- Beranda
- Stories from the Heart
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
...
TS
gitartua24
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
"....and after all, we just have to move on."

"Terkadang, gue ingin menyesali pilihah hidup yang sudah gue ambil. Kemudian, gue menyadari apa yang gue miliki sekarang. Apakah ada jaminan kalau gue akan lebih bahagia."
Ketika sampai di rumah sekitar pukul satu malam, gue langsung beranjak menuju kamar setelah melepas sepatu dan meninggalkannya di pintu depan rumah. Di dalam kamar, kasur dengan sprei berwarna coklat tersusun rapih beserta selimut dengan warna senada yang masih terlipat. Pasti nyokap yang beresin, pikir gue.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Prolog
Tahun Pertama
Part 1 - Encounter
Part 2 - A 'Lil Chat
Part 3 - Introduction
Part 4 - Her Name Is...
Part 5 - Norwegian Wood
Part 6 - Invitation
Part 7 - Not Ready For Collage
Part 8 - Saperate
Part 9 - Request
Part 10 - It's Just The First day Of Collage
Part 11 - Troublemaker
Part 12 - In The Rains
Part 13 - Old Time Sake
Part 14 - Long Night
Part 15 - All Night Long
Part 16 - Hangover Girl
Part 17 - Morning Talk
Part 18 - A Book That Change
Part 19 - Where Are We Going
Part 20 - A Story About Past
Part 21 - Don't Cross The Line
Part 22 - Some Kind A Favor
Part 23 - Mission Almost Impossible
Part 24 - The Game We Play
Part 25 - Game Of Heart
Diubah oleh gitartua24 03-04-2024 07:12
ismetbakri49508 dan 40 lainnya memberi reputasi
39
25.3K
163
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#33
Part 10
It’s Just The First Day Of Collage
“Tre, lo tau cowok yang tadi duduk di sebelah gue nggak?” Kirana sedang mengelap bibirnya menggunakan tisu yang ia bawa, terdapat sisa lipstik yang ia pakai menempel pada tisu. Nasi goreng milik Kirana baru saja habis, sementara nasi goreng gue sudah habis dari beberapa menit yang lalu.
“Emang yang tadi duduk di sebelah lo pas kelas cewek?” Tanya gue sambil menghembuskan asap rokok.
“Bukan pas dosennya lagi ngejelasin, tapi pas udah berkelompok.”
Gue mencoba mengingat-ingat kembali seseorang dari penjelasan Kirana. “Oh, yang duduk di sebelah lo, satu kelompok dong. Siapa namanya? Gue lupa.”
“Iya, Aldo namanya. Masa lo lupa sih.”
“Gue emang susah nginget nama orang.”
“Kan ada namanya di grup line.”
“Nanti gue liat lagi deh. Terus-terus, kenapa dia emangnya?”
“Iya, dia dari awal tuh kayak ngajak ngobrol gue terus gitu.”
“Yah, namanya juga baru kenal dan satu kelompok. Emang tujuannya buat bonding kali.”
“Masalahnya kalau bonding mah ke semua anggota kali, dia waktu gue ngajuin jadi wakil ketua juga ngegerutu kayak nggak terima gitu.”
“Nggak terima gimana?”
“Gitu deh, susah juga gue jelasinnya.”
“Perasaan lo doang kali.”
“Mungkin.” Sahut Kirana. “Tapi, tapi, dia tuh pas ngabrol sama gue matanya kayak jealatan gitu.”
“Jelalatan gimana?”
“Jelalatan gitu, masa harus gue jelasin. Udah gitu dia langsung mau ngajak gue jalan lah, itu lah.”
Oke, gue mengerti dengan ucapan ambigu Kirana. Dengan dua kancing atas yang ia buka dan ukuran yang nggak bisa dibilang kecil, bisa jadi hal tersebut yang ngebuat mata laki-laki di sekitar Kirana jadi ‘jelalatan’. Itu juga yang terjadi dengan gue saat pertama kali melihat Kirana. Tapi entah kenapa tahi lalat di bawah matanya justru yang membuat gue memperhatikan Kirana saat berhadapan dengannya.
