- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.7K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#257
gatra 25
Quote:
SESAAT KEMUDIAN, kesepian itu dipecahkan oleh bunyi belalang malam di atas dahan-dahan kayu. Dalam kesepian, terdengar suara belalang itu demikian kerasnya sehingga Mahesa Branjangan menjadi terkejut karena suara itu, namun Mahesa Branjangan lebih terkejut lagi. Manakala telinganya yang tajam mendengar suara desah nafas perlahan -lahan, demikian Mahesa Branjangan menjadi pasti, ada seseorang yang juga ada di sekitar tempat itu.
Demikian suara belalang itu berhenti, terdengar Bagus Abangan berkata, “Apakah kakang Mahesa Branjangan tetap pada pendirianmu?”
Mahesa Branjangan tidak menjawab, tetapi ia mengangguk.
“Bagus” berkata Bagus Abangan lantang, “Kita lihat, apakah Bagus Abangan tidak berhak menyamai kakang Mahesa Branjangan anak seorang pimpinan di padepokan Pandan Arum”
Sekali lagi Mahesa Branjangan membiarkan anak itu membentak-bentak. Tetapi dalam pada itu kegelisahan Bagus Abangan pun tidak juga berkurang.
Maka kemudian ia berkata, “Sekarang bersiaplah kakang, aku akan memaksakan kehendakku dengan nilai-nilai seorang ksatria”
“Silakan. Meskipun penilaianmu atas seorang ksatria itu terlalu kerdil” sahut Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan sudah tidak dapat berbicara apa-apa lagi. Dengan gemetar ia berjalan kesebatang pohon perdu, menyangkutkan senjatanya, untuk kemudian dengan gemetar pula ia putar tubuhnya menghadapi Mahesa Branjangan tanpa senjata di tangan. Mahesa Branjangan kemudian melepaskan ikat pinggangnya. Dengan demikian kerisnya pun terlepas pula. Seperti Bagus Abangan, Mahesa Branjangan pun menyangkutkan kerisnya pula di dahan perdu.
Kini mereka berdua telah tegak berhadap-hadapan tanpa senjata. Bagus Abangan agaknya sudah tidak dapat bersabar lagi. Dengan serta-merta ia berkata, “Aku akan mulai kakang”
Sebelum Mahesa Branjangan menjawab Bagus Abangan telah meloncat dengan garangnya. Kedua tangannya terjulur lurus ke depan mengarah satu ke leher Mahesa Branjangan dengan ibu jarinya, sedang yang lain menghantam dada dengan keempat ujung-ujung jarinya. Namun Mahesa Branjangan tidak sedang tidur. Karena itu, dengan tangkasnya ia berputar setengah lingkaran sambil merendahkan dirinya. Sehingga serangan Bagus Abangan itu terbang beberapa jengkal dari tubuhnya. Bahkan demikian serangan Bagus Abangan itu lewat, segera Mahesa Branjangan membalasnya dengan sebuah serangan pula. Sebuah serangan mendatar pada lambung Bagus Abangan.
Tetapi Bagus Abangan itu benar-benar tangkas. Meskipun tubuhnya masih melambung karena tekanan serangannya, ia berhasil menggeliat dan menghindari serangan Mahesa Branjangan.
“Hem” Mahesa Branjangan menggeram. Katanya dalam hati, “murid paman Paraji Gading ini benar-benar lincah”
Sebenarnyalah Bagus Abangan dapat bergerak selincah burung walet yang menari-nari di udara pada senja hari di atas pantai. Geraknya cepat dan cekatan. Sekali-sekali ia mampu menyambar seperti burung elang, namun kadang-kadang ia menukik seperti merpati jantan.
Tetapi Mahesa Branjangan sendiri mirip seekor burung rajawali yang tangguh. Dengan kedua tangannya yang kokoh kuat, sekuat sayap-sayap rajawali, ia selalu berhasil melindungi tubuhnya dari sergapan yang tiba-tiba. Bahkan sepasang kakinya itu pun sangat mendebarkan jantung.
Dengan putaran-putaran yang berbahaya kaki Mahesa Branjangan itu merupakan sebuah perlawanan tersendiri di samping gerak tangannya yang cepat cekatan. Sehingga Mahesa Branjangan itu seakan-akan memiliki sepasang otak yang masing-masing dapat mengatur kaki dan tangan dalam gerak pasangan yang tersendiri. Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Bagus Abangan yang lincah menjadi semakin lincah, dan Mahesa Branjangan yang kokoh itu pun menjadi semakin tangguh.
Demikian suara belalang itu berhenti, terdengar Bagus Abangan berkata, “Apakah kakang Mahesa Branjangan tetap pada pendirianmu?”
Mahesa Branjangan tidak menjawab, tetapi ia mengangguk.
