- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.6K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#256
gatra 24
Quote:
BAGUS ABANGAN pun melihat semuanya itu. Karena itu maka kini dapat diketahuinya, bagaimana sikap orang-orang dalam lingkungannya kepadanya. Meskipun demikian Bagus Abangan sama sekali tidak berkecil hati. Ketika Bagus Abangan sudah berdiri beberapa langkah di hadapannya, Mahesa Branjangan bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting?”
“Ya kakang” jawab Bagus Abangan. “Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kakang Mahesa Branjangan tanpa didengar oleh seorangpun”
“Katakanlah” sahut Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan terlihat meragu sebentar, sehingga tiba-tiba wajahnya beredar ke segala sudut halaman dan pendapa padepokan itu.
“Kalau kau tidak berteriak-teriak maka mereka tidak akan mendengar” berkata Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian tampaklah ia tersenyum. Namun senyum itu terasa aneh bagi Mahesa Branjangan.
“Kakang” berkata Bagus Abangan perlahan-lahan sambil melangkah mendekati Mahesa Branjangan.
“Aku ingin mengatakan sesuatu. Tetapi tidak di sini.”
“Katakanlah sekarang” sahut Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan menarik nafas. Sekali lagi ia memandang berkeliling. Ditangga pendapa ia melihat beberapa orang cantrik berdiri berjajar-jajar, dan beberapa orang di antaranya duduk dengan gelisah. Di regol pun dilihatnya beberapa cantrik dengan tombak di tangan mereka.
“Baiklah kakang” berkata Bagus Abangan, “Aku hanya akan minta ijin kakang untuk menyelesaikan persoalanku dengan Arya Gading secara jantan, supaya persoalan ini tidak berlarut-larut dan menjadi semakin dalam menghunjam di dalam dadaku”
Mahesa Branjangan terkejut mendengar permintaan itu. Ternyata Bagus Abangan sama sekali tidak dapat menekan perasaannya. Karena itu untuk sesaat Mahesa Branjangan tidak segera dapat menjawab. Bahkan Bagus Abangan sempat berkata terus, “Aku bersedia memenuhi syarat apa pun yang akan diberikan kepada kami berdua. Tanding tanpa atau dengan saksi, tanpa atau dengan senjata”
Wajah Mahesa Branjangan tiba-tiba menjadi tegang. Terdengar ia menggeram, kemudian katanya, “Tidak. Aku tidak memberimu ijin. Juga Arya Gading tidak akan aku ijinkan”
Bagus Abangan menjadi kecewa. Namun ia masih berkata terus, “Kakang, agaknya kurang bijaksana. Apakah kakang ingin dendam kami masing-masing membakar dada kami, sehingga kelak apabila terdapat kesempatan, maka kami akan bertempur tanpa pengendalian diri? Kini kami masih cukup sadar, bahwa perkelahian yang akan diadakan ini adalah perkelahian antara kita. Hanya karena persoalan pribadi. Sehingga dengan demikian kita masih dapat membatasi diri kita sendiri untuk tidak menghancurkan nama besar perguruan ini”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menggeleng, katanya tegas, “Tidak. Perkelahian di antara kita sama sekali tak akan menguntungkan. Dan aku tidak mau melihat dua cantrik ku yang berkelahi hanya karena perempuan”
Wajah Bagus Abangan tiba-tiba menjadi merah membara. Kemarahannya kini menjalar kembali di dadanya. Kata-kata Mahesa Branjangan itu benar-benar suatu tamparan baginya.
Dan tiba-tiba pula perasaan yang tersimpan di dadanya itu kini terungkat seluruhnya. Betapa ia memandang Mahesa Branjangan tidak lebih daripadanya. Karena itu kini Bagus Abangan tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Meskipun demikian ia masih berkata perlahan-lahan namun penuh dengan tekanan, “Kakang, apakah sebenarnya kakang sedang melindungi anak itu?”
Dada Mahesa Branjangan seakan-akan meledak mendengar pertanyaan itu. Ia sadar, bahwa Bagus Abangan hanya ingin menghina Arya Gading. Meskipun demikian ia berkata, “Jangan mengigau Bagus Abangan. Kalau suatu ketika terjadi perkelahian di antara kalian, maka kalian berdua akan terpaksa mengalami hukuman”
Bagus Abangan tersenyum. Senyum yang benar-benar menyakitkan hati. Katanya, “Hem, kakang Mahesa Branjangan. Sebagai seorang cantrik aku menghormatimu. Namun sebagai seorang yang mempunyai kebebasan diri dalam persoalanku sendiri aku tidak dapat menerimanya”
Sekali lagi dada Mahesa Branjangan terguncang. Wajahnya menjadi merah pula karena marah. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk menenangkan dirinya.