“Diemin aja, atau kalau lo emang nggak nyaman langsung tegur.”
“Argh, ini baru hari pertama kuliah dan nggak tau berapa kali gue udah ketemu sama cowok-cowok nggak jelas” Kirana merengut kesal sambil mengacak-acak rambutnya, meskipun ia langsung memperbaikinya lagi. “Nggak senior, nggak anak seangkatan, sama aja semuanya.”
“Yah, namanya cowok ketemu cewek cantik. Mungkin mereka pikir siapa tau jodoh.”
Gue menyeruput habis minuman gue setelah puntung rokok milik gue, gue padamkan. Kemudian kembali memperhatikan Kirana yang masih terlihat gusar dan memalingkan wajahnya ke tanah.
“Sebentar, sebentar. Tadi lo bilang apa?” Sekonyong-konyong Kirana langsung menatap gue dengan ekspresi wajah terkejut. Seolah-olah hal baru saja gue ucapkan adalah sebuah rahasia penting.
“Siapa tau jodoh?”
“Bukan, yang sebelumnya.”
“Cowok ketemu cewek cantik?”
“Jadi lo sekarang ngegombal dan muji gue cantik?” Sahut Kirana dengan intonasi suara yang menjengkelkan. “Please deh Tre, jangan kayak cowok-cowok lain.”
“Menurut gue itu bukan pujian, apalagi gombalan. Gue cuman ngomongin fakta berdasarkan preferensi gue secara spontan.” Jujur aja, sebenarnya perkataan Kirana cukup ngebuat gue salah tingkah. Tapi dengan cepat gue berusaha menguasai keadaan. “Ibaratnya gue lagi dengerin lagu baru, terus gue suka. Secara nggak sadar gue pasti bakal bilang kalau lagunya keren.”
“Sorry, my bad.”
Gue mendesah lega seolah-olah terhindar dari sebuah kecelakaan. Kemudian gue menyadari suatu hal setelah mendegar keluhan Kirana. “Jangan bilang lo minta bareng sama gue gara-gara Aldo nawarin diri buat boncengin elo?” Tanya gue sinis.
“Iya, terus gue bilang kalau gue udah bareng sama lo, hehe.” Jelasnya dengan tertawa meledek
Gue sama sekali nggak mengerti dengan kirana, atau sebenarnya dengan cewek pada umumnya. Bagaimana bisa mereka merubah suasana hati begitu cepat.
“Baru hari pertama kuliah, gue udah harus jadi ketua kelompok, dan kemungkinan harus berurusan sama cowok nggak jelas yang sakit hati gara-gara calon gebetannya nggak mau dianter jemput sama dia.”
Mendengar gerutuan gue sarkas gue yang meniru gerutuannya, Kirana malah tertawa puas sampai-sapai menarik perhatian meja sebelah.
Tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pundak gue. Dewa berdiri sambil menghisap rokonya. Pandangannya bergantian menatap ke arah gue dan Kirana. Sementara itu teman-teman kelas gue yang lain sibuk mencari meja kosong untuk tempat mereka duduk.
“Kemana aja lo? Dari tadi gue tungguin nggak dateng-dateng.” Tanya gue sambil sedikit mengomel.
“Tadi pada di payung dulu.” Dewa menyebutkan nama lain kantin yang ada di dalam lingkungan kampus yang menjadi alasannya baru hadir.
“Kenalin, temen gue dari jurusan menejemen.”
Kirana berdiri dari tempat duduknya, kemudian bersalaman dengan Dewa dan mereka berdua mennyebutkan nama masing-masing sebelum akhirnya Kirana kembali duduk. Sementara Dewa menyusul teman-teman kelas gue yang lain.
“Gue nyamperin anak-anak dulu ye.” Ucap Dewa.
“Nanti gue nyusul.” Sahut gue sambil memalingkan wajah dan kembali menghadap Kirana.
“Anak kelas lo nggak ada ceweknya ya, Tre?” Tanya Kirana sambil membakar rokoknya.
“Ada, paling cuman sepuluh orang.”