“Bagus” berkata Bagus Abangan lantang, “Kita lihat, apakah Bagus Abangan tidak berhak menyamai kakang Mahesa Branjangan anak seorang pimpinan di padepokan Pandan Arum”
Sekali lagi Mahesa Branjangan membiarkan anak itu membentak-bentak. Tetapi dalam pada itu kegelisahan Bagus Abangan pun tidak juga berkurang.
Maka kemudian ia berkata, “Sekarang bersiaplah kakang, aku akan memaksakan kehendakku dengan nilai-nilai seorang ksatria”
“Silakan. Meskipun penilaianmu atas seorang ksatria itu terlalu kerdil” sahut Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan sudah tidak dapat berbicara apa-apa lagi. Dengan gemetar ia berjalan kesebatang pohon perdu, menyangkutkan senjatanya, untuk kemudian dengan gemetar pula ia putar tubuhnya menghadapi Mahesa Branjangan tanpa senjata di tangan. Mahesa Branjangan kemudian melepaskan ikat pinggangnya. Dengan demikian kerisnya pun terlepas pula. Seperti Bagus Abangan, Mahesa Branjangan pun menyangkutkan kerisnya pula di dahan perdu.
Kini mereka berdua telah tegak berhadap-hadapan tanpa senjata. Bagus Abangan agaknya sudah tidak dapat bersabar lagi. Dengan serta-merta ia berkata, “Aku akan mulai kakang”
Sebelum Mahesa Branjangan menjawab Bagus Abangan telah meloncat dengan garangnya. Kedua tangannya terjulur lurus ke depan mengarah satu ke leher Mahesa Branjangan dengan ibu jarinya, sedang yang lain menghantam dada dengan keempat ujung-ujung jarinya. Namun Mahesa Branjangan tidak sedang tidur. Karena itu, dengan tangkasnya ia berputar setengah lingkaran sambil merendahkan dirinya. Sehingga serangan Bagus Abangan itu terbang beberapa jengkal dari tubuhnya. Bahkan demikian serangan Bagus Abangan itu lewat, segera Mahesa Branjangan membalasnya dengan sebuah serangan pula. Sebuah serangan mendatar pada lambung Bagus Abangan.
Tetapi Bagus Abangan itu benar-benar tangkas. Meskipun tubuhnya masih melambung karena tekanan serangannya, ia berhasil menggeliat dan menghindari serangan Mahesa Branjangan.
“Hem” Mahesa Branjangan menggeram. Katanya dalam hati, “murid paman Paraji Gading ini benar-benar lincah”
Sebenarnyalah Bagus Abangan dapat bergerak selincah burung walet yang menari-nari di udara pada senja hari di atas pantai. Geraknya cepat dan cekatan. Sekali-sekali ia mampu menyambar seperti burung elang, namun kadang-kadang ia menukik seperti merpati jantan.
Tetapi Mahesa Branjangan sendiri mirip seekor burung rajawali yang tangguh. Dengan kedua tangannya yang kokoh kuat, sekuat sayap-sayap rajawali, ia selalu berhasil melindungi tubuhnya dari sergapan yang tiba-tiba. Bahkan sepasang kakinya itu pun sangat mendebarkan jantung.
Dengan putaran-putaran yang berbahaya kaki Mahesa Branjangan itu merupakan sebuah perlawanan tersendiri di samping gerak tangannya yang cepat cekatan. Sehingga Mahesa Branjangan itu seakan-akan memiliki sepasang otak yang masing-masing dapat mengatur kaki dan tangan dalam gerak pasangan yang tersendiri. Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Bagus Abangan yang lincah menjadi semakin lincah, dan Mahesa Branjangan yang kokoh itu pun menjadi semakin tangguh.
Quote:
KINI MEREKA seakan-akan telah luluh dalam satu lingkaran yang berputar-putar. Bayangan mereka melontar-lontar seakan-akan tak terjendali lagi. Saling menyerang dan saling melibat dalam gerakan-gerakan yang aneh dan membingungkan. Tetapi Bagus Abangan dan Mahesa Branjangan tidak menjadi bingung karenanya. Mereka memiliki daya pengamatan yang cukup kuat.
Meskipun tangan Bagus Abangan yang cepat itu bisa berubah menjadi berpasang-pasang dan menyerang dari segenap penjuru, namun kaki Mahesa Branjangan itu pun seolah-olah menjadi berpuluh-puluh jumlahnya, melontar-lontarkan tubuhnya dari satu titik ketitik yang lain. Sekali-sekali terjadi benturan antara keduanya. Namun ternyata bahwa kekuatan mereka pun berimbang.
Sekali-sekali Mahesa Branjangan terdorong surut, namun kali yang lain Bagus Abangan terlempar beberapa langkah. Kalau mereka dalam kesiagaan yang sama, maka setiap benturan akan memaksa keduanya surut beberapa langkah mundur. Ketika peluh telah membasahi tubuh-tubuh mereka, maka perkelahian itu pun menjadi bertambah sengit. Sekali-sekali Bagus Abangan harus merasakan, betapa wajahnya menjadi panas oleh sengatan tangan Mahesa Branjangan yang berat dan mantap.