“Ya kakang” jawab Bagus Abangan. “Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kakang Mahesa Branjangan tanpa didengar oleh seorangpun”
“Katakanlah” sahut Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan terlihat meragu sebentar, sehingga tiba-tiba wajahnya beredar ke segala sudut halaman dan pendapa padepokan itu.
“Kalau kau tidak berteriak-teriak maka mereka tidak akan mendengar” berkata Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian tampaklah ia tersenyum. Namun senyum itu terasa aneh bagi Mahesa Branjangan.
“Kakang” berkata Bagus Abangan perlahan-lahan sambil melangkah mendekati Mahesa Branjangan.
“Aku ingin mengatakan sesuatu. Tetapi tidak di sini.”
“Katakanlah sekarang” sahut Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan menarik nafas. Sekali lagi ia memandang berkeliling. Ditangga pendapa ia melihat beberapa orang cantrik berdiri berjajar-jajar, dan beberapa orang di antaranya duduk dengan gelisah. Di regol pun dilihatnya beberapa cantrik dengan tombak di tangan mereka.
“Baiklah kakang” berkata Bagus Abangan, “Aku hanya akan minta ijin kakang untuk menyelesaikan persoalanku dengan Arya Gading secara jantan, supaya persoalan ini tidak berlarut-larut dan menjadi semakin dalam menghunjam di dalam dadaku”
Mahesa Branjangan terkejut mendengar permintaan itu. Ternyata Bagus Abangan sama sekali tidak dapat menekan perasaannya. Karena itu untuk sesaat Mahesa Branjangan tidak segera dapat menjawab. Bahkan Bagus Abangan sempat berkata terus, “Aku bersedia memenuhi syarat apa pun yang akan diberikan kepada kami berdua. Tanding tanpa atau dengan saksi, tanpa atau dengan senjata”
Wajah Mahesa Branjangan tiba-tiba menjadi tegang. Terdengar ia menggeram, kemudian katanya, “Tidak. Aku tidak memberimu ijin. Juga Arya Gading tidak akan aku ijinkan”
Bagus Abangan menjadi kecewa. Namun ia masih berkata terus, “Kakang, agaknya kurang bijaksana. Apakah kakang ingin dendam kami masing-masing membakar dada kami, sehingga kelak apabila terdapat kesempatan, maka kami akan bertempur tanpa pengendalian diri? Kini kami masih cukup sadar, bahwa perkelahian yang akan diadakan ini adalah perkelahian antara kita. Hanya karena persoalan pribadi. Sehingga dengan demikian kita masih dapat membatasi diri kita sendiri untuk tidak menghancurkan nama besar perguruan ini”
Sekali lagi Mahesa Branjangan menggeleng, katanya tegas, “Tidak. Perkelahian di antara kita sama sekali tak akan menguntungkan. Dan aku tidak mau melihat dua cantrik ku yang berkelahi hanya karena perempuan”
Wajah Bagus Abangan tiba-tiba menjadi merah membara. Kemarahannya kini menjalar kembali di dadanya. Kata-kata Mahesa Branjangan itu benar-benar suatu tamparan baginya.
Dan tiba-tiba pula perasaan yang tersimpan di dadanya itu kini terungkat seluruhnya. Betapa ia memandang Mahesa Branjangan tidak lebih daripadanya. Karena itu kini Bagus Abangan tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Meskipun demikian ia masih berkata perlahan-lahan namun penuh dengan tekanan, “Kakang, apakah sebenarnya kakang sedang melindungi anak itu?”
Dada Mahesa Branjangan seakan-akan meledak mendengar pertanyaan itu. Ia sadar, bahwa Bagus Abangan hanya ingin menghina Arya Gading. Meskipun demikian ia berkata, “Jangan mengigau Bagus Abangan. Kalau suatu ketika terjadi perkelahian di antara kalian, maka kalian berdua akan terpaksa mengalami hukuman”
Bagus Abangan tersenyum. Senyum yang benar-benar menyakitkan hati. Katanya, “Hem, kakang Mahesa Branjangan. Sebagai seorang cantrik aku menghormatimu. Namun sebagai seorang yang mempunyai kebebasan diri dalam persoalanku sendiri aku tidak dapat menerimanya”
Sekali lagi dada Mahesa Branjangan terguncang. Wajahnya menjadi merah pula karena marah. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk menenangkan dirinya.
Quote:
ORANG-ORANG yang melihat percakapan itu dari kejauhan menjadi heran. Mereka melihat wajah-wajah yang tegang. Namun kadang-kadang mereka melihat Bagus Abangan tersenyum-senyum seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Karena itu mereka menebak-nebak apakah yang mereka bicarakan. Apakah Bagus Abangan sedang minta maaf kepada Mahesa Branjangan?