“Pantesan.” Ucap Kirana menggantung.
Saat rokok di tangan Kirana habis, ia pamit untuk menyusul teman-temannya yang sedang berada di gedung lain. Sementara itu gue langsung bergabung bersama teman-teman gue yang lain. Seketika berbagai macam pertanyaan membanjiri gue tentang seorang perempuan yang tadi duduk dengan gue.
*****
Sudah satu jam lebih mata dan tangan gue harus berkoordinasi dengan cepat dan tepat untuk mengikuti dosen gue yang menulis rumus-rumus koding yang ada di layar papan tulis. Sementara itu jari-jari gue masih berusaha keras buat menyalin apa-apa aja yang ada di layar depan.
Gue melihat ke arah kanan dan kiri, teman-teman gue yang lain dengan lancarnya menyalin rumus-rumus koding yang ada di depan mereka. Beberapa bahkan ada yang sampai nggak perlu repot-repot melihat ke arah papan tulis lagi karena sudah tahu apa yang mereka kerjakan.
Hari pertama perkuliahan, kelas gue udah mendapat omelan dari dosen kelas sebelumnya, dan sekarang gue harus berkutat dengan sebuah bahasa yang sama sekali baru gue tahu. Bahkan bahasa ini bukan dikunakan untuk komunikasi sesama manusia, melainkan komputer. Emang sih pada awalnya isi dari kelas ini kurang lebih sama dengan apa yang diajarkan saat masa orientasi jurusan, tapi semakin mendekati akhir kelas gue semakin kewalahan.
Sebenarnya, gue pahan dengan maksud dan tujuan dari fungsi-fungsi untuk bahasa pemograman yang sedang diajarkan. Apalagi jika gue bisa membayangkan fungsi dan tujuan dari setiap baris dan paragraf koding yang gue tulis. Misalnya jika ingin melakukan looping, maka gue harus dimasukkan pada IF ELSE atau jenis modifikasi lainnya sampai nilai yang kita inginkan terpenuhi. Tetapi jika harus menuliskan kembali dalam sebuah kode, gue butuh usaha lebih untuk menterjemahkannya.
Jam di dinding udah menunjukkan pukul empat lewat. Gue ngerasa udah nggak mampu buat mengikuti kelas ini lagi. Jadi, gue hanya mengikuti apa yang dosen muda gue sampaikan, yaitu mengkopi paste kodingan secara manual dari papan tulis ke layar monitor milik gue. Setelah itu gue bisa mempelajarinya di rumah, pikir gue saat itu.
Sepertinya anak-anak di kelas gue juga merasakan hal yang sama. Terlihat dari fokus mereka yang sudah berkurang. Ada yang sibuk ngobrol dengan orang di sebelah mereka, ada juga yang masih sibuk menyalin. Sebenernya mata kuliah ini memiliki dua jam mata kuliah, tetapi dosen gue memutuskan secara sepihak untuk melanjutkan kelas tanpa ada istirahat agar kelas lebih cepat selesai.
“Lo masih nyatet, Wa?” Tanya gue ke Dewa yang duduk di sebelah gue.
“Masih.” Jawabnya singkat. Matanya terus bergantian melihat ke arah papan tulis dan monitornya.
“Anjir, udah nggak kuat lagi gue.” Gue meregangkan badan di tempat duduk, menarik otot-otot tubuh yang gue rasakan kaku seperti kayu.
“Eh Tre, malem minggu lo ikut nggak?”
“Ikut ke mana?”
“Acara party gitu buat anak-anak baru?”
“Kampus yang nyelenggarain?” Tanya gue terkejut. “Keren juga ini kampus.”
“Bukan, dari senior gitu. Katanya sih udah tradisi.”
“Belom tau nih gue, takut mager.”
“Ikut aja si, anak-anak juga banyak yang ikut. Lumayan, kali aja dapet kenalan cewek.” Kata Dewa dengan kata-kata ‘presuasif’. “Tapi lo udah dapet kenalan cewek ya.”
“Cewek mana?”
“Yang tadi di lorong bareng lo.”