Sekali ia terdorong surut, dan sebelum ia berhasil memperbaiki keseimbangannya, tangan Mahesa Branjangan telah menyusulnya. Kembali wajah Bagus Abangan terangkat. Namun ketika sekali lagi tangan Mahesa Branjangan menyambar wajah itu, Bagus Abangan berhasil mengelakkannya. Kali ini, Mahesa Branjangan sendiri terseret oleh tenaga tangannya sehingga hampir-hampir saja ia tidak mampu melepaskan diri dari serangan Bagus Abangan yang tiba-tiba.
Untunglah kemampuan Mahesa Branjangan cukup tinggi, sehingga ketika sebuah pukulan mengarah ke pelipisnya, Mahesa Branjangan sempat merendahkan dirinya. Tetapi ternyata Bagus Abangan pun cukup lincah. Ketika disadarinya bahwa serangan tak menyentuh tubuh Mahesa Branjangan, cepat-cepat ia menggerakkan kakinya langsung menyerang dada. Mahesa Branjangan yang sedang merendahkan dirinya itu terkejut. Ia tidak sempat mengelak, yang dapat dilakukannya adalah, memukul kaki Bagus Abangan dengan kedua sisi telapak tangannya.
Benturan kekuatan itu pun telah mendorong mereka masing-masing beberapa langkah surut. Dan sesaat kemudian mereka telah berloncatan kembali, saling menyerang dan saling bertahan. Bagus Abangan yang lebih muda dari lawannya memiliki nafsu dan tenaga yang lebih baik dari lawannya, namun Mahesa Branjangan memiliki ketenangan dan pengalaman melampaui Bagus Abangan . Karena itu , maka dengan pengalamannya itu, Mahesa Branjangan selalu dapat menempatkan dirinya, sehingga meskipun Bagus Abangan lebih banyak menyerangnya, namun keadaan Mahesa Branjangan tidak mencemaskan. Yang menjadi cemas kemudian adalah Bagus Abangan.
Menurut gurunya, Mahesa Branjangan itu pasti akan dapat dikalahkan setelah ia mendapat tempaan yang khusus untuk kepentingan itu. Namun ternyata setelah ia berkelahi beberapa lama, Mahesa Branjangan itu masih dapat melawannya dengan baik, sebaik pada saat mereka baru mulai. Meskipun Bagus Abangan yakin, bahwa Mahesa Branjangan itu pun tak akan dapat memenangkan perkelahian itu, tetapi ia menjadi gelisah, apabila ia tak pula dapat menang daripadanya.
Demikianlah dengan nafsu yang bergejolak di dalam dadanya, Bagus Abangan berusaha untuk dapat mengalahkan Mahesa Branjangan, dan memaksakan kehendak-kehendaknya atas pimpinannya itu. Tidak saja dalam persoalannya dengan Arya Gading, tetapi jauh dari itu. Ia ingin memaksakan kehendaknya dalam setiap persoalan.
Tetapi ternyata bahwa ia tidak segera dapat menundukkan Mahesa Branjangan. Betapa pun ia telah berjuang. Diperasnya segenap kemampuan yang telah diterimanya dari gurunya, namun Mahesa Branjangan itu masih saja dengan gigihnya melakukan perlawanan. Perkelahian yang sengit itu masih berlangsung lama. Mereka sudah hampir menumpahkan segenap tenaga mereka. Karena itu maka tenaga masing-masing semakin lama menjadi semakin susut.
Bintang-bintang di langit telah melampaui pertengahannya. Karena itulah maka Bagus Abangan menjadi semakin gelisah karenanya. Kalau ia gagal mengalahkan Mahesa Branjangan, maka nasibnya bukan menjadi bertambah baik, tetapi Mahesa Branjangan pasti akan semakin bersikap keras kepadanya.
Meskipun tangan Bagus Abangan yang cepat itu bisa berubah menjadi berpasang-pasang dan menyerang dari segenap penjuru, namun kaki Mahesa Branjangan itu pun seolah-olah menjadi berpuluh-puluh jumlahnya, melontar-lontarkan tubuhnya dari satu titik ketitik yang lain. Sekali-sekali terjadi benturan antara keduanya. Namun ternyata bahwa kekuatan mereka pun berimbang.
Sekali-sekali Mahesa Branjangan terdorong surut, namun kali yang lain Bagus Abangan terlempar beberapa langkah. Kalau mereka dalam kesiagaan yang sama, maka setiap benturan akan memaksa keduanya surut beberapa langkah mundur. Ketika peluh telah membasahi tubuh-tubuh mereka, maka perkelahian itu pun menjadi bertambah sengit. Sekali-sekali Bagus Abangan harus merasakan, betapa wajahnya menjadi panas oleh sengatan tangan Mahesa Branjangan yang berat dan mantap.
