- Beranda
- Supranatural
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
...
TS
nefri.ryu
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius

(Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel / Sindonews.com)
Sudah 7 purnama tidak berbagi cerita tentang kisah mistis nonfiksi ke agan-agan, rasanya gatal banget jemari untuk kembali nulis ini.
Ternyata masiih banyak yang nungguin tulisan ane, terharu plus jadi bersemangat lagi nulis cerita horror yang ane dan temen2 ane alami..
Karena banyak yang request (ceileee,, sebanyak apa sih), ane akan melanjutkan petualangan menulis di mari..



Nah kebetulan, ane ada cerita yang masih hangat-hangatnya di memori otak ane tentang cerita mistis naik gunung. Kali ini, Gunung Dempo di Kota Pagar Alam Sumsel. Ceritanya gak terlalu horror, tapi daripada gak cerita sama sekali,, hehehe…
Mungkin ane akan nulis agak berbeda, gak pake ane dan ente ya. Karena banyak yang bacain cerita ane di channel sebelah, terasa agak ganjal aja ketika mendengar kata ‘ane’ atau ‘ente’.
Banyak juga yang protes, yang gak ngerti istilah di Kaskus, pasti asing dengan bahasa kebiasaan kita ya.. hehehe..



Prolog

Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. travel.okezone.com)
Sudah 10 tahun silam, aku menginjakkan kaki di Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel. Mendaki bersama dua orang teman pria yang saat itu kita sedang semangat-semangatnya.
Namun sayang, kondisi cuaca yang sedang badai-badainya, membuat kita gak sampai ke puncak. Boro-boro ke puncak, kita bahkan terdampar di jalur yang gak bakal enak untuk ditempati.
Kenalan lagi yuk…
Aku, Ryu,

Cewek yang hobi naik gunung, tapi gak tahan dingin, gak tahan kena air hujan di atas gunung, gak bisa jalan cepet tapi maunya jalan mulu biar gak dingin dan sering naik gunung barengan cowok terus. Jarang banget naik gunung bareng cewek.
Soal masak memasak di gunung, gak usah ditanya dan diragukan lagi. NOL BESAR !! hahahah.. Karena biasanya, tandem aku naik gunung itu adalah koki-koki dadakan yang masakannya enak-enak saat di gunung.
Walau cowok, tapi mereka lebih ‘gemulai’ saat memainkan racikan makanan di atas gunung.
Koboy,

Pendaki gunung yang usianya di atas aku, kisaran 6 tahunan. Tapi karena dia anaknya gaul dan anak punk dengan tubuh yang minimalis untuk ukuran cowok, wajahnya gak terlihat tua dari usianya.
Dia juga udah sering naik turun Gunung Dempo, dia termasuk senior angkatan tua di Komunitas Pecinta Alam (KPA) di Sumsel. Pokoknya saat naik gunung bareng aku, dia jadi andalan deh, walau baru kali ini aku naik gunung dengan dia.
Dan satu lagi, Sleng.

Yaa,,, fans garis keras Slank. Si pria yang usianya lebih tua dari Koboy, tiap hari aku panggil kakak. Tapi di cerita ini, kita sebut saja si Sleng, biar enak nulisnya.
Sleng ini anaknya emang Slengekan. Tapi aku gak nyangka banget, ada hal-hal yang di luar prediksi aku, ketika berangkat sama dia. Overall, dia dasarnya kakak yang baik, walau…. Yaa, nanti deh aku ceritain di sini semuanya…
Ini pendakian pertama aku bareng Koboy dan Sleng. Koboy sering banget naik Dempo, saat masih masa kolonial Belanda kali, hahahaha lebay. Tapi si Sleng, katanya pernah naik Gunung Dempo, tapi cerita berbeda diutarakan oleh Koboy.
Dia bilang, Sleng baru perdana ini naik gunung. Entah yang mana yang benar, aku masa bodo aja dah…
Pendakian aku, Koboy dan Sleng terjadi pada tahun 2012, sekitar bulan Agustus-September 2012. 10 Tahun silam, jika dihitung saat aku menulis cerita ini..
Dan inilah ceritaku….

Pendaki Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. rri.co.id)
CERITANYA :
1. LEMAH
2. Petanda Apakah Ini ??
3. Siapa Itu??
4. Sepii..
5. November 2021
6. Air Wudhu
Jangan lupa disundul ya gan... cendolnya juga.. hehehe..