“Ooh.” Gue mengingat-ingat kembali saat gue sedang bersama Kirana di lorong. “Yaelah, itu temen dari kelas CB gue, kebetulan kenal dari pas ospek.”
“Nah, yaudah, ajak aja.”
“Males ah, gue juga belom deket-deket banget sama dia. Lagian juga kita beda jurusan.”
“Lah, emang kenapa?”
“Lah, bukannya ini acara anak IT doang?”
“Bukan, ini emang buat anak-anak baru. Semua jurusan boleh ikut.”
“Tetep aja males gue ngajaknya.”
“Yauda gausah ajak, tapi yang penting lo ikut.”
“Liat nanti deh.”
Saat jam mata kuliah selesai, gue langsung membereskan barang bawan gue. Setelah itu segera meninggalkan kelas dan langsung pulang menuju rumah.
It’s Just The First Day Of Collage
“Tre, lo tau cowok yang tadi duduk di sebelah gue nggak?” Kirana sedang mengelap bibirnya menggunakan tisu yang ia bawa, terdapat sisa lipstik yang ia pakai menempel pada tisu. Nasi goreng milik Kirana baru saja habis, sementara nasi goreng gue sudah habis dari beberapa menit yang lalu.
“Emang yang tadi duduk di sebelah lo pas kelas cewek?” Tanya gue sambil menghembuskan asap rokok.
“Bukan pas dosennya lagi ngejelasin, tapi pas udah berkelompok.”
Gue mencoba mengingat-ingat kembali seseorang dari penjelasan Kirana. “Oh, yang duduk di sebelah lo, satu kelompok dong. Siapa namanya? Gue lupa.”
“Iya, Aldo namanya. Masa lo lupa sih.”
“Gue emang susah nginget nama orang.”
“Kan ada namanya di grup line.”
“Nanti gue liat lagi deh. Terus-terus, kenapa dia emangnya?”
“Iya, dia dari awal tuh kayak ngajak ngobrol gue terus gitu.”
“Yah, namanya juga baru kenal dan satu kelompok. Emang tujuannya buat bonding kali.”
“Masalahnya kalau bonding mah ke semua anggota kali, dia waktu gue ngajuin jadi wakil ketua juga ngegerutu kayak nggak terima gitu.”
“Nggak terima gimana?”
“Gitu deh, susah juga gue jelasinnya.”
“Perasaan lo doang kali.”
“Mungkin.” Sahut Kirana. “Tapi, tapi, dia tuh pas ngabrol sama gue matanya kayak jealatan gitu.”
“Jelalatan gimana?”
“Jelalatan gitu, masa harus gue jelasin. Udah gitu dia langsung mau ngajak gue jalan lah, itu lah.”
Oke, gue mengerti dengan ucapan ambigu Kirana. Dengan dua kancing atas yang ia buka dan ukuran yang nggak bisa dibilang kecil, bisa jadi hal tersebut yang ngebuat mata laki-laki di sekitar Kirana jadi ‘jelalatan’. Itu juga yang terjadi dengan gue saat pertama kali melihat Kirana. Tapi entah kenapa tahi lalat di bawah matanya justru yang membuat gue memperhatikan Kirana saat berhadapan dengannya.
“Diemin aja, atau kalau lo emang nggak nyaman langsung tegur.”
“Argh, ini baru hari pertama kuliah dan nggak tau berapa kali gue udah ketemu sama cowok-cowok nggak jelas” Kirana merengut kesal sambil mengacak-acak rambutnya, meskipun ia langsung memperbaikinya lagi. “Nggak senior, nggak anak seangkatan, sama aja semuanya.”
“Yah, namanya cowok ketemu cewek cantik. Mungkin mereka pikir siapa tau jodoh.”
Gue menyeruput habis minuman gue setelah puntung rokok milik gue, gue padamkan. Kemudian kembali memperhatikan Kirana yang masih terlihat gusar dan memalingkan wajahnya ke tanah.