Sekali ia terdorong surut, dan sebelum ia berhasil memperbaiki keseimbangannya, tangan Mahesa Branjangan telah menyusulnya. Kembali wajah Bagus Abangan terangkat. Namun ketika sekali lagi tangan Mahesa Branjangan menyambar wajah itu, Bagus Abangan berhasil mengelakkannya. Kali ini, Mahesa Branjangan sendiri terseret oleh tenaga tangannya sehingga hampir-hampir saja ia tidak mampu melepaskan diri dari serangan Bagus Abangan yang tiba-tiba.
Untunglah kemampuan Mahesa Branjangan cukup tinggi, sehingga ketika sebuah pukulan mengarah ke pelipisnya, Mahesa Branjangan sempat merendahkan dirinya. Tetapi ternyata Bagus Abangan pun cukup lincah. Ketika disadarinya bahwa serangan tak menyentuh tubuh Mahesa Branjangan, cepat-cepat ia menggerakkan kakinya langsung menyerang dada. Mahesa Branjangan yang sedang merendahkan dirinya itu terkejut. Ia tidak sempat mengelak, yang dapat dilakukannya adalah, memukul kaki Bagus Abangan dengan kedua sisi telapak tangannya.
Benturan kekuatan itu pun telah mendorong mereka masing-masing beberapa langkah surut. Dan sesaat kemudian mereka telah berloncatan kembali, saling menyerang dan saling bertahan. Bagus Abangan yang lebih muda dari lawannya memiliki nafsu dan tenaga yang lebih baik dari lawannya, namun Mahesa Branjangan memiliki ketenangan dan pengalaman melampaui Bagus Abangan . Karena itu , maka dengan pengalamannya itu, Mahesa Branjangan selalu dapat menempatkan dirinya, sehingga meskipun Bagus Abangan lebih banyak menyerangnya, namun keadaan Mahesa Branjangan tidak mencemaskan. Yang menjadi cemas kemudian adalah Bagus Abangan.
Menurut gurunya, Mahesa Branjangan itu pasti akan dapat dikalahkan setelah ia mendapat tempaan yang khusus untuk kepentingan itu. Namun ternyata setelah ia berkelahi beberapa lama, Mahesa Branjangan itu masih dapat melawannya dengan baik, sebaik pada saat mereka baru mulai. Meskipun Bagus Abangan yakin, bahwa Mahesa Branjangan itu pun tak akan dapat memenangkan perkelahian itu, tetapi ia menjadi gelisah, apabila ia tak pula dapat menang daripadanya.
Demikianlah dengan nafsu yang bergejolak di dalam dadanya, Bagus Abangan berusaha untuk dapat mengalahkan Mahesa Branjangan, dan memaksakan kehendak-kehendaknya atas pimpinannya itu. Tidak saja dalam persoalannya dengan Arya Gading, tetapi jauh dari itu. Ia ingin memaksakan kehendaknya dalam setiap persoalan.
Tetapi ternyata bahwa ia tidak segera dapat menundukkan Mahesa Branjangan. Betapa pun ia telah berjuang. Diperasnya segenap kemampuan yang telah diterimanya dari gurunya, namun Mahesa Branjangan itu masih saja dengan gigihnya melakukan perlawanan. Perkelahian yang sengit itu masih berlangsung lama. Mereka sudah hampir menumpahkan segenap tenaga mereka. Karena itu maka tenaga masing-masing semakin lama menjadi semakin susut.
Bintang-bintang di langit telah melampaui pertengahannya. Karena itulah maka Bagus Abangan menjadi semakin gelisah karenanya. Kalau ia gagal mengalahkan Mahesa Branjangan, maka nasibnya bukan menjadi bertambah baik, tetapi Mahesa Branjangan pasti akan semakin bersikap keras kepadanya.
Quote:
TIBA -TIBA Bagus Abangan meloncat surut. Kemudian sambil berdiri tegak di atas kedua kakinya yang kokoh, ia berkata lantang, “Kakang, perkelahian kita tidak akan ada akhirnya”
Mahesa Branjangan tidak segera menyerangnya. Ia pun kemudian berdiri beberapa langkah dari Bagus Abangan , katanya, “Apakah yang kau inginkan kemudian?”
“Bukankah kita membawa senjata masing-masing?”
Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam, ditatapnya wajah anak muda itu dengan seksama. Namun dalam malam yang kelam itu tak dilihatnya kesan apa pun pada wajah itu, selain kesan kemarahan yang membakar jantung Bagus Abangan.
Dalam pada itu terdengar Mahesa Branjangan berkata, “Apakah kau menyadari perkataanmu itu Bagus Abangan?”
“Tentu” jawab Bagus Abangan, “Bukankah maksud kakang Mahesa Branjangan mengatakan, bahwa dengan senjata-senjata itu, dada kita masing-masing akan mungkin terbelah karenanya?”
