”
Tetapi kemudian tegalan itu menjadi sepi. Suara ledakan itu pun tak terdengar lagi. Mengerutkan keningnya Paraji Gading itu masih tegak seperti patung. Ia masih mencoba mengetahui dari manakah arah suara ledakan-ledakan itu. Namun suara itu tak terdengar lagi. Dalam pada itu, tumbuhlah suatu persoalan di dalam dirinya. Dalam diri Paraji Gading yang perkasa itu. Ia tidak akan takut berhadapan dengan setiap orang bagaimanapun saktinya.
Paraji Gading merasa, bahwa dirinya pasti akan mampu menghadapi siapa saja dalam pertempuran seorang lawan seorang. Biar pun orang itu Hadiwijaya, yang terkenal memiliki aji Lembu sekilan, Rog-rog Asem, Sapu Angin sejak masa kanak-kanaknya, sejak ia masih bernama Mas Karebet. Setidak-tidaknya ia pasti akan dapat menyelamatkan dirinya dari lawannya. Namun orang yang meledakkan suara –suara aneh itu pun bukan orang kebanyakan, sehingga apabila ia mengejarnya, maka ada kemungkinan orang itu berhasil melarikan diri.
Yang kemudian mengganggunya adalah, apabila Mahesa Branjangan itu dibunuhnya, maka ternyata akan hadir sedikit-dikitnya seorang saksi. Orang yang menyuarakan lecutan-lecutan dahsyat itu. Dengan demikian maka cerita Bagus Abangan lambat atau cepat, pasti akan diketahui kebohongannya. Karena itu, tiba-tiba Paraji Gadingitu pun mengumpat tak habis-habisnya.
Katanya, “Setan itu ternyata berhasil menolong memperpanjang nyawamu Mahesa Branjangan. Ia akan merupakan saksi yang mengganggu jalan Bagus Abangan. Meskipun demikian, ingatlah, Bagus Abangan tak akan pernah melepaskan tuntutannya. Biarlah kali ini kau tetap hidup. Aku beri waktu kau sepasar. Setelah perpindahan kepemimpinan di padepokan ini. Kalau dalam sepasar kau tidak merubah pendirianmu, dalam setiap kesempatan aku akan dengan mudah membunuhmu. Mungkin dengan cara-cara yang sangat mengerikan”
Mahesa Branjangan masih berdiam diri. Apalagi kini, dadanya masih dipengaruhi oleh getaran-getaran lecutan yang dahsyat itu. Karena itu ia sama sekali tidak menjawab kata-kata Paraji Gading.
“Pulanglah berdua. Jangan membuat persoalan supaya aku mempunyai pertimbangan- pertimbangan lain”
Mahesa Branjangan masih tetap tegak seperti tiang-tiang yang beku. Ia mendengar kata-kata Paraji Gadingitu, namun seakan-akan ia tidak mengerti maknanya. Untuk sesaat Bagus Abangan pun menjadi seolah-olah kehilangan kesadarannya. Namun seperti orang yang tersentak bangun dari tidurnya ia mendengar gurunya itu berkata, bahwa Mahesa Branjangan akan dibebaskannya. Karena itu, maka timbullah berbagai pertanyaan di dalam dirinya. Keadaan itu sudah terlanjur sedemikian buruknya. Apabila Mahesa Branjangan itu masih tetap hidup, apakah keadaannya tidak menjadi semakin sulit.
Maka dengan terbata-bata terdengarlah Bagus Abangan itu bertanya, “Guru, apakah guru akan memaafkan kakang Mahesa Branjangan?”
“Tidak” sahut gurunya. “Aku hanya memberinya waktu sepasar”
“Kenapa guru masih memberinya waktu?”
“Ada bermacam-macam pertimbangan. Aku masih berusaha untuk mencari jalan yang baik bagimu. Kecuali apabila dalam sepasar Mahesa Branjangan masih tetap keras kepala. Selain yang sudah aku katakan, setan yang memperdengarkan suara lecutan itu pun dapat mengganggu jalanmu Bagus Abangan, “
“Kenapa guru tidak menangkapnya saja, dan membunuhnya pula?”
“Kau dengar suara lecutannya?” bertanya gurunya. “Kau merasakan getaran di dadamu? Nah, itu pertanda bahwa orang itu pun bukan orang kebanyakan. Mungkin ia dapat melepaskan diri dari tanganku meskipun ia tidak berani langsung melawan aku dalam satu perkelahian”
Bagus Abangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun masih tampak di wajahnya, bahwa ia menyesal akan keadaan itu. Kemudian terdengarlah kembali suara Paraji Gading, kali ini kepada Mahesa Branjangan.
“Nah Mahesa Branjangan. Aku masih akan membiarkan kau hidup sepasar lagi. Kembalilah kalian berdua. Sekali lagi aku memperingatkan kau Mahesa Branjangan. Jangan membuat persoalan atas Bagus Abangan ”
Kini Mahesa Branjangan telah menyadari keadaannya seluruhnya. Ia mendengar semua kata-kata Paraji Gading. Ternyata orang itu seperti musuh dalam selimut. Ia sama sekali tidak menyangka paman gurunya itu berbuat sedemikian jauhnya. Perlahan –lahan kecurigaannya semakin menguat pada Paraji Gading. Dengan demikian maka Paraji Gading maupun Bagus Abangan adalah benar-benar orang yang sangat berbahaya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Paraji Gading pula, “Nah Bagus Abangan. Jangan cemas, aku akan terus menerus mengawasi keadaan. Kau dengar pula itu, Mahesa Branjangan?”
Sebelum Mahesa Branjangan berkata sepatah katapun, dan sebelum Bagus Abangan menjawab terdengarlah Paraji Gadingitu menggeram. Kemudian dengan satu loncatan yang cepat, Paraji Gading menghilang di balik pepohonan. Ia masih akan mencoba mencari, siapakah yang telah memperdengarkan suara lecutan yang dahsyat, yang telah mengganggu pekerjaannya. Namun karena suara itu sudah tidak terdengar lagi, serta Paraji Gading menyadari, bahwa belum pasti ia kan dapat menangkapnya, akhirnya Paraji Gadingitu pun melepaskan maksudnya.
Bagus Abangan dan Mahesa Branjangan masih tegak di tempat masing-masing. Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Paraji Gading benar-benar luar biasa. Namanya yang menakutkan itu, tidak saja karena kesombongannya, namun ia benar-benar memiliki kekuatan yang tidak ada taranya.
Diubah oleh breaking182 05-06-2022 14:04
pulaukapok dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Kutip
Balas