Namun mereka tidak mendengar ketika Mahesa Branjangan berkata, “Aku mempunyai wewenang di sini Bagus Abangan”
Bagus Abangan masih tersenyum. Katanya, “Kakang Mahesa Branjangan ternyata telah menyalahgunakan wewenang itu untuk keuntungan pribadi”
Dada Mahesa Branjangan benar-benar hampir pecah karenanya. Ia harus mempertahankan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin. Maka katanya, “Tanpa wewenang pun aku dapat memaksamu Bagus Abangan”
Bagus Abangan mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia pun berkata, “Kakang, aku ingin berbicara tanpa seorang pun yang melihat”
“Bagus” berkata Mahesa Branjangan.
Ia benar-benar telah menangkap tantangan itu. Karena itu ia harus menerimanya apabila ia masih ingin dinamai seorang pemimpin. Meski ia berpikir melawan anak muda seperti Bagus Abangan jika diibaratkan seperti pepatah, menang ora kondhang, kalah kewirangan. Maka katanya seterusnya, “Nanti malam kita bisa bertemu tanpa seorang pun yang melihat pertemuan itu”
Dada Bagus Abangan pun bergetar semakin cepat. Ia sudah menjerumuskan diri kedalam persoalan yang lebih berat. Namun ia yakin, bahwa ia akan dapat mengatasi semua persoalan itu. Maka kemudian Bagus Abangan itu pun mengangguk hormat, lalu pergi meninggalkan Mahesa Branjangan yang masih tegak dengan tegangnya. Dilihatnya anak muda yang terlalu yakin akan dirinya itu, berjalan ke pendapa, kemudian naik dengan langkah yang tegap.
Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya keadaan di sekitarnya. Dilihatnya para cantrik berdiri berjajar di samping pendapa, sedang di regol halaman dilihatnya beberapa orang yang sedang bertugas tegak dengan tombak di tangan.
“Apa pun yang terjadi” katanya di dalam hati, “Mereka harus menganggap aku sebagai seorang laki-laki yang berani menghadapi setiap keadaan dibawah kekuasaanku. Kalau aku hindari tantangan Bagus Abangan, mereka akan kehilangan kepercayaan, dan aku akan kehilangan kewibawaan”
“Tetapi” terdengar pula suara yang lain, “Bagaimanakah kalau aku dapat dikalahkan?”
“Menang atau kalah bukan soal” jawabnya sendiri, “Aku harus tetap pada keputusanku, keputusan seorang pimpinan. Aku sangat heran, kenapa anak itu seperti anak liar yang tidak tahu unggah –ungguh. Apakah paman Paraji Gading tidak mengajarnya dengan benar? Entahlah….”
Sesaat kemudian Mahesa Branjangan itu pun melangkah kembali ke regol halaman. Kemudian lelaki itu duduk bergabung dengan para cantrik yang mendapat giliran menjaga pintu regol. Ketika Mahesa Branjangan masih duduk di depan regol, terasa seseorang menggamitnya dari belakang. Orang itu adalah Kuda Merta.
Dengan wajah yang bersungguh-sungguh ia berbisik, “Apakah yang dikatakan Bagus Abangan itu?”
Mahesa Branjangan memandangnya bersungguh-sungguh pula. Namun kemudian ia tersenyum, “Tidak apa-apa paman” jawabnya.
Kuda Merta menggeleng. Katanya, “Aku melihat sesuatu yang tidak wajar Brajangan. Jangan biarkan kami menebak-nebak, supaya kami tidak semakin muak melihat murid kakang Paraji Gading yang sombong itu”
“Dia salah seorang cantrik di sini” sahut Mahesa Branjangan.
Kuda Merta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dirasakannya, apa yang dikatakan Mahesa Branjangan itu benar. Namun apakah dengan demikian anak muda itu wenang untuk berbuat sesuka hatinya? Karena itu ia bertanya, “Tetapi Branjangan, aku melihat tingkah lakunya semakin lama semakin tidak menyenangkan”
“Aku akan mencoba untuk mengatasinya” jawab Mahesa Branjangan
“Mudah-mudahan kau berhasil” gumam Kuda Merta, “Kalau perlu, kau dapat minta bantuan kami. Bukankah itu juga termasuk kewajiban kami?”
Mahesa Branjangan mengerutkan keningnya. Katanya, “Jangan. Dengan demikian dendam di antara para cantrik akan semakin menyala. Kewajiban kita masih banyak. Kitab Lawang Pitu masih belum tau juntrungnya. Dan orang yang telah merampasnya masih dengan leluasa berkeliaran tanpa kita mampu untuk meringkusnya “
Kuda Merta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mereka tenggelam dalam kesenyapan. Angan-angan mereka masing-masing terbang bersama awan di langit. Sekali-sekali burung elang terbang melingkar-lingkar di udara, mencari mangsanya. Namun induk-induk ayam dengan bulu-bulunya yang tebal, segera menyelimuti anak-anaknya yang ketakutan.