“Ya”
“Aku menyadari kemungkinan itu. Namun bukan maksudku membunuh kakang Mahesa Branjangan. Kalau kakang bersedia memenuhi setiap permintaanku, baik dalam hubunganku dengan AryaGading, mau pun kedudukanku di padepokan ini, maka aku tak akan menyentuh senjataku dalam perkelahian ini”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Yang terloncat dari mulutnya adalah, “Bagus Abangan, aku telah siap mempertahankan keputusanku”
“Bagus” teriak Bagus Abangan sambil meloncat meraih pusakanya.
Sesaat Mahesa Branjangan masih tegak di tempatnya. Tetapi ketika ia melihat Bagus Abangan telah menggenggam senjatanya, maka perlahan-lahan Mahesa Branjangan itu pun berjalan mengambil senjatanya. Pedang yang tidak begitu tajam, namun ujungnya runcing melampaui ujung jarum.
“Kita akan bertempur sebagai laki-laki, kakang” berkata Bagus Abangan.
“Tentu” sahut Mahesa Branjangan.
“Kita tidak ingin saling membunuh, namun siapa yang mula-mula mengalirkan darah dari lukanya, dialah yang kalah”
“Bagus” sahut Mahesa Branjangan.
“Yang kalah harus tunduk pada setiap keputusan dari yang menang”
Tiba-tiba Mahesa Branjangan menggeleng, “Tidak” katanya segera. “Kekalahan kita masing-masing di sini tidak mempengaruhi kedudukan kita. Akulah pimpinan di padepokan Pandan Arum”
Dada Bagus Abangan serasa menggelegar karenanya. Tiba-tiba ia berteriak, “Lalu apakah gunanya kita bertempur di sini?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya memenuhi permintaanmu. Sebab bagaimanapun, kau tidak akan dapat mempersoalkan atas padepokan ini dan kekuasaan yang ada di tanganku. Aku akan mengambil keputusan menurut keyakinanku, menurut kebenaran yang aku yakini. Tidak dapat seorang pun yang akan mempengaruhi keputusan itu”
“Gila. Apakah kau sangka aku tidak dapat membunuhmu kakang” teriak Bagus Abangan pula.
“Kalau aku mati, maka aku akan mati sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Bukan sebagai kelinci yang sedang melarikan diri dari terkaman anjing hutan”
Tubuh Bagus Abangan tiba-tiba bergetar karena kemarahannya. Matanya yang bulat itu sesaat menjadi redup. Kemudian ditariknya keningnya kesisi, namun kemudian meledaklah kata-katanya, “Apakah kau ingin kita bertempur sampai mati?”
“Tidak” sahut Mahesa Branjangan. “Aku tidak mempunyai keinginan untuk berkelahi dengan kekuatan dalam lingkunganku sendiri. Apalagi sampai mati. Tetapi aku juga tidak ingin melihat kewibawaanku dikurangi. Sebab aku bertanggung jawab kepada semua cantrik di padepokan ini. Tidak kepadamu dan tidak kepada Arya Gading”
“Persetan” potong Bagus Abangan hampir hangus dibakar kemarahannya, “Bersiaplah”
Mahesa Branjangan kini benar-benar tak dapat menghindarkan diri dari perkelahian bersenjata. Tiba-tiba saja Bagus Abangan telah meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya yang tajam di ujung dan pangkalnya itu berputar seperti baling-baling, kemudian melontar seperti jarum pemintalan. Sekali-sekali menyambar dengan ujungnya namun kemudian mematuk dengan pangkalnya.
Mahesa Branjangan menggigit bibirnya. Dengan tangkasnya ia meloncat-loncat menghindari serangan itu. Kerisnya pun kemudian bergerak-gerak datar, kadang-kadang menyilang dan tiba-tiba saja terjulur lurus ke dada lawannya.
Mahesa Branjangan tidak segera menyerangnya. Ia pun kemudian berdiri beberapa langkah dari Bagus Abangan , katanya, “Apakah yang kau inginkan kemudian?”
“Bukankah kita membawa senjata masing-masing?”
Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam, ditatapnya wajah anak muda itu dengan seksama. Namun dalam malam yang kelam itu tak dilihatnya kesan apa pun pada wajah itu, selain kesan kemarahan yang membakar jantung Bagus Abangan.
Dalam pada itu terdengar Mahesa Branjangan berkata, “Apakah kau menyadari perkataanmu itu Bagus Abangan?”
“Tentu” jawab Bagus Abangan, “Bukankah maksud kakang Mahesa Branjangan mengatakan, bahwa dengan senjata-senjata itu, dada kita masing-masing akan mungkin terbelah karenanya?”