Diubah oleh nefri.ryu 19-06-2022 01:57
yugi17 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
3.4K
36
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
15.9KThread•14.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nefri.ryu
#2
Petanda Apa Ini ??
![kaskus-image]()
Jalur pendakian Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. Infosumsel.id)
Sekitar pukul 16.30 WIB, kami masih berada di jalur menuju ke Shelter 2. Padahal untuk mencapai ke Shelter 2, tak butuh waktu hingga 5 jam ke sana. Saat itu, jalanku begitu pelan seperti bekicot, pelaaannnn sekali…
Aku yang sudah tak kuat lagi, memohon-mohon dengan Koboy dan Sleng, untuk menuntaskan perjalanan ini dan kembali lagi ke Shelter 1. Aku tak tahu, ada apa gerangan dengan tubuhku, benar-benar menolak untuk diajak jadi Ninja Hattori, mendaki gunung lewati lembah..hehe..
“Boy, Sleng, aku beneran gak kuat lagi nih. Kita turun aja yuk, perasanku gak enak-enak nih,” pintaku ke mereka.
Namun, wajah yang sudah kelelahan, ditambah cuaca yang tak bersahabat, tak menggerakkan hati kedua temanku. Rasa kesal menggelayuti hatiku, benar-benar mengumpat sejadi-jadinya di benakku.
“Ayo dong dikit lagi, masa sampe sini aja,” ucap Sleng yang bikin kewarasanku sebagai temannya sudah menghilang. Tapi aku masih tetap bersabar dengan sisa 5 persen kesabaranku. Hanya Koboy yang masih terus menyemangatiku.
Alam seakan bersahabat denganku. Tuhan pun mengabulkan permintaanku. Perjalanan kami pun terhenti dengan seketika. (Wah,, aku ngetiknya sambil deg-degan ini).
Saat Sleng berada di baris terdepan, angin datang begitu kencang, sangat kencang mungkin saat itu. Tiba-tiba…
Brukkkkk…….
Pohon besar tumbang tepat di depan Sleng. Nyaris hanya beberapa sentimeter lagi, Sleng bisa saja tertimpa pohon besar itu. Entah apa yang akan terjadi, jika dia beberapa langkah lagi berjalan.
Apalagi saat itu, tak ada sama sekali pendaki yang kami temui sepanjang perjalanan. Hal yang aneh memang kurasakan, selama aku mendaki Gunung Dempo.
![kaskus-image]()
Hutan Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. landscapeindonesia.com)
“Ini sudah pohon keempat yang tumbang. Sepertinya alam memberi sinyalnya ke kita untuk berhenti mendaki,” ucapan Koboy seketika menjadi pelipur laraku.
“Alhamdulillah,” syukurku seketika mengalir dari bibirku yang sudah menggigil.
“Sepertinya ini sudah gelap, kita gak mungkin melanjutkan perjalanan ke atas dan gak mungkin juga turun ke bawah. Apalagi hujan deras, mending kita nge-camp di sini saja,” kata Koboy.
Alhasil, kami membuka tenda di tengah hujan deras. Bukan lahan yang luas yang kami huni, tapi di areal jalan setapak tempat para pendaki berjalan, yang kami pakai untuk membuka tenda. Untungnya, ada sedikit lahan yang kami gunakan, agar benar-benar tidak mengganggu jalur pendakian para pendaki saat nanti naik ke atas.
Setelah tenda berdiri, aku bergegas masuk ke tenda duluan. Tubuhku langsung kurebahkan ke tenda yang hanya memuat 2 orang itu. Aroma keringat yang begitu khas di tubuhku, tak kuhiraukan. Aku hanya ingin memejamkan mata sekejap, sembari mengingat hangatnya selimut di kamarku.
“Ryu, bangun…bangun,” suara Koboy langsung membangunkanku dari cerita indah, yang hampir masuk ke dalam dunia tidurku.
“Ada apa sih, baru aja mau merem sebentar,” keluhku.
“Air minum kamu masih ada gak?,” tanya Koboy dari balik tenda.
“Ada sebotol besar dan kecil, kenapa?,” tanyaku penasaran.
![kaskus-image]()
Nge-camp di jalur Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. adrian10fajri.wordpress.com)
“Kita ini berada di tengah jalur dan gak ada sumber air. Stok airku dan Sleng udah habis, sisa punyamu berarti yang masih tersisa sampai pagi,” ucap Koboy.
“Waduh, segini Cuma,” aku langsung menunjukkan botol air mineralku.
“Yaudah, kita bertahan dengan air itu sampai pagi, baru nanti kita turun. Pakai seperlunya saja,untuk masak dan minum,” pinta Koboy.
Sebelum mereka masuk, aku meminta mereka menunggu di luar, karena aku akan mengganti baju. Tak lama itu, mereka berdua masuk dan berganti pakaian kering.
Kami memasak dengan bahan yang super banyak dibawa, stok bahan makanan yang seharusnya untuk 3 hari, harus kami pilih-pilih untuk bisa dimasak malam itu juga. Dengan racikan masakanku yang ala kadarnya, kami akhirnya makan dan berbagi air putih sedikit demi sedikit.
Untuk kencing, yaa.. aku harus memanfaatkan air seminim mungkin. Begitulah ribetnya kaum perempuan ya.. hehehe..