Matahari pun semakin lama semakin condong kebarat. Dan Mahesa Branjangan tidak melupakan janjinya. Malam nanti. Dan akhirnya malam itu datang. Ketika pringgitan itu mulai dinyalakan lampu, segera Mahesa Branjangan masuk kembali ke pringgitan. Dibenahinya pakaiannya, dikeraskannya ikat pinggangnya dan kemudian disangkutkannya pedangnya di lambungnya. Ia kini sudah benar-benar siap, apa pun yang akan terjadi atasnya malam nanti dalam kedudukannya sebagai pimpinan pasukan Pajang di Sangkal Putung. Ia masih akan berusaha menguasai Bagus Abangan seorang diri. Janjinya untuk bertemu Bagus Abangan tanpa diketahui oleh siapa pun benar-benar akan dipenuhi.
Namun mereka tidak mendengar ketika Mahesa Branjangan berkata, “Aku mempunyai wewenang di sini Bagus Abangan”
Bagus Abangan masih tersenyum. Katanya, “Kakang Mahesa Branjangan ternyata telah menyalahgunakan wewenang itu untuk keuntungan pribadi”
Dada Mahesa Branjangan benar-benar hampir pecah karenanya. Ia harus mempertahankan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin. Maka katanya, “Tanpa wewenang pun aku dapat memaksamu Bagus Abangan”
Bagus Abangan mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia pun berkata, “Kakang, aku ingin berbicara tanpa seorang pun yang melihat”
“Bagus” berkata Mahesa Branjangan.
Ia benar-benar telah menangkap tantangan itu. Karena itu ia harus menerimanya apabila ia masih ingin dinamai seorang pemimpin. Meski ia berpikir melawan anak muda seperti Bagus Abangan jika diibaratkan seperti pepatah, menang ora kondhang, kalah kewirangan. Maka katanya seterusnya, “Nanti malam kita bisa bertemu tanpa seorang pun yang melihat pertemuan itu”
Dada Bagus Abangan pun bergetar semakin cepat. Ia sudah menjerumuskan diri kedalam persoalan yang lebih berat. Namun ia yakin, bahwa ia akan dapat mengatasi semua persoalan itu. Maka kemudian Bagus Abangan itu pun mengangguk hormat, lalu pergi meninggalkan Mahesa Branjangan yang masih tegak dengan tegangnya. Dilihatnya anak muda yang terlalu yakin akan dirinya itu, berjalan ke pendapa, kemudian naik dengan langkah yang tegap.
Mahesa Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya keadaan di sekitarnya. Dilihatnya para cantrik berdiri berjajar di samping pendapa, sedang di regol halaman dilihatnya beberapa orang yang sedang bertugas tegak dengan tombak di tangan.
“Apa pun yang terjadi” katanya di dalam hati, “Mereka harus menganggap aku sebagai seorang laki-laki yang berani menghadapi setiap keadaan dibawah kekuasaanku. Kalau aku hindari tantangan Bagus Abangan, mereka akan kehilangan kepercayaan, dan aku akan kehilangan kewibawaan”
“Tetapi” terdengar pula suara yang lain, “Bagaimanakah kalau aku dapat dikalahkan?”
“Menang atau kalah bukan soal” jawabnya sendiri, “Aku harus tetap pada keputusanku, keputusan seorang pimpinan. Aku sangat heran, kenapa anak itu seperti anak liar yang tidak tahu unggah –ungguh. Apakah paman Paraji Gading tidak mengajarnya dengan benar? Entahlah….”
Sesaat kemudian Mahesa Branjangan itu pun melangkah kembali ke regol halaman. Kemudian lelaki itu duduk bergabung dengan para cantrik yang mendapat giliran menjaga pintu regol. Ketika Mahesa Branjangan masih duduk di depan regol, terasa seseorang menggamitnya dari belakang. Orang itu adalah Kuda Merta.
Dengan wajah yang bersungguh-sungguh ia berbisik, “Apakah yang dikatakan Bagus Abangan itu?”
Mahesa Branjangan memandangnya bersungguh-sungguh pula. Namun kemudian ia tersenyum, “Tidak apa-apa paman” jawabnya.
Kuda Merta menggeleng. Katanya, “Aku melihat sesuatu yang tidak wajar Brajangan. Jangan biarkan kami menebak-nebak, supaya kami tidak semakin muak melihat murid kakang Paraji Gading yang sombong itu”
“Dia salah seorang cantrik di sini” sahut Mahesa Branjangan.
Kuda Merta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dirasakannya, apa yang dikatakan Mahesa Branjangan itu benar. Namun apakah dengan demikian anak muda itu wenang untuk berbuat sesuka hatinya? Karena itu ia bertanya, “Tetapi Branjangan, aku melihat tingkah lakunya semakin lama semakin tidak menyenangkan”
“Aku akan mencoba untuk mengatasinya” jawab Mahesa Branjangan
“Mudah-mudahan kau berhasil” gumam Kuda Merta, “Kalau perlu, kau dapat minta bantuan kami. Bukankah itu juga termasuk kewajiban kami?”