“Ya”
“Aku menyadari kemungkinan itu. Namun bukan maksudku membunuh kakang Mahesa Branjangan. Kalau kakang bersedia memenuhi setiap permintaanku, baik dalam hubunganku dengan AryaGading, mau pun kedudukanku di padepokan ini, maka aku tak akan menyentuh senjataku dalam perkelahian ini”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Yang terloncat dari mulutnya adalah, “Bagus Abangan, aku telah siap mempertahankan keputusanku”
“Bagus” teriak Bagus Abangan sambil meloncat meraih pusakanya.
Sesaat Mahesa Branjangan masih tegak di tempatnya. Tetapi ketika ia melihat Bagus Abangan telah menggenggam senjatanya, maka perlahan-lahan Mahesa Branjangan itu pun berjalan mengambil senjatanya. Pedang yang tidak begitu tajam, namun ujungnya runcing melampaui ujung jarum.
“Kita akan bertempur sebagai laki-laki, kakang” berkata Bagus Abangan.
“Tentu” sahut Mahesa Branjangan.
“Kita tidak ingin saling membunuh, namun siapa yang mula-mula mengalirkan darah dari lukanya, dialah yang kalah”
“Bagus” sahut Mahesa Branjangan.
“Yang kalah harus tunduk pada setiap keputusan dari yang menang”
Tiba-tiba Mahesa Branjangan menggeleng, “Tidak” katanya segera. “Kekalahan kita masing-masing di sini tidak mempengaruhi kedudukan kita. Akulah pimpinan di padepokan Pandan Arum”
Dada Bagus Abangan serasa menggelegar karenanya. Tiba-tiba ia berteriak, “Lalu apakah gunanya kita bertempur di sini?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya memenuhi permintaanmu. Sebab bagaimanapun, kau tidak akan dapat mempersoalkan atas padepokan ini dan kekuasaan yang ada di tanganku. Aku akan mengambil keputusan menurut keyakinanku, menurut kebenaran yang aku yakini. Tidak dapat seorang pun yang akan mempengaruhi keputusan itu”
“Gila. Apakah kau sangka aku tidak dapat membunuhmu kakang” teriak Bagus Abangan pula.
“Kalau aku mati, maka aku akan mati sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Bukan sebagai kelinci yang sedang melarikan diri dari terkaman anjing hutan”
Tubuh Bagus Abangan tiba-tiba bergetar karena kemarahannya. Matanya yang bulat itu sesaat menjadi redup. Kemudian ditariknya keningnya kesisi, namun kemudian meledaklah kata-katanya, “Apakah kau ingin kita bertempur sampai mati?”
“Tidak” sahut Mahesa Branjangan. “Aku tidak mempunyai keinginan untuk berkelahi dengan kekuatan dalam lingkunganku sendiri. Apalagi sampai mati. Tetapi aku juga tidak ingin melihat kewibawaanku dikurangi. Sebab aku bertanggung jawab kepada semua cantrik di padepokan ini. Tidak kepadamu dan tidak kepada Arya Gading”
“Persetan” potong Bagus Abangan hampir hangus dibakar kemarahannya, “Bersiaplah”
Mahesa Branjangan kini benar-benar tak dapat menghindarkan diri dari perkelahian bersenjata. Tiba-tiba saja Bagus Abangan telah meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya yang tajam di ujung dan pangkalnya itu berputar seperti baling-baling, kemudian melontar seperti jarum pemintalan. Sekali-sekali menyambar dengan ujungnya namun kemudian mematuk dengan pangkalnya.
Mahesa Branjangan menggigit bibirnya. Dengan tangkasnya ia meloncat-loncat menghindari serangan itu. Kerisnya pun kemudian bergerak-gerak datar, kadang-kadang menyilang dan tiba-tiba saja terjulur lurus ke dada lawannya.
Quote:
KALI INI pun Bagus Abangan merasakan, bahwa ketrampilan Mahesa Branjangan memainkan kerisnya itu cukup mampu untuk melawan senjatanya. Namun ia masih akan mencoba menggunakan kelincahannya dan kecepatannya untuk menembus dinding baja dari putaran keris lawannya. Perkelahian di antara keduanya kini menjadi bertambah mengerikan. Senjata Bagus Abangan benar-benar merupakan senjata yang berbahaya. Setiap sentuhan dari tajam di ujung dan pangkal senjata itu akan menyobek tubuh lawam. Tetapi keris Mahesa Branjangan itu pun setiap saat dapat membelah dada lawannya. Dengan kekuatan yang mengagumkan keris itu menyambar-nyambar seoerti alap-alap di udara.
Tetapi perkelahian ini pun tak akan berujung pangkal. Karena kepandaian mereka mempergunakan senjata masing-masing. Maka yang terjadi hanyalah benturan-benturan di antara senjata mereka. Demikian besar kekuatan mereka berdua, maka dalam setiap sentuhan di antara senjata-senjata itu, terperciklah bunga api yang seakan-akan berloncatan dari kedua senjata itu.