“Sebentar, sebentar. Tadi lo bilang apa?” Sekonyong-konyong Kirana langsung menatap gue dengan ekspresi wajah terkejut. Seolah-olah hal baru saja gue ucapkan adalah sebuah rahasia penting.
“Siapa tau jodoh?”
“Bukan, yang sebelumnya.”
“Cowok ketemu cewek cantik?”
“Jadi lo sekarang ngegombal dan muji gue cantik?” Sahut Kirana dengan intonasi suara yang menjengkelkan. “Please deh Tre, jangan kayak cowok-cowok lain.”
“Menurut gue itu bukan pujian, apalagi gombalan. Gue cuman ngomongin fakta berdasarkan preferensi gue secara spontan.” Jujur aja, sebenarnya perkataan Kirana cukup ngebuat gue salah tingkah. Tapi dengan cepat gue berusaha menguasai keadaan. “Ibaratnya gue lagi dengerin lagu baru, terus gue suka. Secara nggak sadar gue pasti bakal bilang kalau lagunya keren.”
“Sorry, my bad.”
Gue mendesah lega seolah-olah terhindar dari sebuah kecelakaan. Kemudian gue menyadari suatu hal setelah mendegar keluhan Kirana. “Jangan bilang lo minta bareng sama gue gara-gara Aldo nawarin diri buat boncengin elo?” Tanya gue sinis.
“Iya, terus gue bilang kalau gue udah bareng sama lo, hehe.” Jelasnya dengan tertawa meledek
Gue sama sekali nggak mengerti dengan kirana, atau sebenarnya dengan cewek pada umumnya. Bagaimana bisa mereka merubah suasana hati begitu cepat.
“Baru hari pertama kuliah, gue udah harus jadi ketua kelompok, dan kemungkinan harus berurusan sama cowok nggak jelas yang sakit hati gara-gara calon gebetannya nggak mau dianter jemput sama dia.”
Mendengar gerutuan gue sarkas gue yang meniru gerutuannya, Kirana malah tertawa puas sampai-sapai menarik perhatian meja sebelah.
Tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pundak gue. Dewa berdiri sambil menghisap rokonya. Pandangannya bergantian menatap ke arah gue dan Kirana. Sementara itu teman-teman kelas gue yang lain sibuk mencari meja kosong untuk tempat mereka duduk.
“Kemana aja lo? Dari tadi gue tungguin nggak dateng-dateng.” Tanya gue sambil sedikit mengomel.
“Tadi pada di payung dulu.” Dewa menyebutkan nama lain kantin yang ada di dalam lingkungan kampus yang menjadi alasannya baru hadir.
“Kenalin, temen gue dari jurusan menejemen.”
Kirana berdiri dari tempat duduknya, kemudian bersalaman dengan Dewa dan mereka berdua mennyebutkan nama masing-masing sebelum akhirnya Kirana kembali duduk. Sementara Dewa menyusul teman-teman kelas gue yang lain.
“Gue nyamperin anak-anak dulu ye.” Ucap Dewa.
“Nanti gue nyusul.” Sahut gue sambil memalingkan wajah dan kembali menghadap Kirana.
“Anak kelas lo nggak ada ceweknya ya, Tre?” Tanya Kirana sambil membakar rokoknya.
“Ada, paling cuman sepuluh orang.”
“Pantesan.” Ucap Kirana menggantung.
Saat rokok di tangan Kirana habis, ia pamit untuk menyusul teman-temannya yang sedang berada di gedung lain. Sementara itu gue langsung bergabung bersama teman-teman gue yang lain. Seketika berbagai macam pertanyaan membanjiri gue tentang seorang perempuan yang tadi duduk dengan gue.
*****
Sudah satu jam lebih mata dan tangan gue harus berkoordinasi dengan cepat dan tepat untuk mengikuti dosen gue yang menulis rumus-rumus koding yang ada di layar papan tulis. Sementara itu jari-jari gue masih berusaha keras buat menyalin apa-apa aja yang ada di layar depan.
Gue melihat ke arah kanan dan kiri, teman-teman gue yang lain dengan lancarnya menyalin rumus-rumus koding yang ada di depan mereka. Beberapa bahkan ada yang sampai nggak perlu repot-repot melihat ke arah papan tulis lagi karena sudah tahu apa yang mereka kerjakan.