Mahesa Branjangan mengerutkan keningnya. Katanya, “Jangan. Dengan demikian dendam di antara para cantrik akan semakin menyala. Kewajiban kita masih banyak. Kitab Lawang Pitu masih belum tau juntrungnya. Dan orang yang telah merampasnya masih dengan leluasa berkeliaran tanpa kita mampu untuk meringkusnya “
Kuda Merta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mereka tenggelam dalam kesenyapan. Angan-angan mereka masing-masing terbang bersama awan di langit. Sekali-sekali burung elang terbang melingkar-lingkar di udara, mencari mangsanya. Namun induk-induk ayam dengan bulu-bulunya yang tebal, segera menyelimuti anak-anaknya yang ketakutan.
Matahari pun semakin lama semakin condong kebarat. Dan Mahesa Branjangan tidak melupakan janjinya. Malam nanti. Dan akhirnya malam itu datang. Ketika pringgitan itu mulai dinyalakan lampu, segera Mahesa Branjangan masuk kembali ke pringgitan. Dibenahinya pakaiannya, dikeraskannya ikat pinggangnya dan kemudian disangkutkannya pedangnya di lambungnya. Ia kini sudah benar-benar siap, apa pun yang akan terjadi atasnya malam nanti dalam kedudukannya sebagai pimpinan pasukan Pajang di Sangkal Putung. Ia masih akan berusaha menguasai Bagus Abangan seorang diri. Janjinya untuk bertemu Bagus Abangan tanpa diketahui oleh siapa pun benar-benar akan dipenuhi.
Quote:
DEMIKIAN Mahesa Branjangan meninggalkan pringgitan. Ia melangkah menuruni pendapa, sedang Bagus Abangan dari kejauhan berjalan di belakangnya. Di regol halaman Mahesa Branjangan berhenti sejenak. Kepada salah seorang cantrik ia berkata, “Aku akan nganglang ke pedukuhan disekitar padepokan ini. Lakukan tugasmu baik-baik”
“Baik kakang” jawab penjaga itu. Namun matanya memancarkan keheranannya. Biasanya Mahesa Branjangan pergi hampir setiap malam dengan Arya Gading, namun kini ia pergi bersama Bagus Abangan.
Mereka mencoba meraba-raba apakah sebabnya. Tetapi tak seorang pun diantara mereka yang berani bertanya. Regol halaman itu kemudian menjadi sepi. Para cantrik kembali bertugas sesuai kewajibannya masing –masing. Mahesa Branjangan dan Bagus Abangan masih berjalan menyusur jalan-jalan desa, singgah dari satu padukuhan kemudian ke padukuhan yang lain seperti setiap malam dilakukan oleh Mahesa Branjangan.
Baru setelah semuanya itu selesai, berkatalah Mahesa Branjangan, “Aku sudah selesai dengan pekerjaanku Bagus Abangan, sekarang kau mendapat giliran”
Mendengar kata-kata Mahesa Branjangan itu, Bagus Abangan pun menjadi berdebar-debar pula. Meskipun demikian ia menyimpan juga kegembiraan di dalam dadanya. Jawabnya, “Baik kakang. Kemana kita akan pergi?”
“Terserah kepadamu” jawab Mahesa Branjangan.
“Kita pergi ke tegalan” ajak Bagus Abangan.
Mahesa Branjangan tidak menjawab. Tetapi ketika mereka sampai disimpang tiga diluar padukuhan terakhir, Mahesa Branjangan membelok ke kanan, ke arah tegalan yang sangat luas. Bagus Abangan yang berjalan di sampingnya, mencoba untuk menenangkan dirinya. Meskipun gurunya sendiri telah memberitahukannya, bahwa Mahesa Branjangan tidak lebih daripadanya, namun wibawa orang itu telah menjadikannya gelisah.
Beberapa saat mereka pun sampai ke pategalan yang luas. Di antara tanaman-tanaman buah-buahan, terdapatlah beberapa bagian tanah yang kosong. Dibawah sebatang pohon jambu mete yang besar Bagus Abangan berhenti.
Katanya, “Kita berhenti di sini kakang”
Mahesa Branjangan pun berhenti pula. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Dalam keremangan malam, yang dilihatnya hanyalah batang-batang pohon buah-buahan yang tegak di sekitarnya. Batang-batang yang seakan-akan berwana hitam kelam. Kemudian dengan suara yang berat Mahesa Branjangan berkata, “Nah, apakah yang akan kau lakukan Bagus Abangan?”
Dada Bagus Abangan berdesir mendengar pertanyaan itu. Bagaimanapun juga Mahesa Branjangan memiliki cukup pengaruh atas dirinya. Namun dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari pengaruh itu. Maka jawabnya, “Aku ingin minta ijin itu kakang”
“Ijin untuk berkelahi dengan Arya Gading?”