Bagus Abangan pun telah berjuang memeras segenap ilmunya, dan Mahesa Branjangan pun tak kalah sengitnya mempergunakan segenap tenaganya. Demikian dahsyatnya perkelahian itu, sehingga seakan-akan tenaga mereka pun segera terhisap habis. Baik Bagus Abangan mau pun Mahesa Branjangan telah mempergunakan pula setiap tenaga cadangan di dalam tubuh mereka. Kekuatan-kekuatan yang dilambari dengan ketekunan latihan-latihan dimasa-masa lampau telah mereka kerahkan. Namun kematangan kanuragan dan pengalaman Mahesa Branjangan jauh di atas Bagus Abangan.
Malam semakin lama menjadi semakin dalam, dan bintang-bintang pun menjadi semakin bergeser kebarat. Langit yang biru gelap tersaput oleh mega yang selembar-selembar mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut. Namun yang berkelahi masih berkelahi juga. Bagus Abangan masih menusukkan senjatanya, namun senjata itu tak akan sampai menyentuh tubuh lawannya. Tenaganya makin terkuras habis. Bahkan beberapa tendangan dan pukulan Mahesa Branjangan berkali –kali mendera tubuhnya. Sering ia terpelanting jatuh. Lalu dengan bersusah payah berdiri lagi.
Nafas Bagus Abangan kini satu-satu tersangkut di dalam kerongkongan. Peluh mengalir seperti mereka sedang bertempur di dalam hujan yang pekat. Meskipun tenaganya sudah hampir habis terperas, namun Bagus Abangan masih mengumpat-umpat dalam hati. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Mahesa Branjangan mampu melawan dengan baiknya. Kini ia telah mendapat tempaan yang padat dari gurunya, dan bahkan gurunya itu pun berkata, bahwa ilmunya pasti akan lebih baik meskipun hanya selapis tipin dari Mahesa Branjangan. Namun ternyata kini, bahwa ilmunya benar-benar tidak melampaui ilmu Mahesa Branjangan itu sendiri. Apakah tempaan selama ini, dihampir setiap malam dengan ilmu-ilmu gurunya yang hampir sempurna itu sama sekali tak berpengaruh atasnya?
Bagus Abangan yang dengan susah payah masih mencoba tegak di atas kedua kakinya, menggeram dengan suara parau yang gemetar.
Katanya, “Mampus kau kakang Mahesa Branjangan”
“Bagus Abangan, apakah hasil yang kita dapatkan dari perkelahian ini?”
Terdengar Bagus Abangan menggeram. Matanya msih menyalakan kemarahannya yang meluap-luap. Bahkan ia menjadi semakin marah, ketika ia menyadari keadaannya. Ternyata Mahesa Branjangan tak dapat ditundukkannya. Apalagi ketika ia mendengar pertanyaan Mahesa Branjangan itu. Namun sesaat kemudian pertanyaan itu benar-benar membingungkannya.
“Ya, apakah yang sudah didapatnya dari perkelahian itu?”
Namun yang terlontar dari mulutnya adalah sebuah makian yang kasar. “Setan. Bukankah dengan demikian kau tahu bahwa kau bukan orang yang aneh di padepokan ini. Bahwa Mahesa Branjangan pun manusia juga yang tidak lebih dari Bagus Abangan meski dia seorang putra Ki Ageng Pandan Arum?”
“Tentu” sahut Mahesa Branjangan. “Apakah aku pernah berkata bahwa aku keturunan malaikat?”
“Tetapi kau merasa, seakan-akan dirimu tak terkena salah. Semua orang harus tunduk atas kehendakmu”
“Itu bukan karena aku Mahesa Branjangan. Tetapi itu karena wewenang yang aku terima”
“Omong kosong” bentak Bagus Abangan, “Sejak sekarang kau harus merubah sikap itu”
Mahesa Branjangan menggeleng, “Tidak” jawabnya tegas.
Dada Bagus Abangan benar-benar akan meledak karenanya. Namun ketika ia ingin menyerang lawannya kembali, ia terhuyung-huyung. Dengan susah payah ia mencoba untuk menemukan keseimbangannya kembali.
“Gila” anak itu mengumpat lagi. Tetapi kali ini tak ditujukannya kepada siapapun.
Sedang Mahesa Branjangan masih tegak di tempatnya. Dalam pada itu, tiba-tiba mereka berdua terkejut. Namun Bagus Abangan hanya sesaat. Tetapi Mahesa Branjangan lah kemudian terguncang dadanya. Meskipun telah disangkanya lebih dahulu, namun kehadiran yang tiba-tiba di antara mereka, benar-benar mengejutkan.
Tetapi perkelahian ini pun tak akan berujung pangkal. Karena kepandaian mereka mempergunakan senjata masing-masing. Maka yang terjadi hanyalah benturan-benturan di antara senjata mereka. Demikian besar kekuatan mereka berdua, maka dalam setiap sentuhan di antara senjata-senjata itu, terperciklah bunga api yang seakan-akan berloncatan dari kedua senjata itu.