Jalur pendakian Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. Infosumsel.id)
Sekitar pukul 16.30 WIB, kami masih berada di jalur menuju ke Shelter 2. Padahal untuk mencapai ke Shelter 2, tak butuh waktu hingga 5 jam ke sana. Saat itu, jalanku begitu pelan seperti bekicot, pelaaannnn sekali…
Aku yang sudah tak kuat lagi, memohon-mohon dengan Koboy dan Sleng, untuk menuntaskan perjalanan ini dan kembali lagi ke Shelter 1. Aku tak tahu, ada apa gerangan dengan tubuhku, benar-benar menolak untuk diajak jadi Ninja Hattori, mendaki gunung lewati lembah..hehe..
“Boy, Sleng, aku beneran gak kuat lagi nih. Kita turun aja yuk, perasanku gak enak-enak nih,” pintaku ke mereka.
Namun, wajah yang sudah kelelahan, ditambah cuaca yang tak bersahabat, tak menggerakkan hati kedua temanku. Rasa kesal menggelayuti hatiku, benar-benar mengumpat sejadi-jadinya di benakku.
“Ayo dong dikit lagi, masa sampe sini aja,” ucap Sleng yang bikin kewarasanku sebagai temannya sudah menghilang. Tapi aku masih tetap bersabar dengan sisa 5 persen kesabaranku. Hanya Koboy yang masih terus menyemangatiku.
Alam seakan bersahabat denganku. Tuhan pun mengabulkan permintaanku. Perjalanan kami pun terhenti dengan seketika. (Wah,, aku ngetiknya sambil deg-degan ini).
Saat Sleng berada di baris terdepan, angin datang begitu kencang, sangat kencang mungkin saat itu. Tiba-tiba…
Brukkkkk…….
Pohon besar tumbang tepat di depan Sleng. Nyaris hanya beberapa sentimeter lagi, Sleng bisa saja tertimpa pohon besar itu. Entah apa yang akan terjadi, jika dia beberapa langkah lagi berjalan.
Apalagi saat itu, tak ada sama sekali pendaki yang kami temui sepanjang perjalanan. Hal yang aneh memang kurasakan, selama aku mendaki Gunung Dempo.
Hutan Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. landscapeindonesia.com)
“Ini sudah pohon keempat yang tumbang. Sepertinya alam memberi sinyalnya ke kita untuk berhenti mendaki,” ucapan Koboy seketika menjadi pelipur laraku.
“Alhamdulillah,” syukurku seketika mengalir dari bibirku yang sudah menggigil.
“Sepertinya ini sudah gelap, kita gak mungkin melanjutkan perjalanan ke atas dan gak mungkin juga turun ke bawah. Apalagi hujan deras, mending kita nge-camp di sini saja,” kata Koboy.
Alhasil, kami membuka tenda di tengah hujan deras. Bukan lahan yang luas yang kami huni, tapi di areal jalan setapak tempat para pendaki berjalan, yang kami pakai untuk membuka tenda. Untungnya, ada sedikit lahan yang kami gunakan, agar benar-benar tidak mengganggu jalur pendakian para pendaki saat nanti naik ke atas.
Setelah tenda berdiri, aku bergegas masuk ke tenda duluan. Tubuhku langsung kurebahkan ke tenda yang hanya memuat 2 orang itu. Aroma keringat yang begitu khas di tubuhku, tak kuhiraukan. Aku hanya ingin memejamkan mata sekejap, sembari mengingat hangatnya selimut di kamarku.
“Ryu, bangun…bangun,” suara Koboy langsung membangunkanku dari cerita indah, yang hampir masuk ke dalam dunia tidurku.
“Ada apa sih, baru aja mau merem sebentar,” keluhku.
“Air minum kamu masih ada gak?,” tanya Koboy dari balik tenda.
“Ada sebotol besar dan kecil, kenapa?,” tanyaku penasaran.

Nge-camp di jalur Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. adrian10fajri.wordpress.com)
“Kita ini berada di tengah jalur dan gak ada sumber air. Stok airku dan Sleng udah habis, sisa punyamu berarti yang masih tersisa sampai pagi,” ucap Koboy.
“Waduh, segini Cuma,” aku langsung menunjukkan botol air mineralku.
“Yaudah, kita bertahan dengan air itu sampai pagi, baru nanti kita turun. Pakai seperlunya saja,untuk masak dan minum,” pinta Koboy.
Sebelum mereka masuk, aku meminta mereka menunggu di luar, karena aku akan mengganti baju. Tak lama itu, mereka berdua masuk dan berganti pakaian kering.
Kami memasak dengan bahan yang super banyak dibawa, stok bahan makanan yang seharusnya untuk 3 hari, harus kami pilih-pilih untuk bisa dimasak malam itu juga. Dengan racikan masakanku yang ala kadarnya, kami akhirnya makan dan berbagi air putih sedikit demi sedikit.
Untuk kencing, yaa.. aku harus memanfaatkan air seminim mungkin. Begitulah ribetnya kaum perempuan ya.. hehehe..
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3