“Ya”
“Sudah aku jawab”
Bagus Abangan menarik nafas. Jawabnya, “Kakang tidak berhak melarang”
“Bagus Abangan” berkata Mahesa Branjangan. Sebagai seorang yang lebih tua maka segera ia pun tahu maksud Bagus Abangan yang sebenarnya. Karena itu ia meneruskan, “Kau tidak usah melingkar-lingkar. Katakan bahwa kau tidak puas dengan keputusan itu. Namun jangan mimpi aku akan merubah keputusan itu”
“Nah” sahut Bagus Abangan, “Sekarang aku tahu, bahwa Arya Gading sebenarnya sama sekali bukan seorang yang istimewa. Bukan seorang jantan. Apabila demikian, ia pasti sudah berbuat sesuatu. Tetapi ia lebih senang bersembunyi di balik punggung kakang Mahesa Branjangan. Bukankah demikian?”
Mahesa Branjangan memandang wajah Bagus Abangan dengan sinar mata yang menyala. Jawabnya, “Terserah atas penilaiannmu Bagus Abangan”
“Apakah bukan sebenarnya demikian?”
Mahesa Branjangan tidak menjawab. Tetapi ia masih menatap wajah Bagus Abangan dengan tajamnya. Sehingga kemudian terdengar Bagus Abangan mengulangi, “Bukankah sebenarnya demikian?”
Mahesa Branjangan masih tetap berdiam diri. Dan pandangannya pun masih tetap menghunjam ke dalam biji mata Bagus Abangan. Dengan demikian Bagus Abangan menjadi semakin gelisah. Untuk menutupi kegelisahannya tiba-tiba saja ia berkata lantang, “Kakang Mahesa Branjangan, kalau tak kau ijinkan Arya Gading bertempur, siapakah yang akan mewakilinya?”
Mahesa Branjangan sudah menyangka bahwa akhirnya Bagus Abangan akan sampai pada saatnya, menantangnya berkelahi. Mahesa Branjangan pun sadar bahwa Bagus Abangan merasa bahwa ia tidak akan dapat dikalahkannya.
Karena itu maka terdengar Mahesa Branjangan menjawab, “Bagus Abangan, katakan sajalah apa yang tersimpan di dalam dadamu. Kau tidak puas dengan keputusanku. Sedang kau merasa sebagai orang yang tak terkalahkan di padepokan Pandan Arum murid kinasih seorang salah satu pendekar yang tangguh. Sekarang kau sedang mencoba memaksakan kehendakmu. Nah, dengarlah. Aku tetap pada pendirianku” Mahesa Branjangan berhenti sejenak kemudian terdengar ia meneruskan, “ Aku jadi memiliki dugaan. Mudah –mudahan aku salah. Apakah kau punya keinginan jika kau dapat mengalahkan aku, maka kepentingan mu atas padepokan ini dapat terlaksana? ”
“Bohong” potong Bagus Abangan tiba-tiba.
Tetapi ia terdiam pula ketika Mahesa Branjangan bertanya, “Apakah aku salah duga?”
Bagus Abangan menjadi seakan-akan terbungkam. Kegelisahannya kini benar-benar sangat mengganggunya. Meskipun kemarahannya telah memuncak namun ia masih berdiri terpaku tanpa sepatah kata pun yang dapat diucapkannya. Sehingga ia terkejut ketika Mahesa Branjangan mendesaknya, “Jawab!”
“Ya” kata itu meloncat begitu saja dari mulutnya. Namun sesaat kemudian barulah ia menyadari keadaannya. Menyadari jawaban yang sudah terlanjur meloncat dari mulutnya. Karena itu Bagus Abangan sudah tidak akan menelannya kembali.
Apalagi ketika ia mendengar Mahesa Branjangan berkata, “Bagus. Kau memiliki kejujuran juga. Namun kau seharusnya sudah memperhitungkan jawabannya ”
Kembali Bagus Abangan terdiam untuk sesaat. Namun kemudian dipaksanya juga dirinya untuk mengambil sikap. Karena itu maka tiba-tiba ditengadahkannya dadanya sambil berkata, “Kakang Mahesa Branjangan, kau harus merubah pendirianmu itu. Aku bukan anak-anak lagi. Guru ku salah satu orang yang berjasa besar atas berdirinya padepokan Pandan Arum. Apakah kau melupakan hal itu?”