Hari pertama perkuliahan, kelas gue udah mendapat omelan dari dosen kelas sebelumnya, dan sekarang gue harus berkutat dengan sebuah bahasa yang sama sekali baru gue tahu. Bahkan bahasa ini bukan dikunakan untuk komunikasi sesama manusia, melainkan komputer. Emang sih pada awalnya isi dari kelas ini kurang lebih sama dengan apa yang diajarkan saat masa orientasi jurusan, tapi semakin mendekati akhir kelas gue semakin kewalahan.
Sebenarnya, gue pahan dengan maksud dan tujuan dari fungsi-fungsi untuk bahasa pemograman yang sedang diajarkan. Apalagi jika gue bisa membayangkan fungsi dan tujuan dari setiap baris dan paragraf koding yang gue tulis. Misalnya jika ingin melakukan looping, maka gue harus dimasukkan pada IF ELSE atau jenis modifikasi lainnya sampai nilai yang kita inginkan terpenuhi. Tetapi jika harus menuliskan kembali dalam sebuah kode, gue butuh usaha lebih untuk menterjemahkannya.
Jam di dinding udah menunjukkan pukul empat lewat. Gue ngerasa udah nggak mampu buat mengikuti kelas ini lagi. Jadi, gue hanya mengikuti apa yang dosen muda gue sampaikan, yaitu mengkopi paste kodingan secara manual dari papan tulis ke layar monitor milik gue. Setelah itu gue bisa mempelajarinya di rumah, pikir gue saat itu.
Sepertinya anak-anak di kelas gue juga merasakan hal yang sama. Terlihat dari fokus mereka yang sudah berkurang. Ada yang sibuk ngobrol dengan orang di sebelah mereka, ada juga yang masih sibuk menyalin. Sebenernya mata kuliah ini memiliki dua jam mata kuliah, tetapi dosen gue memutuskan secara sepihak untuk melanjutkan kelas tanpa ada istirahat agar kelas lebih cepat selesai.
“Lo masih nyatet, Wa?” Tanya gue ke Dewa yang duduk di sebelah gue.
“Masih.” Jawabnya singkat. Matanya terus bergantian melihat ke arah papan tulis dan monitornya.
“Anjir, udah nggak kuat lagi gue.” Gue meregangkan badan di tempat duduk, menarik otot-otot tubuh yang gue rasakan kaku seperti kayu.
“Eh Tre, malem minggu lo ikut nggak?”
“Ikut ke mana?”
“Acara party gitu buat anak-anak baru?”
“Kampus yang nyelenggarain?” Tanya gue terkejut. “Keren juga ini kampus.”
“Bukan, dari senior gitu. Katanya sih udah tradisi.”
“Belom tau nih gue, takut mager.”
“Ikut aja si, anak-anak juga banyak yang ikut. Lumayan, kali aja dapet kenalan cewek.” Kata Dewa dengan kata-kata ‘presuasif’. “Tapi lo udah dapet kenalan cewek ya.”
“Cewek mana?”
“Yang tadi di lorong bareng lo.”
“Ooh.” Gue mengingat-ingat kembali saat gue sedang bersama Kirana di lorong. “Yaelah, itu temen dari kelas CB gue, kebetulan kenal dari pas ospek.”
“Nah, yaudah, ajak aja.”
“Males ah, gue juga belom deket-deket banget sama dia. Lagian juga kita beda jurusan.”
“Lah, emang kenapa?”
“Lah, bukannya ini acara anak IT doang?”
“Bukan, ini emang buat anak-anak baru. Semua jurusan boleh ikut.”
“Tetep aja males gue ngajaknya.”
“Yauda gausah ajak, tapi yang penting lo ikut.”
“Liat nanti deh.”
Saat jam mata kuliah selesai, gue langsung membereskan barang bawan gue. Setelah itu segera meninggalkan kelas dan langsung pulang menuju rumah.
unhappynes dan 9 lainnya memberi reputasi
10