Bagus Abangan pun telah berjuang memeras segenap ilmunya, dan Mahesa Branjangan pun tak kalah sengitnya mempergunakan segenap tenaganya. Demikian dahsyatnya perkelahian itu, sehingga seakan-akan tenaga mereka pun segera terhisap habis. Baik Bagus Abangan mau pun Mahesa Branjangan telah mempergunakan pula setiap tenaga cadangan di dalam tubuh mereka. Kekuatan-kekuatan yang dilambari dengan ketekunan latihan-latihan dimasa-masa lampau telah mereka kerahkan. Namun kematangan kanuragan dan pengalaman Mahesa Branjangan jauh di atas Bagus Abangan.
Malam semakin lama menjadi semakin dalam, dan bintang-bintang pun menjadi semakin bergeser kebarat. Langit yang biru gelap tersaput oleh mega yang selembar-selembar mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut. Namun yang berkelahi masih berkelahi juga. Bagus Abangan masih menusukkan senjatanya, namun senjata itu tak akan sampai menyentuh tubuh lawannya. Tenaganya makin terkuras habis. Bahkan beberapa tendangan dan pukulan Mahesa Branjangan berkali –kali mendera tubuhnya. Sering ia terpelanting jatuh. Lalu dengan bersusah payah berdiri lagi.
Nafas Bagus Abangan kini satu-satu tersangkut di dalam kerongkongan. Peluh mengalir seperti mereka sedang bertempur di dalam hujan yang pekat. Meskipun tenaganya sudah hampir habis terperas, namun Bagus Abangan masih mengumpat-umpat dalam hati. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Mahesa Branjangan mampu melawan dengan baiknya. Kini ia telah mendapat tempaan yang padat dari gurunya, dan bahkan gurunya itu pun berkata, bahwa ilmunya pasti akan lebih baik meskipun hanya selapis tipin dari Mahesa Branjangan. Namun ternyata kini, bahwa ilmunya benar-benar tidak melampaui ilmu Mahesa Branjangan itu sendiri. Apakah tempaan selama ini, dihampir setiap malam dengan ilmu-ilmu gurunya yang hampir sempurna itu sama sekali tak berpengaruh atasnya?
Bagus Abangan yang dengan susah payah masih mencoba tegak di atas kedua kakinya, menggeram dengan suara parau yang gemetar.
Katanya, “Mampus kau kakang Mahesa Branjangan”
“Bagus Abangan, apakah hasil yang kita dapatkan dari perkelahian ini?”
Terdengar Bagus Abangan menggeram. Matanya msih menyalakan kemarahannya yang meluap-luap. Bahkan ia menjadi semakin marah, ketika ia menyadari keadaannya. Ternyata Mahesa Branjangan tak dapat ditundukkannya. Apalagi ketika ia mendengar pertanyaan Mahesa Branjangan itu. Namun sesaat kemudian pertanyaan itu benar-benar membingungkannya.
“Ya, apakah yang sudah didapatnya dari perkelahian itu?”
Namun yang terlontar dari mulutnya adalah sebuah makian yang kasar. “Setan. Bukankah dengan demikian kau tahu bahwa kau bukan orang yang aneh di padepokan ini. Bahwa Mahesa Branjangan pun manusia juga yang tidak lebih dari Bagus Abangan meski dia seorang putra Ki Ageng Pandan Arum?”
“Tentu” sahut Mahesa Branjangan. “Apakah aku pernah berkata bahwa aku keturunan malaikat?”
“Tetapi kau merasa, seakan-akan dirimu tak terkena salah. Semua orang harus tunduk atas kehendakmu”
“Itu bukan karena aku Mahesa Branjangan. Tetapi itu karena wewenang yang aku terima”
“Omong kosong” bentak Bagus Abangan, “Sejak sekarang kau harus merubah sikap itu”
Mahesa Branjangan menggeleng, “Tidak” jawabnya tegas.
Dada Bagus Abangan benar-benar akan meledak karenanya. Namun ketika ia ingin menyerang lawannya kembali, ia terhuyung-huyung. Dengan susah payah ia mencoba untuk menemukan keseimbangannya kembali.
“Gila” anak itu mengumpat lagi. Tetapi kali ini tak ditujukannya kepada siapapun.
Sedang Mahesa Branjangan masih tegak di tempatnya. Dalam pada itu, tiba-tiba mereka berdua terkejut. Namun Bagus Abangan hanya sesaat. Tetapi Mahesa Branjangan lah kemudian terguncang dadanya. Meskipun telah disangkanya lebih dahulu, namun kehadiran yang tiba-tiba di antara mereka, benar-benar mengejutkan.
Diubah oleh breaking182 31-05-2022 00:38
ashrose dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
Tutup