“Aku akui dan aku ingat bahwa paman Paraji Gading salah satu tetua di padepokan ini. Namun aku tidak dapat membenarkan, kau berbuat sekehendakmu. Betapa pun besarnya nama paman Paraji Gading, namun kau adalah satu di antara kita yang telah menjalin diri dalam kehidupan bersama untuk kepentingan bersama”
Tiba-tiba mata Bagus Abangan itu pun menjadi liar. Kemarahannya kini benar-benar telah membakar dadanya. Katanya, “Aku akan memaksakan kehendakku”
“Aku sudah menyangka” jawab Mahesa Branjangan, “Dan aku sudah siap”
Tetapi Bagus Abangan masih saja berdiri di tempatnya. Hanya bola matanya sajalah yang seakan-akan meloncat dari kelopaknya. Mahesa Branjangan yang sudah siap itu pun menunggu apa saja yang akan dilakukan oleh anak muda yang sombong itu. Bahkan Mahesa Branjangan masih juga berkata, “Kalau aku memberimu kesempatan kali ini Bagus Abangan, maka kesempatan yang serupa akan berulang dan berulang kembali. Sekali aku membiarkan perintahku dilanggar maka pelanggaran itu pun akan selalu terjadi”
Bagus Abangan benar-benar telah dibakar oleh kemarahannya. Namun ia masih berdiri saja, seolah-olah sebuah tonggak yang mati. Sehingga dengan demikian tegalan itu pun menjadi sepi. Kesepian yang tegang.
“Baik kakang” jawab penjaga itu. Namun matanya memancarkan keheranannya. Biasanya Mahesa Branjangan pergi hampir setiap malam dengan Arya Gading, namun kini ia pergi bersama Bagus Abangan.
Mereka mencoba meraba-raba apakah sebabnya. Tetapi tak seorang pun diantara mereka yang berani bertanya. Regol halaman itu kemudian menjadi sepi. Para cantrik kembali bertugas sesuai kewajibannya masing –masing. Mahesa Branjangan dan Bagus Abangan masih berjalan menyusur jalan-jalan desa, singgah dari satu padukuhan kemudian ke padukuhan yang lain seperti setiap malam dilakukan oleh Mahesa Branjangan.
Baru setelah semuanya itu selesai, berkatalah Mahesa Branjangan, “Aku sudah selesai dengan pekerjaanku Bagus Abangan, sekarang kau mendapat giliran”
Mendengar kata-kata Mahesa Branjangan itu, Bagus Abangan pun menjadi berdebar-debar pula. Meskipun demikian ia menyimpan juga kegembiraan di dalam dadanya. Jawabnya, “Baik kakang. Kemana kita akan pergi?”
“Terserah kepadamu” jawab Mahesa Branjangan.
“Kita pergi ke tegalan” ajak Bagus Abangan.
Mahesa Branjangan tidak menjawab. Tetapi ketika mereka sampai disimpang tiga diluar padukuhan terakhir, Mahesa Branjangan membelok ke kanan, ke arah tegalan yang sangat luas. Bagus Abangan yang berjalan di sampingnya, mencoba untuk menenangkan dirinya. Meskipun gurunya sendiri telah memberitahukannya, bahwa Mahesa Branjangan tidak lebih daripadanya, namun wibawa orang itu telah menjadikannya gelisah.
Beberapa saat mereka pun sampai ke pategalan yang luas. Di antara tanaman-tanaman buah-buahan, terdapatlah beberapa bagian tanah yang kosong. Dibawah sebatang pohon jambu mete yang besar Bagus Abangan berhenti.
Katanya, “Kita berhenti di sini kakang”
Mahesa Branjangan pun berhenti pula. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Dalam keremangan malam, yang dilihatnya hanyalah batang-batang pohon buah-buahan yang tegak di sekitarnya. Batang-batang yang seakan-akan berwana hitam kelam. Kemudian dengan suara yang berat Mahesa Branjangan berkata, “Nah, apakah yang akan kau lakukan Bagus Abangan?”
Dada Bagus Abangan berdesir mendengar pertanyaan itu. Bagaimanapun juga Mahesa Branjangan memiliki cukup pengaruh atas dirinya. Namun dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari pengaruh itu. Maka jawabnya, “Aku ingin minta ijin itu kakang”
“Ijin untuk berkelahi dengan Arya Gading?”
“Ya”
“Sudah aku jawab”
Bagus Abangan menarik nafas. Jawabnya, “Kakang tidak berhak melarang”
“Bagus Abangan” berkata Mahesa Branjangan. Sebagai seorang yang lebih tua maka segera ia pun tahu maksud Bagus Abangan yang sebenarnya. Karena itu ia meneruskan, “Kau tidak usah melingkar-lingkar. Katakan bahwa kau tidak puas dengan keputusan itu. Namun jangan mimpi aku akan merubah keputusan itu”
“Nah” sahut Bagus Abangan, “Sekarang aku tahu, bahwa Arya Gading sebenarnya sama sekali bukan seorang yang istimewa. Bukan seorang jantan. Apabila demikian, ia pasti sudah berbuat sesuatu. Tetapi ia lebih senang bersembunyi di balik punggung kakang Mahesa Branjangan. Bukankah demikian?”
Mahesa Branjangan memandang wajah Bagus Abangan dengan sinar mata yang menyala. Jawabnya, “Terserah atas penilaiannmu Bagus Abangan”
“Apakah bukan sebenarnya demikian?”
Mahesa Branjangan tidak menjawab. Tetapi ia masih menatap wajah Bagus Abangan dengan tajamnya. Sehingga kemudian terdengar Bagus Abangan mengulangi, “Bukankah sebenarnya demikian?”
Mahesa Branjangan masih tetap berdiam diri. Dan pandangannya pun masih tetap menghunjam ke dalam biji mata Bagus Abangan. Dengan demikian Bagus Abangan menjadi semakin gelisah. Untuk menutupi kegelisahannya tiba-tiba saja ia berkata lantang, “Kakang Mahesa Branjangan, kalau tak kau ijinkan Arya Gading bertempur, siapakah yang akan mewakilinya?”
Mahesa Branjangan sudah menyangka bahwa akhirnya Bagus Abangan akan sampai pada saatnya, menantangnya berkelahi. Mahesa Branjangan pun sadar bahwa Bagus Abangan merasa bahwa ia tidak akan dapat dikalahkannya.
Karena itu maka terdengar Mahesa Branjangan menjawab, “Bagus Abangan, katakan sajalah apa yang tersimpan di dalam dadamu. Kau tidak puas dengan keputusanku. Sedang kau merasa sebagai orang yang tak terkalahkan di padepokan Pandan Arum murid kinasih seorang salah satu pendekar yang tangguh. Sekarang kau sedang mencoba memaksakan kehendakmu. Nah, dengarlah. Aku tetap pada pendirianku” Mahesa Branjangan berhenti sejenak kemudian terdengar ia meneruskan, “ Aku jadi memiliki dugaan. Mudah –mudahan aku salah. Apakah kau punya keinginan jika kau dapat mengalahkan aku, maka kepentingan mu atas padepokan ini dapat terlaksana? ”
“Bohong” potong Bagus Abangan tiba-tiba.
Tetapi ia terdiam pula ketika Mahesa Branjangan bertanya, “Apakah aku salah duga?”
Bagus Abangan menjadi seakan-akan terbungkam. Kegelisahannya kini benar-benar sangat mengganggunya. Meskipun kemarahannya telah memuncak namun ia masih berdiri terpaku tanpa sepatah kata pun yang dapat diucapkannya. Sehingga ia terkejut ketika Mahesa Branjangan mendesaknya, “Jawab!”
“Ya” kata itu meloncat begitu saja dari mulutnya. Namun sesaat kemudian barulah ia menyadari keadaannya. Menyadari jawaban yang sudah terlanjur meloncat dari mulutnya. Karena itu Bagus Abangan sudah tidak akan menelannya kembali.
Apalagi ketika ia mendengar Mahesa Branjangan berkata, “Bagus. Kau memiliki kejujuran juga. Namun kau seharusnya sudah memperhitungkan jawabannya ”
Kembali Bagus Abangan terdiam untuk sesaat. Namun kemudian dipaksanya juga dirinya untuk mengambil sikap. Karena itu maka tiba-tiba ditengadahkannya dadanya sambil berkata, “Kakang Mahesa Branjangan, kau harus merubah pendirianmu itu. Aku bukan anak-anak lagi. Guru ku salah satu orang yang berjasa besar atas berdirinya padepokan Pandan Arum. Apakah kau melupakan hal itu?”
“Aku akui dan aku ingat bahwa paman Paraji Gading salah satu tetua di padepokan ini. Namun aku tidak dapat membenarkan, kau berbuat sekehendakmu. Betapa pun besarnya nama paman Paraji Gading, namun kau adalah satu di antara kita yang telah menjalin diri dalam kehidupan bersama untuk kepentingan bersama”
Tiba-tiba mata Bagus Abangan itu pun menjadi liar. Kemarahannya kini benar-benar telah membakar dadanya. Katanya, “Aku akan memaksakan kehendakku”
“Aku sudah menyangka” jawab Mahesa Branjangan, “Dan aku sudah siap”
Tetapi Bagus Abangan masih saja berdiri di tempatnya. Hanya bola matanya sajalah yang seakan-akan meloncat dari kelopaknya. Mahesa Branjangan yang sudah siap itu pun menunggu apa saja yang akan dilakukan oleh anak muda yang sombong itu. Bahkan Mahesa Branjangan masih juga berkata, “Kalau aku memberimu kesempatan kali ini Bagus Abangan, maka kesempatan yang serupa akan berulang dan berulang kembali. Sekali aku membiarkan perintahku dilanggar maka pelanggaran itu pun akan selalu terjadi”
Bagus Abangan benar-benar telah dibakar oleh kemarahannya. Namun ia masih berdiri saja, seolah-olah sebuah tonggak yang mati. Sehingga dengan demikian tegalan itu pun menjadi sepi. Kesepian yang tegang.
Diubah oleh breaking182 31-05-2022 00:34
pulaukapok dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas